Pandemi : Kondisi Terburuk Dalam Sejarah Cinema XX1

Pandemi Covid-19 menjadi kabar buruk bagi industri showbiz di Indonesia, mampukah Cinema XXI bertahan?


0

Siapa yang tidak tahu Cinema XX1? Ya, bioskop nomor 1 di Indonesia yang memberi layanan dan pengalaman tak terlupakan saat kita menonton film film yang kita tunggu waktu pemutarannya. Untuk memberi kenyamanan ekstra Cinema XX1 turut memberi fasilitas lainnya seperti games, XX1 Cafe, lounge guna memberi kepuasan bagi pengunjung setianya. 

Cinema XX1 pun hadir di setiap penjuru kota baik di mall  maupun gerai yang berdiri sendiri, tentu bukan hal sulit untuk menemukan XX1 terutama di pulau Jawa yang hampir seluruh mallnya tersedia XX1. Uniknya Cinema XX1 menetapkan harga yang berbeda untuk setiap jenjang tempatnya, harga ditetapkan pada Cinema XX1 pada gerai yang berdiri sendiri seperti Metropole Jakarta dan mall kelas 1 seperti Kota Kasablanka, Grand Indonesia, Pondok Indah Mall seringkali berbeda dan lebih mahal dibanding mall yang tingkatnya dibawah itu selain itu tentunya hal ini dikarenakan perbedaan kemampuan dari konsumen itu sendiri, pengunjung mall besar seperti kokas dan GI memiliki daya beli yang lebih tinggi. Satu lagi hal yang menjadi ciri khas harga Cinema XX1 ialah perbedaan harga saat weekdays dan weekend, harga weekend lebih mahal karena pengunjung lebih banyak datang saat mereka libur untuk refreshing . 

Berbicara tentang eksistensi Cinema XX1, tentunya di balik ketenarannya Cinema XX1 melakukan promosi besar untuk menarik konsumen datang padanya, segala cara dilakukan dari cara lama seperti iklan di media elektronik kerjasama dengan rumah produksi film hingga cara cara baru yang mereka lakukan di era digital saat ini seperti mengembangkan website dan aplikasi pribadi milik Cinema XX1  hingga bekerja sama dengan aplikasi lainnya seperti layanan GOPAY milik Go-jek dimana setiap transaksi menggunakan GOPAY akan mendapatkan cashback khusus. Cinema XX1 pun menggandeng platform M-Tix untuk mempermudah penjualan tiketnya. 

Lalu bagaimanakah nasib Cinema XX1 di tengah pandemi ini? Industri mana yang tidak terkena imbas dari pandemi yang melanda Indonesia saat ini? Sepertinya hampir seluruh sektor merasakannya. Salah satunya ialah industri showbiz (hiburan). Regulasi yang ditetapkan pemerintah untuk menutup tempat yang dapat memungkinkan terjadinya kerumunan membuat bioskop ikut menjadi prioritas utama yang harus ditutup sementara. Cinema  XX1 contohnya, seperti yang disampaikan oleh Head of Corporate Communications and Brand Management Cinema XXI, Dewinta Hutagaol melalui siaran pers Cinema XX1 “Seperti yang kita lihat dan rasakan bersama, kondisi pandemi ini masih terus berlanjut. Kejadian ini tentu merupakan kondisi terburuk yang pernah dialami Cinema XXI sejak perusahaan ini berdiri” 

Hampir seluruh departemen dan karyawan Cinema XXI dirumahkan kecuali karyawan yang bertanggung jawab atas perawatan tempat dan inventaris Cinema XXI, bencana besar bagi seluruh manajemen Cinema XXI kali ini memang tidak main main terbukti dari tindakan yang diambil perusahaan untuk tidak menggaji jajaran komisaris dan dewan direksi terhitung sejak April 2020 lalu. Langkah ini diambil perusahaan untuk menutup biaya biaya yang tetap harus mereka bayar di tengah pemasukan yang tidak akan menutup biaya,  namun Cinema XX1 tidak kehabisan akal Cinema XX1 mengoperasikan anak usaha mereka yaitu XX1 Cafe yang saat ini sudah bisa dipesan secara online karena tingginya demand atas produk makanan Cinema XX1 yang dirindukan oleh konsumen .

