Drama Ojol : Maxim, samakah kau dengan si Hijau ?

Maxim, yang berasal dari Rusia dan mampu meramaikan pasar jasa transportasi online di Indonesia.


0

Indonesia merupakan negara yang tergolong baru dalam industri 4.0 atau era yang berbasis digital mulai dari perbankan, pendidikan, hingga transportasi. Industri transportasi kini tidak hanya sebatas manufaktur saja, tapi juga menyediakan jasa transportasi berbasis teknologi. Tingginya kebutuhan mobilitas membuat pelaku usaha melirik transportasi berbasis teknologi menjadi solusi. Hal tersebut didukung dengan kaum milenial yang akrab dengan penggunaan teknologi di berbagai sektor bisnis, khususnya dalam tulisan kali ini ialah tentang transportasi online. 

https://ub-speeda.cn/wp-content/uploads/2017/11/Insights_MRT-and-LRT_20171106_Type-Two-1.jpg

Sumber: https://ub-speeda.cn/jakarta-mrt-and-lrt-development-a-ground-breaking-start-to-ease-traffic/

Ojek online merupakan angkutan komersial yang sama dengan ojek pada umumnya, menggunakan sepeda motor sebagai sarana pengangkutan, namun ojek online dapat dikatakan lebih maju karena telah terintegrasi dengan kemajuan teknologi. Ojek online merupakan ojek sepeda motor yang menggunakan teknologi dengan memanfaatkan aplikasi pada smartphone yang memudahkan pengguna jasa untuk memanggil pengemudi ojek atau yang biasa disebut dengan jasa transportasi online.

Baru-baru ini muncul aplikasi jasa transportasi online, Maxim, yang berasal dari Rusia dan mampu meramaikan pasar jasa transportasi online hingga menyaingi kompetitor lama yaitu Gojek dan Grab yang telah lebih dahulu resmi beroperasi di Indonesia. Maxim mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 2018 dengan nama PT. Teknologi Perdana Indonesia. Adapun sistem jasa transportasi Maxim mempunyai kesamaan seperti Gojek dan Grab, namun memiliki perbedaan yang signifikan yang mana sejak tahun 2018 hingga 2020 popularitas Maxim semakin meningkat. 

Sumber : id.taximaxim.com

Berdasarkan data di lapangan, terdapat peningkatan peminat hingga 31 kali dalam 2 tahun terakhir sebagai penyedia jasa transportasi online, sehingga aplikasi Maxim mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Etika Bisnis dalam Operasional Transportasi Online Maxim

Kehadiran Maxim di Indonesia tidak hanya memperoleh popularitas tetapi juga menuai konflik di antara para pesaingnya. Konflik pertama yang terjadi adalah permasalahan tarif Maxim di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, tarif yang terbilang sangat rendah dibandingkan dengan para pesaingnya yaitu Gojek dan Grab yang telah dulu resmi beroperasi di Indonesia. Tarif Maxim yaitu berkisar Rp4.000,-/km untuk motor, dan Rp12.000,-/km untuk mobil.

Bagi para pesaing Maxim, tarif yang mereka tetapkan tersebut dapat merusak iklim bisnis yang ditetapkan pemerintah yang tercantum dalam keputusan Menteri Perhubungan Nomor 348 Tahun 2019, tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Pengguna Sepeda Motor yang digunakan untuk kepentingan masyarakat pengguna aplikasi. Maxim telah membuat para pesaingnya melakukan protes karena melanggar peraturan Kemenhub per-1 Mei 2019, yaitu Kemenhub secara resmi menetapkan tarif baru ojek online. Besaran tarif terbagi ke dalam tiga zona: zona I untuk Sumatra, Jawa (tanpa Jabodetabek), dan Bali; zona II untuk Jabodetabek; zona III mencakup Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan lainnya.

