Bioskop Tutup Sementara. Bagaimana Nasib Perusahaan dan Para Karyawan yang Bekerja di Industri Ini?

Pandemi memaksa bioskop untuk menutup sementara operasionalnya. Bagaimana nasib perusahaan dan karyawan di industri ini, serta apa solusinya?


1
1 point

Bioskop di Tengah Pandemi

      Menonton film di bioskop merupakan salah satu media hiburan yang digemari oleh banyak orang dari segala kalangan umur. Bahkan untuk menonton film yang mereka sukai, banyak orang yang rela mengantri agar mendapatkan kesempatan pertama untuk dapat menonton serial yang mereka sukai. Namun sejak pandemi Covid-19 melanda semua bioskop tutup hingga waktu yang belum ditentukan guna mencegah penyebaran virus. 

       Sebagaimana kita ketahui bahwa saat menonton di bioskop, penonton satu dan penonton lainnya duduk di kursi yang bersebelahan dengan jarak yang sangat dekat. Padahal di situasi pandemi ini masyarakat diwajibkan untuk melakukan social distancing atau physical distancing. Sehingga penutupan aktivitas operasional bioskop ini merupakan tindakan yang dinilai cukup baik guna mencegah penyebaran virus corona, sampai ditemukan solusi terbaik agar masyarakat tetap aman dan dapat terhindar dari peluang penyebaran virus ketika mereka menonton film di bioskop atau sampai ditemukan vaksin yang dapat mengatasi virus ini.

          Namun bukan berarti masyarakat tidak ingin menonton film di bioskop, terlebih banyak film-film menarik yang sangat dinanti-natikan oleh masyarakat. Namun karena situasi pandemi ini jadwal penanyangan film-film tersebut mau tidak mau harus mengalami penundaan. Bahkan ada juga yang memilih untuk menayangkan filmnya di saluran televisi. Suasana menonton dari saluran televisi ini tentu sangatlah berbeda dengan suasana yang dirasakan bila seseorang menonton film di bioskop. Namun penayangan film yang dialihkan ke saluran televisi ini juga dapat menjadi pilihan yang baik untuk mereka yang sudah merasa penasaran dengan alur cerita dari film yang ditunggu-tunggunya. 

Regulasi Terkait

    Terkait Surat Edaran No. 160/SE/2020 Tentang Penutupan Sementara Kegiatan Operasional Industri Pariwisata dalam Upaya Kewaspadaan Terhadap Penularan Infeksi Corona Virus Disease(COVID-19), terdapat beberapa jenis usaha yang harus ditutup salah satunya adalah bioskop. Penutupan ini mulanya direncanakan mulai dari tanggal 23 maret 2020 hingga 5 april 2020. Namun keputusan penutupan ini kemudian diperpanjang hingga batas waktu yang belum ditentukan. Hal ini disebabkan oleh diperpanjangnya masa tanggap darurat Covid-19. Perpanjangan waktu penutupan kegiatan operasional ini akan mengikuti dengan surat edaran dari pemerintah daerah masing-masing wilayah.

Minat Menonton Masyarakat dan Kerugian yang Dialami Perusahaan di Industri Bioskop

Grafik 1. Polling Minat Masyarakat Menonton ke Bioskop

                     

         Grafik di atas dibuat menurut polling yang pernah dilakukan oleh CNN Indonesia. Di mana 54,8% dari total 704 responden lebih memilih untuk tetap datang ke bioskop dan menonton film yang ingin ditontonnya, 7% memilih untuk tetap pergi ke bioskop tapi dengan mengenakan masker, dan 6,7% memilih ingin menonton tapi sekitar 1 sampai 2 minggu lagi ini dilakukan, dan sisanya 31,5% memilih untuk berdiam di rumah. Meskipun begitu, tidak ada yang dapat dilakukan oleh mereka yang merindukan suasana menonton film langsung dari bioskop karena bioskop belum buka. 

                  Gambar 1. Laba/Rugi CGV Cinemas pada Semester I-2020

                      Sumber: Databoks (2020). 

