Masker Antara Kesehatan dengan Penampilan

Penggunaan masker pada masa pandemi meningkat signifikan termasuk variasi, jenis dan desain maskernya.


0
1 share

Pada awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan merebaknya virus baru yaitu coronavirus jenis baru SARS-CoV-2 yang dikenal dengan penyakitnya Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Merebaknya virus ini pertama kali di Wuhan, China yang ditemukan pada akhir Desember 2019. Sampai saat ini tercatat 215 negara di dunia yang sudah terjangkit virus ini. Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 tidak dapat dilihat dan tidak bisa diketahui siapa yang membawa virus tersebut. Memakai masker menjadi salah satu cara efektif mencegah penularan. Pemerintah mewajibkan semua pihak memakai masker selama masa pandemi COVID-19. Di kondisi tersebut, masker merupakan barang yang sangat dicari sehingga terjadi peningkatan harga jual terutama untuk jenis masker surgical/bedah sehingga keluarlah kebijakan dari Pemerintah terkait jenis-jenis masker yang bisa digunakan untuk menghadapi pandemic ini.

Pembagian masker menurut Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan COVID-19, ada 3 jenis masker yang bisa digunakan di Indonesia yaitu masker bedah, masker N95 dan masker kain. Idealnya masker kain yang direkomendasikan oleh WHO (World Health Organization) adalah masker yang memiliki 3 lapisan kain yaitu lapisan pertama adalah lapisan kain hidrofilik seperti katun, kemudian dilapisi oleh kain yang bisa mendukung filtrasi lebih optimal lalu lapisan kedua ini bisa juga menggunakan katun atau polyester dan kemudian lapisan ketiga atau bagian masker paling luar menggunakan lapisan hidrofobik atau bersifat anti air seperti terbuat dari polypropylene. Akibat tingginya permintaan masker dan tingginya harga masker bedah, menyebabkan banyak produsen masker non medis yang mencoba peruntungannya dengan menjual masker non medis  secara online maupun offline. Hal ini ditunjang oleh kebijakan Pemerintah yang mewajibkan semua orang menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan ketika berinteraksi dengan orang lain. Produsen masker non medis juga menggabungkan kreatifitas dengan memproduksi masker kain atau masker scuba dengan desain dan corak yang berwarna –warni yang bisa meningkatkan penampilan.

WHO telah mengklasifikasikan anjuran penggunaan masker yang ideal pada kondisi pandemic, sebagai berikut :

Tabel Pengklasifikasian anjuran penggunaan masker

Pemakai

Tempat

Kegiatan

Jenis masker

Tenaga kesehatan atau pemberi perawatan

Fasilitas pelayanan kesehatan (termasuk tingkat pelayanan primer, sekunder, tersier, pelayanan rawat jalan)

Area pelayanan rawat inap – terlepas dari apakah pasien suspek/terkonfirmasi COVID-19

Masker medis (penggunaan masker medis terus-menerus secara selektif)

Merawat pasien mana pun

Penggunaan masker medis sesuai standar dan kewaspadaan berbasis penularan (penilaian risiko)

Saat berkontak dengan pasien suspek atau terkonfirmasi COVID19

Masker medis, Respirator (N95 atau N99 atau FFP2 atau FFP3)

Staf (bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan tetapi tidak merawat pasien, seperti staf administrasi)

Fasilitas pelayanan kesehatan 

Tidak ada kegiatan rutin di area pasien

Masker non-medis sesuai standart

Masyarakat umum

Pusat perbelanjaan, tempat kerja, perkumpulan sosial, perkumpulan massal, tempat tertutup seperti sekolah, gereja, masjid, dll.

Melakukan aktifitas normal

Masker non-medis sesuai standart

Pemukiman-pemukiman padat penduduk dan tempat-tempat seperti penampungan pengungsi, tempat serupa penampungan, pemukiman kumuh

Masker non-medis sesuai standart

Tempat di mana penjagaan jarak fisik tidak dapat dilakukan (terjadi kontak erat)

Masyarakat umum di angkutan umum (seperti bus, pesawat terbang, kereta api)

Kondisi-kondisi kerja tertentu di mana pekerja berkontak erat dengan orang lain, seperti tenaga bidang sosial, kasir, pelayan tempat makan, dll

Masker non-medis sesuai standart

Tempat di mana penjagaan jarak fisik tidak dapat dilakukan dan risiko infeksi dan/atau hasil rawat negatif lebih tinggi

Kelompok masyarakat yang rentan:

  • Orang berusia ≥60 tahun 
  • Orang dengan komorbiditas penyerta, seperti penyakit kardiovaskular atau diabetes melitus, penyakit paru kronis, kanker, penyakit serebrovaskular, imunosupresi

