Surat Kabar, Sampai Kapan Akan Bertahan?

Di era digital ini masyarakat di hadapkan dengan berbagai pilihan sumber informasi untuk memenuhi kebutuhan akan berita. Apakah surat kabar akan tetap bertahan?


3
1 share, 3 points

Coba kita flashback mengingat beberapa tahun lalu di saat ada beberapa perusahaan penerbit surat kabar menerbitkan surat kabar satu hari sebanyak 2 edisi. Edisi pagi dan sore untuk memastikan berita yang diterima pelanggan adalah yang paling up-to-date. Penjual surat kabar di lampu merah juga menjadi pemandangan yang sangat sering kita jumpai hampir di seluruh sudut ibu kota. Namun saat ini semakin sedikit kita menemui penjual koran ataupun gera-gerai yang menjual majalah, tabloid, dan koran. Tidak ada lagi surat kabar yang menerbitkan 2 edisi dalam satu hari yang sama. Apa yang sebenarnya terjadi?

Berdasarkan market outlook yang dirilis oleh PwC, segmen surat kabar dan majalah masih akan menunjukan penurunan di beberapa tahun ke depan. Walaupun pernurunan pendapatan akan perlahan membaik namun year-on-year growth masih akan menunjukan angka negatif.

Melihat proyeksi ke depan dari industri yang tidak menunjukan sinyal positif, tidak dapat dihindari beberapa perusahaan media cetak memutuskan untuk menutup usahanya untuk menghindari kerugian yang lebih jauh. Yang terbaru di bulan lalu McClatchy perusahaan surat kabar terbesar kedua di Amerika Serikat mengumumkan kebangkrutannya. Bukan tanpa alasan, kebangkrutan yang dialami media cetak disebabkan menurun secara drastisnya pendapatan dari iklan yang merupakan penghasilan utama dari media cetak selain dari penjualan media cetak itu sendiri.

Di Indonesia sendiri kita bisa melihat contoh nyatanya yaitu berhentinya Koran Sindo beroperasi di tahun 2016 setelah lebih dari 11 tahun berkiprah di industri surat kabar Indonesia. Selain koran Sindo, edisi hari minggu Galamedia (koran regional grup Pikiran Rakyat), edisi hari minggu Koran Tempo (koran Tempo Media Group), Sinar Harapan, Jakarta Globe, Harian Bola, tabloid HAI, Kawanku, Sinyal, Chip, Chip Foto Video, What Hi Fi, Auto Expert, Car and Turning Guide, dan Motor) juga mengalami nasib yang sama. Bisa dilihat dari grafik di bawah ini di mana jumlah media cetak terutama surat kabar harian mengalami penurunan dari tahun 2011.

Pada akhir tahun 2015 Sinar Harapan, surat kabar yang dikenal sebagai koran tertua di Indonesia menyatakan diri ditutup. Sinar Harapan terbit perdana pada April 1961 setelah sempat dilarang terbit pada tahun 1986 koran ini kembali terbit di tahun 2001. Anggota Dewan Redaksi Kristanto Hartadi dalam artikelnya menyatakan bahwa  sejak awal surat kabar mereka selalu kesulitan keuangan. Kristanto juga menyatakan ada konflik internal yang selalu ada namun yang dari awal tidak pernah dilakukan adalah survei pasar terhadap para pembaca, pengiklan, sirkulasi yang ilmiah untuk mengetahui koran sore memang masih dibutuhkan atau tidak di pasar serta bagaimana peta persaingan dengan sesama surat kabar yang ada (pagi dan sore), maupun dengan media-media lainnya.

Setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan penurunan pertumbuhan di sektor media cetak bahkan menyentuh pertumbuhan yang negatif setidaknya 5 tahun belakangan ini:

1. Tersedianya alternatif penyedia informasi dan berita

Saat ini masyarakat dihadapkan banyak sekali pilihan di mana mereka bisa mendapatkan informasi yang terkini. Mereka bisa mencari sendiri melalui portal berita seperti metrotvnews.com, kompas.com, detik.com dan portal-portal berita lainnya. Tidak hanya itu, informasi dan berita saat ini bisa dengan mudah diakses melalui media sosial seperti twitter, Instagram, dan facebook. Banyaknya pilihan ini membuat konsumen menjadi lebih leluasa untuk memilih berita mana yang mereka ingin dapatkan sesuai dengan minat masing-masing. Hal ini didukung dengan semua berita tersebut bisa didapatkan secara gratis hanya bermodalkan akses internet. 

