Ambisi Letnan Berujung Tragedi (The Raid Redemption)


0

Sinopsis Film “The Raid Redemption” tahun 2011

Pada salah satu daerah kumuh di Jakarta terdapat sebuah apartemen yang dikuasai oleh gembong narkoba terkenal bernama Tama Riyadi. Apartemen berlantai 30 ini tak tersentuh bahkan untuk perwira polisi paling berani sekalipun dan menjadi markas aman bagi berbagai gangster, penjahat, dan pembunuh yang paling berbahaya. Tim polisi senjata dan taktik khusus (SWAT) berjumlah 20 orang ditugaskan untuk menyerbu bangunan tersebut untuk mengakhiri kejahatan Tama.

Letnan Wahyu menginstruksikan tim khusus yang dipimpin oleh Sersan Jaka dalam penyerbuan apartemen Tama. Tim ini terdiri dari beberapa anggota elit baru yang belum berpengalaman. Sesampainya di gedung Tama, tim khusus ini dengan profesional mengamankan setiap lantai hingga pada lantai ke 5 aksi tim ini ketahuan oleh salah satu remaja penghuni yang selanjutnya memberi informasi pada pemilik gedung tersebut yaitu Tama. Tama merespon dengan tenang mengatakan bahwa kita kedatangan tamu tak diundang dan untuk kepentingan bersama silahkan bantu dengan ganjaran tempat tinggal gratis, ia juga menambahkan untuk jangan lupa bersenang senang. Keadaan pun menjadi menegangkan karena tim SWAT terjebak di markas kriminal tanpa ada bala bantuan.

Letnan Wahyu VS Gembong Narkoba Tama

Letnan Wahyu memiliki wewenang mengistruksi Sersan Jaka serta regunya dalam misi penyerbuan ini sedangkan gembong narkoba Tama adalah pimpinan tertinggi dari usaha narkoba yang dijalankannya dengan bantuan Mad Dog dan Andi. Letnan Wahyu merupakan protagonis dan antagonis dalam regu SWAT dalam misi menyerbu markas Tama. Ia merupakan polisi kotor dalam kepolisian yang korup yang memiliki ambisi besar dalam mencari jabatan dan bersedia mengorbankan nyawa rekan untuk ambisinya. 

Tama Riyadi adalah antagonis utama di film ini, ia adalah penguasa kejahatan narkoba dan pemilik dari apartemen yang menjadi sarang penjahat. Ia sudah bekerja sama dengan Reza atasan Letnan Wahyu dan mengetahui bahwa Letnan Wahyu akan datang suatu saat untuk menyerbu markas miliknya dan dipastikan mereka tidak memiliki bantuan karena misi itu adalah misi yang diprakarsai sendiri oleh Letnan Wahyu untuk memenuhi ambisi jabatan dirinya.

Konflik

Dalam film “The Raid Redemption”, konflik yang terjadi adalah terperangkapnya Letnan Wahyu beserta regu SWAT di dalam gedung milik Tama. Ini dimulai dari ambisi Lt. Wahyu untuk meraih jabatan ia rela mengorbankan banyak nyawa dengan mengelabui rekannya. Pimpinan kriminal Tama sudah mengetahui misi tersebut dari atasan Lt. Wahyu bahwa suatu saat Lt. Wahyu akan datang tanpa ada regu bantuan sehingga Tama sudah menyiapkan pertahanan dalam gedung tersebut.

Managers Goal : Achieving High Performance (Chapter 1)

Efisiensi secara singkat merupakan sebuah ukuran seberapa baik sumber yang produktif daya digunakan untuk mencapai tujuan, sedangkan efektivitas adalah ukuran kesesuaian tujuan yang dikejar suatu organisasi dan sejauh mana organisasi mencapai tujuan tersebut. Organisasi yang efektif adalah ketika manajer memilih tujuan yang sesuai dan kemudian tujuannya tercapai.

