Integrated Urban Farming : Berdaulat Pangan Dimulai dari Dapur Kita Sendiri


-1
-1 points

INTEGRATED URBAN FARMING : #SIDAMAIBERKEBUN

            Sebagai negara yang mencatatkan sebagai negara berpenduduk terbesar nomor empat di dunia, hal ini menjadikan Indonesia sebagai bangsa besar yang memiliki sumber daya manusia yang sangat potensial. Tuhan juga telah meletakkan Bangsa Indonesia dilintang khatulistiwa yang dapat merasakan sinaran matahari sepanjang tahun dengan curah hujan yang tergolong tinggi. Diproyeksikan kita akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2030-2040 karena diestimasikan penduduk usia produktif yaitu 15-64 tahun akan lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif. Sebetulnya Indonesia sudah lolos tahap administrasi untuk mendaftarkan diri menjadi negara maju. Jumlah penduduk yang besar ditambah sumber daya mineral, ditambah iklim yang mendukung pertanian, dan ditambah garis pantai terpanjang di dunia sama dengan syarat-syarat layak untuk menjadi negara maju. Namun, pertanyaannya kenapa sampai detik ini kita belum bisa merasakan janji-janji proklamasi yang tertuang dalam preambule UUD 45?. Ternyata permasalahan kita sudah tampak dipelupuk mata sejak dahulu namun seakan jauh jaraknya untuk dijangkau. Iya, sejak dahulu sampai sekarang sebenarnya Bangsa Indonesia belum selesai dengan permasalahan perutnya. 

            Permasalahan perut tidak lain dan tidak bukan adalah permasalahan pangan. Permasalahan perut yang belum tuntas dapat bermuara kepada buruknya kesehatan, kriminalitas, perceraian, dan lain-lain. Jika berbicara permasalahan pangan sebetulnya kita sudah berketahanan pangan, namun kita sama sekali belum berdaulat pangan. Apa beda ketahanan pangan dan berdaulat pangan?. Jika kita hari ini bisa mendapatkan makanan maka kita sudah berketahanan pangan, namun belum tentu kita berdaulat pangan. Kita dikatakan berdaulat pangan apabila kita sudah tercukupi pangannya dan pangan tersebut dihasilkan dari dalam negeri. Slogan klasik dan awam terkait kedaulatan pangan adalah tanam apa yang kita makan dan makan apa yang kita tanam”. 

                                                     Data Beras Versi BPS Dinilai Dekati Kondisi Riil - Ekonomi Bisnis.com

            Diestimasikan jika kita tutup semua keran impor bahan baku kita mulai dari beras, daging sapi, susu sapi, bawang, cabai, dll. Bangsa kita diproyeksikan tidak akan kuat memenuhi konsumsi pangan dalam negeri selama satu tahun. Susu sapi kita impor setidaknya 80% dan daging sapi 60% belum bahan pokok lain seperti gula, garam, kacang hijau, dll. Permasalahan pangan akan memiliki efek domino yang sangat besar dan menyelesaikan masalah tersebut pun memerlukan waktu yang tidak singkat. Salah satu permasalahan kritis terkait pangan adalah permasalahan stunting. Stunting adalah posisi dimana kekurangan gizi kronis selama dalam kandungan. Bayi yang lahir dalam kondisi stunting cenderung akan mudah sakit, rangka tubuh pendek, dan pertumbuhan otak yang tidak optimal. Sayangnya Indonesia memiliki angka stunting yang tergolong tinggi. Pada tahun 2018 angka kelahiran stunting diangka 30% lalu turun 3% pada tahun 2019. Dapat dikatakan 1 dari 3 bayi yang lahir di Indonesia mengalami stunting dikarenakan kurang gizi kronis. Artinya jika melirik pada efek samping stunting maka kemungkinan 1 dari 3 anak yang lahir tersebut kelak akan cenderung mudah sakit, daya berpikir tidak optimal, dan rangkanya tidak tinggi. Artinya anggaran Pendidikan termasuk beasiswa dan bantuan kesehatan akan cukup terserap untuk mensubsidi anak-anak tersebut 20-40 tahun yang akan datang dengan hasilan yang tidak akan pernah bisa optimal. Kualitas SDM kita juga dipastikan sulit untuk kompetitif dengan negara lain jika secara fisik saja mudah sakit dan tergolong ringkih. Bonus demografi yang kita selalu gaungkan bisa jadi kelak malah menjadi catastrophe demography jika kita tidak serius menyiapkan generasi yang akan datang. 

