Target Utama Konsumen KFC Akhirnya Terbongkar


0

Kentucky Fried Chicken (KFC) adalah restoran makanan cepat saji (fast food) yang berbasis di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. KFC merupakan salah satu fast food chain terbesar di dunia, tersebar di kurang lebih 150 negara di seluruh dunia. KFC memiliki spesialisasi makanan berupa ayam goreng (fried chicken) dan segala macam makanan cepat saji berbahan ayam. Di Indonesia, KFC pertama buka di Jakarta pada tahun 1979 dan terus bertambah cabangnya hingga kini tersebar di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia. KFC dengan cepat menarik minat banyak kalangan di Indonesia, karena menu makanannya yang unik dan proses penyajiannya yang cepat. Namun, seiring berjalannya waktu dan terus berkembangnya teknologi, demand konsumen akan restoran pun semakin berkembang. Kini dengan canggihnya dan mudahnya akses terhadap internet, semakin banyak konsumen menginginkan restoran yang memiliki berbagai macam fasilitas seperti Wi-Fi dan stop kontak untuk melakukan isi ulang daya baterai. KFC pun tunduk dengan demand ini, dan mulai memasang Wi-Fi dan stop kontak listrik di berbagai restorannya. 

Akibat dipasangnya Wi-Fi dan stop kontak, konsumen pun mulai berdatangan. Namun, konsumen yang datang bukanlah mereka yang menginginkan makanan yang cepat saji, melainkan jaringan Wi-Fi yang disediakan oleh KFC. Ada berbagai macam kalangan konsumen, mulai dari mahasiswa yang membutuhkan jaringan internet untuk menyelesaikan tugas, sampai ke pekerja kantoran yang menggunakan restoran sebagai tempat untuk meeting dengan relasi kerja. Konsumen ini tidak membutuhkan makanan, maka dari itu menu yang dipesan hanyalah menu-menu KFC yang lebih sederhana dan dengan harga yang relatif lebih murah, seperti contohnya minuman bersoda dengan es krim atau float atau sekedar makanan ringan seperti sup krim atau kentang goreng (french fries). Selain itu, karena restoran dipergunakan sebagai tempat untuk nongkrong, maka turnover pelanggan pun menjadi lebih lama, yang mana ini akan menyebabkan tempat menjadi penuh konsumen tetapi tanpa makanan di meja, melainkan hanya tersedia gawai-gawai elektronik seperti laptop atau smartphone milik masing-masing. Hal ini akan membuat ilusi dimana KFC selalu ramai pengunjung, sehingga berpotensi mencegah konsumen yang benar-benar ingin memesan menu makanan cepat saji milik KFC, yang merupakan target pasar utamanya, untuk datang.

Di lain spektrum, di Indonesia juga sudah mulai berkembang salah satu waralaba raksasa milik Amerika Serikat, yaitu Burger King. Restoran yang berbasis di Florida, Amerika Serikat ini datang kembali ke Indonesia pada tahun 2007 di gerai pertamanya di Senayan, Jakarta setelah sebelumnya pernah gagal bertahan di pasar Indonesia pada tahun 1998 akibat krisis moneter. Layaknya KFC, Burger King juga merupakan restoran cepat saji, yang mengambil spesialisasi di menu burgernya yang mereka klaim merupakan hasil dari proses grilling yang sudah mumpuni. Benar saja, setelah kembali ke Indonesia, Burger King perlahan mulai menarik kembali minat konsumen Indonesia. Menu burger-nya yang khas dengan mudahnya menarik hati dan minat berbagai kalangan di Indonesia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Burger King hingga kini telah berhasil membuka berbagai cabang di berbagai kota-kota besar di Indonesia. 

Sampai saat ini, Burger King masih mampu untuk terus menarik minat konsumen penggemar restoran cepat saji di Indonesia. Pasalnya, Burger King dapat bertahan kokoh dengan konsepnya yang merupakan restoran cepat saji. Mereka hampir tidak menyediakan fasilitas apapun yang dapat mendukung aktivitas perteknologian masyarakat Indonesia, yang menyebabkan cepatnya pergantian pelanggan atau turnover dan juga memaksimalkan pendapatan karena menu yang dipesan konsumen merupakan menu utamanya, yaitu burger. Karena kegigihan Burger King untuk mempertahankan konsep fast-food nya, maka konsumen yang datang ke gerainya merupakan konsumen targetnya, yaitu mereka yang ingin memakan makanan cepat saji.

