Langkah Grab Dalam Mengantisipasi PHK akibat dampak Covid-19

Dampak dari pandemi Grab melakukan PHK sebanyak 360 orang bisa diantisipasi dengan membuat bisnis baru yang cocok selama masa pandemi yaitu Grab Kitchen, Grab Mart


0

Jumlah pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat dampak covid di Indonesia sudah melebihi 3 juta orang sampai dengan saat ini. Baik perusahaan di dalam maupun luar negeri yang beroperasi di Indonesia terpaksa harus melakukan efisiensi untuk bisa survive di masa pandemik. Tak terkecuali dengan Grab. Perusahaan platform berjuluk startup Decacorn ini juga melakukan PHK terhadap 360 karyawannya di Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Pengumuman keputusan ini langsung dilakukan oleh CEO dan Co-Founder Grab, Anthony Tan, melalui di situs resmi Grab. Pemutusan tersebut disertai dengan pemberian pesangon sebesar 1,5 kali pendapatan sebulan tiap karyawan. Namun, hal tersebut bukanlah solusi terbaik mengingat tidak adanya program untuk mengantisipasi pengangguran yang terjadi akibat PHK setelahnya. Telebih pesangon yang diberikan nilainya tidaklah cukup besar apalagi dalam berbentuk saham Grab sehingga sangat sulit untuk ex-karyawan ini membangun pekerjaan baru dengan modal yang ada. Adanya pelatihan keterampilan kerja, pemberdayaan UMKM, atau opsi penawaran pekerjaan baru akan lebih berarti untuk mereka supaya bisa tetap memiliki penghasilan dan mampu survive di masa pandemic ini.

Solusi untuk mempekerjakan karyawan yang terkena PHK

Dampak dari pandemi adalah Grab melakukan PHK sebanyak 360 orang dan juga berdampak pada berubahnya kebijakan rekrutmen dari Grab. Grab Indonesia yang selama ini diberi kelonggoran untuk bisa mengatur proses sendiri oleh Grab Holding saat ini semua diatur oleh Grab Holding. Untuk mengisi jabatan baru Grab Indonesia mengutamakan rekrutmen dari sumber internal serta untuk rekrutmen pegawai kontrak dibatasi. Kebijakan lainnya terkait rekrutmen adalah jika diperlukan rekrutmen dari luar perusahaan untuk mengisi jabatan yang kosong harus mendapat persetujuan dari CEO Grab International.

Grab merubah aturan terkait rekrutmen didasari beberapa alasan. Alasan yang utama adalah terkait penghematan karena dampak dari pandemi dan alasan yang lainnya adalah untuk menghindari kemungkinan adanya PHK dan tuntutan hukum dari pegawai. Dengan merubah cara rekrutmen dari proses internal tentunya akan menghilangkan kemungkinan PHK dan untuk menghindari tuntutan hukum pegawai yang terpaksa harus di PHK telah diberikan pesangon yang sesuai dengan aturan ketenagakerjaan.

Grab meyakini bahwa pandemi ini belum tentu kapan akan berakhirnya. Hal ini memaksa grab untuk merubah strategi perusahaan agar tetap bisa bersaing didalam bisnis transportasi. Strategi yang umum telah dilakukan Grab adalah menekan biaya yaitu dengan mengurangi gaji dari para petinggi, pengurangan bonus dan diperbolehkan cuti diluar tanggungan perusahaan. Startegi lain yang dilakukan yang menurut penulis cukup inovatif adalah dengan mengembangkan bisnis turunan dari yang sudah ada. Grab menghentikan investasi bisnis yang memiliki tingkat pengembalian jangka panjang seperti contohnya Grab Kios dan mengalihkan modal untuk membuat bisnis baru yang cocok selama masa pandemi yaitu Grab Kitchen, Grab Mart dan Grab Assitance. Pengisian jabatan pada bisnis baru ini tentunya diutamakan dari sumber internal.

sumber : https://vietnaminsider.vn/grab-launches-first-shared-kitchen-in-vietnam/


