Evaluasi Peternakan Sapi Perah Dalam Negeri, Mampukah Indonesia Swasembada Susu ?

Susu menjadi pelengkap dalam pola makan 4 sehat 5 sempurna. Namun tak banyak yang tahu apabila 79% bahan baku susu yang kita konsumsi merupakan hasil impor.


1
1 point

        Susu merupakan minuman pelengkap dalam kampanye 4 sehat 5 sempurna yang dipergunakan oleh ahli gizi ataupun orang tua dalam menjaga pola makan sehat bagi anak. Berbagai jenis olahan susu beredar di Indonesia seperti susu segar, susu cair pabrik, susu kental manis, ataupun susu bubuk. Namun berdasarkan data Kementerian Pertanian, masyarakat cenderung mengkonsumsi susu kental manis ataupun susu bubuk dibandingkan susu segar. Pada Gambar dibawah ini menunjukkan di tahun 2017 konsumsi susu kental manis lebih tinggi sebesar 1,53 L/per kapita dibanding susu segar serta konsumsi susu bubuk & susu cair pabrik 0,58 L/per kapita lebih tinggi dibanding susu segar. 

            

(Sumber : tirto.id)

      Preferensi jenis susu yang dikonsumsi masyarakat Indonesia tersebut dipengaruhi oleh pandangan apabila susu segar & susu cair pabrik lebih sulit disimpan dibandingkan susu bubuk atau susu kental manis. Tingkat konsumsi ini menunjukkan besarnya kebutuhan susu masyarakat Indonesia yang terpenuhi dari pabrik dibandingkan dengan susu segar dari peternakan langsung. Pabrik (Industri Pengolah Susu), tentunya membutuhkan bahan baku dalam pembuatan produknya dan berdasarkan Kementerian Perindustrian, total kebutuhan bahan baku susu mencapai 3,2 juta ton per tahun dan permintaan tersebut belum dapat dipenuhi oleh peternak Indonesia yang hanya mampu memproduksi susu sebesar 21% dari kebutuhan nasional. Oleh karena itu, Indonesia masih melakukan impor susu untuk memenuhi kekurangan 79% dari kebutuhan susu nasional.

Perbandingan produksi susu segar dalam negeri (biru) dan jumlah konsumsi susu nasional (orange) tahun 2011-2016

(Sumber : Foodreview Indonesia)

Mengapa Impor Susu masih dibutuhkan ?       

      Perdagangan internasional merupakan kegiatan jual-beli berupa barang ataupun jasa antar negara. Pada umumnya, perdagangan internasional khususnya impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan di suatu negara yang tidak tersedia secara internal dengan mendatangkannya dari negara lain. Indonesia melakukan banyak kegiatan impor ataupun ekspor. Hingga tahun 2020, Indonesia masih melakukan impor susu dikarenakan 3 hal:

  1. Produksi susu segar rendah akibat produktivitas dan jumlah sapi perah yang sedikit
  2. Kualitas susu produksi Indonesia yang kurang dibandingkan susu impor 
  3. Sedikitnya jumlah peternak sapi perah di Indonesia

      Badan Pusat Statistik Indonesia menunjukkan pada tahun 2018, Indonesia hanya memiliki 581.822 ekor sapi perah dan jumlahnya menurun pada tahun 2019 yang diakibatkan kegiatan pemotongan sapi perah. Selain itu dibandingkan dengan India, India memiliki populasi sapi perah dengan rata-rata mencapai 52,45 juta ekor dan mampu memproduksi susu segar sebanyak 64,4 juta ton per tahun. Oleh karena itu saat ini India mampu menjadi salah satu pengekspor susu untuk global.

(Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia)

       Dampak dari sedikitnya jumlah sapi perah di Indonesia berpengaruh terhadap jumlah produksi susu. Pada tahun 2019, Indonesia hanya mampu memproduksi susu segar sebanyak 996.442,44 ton atau tidak mencapai angka 1 juta ton. Oleh karena itu, kebutuhan susu nasional tidak dapat dipenuhi apabila hanya bergantung terhadap populasi dan produktivitas sapi perah Indonesia yang rendah.