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center di Amerika Serikat, 55% penduduk dewasa Amerika Serikat mendapatkan informasi dari media sosial, meningkat 8% dari tahun sebelumnya. Sumber berita yang paling banyak digunakan adalah facebook, disusul youtube, twitter, dan Instagram. Hasil penelitian ini menunjukan bagaimana masyarakat mulai mencari alternatif penyedia berita di luar media cetak.

2. Perubahan preferensi masyarakat

Masyarakat saat ini mencari sumber informasi yang bisa didapatkan dengan mudah, murah, cepat dan akurat. Penyedia berita berlomba-lomba untuk memberikan informasi secepat mungkin dan ini membuat industri media cetak mulai ditinggalkan. Waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan berita, kemudian disunting, dan kemudia dicetak untuk dijual membutuhkan waktu yang lama. Jika harus menunggu waktu yang dibutuhkan sampai dengan berita tercetak di surat kabar, berita yang ada menjadi sudah tidak relevan lagi ketika model penyedia berita lainnya bisa memberikan informasi secara real time.

Apa yang harus dilakukan oleh perusahaan surat kabar untuk tetap bisa bertahan?

1. Inovasi Produk dilengkapi dengan Strategi Marketing yang Baik

Dalam rangka mempertahankan industri surat kabar tetap eksis di era digitalisasi, strategi  pemasaran yang digunakan untuk bisa mengembangkan bisnis surat kabar hendaknya senantiasa mengedepankan kebutuhan dan keinginan customer. Pada dasarnya aktivitas pemasaran didesain untuk mempercepat transaksi pembelian oleh pembeli/pelanggan dengan cara membuat, mendistribusikan, menyusun harga, dan mempromosikan barang dan jasa serta ide. Ide utama yang harus dikedepankan adalah bagaimana perusahaan bisa menciptakan nilai dari suatu produk supaya produk tersebut bisa memberikan individu dan organisasi apa yang mereka butuhkan dan mereka inginkan. 

Dalam mengembangkan strategi pemasaran ada 4 hal yang harus dipertimbangkan:

a. Market segmentation & Memilih Target Pasar

Aktivitas pemasaran didesain untuk mempercepat transaksi pembelian dengan cara membuat, mendistribusikan, menyusun harga, dan mempromosikan barang dan jasa serta ide. Ide utama yang harus dikedepankan adalah bagaimana perusahaan bisa menciptakan nilai dari suatu produk supaya produk tersebut bisa memberikan individu dan organisasi apa yang mereka butuhkan dan mereka inginkan. 

Jika memang di era digitalisasi ini fokus utama dari bisnis surat kabar adalah menyasar segmen usia >50 maka konsep pemasaran serta penentuan marketing mix harus disesuaikan dengan kebutuhan dari segmen yang dituju tersebut. Jika berdasarkan research generasi milenial tidak lagi membaca surat kabar maka marketer harus bisa lebih fokus mendekatkan produk tersebut ke segmen yang dituju.

Selain menggunakan segmentasi berdasarkan demografi yaitu usia, perusahaan juga bisa menggunakan pendekatan segmentasi berdasarkan wilayah geografis dengan menyasar daerah-daerah yang belum banyak tersentuh internet dan masih menggantungkan kebutuhan informasinya melalui surat kabar.

Perusahaan surat kabar juga dapat memilih untuk melakukan multi segment approach di mana selain menyasar masyarakat di usia >50 untuk surat kabar, perusahaan bisa membuat inovasi yang khusus untuk anak-anak muda ataupun eksekutif muda yang memiliki tingkat kebutuhan berita yang tinggi namun enggan untuk membaca berita dalam bentuk media cetak. Bisnis harus senantiasa berinovasi membuat wadah untuk memfasilitasi segmen yang tidak dapat dicover melalui media cetak. Patut diingat selain TV, belanja iklan digital berkontribusi cukup besar terhadap total belanja iklan di Indonesia. Artinya bisnis tidak perlu lagi menggantungkan diri pada penjualan oplah surat kabar melainkan menggantungkan pada pendapatan dari penempatan iklan digital. 

