BABAK BELUR OYO HADAPI PANDEMI

Beragam berita miring sedang menerpa OYO, ada apa dengan OYO?


1
1 point

Kejayaan OYO Indonesia Sebelum Dilanda Pandemi

Perkembangan bisnis wisata di Indonesia berkembang cukup pesat, ditambah dengan beragamnya objek wisata yang ada di berbagai belahan pulau di Indonesia. Berwisata merupakan kegiatan bersenang-senang dan berlibur yang kerap kali dilakukan setiap individu dikala ada waktu luang, atau sekedar melepas penat. Berkaitan erat dengan wisata, penginapan merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam tercapainya kepuasan disaat berlibur. Banyaknya  usaha penginapan dengan harga murah membuat wisatawan tidak perlu merogoh kocek lebih dalam untuk merencanakan liburan, sehingga kegiatan berwisata tersebut akan lebih mudah terealisasi.

OYO Rooms, OYO Hotels & Homes yang dikenal dengan sebutan OYO, dengan motto perusahaan: “Oyo’s secret sauce? We offer tasteful spaces, whenever you need them, at unbeatable price”  merupakan perusahaan jaringan hotel asal India yang telah membuka cabangnya di Indonesia pada tahun 2018 dengan tujuan menyediakan penginapan  yang Budget Friendly.  Model bisnis dari OYO Indonesia adalah dengan mengajak pemilik Properti untuk menjadi mitra bisnis serta menjalankan operasional properti tersebut dengan mengadopsi model Manajemen dan Franchise yang dikontrol penuh oleh OYO. Model bisnis ini juga telah diterapkan di India, Tiongkok dan Bangkok. Pada tahun 2019 OYO Indonesia berhasil memenangkan penghargaan dari MECA atau Marketeers Editor Choice Award untuk kategori ”Fastest Growing Hotel Chain of The Year” dikarenakan OYO Indonesia tumbuh secara pesat dengan mitra 2.000 hotel dan 49.000 kamar yang tersebar di pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Pada awal berada di Indonesia, OYO bekerja sama dengan total 30 hotel dan 1.000 kamar di 3 kota yaitu Jakarta, Palembang, dan Surabaya. Pertumbuhan bisnis OYO terbilang cukup signifikan karena mencapai 20 kali lipat atau sekitar 1900% dalam kurun yang relatif singkat. Dan hingga saat ini Hotel OYO telah beroperasi  di Jawa, Bali, Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan dengan 720 hotel di 52 kota sampai dengan juni 2019. 

Pertumbuhan OYO di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

  1. Standarisasi layanan dan fasilitas yang dijanjikan. 

Semua Properti OYO  harus memenuhi standar tertentu dapat sepenuhnya beroperasi, baik dari sudut pandang layanan atau fasilitas yang akan didapat, seperti jaringan WiFi, air panas, linen bersih, perlengkapan kamar mandi, kamar mandi yang higienis, penyejuk udara dan televisi. 

  1. Pengelolaan perhotelan menggunakan teknologi mutakhir. 

OYO memungkinkan pelanggan untuk memesan kamar dengan tiga tahap di smartphone. OYO juga bermitra dengan beberapa online travel agent (OTA) untuk memudahkan pelanggan memesan OYO.

  1. Partisipasi aktif pemilik aset dan pengguna. 

Pemilik aset, pelanggan setia OYO, dan lebih dari 900 OYO preneurs  (istilah untuk karyawan/mitra OYO) di seluruh Indonesia berpartisipasi aktif dalam pertumbuhan OYO di seluruh dunia. 

Gambar 1. Infografis Perkembangan Properti di Indonesia

Sumber : Ayobandung.com

Pandemi Covid 19 Mengacaukan Pendapatan OYO. 