       Gambar diatas menunjukan kerugian yang dialami oleh CGV salah satu bioskop yang ada di Indonesia. Pada semester 1 tahun 2020 perusahaan mencatatkan kerugian mencapai Rp. 185,5 miliar. Hal ini juga disebabkan oleh tidak beroperasinya bioskop ditengah masa pandemi ini. Sebelumnya CGV juga pernah mengalami kerugian pada tahun 2016, namun jumlah ini sangat berbeda jauh dengan jumlah kerugian yang dialami oleh CGV pada tahun 2016. 

Managing Human Resources

         Lalu apa jadinya jika bioskop tutup?. Banyak dampak yang ditimbulkan bila bioskop tutup, yang pasti salah satunya adalah karyawan bioskop tidak bisa bekerja dan beberapa diantaranya bahkan harus berhenti bekerja. Sebagai contoh, dilansir dari Tirto.id salah satu bioskop yang ada di Indonesia, yaitu CGV mencatatkan pengunduran diri oleh karyawannya sebanyak lebih dari setengah total karyawannya diakibatkan tidak adanya pekerjaan karena aktivitas operasional perusahaannya ditutup sementara. Di mana total karyawannya adalah 2.147 orang dan jumlah karyawan yang melakukan pengunduran diri terhitung sebanyak 1.478 orang karyawan.

       Dilansir juga dari Tirto.id, menurut Bhima Yudhistira Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance, kata pengunduran diri tersebut sebenarnya berarti PHK namun diperhalus menjadi pengunduran diri. Hal ini sangat disayangkan, meskipun perusahaan tidak memiliki pilihan lain selain menghentikan aktivitas operasionalnya sehingga karyawan harus melakukan pengunduran diri demi menjaga keberlangsungan perusahaan, perusahaan diharapkan tetap membantu karyawannya yang mau tidak mau harus mengundurkan diri dikarenakan situasi pandemi ini. Perusahaan diharapkan tetap dapat memberikan bantuan tunai sebagaimana bila karyawan terkena PHK, melihat dari situasi yang sedang terjadi bantuan seperti ini tentunya akan menjadi pertolongan yang sangat dibutuhkan oleh karyawan dan akan lebih baik lagi bila perusahaan dapat memberikan pelatihan sebagai modal dasar bagi karyawannya yang terkena PHK agar dapat melihat peluang bisnis yang mungkin dapat membantu mereka di situasi pandemi ini. 

   Selain itu perusahan juga dapat mencari solusi lain sebagai pengganti dari berhentinya aktivitas operasionalnya. Perusahaan dapat membuka lini bisnis baru sebagai solusi dalam menghadapi situasi pandemi ini. Bila perusahaan membuka lini bisnis baru perusahaan dapat mengurangi jumlah pengunduran diri karyawannya atau bisa juga hal ini menjadi solusi agar tidak ada karyawan yang mengundurkan diri. Sebagai contoh salah satu tempat penginpan dibandung membuka layanan untuk menonton film ala bioskop di tengah situasi pandemi ini.

Managing Operations and Supply Management

    Adapun masalah operasional yang dihadapi oleh perusahaan selain masalah berhentinya aktivitas operasionalnya adalah dalam hal planning facilitiesnya. Di mana persahaan harus tetap mengelola fasilitas yang dimilikinya meskipun bioskop sedang tidak beroperasi atau tutup sementara hingga waktu yang belum ditentukan. Adapun fasilitas yang tetap harus dirawat oleh perusahaan seperti gedung, layar, kursi, proyektor, hingga peralatan yang digunakan untuk produksi food and beverage yang biasa diproduksi sebagai pelengkap untuk menonton film yang disediakannya. 

