Surrogacy: Antara solusi atau eksploitasi?

Surrogacy adalah teknologi reproduksi dimana seorang wanita menyetujui untuk menjalani kehamilan untuk orang lain atau pasangan lain.


3
3 points

Anak merupakan anugerah terindah yang didambakan oleh setiap keluarga. Kehadiran seorang anak akan memberikan warna dan pelengkap kebahagiaan bagi kehidupan berumah tangga. Namun tidak dipungkiri bahwa tidak setiap pasangan diberikan kemudahan untuk mendapatkan anak. Bagi sebagian pasangan, mendapatkan anak dari rahimnya sendiri adalah perkara mudah. Sedang bagi sebagian lainnya, untuk dapat mengandung anak secara alami menjadi hal yang sulit bahkan mustahil dilakukan karena berbagai kendala. Pasangan yang sangat menantikan kehadiran seorang anak kemudian akan menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hadirnya anak di tengah keluarga yang mereka idamkan. 

Ditengah berbagai dilema dan usaha dalam mendapatkan keturunan tersebut, perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kedokteran memunculkan beragam metode dan salah satunya adalah metode surrogacy yang menawarkan fasilitas kehamilan non-alami tanpa harus menggunakan rahim sang ibu itu sendiri. Pertumbuhan bisnis surrogacy ini cukup pesat bahkan sudah banyak diterapkan di beberapa negara di luar negeri seperti Eropa, Amerika, dan India. Teknologi ini mulai diperbincangkan lagi ketika Kim Kardashian mengungkapkan kembali rencananya untuk menggunakan metode surrogacy di kelahiran bayi ke-4-nya setelah sebelumnya berhasil menggunakan metode ini untuk mendapatkan anak ke-3-nya.  

Grafik 1. Jumlah Bayi yang Dilahirkan dari Surrogate Mother Di US Selama Tahun 2004-2015. (Sumber : www.pewtrusts.org)

Apa itu Surrogacy?

Surrogacy adalah teknologi reproduksi dimana seorang wanita menyetujui untuk menjalani kehamilan dari orang atau pasangan lain. Metode surrogacy dikenal masyarakat awam sebagai praktik ‘sewa rahim’. Wanita yang menyewakan rahimnya akan disebut sebagai surrogate mother. Mengutip dari hukumonline.com, Dr. H. Desriza Ratman, M. H. Kes., dalam bukunya “Surrogate Mother dalam Perspektif Etika dan Hukum: Bolehkah Sewa Rahim di Indonesia?”, surrogate mother adalah perjanjian antara seorang wanita yang mengikatkan diri melalui suatu perjanjian dengan pihak lain (suami-istri) untuk menjadi hamil terhadap hasil pembuahan suami istri tersebut yang ditanamkan ke dalam rahimnya, dan setelah melahirkan diharuskan menyerahkan bayi tersebut kepada pihak suami istri berdasarkan perjanjian yang telah dibuat. Perjanjian ini lazim disebut gestational agreement. 

Secara medis, metode surrogacy dapat dibedakan menjadi 2 jenis:

1. Gestational Surrogacy

Dalam metode ini surrogate motherhanya menyewakan rahimnya saja untuk menampung hasil pembuahan, sementara pembuahannya dilakukan oleh pasangan penyewa di luar rahim menggunakan metode bayi tabung/ In Vitro Fertilization (IVF)   

2. Genetic Surrogacy (traditional surrogacy)

Dalam metode ini surrogate mother menyewakan rahimnya sekaligus mengikutsertaan sel telur dari ibu pengganti untuk kemudian dikandung di dalam rahimnya

Kontroversi Surrogacy

Mengutip kebijakan surrogacy yang terdapat di India, surrogacy dapat dipandang dari sisi komersial dan sisi altruistis. Jika surrogate mother menerima uang untuk menjadi surrogate mother, hal tersebut dianggap komersial. Sementara jika dia tidak menerima kompensasi di luar penggantian biaya medis dan biaya terkait kehamilan lainnya dan pertanggungan asuransi untuknya, hal tersebut dianggap sebagai altruistis. Dalam penjelasan Dr. Nayana Patel di youtube TEDx Talks, disebutkan juga bahwa metode surrogacy telah membantu banyak pasangan untuk menemukan harapan baru dalam memiliki keturunan dan dari sisi ekonomi juga membantu kehidupan surrogate mother.