       Selain itu, Industri pengolah susu (IPS) cenderung memilih mengimpor susu dari New Zealand ataupun Australia dikarenakan faktor kualitas dan harga. Di Indonesia, susu segar banyak dihasilkan oleh peternak yang terbatas teknologi dan pengetahuan sehingga memengaruhi kualitas susu yang dihasilkan. Salah satu Peternak, Rahardian Dwi Cahyo, mengatakan apabila kualitas susu segar Indonesia jauh lebih rendah dibanding New Zealand karena perbedaan metode pemeliharaan dan standarisasi kualitas susu. Di Indonesia, sapi perah selalu diletakkan di kandang sedangkan di New Zealand, para peternak melepaskan sapinya di padang rumput. Adapun biaya produksi yang tinggi juga membuat harga jual susu segar asal Indonesia menjadi mahal dibandingkan susu impor sehingga dari sisi IPS akan lebih memilih impor dalam pengadaan bahan baku produknya (susu) yang menawarkan harga murah dan kualitas baik.


Jumlah Peternak Sapi Perah di Indonesia

          Gaya hidup masyarakat Indonesia yang lebih menyukai untuk mengkonsumsi susu olahan pabrik dibandingkan susu segar membuat peternak kecil atau bahkan perusahaan peternakan di Indonesia memiliki daya saing yang terbatas, khususnya harga (bergaining position rendah). Posisi mereka dalam rantai pasok hanyalah sebagai penyedia bahan baku sebelum diolah menjadi berbagai macam produk seperti susu kental manis ataupun susu bubuk. Pada akhirnya, kesempatan bisnis untuk para peternak dan perusahaan peternakan di Indonesia-pun bukan menjadi sesuatu yang menarik walaupun permintaan terhadap susu terus meningkat. Hal ini terlihat jelas pada jumlah ekor sapi perah di Indonesia yang tidak mencapai 1 juta ton serta jumlah industri peternak yang terus konstan setiap tahunnya.

(Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia)

           Pada Gambar diatas menunjukkan industri sapi perah untuk pembibitan hanya 1 perusahaan di Indonesia. Namun perusahaan budidaya sapi perah justru mengalami penurunan di tahun 2019 dan pengumpul susu sapi mengalami peningkatan dikarenakan adanya peluang pada sektor tersebut mengikuti permintaan dan konsumsi susu yang terus meningkat. Salah satu perusahaan peternakan besar di Indonesia adalah Peternakan Greenfields yang berada di dua lokasi yaitu Malang dan Wlingi, Jawa timur. Peternakan tersebut memiliki 18.700 ekor sapi Holstein dengan fasilitas yang modern sehingga dalam setahun mampu menghasilkan 45 juta liter susu, menyumbang 11% dari total kebutuhan  susu nasional. Keberadaan fasilitas yang menunjang tersebut juga menjadi jaminan apabila kualitas susu yang dihasilkan dapat memenuhi standar internasional, dikarenakan susu segar dari Peternakan Greenfields akan disetorkan langsung untuk produk olahan PT Greenfields. 

     Susu segar di Indonesia dihasilkan oleh beberapa tipe peternak yaitu peternak individu yang beberapa diantaranya tergabung dalam koperasi, peternak yang telah bekerja sama dengan perusahaan, ataupun perusahaan peternakan. Tipe perternak ini memengaruhi ketersediaan faktor produksi susu segar yang berhubungan dengan kapasitas produksi yang dihasilkan. Faktor produksi antara lain:

  • Sumber daya, dalam produksi susu sumber daya yang dibutuhkan adalah sapi perah serta sumber makanan untuk sapi tersebut
  • Tenaga kerja 
  • Modal, yang diperlukan dalam pengembangan asset (teknologi)
  • Sumber daya informasi, hal ini meliputi pengetahuan mengenai proses budidaya sapi perah sehingga menghasilkan susu yang berkualitas
  • Keahlian kewirausahaan (manajemen, keuangan, organisasi)

        Pada skala koperasi di Indonesia, banyak keterbatasan terhadap faktor-faktor produksi sehingga dalam proses produksi susu segarnya pun menjadi tidak optimal. Seperti keterbatasan modal untuk mengekspansi jumlah sapi perah dan pembibitan, kesulitan menjaga kesehatan & kebersihan sapi, kurangnya kordinasi dan pengetahuan sehingga biaya produksi tinggi namun kualitas susu rendah, makanan sapi yang tidak sesuai. Hal ini dikarenakan koperasi peternakan di Indonesia didominasi oleh koperasi kecil dan jarang koperasi besar seperti skala kabupaten (Contohnya adalah KBPS Pengalengan). 

