TEKNOLOGI ADALAH VAKSIN BAGI PERUSAHAAN ADAPTIF


1
1 point

TRANSMEDIA: 

TIDAK BERGANTUNG PADA TELEVISI SAJA

Jika bertanya industri apa yang paling terkena dampak dari kemajuan teknologi, jawabannya adalah industri media. Disadari atau tidak, pola konsumsi informasi setiap generasi yang berbeda-beda. Ketika perilaku konsumen berubah, disitulah pergeseran dimulai yang berdampak terhadap bisnis. Tentu ini patut menjadi perhatian semua pelaku pada berbagai sektor industri dan bisnis yang bergelut didalamnya, tanpa terkecuali industri media.

Saya beri contoh PT Trans Media Corpora atau yang lebih dikenal dengan Transmedia. Berdiri sejak tahun 2001, dengan stasiun televisi Trans TV dan Trans7 pada saat itu yang dikenal dengan sejumlah program televisi trendsetter. “Bukan Empat Mata” misalnya, sempat membuat Trans Media panen pemirsa sekaligus pengiklan. Bahkan, program tersebut juga sanggup mempopulerkan sang host dan co-host, komedian Tukul Arwana dan Vega. Iingin menciptakan sukses yang sama pada Trans 7, masih mengusung konsep komedi Trans 7 menghadirkan “Opera Van Java” yang lebih dikenal dengan sebutan OVJ sebagai andalannya. Program yang kalau boleh dibilang re-package dari tayangan bergaya  “Ketoprak Humor” besutan RCTI dulu terbukti sanggup menghipnotis para pemirsa.

Namun, Zaman berubah. Perilaku konsumen pun berubah. Transmedia menyadari keunggulan program-program televisi hasil dari kreativitas tim kreatifnya juga perlu menyesuaikan, seiring dengan tayangan yang mulai tampak lesu pada pangsa pemirsa.

Pada 2015, generasi millenial (1998-2000) mulai diperhitungkan oleh sejumlah perusahaan media termasuk Transmedia. Ini karena segmentasi milenial cukup besar untuk diraup. Terutama dengan tingginya penetrasi internet dan melesatnya angka penjualan smartphone.Media Industry Disruption

Dengan demikian, akses media melalui smartphone menjadi alternatif yang cukup banyak dipilih oleh consume. Televisi bukan lagi menjadi yang utam. Dengan bantuan internet dan kecanggihan smartphone, semua orang dapat mengakses berbagai konten media di mana pun dan kapan pun. Hanya dengan satu kata kunci, informasi atau konten media yang diinginkan langsung muncul di layer smartphone. Semua ditampilkan dengan mudah dan cepat.

“Mereka memilih melihat handphone, tablet, komputer, karena pilihannya lebih banyak. Mau cari berita bisa di detik, kompas, viva, 24 jam lagi. News channel kalah cepat dengan di media sosial,” kata Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Ishadi SK.

Kondisi ini membentuk kebiasaan baru, tuntutan untuk membaca berita yang singkat dan padat semakin tinggi. Tak ayal jurnalisme pada industri media menghadapi dilemma besar. Di satu sisi, dapur redaksi harus selalu berupaya menyajikan berita yang berkualitas. Di sisi lain, mengejar kecepatan berarti mengorbankan kedalaman dan kualitas konten media atau informasi berita yang dihasilkan 

Selain itu, cara millennial dalam memperoleh informasi cukup berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kini, dalam satu menit di dunia maya, sekurangnya 4,1 juta video ditonton orang melalui Youtube; 3,5 juta entri tercatat di mesin pencarian Google; 900 ribu akun melakukan login Facebook; dan 452 ribu kicauan beterbangan di jagat twitter. Ini menunjukan, pembaca dan penonton berubah. Cara mereka memperoleh informasi berpindah dari media konvensional ke media baru.