Permasalahan pangan pun sebetulnya bukan mutlak tanggungjawab pemerintah atau tanggungjawab para petani untuk mempersiapkannya. Pemangku kepentingan terkait pangan adalah semua elemen yang masih membutuhkan pangan kecuali orang yang sudah meninggal. Artinya pangan adalah tanggungjawab kita semua. Pada kasus permasalahan tersebut saya mengajukan konsep integrated urban farmingMungkin kita sudah kerap kali mendengarkan konsep integrated farming. Namun, belum ada yang mengintegrasikan sektor pertanian dengan peternakan diarea sub-urban atau perkotaan. Konsep integrated urban farming : #SidamaiBerkebun merupakan salah satu project role model mengenai pertanian terpadu diperkotaan, yang sudah saya dan penggerak lain lakukan selama satu tahun ini dan berlokasi diarea komplek Perumahan Dayu Permai, Jl. Damai, Ngaglik, Sleman. Secara demografi, rata-rata penduduk Perumahan Dayu Permai merupakan lansia dan pensiunan. Gerakan #SidamaiBerkebun merupakan gerakan mandiri pangan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan protein nabati dan hewani serta menggerakkan perekonomian warga secara mandiri dengan prinsip bergotong royong. Langkah kedepan adalah menjadikan gerakan tersebut sebagai tempat percontohan yang harapannya mampu menciptakan agent of change lainnya untuk membangun konsep integrated urban farming ditempat masing-masing agar mampu mendukung mandiri pangan dan ekonomi warga. Tidak lupa bahwasanya tidak semua hewan ternak atau tanaman pangan cocok ditanam ditempat urban atau sub-urban. Pada prinsipnya limbah-limbah peternakan akan menjadi sumber kehidupan sektor pertanian, pun limbah sektor pertanian bisa menjadi sumber kehidupan sektor peternakan maka agar tercipta sistem terintegrasi perlu adanya kedua sektor tersebut. Kita akan coba membahas dan membagi menjadi dua bagian yaitu sumber protein hewan dan protein nabati.

Pada pemenuhan sumber protein hewani warga bisa memelihara hewan ternak sebagai berikut yang bisa dipelihara tanpa ruang yang besar : 