https://youtu.be/tv9KnJIV_dU (TEDx Talks – Commercial Surrogacy – A New Thought by Dr. Nayana Patel)

Metode surrogacy yang menjadi tren di luar negeri ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah teknologi ini etis untuk diterapkan? Akankah ada potensi merugikan orang lain secara sosial? Kehamilan yang seharusnya merupakan proses alami dan dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah, dengan adanya teknologi surrogacy akan membuat setiap pasangan dapat melakukan “pembuatan anak”. Hal ini menimbulkan isu dukungan terhadap kaum homoseksual atau LGBT yang dengan mudah mendapatkan anak tanpa harus mengalami kehamilan. Selain itu, metode ini juga berpotensi mengeksploitasi seseorang yaitu si Ibu Pengganti yang menyewakan rahimnya dan juga berpotensi menghilangkan hak dari seorang anak yang akan dilahirkan. Meskipun teknologi surrogacy tampaknya bermanfaat bagi banyak pihak yang terkait, tetapi juga terdapat masalah sosial, etika, moral, dan hukum kompleks yang menyertainya. Berdasarkan hal tersebut, artikel ini akan membahas secara singkat tentang kontroversi teknologi surrogacy dilihat dari perspektif etika.

Bisnis Surrogacy, akankah menimbulkan potensi masalah?

Jika melihat ke depan, dilihat dari segi bisnis, teknologi reproduksi buatan berbasis sewa rahim ini dapat menjadi solusi untuk pasangan yang mengalami masalah dalam perubahan hormonal, usia, paparan bahan kimia berlebihan, dan racun yang mengakibatkan berkurangnya produksi sperma dan sel telur sehingga menyebabkan terjadinya infertilitas. Mengutip analisis dari Maximize Market research, pasar bisnis surrogacy secara global akan mengalami peningkatan (Grafik 2).

Grafik 2. Global Surrogacy Market: Industry Analysis and Forecast (2019-2027) – By Type, Technology, Age Group, Service Provider, and Region. (Sumber: galusaustralis.com)

Sekalipun memberikan dampak positif sebagai solusi untuk mendapatkan keturunan, adanya metode surrogacy ini juga disertai dengan perdebatan mengenai etika. Ketika metode surrogacy ini menjadi sebuah bisnis yang bersifat komersial, maka akan ada beberapa hal dalam etika bisnis yang patut dikritisi. Permasalahan etika utama yang diangkat dalam seluruh sistem surrogate mother adalah kekuatiran tentang eksploitasi, komodifikasi rahim, dan atau pemaksaan ketika perempuan dibayar untuk hamil dan melahirkan bayi, khususnya pada kasus di mana terdapat perbedaan kekayaan dan kekuasaan antara pasangan yang bersangkutan dan surrogate mother. Komodifikasi rahim adalah istilah yang digunakan karena pelaku ekonomi terlibat dalam praktik sewa rahim. Komodifikasi Rahim memunculkan argumen apakah perempuan diberi kendali atas tubuh mereka atau dieksploitasi untuk kepentingan bisnis. Selain itu, jika dijabarkan, potensi-potensi masalah yang dapat timbul dengan diterapkannya bisnis surrogacy antara lain:

  1. Pelaksanaasurrogacy menghabiskan biaya yang sangat mahal. Dikutip dari www.ncbi.nlm.nih.gov, hal ini memungkinkan orang kaya dapat memanfaatkan kesediaan perempuan miskin untuk melakukan pekerjaan apapun selama mereka mendapat upah yang sesuai.                                   Grafik 3. Biaya Surrogacy Di Beberapa Negara. (Sumber: helatlove.in)
  2. Metode Surrogacy bertentangan dengan kepedulian terhadap aspek kemanusiaan seseorang terhadap reproduksi. Dimana seharusnya kesehatan dan kesejahteraan perempuan dilindungi dan bahwa pergantian reproduksi tidak pantas dikomersialkan. Negara pusat sewa rahim terkenal di dunia adalah India. Mengutip berita dari liputan6.com dicatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir praktik tersebut meningkat di Cjennai, bagian selatan India. Hal tersebut memunculkan lebih dari 12 rumah sakit siap melaksanakan prosedur sewa rahim terhadap 150 perempuan dan mayoritas yang siap menjadi ibu pengganti berasal dari keluarga miskin yang rela mengandung bayi orang lain demi mendapat bayaran.                      Grafik 4. Kompensasi Rata-Rata yang Diterima Surrogate Mother (Sumber: babygest.com)
  3. Melegalkan adanya surrogate mother dianggap membela dan akan menguntungkan pasangan LGBT.
  4. Status hukum anak yang dilahirkan dari surrogate mother akan dipertanyakan. Hak-hak anak yang terlahir dari surrogate mother seharusnya tidak diabaikan, khususnya hak identitas diri yang tercantum pada akta kelahiran dan hak untuk mengetahui identitas salah satu atau semua orang yang terlibat dalam konsepsi persalinan anak.
  5. Masalah hukum yang timbul akibat pertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, ataupun dengan ketertiban umum.
  6. Timbulnya masalah eksploitasi dan tidak terjaminnya perlindungan kesehatan dan hak-hak Ibu Pengganti. Potensi eksploitasi terhadap surrogate mother yang tentunya akan menanggung akibat dari penambahan embrio di dalam rahimnya dan merasakan berbagai pengalaman kehamilan lainnya sampai anak tersebut dilahirkan. Hal ini tentunya menimbulkan ketidaknyamanan.

Berbagai potensi masalah yang mempertentangkan antara hak asasi manusia dengan metode surrogacy juga dijelaskan oleh Dr. Paula Gerber dalam youtube TEDx Talks berikut: 

https://www.youtube.com/watch?v=llVRHwZICr0&feature=youtu.be (TEDx Talks – A Human Rights Response to Commercial Surrogacy by Dr Paula Gerber)

Bagaimana Solusi untuk Mengatasi Potensi Ketidaketisan Bisnis Surrogacy?

Pada dasarnya, etika bisnis adalah prinsip atau standar yang dapat diterima dalam sebuah organisasi bisnis. Standar kebiasaan bukan hanya dapat diterima oleh organisasi itu sendiri, tetapi juga pemegang kepentingan dalam bisnis tersebut, diantaranya pelanggan, pesaing bisnis, kebijakan pemerintah, dan masyarakat. Dasar utama etika dan tanggung jawab sosial dalam sebuah bisnis seharusnya mengacu pada hukum dan peraturan negara yang berlaku dan sesuai dengan standar hidup masyarakat, nilai-nilai, dan perilaku masyarakat setempat. (terjemahan bebas dari buku Business A Changing World penulis O. C. Ferrell, Geoffrey Hirt, dan Linda Ferrell).

Oleh karena itu, alternatif solusi dan mitigasi untuk bisa mengatasi resiko pelanggaran etika bisnis dan legal dalam penerapan surrogacy diantaranya:

  1. Sebelum suatu negara melegalkan metode surrogacy, pemerintah negara tersebut harus membuat undang-undang yang mengatur secara detail dan jelas dalam memberikan rambu-rambu pelaksanaan surrogacy untuk melindungi semua pihak yang terlibat. Tentunya regulasi harus dibuat dengan disesuaikan dengan culture, etika, dan hukum yang berlaku di negara tersebut dengan tetap mengedepankan penghormatan harkat martabat manusia serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Hal tersebut dikarenakan dalam pelaksanaannya, metode surrogacy berpotensi mengalami benturan dengan berbagai permasalahan moral, etika, dan hukum yang kompleks. Sehingga diharapkan, apabila suatu negara melegalkan metode ini, pelaksanaannya dapat terhindar dari kontroversi yang berkepanjangan.
  2. Sosialisasi dan edukasi terkait metode surrogacy yang telah dilegalkan. Tahap ini wajib dilakukan kepada semua pihak yang akan terlibat dalam bisnis teknologi reproduksi buatan ini. Mereka wajib memiliki pemahaman menyeluruh tentang tindakan medis, psikologi, dan hukum yang berkaitan dengan aktivitas klinis sebagai syarat mutlak dari keberhasilan praktik ‘sewa rahim’ ini. Hal yang terpenting adalah para pihak yang akan terlibat dalam bisnis ini harus memahami dan dapat mengevaluasi apakah tindakan yang akan dilakukan benar atau salah, etis atau tidak.  
  3. Hendaknya, apabila bisnis surrogacy ini berjalan, para pelaku bisnis tersebut dapat menerapkan social responsibility, sehingga tidak hanya berfokus pada profit namun juga harus memenuhi kewajiban bisnis untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif untuk masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya:
  • Memberikan hasil/ profit yang maksimal pada pemilik dan investor
  • memberikan pelayanan terbaik untuk memuaskan pelanggan/ klien, mengutamakan keamanan dan dan melindungi hak pelanggan/ klie
  • menjamin kesejahteraan para pekerjanya
  • peka dan ikut berkontribusi terhadap permasalahan lingkungan dan masyarakat
  • menjalin hubungan dengan komunitas bisnis terkait
  • dll. 