Tidak hanya millennial bahkan, “Ibu-ibu juga mulai berkurang menonton TV karena asyik dengan media sosial seperti WA, Facebook, Instagram, YouTube, dan lainnya. Persaingan di FTA juga maskin ketat. Sekarang ada 10 TV nasional, 8 TV berjaringan, dan TV digital lebih dari 100,” papar Ishadi SK.

Jika tidak disikapi dengan bijak, khawatir industri media menjadi tidak sehat. Belanja iklan akan terbagi-bagi seiring banyaknya pemain. Kompetisi harga kian tajam karena banyak stasiun TV berebut iklan. Penurunan pendapatan iklan akan memaksa stasiun TV meningkatkan efisiensi biaya. Imbasnya adalah penurunan kualitas program siaran.

Fenomena tersebut mendorong Transmedia melakukan perubahan. Bagi Transmedia hal ini justru menjadi peluang-peluangbaru untuk memperkuat bisnisnya dengan melebarkan sayap ke a rah digital. Kini, Transmedia sudah memiliki banyak media, termasuk media digital antara lain detik.com, HaiBunda.com, CNNIndonesia.com CNBCIndonesia.com, dan beberapa lainnya. Transmedia telah mempersiapkan semua platform lebih dini untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, 

Di sisi lain, Transmedia juga mulai menyiapkan in house production dengan membuat Developmet Broadcast Program. Sehingga dalam kurun waktu kurang lebih tiga tahun, pihaknya sudah bisa memperkuat in house productionnya tersebut..

Berikutnya, Transmedia memperkuat medianya dengan melalukan sinergi. Awalnya hanya Trans TV kemudian bertambahnya Trans7 yang berpatner dengan Kompas Gramedia Group. Tak sampai di situ saja, beberapa tahun berikutnya pihaknya juga menjalin kerjasama dengan CNN, yang akhirnya menjadi CNN Indonesia dan CNBC dengan stasiun CNBC Indonesia untuk pemberitaan seputar ekonomi.

Dari segi konten, Transmedia juga terus meng-create konten-konten menarik untuk menghibur para pemirsa. Pasalnya, ia melihat bahwa saat ini masyarakat tidak lagi loyal pada sebuah stasiun televisi atau portal berita namun lebih kepada konten-konten yang menarik bagi mereka. 

Bagi Transmedia perubahan-perubahan yang terjadi merupakan sebuah peluang yang perlu disikapi positif dan beradaptasi dengan perubahan tersebut sehingga tetap bisa relevan sesuai perkemvangan zaman. Dengan begitulah, mampu tetap dinikmati dan dijadikan referensi lintas generasi.

PT TELKOM INDONESIA: 

ENABLER PLATFORM

Telkom Indonesia memang lahir pada 1965. Pada tahun itu pulalah, mereka sudah melayani telepon fixed line. Mereka memiliki pelanggan yang tersebar di seluruh Indonesia dan tidak memiliki saingan sama sekali. Tidak ada saingan kala itu membuat Telkom fokus terhadap produk dan layanan yang diberikan. Pada 1980 didirikan PT Indonesian Satelllite Corporation (Indosat) yang khusus menangani bisnis telekomunikasi internasional. Indosat menjadi oerusahaan yang berdiri sendiri di luar Telkom Indonesia.

Memasuki dunia seluler pada 1995, Telkom Bersama dengan Indosat mendirikan Telkomsel dengan produk kartu pasca-bayar Kartu halo. Dua tahun kemudian, Telkomsel menerbitkan kartu prabayar yang diberi nama Simpati. Keduanya merupakan produk simcard untuk memenuhi layanan seluler Indonesia. Pada tahun yang sama, jaringan Telkomsel sudah tersedia di 27 provinsi. Karena isu kebijakan duopoly dalam bidang telekomunikasi dihapuskan, sesuai dengan kesepakatan akhirnya Telkom mengakuisisi Telkomsel dan Indosat memilih untuk menarik anak perusahaan Telkom yang lain: Satelindo dan Lintasarta Alikanusa pada 2001.