Lalu pertanyaannya apakah hanya perusahaan saja yang terdampak? Tentu tidak pihak luar yang juga terkait akan operasional dan keberlangsungan perusahaan pun ikut kena imbasnya. Mari kita melihat dari kacamata supplier, operasional perusahaan terhenti, tidak ada film yang tayang, tidak ada pula pengunjung maka artinya tidak ada pula yang harus dipenuhi dan dipasok oleh supplier bukan? Tentu tidak semua supplier berhenti memasok bahan untuk Cinema XX1 karena seperti yang kita ketahui bahwa XX1 Cafe masih beroperasi dan tentunya pemasok bahan baku makanan ini masih berjalan, namun bila dilihat secara umum tentunya lebih banyak supplier yang berhenti bukan?

( Sumber : https://www.instagram.com/cinema.21/ )

Selanjutnya pikirkan mengenai marketing intermediaries, tentunya berhentinya operasional akan menjadi tugas yang sangat sulit untuk mereka, bagaimana sulitnya tugas dari marketing research, agensi iklan yang tetap harus memberi saran mengenai pemasaran Cinema XX1 dikala kegiatan utama mereka saja terhenti. Tidak berhenti sampai disitu dampak negatif tentunya juga dirasakan oleh kelompok publics seperti Citizen Action Public yang tentunya akan lebih sulit untuk membuat perusahaan tetap keep in touch dengan konsumennya. Berbicara tentang konsumen maka menurut kami ini lah puncak dari bencana yang dirasakan Cinema XX1, bukan rahasia umum lagi bila hampir seluruh pemasukan dari Cinema XX1 berasal dari hasil penjualan tiket kepada konsumen dan pemasukan dari film namun bila bioskop saja dilarang dibuka maka tidak akan ada konsumen yang membeli tiket, dan tidak akan ada pula film yang akan tayang yang berujung pada hilangnya pemasukan Cinema XX1, bila memposisikan diri sebagai konsumen pun tentu ada dampak kurang menyenangkan yang dirasakan, konsumen tidak bisa mendapatkan hiburan dari industri perfilman, walaupun saat ini sudah banyak platform yang menggantikan namun tentunya konsumen tetap akan kehilangan experience yang hanya didapatkan saat menonton langsung di bioskop. 

Dari segi kompetitor, seperti yang kita tahu  dalam industri ini, Cinema XX1 merupakan yang terbesar di Indonesia dan kompetitor pun hanya sedikit, faktanya Cinema XX1 tidak sendiri menghadapi dampak negatif yang atas pandemi ini karena kompetitornya pun juga harus menghentikan sementara usaha mereka. 

Bencana bagi Cinema XX1 tidak berhenti hanya didalam negeri, ratusan judul film nasional tidak dapat diputar, demikian pula distributor film impor yang terpaksa menghentikan kegiatan dan investor yang menggantungkan sahamnya di Cinema XX1 berujung dengan kerugian materi negara yang sangat besar yang juga mengganggu ekosistem ekonomi industri film.

“Dari dulu juga kami berharap (agar bioskop bisa dibuka lagi). Sudah lima bulan bioskop ditutup. Sudah capek kami berharap terus, padahal dampak penutupan bioskop luar biasa untuk perputaran ekonomi dan ekosistem yang ada di industri film,” ujarnya kepada KORAN SINDO dalam diskusi bertajuk “Recovery Industri Hiburan pada Era New Normal” yang digelar PWI Jaya Seksi Musik, Film, dan Lifestyle di Jambuluwuk Resort, Ciawi, Bogor, beberapa waktu lalu.

Terlihat jelas dari ungkapannya tentu, Djony ingin pemerintah segera memberikan izin agar bioskop bisa beroperasi kembali. Sebab, dengan dibukanya bioskop, tidak hanya masyarakat bisa menonton kembali film di bioskop, tetapi juga menghidupkan kembali UMKM yang melekat pada usaha bioskop.Berdasarkan sebuah penelitian di beberapa negara yang membolehkan bioskop dibuka, seperti Jerman, Inggris, dan Singapura, persentase penularan di bioskop cuma 0,3%, relatif kecil. Djonny menambahkan, pemerintah tidak boleh melakukan diskriminasi dalam menentukan kebijakan. “Saat ini penerbangan, kereta api, stasiun, pasar, mal, angkutan umum diperbolehkan, mengapa bioskop yang secara infrastruktur jauh lebih aman belum boleh, ada apa ini?” ucap Djonny. 

