Motivation, Performance and Leadership

Motivation, performance dan leadership diperlukan untuk mengintegrasikan segala tindakan menjadi terarah, efisien dan efektif dalam mencapai tujuan bersama.


4
4 points

Dalam sebuah organisasi, tidak hanya dibutuhkan seorang manajer yang piawai dalam kepemimpinan, namun juga dibutuhkan kemampuan seorang manajer dalam memastikan setiap anggota organisasi memiliki motivasi untuk memberikan performa terbaik sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Jika seorang manajer dapat melakukan kepemimpinan yang efektif, akan dihasilkan tenaga kerja yang bermotivasi kerja tinggi.

MOTIVATION AND PERFORMANCE

Motivasi dapat didefinisikan sebagai kekuatan atau kemampuan psikologis menentukan arah perilaku seseorang dalam organisasi, tingkat usaha atau kinerja seseorang dan tingkat kegigihan seseorang dalam mengalami kesulitan.

Motivasi dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Motivasi yang berasal dari internal adalah sebuah perilaku kerja yang diberikan akibat kepentingannya sendiri, sumber motivasi yang berasal dari melakukan pekerjaan itu sendiri. Misalnya seorang guru yang menikmati proses mengajar, seorang programmer yang gemar melakukan pemecahan masalah programming. Motivasi yang berasal dari eksternal adalah sebuah perilaku kerja yang diberikan untuk mendapatkan penghargaan material dan sosial maupun untuk menghindari hukuman. Selain sumber motivasi internal, eksternal ataupun keduanya, beberapa orang juga dapat termotivasi secara prososial. Yaitu sebuah motivasi perilaku kerja dengan tujuan untuk membantu orang lain.

Faktor yang mungkin mempengaruhi sumber motivasi seseorang yaitu:

1. Karakter tenaga kerja ( Kepribadian, Kemampuan, Nilai yang dianut, Kebutuhan)

2. Karakter pekerjaan

3. Karakter organisasi (Struktur, Budaya, Manajemen, Human Resource System)

Tugas utama seorang manajer yang berhubungan dengan motivasi yaitu memastikan anggota organisasi mendapatkan hasil yang diharapkan ketika mereka memberikan kontribusi yang berarti pada organisasi.

Ada beberapa teori motivasi yang biasa digunakan oleh manajer secara komprehensif untuk mendapatkan motivasi tenaga kerja yang tinggi. Setiap teori berikut berfokus pada isu yang berbeda-beda yang perlu diperhatikan oleh seorang manajer untuk membentuk motivasi kinerja.

1. EXPECTANCY THEORY

Diformulasikan oleh Victor H. Vroom pada 1960. Teori ini mempercayai bahwa usaha yang tinggi membawa performa kinerja yang tinggi dan performa kinerja yang tinggi membuat hasil yang diinginkan tercapai.

Teori ini mengidentifikasi 3 faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang :

a) Expectancy

adalah persepsi seseorang tentang tingkat suatu usaha yang menghasilkan sebuah level performa tertentu, sebuah usaha yang tinggi akan menghasilkan  level performa yang tinggi pula. Seorang manajer dapat meningkatkan level expectancy dan motivasi subordinat dengan menyediakan training sehingga subordinat dapat memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan performa tinggi dan meningkatkan level otonomi serta tanggung jawab mereka.

b) Instrumentality

Adalah sebuah persepsi tentang tingkat suatu level performa yang membawa ke pencapaian suatu hasil tertentu. Tenaga kerja termotivasi untuk memberikan performa tinggi hanya jika mereka berfikir performa tinggi akan membawa kepada hasil yang tinggi pula seperti gaji, keamanan bonus, serta promosi. Pada poin ini seorang manajer harus mengkomunikasikan dengan jelas hubungan antara performa dan hasil yang akan tenaga kerja dapatkan.

c) Valence

Adalah seberapa apa keinginan suatu hasil dari sebuah pekerjaan atau organisasi bagi seseorang . Manajer perlu menentukan hasil mana yang  paling diinginkan dan memastikan hasil tersebut dapat dicapai bagi mereka yang memberikan performa tinggi. 