Hal ini sudah dilakukan oleh banyak perusahaan surat kabar di Indonesia seperi kompas group dengan kompas.com dan kompasiana.

Keberadaan platform digital tidak serta merta menghapuskan keberadaan media cetak, karena keduanya memiliki segmen yang berbeda dan jika bisa dijalankan secara bersamaan dengan sangat baik akan mendatangkan keuntungan yang besar bagi perusahaan.

b. Product Positioning

Dalam menentukan positioning, perusahaan media cetak harus bisa melakukan analisis terhadap kompetitor yang ada saat ini di pasar. Misalnya di industri media cetak, Kompas masih menjadi pemimpin pasar. Positioning yang baik nantinya berpengaruh pada tingkat loyalitas konsumen terhadap produk tersebut sehingga penentuan positioning yang tepat akan ikut berkontribusi pada kesuksesan suatu produk bertahan di pasar. Pastikan bahwa perusahaan harus memiliki keunggulan yang mendiferensiasi produk dari produk lainnya di pasar. Salah satu contoh positioning yang dinilai sukses di industri media cetak adalah apa yang dilakukan majalah “The Economist” ataupun “National Geographic” yang menonjolkan diri sebagai majalah ekonomi dan majalah mengenai sains, geografi, dan sejarah.

c. Memilih Marketing Mix yang tepat

-Product

Penentuan bentuk surat kabar, jumlah halaman, ukuran, serta konten yang akan disajikan dalam surat kabar tersebut menjadi hal yang sangat penting dan menjadi penentu apakah produk tersebut akan laku di pasaran. Apakah ukuran surat kabar yang ada saat ini seperti harian kompas adalah bentuk yang paling ideal dan sesuai dengan keinginan pasar. Atau sebenarnya masyarakat menginginkan bentuk koran yang lebih kecil dan lebih mudah untuk dibawa. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perusahaan bisa melakukan survei kepada masyarakat untuk bisa lebih memahami preferensi pasar.

-Price

Penentuan harga juga harus disesuaikan dengan target pasar yang dituju. Harga yang terlalu mahal dan harga yang terlalu murah akan mempengaruhi tingkat penjualan. Positioning juga menjadi penentu berapa harga yang perlu di set oleh perusahaan. Melihat harga kompetitor dan market leader menjadi hal yang harus dilakukan 

Place

Untuk surat kabar biasanya ada 2 model distribusi yang bisa dipilih yaitu lokal atau nasional. Ini akan sangat dipengaruhi oleh pemilihan segmen serta pasar yang akan dituju.

Promotion

Dalam usaha memaksimalkan jumlah pembaca serta jumlah oplah, perusahaan surat kabar hendaknya memaksimalkan strategi promosi kepada para pembaca serta kepada para calon pemasang iklan. Perlu diingat bahwa pendapatan surat kabar bukanlah hanya dari penjualan eksemplar namun juga dari pemasangan iklan di surat kabar tersebut. Contoh promosi yang biasanya dilakukan oleh perusahaan surat kabar adalah pemberian sampel koran gratis.

2. Tetap menjaga kredibilitas atas berita yang disajikan

Dengan kemudahan masyarakat dalam mengakses informasi, issue berita bohong/hoax menjadi hal yang kerap dijumpai di tengah masyarakat. Untuk tetap menjadi media yang terpercaya, berita-berita yang ada di surat kabar senantiasa harus fair dan bebas dari konflik kepentingan. Berita yang disajikan hendaknya berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Konflik kepentingan menjadi tantangan yang sering dihadapi dalam keseharian para pencari berita dikarenakan maraknya tokoh politik yang memiliki media sendiri dan berpotensi dapat digunakan sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi. 

