Air Asia Strive in New Normal

Maskapai penerbangan LCC ini terus mengalami kerugian (net loss), bahkan belum terjadi pandemi wabah Covid-19. Bagaimana strategi perusahaan menghadapi New Normal?


2
2 points

Seiring dengan mewabahnya virus Covid-19 di dunia, hal ini turut berdampak kepada aktivitas sosial maupun ekonomi di seluruh dunia dan tidak terkecuali di Indonesia. Sejak diumumkan untuk pertama kalinya terkait pasien positif Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020, Pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah-langkah untuk membatasi penyebaran virus tersebut. Salah satu langkah yang diambil adalah melalui Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2020 yang mengatur mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar (“PSBB”) yang memungkinkan pemerintah daerah untuk membatasi pergerakan orang dan barang masuk dan keluar dari daerah masing-masing. Penerapan PSBB ini cukup berdampak terhadap perekonomian di Indonesia, dimana hingga kuartal II tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia telah terkontraksi sebesar 5,32%. Hal ini mendorong Pemerintah untuk mencari solusi agar dapat menekan penyebaran Covid-19 namun juga dapat menyelamatkan perekonomian. Salah satunya adalah dengan penerapan New Normal melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.

Pada artikel ini, kita akan membahas mengenai Dampak penerapan New Normal di Indonesia terhadap salah satu maskapai penerbangan yang berasal dari Malaysia yaitu Air Asia khususnya Air Asia Indonesia. 

The Origin

Nama Air Asia mungkin sudah tidak asing lagi bagi teman-teman traveller yang biasa berpergian secara back packer. Perusahaan yang awalnya didirikan di Malaysia sejak tahun 1993 dan memulai operasi perdananya pada tahun 1996 dengan modal 2 pesawat ini juga terus berkembang hingga saat ini telah beroperasi di 6 negara yaitu Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, India dan Jepang. Sebagai maskapai low cost carrier / bertarif rendah terbaik di dunia pada tahun 2019 versi Skytrax World Airlines Awards, Air Asia telah menghubungkan para traveller dengan destinasi yang dituju melalui 402 rute dan 160 destinasi yang tersebar dari India; China; Korea; Jepang; Asia Tenggara; Australia dan Hawai (Air Asia Annual Report 2019). Disamping itu, Air Asia juga menempati peringkat pertama (Grafik 1) sebagai maskapai dengan biaya terendah pada kategori Maskapai Berbiaya Rendah / Low Cost Carrier (LCC) berdasarkan data Bloomberg pada tahun 2019. Maskapai asal Malaysia ini menghabiskan ± 3,48 USD¢ dan mendapatkan ± 3,58 USD¢ untuk setiap kilometer perjalanannya. Angka tersebut dihitung berdasarkan biaya dan pendapatan setiap penumpang dalam satu kilometer atau Cost per Available Seat Kilometers (CASK) dan Revenue per Available Seat Kilometers (RASK).

Perusahaan Induknya yang berada di Malaysia awalnya didirikan oleh DRB-Hicom, sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Pemerintah Malaysia dan bergerak dalam bidang industri otomotif. Sehubungan dengan kinerja yang memburuk dan hutang yang terus membengkak, Air Asia akhirnya diakuisisi oleh Tune Air Sdn. Bhd. yang dimiliki oleh Tony Fernandes pada tanggal 2 Desember 2001. Lewat tangan dingin beliau, Air Asia berhasil melakukan perubahan yang luar biasa hingga akhirnya menghasilkan keuntungan pada tahun 2002. Perusahaan terus berkembang hingga akhirnya membuka 5 cabang lainnya yang khusus melayani penerbangan jarak pendek / short haul yaitu di Thailand, Filipina, India, Jepang dan Indonesia.

