Managing Operations and Supply Chains

Apa itu Manajemen Operasi ? Bagaimana Manajemen Operasi diterapkan dalam bisnis Jasa ? Bagaimana mengintegrasikan Manajemen Operasi dan Supply Chain Management ?


1
1 share, 1 point

Chapter 8 : Managing Operations and Supply Chains

The Nature of Operations Management

Manajemen Operasi atau Operations Management (OM), pengembangan dan administrasi berbagai aktivitas yang terlibat dalam transformasi sumber daya menjadi barang dan jasa adalah hal yang kepentingan yang kritis.

Manajer operasi mengawasi proses transformasi, perencanaan dan mendesign sistem operasi, mengatur logistik, kualitas dan produktifitas. Kualitas dan produktifitas menjadi aspek fundamental dari manajemen operasi karena perusahaan yang tidak dapat membuat produk dengan kualitas yang tidak sesuai keinginan pelanggan, dengan menggunakan sumber daya dengan efisien dan efektif, tidak akan bertahan dalam bisnis. OM aalah inti dari kebanyakan organisasi karena bertanggungjawab dalam pembuatan produk dan jasa dari organisasi.

Dalam sejarahnya, OM sebelumnya disebut “produksi” atau “manufaktur”, karena pandangan yang membatasi manufaktur produk secara fisik. Istilah produksi atau manufaktur berfokus pada metode-metode dan teknik-teknik yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pabrik secara efisien. Perubahan istilah dari “produksi” menjadi “operasi” mengakui peningkatan kepentingan organisasi memberikan jasa dan ide. Istilah “operasi” menunjukan sebuah minat dalam memandang fungsi operasi sebagai sebuah keutuhan daripada pandangan simpel sebagai sebuah analisi input dan output. Istilah manufaktur dan produksi untuk menunjukan aktivitas dan proses yang digunakan dalam membuat produk yang tangible sedangkan istilah operasi digunakan untuk proses yang digunakan dalam membuat produk tangible dan intangible.

The Transformation Process – Proses Transformasi

Jantung dari OM adalah proses transformasi input (sumber daya seperti tenaga kerja, uang, bahan baku dan energi) menjadi output (barang, jasa dan ide). Proses transformasi mengkombinasikan input dengan cara yang ditentukan sebelumnya menggunakan berbagai peralatan berbeda, prosedur administrasi dan teknologi untuk membuat produk, untuk menjamin proses ini menghasilkan produk berkualitas secara efisien, manajer operasi melakukan kontrol proses dengan melakukan pengukuran (feedback) di berbagai titik proses transformasi dan membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika ada penyimpangan antara kondisi aktual dengan output yang diinginkan, manajer akan mengambil tindakan korektif. Transformasi bisa terjadi di satu titik atau lebih dalam suatu proses.

Operations Management in Service Business – Manajemen Operasi dalam Bisnis Jasa

Tidak seperti barang tangible, jasa adalah tindakan secara efektif atau performa yang harus diarahkan langsung ke pelanggan yang mengunakan jasa tersebut. Oleh karena itu, ada komponen berupa kontak pelanggan (customer contact) terhadap sebagian besar jasa.

Karakteristik Jasa adalah Intangibility (tidak dapat dilihat secara fisik), Inseparatibility of production and consumption (Produksi dan konsumsi tidak dapat dipisahkan), Perishability (mudah rusak, sulit menentukan supply demand yang sesuai), Customization (diperlukan banyak penyesuaian) , Customer contact.

  • Nature and Consumption of Output – Sifat Dasar dan Konsumsi Output

Nature atau sifat dasar perusahaan jasa adalah membutuhkan tingkat customer contact yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan manufaktur. Kinerja sebenarnya dari jasa terjadi pada saat konsumsi.

  • Uniformity of Input – Keseragaman Input

Input yang dibutuhkan dalam perusahaan jasa lebih beragam dibandingkan perusahaan manufaktur disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Oleh karena itu produk yang dihasilkan perusahan jasa menjadi customized.

  • Uniformity of Output – Keseragaman Output

Dalam perusahaan jasa, ada elemen manusia yang terlibat dalam menghasilkan jasa sehingga jasa yang dihasilkan cenderung berbeda meskipun memiliki prosedur dan proses yang sama.

  • Labor Required – Kebutuhan Tenaga Kerja

Perusahaan jasa memerlukan lebih banyak tenaga kerja dibandingkan manufaktur dikarenakan berbagai faktor seperti kebutuhan consumer contact yang tinggi, perishability dari output (harus dikonsumsi segera) dan level input dan output yang sangat beragam (customization).