Masker medis

Semua situasi/tempat di masyarakat

Orang dengan gejala yang mengindikasikan COVID-19

Masker medis

Sumber : Panduan interm WHO (World Health Organization)

Selain itu Texas Medical Association juga mengklasifikasikan tingkat resiko dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat umum, sebagai berikut :

Sumber : Texas Medical Association

Sehingga penggunaan masker menjadi wajib dikondisi pandemic ini. Adapun jenis-jenis masker yang saat ini beredar di Indonesia diantaranya :

1. Masker Scuba/Sponge Mask
Masker ini memiliki pori yang sangat besar yaitu sekitar 30-40 mikron sehingga jenis masker ini sama sekali tidak dianjurkan dalam kondisi pandemic ini, sama seperti masker kain 1 (satu) lapis karena kemampuan untuk menahan virus di 0%. Akan tetapi masker ini memiliki kelebihan yaitu kemudahan dalam bernafas dan menunjang penampilan karena motif yang variatif.
2. Masker Kain
Terdiri dari 3 (tiga) lapisan yaitu lapisan non-anyaman tahan air (depan), microfiber melt-blown non anyaman (tengah) dan kain biasa non tenunan (belakang). Masker kain ini ideal untuk digunakan di tempat umum karena kemampuannya dalam menahan virus berada di range 50-70%, dan mampu menahan debu). Idealnya untuk penggantian masker adalah setiap empat jam sekali.
3. Masker bedah 2 Ply /Surgerical Mask 2 Ply
Hanya terdiri dari 2 lapis, yaitu lapisan luar dan dalam tanpa lapisan tengah yang berfungsi sebagai filter. Karena tidak ada lapisan filter maka masker ini kurang efektif untuk menyaring droplet. Sehingga masker ini hanya direkomendasikan untuk pemakain masyarakat sehari hari tanpa disertai gejala influenza.
4. Masker Bedah 3 Ply atau Surgical Mask 3 Ply
Masker ini terdiri dari 3 lapis, dimana terdapat filter densitas tinggi dan lapisan dalam yang yang berfungsi sebagai penyerap cairan yang keluar dari pemakai saat batuk (Efektivitas 80-95%). Masker ini direkomendasikan WHO untuk dipergunakan oleh orang berusia 60 th ke atas atau yang mempunyai kondisi penyakit bawaan.
5. Masker N95
Masker yang paling baik karena mampu menahan cairan droplet maupun yang berukuran aerosol (95-100%).  Masker jenis ini masuk dalam kelompok masker FFR (Filtering Facepiece Respirator) sekali pakai dan biasanya ditujukan untuk para tenaga medis kesehatan.
6.Reusable Facepiece Respirator
Masker tipe ini mempunyai efektifitas lebih tinggi dari N95 meskipun tergantung filternya juga dan digunakan untuk kepentingan medis.

Fokus pada masker yang saat ini beredar di masyarakat untuk penggunaan sehari-hari, masih banyak yang tidak mengikuti standard WHO dan belum menyadari bahwa ada pengklasifikasian masker dalam menahan penyebaran virus. Kurangnya tingkat kesadaran sebagian besar masyarakat terkait pentingnya penggunaan masker juga menjadikan dasar seolah-olah masker hanya sebatas penutup wajah tanpa memperhatikan tujuan dasar sebagai sarana untuk meminimalkan penyebaran penularan Covid-19. Pemilihan penggunaan masker di sebagian besar masyarakat umum saat ini lebih berfokus pada kemudahan bernafas dan penunjang penampilan, dikarenakan sebagian masyarakat berpendapat jika penggunaan masker, membuat sebagian wajah tertutup dan dapat mengurangi kecantikan ataupun ketampanan penggunanya, sehingga menjadikan para produsen masker non-medis mulai berlomba-lomba mendesain masker untuk lebih menarik dan fashionable tanpa memperdulikan kualitas dengan fungsi utama yaitu untuk pencegahan penyebaran virus. Permintaan terhadap masker kain non-medis dengan desain unik tersebut menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi para produsen. Tentunya, dengan pangsa pasar yang terus meningkat dan tanpa modal besar, para produsen bisa mendapatkan omzet jutaan rupiah tiap bulannya. Hanya bermodalkan kain perca dan sebuah mesin jahit para produsen sudah bisa memproduksi masker non-medis dengan berbagai desain yang unik.

Sumber : Mumbai Textile

Selain itu kondisi pandemi ini menyebabkan roda perekonomian menurun sehingga beberapa produsen besar juga memanfaatkan momentum ini untuk memproduksi masker seperti PT Sri Rejeki Isman (Sritex) dan PT Mulia Knitting Factory (Rider) yang bidang utamanya adalah bergerak di bidang textile dan garment berlomba untuk mengambil keuntungan dengan memproduksi masker non-medis.