Grafik 1. Biaya dan Pendapatan Pesawat LCC / KM

Sejarah masuknya Air Asia di Indonesia tidak terlepas dari PT AWAIR International yang berdiri pada September 1999. Perusahaan yang dimiliki oleh Presiden Indonesia kala itu Bpk. Abdurrahman Wahid dan rekan-rekannya ini memulai operasi perdananya pada tahun 2000 dengan melayani rute berbagai kota di Indonesia. Namun di tahun pertamanya tersebut, AWAIR sudah mengalami banyak kendala karena ketatnya persaingan antara maskapai penerbangan di Indonesia hingga akhirnya perusahaan diakuisisi oleh Air Asia pada tahun 2004 dan berubah nama menjadi PT Indonesia Air Asia. Kemudian pada tahun 2017 Air Asia melakukan restrukturisasi perusahaan sehingga PT AirAsia Indonesia Tbk. resmi menjadi perusahaan induk dari PT Indonesia Air Asia. PT AirAsia Indonesia Tbk. sendiri merupakan perusahaan joint venture antara AirAsia Investment Ltd. dengan PT Fersindo Nusaperkasa karena terbentur dengan Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 2016 terkait Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal, yang mengatur mengenai angkutan moda udara niaga berjadwal dalam negeri penanaman modal asing maksimal 49% dan pemilik modal nasional harus tetap lebih besar dari keseluruhan pemilik modal asing.

The Potention

Tanpa memperhitungkan efek wabah pandemi Covid-19, sebenarnya penerbangan rute domestik di Indonesia memiliki potensi tersendiri. Menurut Center for Aviation (CAPA), rute domestik Indonesia merupakan salah satu yang terbesar dan paling dinamis di dunia. Lebih lanjut, selama 13 tahun terakhir, lalu lintas penumpang rute pesawat domestik di Indonesia meningkat nyaris empat kali lipat menjadi 112 juta pada 2018 dari semula kurang dari 30 juta pada 2005. Namun sayangnya potensi tersebut tidak berbanding lurus dengan kinerja Air Asia Indonesia. Maskapai penerbangan berbiaya hemat ini terus mengalami kerugian (net loss) terutama dari tahun 2016 s/d 2019 (Tabel 1). Dengan mewabahnya pandemi Virus Covid-19, semakin memperburuk kinerja keuangan perusahaan terutama sepanjang semester 1 tahun 2020.

(Rp Juta)

Porsi L/R

2016

2017

2018

2019

1H 2019

1H 2020

Total Revenues

3.888.968

3.817.861

4.232.768

6.708.801

2.993.897

1.342.508

Op. Profit / Loss

185.328

378.503

(987.053)

114

(37.873)

(1.055.560)

Net Profit / Loss

(21.027)

(512.961)

(907.025)

(157.369)

(82.648)

(909.628)

Tabel 1. Data Keuangan PT Airasia Indonesia Tbk. tahun 2016 s/d 1H 2020. (Sumber: Annual Report dan Laporan Keuangan Interim Perusahaan).

Tantangan berat yang dihadapi Air Asia Indonesia dalam industri penerbangan di Indonesia cukup signifikan. Mengutip artikel yang yang ditulis oleh Dea Chadiza Syafina di Tirto.id diungkapkan bahwa iklim bisnis penerbangan di Indonesia memiliki tantangan tersendiri karena keadaan yang kurang kondusif. Seperti masuk 'jebakan batman'sebab pendapatan yang diterima perusahaan dalam rupiah. Sedangkan, hampir semua pengeluaran dalam bentuk dolar AS.