Industri surat kabar sangatlah rentan dengan isu-isu etika, oleh sebab itu dalam menjalankan bisnis, perusahaan diharapkan untuk menerapkan prinsip dan standar yang dianggap dapat diterima oleh bisnis. Perilaku yang bisa diterima ini haruslah bisa diterima oleh organisasi, pelanggan, competitor, pemerintah pembuat kebijakan, kelompok kepentingan, masyarakat, dan prinsip masing-masing individu. Kode etik sangatlah penting di dunia jurnalistik, di Indonesia sendiri terdapat kode etik jurnalistik yang harus diikuti oleh seluruh pekerja di bidang jurnalistik. Walaupun para jurnalis memiliki kebebasan berpendapat mereka dibatasi oleh kode etik yang dijadikan sebagai kesepakatan bersama. Hal-hal yang diatur dalam kode etik jurnalistik adalah:

  1. Wartawan Indonesia bersikap Independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
  2. Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.
  3. Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
  4. Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.
  5. Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
  6. Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.
  7. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.
  8. Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
  9. Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
  10. Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.
  11. Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional

Jika kode etik ini dijalankan dengan baik maka setiap berita yang dihasilkan dapat memberikan tambahan informasi dan bermanfaat bagi pembacanya.

3. Memahami serta memenuhi keinginan pasar

Konten berita serta bagaimana berita tersebut disusun akan menentukan apakah seseorang akan membaca dan menyelesaikan berita tersebut atau tidak. Seseorang memilih membaca berita ketika berita tersebut relevan terhadap hidup seseorang tersebut ataupun keluarga, kerabat, dan komunitasnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kim Christian Schroder, seorang profesor komunikasi dari Universitas Roskilde, Denmark, setidaknya ada 5 hal yang bisa membuat sebuah berita dianggap relevan bagi seseorang sesuai dengan ilustrasi di bawah ini:

Dengan semakin beragamnya topik yang diinginkan oleh pasar maka dibutuhkan jugalah sumber daya manusia yang beragam untuk bisa menghadirkan berita yang berkualitas untuk dibaca. Sumber daya manusia menjadi komponen terpenting dalam industri penyedia berita, karena setiap reporter akan bertugas mencari berita, kemudian mengolahnya untuk menjadi sebuah berita yang layak disajikan kepada masyarakat. Kantor surat kabar yang memiliki sumber daya manusia yang beragam akan dipenuhi ide-ide kreatif dan akan lebih mudah bagi perusahaan untuk bisa menyediakan berita yang diinginkan oleh pelanggan. Sumber daya manusia yang beragam bisa memberikan kontribusi kepada perusahaan dalam hal:

-Memberikan pandangan yang beragam serta pendekatan terhadap masalah dan kesempatan dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan oleh manajemen

-Karyawan yang beragam dapat memunculkan ide-ide yang kreatif

-Karyawan yang beragam bisa lebih selaras dengan kebutuhan pelanggan yang beragam juga

-Karyawan yang beragam dapat meningkatkan keterikatan para anggota organisasi

-Keberagaman diharapkan dan diharuskan oleh perusahaan-perusahaan lain   

4. Mempertimbangkan Aspek Sustainability

Perusahaan penerbit surat kabar harus mulai memikirkan bentuk/pola yang paling ramah lingkungan namun tetap mendatangkan keuntungan bagi bisnis. Tekanan terhadap bisnis untuk bisa beroperasi secara lebih go green hendaknya mendapat perhatian khusus bagi bisnis untuk bisa tetap bertahan di era digitalisasi.

Sebuah terobosan dilakukan oleh sebuah perusahaan surat kabar terbesar di Jepang, The Mainichi Shimbunsha, sukses membuat 100% sustainable newspaper dimana jika surat kabar tersebut ditanam akan dapat tumbuh menjadi tanaman. Sebuah ide yang sangat brilian di tengah isu lingkungan yang semakin banyak digadang-gadangkan. Surat kabar tersebut dibuat dari bahan dasar tumbuh-tumbuhan serta kertas daur ulang.

Walaupun teknologi di Indonesia belum bisa menyaingi apa yang dimiliki Jepang, setidaknya ide-ide terkait dengan sustainability harus mulai dipikirkan dimulai dengan hal yang kecil, penggunaan bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan untuk menjaga keberlangsungan bisnis di masa yang akan datang.