    Perusahaan harus tetap mengeluarkan dana untuk perawatan fasilitasnya padahal perusahaan tidak mendapatkan pemasukan dari aktivitas operasionalnya. Namun hal ini harus tetap dilakukan agar peralatan tidak mengalami kerusakan dan tetap dapat digunakan nantinya ketika perusahaan dapat kembali beroperasi dengan normal. Hingga hari ini (21/10/2020) baru beberapa bioskop di Jakarta dan beberapa wilayah lainnya yang dapat beroperasi kembali. Namun dengan adanya pembukaan kembali bioskop ini bukan berarti bioskop akan mendapatkan jumlah penonton seperti sedia kala, apalagi kebijakan pembukaan ini harus sesuai dengan peraturan yang berlaku seperti jumlah kapasitas maksimal adalah 25% dari kapasitas normal, dan jarak duduk antar penonton minimal adalah 1,5 meter. Hal ini cukup baik karena perusahaan dapat beroperasi kembali meskipun masih terbatas pembukaan ini diharapkan dapat berjalan dengan baik hingga dapat beroperasi total kembali seperti sebelumnya.

Customer-Driven Marketing 

        Dalam situasi yang sulit seperti saat ini, perusahaan dapat kembali melakukan riset pasar terkait minat masyarakat untuk menonton film di bioskop dan keinginan masyarakat di situasi yang seperti sekarang terkait hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan yang mungkin dapat menjadi jalan keluar dari berhentinya operasional perusahan. 

     Perusahaan juga dapat melakukan analisis perilaku konsumen agar dapat mengembangkan strategi pemasaran yang baik di tengah pandemi ini. Lalu perusahaan dapat menentukan strategi produk yang dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Perusahaan dapat mengembangkan produk atau lini bisnis baru, dan megidentifikasi produk atau bisnisnya. Kemudian menentukan strategi penetapan harga, strategi distribusinya dan strategi promosi untuk produk maupun bisnisnya.

            Selain itu karena perusahaan-perusahan bioskop yang sedang tutup sudah memiliki pasar di Indonesia, untuk menjaga masyarakatnya perusahaan harus tetap menjaga hubungan dengan pelanggannya misalnya seperti yang dilakukan oleh PT Graha Layar Prima Tbk yang menaungi CGV Cinemas, menurut kontan.co.id CGV Cinemas tetap menjaga hubungan dengan pelanggan melalui kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan di berbagai platform digital seperti Youtube dan Instagram.

Outdoor Cinema

            Perusahaan dapat membuka outdoor cinema, berbeda dengan drive in cinema yang membutuhkan mobil, di sini penonton dapat dengan bebas menaiki jenis kendaraan apapun untuk sampai ke lokasi pemutaran film dan menikmati menonton film di ruang terbuka dan bukan di dalam ruangan tertutup. Penonton dapat menikmati nikmatnya suasana di ruangan terbuka sambil menonton film yang ingin di tontonnya. Tentunya dengan tetap menjaga jarak aman dengan penonton lainnya. Jenis bioskop ini sebelumnya juga sudah ada dan berjalan di luar Indonesia seperti di Inggris, Perancis, dan beberapa negara lainnya. Di Indonesia sendiri ada salah satu tempat penginapan di Bandung yang menyediakan layanan ini.

            Ide ini dapat ditujukan pada para penonton setia bioskop yang sudah merindukan suasana menonton film dari bioskop dengan layar besar atau untuk mereka yang hanya penasaran dan ingin mencoba referensi baru untuk menonton film layar lebar. Ide ini tidak hanya diperuntukan bagi perusahaan, dapat juga menjadi solusi bagi mereka yang terdampak pandemi Covid-19 dan sedang mencari peluang bisnis, mereka mungkin dapat membuka layanan bisnis ini, mereka dapat melihat ini sebagai peluang bisnis yang baik.      

           Selain itu tentu banyak orang yang sangat merindukan menonton film di bioskop, diantaranya pasti ada juga yang merindukan jajanan yang biasanya mereka pesan untuk dikonsumsi sebagai teman untuk menonton film di bioskop. Atau bagi mereka yang sekedar suka dengan produk makanan yang dijual di bioskop. Di sini baik perusahaan yang sudah ada maupun bisnis baru dapat menyediakan produk jajanan yang biasanya menemani penonton saat menonton bioskop. Jadi tidak hanya menyediakan layanan menonton bioskop tetapi juga menyediakan produk makanan dan minuman untuk dijual. 