Four Task Of Management. (Chapter 1)


Dari penjajaran singkat mengenai materi four task of management dapat kita nilai bagaimana Letnan Wahyu dan kriminal Tama melakukan manajemen pada organisasi mereka masing masing. Berikut tabel penjelasan yang dapat disimpulkan dari film tersebut :

Four Task of Management

Letnan Wahyu

Kriminal Tama

Planning (Perencanaan)

Wahyu merencanakan misi kurang baik karena tidak ada rencana alternatif bila rencana awal gagal namun ia berhasil meyakinkan Sersan Jaka untuk datang membawa pasukan dan menyergap markas Tama dan Sersan Jaka baru menyadari bahwa instruksi tersebut hanya untuk memenuhi ambisi Wahyu dalam meraih jabatan.

Tama melakukan tindakannya dengan perencanaan yang cukup baik. Jauh sebelum Letnan Wahyu bertindak ia sudah mengetahui misi tersebut dan telah berhasil bribing atasan Wahyu. Tama telah menyiapkan pertahanan berupa CCTV dan regu pertahanan. Namun ia underestimate kemampuan tim SWAT.

Organizing (Pengorganisasian)

Susunan organisasi dalam kru SWAT menjalankan tugasnya masing masing sesuai dengan strukturnya dan sudah terampil dalam berkomunikasi antara individu. Namun dalam kru pada misi tersebut terdapat anggota baru yang kurang berpengalaman.

Tama mengatur bawahannya terstruktur, mulai dari Mad Dog (kepercayaan dalam pertahanan yang terampil bela diri dan dipungut di pinggir jalanan) memiliki bawahan untuk tindakan kotornya, regu sniper untuk pertahanan jarak jauh, Andi (Otak bisnis narkoba), dan warga penghuni apartemen yang dapat dikendalikan dengan cara tertentu. 

Leading (Memimpin)

Wahyu memiliki sifat egois yang tinggi sehingga ia rela mengorbankan rekannya sendiri demi ambisi dirinya. Ia mengelabui tim SWAT untuk menjalankan misi dan bahkan membunuh Dagu dengan tembakan tepat di kepala.

Pimpinan kriminal Tama memimpin dengan kejam, ia memberikan insentif kepada mereka yang berhasil memenuhi permintaannya. Ia juga memotivasi organisasinya untuk melakukan tugas dengan hati senang.

Controlling (Pengendalian)

Wahyu mengontrol pasukan dengan menanyakan siapa regu yang dibawa oleh Sersan Jaka dan menekankan agar Sersan mau bertanggung jawab penuh terhadap anggota regu yang ia pimpin

Dalam pertahanannya Tama selalu memperhatikan CCTV, Informasi dari para polisi yang ia suap, dan sistem keamanan berupa speaker yang tersedia setiap lantai.

The Big Five Personality Test (Chapter 3)

Big Five Personality atau Teori kepribadian lima besar. Teori ini merupakan pendekatan dalam ilmu psikologi kepribadian yang menjelaskan kepribadian manusia melalui trait yang disusun dari lima buah kepribadian yang terbentuk dengan analisis-analisis faktor yang ada. Perusahaan biasanya menggunakan test ini untuk menilai karakter pegawai di perusahaan tersebut. Sehingga pegawai dapat diletakkan pada jabatan yang sesuai dengan karakternya masing masing.