Description: C:UsersUserDownloads121726_620.jpg Description: C:UsersUserDownloadsdownload.jpg

Description: C:UsersUserDownloadsantarafoto-pembibitan-ternak-unggul-jaf-120114-2.jpgDescription: C:UsersUserDownloads170317_mengintip-ternak-susu-terbesar-di-asia-tenggara_665_374.jpg

Perbedaan kondisi peternakan (kiri: peternak skala kecil & kanan: perusahaan peternakan)

(Sumber : Google Images)

        Apabila peternak sudah mengadakan kerja sama dengan perusahaan, hal ini memberikan akses dalam pemenuhan faktor produksi susu segar. Keberadaan kerja sama peternak & perusahaan ataupun perusahaan peternakan mendorong potensi Indonesia agar dapat meningkatkan produksi susu segarnya sehingga dapat memenuhi permintaan yang ada. Hal ini dikarenakan pada hakikatnya, perusahaan berbadan hukum seperti Perseoran Terbatas (PT), memiliki karakteristik yang menunjang keberjalanan bisnisnya yaitu:

    1. Kemudahan memperoleh sumber pendanaan eksternal untuk ekspansi bisnis

    Perusahaan peternakan dapat dengan mudah memperoleh pinjaman, seperti bank untuk pendanaan kegiatan operasional peternakan. Hal ini membantu perusahaan untuk mengembangkan sistem budidaya sapi perahnya hingga proses pengolahan susu segar dengan peningkatan teknologi dan penjaminan terhadap mutu susu. Selain itu, apabila dana yang dimiliki perusahaan peternak besar, upaya perusahaan untuk mengekspansi peternakannya semakin mudah mulai dari proses penyediaan sapi perah, tenaga kerja, sumber pakan, lahan & bangunan.

    2. Regenerasi SDM terjamin

        Salah satu kendala yang dialami oleh peternak kecil adalah berkurangnya anak muda yang akan melanjutkan usaha peternakan milik orang tuanya. Oleh karena itu, keberadaan perusahaan peternakan lebih memberikan jaminan dikarenakan sudah adanya struktur organisasi dan manajemen yang jelas. Pada umumnya, sistem PT-pun telah melakukan investasi sumber daya manusia yang kelak akan diposisisikan sebagai pemegang keputusan ataupun penggerak manajemen di perusahaan. Sehingga keberadaan perusahaan peternakan akan lebih lama dan berkelanjutan.

    3. Mengurangi dampak kerugian bisnis terhadap pemilik

        Pada perusahaan perseroan terdapat pemisahan asset antara perusahaan dan pribadi di mata hukum. Oleh karena itu, kemampuan perusahaan untuk mengembangkan usaha peternakannya akan lebih berani dibandingkan peternakan kecil. Hal ini berhubungan dengan pengambilan resiko pemilik perusahaan untuk berhutang demi memperoleh dana dan dana tersebut digunakan untuk pengembangan bisnis. Berbeda dengan peternak kecil yang memiliki ketakutan untuk menumbuhkan bisnis peternakannya dikarenakan tidak berani mengambil resiko untuk berhutang.

    4. Kekuatan daya saing tinggi

        Pada skala perusahaan peternakan, mereka cenderung mampu memproduksi susu segar dalam jumlah besar dan memberikan jaminan terhadap kualitas susunya sehingga dipercaya oleh pihak pembeli. Contohnya adalah PT Peternakan Greenfields dan PT Global Dairi Alami. Hal ini memberikan kepastian supply yang tercukupi untuk pembeli/ IPS dan memudahkan perusahaan peternak dalam memasarkan produk susu segarnya serta mengurangi keterlibatan perantara (middle man) yang pada umumnya meningkatkan harga susu segar. Selain itu, sesuai dengan prinsip economic of scale, yangmana biaya produksi per satu unit produk akan menurun seiring peningkatan jumlah produksi.