INDUSTRI BIOSKOP YANG TAHAN TERPAAN

Tidak semua industri yang sudah lama ada mengalami penurunan pertumbuhan seiring dengan berkembangnya teknologi. Jika kita melihat industri hiburan secara spesifik industri bioskop, kita masih melihat pertumbuhan yang positif. Bukannya tanpa disrupsi berarti, namun industri bioskop masih sanggup menyediakan produk dan jasa yang dibutuhkan oleh pelangannya dan belum bisa tergantikan dengan produk-produk teknologi lainnya dengan konsep serupa.


Sebagian besar dari kita pasti sudah tidak asing dengan Netflix, Iflix, HOOQ, VIU, dan layanan streaming lain yang bisa kita digunakan untuk menonton film ataupun serial. Mulai dari yang memberikan layanan gratis ataupun yang berbayar. Salah satu keunggulan dari layanan tersebut adalah bisa menyediakan tontonan kapanpun dan dimanapun kita inginkan, dengan jadwal yang kita atur sendiri dan ratusan pilihan film yang tersedia.

Menjamurnya layanan streaming entertainment ini tidak serta merta menjadikan bioskop ditinggalkan oleh pelanggan setianya. Di Indonesia kita mengenal 3 bioskop besar yaitu Cinema 21 Group, CGV, dan Cinemaxx. Per 13 Mei 2019, jumlah layar di Indonesia mencapai 1,861, berdasarkan data Gabungan Pengusaha Bioskop di Indonesia. Jumlah layar terus bertambah dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2008, Indonesia memiliki 574 layar yang terus bertambah kemudian menjadi 1.518 layar pada 2017 dan 1.774 pada 2018. Hingga per 13 Mei 2019, bertambah 87 layar menjadi 1.861 Layar.

Dari segi jumlah penonton pun mengalami kenaikan signifikan dari tahun 2015 dengan 16,2 juta penonton meningkat 5x lipat hingga mencapai jumlah 52,5 juta penonton di tahun 2018. 

Cineplex 21 Group sebagai market leader bioskop saat ini menyatakan bahwa di semester 1 tahun 2019 bioskop XXI mencatatkan kenaikan penjualan tiket sebesar 10% dibandingkan semester 1 di tahun 2018. Hal ini menunjukan pertumbuhan yang baik bagi bisnis bioskop di tengah gempuran berbagai layanan streaming yang bisa dengan mudah diakses oleh para pelanggan. Pertumbuhan industri perfilman nasional yang makin diminati oleh masyarakat menjadi faktor pendukung geliat industri bioskop di Indonesia. Saat ini Indonesia menduduki peringkat 8 di dunia sebagai negara dengan pangsa pasar film nasional yang cukup baik. Untuk urutan 1-7 diduduki Amerika Serikat dan Kanada/Amerika Utara (93,6%), Jepang (63,1%), China (58,3%), Korea Selatan (57,7%), Turki (53,4%), Argentina (37,2%), dan Perancis (35,8%). 

Setidaknya ada 2 alasan yang menyebabkan Cineplex 21 Group dapat bertahan sejak tahun 1987 sampai dengan saat ini:

1. Experiences dan Up-to-date

Ada setidaknya dua hal yang tidak bisa diberikan oleh layanan streaming online yang bisa diberikan oleh bioskop. Experiences dan pilihan film-film yang pastinya terbaru. Kursi yang nyaman dengan teknologi audio yang mutakhir serta layar yang besar menjadi salah satu alasan kenapa orang memilih untuk menonton di bioskop dan tidak bisa tergantikan dengan adanya layanan streaming online. Layanan streaming online tidak akan menampilkan film-film baru, karena umumnya film baru hanya akan ditayangkan di bioskop baru kemudian tersedia di layanan streaming online

Layanan streaming online mengharuskan seseorang berlangganan walaupun tidak menonton sama sekali, berbeda dengan bioskop dimana kita hanya akan membayar ketika ada film yang kita minati untuk ditonton, bagi beberapa orang menonton di bioskop akan lebih menguntungkan dibandingkan berlangganan Netflix.