Seiring dengan perkembangan teknologi, pada awal tahun 2000-an Telkom menghadirkan layanan TelkomNet Instan. Memanfaatkan jaringan telepon, pengguna fixed line bisa menikmati koneksi internet melalui personal computer dengan kecepatan hingga 15 Mbps.

Permintaan akan koneksi internet yang lebih baik semakin tinggi. Disamping itu muncul pula pemberi layanan internet di luar Telkom Indonesia (kompetitor). Rata-rata mereka juga bergerak pada telekomunikasi seluler. Keadaan tersebut mendorong Telkom untuk menyempurnakan TelkomNet Instan menjadi produk penyedia layanan internet bernama Speedy pada tahun 2006. 

Sampai disitu, Telkom menunjukan bahwa mereka mampu melihat sektor komunikasi tidak berhenti pad atelepon saja. Baik itu layanan fixed line, telepon seluler, dan telepon nirkabel.

Telkom memperluas definisi layanannya supaya lebih konvergen dengan kebutuhan masyarakat seiring dengan perkembangan teknologi.

Dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat, selanjutnya Telkom melakukan pendekatan TIME: telecommunication, information, media and education, dan expertise. Contohnya ialah produk IndiHome yang memperluas konsep media and education. Indihome menyempurnakan layanan Speedy dengan teknologi fiber-optic-nya. Telkom melalui IndiHome juga menawarkan layanan smart home yakni industri atau masyarakat tidak hanya mendapatkan internet dan fixed line saja tetapi bisa menikmati tayangan televisi kabel atau layanan on demand video.  

Melalui perjalanan Telkom tersebut saya melihat bagaimana Telkom Indonesia mencoba keluar dari perangkap produk dengan terus menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen seiring dengan perkembangan teknologi serta kegiatan manusia. Hal tersebut merupakan upaya Telkom untuk tetap mempertahankan bisnisnya dan menjawab tantangan zaman.

ANALISA

Case

Business Form

Business Ownership

Product

Competition

Strategy Business

Transmedia

(Pangsa pemirsa media televisi/konvensional menurun)

Corporation

Acquisition

Information

Encourage by Market Force and Regulation

Making new business lines (digital) by acquiring

Telkomsel

(Kebutuhan layanan konsumen terus bertambah)

Corporation

Acquisition

Telecommunication

Encourage by Market Force and Regulation

Expanding product service based on human need and activities

Transmedia dan Telkom Indonesia adalah perusahaan nasional Indonesia yang bisa kita jadikan contoh disini. Bila melihat dari perjalanannya, kedua perusahaan ini cepat beradaptasi dengan segala perubahan dan perkembangan teknologi yang terjadi . Berkali-kali mengalami perubahan dan mengupayakan agar produk dan layanannya diterima oleh konsumen. Strategi yang dilakukan pun hampir sama, untuk membuatnya bertahan sampai sekarang Transmedia dan Telkom Indonesia melakukan perluasan produk. Transmedia yang mulanya hanya bergerak di media televisi atau konvensional, saat ini berkembang dengan memiliki platform digital bahkan menjadi sepuluh besar berita online ternaik di Indonesia versi Alexa Rank.

Begitu pun Telkom Indonesia, saya yakin para eksekutifnya sangat peka terhadap kebutuhan industri dan masyarakat terhadap layanan telekomunikasi. Seiring perkembangan teknologi, tentu saja jaringan telekomunikasi menjadi tulang punggung dalam aktivitas industri maupun masyarakat. 

Pemenuhan kebutuhan konsumen terhadap produk atau layanan penunjang kegiatan sehari-hari tumbuh begitu cepat sehingga menuntut perusahaan berpikir keras, bagaimana agar market bisa tetap cepat terpenuhi. Jika lambat akan mempengaruhi loyalitas konsumen mengingat hadirnya kompetitor yang siap merebut market.