Developing Marketing Strategy

  • Selecting a Target Market

Segmentasi target pasar dalam ide bisnis ini adalah B2C, di mana perusahaan yang sudah ada atau bisnis yang baru menjual langsung produk dan jasanya kepada konsumen dan pendekatan yang dapat dilakukan adalah total market approach.

  • Bases for Segmenting Market

Segmentasi

Market yang Dituju

Demographic

Semua kalangan umur, semua gender, semua etnis, semua tingkat pendidikan, semua jenis pekerjaan, semua agama, kelas sosial menengah keatas, pendapatan menegah keatas. 

Geographic

Masyarakat secara umum, semua wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat penonton bioskop yang cukup tinggi.

Psychographic

Orang yang memiliki minat atau gemar menonton film di bioskop, atau orang-orang yang penasaran dan ingin mencoba pengalaman baru.

Behavioristic

Orang-orang yang terbiasa atau lebih suka menonton film langsung dari bioskop.

Developing a Marketing Mix

Product

  • Produk yang disediakan adalah makanan dan minuman yang dijual untuk menemani penonton menikmati film.
  • Jasa yang disediakan adalah layanan menonton film dengan fasilitas yang baik, juga tempat dan suasana yang nyaman.

Price

Harga yang ditetapkan mungkin akan lebih mahal dibandingkan bila penonton menonton di bioskop dalam ruangan karena nilai yang diberikan berbeda dengan saat menonton di dalam bioskop.

Place

Lokasi yang di pilih untuk membuka bioskop adalah lapangan yang cukup luas memiliki suasana alam yang cukup teduh dan nyaman atau lapangan luas yang terbuka namun harus tetap memberikan suasana yang nyaman, dan tidak berpasir. 

Promotion

Menggunakan media sosial yang dimiliki seperti youtube dan instagram dan juga mengandalkan word of mouth dari customer yang pernah mencoba maupun dari new customer yang tertarik untuk mencoba.

Managing Human Resource 

Recruiting: Perusahaan (bioskop) yang sebelumnya telah memiliki karyawan perusahaan dapat memperkerjakan karyawan-karyawannya. Bila perusahaan baru akan memulai bisnis dalam industri ini, mereka dapat melakukan rekrutmen karyawan. 

Selection: Perusahaan yang telah memiliki karyawan tentu tidak perlu melakukan seleksi lagi untuk memilih karyawannya, mungkin hanya perlu memberikan briefing dan sedikit training untuk karyawan pada posisi-posisi tertentu mengenai perbedaan cara mereka melakukan pekerjaan. Sedangkan perusahaan baru yang belum memiliki karyawan dan sudah melakukan proses recruitment, kemudian harus memilih karyawan yang menurut mereka cocok untuk bekerja dengan mereka.

Developing the Workforce

  1. Orientasi. Ini berguna untuk karyawan yang baru akan mulai bekerja, agar mereka terbiasa dan familiar dengan sesama pekerja lainnya, prosedur saat bekerja, dan properti yang akan mereka gunakan saat bekerja dalam perusahaan.
  2. Training. Karyawan baru mungkin memerlukan training penuh terkait pekerjaanya. Karyawan yang sebelumnya bekerja di bioskop dan beralih ke outdoor cinema mungkin tetap perlu mendapatkan sedikit training terkait pekerjaan barunya.
  3. Mentoring. Tentunya baik karyawan baru maupun karyawan lama memerlukan mentor untuk mendukung, melatih, dan membimbingnya agar tidak melakukan kesalahan. Perusahaan diharapkan untuk menyediakan mentor yang kiranya dapat membimbing karyawan-karyawan lainnya.
  4. Menilai performa. Penilaian kinerja atau evaluasi karyawan diperlukan untuk melihat apakah pekerjaan yang telah mereka lakukan berjalan dengan baik, melalui evaluasi tersebut setiap karyawan juga dapat saling menilai apakah pekerjaan yang dilakukan karyawan lainnya cukup baik atau menghambat pekerjaan lainnya seingga dapat dicari solusi bersama untuk menyelesaikan masalah yang ada. Selain itu karyawan dapat saling berbagi cara terbaik dalam melakukan pekerjaannya agar lebih efektif.
  5. Turnover. Ini terjadi saat karyawan keluar atau diberhentikan sehingga harus digantikan oleh karyawan yang baru. Banyak hal yang sebenarnya mempengaruhi tingkat turnover karyawan dalam perusahaan. Tidak selalu disebabkan oleh karyawan yang merasa tidak nyaman dalam bekerja di perusahaan, namun tetap saja perusahaan sebisa mungkin diharapakan untuk dapat menciptakan lingkungan yang nyaman di tempat kerja.