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia mencatatkan sektor pariwisata telah mengalami kehilangan potensi pendapatan sebesar Rp 90 triliun sepanjang Januari 2020 hingga April 2020, di tengah pandemi virus Covid19. Secara rinci yaitu kehilangan potensi penerimaan sekitar US$4 miliar atau setara dengan Rp60 triliun yang seharusnya bisa didapatkan dari wisatawan mancanegara dan sekitar Rp30 triliun kehilangan potensi penerimaan dari wisatawan nusantara atau domestik. Angka tersebut dihitung berdasarkan pertimbangan okupansi dan lainnya berdasarkan perbandingan dengan capaian sepanjang tahun 2019. Apalagi berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari hingga Februari hanya 2,16 juta orang atau turun 11,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Bahkan sepanjang Februari saja secara tahunan sudah anjlok 28,85 persen.

Berkurangnya jumlah wisman ini tentu saja berdampak pada tingkat keterisian kamar hotel yang pada saat itu rata-rata hanya 49,2 persen. Adapun tingkat hunian hotel saat ini telah mendekati nihil, begitupun dengan restoran. Penurunan drastis dirasakan sejak kasus pertama virus corona masuk ke Indonesia hingga saat ini. Apalagi pemerintah melalui Kementerian Pariwisata telah menutup 180 destinasi dan 232 desa wisata di Indonesia. “Berdasarkan data PHRI, per 13 April 2020, sedikitnya 1.642 hotel dan 353 restoran atau tempat hiburan kini berhenti beroperasi. Kami dari pelaku industri pariwisata kehilangan potensi pendapatan yang sangat besar dalam kondisi ini,” ujarnya, dalam seminar virtual berjudul Strategi Pengelola Industri Perhotelan Menghadapi COVID dan Krisis, Kamis (16/4/2020).

Hal ini juga berdampak pada perusahaan perhotelan menengah kebawah sekelas OYO. Merebaknya pandemi Covid-19 di seluruh belahan dunia, melarang wisatawan untuk berlibur demi menekan angka penyebaran virus sehingga penginapan yang dioperasikan oleh OYO Indonesia banyak mengalami pembatalan pemesanan. Para pelanggan dan Mitra pemilik properti mengeluhkan sulitnya melakukan pengembalian dana atas pembatalan penginapan serta pemutusan kerjasama secara sepihak oleh OYO Indonesia. Berdasarkan artikel dari salah satu surat kabar permintaan pengembalian dana oleh pelanggan umumnya disebut merupakan buntut dari dispute antara OYO Indonesia dengan Mitra pemilik Properti, dimana OYO Indonesia sering kali melanggar perjanjian Kerjasama dengan Mitra Pemilik Properti antara lain menetapkan harga di bawah kesepakatan dengan Mitra pemilik properti, sehingga biaya operasional yang dibayarkan oleh Mitra pemilik properti menjadi lebih berat, dan berimbas menurunnya pelayanan, atau pemberhentian kerja sama, atau memasarkan kamar yang masih belum selesai di renovasi dan masalah-masalah lainnya.

Masih terkait dengan pandemi Covid-19, secara global OYO telah melakukan perampingan pegawainya sebesar 17% dari total karyawan. di indonesia 50% dari karyawan OYO Indonesia dirumahkan dengan status unpaid leave guna menghindari PHK dengan durasi yang belum ditentukan. Meskipun demikian karyawan tersebut masih mendapatkan insentif sebesar Rp. 1,5 Juta perbulan. 

Keluhan Publik Akan Pelayanan OYO

Bulan juni 2020,  OYO menjadi sorotan public atas keluhan pelayanan yang mereka lakukan dimana menurut sumber akun instagram @oyobikineugi_pun ada beberapa daftar keluhan yang dilakukan oleh OYO sebagai berikut :

  1. “Customer memesan tempat menginap namun tiba – tiba pesanan dibatalkan tanpa pemberitahuan oleh pihak OYO”

  2. “Pembayaran dianggap gagal walaupun dana sudah terpotong dari rekening customer”