  • Measurement of Productivity – Pengukuran Produktifitas

Pada perusahaan manufaktur pengukuran produktifitas mudah diukur dan ditentukan karena outputnya dapat terlihat dan tingginya keseragaman. Untuk perusahaan jasa lebih sulit dilakukan karena demand yang beragam, kebutuhan jasa yang beragam dan sifat produknya yang tidak terlihat. Dalam kenyataannya, perusahaan mengkombinasikan produknya antara barang dan jasa. Dari tangibility level pada produk utama, kita dapat melakukan klasifikasi apakah perusahaan tersebut perusahaan manufaktur atau perusahaan jasa.

Planning and Designing Operations Systems – Perencanaan dan Desain Sistem Operasi

Sebelum sebuah perusahaan memproduksi suatu produk, harus ditentukan apa yang akan diproduksi dan untuk pelanggan mana produk tersebut.kemudian ditentukan proses apa yang digunakan dan fasilitas yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Keputusan-keputusan tersebut termasuk ke dalam perencanaan produksi. Meskipun perencanaan ada di departemen produksi dan operasi, biasanya perusahaan juga akan melibatkan seluruh departemen dalam organisasi, khususnya pemasaran dan riset dan pengembangan (R&D).

Planning the Product – Perencanaan Produk

Sebelum membuat suatu produk, sebuah perusahaan menentukan terlebih dulu apa keinginan pelanggan dan kemudian mendesain produk untuk memuaskan keinginan tersebut. Sebagian besar perusahaan menggunakan riset pemasaran untuk menentukan jenis barang dan jasa yang diberikan dan fitur-fitur yang harus dimiliki oleh produk tersebut. Riset pemasaran juga dapat membantu mengukur permintaan terhadap suatu produk dan seberapa banyak uang yang pelanggan inginkan untuk membayarnya. Tetapi ketika terjadi perubahan lingkungan pasar, perusahaan harus fleksibel.Manajer operasi harus merencanakan jenis dan jumlah bahan baku, skill, jumlah orang yang dibutuhkan, proses yang harus dilalui input menjadi output untuk membuat suatu produk.

Designing the Operations Processes – Mendesain Proses Operasi

Sebelum berproduksi, Manajer operasi harus menentukan metode apa yang sesuai dan bisa digunakan dalam transformasi sumber daya menjadi produk yang diinginkan. Ada 3 (tiga) metode yang untuk digunakan untuk manufaktur yaitu standarisasi, desain modular, customization.

  • Standardization – Standarisasi

Sebagian besar perusahaan yang memproduksi barang secara kuantitas besar untuk banyak pelanggan menggunakan desain standarisasi agar lebih murah dan lebih cepat. Standarisasi membuat produk yang sama, komponen yang saling menggantikan atau bahkan produk secara utuh. Dengan standarisasi, pelanggan bisa jadi tidak mendapat apa yang mereka inginkan, tetapi produk tersebut lebih murah dibandingkan produk customize. Standarisasi menjadi kompleks pada skala global karena setiap negara mempunyai standar masing-masing. Oleh karena itu the International Organization for Standarization (ISO) telah mengembangkan daftar standar global yang dapat digunakan perusahaan sehinggastakeholder yakin perusahaan tersebut memenuhi kualitas tinggi, lingkungan dan sistem manajemen.

  • Modular Design – Desain Modular

Desain modular melibatkan membangun sebuah barang dalam self-contained units atau modules, yang dapat dikombinasikan atau saling menggantikan untuk membuat produk yang berbeda. Desain modular memungkinkan pelanggan untuk melakukan mix and match komponen untuk desain yang sesuai keinginan. Dikarenakan banyak komponen modular diproduksi secara unit kesatuan, kegagalan sebagian komponen modular berarti mengganti komponen secara keseluruhan. Desain modular membuat produk cepat diperbaiki, sehingga mengurangi biaya tenaga kerja tetapi komponen tersebut mahal sehingga biaya perbaikan material.

  • Customization

Customization adalah membuat produk untuk memenuhi setiap kebutuhan dan keinginan pelanggan. Produk yang dihasilkan bersifat unik. Pelanggan dapat memilih model, ukuran, warna, style atau desain dari sebuah produk.

  • Blockchain

Teknologi informasi Blockchain dapat mengubah proses secara virtual setiap industri. Blockchain adalah sebuah secure public database yang mencatat semua transaksi dan tersebar di berbagai komputer.