Compensation

Kompensasi finansial:

  1. Upah: dalam bisnis ini penghargaan finansial kepada karyawan berdasarkan jam kerjanya. Perusahaan atau bisnis harus menciptakan sistem upah standar yang tidak boleh merugikan, atau boleh dikatakan sesuai dengan hasil kinerjanya. Perusahaan dapat mencontoh upah rata-rata karyawan pada posisi yang sama dalam industri yang sama. 
  2. Komisi: Karyawan berhak menerima komisi atau insentif sesuai dengan pencapaian penjualan dari perusahaan atau bisnis.
  3. Gaji. Diberikan kepada karyawan dengan pekerjaan tetap sehingga jumlahnya tidak berubah. Dan gaji yang diberikan kepada karyawan dalam hal ini harus disesuaikan dengan aturan atau keputusan yang berlaku.
  4. Bonus. Dapat diberikan kepada karyawan sebagai insentif untuk meningkatkan motivasi dan kinerjanya agar menjadi lebih baik dalm melakukan pekerjaannya.

The Importance of Workforce Diversity

       Akan selalu ada keberagaman tenaga kerja dalam perusahaan atau bisnis. Keberagaman ini bisa dalam bentuk apapun contohnya perbedaan gender, usia, perbedaan suku, kemampuan, pengalaman, tingkat pendidikan hingga jabatan. Keberagaman ditempat kerja sebenarnya baik agar suatu bisnis dapat melihat suatu hal dari sudut pandang yang berbeda-beda. Namun bisnis harus mampu mengelola keberagaman primer dan sekunder yang ada misalnya dengan menetapkan standar dan aturan-aturan tertentu agar bisnis dapat tetap berjalan pada jalur yang sudah ditentukan.

Operations Management

Input. Dalam bisnis ini input yang harus dimiliki adalah modal yang cukup untuk menjalankan bisnis ini, karyawan yang akan bekerja, tempat untuk melakukan aktivitas operasional, perabotan dan peralatan yang digunakan untuk mengolah input menjadi output.

Output. Di sini output yang dimaksud adalah barang dan jasa yang dihasilkan. Dalam bisnis ini barang yang dihasilkan adalah makanan dan minuman yang dijual. Jasa yang di hasilkan adalah layanan menonton di outdoor cinema.

Planning Product. Perusahaan atau bisnis harus merencanakan produk apa yang dibutuhkan atau diinginkan konsumen sehingga dapat memenuhi ekspektasi dari konsumen tersebut dalam hal ini makanan dan minuman apa yang kiranya ingin dibeli oleh konsumen

Customization. Perusahaan atau bisnis harus membuat produk sesuai dengan yang diharapkan konsumen sehingga konsumen tidak merasa kecewa dengan produk yang dibelinya.

Managing Inventory. Perusahaan atau bisnis harus menetukan dan mengontrol persediaan dari bahan mentahnya agar sesuai dengan kebutuhannya, tidak kelebihan atau kekurangan. Perusahaan atau bisnis juga harus mengelola fasilitas yang dimilikinya, misalnya bioskop dapat menggunakan beberapa fasilitas yang mereka miliki, sedangkan bisnis yang baru harus menyediakan peralatan dan fasilitas lainnya yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis ini

 

Daftar Pustaka:

CNN Indonesia. (2020). Polling CNN Indonesia: Corona Tak Halangi Penonton ke Bioskop. Diakses pada 20 Oktober 2020, dari: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20200304183001-220-480542/polling-cnn-indonesia-corona-tak-halangi-penonton-ke-bioskop