Pengembangan skills untuk posisi baru

Grab Kitchen, Grab Assitance, dan Grab Mart menjadi tiga solusi fitur terbaru yang menjadi aspirasi penulis dengan melihat kondisi yang serba terbatas untuk berpergian namun kebutuhan primer, seperti sembako, harus tetap terpenuhi. Dengan pembukaan fitur baru ini maka dapat membuka lowongan pekerjaan baru, terkhusus bagi para driver yang mengalami pemutusan kontrak kerja sebelumnya oleh Grab. Tentunya posisi yang paling sangat dibutuhkan disini adalah Customer Service Staff dan Administration Staff. Dua posisi ini merupakan posisi yang vital dan berperan penting dalam kelancaran fitur baru Grab.

Posisi customer service membutuhkan seorang karyawan yang mampu melayani para mitra atau para pelanggan Grab dengan baik. Bisa dibilang, mereka adalah ujung tombak Grab yang akan memberikan informasi segala sesuatu kepada customer setia nya. Perilaku yang baik dan keakuratan pemberian informasi terhadap customer bisa menjadi brand imaging yang baik bagi Grab. Kedepannya, seorang customer service haruslah mampu menguasai segala produk dan fitur yang dijual oleh Grab serta menghadapi segala respon dari jutaan pelanggannya. Untuk itu, yang dibutuhkan Grab untuk mengisi posisi ini adalah seseorang yang memiliki penampilan yang sopan, mampu mengoperasikan komputer (Microsoft Office), keterampilan berkomunikasi dengan baik dan lancar, serta berperilaku jujur dan bertindak konsisten dengan kebijakan etika perusahaan.

Sedangkan  untuk pekerjaan administrasi mengemban tugas untuk melakukan kegiatan service dikantor, emnyediakan sarana dan prasana perkantoran, dan pengarsipan data sehingga menjamin terjadinya kelancaran operasional perusahaan. Terlebih untuk fitur baru yaitu Grab Kitchen, Grab Assitance, dan Grab Mart membutuhkan effort yang tinggi bagi staff administrasi karena menghadapi proses operasional yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan latar belakang tersebut, maka seorang administrasi memiliki kemampuan mengorganisasikan data dan aktivitas internal Grab, pribadi yang ulet, dan menjadi penghubung antarfungsi pekerjaan di Grab.

Tentunya, jabatan baru yang akan dibebankan pada pekerja baru tidaklah semata-mata diberikan tanpa ada pembekalan hardskill dan softskill. Karyawan baru yang direkrut akan melalui beberapa tahapan pengenalan perusahaan Grab. Karyawan baru akan menjalani dua minggu masa orientasi dengan rincian :

1.      Orientasi

a.      Minggu Pertama : Basic Orientation

Pembahasan diminggu pertama akan berkisar terkait dengan budaya kerja di Grab, struktur organisasi, hak dan tanggung jawab karyawan, beban pekerjaan dan target KPI setiap jabatan, garis komando yang harus diketahi, dan peraturan dasar perusahaan perusahaan. Akhir dari sesi orientasi ini adalah adanya office tour dan job-partner tour.

b. Minggu kedua : Advanced Orientation

Pembahasan tahap ini akan mengarah kepada orientasi spesifik kepada masing-masing jabatan yang dilihat dari tiap jenis fitur pelayanan. Orientasi ini akan mendalami cara kerja fitur, proses komunikasi antata Grab dengan customer, tata cara dan peraturan yang berlaku, Service Level Agreement (SLA) untuk setiap tahapan pekerjaan yang dilakukan, dan pengenalan akan KPI yang harus dijalani.

2.      Training

a.      On Job Training

Fase ini, karyawan baru akan diterjunkan langsung kepada jabatannya masing-masing. Pada fase ini juga, fungsi mentoring sangat berperan. User jabatan yang bersamgkutan akan melakukan people development sebagai salah satu bentuk tanggung jawab akan keberadaan karyawan baru tersebut. Berbekal langsung turun ke lapangan, karyawan baru diminta untuk dapat menyelesaikan setiap KPI yang sudah ada

3.      Coaching dan Mentoring

Minimnya pengalaman kerja pada posisi baru ini menuntut manajemen membuat sistem coaching and mentoring sebagai tools untuk mengukur daya tahan dan stabilitas karyawan yang baru. Coaching dan mentoring ini dilakukan kepada seluruh karyawang yang baru. Mekanisme coaching and mentoring ini pun akan dilakukan baik secara direct (bertemu secara tatap muka) ataupun indirect (melakukan pemberian project agar karyawan dapat melakukan perkembangan inovasi melalui project tersebut.