2. NEED THEORY

Teori ini memiliki premis dasar yaitu seseorang akan termotivasi untuk mendapatkan hasil pada pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga seorang manajer perlu menentukan kebutuhan mana yang perlu dipenuhi seseorang dan memastikan orang tersebut mencapai hasil yang diinginkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut jika orang tersebut memberikan performa kinerja yang tinggi dan membantu organisasi dalam mencapai tujuannya. Ada beberapa versi dari Need Theories.

a) Maslow’s Hierarchy of Needs

Sebuah susunan lima dasar kebutuhan manusia. Menurut Maslow jika kebutuhan paling rendah yang tidak terpenuhi akan menjadi sumber motivasi utama dan hanya ada satu level kebutuhan yang menjadi sumber motivasi dalam satu waktu.

b) Alderfer’s ERG Theory

Sebuah teori yang membagi kebutuhan menjadi 3 Jenis yaitu Existence, Relatedness dan Growth. Menurut Alderfer kebutuhan pada lebih dari satu level dapat menjadi sumber motivasi pada waktu yang sama. 

c) Herzberg’s Motivator-Hygiene Theory

Sebuah teori yang mengatakan bahwa kebutuhan seseorang ada 2 macam yaitu motivator needs dan hygiene needs. Motivator needs adalah yang berhubungan dengan lingkungan kerja itu sendiri dan seberapa menantang pekerjaan tersebut, misal otonomi, tanggung jawab, kesempatan berkembang, dan sebagainya. Sedangkan hygiene needs berhubungan dengan hal fisik maupun psikologis dari pekerjaan tersebut, seperti atmosfer kantor, gaji, keamanan, dan sebagainya.

d) McClelland’s Need for Achievement, Affiliation and Power

Need for achievement diartikan sebagai sebuah tingkat keinginan individu untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik dan memenuhi standar yang diinginkan. Need for affiliation dapat diartikan sebagai tingkat keinginan seorang individu untuk membentuk hubungan serta relasi yang baik dengan lingkungan sekitarnya sehingga individu tersebut dapat diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Need for power Adalah tingkat keinginan seorang individu untuk mengontrol atau mempengaruhi orang lain. Setiap pekerjaan memiliki porsi kebutuhan yang berbeda-beda dari 3 macam kebutuhan tersebut.

3. EQUITY THEORY

Teori motivasi ini berkonsentrasi kepada persepsi seseorang tentang keadilan dari sebuah hasil yang didapatkan apakah proporsi dengan usaha yang diberikan. Equity Adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa bahwa perbandingan antara hasil yang didapatkan dan usaha yang diberikan sama dengan perbandingan seseorang yang menjadi referensinya. Sedangkan inequity, adalah keadaan sebaliknya, dapat berupa underpayment atau overpayment.

Motivasi tertinggi didapatkan ketika orang-orang yang berada dalam organisasi memiliki persepsi bahwa mereka memiliki perlakuan atau hak yang sama antara usaha yang diberikan dan hasil yang akan didapatkan. Perlakuan atau hak yang sama bagi semua orang, contohnya:

a) Distributive justice : para tenaga kerja memiliki persepsi bahwa semua memiliki kesempatan yang sama seperti promosi, gaji, tugas serta kondisi lingkungan kerja dalam organisasi.

b) Procedural justice : Para tenaga kerja  memiliki persepsi keadilan dalam pengetahuan prosedur cara penilaian suatu hasil pekerjaan.

c) Interpersonal justice : Para tenaga kerja memiliki hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama ketika mendapatkan hasil yang didapatkan dari usahanya.

d) Informational justice : Para tenaga kerja mengetahui tingkat penjelasan atau informasi yang diberikan oleh seorang manajer tentang sebuah keputusan atau prosedur yang disampaikan kepada mereka.

4. GOAL SETTING THEORY

Sebuah teori yang berfokus pada identifikasi tipe tujuan yang paling efektif dalam menghasilkan tingkat motivasi serta performa yang paling tinggi serta penjelasan mengenai efek dari tujuan tersebut .Dalam teori ini untuk menstimulasi motivasi dan performa yang tinggi tujuan haruslah berupa sesuatu yang spesifik dan menantang.

Sebuah tujuan yang spesifik dan menantang dapat menjadi sebuah motivasi karena pertama tujuan tersebut dapat memotivasi seseorang untuk memberikan usaha di dalam pekerjaannya kemudian hal tersebut juga membuat seseorang menjadi lebih persisten ketika mereka menemui kesulitan .Kedua, tujuan yang spesifik dan menantang dapat memotivasi seseorang agar lebih fokus kepada usaha yang diberikan agar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, sehingga seseorang akan membuat sebuah action plan untuk mencapai tujuan tersebut.