  1. Ayam Petelur Negeri 
    • banyak orang yang mengira ayam petelur membutuhkan ruang yang besar. Nyatanya cukup dengan 1×2 meter kita bisa memelihara setidaknya 8 ekor ayam petelur yang dipelihara secara intensif. Setiap hari ayam tersebut perlu diberi pakan 2 kali yang warga bisa beli pakan jadi. Namun, untuk mengurangi rasio pakan kita bisa memberi sisa cacahan sayur dan nasi untuk ayam-ayam tersebut. Jika dipelihara dalam kondisi yang baik maka ayam-ayam tersebut bisa bertelur setidaknya 80% setiap harinya. Artinya setiap hari kita sudah bisa mendapatkan telur ayam segar. 
    • Bapak Mulyono merupakan salah satu warga Perumahan Dayu Permai. Beliau sukses memelihara 8 ekor ayam petelur dilantai 2 rumahnya. Beliau merupakan pensiunan yang sekarang sudah berumur 70 tahun lebih. Beliau memanfaatkan limbah sayuran disamping tetap menggunakan pakan ayam jadi atau complete feed. Selain untuk memenuhi kebutuhan untuk rumah tangga. Sisa dari produksi berlebih bisa dijual langsung ke antar tetangga dengan harga Rp 20.000- Rp 25.000/kilogram. Sedangkan kotoran ayam tersebut jika sudah dikeringkan dengan terik panas matahari selama 3-4 minggu sudah siap untuk dijadikan pupuk organik. Terlebih jika menggunakan bakteri starter akan lebih cepat.
  2. Lebah Madu Trigona/Lanceng 
    • Lebah Trigona merupakan lebah terkecil didunia. Lebah tersebut hanya memiliki daya jelajah dengan radius 500 meter. Kelebihan lebah ini adalah mampu mengambil nektar dari bunga-bunga yang tidak bisa diambil lebah madu lain seperti Serana, Melivera, dll. Lebah Trigona juga termasuk lebah yang tidak agresif dan tidak membahayakan. Lebah tersebut memiliki ukuran sebesar semut dan tidak memiliki sengat sehingga sangat aman untuk dipelihara diteras atau belakang rumah. Lebah tersebut bisa dipanen madunya sekitar 3-6 bulan tergantung pada ketersediaan bunga disekitar koloni. Harga per 100 ml bisa berada diharga Rp. 70.000-Rp100.000. Madu Trigona memiliki kadar propolis yang tinggi baik untuk anti bakteria atau anti virus.  
  3. Ikan Lele
    • Ikan lele merupakan salah satu alternatif mudah dalam pemeliharaan dan juga pemberian pakannya. Kita tidak perlu kolam yang besar dan air mengalir untuk memelihara ikan tersebut. Kita bisa memanfaatkan kolam terpal, kolam buis beton, atau kolam plastik dalam budidaya ikan tersebut. Kita bisa memanfaatkan limbah dapur sebagai alternatif pakan ikan lele. Ikan lele dapat kita panen dalam rentang 3-4 bulan dengan ukuran satu kilogram berisikan sekitar 10-11 ekor. Kita bisa juga terus memelihara ikan lele sampai ikan tersebut berukuran besar. Ikan lele yang berukuran besar cenderung lebih cepat dalam memakan limbah-limbah rumah tangga. Ikan lele yang sudah memiliki bobot diatas dua kilogram sangat cocok untuk dijadikan abon lele. Lele besar yang sudah diabonkan dapat disimpan selama 6 bulan. Abon lele yang berasal dari lele diatas dua kilogram memiliki tekstur yang kasat dan renyah. Berbeda dengan lele ukuran kecil yang apabila dijadikan abon hanya memiliki tekstur seperti serundeng. Air dari kolam lele juga bisa digunakan untuk menyiram sayuran dan tanaman lainnya. Harga perkilogram lele bisa kita jual Rp. 18.000- Rp. 20.000 langsung ke end user atau tetangga sebelah kita.
  4. Ikan Gurameh
    • Alternatif ikan lain yang mudah dipelihara adalah ikan gurameh. Ikan guramehtidak memerlukan kolam yang besar dan air mengalir. Tidak semua orang memang suka mengkonsumsi ikan lele. Maka ikan gurameh menjadi alternatif lainnya. Ikan gurameh cukup diberi makan daun-daunan karena ikan tersebut tergolong ikan herbivora. Makanan kesukaan ikan gurameh adalah daun talas, daun pepaya, daun pisang, dan daun-daunan lainnya. Masa pemeliharaan ikan sejak berukuran sebesar silet sampai siap konsumsi ukuran 5-7ons memerlukan waktu 10-11 bulan. Memang kelemahan ikan ini adalah lama pertumbuhannya namun tergolong ikan yang sangat hemat pakan. Jika kita bisa menanam pohon pisang dan pepaya disekitar rumah kita maka hal tersebut sudah menjadi hubungan mutualisme. Air dari kolam ikan juga dapat digunakan untuk menyiram tanaman kita. Terkait rasa, ikan gurameh tidak perlu diragukan karena ikan tersebut tergolong ikan premium. Harga per ekor ikan tersebut bisa mencapi Rp.30.000- Rp.40.000 untuk ukuran 7 ons. 
  5. Burung Puyuh
    • Burung puyuh juga dapat menjadi alternatif sumber protein hewani. Burung puyuh dapat bertelur setiap hari dan sangat suka untuk memakan rerumputan. Kita bisa memanfaatkan limbah rumah tangga dan gulma disekitar rumah untuk tambahan pakan dari burung puyuh. Alas untuk burung puyuh adalah dengan menggunakan sekam. Jika sudah terlalu menumpuk maka sekam tersebut bisa kita gunakan menjadi pupuk untuk tanaman. Telur puyuh baik dikonsumsi bagi anak-anak kecil karena mengandung kolesterol cukup tinggi yang baik bagi pertumbuhan otak anak.  Harga per butir telur puyuh dikisaran Rp. 300. Lokasi 1 dikali 2.5 meter kita bisa memelihara 200 ekor burung puyuh dengan alas sekam.

Pemenuhan sumber protein nabati berasal dari sayur-sayuran, buah, dan unsur tanaman lainnya. Pada prinsipnya tanaman yang kita budidayakan adalah tanaman untuk mencukupi kebutuhan dapur. Kita akan membagi tanaman menjadi 5 dimensi yaitu akar, batang, daun, bunga, dan buah. Dasar pembagian kedalam 5 dimensi adalah bagian hasil yang akan dikonsumsi. Kelima dimensi tersebut setidaknya harus ada dalam satu area agar kita memiliki hasil yang lengkap dan terdiversifikasi. 