The Problem

Dengan mewabahnya Covid-19 Industri pariwisata di Indonesia menjadi salah satu sektor ekonomi yang sangat terpengaruh dengan hal tersebut. Penutupan penerbangan dari China pada 5 Februari 2020, penerapan PSBB sejak Bulan April 2020 dan disusul dengan penutupan penerbangan internasional bagi wilayah zona merah sangat berdampak terhadap arus keluar masuk wisatawan mancanegara. Hal ini berdampak kepada penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia secara signifikan dimana dari grafik (Grafik 1) terlihat bahwa secara Year on Year jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia pada Jan-Jul 2020 telah mengalami penurunan sebesar 64,64% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Grafik 2. Data Kunjungan Wisatawan Mancanegara Bulanan tahun 2019 – 2020 (kemeparekraf.go.id)

Air Asia Indonesia juga memutuskan untuk menghentikan sementara penerbangan berjadwal mulai 1 April 2020 hingga 18 Juni 2020 untuk rute domestik dan internasional sebagai upaya untuk mengurangi risiko penyebaran wabah sekaligus mengurangi kerugian operasional seiring dengan rendahnya permintaan karena pembatasan perjalanan.

Dengan adanya kebijakan New Normal memang sudah memberikan secercah harapan dalam bidang perekonomian untuk dapat kembali berputar setelah sebelumnya hampir dapat dikatakan berhenti. Untuk bidang parisiwata sendiri, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bpk. Wishnutama mengajak industri pariwisata menerapkan protokol kesehatan untuk membangun kepercayaan konsumen agar dapat melakukan kegiatan wisata dengan aman dan nyaman. 

Jika dilihat dari perspektif Global Environment Air Asia sebagai perusahaan multinasional memiliki beberapa potensi masalah yang dapat timbul dari operasional Air Asia di Indonesia sehubungan dengan penerapan new normal yang dapat dianalisa secara lebih lanjut menggunakan pendekatan task environment dan general environment

1. Task Environment: Secara ringkas, task environment yang dimiliki oleh Air Asia Indonesia dapat dirangkum menggunakan gambar 1.

Gambar 1. Task Environment Air Asia Indonesia

Dari keempat poin tersebut, terdapat 2 hal yang menjadi masalah utama bagi perkembangan Air Asia Indonesia di New Normal ini antara lain: 

  • Customers: Dengan masih adanya ketakutan akan penularan Virus Covid-19 dikalangan wisatawan dan pebisnis, menyebabkan turunnya niat masyarakat untuk berpergian jarak jauh menggunakan transportasi udara. Hal ini tercermin dari penurunan jumlah wisatawan mancanegara (Grafik 2) dan berdampak secara langsung ke pendapatan perusahaan.
  • Suppliers: Terdapat 2 produsen pesawat kelas dunia yang menjadi supplier bagi pesawat-pesawat yang digunakan Air Asia yaitu Boeing dan Airbus. Keduanya tercatat pernah melakukan penutupan sementara pabriknya di beberapa negara yang terdampak virus Corona. Dengan adanya masalah tersebut, akan menyulitkan Air Asia dalam melakukan pembelian suku cadang yang perlu digunakan untuk maintenance pesawat yang dimilikinya. Disamping itu dampak lain dari mewabahnya virus Covid-19 adalah kenaikan harga tukar USD terhadap Rupiah. Pada awal tahun 2020, nilai tukar kurs USD/IDR masih berada di < Rp 14.000 seperti terlihat pada Grafik 3. Namun, semenjak bulan Maret nilai kurs meningkat hingga sempat menyentuh nilai USD/IDR Rp 16.741 dengan rata-rata nilai kurs di Bulan Maret s/d tgl. 22 September mencapai Rp 14.903 / USD. Hal ini berdampak kepada biaya operasional perusahaan yang semakin melonjak dimana seperti telah dijelaskan sebelumnya, hampir semua pengeluaran industri penerbangan ada dalam mata uang asing.

Grafik 3. Pergerakan kurs transaksi USD/IDR. (Sumber: Bank Indonesia)

Sementara untuk Competitors mayoritas memiliki permasalahan yang sama dengan Perusahaan dan untuk Distributors tidak terdapat permasalahan yang berarti.

2. General Environment: Secara ringkas, general environment yang dimiliki oleh Air Asia Indonesia dapat dirangkum menggunakan gambar 2.