5. LEARNING THEORY

Sebuah teori motivasi tentang bagaimana seorang manajer dapat membuat kesinambungan antara hasil yang diinginkan oleh tenaga kerja dengan performa kerja yang diinginkan serta tingkat pencapaian tujuan. Learning sendiri dapat diartikan sebagai perubahan dalam pengetahuan atau perilaku seseorang sebagai hasil dari latihan atau pengalaman. Ada 2 macam learning theories:

a) Operant Conditioning Theory

Adalah sebuah teori dimana seseorang belajar untuk memberikan performa yang membawa kepada konsekuensi yang diinginkan dan belajar untuk tidak memberikan performa yang menuju kepada konsekuensi yang tidak diinginkan. Ada 4 tools yang dapat digunakan oleh seorang manajer dalam teori operant conditioning:

Positive Reinforcement : Tenaga kerja mendapatkan hasil yang mereka inginkan ketika memberikan performa yang berarti bagi organisasi seperti gaji serta promosi.

Negative Reinforcement : Penghilangan atau eliminasi hasil yang tidak diinginkan ketika seseorang memberikan performa yang berarti bagi organisasi seperti komplain, kritik atau ancaman pemecatan.

Extinction : Meredam perilaku kinerja yang kurang baik dengan menghilangkan hal yang membuat mereka melakukan hal tersebut.

Punishment : Pemberian konsekuensi yang tidak diinginkan atau negatif ketika terjadi perilaku yang tidak sesuai.

b) Social Learning Theory

Adalah sebuah teori tentang bagaimana pembelajaran dan motivasi seseorang dipengaruhi oleh pikiran serta keyakinan orang tersebut itu sendiri beserta pengamatannya terhadap perilaku orang lain. Pada teori ini dijelaskan bagaimana seseorang dapat termotivasi melalui observasi kepada performa kinerja orang lain (vicarious learning), bagaimana seseorang dapat termotivasi untuk mengontrol perilakunya sendiri melalui penetapan sejumlah target dan hasil yang diinginkan (self-reinforcement) serta bagaimana kepercayaan diri seseorang tentang kemampuan mereka untuk memberikan performa yang baik (self-efficacy) sehingga berubah menjadi sebuah motivasi.

GAJI DAN MOTIVASI

Setiap teori yang telah disebutkan di atas memasukkan pentingnya gaji sebagai bagian dari motivasi dan memberikan saran agar gaji atau upah diberikan sesuai dengan performa yang ada.

a) Expectancy : Gaji adalah bagian dari instrumentality

b) Need theory : Gaji digunakan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan 

c) Equity theory : Gaji diberikan berdasarkan dengan usaha yang diberikan 

d) Goal-setting : Gaji diberikan berdasarkan pencapaian hasil dan tujuan 

e) Learning theory : Gaji diberikan berdasarkan performa kinerja yang sesuai dengan keharusan.

Skema pembagian gaji dapat didasarkan pada performa individu, kelompok maupun organisasi.Untuk skema penggajian individu atau grup dapat digunakan sistem hitung per unit kerja ataupun berdasarkan persentase komisi. Sedangkan perhitungan gaji tingkat organisasi dapat didasarkan pada pembagian keuntungan yang didapatkan secara total atau pada seberapa banyak penekanan biaya yang dapat dilakukan oleh sebuah organisasi.

LEADERSHIP

Menurut Gareth Jones and Jennifer George (Contemporary Management. 2018), Kepemimpinan adalah proses dimana seorang individu mempunyai pengaruh terhadap orang lain dan mengilhami, memberi semangat, memotivasi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan mereka guna membantu tercapai tujuan kelompok atau organisasi. 

Orang yang melakukan fungsi kepemimpinan disebut pemimpin atau leader. Definisi pemimpin menurut  Gareth Jones and Jennifer George (2018) adalah seseorang yang mampu memberikan pengaruh terhadap orang lain dan membantu orang tersebut mencapai tujuan bersama baik secara individu maupun kelompok/organisasi. 

LEADERSHIP FUNCTION

Menurut Hadari Nawawi (Kepemimpinan Yang Efektif. 2012), proses kepemimpinan dapat berjalan efektif, jika fungsi kepemimpinan diwujudkan sesuai dengan tipe kepemimpinan yang mampu memberikan kesempatan bagi orang yang dipimpin untuk ikut berperan aktif dalam menetapkan dan melaksanakan tujuan atau keputusan.