Planning Capacity – Perencanaan Kapasitas

Kapasitas adalah beban maksimum sebuah unit organisasi yang mampu di bawa atau operasikan. Kapasitas maksimum dapat dinyatakan dalam input atau output  yang dihasilkan. 

Perencanaan kapasitas secara efisien adalah proses penting bagi manajer operasi. Kekurangan kapasitas akan menyebabkan tidak terpenuhinya permintaan yang berakibat kehilangan pelanggan. Kelebihan kapasitas akan menyebabkan biaya operasi meningkat. Untuk menghindari hal tersebut, perusahaan harus membuat forecast demand yang akurat, kemudian merencanakan kapasitas berdasarkan forecast tersebut. 

  • Facility Planning – Perencanaan Fasilitas

Ketika perusahaan sudah mengetahui produk apa yang akan dibuat, kemudian dilakukan desain dan pembangunan fasilitas yang sesuai untuk produksi barang tersebut. Perusahaan harus menentukan dimana lokasi fasilitas operasi, seperti apa lay out terbaik untuk produks dan teknologi apa yang bisa diterapkan dalam proses transformasi.

  • Facility Location – Lokasi Fasilitas

Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan lokasi fasilitas diantaranya kedekatan dengan pasar atau pelanggan, ketersediaan bahan baku, ketersediaan transportasi, ketersediaan listrik, pengaruh cuaca, ketersediaan tenaga kerja, karakteristik masyarakat (kualitas hidup), pajak dan insentif.

  • Facility Layout – Layout Fasilitas

Ada 3 (tiga) jenis layout dasar yaitu Fixed-position layout, Process layout proses dan Product layout.

Fixed-position layout adalah sebuah layout yang membuat semua sumber daya yang dibutuhkan untuk membuat suatu produk ditempatkan pada satu tempat terpusat. Produk pada layout ini tidak bergerak dan sering disebut organisasi proyek. Contohnya proyek pembangunan gedung.

Process layout adalah sebuat layout yang mengatur proses transformasi ke dalam departemen yang mempunyai proses yang berkaitan. Tipe organisasi yang menggunakan layout ini disebut intermittent organizations. Contohnya pabrik baja.

Product layout adalah sebuah layout yang membutuhkan produksi dibagi ke dalam tugas yang dilakukan pekerja yang biasanya ditempatkan di sepanjang lini perakitan. Perusahaan yang menggunakan lini perakitan biasanya dikenal dengan continuous manufacturing organizations. Contohnya pabrik mobil.

Technology – Teknologi

Computer-assisted Design (CAD) membantu mendesain komponen, produk dan proses dengan komputer dan menghasilkan gambar 3 (tiga) dimensi.

Computer-assisted Manufacturing (CAM) membantu proses produksi menggunakan sistem komputer khusus yang melakukan guide dan control terhadap proses transformasi. CAM mengumpulkan informasi  mengenai peralatan yang digunakan dan informasi produk itu sendiri dari satu proses transformasi ke proses berikutnya

Flexible manufacturing adalah kondisi dimana mesin dapat diatur oleh komputer untuk melakukan operasi yang sama dengan berbagai versi tanpa mematikan jalur produksi untuk melakukan setting ulang.

Computer-integrated manufacturing (CIM) adalah sebuah sistem lengkap yang mendesain produk, mengatur mesin dan bahan baku serta mengontrol fungsi operasi.

Sustainability and Manufacturing – Keberlanjutan dan Manufaktur

Sistem operasi dan manufaktur bergerak dengan cepat untuk menciptakan sustainability lingkungan dan meninimalkan dampak negatif pada alam.  Beberapa isu-isu sustainability termasuk polusi tanah, air dan udara, perubahan iklim, manajemen limbah, deforisasi, perluasan kota, perlindungan biodiversity dan makanan hasil modifikasi genetik.

Managing the Supply Chain – Mengatur Rantai Pasokan

Fungsi besar dari operasi adalah supply chain management (SCM) yang merujuk menghubungkan dan mengintegrasikan semua pihak atau anggota dar sistem distribusi dengan tujuan memuaskan pelanggan. SCM memerlukan manajer pemasaran untuk bekerja dengan manajer lain dalam operasi, logistik dan procurement.

Procurement melibatkan proses mendapatkan sumber daya yang menciptakan value melalui sourching, purchasing dan recycling material dan informasi. Procurement sering disamakan dengan “buying” atau “purchasing”, padahal itu hanya sebagian kecil dari aktivitas procurement dalam sebuah supply chain.