2. Senantiasa Berinovasi

Konsumen saat ini sangat mengutamakan kemudahan dalam bertransaksi, hal itu juga yang dilakukan Cineplex 21 Group untuk tetap bisa bertahan di Industri. Ada beberapa inovasi yang dilakukan oleh Cineplex 21 Group yang membuatnya tetap bertengger sebagai market leader dalam kategori bioskop

– Channel pembelian tiket yang semakin banyak.

Calon penonton tidak lagi perlu repot-repot untuk mengantri dan tentunya tidak perlu takut akan kehabisan tiket. Calon penonton bisa  membeli tiket melalui M-Tix ataupun TIX-ID, mudah, cepat, hassle free. Sebuah terobosan yang sukses membuat bioskop-bioskop milik Cineplex 21 Group jarang sepi. 

– Membuka The Premiere, IMAX

Sekali lagi experience adalah salah satu poin penting yang dicari oleh pelanggan ketika menonton, hal itulah yang berusaha dikembangkan oleh Cineplex 21 Group. The Premiere ditargetkan bagi pecinta film yang menginginkan fasilitas yang lebih mewah termasuk di dalamnya lobi khusus, kursi khusus yang jauh lebih nyaman dari studio biasa.

Selain menghadirkan The Premiere, Cineplex 21 Group juga menghadirkan IMAX dengan luas layar mencapai 11×20 meter, IMAX hadir di Gandaria City sejak tahun 2012 dan kemudian membuka beberapa studio lainnya dan mencapai 7 studio IMAX sampai saat ini.

Walaupun belum dilakukan di Indonesia, beberapa bioskop di negara lain mulai menghalau efek kompetisi dari Netflix dengan membuat sistem berlangganan. Hal ini dilakukan untuk tetap bisa bertahan di industri hiburan yang semakin ketat. Perusahaan bioskop terbesar di Amerika Serikat, AMC, mulai menawarkan jasa berlangganan dan sukses meraih 860,000 pelanggan yang awalnya ditargetkan hanya 500,000 pelanggan. Dengan sistem berlangganan ini setiap pelanggan bisa menonton 3 film dalam satu minggu di seluruh cabang bioskop AMC. Inovasi-inovasi seperti inilah yang akan membuat industri bioskop tetap dapat bertahan di tengah gempuran teknologi yang semakin canggih dan menawarkan kenyamanan bagi pelanggannya. 

Pada akhirnya semua bisnis yang ada saat ini tidak akan terbebas dari disrupsi baik disrupsi teknologi maupun disrupsi lainnya. Bisnis harus selalu siap dan cepat beradaptasi di tengah dunia yang berubah dengan sangat cepat. Bisnis harus bisa melahirkan ide-ide baru yang bisa mempertahankan pelanggan yang ada saat ini dan bahkan menambah pelanggan melalui inovasi-inovasi. Dunia tidak akan berhenti berubah, begitu juga dengan bisnis, yang bisa bertahanlah hanyalah mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan cepat dan tidak lelah berinovasi.

Referensi

O.C Ferrell, Geoffrey A. Hirt, Linda Ferrell. Business Foundations: A Changing World. 12th edition. New York: McGraw-Hill Education.

https://nasional.kompas.com/read/2017/07/07/18590671/berapa.lama.lagi.usia.koran.di.indonesia..

https://www.theguardian.com/media/greenslade/2007/jul/16/holdthefrontpageyoungpeop

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20190516152929-220-395469/jumlah-layar-bioskop-indonesia-mulai-kejar-korea-selatan

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/10/18/berapa-jumlah-gedung-dan-layar-bioskop-di-indonesia

https://swa.co.id/swa/trends/indonesia-masuk-10-besar-pangsa-pasar-film-nasional-bagus

https://www.lifegate.com/people/lifestyle/newspaper-becomes-a-plant

https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/risj-review/what-do-news-readers-really-want-read-about

https://www.forbes.com/sites/petersuciu/2019/10/11/more-americans-are-getting-their-news-from-social-media/#488f135c3e17

https://fiu-assets-2-syitaetz61hl2sa.stackpathdns.com/uses/2465/frankfurter-rundschau

https://dailysocial.id/post/cinema-xxi-hadirkan-imax-with-laser-di-gandaria-city


Like it? Share with your friends!

3
1 share, 3 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format