1. Fungsi Instruktif

Pemimpin sebagai komunikator yang menentukan arahan/perintah, bagaimana dan kapan langkah-langkah strategis dijalankan agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga, fungsi pemimpin adalah memberikan perintah kepada orang yang dipimpin. 

2. Fungsi Konsultatif

Pemimpin melakukan cara berkomunikasi dua arah untuk menetapkan tujuan/keputusan yang memerlukan pertimbangan dari orang yang dipimpinnya.

3. Fungsi Partisipasi

Pemimpin melibatkan orang lain/bawahan/anggotanya dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan.

4. Fungsi Delegasi

Pemimpin melimpahkan wewenangnya kepada orang lain sebagai bentuk kepercayaan kepada seseorang atau bawahannya yang diberikan pelimpahan wewenang untuk bertanggung jawab.

5. Fungsi Pengendalian

Pemimpin melakukan coordinating, counseling, directing, dan controlling terhadap pekerjaan atau kegiatan para bawahan/anggotanya.

PERSONAL LEADERSHIP STYLE

Personal leadership style adalah kemampuan mengembangkan dan memanfaatkan sifat-sifat kepemimpinan positif diri sendiri untuk menentukan tujuan (goals). Personal leadership dapat dimulai ketika kita memutuskan melatih diri sendiri agar konsisten sesuai dengan personal mission statement yang mencerminkan nilai-nilai dan tujuan hidup. 

Tidak hanya memimpin untuk diri sendiri, beberapa pemimpin juga berjuang memimpin untuk melayani orang lain yang disebut servant leadership. Menurut Robert Greenleaf (The Servant as Leader. 1970), servant leadership muncul dari seseorang yang mempunyai semangat ingin melayani dan membawa seseorang untuk memimpin dengan cara menempatkan kebutuhan orang lain/bawahannya sebagai prioritas, memahami pentingnya nilai bagi setiap individu dan membantu orang lain dalam mencapai suatu tujuan bersama. Prioritas kepemimpinan pelayan yang pertama dan utama adalah pada pengembangan bawahan/karyawan yang menghasilkan nilai tambah bagi suatu organisasi, yang diikuti dengan keberhasilan yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

POWER : THE KEY TO LEADERSHIP

Kunci utama dalam kepemimpinan yang efektif bergantung pada kemampuan seorang pemimpin dalam memberikan pengaruh dan berdampak kepada orang yang dipimpinnya. Beberapa sumber kekuatan kepemimpinan dalam manajerial :

1. Legitimate Power

Otoritas yang dimiliki manajer berdasarkan posisinya dalam hierarki organisasi. Wewenang seorang pemimpin untuk memberi perintah yang harus didengar dan dipatuhi oleh bawahannya. Misal kekuasaan jenderal terhadap prajuritnya atau seorang pemimpin perusahaan terhadap karyawannya.

2. Reward Power

Kemampuan seorang manajer untuk memberikan kompensasi nyata dan tidak berwujud sebagai bagian dari penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahannya. Penghargaan bisa berupa promosi jabatan, uang, dan sebagainya.

3. Coercive Power

Kemampuan seorang manajer untuk memberi hukuman dan pengendalian kepada bawahannya. Seorang bawahan menyadari jika tidak mematuhi arahan pimpinan, akan ada efek negatif yang bisa timbul. Penggunaan kekuatan koersif yang berlebihan dapat mengakibatkan kondisi kerja yang tidak diinginkan. Misal teguran lisan, pemotongan gaji dan pemecatan.

4. Expert Power

Kekuatan yang didasarkan pada pengetahuan, keterampilan, dan keahlian khusus yang dimiliki pemimpin. Kekuasaan dapat berjalan jika bawahan memerlukan keahlian pemimpinnya dan akan hilang apabila sudah tidak memerlukannya. Kekuasaan ini bisa eksis jika didukung oleh referent power atau legitimate power.

5. Referent Power

Kekuatan yang berasal dari rasa hormat, kekaguman, dan loyalitas bawahan. Kekuasaan ini timbul karena karakter individu, kepribadian yang menarik, keteladanan dan kharisma.

APPROACHES TO LEADERSHIP

Pendekatan awal untuk kepemimpinan adalah berusaha menentukan seperti apa dan bagaimana menjadi pemimpin yang efektif. Berikut teori kepemimpinan yang efektif :

1. Trait Model

Teori ini menjelaskan bahwa kualitas kepribadian yang positif (seperti kecerdasan, disiplin, pengetahuan, kecakapan dan tanggung jawab) dapat membuat seseorang menjadi pemimpin yang baik. Teori ini fokus pada karakteristik pribadi dan keberhasilannya bergantung pada bakat, pengalaman dan upaya dalam belajar kepemimpinan. 