Keresahan kompetitor berupa persaingan tarif akhirnya sampai ke Kementerian Perhubungan Indonesia. Maxim mendapatkan peringatan atas pelanggaran tersebut. Jika dirunut dari awal, Maxim memiliki masalah yang cukup krusial mengenai perizinan operasional aplikasi Maxim di Indonesia. Menurut pihak internal Maxim, Maxim bukanlah penyedia jasa transportasi, melainkan perusahaan pencipta solusi teknologi transportasi. Kemudian agar tercipta keadaan yang kondusif, Kemenhub menghubungi Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) selaku pemberi izin developer aplikasi online. Tampaknya tanpa ada kontroversi ataupun konflik mengenai Maxim yang terjadi di Samarinda Kalimantan Timur, Dirjen Kemenhub ataupun Kemenkominfo tidak mengetahui mengenai kelegalan Aplikator Maxim yang beroperasi di Indonesia. Namun dari pihak Maxim, mereka telah memiliki izin secara hukum dan mengatakan bahwa ini adalah sebuah kesalahpahaman. 

Adanya konflik yang terjadi menyebabkan Kemenhub tidak hanya memberikan peringatan, tetapi juga memblokir sementara aplikasi Maxim (melalui koordinasi dengan Kominfo). Sampai pada awal tahun 2020 blokir tersebut dibuka, Maxim kembali beroperasi dengan tarif yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. 

Maxim sebagai pilihan baru transportasi online dan resmi beroperasi di Indonesia, serta menurut grafik, Maxim memiliki peningkatan popularitas. Namun fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Tidak semua kalangan mahasiswa ataupun pekerja kantor mengetahui adanya Maxim di Indonesia, atau dengan kata lain, Maxim tidak sepopuler Gojek dan Grab. Selain hal itu, bagian promosi Maxim kurang dibandingkan dengan pesaingnya. Jika kita lihat, isi dari aplikasi Maxim sangat berbeda jauh dengan Aplikasi Gojek dan Grab.

  1. Logo Maxim                        2) Layanan baru Maxim                    3) Tampilan map Maxim

     

Sumber gambar: Aplikasi Maxim

4) Tampilan pemesanan user Maxim              5) Tidak dibedakan antara                 6) Tidak ada opsi dalam 

                                                                                driver dan penumpang                       pembayaran nontunai

  

Sumber gambar: Aplikasi Maxim

Aplikasi Maxim termasuk dalam kategori “kurang bagus”. Hal tersebut dapat dilihat dari kurang lengkapnya map atau peta yang ditampilkan, tidak mencantumkan ketarangan tentang ramai atau lengang sebuah jalan tersebut, tidak ada opsi pembayaran cashless dan hanya terdapat pembayaran secara tunai, serta tidak adanya sistem rating terhadap driver. Beberapa kekurangan tersebut melanggar UU Perlindungan Konsumen. Salah satunya, tidak adanya sistem rating pada aplikasi Maxim termasuk melanggar etika UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 khususnya pada pasal keempat.

Sumber: https://gatrik.esdm.go.id/assets/uploads/download_index/files/e39ab-uu-nomor-8-tahun-1999.pdf

Kemudian jika dibandingkan dengan pesaingnya, Maxim tidak memberikan kejelasan mengenai protokol kesehatan driver di era pandemi seperti sekarang ini, hal ini juga termasuk melanggar keselamatan konsumen.

Analisis Data

Sejalan dengan era revolusi industri 4.0 yang membuka lebar persaingan bisnis dari seluruh dunia, dapat mewarnai kondisi suatu negara termasuk Indonesia. Kondisi ini terjadi pada wewenang yang dimiliki pemerintah untuk menentukan kebijakan tarif dasar transportasi online. Selain itu juga berkaitan dengan isu ketenagakerjaan, yang mana pihak driver sebagai mitra rentan mengalami kerugian jika regulasi tentang tarif tidak diatur. Maxim yang hadir di Indonesia ini pun disinyalir tidak memperhatikan faktor kesejahteraan mitranya tersebut dibuktikan dengan izin usaha yang tidak jelas dan lepas tangan. Padahal jika ditelaah lebih lanjut, terdapat empat dimensi tanggung jawab sosial perusahaan, yaitu pertanggungjawaban ekonomi, pertanggungjawaban hukum, pertanggungjawaban etis, dan pertanggungjawaban sukarela (Ferrell, 2020:53).