Sumber : www.sritex.co.id

Salah satu hal yang harus digaris bawahi adalah saat ini di Indonesia, belum ada regulasi resmi yang mengatur tentang standard kualitas dari masker non-medis selama masa pandemic Covid-19. Hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab moral dari para produsen untuk memproduksi masker non-medis yang memenuhi persyaratan WHO sehingga tidak hanya meraup keuntungan tetapi juga berguna untuk pengendalian penyebaran virus dimasa pandemic ini. Selain itu, belum adanya juga peraturan ketat yang mengatur tentang penggunaan standart masker non-medis yang ideal di masyarakat umum sehingga pemilihan masker non-medis masih berdasarkan kepuasaan dari masyarakat untuk meningkatkan penampilan. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang pertama kali membuat aturan tegas bahwa penumpang KRL (Kereta Rel Listrik) untuk tidak lagi menggunakan masker jenis scuba atau buff yang dianggap tidak efektif menangkal debu, bakteri, dan virus (hanya 0-5% efektifitasnya). Pihak KCI mewajibkan para pengguna KRL untuk memakai masker medis atau masker kain yang terdiri dari tiga lapis sebagai upaya  lanjutan untuk menekan penyebaran Covid-19.
Peran pemerintah juga memberikan andil besar untuk tujuan utama pengendalian penyebaran virus Covid-19 dengan melakukan standarisasi kualitas dari masker non-medis yang digunakan masyarakat umum saat ini. Standarisasi ini bisa dimulai dengan adanya regulasi khusus terkait masker non-medis yang akan dipasarkan oleh produsen. Salah satu cara yang mungkin bisa dipertimbangkan adalah dengan adanya organisasi yang berfungsi sebagai regulator untuk menstandartkan produk masker non-medis sesuai dengan standart ideal WHO. Pemerintah juga bisa mempertimbangkan untuk menjadikan instansi daerah yang berkepentingan dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Dinas Kesehatan sebagai regulator untuk standarisasi masker non-medis sebelum diedarkan ke masyarakat umum. Selain itu Pemerintah juga harus lebih mempertegas untuk membuat aturan terkait jenis dan kualitas dari masker non-medis yang dapat digunakan oleh masyarakat seperti yang sudah dilakukan oleh PT KCI. Perpaduan dua hal ini sangat bersinergi untuk membantu Pemerintah dalam hal pengendalian penyebaran virus covid-19 yang nantinya berpengaruh sangat besar baik dibidang kesehatan dan roda perekenomian nasional.

Penyusun:

Ibnu Suhartanto

Fitria Silviana

Hary Sudarsono

Kusuma Widya Tantri

Sumber:

https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/anjuran-mengenai-penggunaan-masker-dalam-konteks-covid-19-june-20.pdf?sfvrsn=d1327a85_2

https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/anjuran-mengenai-penggunaan-masker-dalam-konteks-covid-19

https://www.kemkes.go.id/pdf.php?id=20060900002

https://kesehatan.kontan.co.id/news/yuk-mengenal-jenis-masker-rekomendasi-terbaru-who-untuk-melawan-virus-corona?page=all

https://www.tpr.org/post/know-your-risk-covid-19-chart-released-texas-medical-association

https://news.detik.com/berita/d-5179519/kata-pengguna-krl-soal-wajib-pakai-masker-3-lapis-medis-mulai-21-september

https://rider.co.id/


Like it? Share with your friends!

0
1 share

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

2 Comments

  1. Ada yang perlu d garis bawahi pada saat Pandemi masuk bulan ke 3 sekitara tanggal 18-20 Maret Pemerintah terkaget kaget mengetahui Masker yg di Impor dari China ternyata buatan Indonesia ( ampuuunn ). hal ini menggambarkan kurangnya pengendalian pemerintah terhadap Masker , artinya dalam kondisi seperti saat ini sudah semestinya kalo masker harus di organisir oleh pemerintah terkait standart dan penampilannya sehingga pemerintah dapat mengkondisikan pemakaian masker oleh masyarakat yang saat ini sangat minim tingkat kepatuhannya sehingga tingkat keberhasilan penanganan Covid19 di Indonesia terkendalikan .

    1. Sepakat Mas Agus, sudah seharusnya masker yang beredar di pasaran diberi standard (SNI) karena merupakan salah satu alat kesehatan yang digunakan masyarakat luas untuk mencegah penularan Covid19, walupun sebenarnya batasan masker medis dll sdh ada, tapi regulasi yang ketat mengatur spesifikasi masker sesuai Rancangan Standard Nasional Indonesia (RSNI) baru keluar sesuai keputusan Kepala BSN No.408/KEP/BSN/9/2020, semoga bisa mengatur standardnya dan mencegah penularan semakin luas

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format