Redupnya Bisnis Matahari

Salah satu pemain bisnis jual beli online di tanah air, MatahariMall yang mengadopsi sistem belanja "O2O" (online-to-offline dan offline-to-online) kini meredup.


1
1 share, 1 point

Peta persebaran internet secara umum di era disrupsi teknologi

Seiring berkembangnya teknologi, terutama teknologi informasi yang ditemukan sejak beberapa dekade silam hingga kini menciptakan banyak sekali kemungkinan di dunia. Era teknologi yang semakin canggih tak hanya menyasar sektor digital dan komputerisasi, lebih dari itu, juga dapat menggeser gaya hidup hingga berpengaruh kepada sektor lain, salah satunya bisnis. Dari peluang bisnis baru, hingga mengancam bisnis yang sudah ada. Tak jarang banyak orang mengaggap hal tersebut sebagai gangguan, atau biasa disebut disrupsi. Disrupsi ini semakin masif karena semakin kencangnya penggunaan internet.

Penggunaan internet ini sudah menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat dunia. Seolah-olah, tidak bisa dilepaskan. Berdasarkan data statistik yang diungkapkan Internet World Stats pada 2017, ada sekitar 4 miliar lebih pengguna internet di seluruh dunia dari sekitar total 7 miliar lebih populasi penduduk dunia. Dari 4 miliar pengguna internet tersebut, sekitar 3 miliar di antaranya merupakan pengguna aktif media sosial. Selain itu, Asia merupakan wilayah yang tercatat memiliki jumlah pengguna internet terbesar yakni mencapai 49,6%.

Dari data di atas, ternyata situs-situs raksasa seperti Google, Facebook, dan YouTube masih menjadi situs utama yang paling banyak dikunjungi.  Namun yang menarik, jika kita mengengok data tersebut, terlihat bahwa Amazon menduduki peringkat kelima yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat. Dan hal ini menjadi bukti bahwa banyak pengguna internet yang mempertimbangkan media ini sebagai sarana untuk berbelanja produk atau jasa yang mereka butuhkan. Dengan begitu, sebuah perusahaan memiliki kesempatan lebih besar untuk dapat menarik minat masyarakat melalui medium online tersebut. 

Tidak hanya sampai di situ, menurut data dari vpnmentor pula, jumlah transaksi penjualan Business to Customer – atau yang biasa disebut B2C – secara online hampir di setiap wilayah dunia meningkat setiap tahunnya. Bahkan, total penjualan retail e-commerce di seluruh dunia diperkirakan akan terus melonjak dan akan mencapai 4,479 triliun USD pada tahun 2021.

Menurut data statistik yang terpapar, bisa terlihat bahwa peluang yang diberikan oleh pasar global bagi perusahaan atau pemilik brand di Indonesia bagaikan raksasa besar yang menarik untuk ditaklukkan. Apalagi, pasar global tersebut sangat mudah diakses melalui pemasaran digital, misalnya saja dengan sesederhana memasang iklan Pay Per Clik di Google, atau yang biasa kita tahu salah satunya adalah Google Ads.

Di tahun 2017, total pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 143 juta atau sudah lebih dari setengah dari total penduduk Indonesia. Dan aktivitas yang biasa dilakukan melalui media online ini adalah untuk mengakses berita atau informasi, serta sebagai sarana hiburan. Namun, selain itu, aktivitas lain yang juga tak kalah banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia ketika menggunakan internet adalah mencari/belanja produk atau jasa bagi kebutuhan mereka. Hal ini terbukti dari data yang dipaparkan oleh KataData bahwa pada tahun 2016, jumlah konsumen online di Indonesia sudah mencapai 8,7 juta jiwa, dan pada tahun 2018, jumlah transaksi e-commerce di Indonesia sudah mencapai sekitar Rp 144 triliun. Angka tersbut pastinya masih akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Mengingat internet sudah menjadi tren bahkan candu kehidupan sehari-hari.

Dari grafik di atas, dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki kecenderungan untuk berbelanja lewat media online atau internet. Dan tentunya hal ini menjadi kesempatan bagi pebisnis, terutama penjual, karena melalui media digital tersebut, mereka jadi dapat lebih mudah untuk menemukan para pembeli potensial mereka.