  1. Extraversion : Berkaitan dengan kenyamanan seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Sifat positif dari extraversion adalah seseorang yang mudah bergaul dan hidup berkelompok. Sebaliknya kebalikan dari extraversion yang positif yaitu negatif, seseorang yang penyendiri dan sulit hidup dalam berkelompok.
  2. Negative affectivity : Kepribadian yang mampu menahan setress atau tekanan. Menilai kestabilan individu dalam menghadapi streess atau memiliki ide yang tidak realistis.
  3. Agreebleness : Kepribadian ini menilai apakah seseorang memiliki orientasi patuh terhadap individu lainnya
  4. Conscientiousness  : Kepribadian ini merupakan sikap disiplin yang tinggi dan dapat dipercaya karena cenderung berhati hati ketika melakukan sesuatu hal.
  5. Openness to experience : Menilai apakah individu terbuka untuk mengalami pengalaman baru (tidak biasa terjadi pada dirinya)

Letnan Wahyu

Kriminal Tama

Extraversion

Rendah, ia tak mampu mengendalikan regu SWAT dengan baik disaat kritis

Memiliki tingkat extraversion rendah, sosok yang dingin dan mengambil kekerasan sebagai solusi

Negative affectivity

Tinggi dalam negative affectivity terlihat dari percobaan bunuh diri setelah mengetahui kenyataan

Rendah, dengan tenang menghadapi kondisi kritis

Agreeableness

Rendah, ia seorang pemimpin yang rela mengorbankan rekan rekannya demi kepentingan pribadi. 

Tinggi, ia tau persis siapa yang harus ia ajak kooperasi dan harus dibayar berapa.

Conscientiousness

Rendah, ia tidak berhati hati dalam merencanakan misinya

Tinggi, ia bahkan memantau dengan teliti orang kepercayaannya yaitu Andi pada CCTV dan sadar ketika dikhianati

Openness to experience

Rendah, ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak setuju dengan Sersan Jaka dalam mencari anggota regu lain ketika dalam kondisi kritis.

Berani mengambil kesempatan untuk menyuap polisi korup yaitu atasan Wahyu untuk kepentingan usahanya

Moods and Emotions (Chapter 3)

Emosi adalah perasaan pendek yang datang dari alasan yang jelas, sedangkan mood adalah perasaan yang terjadi secara lama dan tidak memiliki titik mulai yang jelas. Berikut ini penjelasan emosi dan mood Letnan Wahyu dan Tama dibagi menjadi positif atau negatif.


Letnan Wahyu

Kriminal Tama

Mood

&

Emotion

Wahyu memiliki mood & emotion negatif, keputusan wahyu pada akhir film melakukan percobaan bunuh diri yang gagal diakibatkan karena mood & emotion yang negatif. 

Tama memiliki mood & emotion cenderung positif, ini dapat dilihat dari ekspresi dan nada suara yang tampak ceria dan percaya diri. Ia juga berkata “jangan lupa bersenang senang” juga menekankan emosi positif tersebut


Power : The Key to Leadership (Chapter 14)

Pada materi terdapat beberapa tipe Power dalam leadership, yaitu:

  • Legitimate Power: Power yang didapatkan Leader berdasarkan hierarki jabatan yang ada pada suatu perusahaan.

  • Reward Power: Power yang dapat digunakan seorang Leader untuk memberikan insentif nyata/fisik (kenaikan gaji, bonus) dan insentif moral (pujian, respect).

  • Coercive Power: Power yang dapat digunakan oleh seorang Leader untuk menghukum orang lain. Hukuman ini dapat dilakukan secara verbal atau melalui pengurangan gaji atau jam kerja.

  • Expert Power: Power yang didapatkan berdasarkan ilmu khusus, skill, atau keahlian yang dimiliki oleh seorang Leader. 

  • Referent Power (informal): Power yang diperoleh dari rekomendasi dan loyalitas yang diberikan oleh bawahan dan rekan kerja.