Melihat sangat beragamnya latar belakanh driver yang dirumahkan sebelumnya, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Grab untuk dapat melihat potensi dan kompetensi bakal calon karyawan. Posisi jabatan yang baru ini pun dapat dibebankan kepada seluruh driver yang memiliki kekurangan secara fisik/difabel. Hal ini sebagai bentuk kepatuhan Grab terhadap Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Grab memberikan porsi khusus untuk driver tanpa melihat suku, ras,dan agama. Pada jabatan ini juga semakin mendorong grab untuk membuat inovasi yang dapat menyatukan seluruh perbedaan latar belakang dari karyawan yang baru. Dengan membuka Knowledge Management dan sharing session, dapat membantu pemerataan knowledge antar karyawan sehingga bias/gap kesenjangan pendidikan dapat terlengkapi.


Dalam kondisi pandemi ini semua perusahaan dihadapkan pada situasi menantang dalam memastikan keberlanjutan bisnis mereka sekaligus memastikan keselamatan karyawan yang mendukung operasional mereka. Hal ini tidak mudah mengingat dengan banyaknya pembatasan sosial berskala besar maupun terbatas atau lokal yang menyebabkan terjadinya penurunan perpindahan orang dan barang yang akhirnya berpengaruh pada perlambatan perekonomian. Dan ini diperparah dengan adanya sebagian besar masyarakat yang membatasi pembelanjaan mereka untuk berjaga jaga akan kondisi sulit dimasa depan. Bagaimana kemudian implikasinya kepada perusahaan? Dalam beberapa kasus perusahaan yang sampai saat ini masih bertahan, mereka memastikan untuk tetap beroperasi seperti biasa, memproduksi produk yang selama ini mereka produksi atau layani – jika itu jasa atau membuat produk produk kesehatan yang selama ini bukan menjadi ‘core business’ mereka seperti yang dilakukan oleh louis Vuitton, Christian Dior, Givency dan bahkan beberapa produsen otomotif seperti  FIAT, General Motors.

Bagi perusahaan yang terus bertahan mereka sangat paham bahwa dalam kondisi sekarang ini omset yang mereka dapatkan akan lebih kecil dari sebelum pandemi covid19 ini terjadi, sangat tidak mudah untuk perusahaan tetap menjaga produksi terus berjalan dengan omset yang lebih kecil tanpa mereka melakukan beberapa pendekatan. Beberapa pendekatan terbaik (best practice) yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut semuanya dilakukan dengan tidak menempatkan pengurangan karyawan sebagai pilihan pertama. Beberapa pendekatan tersebut antara lain adalah:

  1. Melakukan pengurangan produksi. Untuk mengimbangi omset yang turun, pengurangan produksi dilakukan, pengurangan produksi ini berimplikasi pada berkurangnya jam kerja dan biaya operasional, biasanya dalam bentuk pengurang shift kerja dari yang sebelumnya 3 menjadi 2 atau 1. Dengan berkurangnya shift tentunya ada beban biaya yang bisa dihemat oleh perusahaan. Dan proses penguranga shift ini tidak berdiri sendiri karena bisa juga diikuti oleh pengurangan kompensasi.
  2. Melakukan pemotongan biaya produksi (cost of goods sold) dan biaya sales dan admin (sales, general and admin). Sebagian perusahaan lain mulai melihat secara detil proses bisnis mereka dan biaya-biaya yang mereka keluarkan selama ini. Review terhadap proses bisnis yang dilakukan saat ini bisa dilakukan oleh task force atau konsultan, dilakukan untuk melihat peluang perbaikan proses (improvement) yang lebih efektif, lebih efisien dan lebih murah. Salah satu contoh yang menonjol adalah pemotongan biaya SGA yaitu pemotongan gaji eksekutif atau bahkan mengganti tenaga ahli dari luar (ekspatriat) dengan tenaga ahli dari dalam negeri. Dengan memotong sekian persen dari gaji eksekutif dan mengganti tenaga asing dengan tenaga lokal, maka perusahaan bisa berhemat banyak yang ujungnya untuk membantu mengurangkan beban produksi.
  3. Melakukan pemotongan gaji bagi karyawan yang terkena dampak pengurangan waktu kerja. Pembagian kerja yang dilakukan dengan alasan pembatasan jumlah karyawan yang diperbolehkan untuk bekerja karena penerapan protocol kesehatan (social distancing) dan juga pengurangan volume produksi adalah focus dari penerapan pendekatan ini. Penerapan pemotongan gaji ini sifatnya berlaku sementara selama kondisi pandemic ini berlangsung.
  4. Bekerja dari rumah (working from home). Ini merupakan salah satu penerapan yang biasa dilakukan perusahaan dalam rangka menjaga kesehatan dan keselamatan karyawan. Bekerja dari rumah tidak semudah yang dibayangkan karena akan perlu berbagai pertimbangan seperti ada tidaknya infrastruktur untuk bisa bekerja dari rumah semisal laptop dan jaringan internet. Hal lain yang tidak kalah penting adalah efektifitas serta produktifitas karyawan yang bekerja dari rumah. Apakah mereka akan sebaik jika mereka bekerja dari kantor? Atau mungkin lebih baik atau lebih jelek? Tentunya perusahaan yang sukses menerapkan WFH ini perlu melakukan mekanisme regular yang kemudian menjadi tanggung jawab atasan karyawan untuk selalu memonitor dengan metode yang sudah ditentukan, seperti melakukan panggilan konferensi secara rutin atau mereview pekerjaan secara harian atau mingguan. 

Semua penerapan ini tentunya tidak mudah baik bagi karyawan terlebih bagi perusahaan, namun jika ini diberlakukan dengan prinsip keterbukaan dengan menempatkan karyawan sebagai prioritas penting perusahaan dalam memastikan keberlangsungan bisnis perusahaan, tentunya diharaapkan bisa dengan mudah dipahami. 

Penulis memiliki pandangan terkait dengan bisnis transportasi dan turunannya yang telah dilakukan grab. Dalam menjalankan bisnis transportasi Grab tentu memiliki bank data yang cukup banyak terkait dengan mitra. Bank data ini dapat dimaksimalkan sehingga menambah pendapat untuk grab sebagai “fee base income”. Penulis menyarankan untuk melakukan akuisisi terhadap para mitra yang selama ini sudah bekerjasama agar grab tidak perlu melakukan rekrutmen untuk pengembangan bisnisnya. Proses akuisisi dapat dilakukan dengan para mitra-mitra grab food yang besar dengan ketentuan misalnya apabila mitra grab food yang besar dapat mengakuisisi mitra yang lebih kecil atau dapat membuat bisnis baru akan diberikan bagian penghasilan yang menarik. Dampak positif lainnya jika langkah ini diimplementasikan, dalam tataran mikro, bahwa grab tidak perlu melakukan monitoring harian, briefing harian dan kegiatan rutin lainnya. Dilain sisi tentu ada juga dari kekurangan atas ide ini misalnya grab tidak bisa memaksa para mitra untuk bagaimana mencapai target namun hal ini dapat dicari jalan keluarnya dengan pembagian hasil yang menarik.          

Sumber :

https://tekno.kompas.com/read/2020/06/16/17355497/grab-mem-phk-360-karyawan-termasuk-di-indonesia?page=all

https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20191219141221-190-458362/4-keunggulan-grabkitchen-yang-gunakan-konsep-delivery-only

Penyusun :

  1. Grecia Ullina Sebayang
  2. Bagus Setiagung Budi Santoso
  3. Yodha Bima Widyadhana
  4. Arief Nugrahadi Kuncoro

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Yodha Bima W

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format