Bagaimana Best Practices terhadap Bisnis Surrogacy?

Merujuk pada artikel dari Journal of Human Reproductive Sciences, sekalipun banyak perdebatan, bisnis surrogacy diijinkan di India dengan kebijakan tertentu yang tertuang dalam RUU yang tentunya mengacu pada etika yang diterima dalam masyarakat setempat.

Sedangkan di Indonesia saat ini, praktik surrogacy untuk sewa menyewa/ penitipan rahim dilarang oleh undang-undang. Hal ini tentunya disesuaikan dengan budaya, agama dan norma kesusilaan yang dianut penduduk Indonesia. Sesuai Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan  (“UU Kesehatan”) diatur bahwa upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan:

a. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri dari          mana ovum berasal;

b. dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu;

c. pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu

Sehingga sampai saat ini, praktik reproduksi buatan yang diperbolehkan sesuai aturan Undang-Undang Indonesia adalah metode pembuahan di luar rahim atas sperma dan ovum dari suami istri yang sah kemudian ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum tersebut berasal. Proses ini juga sering dikenal sebagai metode bayi tabung (In Vitro Fertilization).

Jadi, Bagaimana pendapat anda mengenai ethical issue pada Surrogacy?

Referensi:

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4c562a3b4bba4/aspek-hukum-tentang-isurrogate-mother-i-ibu-pengganti/ 
 https://www.sensiblesurrogacy.com/surrogacy-costs/surrogate-mother-costs/ 
https://www.liputan6.com/global/read/2577811/kisah-pilu-3-perempuan-tukang-sewa-rahim-di-india 
https://www.pewtrusts.org/en/research-and-analysis/blogs/stateline/2017/06/29/as-surrogacy-surges-new-parents-seek-legal-protections  
https://galusaustralis.com/2020/08/907644/global-surrogacy-market-industry-analysis-and-forecast-2019-2027-by-type-technology-age-group-service-provider-and-region/    
http://healthlove.in/health/womens-health/pregnancy/surrogacy/    
https://babygest.com/en/surrogate-compensation/      
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6262674/       
https://www.euromonitor.com/parents-in-waiting-global-perinatal-market-trends/report        
https://pixabay.com/id/photos/surrogacy-pengganti-ibu-kesuburan-5014314/ 
Ferrell, O.C, Hirt, G. & Ferrel, L. (2020). Business: A Changing World. 12th Edition, McGraw-Hill, New York: McGrawHill    

Jones, O.R. dan George, J.M. (2020). Contemporary Management. 11th Edition, McGraw-Hill, New York.


Disusun Oleh: Future Boss team

Agnes Cynthia Garetta

Niken Tiyannanda Mardareta

Tommy Sastra Irawan


Like it? Share with your friends!

3
3 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
5
Genius
Love Love
3
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
3
Win
FutureBosses

One Comment

  1. Menurut saya surrogacy belum cocok diterapkann di indonesia akan tetapi saya setuju dengan prediksi bahwa bisnis tersebut akan terus berkembang mengingat semakin lama tingkat stress penduduk semakin besar yang mempengaruhi tingkat keberhasilan kehamilan, hal ( sayang grafiknya tidak menyebut dalam satuan apa

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format