Namun apakah pemerintah berani mengambil resiko yang mempertaruhkan keselamatan banyak orang? Dilihat hingga kini hanya wacana saja Cinema XX1 untuk beroperasi kembali, sepertinya jawabannya tidak. 

Tabel Consumer insight 

No

Keterangan

Sebelum pandemi

Saat pandemi dan era new normal

Umum 

1

Jenis hiburan yang dipilih

Indoor dan outdoor 

Indoor 

2

Pengeluaran untuk hiburan 

20-25%

54% 

3

Ketertarikan terhadap inovasi terbaru

Tinggi 

Tinggi

4

Konsumsi konten media

Relatif tinggi

Naik 28%

5

Penggunaan internet untuk hiburan 

Tinggi 

70,3%

6

Kuantitas pelanggan yang memilih delivery order

Relatif tinggi pada daerah tertentu

Naik 35%

7

Perhatian terhadap kesehatan dan kebersihan

Relatif kurang 

Sangat tinggi

8

Ketertarikan terhadap promo/potongan harga

Tinggi 

Naik 

Bioskop

1

Waktu untuk menonton film

Waktu senggang dan weekend

Lebih flexible

2

Tren menonton film di rumah 

Ada

Naik drastis

3

Tren konsumsi layanan streaming (termasuk film)

48,3%

Naik 50%

4

Konsumsi streaming film berbayar 

Lebih tinggi 7,4 kali dibanding platform gratis

Naik 37%

5

Alasan memilih bioskop : fasilitas dan experience 

V

V

Penutupan bioskop dalam masa PSBB mengakibatkan turunnya pendapatan Cinema XXI secara drastis mengingat sumber pendapatan terbesar dari penjualan tiket telah terhenti. Tentu saja XXI harus segera mencari jalan keluar agar tetap dapat bertahan dalam masa pandemi  dan tumbuh setelah masa pandemi usai. Untuk menganalisis solusi apa yang mungkin dapat dilakukan oleh Cinema  XXI mari kita simak tabel di atas tentang consumer insight. 

Dalam masa pandemi seperti saat ini, konsumen lebih banyak memilih hiburan indoor, lebih spesifik hiburan yang dapat dinikmati di rumah masing-masing. Konsumen juga mengeluarkan lebih banyak pendapatannya untuk hiburan yaitu sebanyak 54%. Selanjutnya dapat kita lihat bahwa penggunaan media elektronik untuk mendapatkan hiburan melonjak dalam masa pandemi seperti saat ini. Orang-orang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan berkutat dengan gawai/media elektronik lain sehingga mengakibatkan kenaikan penggunaan internet untuk hiburan mencapai 70,3%. Penggunaan ini didominasi untuk social media dan layanan streaming yang naik drastis sebesar 50% dari sebelum pandemi. Dilihat secara demographic, trend menonton film di rumah dan konsumsi film berbayar  juga naik drastis seiring penutupan bioskop. Oleh karena itu, menurut kami Cinema  XXI dapat mulai merambah layanan streaming untuk tetap dapat menyapa para pelanggan setianya di masa pandemi ini. Pengembangan layanan streaming dapat dilakukan dengan mengembangkan web milik Cinema XXI yang sudah diketahui banyak orang, dengan begitu harapannya cost yang dikeluarkan oleh Cinema XXI tidak sebesar apabila harus membuat platform baru. Namun, bisnis layanan streaming ini telah memiliki penguasa pasar yang cukup kuat sebagai kompetitorCinema  XXI apabila terjun ke dalamnya. beberapa platform tersebut antara lain :