Bisnis Matahari yang berusaha memancarkan sinarnya di bisnis online

Dalam dunia jual beli secara online salah satu pemain yang pernah menyinari dunia tersebut adalah MatahariMall. Dengan situs awalnya www.MatahariMall.com merupakan situs perdagangan elektronik asal Indonesia yang mengadopsi sistem belanja “O2O” (online-to-offline dan offline-to-online), yang memungkinkan para pelanggannya untuk membayar, mengambil, atau mengembalikan produk di ratusan cabang Matahari Department Store (MDS) di seluruh Indonesia. MatahariMall merupakan anak perusahaan dari Lippo Group yang terkenal dengan usaha retail seperti Hypermart, Matahari Department Store, dll. MatahariMall resmi diluncurkan pada tanggal 9 September 2015.

Kemudian, MatahariMall pertama kali diumumkan kehadirannya oleh Grup Lippo pada tanggal 25 Februari 2015. Sejak awal kemunculannya, Grup Lippo menyiapkan MatahariMall untuk menjadi situs perdagangan di Indonesia dengan basis online. Untuk mendukung hal tersebut, Grup Lippo menganggarkan dana investasi sebesar 500 juta USD atau setara 6 Triliun rupiah. Dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan, Mataharimall sudah memiliki lebih dari 400 karyawan yang siap melayani sekitar 200 ribu pelanggan setiap harinya.

Dalam perjalananya situs yang awalnya bernama www.MatahariMall.com kini berubah berganti baju menjadi www.Matahari.com. Dengan perubahan ini, MatahariMall akan sekaligus menjadi tempat memamerkan produk-produk dari MDS. “MatahariMall merupakan perusahaan e-commerce pertama di Indonesia yang memiliki kapabilitas O2O (Online to Offline) di seluruh wilayah Indonesia, dan merupakan proses yang alami bagi Matahari, di bawah satu merek, Matahari.com, untuk melanjutkan pengembangan opsi ini bagi pelanggan untuk berbelanja produk fashion tanpa batasan baik secara online maupun offline,” urai Hadi Wenas CEO MataharMall.

Perlu diketahui bahwa MatahariMall bekerja sama dengan MDS selaku penyuplai beberapa stok dagangan. Hal ini sesuai dengan strategi omni-channel yang digarap oleh perusahaan-perushaan besutan grup Lippo. Omni-channel adalah saat pelanggan dapat menggunakan lebih dari satu channel penjualan seperti toko fisik, e-Commerce/internet, mobile (m-Commerce), social Commerce, dan lain lain untuk melakukan riset, membeli, mendapatkan dan mengembalikan atau menukar barang dari peritel, terlepas dari channel penjualan yang digunakan. Dalam kerja sama tersebut, sebelumnya, MDS telah memiliki halaman khusus di MatahariMall. Namun, saat itu, jumlah barang yang dijual cukup terbatas. Apalagi, Wenas, mengatakan “Saat masa-masa awal MatahariMall meluncur, stok barang kerap menjadi rebutan antara MatahariMall dan MDS. Dulu, presentase stok barang habis di MatahariMall bisa mencapai 50%. Namun, kini telah berkurang menjadi 10 – 15%. “Awal-awal, banyak store manager MDS yang meng-keep barangnya untuk tidak diberikan ke online (MatahariMall). Mereka selalu bilang ‘stok habis’”, kata Wenas.

Selain manajemen stok antara keduanya mengalami kendala, laba bersih MDS menjadi anjlok 42,5 % sepanjang 2018. Perusahaan yang tercatat di papan bursa dengan kode emiten LPPF ini hanya mampu meraup laba bersih sebesar 1,1 triliun rupiah. Turun jauh dibanding keuntungan bersih 2017 yang mencapai 1,91 triliun rupiah. Padahal di saat yang bersamaan, Matahari mampu meraup penjualan kotor sebesar 7,9 triliun rupiah. Sekretaris Hukum dan Perusahaan LPPF, Miranti Hadisusilo menjelaskan bahwa penurunan laba bersih perusahaan terutama disebabkan oleh kerugian penurunan nilai investasi yang dilakukan perseroan di MatahariMall yang kini telah bersalin nama menjadi Matahari.com.