2. Behavior Model

Teori ini fokus pada perilaku seorang pemimpin dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinannya. Identifikasi dua tipe perilaku dasar yaitu :

a) Consideration ; Perilaku yang menunjukkan bahwa manajer mempercayai, menghormati, dan peduli pada bawahan.

b) Initiating Structure ; Perilaku manajer untuk memastikan bahwa pekerjaan diselesaikan oleh bawahan, dan organisasi efisien dan efektif.

3. Contingency Model

Model kepemimpinan yang efektif adalah hasil dari interaksi antara apa yang manajer suka, apa yang dia lakukan, dan situasi di mana kepemimpinan terjadi. Teori Kontingensi sering disebut dengan Teori Situasional. Beberapa model teori kontingensi antara lain Fiedler’s contingency model, House’s path-goal theory dan Leader substitutes model.

a) Fiedler’s Contingency Model

Kepemimpinan yang efektif bergantung pada karakteristik pemimpin dan situasi. Seorang pemimpin peduli dengan mengembangkan hubungan baik dengan bawahan mereka (Relationship-oriented style). Seorang pemimpin memastikan bawahan bekerja pada level yang tinggi sehingga pekerjaan dapat diselesaikan (Task-oriented style). Teori ini mengidentifikasi tiga karakteristik situasi yang penting yaitu :

Leader-member relations. Hubungan antara pemimpin dan anggota/bawahannya, sejauh mana seseorang yang dipimpin memiliki rasa suka, percaya, dan setia kepada pemimpin mereka

Task structure. Sejauh mana pekerjaan harus dilakukan dengan jelas sehingga bawahan tahu apa yang harus dicapai dan bagaimana cara melakukannya

Position Power. Sebesar apa kekuasaan yang sah (legitimate power), reward dan coercive power yang dimiliki oleh seorang pemimpin berdasarkan posisinya dalam suatu organisasi. Situasi kepemimpinan ini akan efektif jika posisi seorang pemimpin sangat tinggi.

b) House Path-Goal Leadership Behaviors Model

Teori ini menjelaskan empat macam leadership behavior dalam memotivasi bawahan :

Directive behaviors, menetapkan tujuan, menunjukkan kepada bawahan cara menyelesaikan tugas dan mengambil langkah nyata untuk meningkatkan kinerja.

Supportive behavior, perilaku yang mengungkapkan kepedulian terhadap bawahan dan mencari kepentingan terbaik untuk mereka.

Participative behavior, memberikan kesempatan kepada bawahan dalam hal dan keputusan yang mempengaruhi mereka.

Achievement-oriented behavior, menetapkan tujuan yang menantang kepada bawahan, berharap bahwa mereka dipenuhi dan percaya pada kemampuan bawahan.

c) The Leader Substitutes Model

Leadership Substitute, dalam konteks tertentu dapat bertindak sebagai pengganti seorang pemimpin. Terkadang kepemimpinan ini tidak diperlukan karena sifatnya hanya menggantikan seorang pemimpin untuk sementara waktu dan tidak memainkan peran kepemimpinan secara utuh dalam suatu organisasi. 

LEADERSHIP MODEL

Kepemimpinan adalah kondisi dimana pemimpin dapat mempengaruhi, memotivasi, mengarahkan orang lain, bawahan atau pengikutnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan seorang pemimpin. Terdapat tiga model kepemimpinan yang sangat erat kaitannya dengan sifat/karakter dari seorang pemimpin itu sendiri, bahkan ada yang timbul dari hasil proses pembelajaran. Model kepemimpinan tersebut terbagi atas Kepemimpinan Karismatik (Charismatic Leadership), Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership) dan Kepemimpinan Transaksional (Transactional Leadership).

1. Charismatic Leadership

Seorang pemimpin yang antusias dan percaya diri mampu dengan jelas mengkomunikasikan visinya tentang bagaimana hal-hal yang baik dapat terjadi. Seorang pemimpin karismatik bersemangat dan tertarik komunikasi kepada bawahan. Seorang pemimpin karismatik mudah berbagi informasi dengan bawahannya sehingga setiap orang menyadari masalah dan perlunya perubahan. Perilaku seorang pemimpin karismatik adalah sebagai berikut:

Stimulating Subordinates Intellectually. Perilaku yang dilakukan seorang pemimpin untuk membuat pengikut menyadari masalah dan melihat masalah ini dengan cara baru, konsisten dengan visi pemimpin.