Logistik berfokus pada distribusi fisik dan pemilihan moda transportasi. Inbound logistik, outbound logistik dan third-party logistics adalah komponen penting dalam transportation node. Inbound logistik melibatkan pergerakan bahan baku, packaging, informasi dan barang dan jasa lain dari supplier ke produsen. Outbod logistik melibatkan pergerakan produk final dan informasi dari pelanggan bisnis sampai ke konsumen akhir.

  • Procurement – Pengadaan

Purchasing adalah satu bagian dalam procurement yang terlibat dalam pembelian semua material yang dibutuhkan oleh organisasi. Tujuan dari purchasing adalah mendapat barang sesuai kualitas yang diinginkan dengan jumlah yang tepat pada harga yang terendah. Opsi lain selain purchasing adalah membuat sendiri (make) atau menyewa (lease).

  • Managing Inventory

Inventory adalah semua bahan baku, komponen, produk utuh atau parsial dan bagian peralatan yang perusahaan gunakan. Ada 3 (tiga) macam inventory yaitu Finished-good inventory, Work-in-process inventory, Raw material inventory.

Inventory control adalah proses menentukan seberapa banyak supplies dan barang yang dibutuhkan dan jumlah yang ditahan, dimana barang tersebut dan siapa yang bertanggungjawab atas inventory tersebut.

The Economic Order Quantity Model

EOQ Model adalah sebuah model yang mengidentifikasi jumlah optimal order untuk meminimalkan ordering, storing and using cost.

Just-in-Time Inventory Mangement

JIT adalah sebuah teknik menggunakan kuantitas lebih kecil dari material yang datang “just in time” yang digunakan untuk proses transformasi sehingga mengurangi storage space dan mengurangi beban manajemen inventory.

Material-Requirements Planning

MRP adalah sistem perencanaan presisi yang menjadwalkan kuantitas material yang digunakan untuk membuat produk.

  • Outsourcing

Outsourcing merujuk kepada mengalihkan proses manufaktur atau tugas lain kepada perusahaan yang independen. Outsourcing bertujuan menghasilkan produk secara efisien, rendah biaya dan kepuasan pelanggan yang lebih tinggi.

  • Routing and Scheduling

Routing adalah urutan operasi yang harus dilalui sebuah produk.

Scheduling adalah assignment dari tugas yang diperlukan ke departmen atau mesin, pekerja atau tim. Salah satu metode scheduling adalah Program Evaluation and Review Technique (PERT) yang mengidentifikasi semua aktivitas atau event yang diperlukan untuk membuat produk, menyusunnya dalam urutan atau path, menentuka critical path dan mengestimasi waktu yang dibutuhkan untuk setiap event. Path yang memerlukan waktu terpanjang dari start sampai finish disebut critical path karena menentukan jumlah minimum waktu yang diperlukan sebuah proses dapat diselesaikan.

Managing Quality

Kualitas, seperti biaya dan efisiensi, adalah elemen kritis dalam manajemen operasi, karena produk yang jelek dapat merusak perusahaan dengan cepat. Kualitas mencerminkan tingkat dimana barang atau jasa memenuhi permintaan dan keinginan pelanggan. Quality control adalah proses organisasi yang digunakan untuk menjaga standar kualitas yang telah ditetapkan. Total Quality Management. (TQM) adalah sebuah filosofi komitmen yang seragam terhadap kualitas di semua area dari perusahaan akan meningkatkan sebuah budaya yang memenuhi persepsi kualitas dari pelanggan.

  • International Organization for Standarization (ISO)

ISO 9000 adalah serangkaian standar jaminan mutu yang didesain oleh the International Organization for Standardization (ISO) untuk memastikan kualitas produk yang konsisten dalam banyak kondisi.

ISO 14000 adalah seperangkat standar lingkungan komprehensif yang mendorong sebuah dunia yang lebih bersih dan lebih aman dengan mempromosikan banyak pendekatan seragam terhadap manajemen lingkungan dan membantu perusahaan mencapai dan mengukur improvement dalam performa lingkungannya.

ISO 19600 adalah seperangkat standar pedoman komprehensif untuk compliance management menunjukan resiko, pemenuhan aspek legal dan kebutuhan stakeholder.

  • Inspection

Inspeksi membuktikan apakah sebuah produk memenuhi standar kualitas. Organisasi biasanya melakukan inspeksi atas purchasing items, work-in-process, dan finished items.