Sumber : mediaformasi.com

Hal ini tentu membuat Cinema XXI harus memutar otak ekstra menyiapkan strategi dan inovasi ketika hendak memasuki pasar layanan streaming. Secara garis besar kompetitor-kompetitor di atas memiliki tipe layanan yang sama yaitu menyediakan berbagai genre film saja. Di sinilah Cinema XXI dapat mengambil inovasi untuk layanan streaming miliknya. Menilik dari tabel consumer insight, dalam masa pandemi dan era new normal kecenderungan orang tertarik untuk mendapatkan promo dan potongan harga naik serta kecenderungan membeli delivery order juga naik. Menurut kami Cinema XXI dapat mengembangkan layanan streaming yang bekerjasama dengan lini bisnis XXI Cafe. Pemberian promo tertentu atau potongan harga di Cinema XXI Cafe dapat diberikan setiap jumlah tertentu pembelian tiket/berlangganan di layanan streaming Cinema XXI, sehingga dapat menarik pelanggan yang juga sudah rindu menikmati sensasi menonton dengan makanan dan minuman dari Cinema XXI untuk berlangganan/membeli tiket streaming. Selain itu, inovasi lain dapat berupa pemberian promo dan diskon tertentu untuk tiket offline ketika nanti bioskop dibuka kembali. Singkatnya, dengan berlangganan/membeli tiket di layanan streaming CinemaXXI, pelanggan juga dapat menikmati promo serta potongan harga di XXI Cafe dan juga untuk tiket offline ketika bioskop kembali dibuka. Asik bukan? 

Tentu saja kemunculan layanan streaming di tengah persaingan yang ketat membutuhkan banyak usaha ekstra. Selain upaya di atas, Cinema XXI juga dapat menggandeng pihak-pihak production house, aktris, dan aktor yang selama ini bekerja sama dengan mereka untuk ikut mempromosikan layanan streaming baru ini. Dengan channel yang begitu besar dengan industri film, seharusnya pemasaran layanan ini lebih mudah sampai ke konsumen. 

Pengembangan web mungkin akan memakan biaya yang tidak sedikit namun, Cinema XXI dapat melihat ini sebagai investasi untuk bisnis Cinema XXI ke depan. Pasalnya Yuswohady (2020) mengatakan setelah pandemi berakhir akan ada perubahan perilaku konsumen seperti di bawah ini : 

sumber : yuswohady.com

 

Dari sisi kultural, perubahan perilaku konsumen go virtual dan go contactless sangat berpengaruh dalam bisnis bioskop. Setelah masa pandemi usai, orang-orang akan memilih alternatif-alternatif yang memungkinkan mereka dapat menjalani kebiasaan seperti masa pandemi karena tingkat kesadaran akan kesehatan meningkat yang mungkin pula berarti pengunjung bioskop tidak akan sebanyak dulu. Layanan virtual akan lebih banyak dipilih oleh konsumen. Oleh karena itu setelah masa pandemi berakhir, Cinema XXI tetap dapat mengoperasikan layanan streaming yang telah menjadi kebiasaan baru dan juga dapat mengoperasikan bioskop offline dengan protokol kesehatan. Dengan begitu diharapkan Cinema XXI dapat bertahan di masa pandemi sekaligus mempunyai investasi besar untuk kelangsungan bisnis setelah masa pandemi. 

Upaya lain yang dapat dilakukan oleh Cinema  XXI adalah membuat drive in cinema. Menilik dari data consumer insight bahwa pelanggan menyukai inovasi, tetap menginginkan experience langsung menonton film di bioskop namun juga peduli dengan kesehatan, program inovasi ini cukup menarik untuk dikembangkan. Cinema XXI dapat bekerja sama dengan pihak lain untuk menyediakan perlengkapan seperti layar, pencahayaan, dan perlengkapan lain. Program ini memungkinkan pengunjung dapat menyaksikan film melalui mobil masing-masing, sehingga sensasi menonton film di bioskop dengan layar yang besar, orang-orang asing di sekitar, audio yang bagus dapat mereka dapatkan. Program drive in cinema bukanlah program baru, jauh sebelum adanya pandemi program ini telah viral dan memiliki banyak peminat. Di masa pandemi ini, telah sukses digelar drive in cinema serta konser musik drive in dengan antusias peminat yang luar biasa di Jakarta dan Semarang, bahkan di negara lain seperti Ceko serta Amerika. Cinema XXI dapat membuat drive in cinema kemudian menyediakan menu milik XXI Cafe sebagai penambah sensasi nonton di bioskop “asli”. Pengalaman baru baru bagi pelanggan, pemasukan baru bagi Cinema XXI !