Analisis STDP

Sejak masuknya Restoran KFC untuk pertama kali nya di Indonesia  pada tahun 1979 lalu, restoran ini sudah memasarkan perusahaan nya sebagai fast food restaurant. KFC juga pada awal berdirinya telah menerapkan system QSR (Quick Service Restaurant) dimana kurang lebih KFC ini merupakan sebuah restoran cepat saji melayani take away dan dine-in atau makan di tempat, namun dengan waktu yang tidak lama. Namun, saat ini yang banyak terlihat di setiap cabang KFC justru digunakan sebagai tempat untuk mengerjakan tugas, melakukan pertemuan, dan bahkan untuk sekedar nongkrong hingga berjam-jam. Menurut kami, mungkin adanya salah sasaran target pasar di Perusahaan KFC dikarenakan adanya miss communication antara restoran dengan pelanggan nya yang menimbulkan alih fungsi restoran ini yang sebenarnya diperuntukkan pelanggan yang sekedar makan ditempat untuk beberapa waktu justru dijadikan tempat untuk beraktivitas lain. Namun, salah sasaran target pasar ini tidak berdampak buruk bagi restoran, justru membuat KFC semakin diminati pelanggan. Oleh sebab itu, hal tersebut menarik perhatian kami untuk mengetahui lebih lanjut posisi KFC dibandingkan dengan kompetitor nya, Burger King dengan menganalisis strategi pemasaran melalui segmentasi, targeting, differensiasi, dan positioning.

  1. Segmentasi

Segmentasi pasar yang dilakukan Restoran KFC dan Restoran Burger King merupakan proses membagi pasar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil berdasarkan dari kategori-kategori yang memiliki nilai. Melalui segmentasi pasar, diharapkan aktivitas pemasaran bisa dilaksanakan sesuai dengan rencana dan memperoleh hasil yang maksimal dalam memberikan kepuasan untuk konsumen. Dalam segmentasi, kami melakukan analisa melalui beberapa kategori yaitu segmentasi demografis, segmentasi geografis, segmentasi psikologis, dan segmentasi perilaku. Adapun analisis segmentasi pada tabel berikut :

Berdasarkan tabel tersebut, menurut kami salah sasaran target pasar yang terjadi di KFC disebabkan oleh segmentasi perilaku yang tidak sesuai dengan sasaran pasar, yaitu pelanggan diharapkan mengunjungi KFC untuk makan justru sering digunakan untuk nongkrong karena target awalnya untuk para pekerja maupun keluarga malah pelanggan nya mayoritas berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang biasanya mengincar restoran yang menyediakan akses WiFi. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh segmentasi demografis KFC yang menargetkan pelanggan usia dewasa, namun mayoritas yang menjadi pelanggan setia KFC justru pelanggan usia 20-25 tahun, usia kurang dari 15 tahun, dan sedikit usia diatas 25 tahun yang sedikit berbeda dari usia target pasar. Sedangkan di Restoran Burger King masih banyak dijumpai benar-benar digunakan sebagai tempat untuk menikmati makanan cepat saji dan jarang digunakan untuk nongkrong selama berjam-jam sehingga Burger King dapat mempertahankan konsep fast-food nya.

Berdasarkan tabel tersebut, menurut kami salah sasaran target pasar yang terjadi di KFC disebabkan oleh segmentasi perilaku yang tidak sesuai dengan sasaran pasar, yaitu pelanggan diharapkan mengunjungi KFC untuk makan justru sering digunakan untuk nongkrong karena target awalnya untuk para pekerja maupun keluarga malah pelanggan nya mayoritas berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang biasanya mengincar restoran yang menyediakan akses WiFi. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh segmentasi demografis KFC yang menargetkan pelanggan usia dewasa, namun mayoritas yang menjadi pelanggan setia KFC justru pelanggan usia 20-25 tahun, usia kurang dari 15 tahun, dan sedikit usia diatas 25 tahun yang sedikit berbeda dari usia target pasar. Sedangkan di Restoran Burger King masih banyak dijumpai benar-benar digunakan sebagai tempat untuk menikmati makanan cepat saji dan jarang digunakan untuk nongkrong selama berjam-jam sehingga Burger King dapat mempertahankan konsep fast-food nya.

  1. Targeting

Dalam proses untuk memilih target pasar dari berbagai segmentasi yang telah ditetapkan, baik KFC dan Burger King keduanya melalui proses undifferentiated marketing, yaitu pemasaran tanpa membeda-bedakan. Pada proses yang sedikit berbeda tersebut kedua restoran melakukan pemasaran dengan memasarkan produk sesuai kebutuhan masyarakat.

  1. Undifferentiated Marketing yang dilakukan KFC

KFC sebagai market leader menerapkan strategi moble defense yaitu strategi pertahanan bergerak dalam kondisi bertahan dengan cara meningkatkan penjualan serta menekan biaya. Selain itu, KFC tetap melakukan perluasan pada pasar yang potensial sebagai pertahanan ataupun kompetitior di masa depan. Sebagai contoh nya dengan strategi KFC mengeluarkan paket-paket hemat dengan harga yang relatif terjangkau seperti KFC Goceng dan paket keluarga. Selain itu, dalam mengiklankan restoran nya KFC sering menggaet para musisi dan grup band Indoensia untuk menarik minat pelanggan nya dengan misalya pemesanan produk tertentu mendapatkan free DVD musisi/band tertentu. Sehingga target KFC dalam memasarkan produknya yaitu di berbagai kalangan yaitu pria maupun wanita, keluarga, orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak dapat menikmati produk Restoran KFC.