  3. “Customer telah datang ke penginapan namun ditolak oleh pihak penginapan dikarenakan pihak penginapan sudah tidak bekerja sama dengan OYO Indonesia”

  4. “Harga kamar yang dijual oleh Pihak OYO terkadang berada dibawah harga yang telah disepakati oleh Mitra OYO dan berdampak Mitra OYO kesulitan untuk membayar pegawai dan biaya operasional”

Dari  beberapa  kejadian tersebut berdampak adanya kerugian kepada customer, setelah dihimpun sampai dengan 9 juni 2020 terdapat nominal kerugian dari berbagai pihak yang jumlahnya sebesar Rp. 3.028.202.257 dari 44 pelapor. Selain nominal kerugian, permintaan refund atau pengembalian biaya juga dikeluhkan oleh public terhadap OYO dengan total 250 orang yang tercatat menurut sumber akun Instagram @oyobikinrugi_pun.

Oyo Ditengah Kebijakan New Normal

Sebagai pelaku industri, OYO melihat setidaknya akan terdapat beberapa perubahan yang mendasar dalam pola pelayanan industri hospitality seiring dengan perubahan preferensi konsumen dalam melakukan perjalanan wisata pasca pandemi, sebagai berikut: Peran Teknologi 

Dampak Covid19 pada industri hospitality turut memperlihatkan pentingnya peranan teknologi pada industri ini. Salah satu poin penting peranan teknologi di industri hospitality adalah mempersiapkan industri untuk memberi rasa aman bagi para pelanggan ketika mereka harus bepergian, dengan menciptakan standar operasi higienis salah satunya melalui mekanisme pemesanan tanpa kontak fisik demi keselamatan dan keamanan pelanggan. Sebagai jaringan akomodasi, teknologi adalah DNA perusahaan bagi OYO. Kekuatan teknologi cloud dan manajemen data dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi kerja jarak jauh, demi memenuhi kebutuhan jaga jarak sosial. Selain itu,  untuk meminimalisir kontak fisik pada proses check-in dan check-out juga lebih mudah dilakukan melalui proses pemesanan mandiri yang sepenuhnya dapat dilakukan melewati aplikasi OYO di perangkat para pelanggan. 

Menurut George & Jones (2020) ada lingkungan manajerial yang mempengaruhi suatu bisnis global seperti General Environment (Lingkungan Umum) dan Task Environment (Lingkungan Tugas). General Environment berkaitan dengan teknologi, sosio kultural, ekonomi, legal/politik, dan internasional, sedangkan Task Environment berkaitan dengan customer, kompetitor, supplier, dan distributor. 

Gambar 2. Task Environment Pada Bisnis Oyo Indonesia

Sumber : Contemporary Management

Berdasarkan penjelasan di atas, kami menganalisis task environment dalam kasus Oyo Indonesia  ke dalam lima kategori, yaitu suppliers, customers, competitor, regulator dan strategic partners. Komponen kelima task environment OYO Indonesia tersebut pada Tabel 2 di bawah ini :

Tabel 1. Task Environment OYO Indonesia

Sumber : Analisis Data Oleh Penulis

Perilaku penghematan serta penerapan kebiasaan baru di fase The New Normal, membuat wisatawan cenderung memilih melakukan staycation di hotel – hotel budget dengan skala kecil yang memberikan pengalaman menginap unik. Hotel-hotel boutique dengan kapasitas yang lebih kecil ini akan lebih diminati karena dapat memberikan rasa aman dan nyaman ketika berlibur pasca COVID-19 dikarenakan pelanggan dapat menghindari kerumunan orang demi menjaga jarak sosial dan higienitas saat menginap. 

Bagaimana Solusi Untuk Bertahan Di New Normal?