  1. Hasil dari Tanaman Akar
    • Tanaman yang dapat menghasilkan dari akar adalah bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, kentang, singkong, dan tanaman lain-lain. 
  2. Hasil dari Tanaman Batang
    • Tanaman yang dapat menghasilkan dari batangnya adalah lidah buaya. Lidah buaya cukup mudah ditanaman dan batangnya bisa dibuat jelly atau pelengkap dalam minuman. 
  3. Hasil dari Tanaman Bunga
    • Kita tetap bisa mempercantik halaman kita dengan tanaman bunga yang produktif atau bisa dikonsumsi. Salah satu contohnya adalah bunga telang. Bunga tersebut akan menghasilkan bunga setiap harinya. Bunga Telang bisa menggantikan teh dengan cukup dikeringkan selama tiga hari. Cara penyajiannya pun cukup mudah hanya dengan diseduh air hangat. Bunga Telang bermanfaat untuk detoksifikasi, mengobati infeksi tenggorokan, dan gangguan penglihatan. 
  4. Hasil dari Tanaman Daun
    • Ada banyak sekali tanaman yang menghasilkan dari daunnya seperti bayam, seledri, sawi, dll. Tanaman tersebut bisa kita potong sesuai kebutuhan dan tidak dicabut sampai akarnya agar bisa tumbuh kembali. Tanaman-tanaman tersebut hanya memerlukan 30 hari untuk panen dan bisa kita panen selanjutnya. 
  5. Hasil dari Tanaman Buah 
    • Kita perlu menata tata letak lahan sempit kita sebelum menanam tanaman yang cocok. Sebagai contohnya jika lahan kita cukup lebar maka kita bisa memilih pohon mangga, nangka, atau belimbing. Namun jika lahan kita tergolong tidak besar maka pohon papaya bisa jadi alternatifnya. Jika tidak ada lahan sama sekali maka kita bisa menggunakan planter bag untuk ditanami jambu kristal. Tanaman yang menghasilkan dari buahnya juga bisa dari tomat, terong, dan cabat. Melalui perawatan yang baik pohon cabai bisa bertahan hingga 2 tahun dan terus berbuah. 

               Pada akhirnya prinsip integrated urban farming dibentuk untuk mengurangi biaya rumah tangga serta meningkatkan pendapatan melalui pemanfataan lahan sempit agar produktif. Setiap hasil produksi yang berlebih bisa kita jual langsung ketetangga atau jarkom melalui grup whatapps. Maka biaya yang timbul akan sangat minim karena biaya distribusi sangat efisien. Jika saat ini Perumahan Dayu Permai terdapat 500 keluarga. Sekitar 40% warganya sudah menanam dan berproduksi baik secara individu maupun kolektif. Maka sudah sangat banyak hasil produksi yang bisa saling ditukarkan satu sama lain. Selain langsung ke end user kita bisa memanfaatkan took kelontong sekitar untuk menitipkan hasil produksi rumahan agar bisa terserap lebih baik lagi. 

            Harga setiap sayuran bisa selisih Rp.500 sampai Rp. 1000 jika dipasarkan karena dapat dipastikan selama budidaya tidak menggunakan pupuk kimia, insektisida, maupun herbisida. Melainkan bisa menggunakan limbah rumah tangga seperti cangkang telur, larutan kulit bawang merah, dan ampas teh sebagai pupuk penguat akar, batang, dan bunga pada tanaman. Sedangkan dalam penanganan hama kita bisa rutin menyemprotkan larutan jeruk nipis (2 buah jeruk nipis dalam 2 liter air) agar hama seperti semut, ulat, dan hama lain untuk enggan hinggap dan merusak tanaman. 

referensi sumber :

https://www.internetworldstats.com/stats8.htm

https://www.bappenas.go.id/files/9215/0397/6050/Siaran_Pers_-_Peer_Learning_and_Knowledge_Sharing_Workshop.pdf

http://www.bulog.co.id/ketahananpangan.php

https://sardjito.co.id/2019/07/22/kenali-penyebab-stunting-anak/

https://www.litbang.kemkes.go.id/menggembirakan-angka-stunting-turun-31-dalam-setahun/


Like it? Share with your friends!

-1
-1 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
AryaKhoirul

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format