Gambar 2. General Environment Air Asia Indonesia


Dari kelima point di atas, terdapat 3 hal yang menjadi masalah utama bagi perkembangan Air Asia Indonesia di New Normal ini antara lain:

  • SocioculturalCenter of Reform for Economics, seperti dikutip dari www.indopremier.com menyatakan bahwa pandemi Covid-19 benar-benar memukul telak konsumsi rumah tangga khususnya golongan masyarakat kelas menengah ke bawah. Tercatat bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Juni 2020 masih berada pada level yang terkontraksi, yaitu – 17,1% secara year on year. IPR sendiri merupakan indikator yang menggambarkan perkembangan penjualan barang-barang konsumsi masyarakat. Dengan penurunan konsumsi tersebut, akan menurunkan niat masyarakat untuk berpergian karena bukan merupakan sebuah kebutuhan utama
  • Political and Legal: Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2020 yang mengatur mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar (“PSBB”) yang memungkinkan pemerintah daerah untuk membatasi pergerakan orang dan barang masuk dan keluar dari daerah masing-masing berpotensi menjadi penghalang aktivitas operasional Air Asia Indonesia.
  • Economics: Pandemi Covid-19 juga berdampak kepada ekonomi Indonesia dan dunia. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2020 dapat menyentuh 8,1% hingga 9,2%. Angka ini melompat bila dibandingkan dengan posisi tahun 2019 yang hanya sebesar 5,28%. Sementara dari sisi pertumbuhan ekonomi hingga kuartal II tahun 2020 juga menunjukkan ada kontraksi sebesar 5,32%. Hal ini tentu akan berdampak secara tidak langsung kepada industri pariwisata pada umumnya dan industri penerbangan secara khusus.

Sementara untuk Technological dan Demographic tidak terdapat permasalahan yang berarti.

The Solution

Dengan diberlakukannya pembatasan perjalanan di banyak negara, maka kerugian maskapai global tidak akan terelakkan. Sebagai solusi atas permasalahan yang ada, Air Asia Indonesia dapat membentuk beberapa strategi bisnis untuk tetap bertahan selama masa krisis akibat Covid-19 ini, diantaranya :

  1. Melakukan penyesuaian kebijakan dalam penerbangan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat khususnya customer melalui penyusunan protokol keselamatan dan kesehatan baru sebagai langkah penanganan dan pengendalian pandemi Covid-19, diantaranya: penambahan syarat pemeriksaan kesehatan, pengurangan jumlah penumpang, menjaga jarak aman, penggunaan masker dan membatasi penjualan makanan dan cinderamata saat penerbangan.
  2. Terus melakukan inisiatif-inisiatif untuk mengembangkan sumber-sumber pendapatan baru, misalnya dengan cara meningkatkan lini bisnis lainnya yaitu passenger charter, cargo charter dan special logistic movement.
  3. Membuat pengelolaan biaya secara ketat. Seperti maskapai Singapore Airlines, AirAsia dapat membuat langkah-langkah untuk meningkatkan penggunaan energi yang dapat diperbaharui dan menurunkan konsumsi listrik, melakukan investasi pada armada pesawat berusia muda yang hemat bahan bakar, meningkatkan efisiensi dengan mengoptimalkan rute penerbangan, mengurangi bobot pesawat, dan meningkatkan analisis data untuk optimalisasi bahan bakar.
  4. Membuat evaluasi terhadap standar tarif tiket pesawat. Akibat adanya pengurangan jumlah penumpang tentunya akan wajar jika terjadi kenaikan harga pada tiket pesawat. Menurut Direktur Jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), Alexandre de Juniac, dikutip dari republika.co.id, disebutkan bahwa untuk memaksimalkan upaya bertahan ditengah wabah covid, sepertiga kursi pesawat memang harus dikosongkan. Karenanya, kenaikan harga tiket sekitar 50 persen ia anggap menjadi solusi, setidaknya untuk mendapatkan laba minimum bagi setiap maskapai. Apabila jarak sosial diberlakukan, perjalanan murah sudah berakhir.
  5. Terus melakukan beberapa inisiatif strategis yang terintegrasi dengan perusahaan maskapai induk atau melakukan investasi joint venture dengan perusahaan lainnya.