Developmental Consideration. Manajer mendukung dan mendorong bawahan, memberi mereka kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan mereka serta untuk tumbuh dan unggul dalam pekerjaan.

2. Transformational Leadership

Kepemimpinan ini fokus pada bagaimana membuat bawahan sadar akan pentingnya pekerjaan mereka bagi organisasi dan betapa perlunya bagi mereka untuk melakukan pekerjaan itu sebaik mungkin sehingga organisasi dapat mencapai tujuannya. Kepemimpinan transformasional harus bisa membuat bawahan sadar akan kebutuhan mereka sendiri untuk pertumbuhan, pengembangan, dan pencapaian pribadi. Seorang pemimpin perlu memotivasi bawahannya untuk bekerja demi kebaikan organisasi, bukan hanya untuk keuntungan atau keuntungan pribadi mereka sendiri. Menurut Sondang P. Siagian (Teori dan Praktek Kepemimpinan. 1994), seorang pemimpin dalam kepemimpinan transformasional harus memiliki perilaku sebagai berikut :

Credible. Mempunyai sifat konsisten dan komitmen yang tinggi apa yang diucapkannya dengan yang diperbuat.

Creation Opportunities. Menciptakan peluang bagi orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.

Carying. Menunjukkan kepedulian kepada orang lain sehingga membuat bawahan merasa diakui menjadi bagian dari organisasi.

Communication. Mempunyai ketrampilan komunikasi yang baik dengan orang lain.

3. Transactional Leadership

Kepemimpinan yang memotivasi bawahan dengan memberi penghargaan kepada mereka untuk yang memiliki kinerja tinggi dan menegur mereka untuk memiliki kinerja rendah. Dalam teori kepemimpinan ini, pemimpin mengendalikan bawahan dengan cara menggunakan kekuasaan untuk mencapai hasil, mengelola bawahan dengan memberi reward dan punishment serta menerapkan transaksi yang saling menguntungkan dengan bawahan. Kepemimpinan transaksional memperhatikan nilai moral seperti kejujuran, keadilan, kesetiaan dan tanggung jawab. Kepemimpinan ini membantu orang ke dalam kesepakatan yang jelas dan memperhitungkan hak-hak serta kebutuhan bawahannya. Kepemimpinan transaksional menurut Bass (1990) memiliki karakteristik sebagai berikut :

– Contingent reward. Kontrak pertukaran penghargaan untuk usaha, penghargaan yang dijanjikan untuk kinerja yang baik, mengakui pencapaian.

Active management by exception. Melihat dan mencari penyimpangan dari aturan atau standar, mengambil tindakan perbaikan.

Pasive management by exception. Intervensi hanya jika standar tidak tercapai.

Laissez-faire. Melepaskan tanggung jawab, menghindari pengambilan keputusan.

Dalam hal kepemimpinan, seorang pemimpin perlu memiliki emotional intelligence. Karena jika pemimpin mengalami suasana hati positif akan memiliki koordinasi yang lebih baik, sebaliknya jika pemimpin mengalami suasana hati negatif mengerahkan lebih banyak upaya. Kemampuan seorang pemimpin dalam mengatur emotional intelligencakan memberikan banyak manfaat seperti membantu para pemimpin mengembangkan visi untuk perusahaan mereka, membantu memotivasi bawahan untuk berkomitmen pada visi serta memberi semangat bawahan untuk bekerja untuk mencapai visi.

Source :

Jones, G.R., dan George, J.M. (2020). Contemporary Management. 11th Edition, McGraw-Hill, New York

http://ugmpress.ugm.ac.id/en/product/sosial-dan-politik/kepemimpinan-yang-efektif

https://www.suara.com/yoursay/2019/12/17/170722/servant-leadership-sebagai-gaya-kepemimpinan-kekinian 

https://inajiun.wordpress.com/2014/04/22/kepemimpinan-transaksional/

Disusun oleh :

The Brain Stormers

– Agus Tri Ardiansyah

– Iqbal Maulana Akbar

– Pramestyani

– Yoga Citra Kurnianda

– Zahrotul Aisyah

Motivation, Performance and Leadership


Like it? Share with your friends!

4
4 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
4
Fun
Genius Genius
5
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
2
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format