Memiliki kompetitor yang cukup banyak  di industri media, Transmedia sudah melakukan hal yang tepat. Dengan mengakuisisi beberapa media online dan kanal televisi, menjadikan Transmedia memiliki segmen pasar yang luas serta konten-konten yang spesifik sehingga kebutuhan pemirsa yang beragam dapat terakomodir dan juga menumbuhkan loyalitas bagi pemirsanya.

Melalui akuisisi juga dapat dengan cepat mendapatkan sumber daya manusia sesuai kompetensi yang dibutuhkan, Perusahaan tidak perlu lagi membutuhkan waktu lama mempersiapkan karyawannya dari mulai tahap awal (rekrutmen). Perusahaan tinggal memolesnya sedikit, menyesuaikan dengan culture kerja serta value perusahaan.

Selain itu, dengan akuisisi perusahaan sudah mendapatkan kepercayaan atau brand trust dimata konsumennya selama perusahaan yang diakuisisi memiliki reputasi yang baik. Hal ini juga dapat berpengaruh terhadap financial gain atau permodalan perusahaan tersebut kedepan.

Berbeda dengan Transmedia, Telkom Indonesia memiliki pangsa pasar yang sudah terbangun ekosistemnya. Dari mulai pengguna telepon rumah (fixed line) hingga telepon seluler yang lintas generasi. Menjaga reputasi baik dengan prinsip Business Ethic dan Social Responsibility terhadap isu-isu konsumen perlu diperhatikan dan dijaga agar bisnis terus berlangsung.

USULAN SARAN & SOLUSI

Usulan yang pertama demi keberlangsungan bisnis sebuh perusahaan baiknya suatu aktivitas bisnis atau produk terintegrasi dengan program-program pemerintah sehingga proyeksi kapasitas produksi dan sumber daya dapat lebih terukur karena pasara yang jelas. Kedua, di zaman penuh ketidakpastian ini perusahaan jangan hanya fokus pada core business saja namun perlu disiapkan melalui continuous improvement atau inovasi untuk menciptakan produk atau layanan baru yang sesui dengan kebutuhan manusia kedepan, tentu saja dengan konsep platform based on technology. Ketiga, isu social responsibility semakin berpengaruh terhadap bisnis, generasi millennial semakin sadar terhadap green product. Mereka peduli terhadap produk yang mereka pakai, darimana asalnya, bagaimana pembuatannya, asal bahan baku produk, sampai perlindungan konsumen yang diberikan. Melalui keterbukaan informasi di era digital ini tentu sangat mudal para millennial mendapatkan informasi tersebut.

Penyebab perubahan yang dibahas disini adalah munculnya perilaku baru karena perkembangan teknologi, Teknologi menjadikan produk sebagai pengubah kehidupan. Satu hal berubahm yang lain mengikuti. Memang ketika perubahan terjadi, tidak 100% yang lama akan hilang sama sekali. Tidak akan otomatis hilang, walaupun porsinta semakin mengecil.

https://www.youtube.com/watch?v=u2HBYthODRE

Source:

https://mix.co.id/marcomm/brand-communication/media/cara-trans-media-hindari-kanibalisasi/

https://swa.co.id/swa/trends/marketing/bisnis-layar-kaca-meredup-ini-tandanya

https://swa.co.id/swa/business-strategy/strategi-transmedia-bertahan-hingga-17-tahun-di-industri-pertelevisian

https://swa.co.id/swa/business-strategy/strategi-transmedia-bertahan-hingga-17-tahun-di-industri-pertelevisian

Kasali, Rhenald. “The Great Shifting”. PT Gramedia Pustaka Utama, 2018.

Kasali, Rhenald. “The Great Shifting”. PT Gramedia Pustaka Utama, 2018.


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format