Pendiri Grup Lippo, Mochtar Riady pun memberikan tanggapan kepada MtahariMall miliknya. Menurut dia, pembangunan usaha harus dimulai dari kecil, bukan dari suatu yang tidak ada kemudian tiba-tiba menjadi besar. “Usaha atau bisnis itu selalu harus mulai dari kecil, pelan-pelan menjadi besar, tidak bisa langsung. Rencana kerja harus besar, think big starting from small,” kata Mochtar dalam acara Indonesia Digital Conference di Jakarta Pusat. Mochtar mengatakan MatahariMall terlalu fokus mengurus sisi teknologi. Padahal yang penting adalah barang yang dijual di platform tersebut. “Seolah-olah kalau membangun suatu e-commerce ini, dititikberatkan pada teknologinya. Langsung pekerjakan 300 orang teknisi,” kata Mochtar. Kemudian Mochtar juga mengatakan MatahariMall harus bisa menentukan apakah membuka sekedar toko di internet atau membangun pasar di internet. “Jadi hati-hati, jangan seolah-olah e-commerce ini bercerita tentang teknologi saja. Ini hanya sebagai salah satu instrumen saja. Justru barang yang diperjualbelikan itu yang paling utama,” kata Mochtar.

Strategi-strategi yang disiarkan oleh TV konvensional MetroTV demi menghadapi disrupsi teknologi

Memang disrupsi teknologi membawa dinamika yang sangat besar pada zaman sekarang. Tidak hanya bisnis online, namun dunia media pun mengalami dampak dari disrupsi teknologi, salah satunya MetroTV. Menurut MetroTV, generasi milenial saat ini enggan lagi menonton televisi secara konvensional karena aplikasi media sosial YouTube sanggup menyediakan semua gairah darah muda mereka. Membalik-balikkan halaman koran pun mereka enggan, karena semua informasi sudah dalam genggaman. Di transportasi umum, di taman, bahkan di kafe mereka merunduk menatap layar. Kemudian muncul istilah yang mengerikan, ‘the end of conventional media’. Kalimat penghakiman itu muncul dari beragam data yang menunjukkan merosotnya konsumsi media konvensional. Rating televisi ambruk. Media massa daring atau online pun tak pernah nyaman karena terus diganggu oleh kecepatan informasi yang dibagi di platform-platform media sosial.

Menurut CEO Media Group, Muhammad Mirdal Akib, yang membawahi MetroTV, dari semua revolusi, baik dari revolusi industri hingga revolusi digital yang terjadi saat ini, itu semua tidak akan putus dari pusatnya, yaitu manusia-nya. Tinggal bagaimana manusia itu sendiri yang akan menentukan bagaimana sesuatu akan dibawa dikeranekan perubahan yang mereka sendiri ciptakan. Maka, strategi untuk menghadapi revolusi digital atau yang biasa disebut disrupsi teknologi adalah memusatkan ke sumber daya manusia. Selama tidak bergeser dari manusia-nya, semua perubahan dapat dilewati.

2 atau 3 tahun yang lalu, masyarkat Indonesia panik dengan media sosial. Ada berita baru, ada bom yang terjadi di MH Thamrin (terjadi pada 16 Januari 2016), semua langsung melihat sosial media. Dari situ banyak orang melihat media konvensional sudah masuk pada kondisi the end of conventional media. Tapi yang kemudian terjadi, MetroTV tetap bertahan pada filosofinya, tetap mempertahankan nilai-nilai jurnalistik, menyiapkan semuanya. Tiga tahun dari peristiwa itu, contohnya hari ini, bila terjadi apa-apa, orang tidak lagi kemudian secara telanjang melihat sosial media. Hari ini masyarakat melihat ada pesan di aplikasi WhatsApp, mereka kemudian meragukan isinya, ini benar atau tidak. Mereka kemudian mengonfirmasi (informasi itu) ke media-media konvensional. Artinya, sekarang sedang terjadi rebound. Kembali lagi ke proses media yang memegang teguh nilai-nilai people tadi. Jadi, kejujuran, integritas, dan akuntabilitas itu tidak akan pernah mati sampai dunia ini juga selesai. Kalau itu dipegang sebagai nilai dalam memproduksi berita, MetroTV pasti akan terus bertahan.