  1. Undifferentiated Marketing yang dilakukan Burger King

Burger King menggunakan targeting yang tidak membedakan pelanggan namun tetap berkonsentrasi pada melayani kebutuhan banyak kalangan pelanggan terutama kalangan menengah-keatas. Hal Dalam pengiklanan iklan Burger King untuk menggunakan “The HAVE IT YOUR WAY” sebagai tema dan mulai bereksperimen dengan kampanye pemasaran web yang lucu dan menarik.  Target pasar Burger King ini memilih kelompok demografis dengan pasar terutama pelanggan yang sudah berusia produktif, namun juga tetap menargetkan remaja, anak-anak, dan keluarga. Hal tersebut dikarenakan dari segi harga, Burger King juga relatif sedikit lebih mahal daripada produk-produk KFC, namun Burger King sering mengeluarkan promo-promo berupa paket-paketan makanan tertentu

  1. Diferensiasi

Setelah mengidentifikasi segmen pasar, maka sebuah perusahaan juga harus mengidentifikasi cara-cara spesifik yang dapat mendiferensiasikan produknya dari kompetitior nya. oleh karena itu, adapun analisis diferensiasi yang dilakukan oleh KFC dan Burger King sebagai berikut:

  1. Positioning 

Positioning atau penempatan restoran fast-food sangat penting dilakukan oleh perusahaan untuk mengetahui posisi relatif perusahaan dengan pesaingnya. KFC melakukan positioning dan memiliki keunggulan pada atribut A (cita rasa khas ayam goreng), atribut B (kualitas produk), dan atribut L (promosi dengan musik), selain menjual ayam goreng juga menjual burger. Di lain sisi, positioning Burger King berfokus pada periklanan untuk mempromosikan produknya. selain melalui iklan, produk Burger King juga dipromosikan melalui personal approach, promosi penjualan, kampanye kreatif, dan platform seluler. Burger King memiliki produk populer yaitu charbroiled burgers, tetapi juga menyediakan berbagai macam makanan termasuk ayam, ikan, makanan pendamping, salad, minuman, dan makanan penutup.

Positioning Map

Berdasarkan positioning map diatas dapat disimpulkan bahwa Burger King berasa pada sisi kanan sedangkan KFC berada pada sisi kiri bawah. Hal tersebut berarti bahwa Burger King memiliki lebih banyak promosi dibandingkan KFC.

Apa yang harus KFC Lakukan?

Berdasarkan analisis di atas, kami berpendapat bahwa sebaiknya KFC memerhatikan kebutuhan konsumen pergolongan. Misalnya, selain menyediakan playground, ada baiknya untuk menyediakan corner khusus untuk ‘nongkrong’, bila memang memutuskan untuk lebih fleksibel. Sehingga, pengunjung yang datang untuk makan dan nongkrong tidak campur aduk. Hal ini akan menciptakan kenyamanan yang lebih baik bagi kedua jenis pengunjung.

Korner yang disediakan tidak perlu terlalu besar. Menurut kami, cukup dibuat layaknya coworking space dengan mesin es krim, mesin minuman, dan menu ringan lainnya sebagai dish. Sedangkan menu ayam, nasi, burger, dan lain sebagainya yang merupakan menu berat ada di corner utama.

KFC perlu me-rebranding dirinya baik sebagai fast food restaurant dan juga cafe untuk membuat jangkauan pasarnya lebih luas dan tidak lagi salah sasaran. Salah satu fast food yang menerapkan hal ini adalah In-N-Out. Hal ini belum banyak diterapkan sehingga juga berpotensi membuat suatu gebrakan. Sebagai salah satu pioneer fast food, KFC harus terus berinovasi agar bisa menyeimbangi kebutuhan dan keinginan pasarnya.

Referensi :

https://adoc.pub/analisis-pengaruh-promosi-terhadap-positioning-restoran-fast.html

https://text-id.123dok.com/document/6zkkw531z-analisis-positioning-kentucky-fried-chicken.html

https://thesocialgrabber.com/positioning-mcdonalds-burger-king/

https://www.academia.edu/27214125/trategi_pemasaran_marketing_strategy_Pada_KFC

Marketing Wizard :

Lorosae Kyna Saraswati 

Diandra Shafira Wibowo

Jilham Septya Adidanti

Rahadian Taqwa Arkananta


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
dayendri

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format