Letnan Wahyu

Kriminal Tama

Legitimate power

Wahyu memiliki jabatan sebagai atasan tim yaitu letnan

Tama adalh bos penjualan narkoba dan sekaligus penguasa apartemen yang menjadi markas kriminal

Reward power

Sebagai letnan ia dapat memberi rekomendasi bila bawahannya memiliki prestasi

Tama memiliki uang dan jaringan sebagai insentif bagi para rekan yang mau bekerja untuk dirinya

Coercive power

Sebagai Letnan, Wahyu memiliki wewenang menghukum bila terjadi kesalahan terhadap bawahan

Kriminal Tama memiliki kekuatan untuk menghukum siapa yang berani melawan dan berkhianat pada dirinya

Expert power

Wahyu melalui pelatihan dan pengelolaan skill hingga ia bisa mencapai pangkat letnan

Keahlian Tama adalah mengelola hubungan dengan polisi-polisi korup, ia menyuap Reza dan jajaran polisi berdasi lainnya

Referent power

Integritas Wahyu hilang ketika Sersan Jaka mengetahui bahwa misi tersebut hanya untuk memenuhi ambisi Letnan Wahyu

Ia memiliki banyak bawahan dan dihormati salah satunya adalah Mad Dog yang dipungut dari jalanan

Empowerment: An Ingredient in Modern Management (Chapter 14)

Empowerment merupakan proses yang dilakukan untuk memberikan para pegawai wewenang dalam menentukan pilihan, dan bertanggung jawab terhadap outcome yang dihasilkan oleh pilihan tersebut. Empowerment dapat berkontribusi untuk leadership dengan beberapa alasan sebagai berikut:

  • Empowerment meningkatkan kemampuan manajer untuk menyelesaikan pekerjaan karena manajer tersebut mendapat bantuan dari bawahannya yang memiliki ilmu khusus dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut.

  • Empowerment meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan komitmen pegawai yang memastikan mereka bekerja untuk mencapai tujuan perusahaan.

  • Empowerment memberikan manajer waktu lebih untuk berkonsentrasi pada permasalahan yang mendesak karena dia menggunakan waktu yang lebih singkat untuk melakukan supervisi pekerjaan.

Dalam kepemimpinannya letnan memberikan Sersan Joko yang membawa pasukan lebih banyak namun amatir. Ia memberikan Sersan Joko keleluasaan dan agar bertanggung jawab atas tindakannya. Sementara pada pihak kriminal Tama, ia mempercayai bawahannya yaitu Mad Dog dalam mengeksekusi Andi.

Saran :

  1. Ambisi untuk mendapatkan jabatan dan penghargaan Letnan Wahyu membunuh hati nurani letnan Wahyu. Sebagai seorang pemimpin tim SWAT ia harus bisa meletakkan kepentingan pribadinya dibawah kepentingan tim dan instansi, sehingga tidak akan ada penyesalan seperti yang terjadi pada saat durasi akhir, Letnan Wahyu tampak frustasi dan mencoba bunuh diri

  2. Tama mengambil tindakan yang keliru saat membeberkan informasi yang menyulut emosi Letnan Wahyu sehingga ia terbunuh olehnya. Keputusan ini keliru karena dapat dilihat pada saat mereka berjumpa di ruangan Tama, Letnan Wahyu tidak segan membunuh untuk memenuhi ambisinya.

  3. Letnan Wahyu tidak memiliki rencana alternatif lainnya, sehingga saat rencana pertama gagal ia pun kesulitan. Sebagai pemimpin sangat dianjurkan untuk memiliki rencana alternatif yang banyak dan pada masa kritis dapat dilakukan agar tujuan utama dapat tercapai

  4. Rencana menghabisi tim SWAT berjumlah 20 dilakukan dengan baik namun perhitungan Tama terhadap  kemampuan tim SWAT terlalu rendah sehingga pada akhirnya pertahanan Tama terkalahkan. Tama juga tidak menyiapkan exit plan pada saat genting agar ia bisa kabur dari markasnya dengan selamat. Underestimate kemampuan musuh adalah kesalahan yang membuat persiapan pertahanan kurang dari kebutuhan.

Sumber :

Jones, G. R., & Jennifer M. George. 2018. Contemporary Management Tenth Edition. Boston: McGraw-Hill.

Disusun oleh :

Dwitya Pradipto Darmawan


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
dwityapd

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format