CNN Indonesia. (2020). Wabah Corona, Bioskop di Indonesia Perpanjang Masa Penutupan. Diakses pada 20 Oktober 2020, dari: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20200406182147-220-490919/wabah-corona-bioskop-di-indonesia-perpanjang-masa-penutupan

Ferrel, O. C., Hirt, G. A., dan Ferrel, L. (2020). Business Foundations A Changing World. 12th Edition. New York: McGraw-Hill

Historia. (2020). Mengenang Bioskop Drive-In ala Ciputra. Diakses pada 21 Oktober 2020, dari: https://historia.id/urban/articles/mengenang-bioskop-drive-in-ala-ciputra-vV98p

IDN Times. (2019). 5 Bioskop Outdoor Paling Keren di Dunia, Yuk Kesini!. Diakses pada 21 Oktober 2020, dari: https://www.idntimes.com/travel/destination/prila-arofani/bioskop-outdoor-paling-keren-di-dunia/5

Kompas.com. (2020). Dimulai Hari Ini, Berikut Sederet Aturan Saat PSBB Transisi di Jakarta. Diakses pada 21 Oktober 2020, dari: https://www.kompas.com/tren/read/2020/10/12/060300065/dimulai-hari-ini-berikut-sederet-aturan-saat-psbb-transisi-di-jakarta?page=all#:~:text=Dalam%20Pergub%20DKI%20jakarta%20Nomor,kafe%20diperbolehkan%20selama%20PSBB%20transisi.&text=Mewajibkan%20pengunjung%20menggunakan%20masker%2C%20kecuali%20saat%20makan%20dan%20minum

Kompas.com. (2020). Bioskop di Jakarta Terapkan Aturan Pembatasan Usia Penonton. Diakses pada 21 Oktober 2020, dari: https://megapolitan.kompas.com/read/2020/10/21/15252691/bioskop-di-jakarta-terapkan-aturan-pembatasan-usia-penonton

Kontan.co.id. (2020). Pendapatan bioskop CGV Cinemas (BLTZ) anjlok 191.81% pada semester I-2020. Diakses pada 21 Oktober 2020, dari:https://investasi.kontan.co.id/news/pendapatan-biskop-cgv-cinemas-bltz-anjlok-19181-pada-semester-i-2020

Liputan 6. (2020). Pengganti Bioskop, Begini Keseruan Nonton Film Bareng di Tengah Pandemi. Diakses pada 21 Oktober 2020, dari: https://www.liputan6.com/citizen6/read/4356195/pengganti-bioskop-begini-keseruan-nonton-film-bareng-di-tengah-pandemi

Pejabat Pengelola Informasi Dan Dokumentasi. (2020). SURAT EDARAN KEPLA DINAS PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF PROVINSI DKI JAKARTA NOMOR 160/SE/2020. Diakses pada 20 Oktober 2020, dari: https://ppid.jakarta.go.id/detail/258/4625

Tirto.id. (2020). Setop Operasi Bioskop Selama Corona CGV PHK 1.478 Karyawan?. Diakses pada 20 Oktober 2020, dari:https://tirto.id/setop-operasi-bioskop-selama-corona-cgv-phk-1478-karyawan-fEz7

TribunMataram.com. (2020). Akhirnya Bioskop XXI Buka di Beberapa Kota Saja Setelah 7 Bulan Tutup, Ini Alasan Pihak Pengelola. Diakses pada 23 Oktober 2020, dari: https://mataram.tribunnews.com/2020/10/19/akhirnya-bioskop-xxi-buka-di-beberapa-kota-saja-setelah-7-bulan-tutup-ini-alasan-pihak-pengelola?page=4

Sumber Gambar:

Databoks. (2020). Bioskop Mati Suri, CGV Cinemas Rugi Rp.185,5 Miliar Pada Semester I-2020. Diakses pada 20 Oktober 2020: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/10/14/bioskop-mati-suri-cgv-cinemas-rugi-rp-1855-miliar-pada-semester-i-2020

Sumber Thumbnail: Pinterest


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format