https://www.youtube.com/watch?v=U0Wz3c2cSMo&feature=youtu.be (Fly Safe with AirAsia Series: Accessibility & Inclusivity in Essential Travel)

Referensi:

Ferrell, O.C, Hirt, G. & Ferrel, L. (2020). Business: A Changing World. 12th Edition, McGraw-Hill, New York: McGrawHill

Jones, O.R. dan George, J.M. (2020). Contemporary Management. 11th Edition, McGraw-Hill, New York. 

https://travel.kompas.com/read/2019/06/19/130700827/20-lcc-terbaik-2019-versi-skytrax-airasia-masih-juara

https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/11/130600623/diumumkan-awal-maret-ahli–virus-corona-masuk-indonesia-dari-januari.

https://www.kemenparekraf.go.id/post/data-kunjungan-wisatawan-mancanegara-bulanan-tahun-2020

https://www.ukessays.com/essays/commerce/history-of-air-asia-commerce-essay.php

https://id.utiket.com/id/weblog/130/sejarah_airasia_indonesia_.html

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4966556/corona-kian-menggila-boeing-perpanjang-penutupan-pabrik

https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/40374/perpres-no-44-tahun-2016

https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.phpjdl=CORE__Pandemi_Covid_19_Pukul_Konsumsi_Rumah_Tangga_Kelas_Menengah_Ke_Bawah&news_id=122690&group_news=IPOTNEWS&taging_subtype=PG002&name=&search=y_general&q=,&halaman=1

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200811/9/1277666/indeks-penjualan-riil-kontraksi-171-persen-bi-klaim-penjualan-eceran-membaik

https://tirto.id/angka-pengangguran-2020-terburuk-apa-yang-bisa-dilakukan-jokowi-fKQg

https://kumparan.com/public-relation/kiat-blue-bird-airasia-dan-jne-bertahan-saat-pandemi-dan-hadapi-new-normal-1tboz4qKnWf/full

https://travel.detik.com/travel-news/d-4902728/singapore-airlines-terpukul-telak-virus-corona

https://industri.kontan.co.id/news/ini-strategi-airasia-indonesia-bertahan-di-tengah-pandemi-virus-corona-covid-19

https://republika.co.id/berita/q9ls3a328/perkiraan-analis-tentang-industri-penerbangan-pasca-covid19

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200616/98/1253265/new-normal-penerbangan-19-juni-airasia-kembali-layani-penumpang


Disusun Oleh : Future Boss team

Agnes Cynthia Garetta

Niken Tiyannanda Mardareta

Tommy Sastra Irawan


Like it? Share with your friends!

2
2 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
4
Genius
Love Love
3
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
3
Win
FutureBosses

One Comment

  1. Air Asia beruntung tumbuh di Malaysia yang waktu itu mau memfasilitasi Perusahaan tersebut berada di LCC dengan membangun Bandara baru khusus LCC , yang kemudian di ikuti oleh Indonesia dengan membangun Terminal 3 , dan memfasilitasi Citilink dan Lion group , saya kira Air Asia harus menutup Penerbangannya di Indonesia mengingat penanganan Indonesia sebagai mana yang di beritakan media media Internasional termasuk negara yang tidak cukup kuat untuk mengendalikan kondisi penyebaran Covid ini sehingga sangat beresiko apabila masih di Inodonesia dimana arah politik Indonesia juga lebih berpihak ke Maskapai Lokal , jadi semestinya Air Asia mencoba untuk merintis pemindahan Rute Penerbangannya dari Negara Asalanya Malaysia ke Negara yg punya potensi selamat lebih cepat pada New Normal ini

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format