Inspeksi purcahsing items dan finished items dilakukan setelah terjadi untuk menentukan quality level. Inspeksi work-in-process sebagai tindakan preventif bertujuan menemukan cacat produk sebelum produk jadi sehingga dapat dilakukan perbaikan yang dibutuhkan.

  • Sampling

Beberapa prosedur inspeksi agak mahal, menggunakan alat pengujian yan rumit, menghancurkan produk, dan membutuhkan waktu berjam-jam untuk diselesaikan. Pada kasus tersebut, biasanya lebih diinginkan untuk menguji hanya sampel dari output. Jika sampel yang diambil lolos dalam pengujian maka diasumsikan semua item lolos uji, begitu pula sebaliknya. Risiko dari sampling adalah membuat kesimpuan yang salah.

Sampling lebih suka digunakan ketika tes inspeksi bersifat menghancurkan. Sedangkan jika berhubungan dengan kehidupan manusia dan safety maka tetap dilakukan inspeksi terhadap 100% output meskipun biayanya mahal.

Integrating Operations and Supply Chain Management

Mengatur operasi dan supply chain menjadi kompleks dan menantang disebabkan oleh jumlah organisasi independen yang harus memenuhi tanggung jawab dan menciptakan produk berkualitas. Mengatur supply chain memerlukan kewaspadaan yang konstan dan kemampuan untuk membuat perubahan taktik dengan cepat.

Mengatur berbagai mitra yang terlibat dalam supply chain dan operasi menjadi penting karena stakeholder memegang tanggung jawab perusahaan untuk melakukan tindakan yang sesuai yang berhubungan terhadap kualitas produk.

Bisnis juga harus memiliki supplier yang beragam. Jika hanya memiliki beberapa supplier akan berpotensi mengganggu operasi.

Semua perusahaan yang bekerja dengan supplier global seharusnya menerapkan Global Supplier Code of Conduct dan memastikan telah dikomunikasikan dengan efektif. Sebagai tambahan, perusahaan seharusnya mendorong karyawan bagian complience dan procurement untuk berkerja sama dalam mencari supplier yang beretika pada harga yang wajar. Manajer Supply Chain dan Manajer Procurement harus bekerja sama untuk memastikan seleksi supplier terbaik dari segi etika dan biaya.

Pada akhirnya perusahaan harus mengadakan audit secara rutin terhadap suppliernya dan mengambil tindakan atas temuan yang menjadi penyimpangan dari standar perusahaan.

Referensi :

Dirangkum oleh :

Kelompok Angel Investor

Agus Basuki

Ahmad Zakie Akmal

Dini Rahmawati

Rohandi


Like it? Share with your friends!

1
1 share, 1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
4
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

13 Comments

  1. Sungguh menraik tema ini. Perihal Blockchain, apakah bisa diberikan contoh nyata produk atau brand yang saat ini menjadi andalan perusahaan terkemuka untuk menjaga data yang mereka miliki. Dan apakah biaya dalam menggunakan blockchain itu mahal ?

  2. Izin bertanya, dijelaskan bahwa :
    Perusahaan jasa memerlukan lebih banyak tenaga kerja dibandingkan manufaktur dikarenakan berbagai faktor seperti kebutuhan consumer contact yang tinggi, perishability dari output (harus dikonsumsi segera) dan level input dan output yang sangat beragam (customization).

    Apakah hal tersebut merupakan suatu hal yang mutlak? Mohon diperjelas dengan contohnya,

    Terimakasih

  3. Outsourcing merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk efisiensi biaya produksi, menurut teman2 apa yang menyebabkan perusahaan
    memilih untuk tidak melakukan outsroucing dikondisi outsourcing benar2 terbukti mampu mereduce biaya produksi bagi perusahaan tersebut? Mohon diperjelas apakah ada kelemahan atas pilihan melakukan outsourcing ini? Thanks 🙌

  4. Dear Team Angel Investors,

    Terima kasih atas sharingnya mengenai pengelolaan operasi dan pasokan bahan baku yang dapat menambah pengetahuan kami semua. Saya memiliki 1 kebingungan yang mungkin dapat dibantu oleh teman-teman dalam menjelaskannya.

    Dalam bisnisnya, restauran dapat dikategorikan sebagai perusahaan jasa, karena bersifat melayani pelanggan dan tidak dapat dipisahkan antara produksi dan konsumsi (biasanya dilakukan pada saat yang hampir bersamaan / memiliki perbedaan waktu yang tidak lama).