link bioskop drive in : https://www.youtube.com/watch?v=vX6jL5Xlo_o

link konser drive in : https://www.youtube.com/watch?v=YE1dd7PuJhY 

Sumber : 

The Jakarta       Post. The Jakarta Post.Juli2,2014

https://www.thejakartapost.com/news/2014/07/02/first-xxi-cineplex-closes-after-10-years.html

PR Newswire Asia. PR Newswire Asia. Juni 17, 2020. https://id.prnasia.com/story/46794-5.shtml (accessed September 26, 2020).

Beritagar.id. beritagar.id. September 14, 2020. https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/lebih-dari-50-persen-pengeluaran-rumah-tangga-milenial-habis-untuk-makanan (accessed September 26, 2020). 

Diananto,Wayan. liputan6.co. April 7, 2020.

https://www.liputan6.com/showbiz/read/4219964/cinema-xxi-sebut-wabah-corona-covid-19-kondisi-paling-buruk-bagaimana-gaji-karyawan  

(accessed September 26, 2020)

Jaliyani, Alwin. kumparan.co. Mei 26, 2020. https://kumparan.com/alwin-jalliyani/tren-baru-nonton-film-selama-karantina-1tTxbaRUc0F (accessed September 27, 2020).

Lestari, Kintan. www.urbanasia.com. Aprl 24, 2020. https://www.urbanasia.com/efek-lockdown-durasi-nonton-layanan-streaming-naik-pesat-di-asia-tenggara-U12449 (accessed September 26, 2020).

Olenyn, Jerry. krcrtv.com. September 24, 2020. https://krcrtv.com/news/local/meriam-park-movie-screen-assembled-for-drive-in-movie-theater-opens-friday (accessed September 26, 2020).

Pwc Indonesia. Pwc.com. Agustus 14, 2020. https://www.pwc.com/id/en/media-centre/pwc-in-news/2020/indonesian/survei-pwc-pandemi-mengubah-perilaku-konsumen.html (accessed September 26, 2020).

Rochim, Abdul. www.inews.id. Juli 13, 2020. https://www.inews.id/techno/internet/penggunaan-internet-melonjak-di-masa-pandemi-covid-19-paling-banyak-digunakan-untuk-kirim-pesan (accessed September 26, 2020).

Winosa, Yosi. www.wartaekonomi.co.idn. Februari 19, 2019. https://www.wartaekonomi.co.id/read217570/percaya-enggak-ternyata-masyarakat-indonesia-lebih-suka-nonton-konten-berbayar-ketimbang-gratisan (accessed September 26, 2020).

Wire, PR. www.antaranews.com/. Agustus 19, 2020. https://www.antaranews.com/berita/1677386/konten-video-streaming-dominasi-konsumsi-media-hiburan-di-asia-pasifik (accessed September 26, 2020).

Yehezkiel. mediaformasi.com. Juni 12, 2020. https://mediaformasi.com/2020/06/karena-covid-19-layanan-streaming-di-indonesia-alami-peningkatan-drastis/ (accessed September 26, 2020).

Yuswohady. www.yuswohady.com. 2020. https://www.yuswohady.com/2020/08/26/5-digital-consumer-megashifts-2/ (accessed September 26, 2020).

Manggalla, Thomas. www.metro.sindonews.com September 09, 2020. https://metro.sindonews.com/read/158546/170/dilema-pembukaan-bioskop-pada-masa-pandemi-covid-19-1599610192/20 (accessed September 27, 2020).

 

The Phantom Shadow

1. Arneta Launuru 

2. Lia Arfita Meliana

3. Muhammad Ikhsan Hidayat

4. Muhammad Taufiq Anggoro


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
1
Confused
Sad Sad
1
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
2
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
ArnetaLaunuru

One Comment

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format