Kondisi yang telah disebutkan di atas bertentangan dengan dimensi pertanggungjawaban ekonomi dan pertanggungjawaban etis. Pertanggungjawaban ekonomi menekankan pada profitable, yang berarti perusahaan ojek online tidak hanya menguntungkan perusahaan itu sendiri, namun harus menguntungkan driver sebagai mitra dan menguntungkan pelanggan. Selanjutnya ialah pertanggungjawaban etis, yang berarti perusahaan ojek online sudah seharusnya melakukan hal yang benar, tepat, dan adil bagi perusahaan, mitra, dan pelanggan. Perusahaan harus semaksimal mungkin menghindari kesalahan dan perlakuan jahat yang dapat merugikan mitra dan pelanggan, karena jika hal itu terjadi maka akan menimbulkan citra yang buruk terhadap perusahaan.

Perusahaan transportasi online Maxim di Indonesia hendaknya mulai berbenah diri agar memperoleh izin beroperasi dari pemerintah melalui Kemenhub. Karena semakin maraknya transportasi online, memungkinkan akan lebih memudahkan masyarakat dalam aktivitas dan mobilitas sehari-hari. Persaingan sehat harus diutamakan dengan menaati aturan dari pemerintah, sehingga tidak ada perselisihan di antara pelaku bisnis. Apalagi, Maxim sudah tersebar di berbagai negara dan penjuru kota. Masa yang akan dating, diharapkan jasa transportasi online bisa membantu masyarakat secara lebih luas, tidak hanya di kota besar saja, namun menyentuh pedesaan. Selain itu diharapkan mampu mendorong perkembangan teknologi serta perekonomian yang lebih maju.

Penutup

Analisis dan Solusi Masalah

Kesimpulan Analisis Masalah

Solusi Alternatif

Ketidakjelasan perizinan aplikasi online Maxim di Indonesia

– Mendaftarkan perizinan dan menunggu izin pemerintah

Konflik tarif yang menentang keputusan Kemenhub

– Mengikuti peraturan dari pemerintah mengenai tarif yang dikenakan pada konsumen

Kurangnya promosi baik secara online maupun offline

  • Membuat iklan di berbagai media sosial seperti Youtube, Instagram, Facebook, dll

Teknologi yang terlampau sederhana (cashless, map, rating driver, dan standar protokol kesehatan) tidak user friendly.

– Memperbarui fitur aplikasi

– Menambahkan opsi pembayaran nontunai

– Menerapkan dan mengedukasi standar protokol kesehatan pada driver dan pelanggan

Oleh:

1. Anastasia Herlina Yuli Lestari

2. Bella Florensia

3. Bryan Adji Anastama

4. Wahidatur Rosyidah

Sumber:

  1. https://id.taximaxim.com/uz/blog/2020/03/1795-selama-1-tahun-pertumbuhan-pengguna-maxim-naik-hingga-31-kali/. Telisik. Diakses tanggal 2020-09-16.
  2. Al-Rasyid, Fauzan (2019-08-23). “https://id.rbth.com/economics/81796-maxim-ojol-asal-rusia-wyx. Russia Beyond. Diakses tanggal 2020-09-16.
  3. Fadillah, Ichwan Nur (2019-08-27). “https://batam.tribunnews.com/2019/08/27/bantah-disebut-ilegal-manajemen-maxim-sebut-aplikasi-sudah-terdaftar-kominfo. TribunBatam.id. Diakses tanggal 2020-09-16.
  4. Ferrell, O.C., dkk. 2020. Business Foundations: A Changing World. United States of America: McGraw-Hill Education.
  5. Kardin (2020-07-14). “https://telisik.id/news/aplikasi-maxim-dinilai-mainkan-harga-ratusan-ojol-geruduk-dewan-sultra. Telisik. Diakses tanggal 2020-09-16.

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

One Comment

  1. Bisa dilihat persentase maxim di Indonesia itu amat sangat kecil jika dibanding gojek & grab, sementara berdasarkan prediksi yang disampaikan CNBC indonesia, bahwa di tahun 2024/2025 grab akan merger dengan gojek. Langkah bisnis apa yang kiranya akan dilakukan maxim untuk menghadapi merger tersebut?
    Apakah maxim hanya digunakan sebagai acuan peraturan stardard/formalitas saja, dimana yang penting tidak ada monopoli market di bursa teknologi OJOL di Indonesia?
    Karena tanpa merger pun, maxim amat jauh dibanding gojek & grab.

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format