Riset dari Deloitte yang bertajuk Hospitality Impact of COVID-19 merekomendasikan beberapa langkah yang dapat diambil oleh pelaku industri hospitality dalam menghadapi fase pasca pandemi COVID-19. Langkah-langkah tersebut meliputi :

  1. Memperhatikan dampak terhadap okupansi dan tingkat pendapatan sembari membuat rencana mitigasi darurat, dan 

  2. Beradaptasi dan berinovasi secara berkala terhadap situasi yang terus berubah. 

Menindaklanjuti rekomendasi Deloitte diatas, penulis menyusun rumusan solusi dengan metode analisa S.W.O.T (Albert Humphrey, Stanford Research Institute), sebagai berikut : 

Sumber : 

Ayobandung.com. (2019, 1 Juli). OYO Siap Jadi Jaringan Hotel No 1 di Indonesia. Diakses Pada 24 September 2020. Dari https://ayobandung.com/read/2019/07/01/56556/oyo-siap-jadi-jaringan- hotel-no-1-di-indonesia 

Ekonomi.bisnis.com. (2020, 12 April). Industri Pariwisata Kehilangan Potensi Pendapatan Hingga Rp90 Triliun. Diakses Pada 24 Oktober 2020. Dari https://ekonomi.bisnis.com/read/20200416/12/1228446/ industri-pariwisata-kehilangan-potensi-pendapatan-hingga-rp90-triliun

Indotelko.com. (2020, 6 Juni). Melongok industri hospitality menuju The New Normal. Diakses Pada 24 Oktober 2020. Dari https://www.indotelko.com/read/1591411892/melongok-industri-new-normal

Katadata.co.id. (2020, 17 Juni). Cegah PHK, OYO Indonesia Rumahkan 50% Karyawan Imbas Pandemi Corona. Diakses Pada 24 Oktober 2020. Dari  https://katadata.co.id/desysetyowati/digital /5ee9bfd06d6e3/cegah-phk-oyo-indonesia-rumahkan-50-karyawan-imbas-pandemi-corona

Katadata.co.id. (2020, 2 Maret). Efek Domino Virus Corona ke Industri Penunjang Pariwisata. Diakses Pada 24 Oktober 2020. Dari https://katadata.co.id/hariwidowati/berita/5e9a470e04ad6/efek-domino -virus-corona-ke-industri-penunjang-pariwisata

Money.kompas.com. (2020, 9 Mei). Ini 4 Platform Penyedia Penginapan yang Terimbas Krisis. Diakses Pada 24 Oktober 2020. Dari https://money.kompas.com/read/2020/05/09/190000126/ini-4-platform -penyedia-penginapan-yang-terimbas-krisis

Suara.com. (2020, 13 Agustus). Refund Bermasalah, Oyo Panen Kecaman Publik. Diakses Pada 24 September 2020. Dari https://www.suara.com/news/2020/08/13/183652/refund-bermasalah -oyo-panen-kecaman-publik?page=al

Traveling.bisnis.com. (2020, 12 September). Begini Manajemen Krisis OYO Saat Pandemi. Diakses Pada 24 Oktober 2020. Dari https://traveling.bisnis.com/read/20200912 /361/1290750/begini-manajemen -krisis-oyo-saat-pandemi

Jones, Gareth R., George, Jennifer M. 2020. Contemporary Management. Eleventh Edition. US: McGraw-Hill Education.

SWOT Analysis – Albert Humphrey, Stanford Research Institute

BUSINESS & MANAGEMENT

Task : Sesi 2

Kelas : EMBA B 41 C

Topik : New Normal Dan Dampaknya Terhadap Perusahaan

Team: The Prodigy

Anggota :

  1. Andrew Parulian Manik

  2. H. J. Panahatan

  3. Rezki Arnita

  4. Yohana Olivia Yulistha


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
1
Fun
Genius Genius
2
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

One Comment

  1. masing masing daerah punya karakter sehingga tingkat imunitas pada masa new normal ini masing masing daerah berbeda, apakah ada data lokasi OYO untuk masing masing daerah sehingga kebijakan nya bisa di petakan lebih tajam , terutama untuk daerah yang terdampak paling besar

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format