Selain memaksimalkan manusia-nya dalam menggarap media konvesnionalnya atau TV, MetroTV juga tetap bergeraik mengikuti arus, yaitu dengan melakukan banyak ekspansi ke media internet. Seperti contohnya di YouTube. Dengan nama channel “metrotvnews”, hingga saat ini sebanyak 2 juta orang lebih telah berlangganan atau subscribechannel tersebut, angka yang sangat banyak bagi sebuah channel YouTube. Selain itu tren views dari channel tersebut menunjukkan tren yang positif dengan puluhan juta views, ini hanya baru 1 media saja yaitu Youtube.

Kemudian ada streaming berbasis web melalui www.metrotvnews.com, dan masih banyak melalui sosial media lain seperti Instagram, Facebook, Twitter, dll. Hal tersebut merupakan ekspansi penyiaran secara paralel. MetroTV sangat memahami bahwa dalam bisnis bukan yang terlihat hebat melawan arus atau mengikuti aruslah yang dapat bertahan. Namun bisnis yang dapat mengendalikan arus tersebut.

Saran untuk menghadapi disrupsi teknologi bagi MatahariMall

Seperti halnya MetroTV yang mampu mengendalikan arus dan memanfatkan segala yang ada di sekitarnya, perlulah MatahariMall dapat menjangkau semua platform media digital yang ada. Melakukan kerja sama maupun partnership tidak hanya dengan MDS sehingga muncul inovasi-inovasi yang mampu mendobrak bisnis penjualan online. Seperti contohnya dengan munculnya penjualan bersertifikasi resmi BukaMall milik BukaLapak, Official Store milik Tokopedia, LazMall milik Lazada, ShoppeMall milik Shoppe, dll. Hal tersebut dapat menjadi solusi akan maraknya produk-produk palsu maupun yang berpotensi mengecewakan pelanggan, karena ada jaminan dari sang e-commerce itu sendiri.

Dengan adanya rebound yang terjadi pada MetroTV tadi, hal tersebut mirip dengan omni-channel yang diterapkan oleh MatahariMall. Namun MetroTV tetap berpegang teguh dengan filosofi dan nilai-nilai jurnalistiknya. Dengan memfokuskan variabel yang memiliki kekuatan paling ajaib yaitu manusia, bukan manusia yang difokuskan hanya sebatas tool/instrumen teknis dalam membentuk sebuah sistem atau terlalu fokus pada sisi teknologinya, tapi bagaimana manusia sebagai aset yang bisa berkembang ke segala arah, sehingga bisa menciptakan segala kemungkinan untuk terus maju berkembang. Semua itu dikerjakan bertahun-tahun tentunya dengan training & development yang terus menerus ditingkatkan, atau dalam bahasa Toyota disebut kaizen.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana MatahariMall perlu mempoisikan diri. Perlu beberapa proses untuk memposisikan diri dalam market. Dari yang pertama Market Segmentation, yang kedua Targeting – Selecting Target Market, dan yang ketiga Product Positioning. Hal tersebut seperti yang dikomentarkan oleh bos besar Grup Lippo, “Dia lupa sebenarnya MatahariMall itu perlu memposisikan diri sendiri, apakah itu buka toko di internet atau itu adalah bangun pasar di internet. Ini mesti jelas. Baik dalam pembukaan toko maupun membangun pasar intinya adalah barang dagangan, bukan teknisinya teknologi e-commerce seperti apa,”. Sehingga kemudian MatahariMall sanggup untuk Decide on the Optimal Marketing Mix, sebagai strategi kuat untuk menembus pasar e-commerce yang makin jenuh, apalagi, MatahariMall termasuk cukup terlambat untuk memasuki pasar tersebut. (Iqbal Maulana 40P20085)

Referensi:

Slide kuliah BMN (Business Foundations, 12th ed.Ferrell Hirt Ferrell chapter 4, 10, dan 11)

https://socialblade.com/youtube/user/metrotvnews

https://academy.getcraft.com/id/blog/apa-yang-diungkapkan-data-tentang-pasar-online-indonesia-dan-global

https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/ybD0Lnvb-kunci-metro-tv-bertahan-di-era-disrupsi-media

https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4801980/kegagalan-mataharimall-sudah-tercium-sejak-tahun-lalu

https://www.etpgroup.com/id/memahamiritel-omni-channel/


Like it? Share with your friends!

1
1 share, 1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format