    Namun, operasional restauran tidak semudah perusahaan jasa lainnya dalam mengelola aktivitas usaha beserta persediannya. Karena persediaan / bahan baku dalam restauran cenderung memiliki umur yang pendek (cepat busuk / basi) dan tidak bisa disimpan terlalu lama. Tentunya ini menjadi permasalahan yang dilematis, dimana apabila persediaan tidak mencukupi untuk produksi (dalam hal ini masakan) tentu akan berimbas kepada tidak terlayaninya customer. Sementara apabila menyimpan persediaan yang terlalu banyak, terdapat risiko / kemungkinan bahan baku menjadi rusak dan keduanya menyebabkan kerugian bagi perusahaan restauran itu sendiri.

    Pertanyaannya: Menurut teman-teman dari Tim Angel Investors, bagaimana sebaiknya perusahaan restauran dalam mengatur aktivitas operasionalnya, terutama dalam hal persediaan dan dalam mengatur supply chainnya agar tetap dapat melayani kebutuhan customer namun di sisi lainnya tidak menyebabkan kerugian karena kerusakan bahan baku?

    Sekian pertanyaan dari saya, mohon pencerahannya dari teman-teman sekalian dan terima kasih.

  5. Terima kasih untuk artikelnya. Ingin bertanya, Dalam bisnis jasa, misalkan bidang consultant atau bidang pendidikan, bagaimana strategi suatu perusahaan dapat menerapkan quality control dalam output yang diterima oleh costumer? Sedangkan, dalam sebuah bisnis yang outputnya adalah produk, apa yang menjadi faktor penentu sebuah perusahaan memilih untuk melakukan quality control dengan memeriksa sampel produk atau menguji kualitas setiap produk yang dihasilkan? Terima kasih

  6. Menarik sekali pembahasan mengenai Managing Operations, dimana sebelum berproduksi harus ditentukan metode proses operasinya yang terbagi 3 yaitu standarisasi, modular design, customization, mohon penjelasannya apakah metode operasi sebuah produk merupakan sesuatu yang fix tidak berubah selama produksi atau bisa flexible berubaha ubah? Mohon penjelasan dan contohnya,tks

  7. Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan ISO. Yang pertama, menurut rekan-rekan apa ISO ini sama dengan SNI (Standar Nasional Indonesia)? Mohon dijelaskan apabila ada perbedaannya. Yang kedua, Apakah sertifikasi ISO itu menjadi sebuah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap perusahaan ataukah hanya menjadi value edit saja untuk sebuah perusahaan? Dan yang terakhir, Siapa saja lembaga yang berhak melakukan penilaian atau memberikan sertifikasi ISO terhadap suatu perusahaan itu? apakah dari pemerintah atau swasta juga bisa memiliki lisensi untuk menilai?. Demikian, terimakasih, sukses selal untuk Tim Angel Investor!

  8. Saya tertarik dengan ulasan manajemen Operasi dalam bisnis jasa.
    “Jasa adalah tindakan secara efektif atau performa yang harus diarahkan langsung ke pelanggan yang mengunakan jasa tersebut. Oleh karena itu, ada komponen berupa kontak pelanggan (customer contact) terhadap sebagian besar jasa”.

    Dalam bisnis Jasa salah satu performa yang biasa diukur adalah Kualitas Layanannya atau “Service Quality” dalam mengkuantitativekan kualitas tersebut digunakan Tools Customer Satisfaction Index (CSI) dan Customer Loyality Index (CLI).

    Mohon paparan dari Tim Angel Investor sejauh mana perusahaan monopoli milik pemerintah (PLN, KAI) memperhatikan indeks ini, dan sejauh mana pelaksanaan tersebut dilakukan ?
    Apakah ada tool tersendiri dalam mengukur “Service Quality” perusahaan tersebut ?

  9. Saya mau bertanya, tidak semua perusahaan memiliki departement ini dalam organisasinya dikarenakan ada beberapa fungsi yang beirisan dengan departement lain, semisal Procurement. Selain itu adanya penambahan cost juga menjadi pertimbangan utama dari sebuah organisasi untuk meniadakan department padahal secara fungsinya department ini sangat fungsional. Solusi apa yang bisa diberikan oleh team Angel Investors terkait issue tersebut ? Bagaimana cara menghilangkan stigma jika penerapan supply chain management ini hanya akan menjadikan penambahan cost dalam perusahaan ?

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format