Swasembada Susu di New Zealand

        New Zealand merupakan salah satu negara penghasil susu terbesar di dunia, serta negara ini menjadi pengekspor susu ke Indonesia. Sebelum New Zealand dapat swasembada susu seperti sekarang, kondisinya sama seperti Indonesia yaitu dominasi peternak kecil. Namun pada tahun 2001, para peternak New Zealand membuat industri pengolahannya dengan pembentukan koperasi besar yang bernama Fonterra. Fonterra ini beranggotakan 10.500 keluarga peternak sapi. Kesejahteraan para peternak berawal dari penguatan industri pengolahan susu yang terintegrasi sehingga susu produksi peternak dapat terserap dan diberikan nilai tambah yang sesuai dengan permintaan konsumen (masyarakat).

          Fonterra memiliki komitmen dalam membentuk kerja sama yang menguntungkan antara entitas koperasi dan peternak. Oleh karena itu, pembentukkan Fonterra merupakan langkah kemandirian yang sinergi dalam mendorong produksi susu segar dan peningkatan konsumsi melalui olahan produknya. Sistemnya adalah Fonterra akan membeli produk susu sapi dari peternak, khususnya anggota mereka dan kemudian memasarkannya ataupun mengolahnya menjadi produk turunan. Sistem ini termasuk vertical integration yang menguntungkan dalam menjamin kualitas susu dan menjaga transparansi harga antara entitas koperasi dan peternak. Menurut Jaenal Arifin, Sekretaris Badan Komunikasi Pemuda Koperasi mengatakan ekosistem koperasi New Zealand adalah kunci keberhasilan mereka dalam swasembada produksi susu.

Manajemen organisasi adalah proses dari sebuah perkumpulan (lembaga/entitas) dalam mengelola sumber daya dan modalnya untuk tujuan tertentu.  Dalam sistem koperasi, tujuan mereka adalah memperoleh laba dan mensejahterakan para anggotanya.

  • Perencanaan

      Sebuah bisnis perlu mendefinisikan tujuan serta membuat rencana dalam mewujudkan tujuan tersebut. Salah satunya adalah bagaimana mereka memanfaatkan modal yang bersumber dari anggota serta sumber daya lainnya seperti bahan baku, peralatan, SDM guna menghasilkan laba. Fonterra memiliki perencanaan dan koordinasi yang baik antar anggotanya dalam memperoleh modal dan kegiatan pengembangan usaha. Gambar di bawah ini merupakan bentuk perencanaan yang pernah dibuat oleh Fonterra dalam mencapai 5 tujuan utama yang dapat diukur secara kuantitatif.

(Sumber : fonterra.com)

     Koperasi dengan keanggotaan banyak (melebihi 10.000 peternak) memberikan kemudahan dalam pemodalan sehingga tidak menghambat perencanaan alokasi keuangan untuk kebutuhan operasional seperti pengadaan aset untuk keperluan budidaya hingga pemrosesan susu. Pemodalan yang mencukupi tersebut juga membantu Fonterra dalam mengembangkan produknya melalui strategi nilai tambah terhadap susu segar, sehingga saat ini Fonterra tidak hanya menghasilkan produk susu segar tetapi juga susu bubuk, mentega, dan keju.
    

  • Pengelolaan

     Walaupun terbentuk melalui sistem koperasi yang beranggotakan kelompok peternak, namun Fonterra memiliki sistem kinerja seperti halnya sebuah perusahaan. Terdapat pembagian bidang yang memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing seperti bidang produksi, manufacturing, pengembangan produk, lingkungan, supply chain, logistik, food science, HR, keuangan, komunikasi ataupun pemasaran. Hal ini diperlukan untuk peningkatan efisiensi kinerja dan menghasilkan produk-produk yang dapat mencapai tujuan (visi & misi) perusahaan. Adapun pengambilan keputusan dilakukan secara voting dalam rapat anggota dan besaran voting akan disesuaikan dengan besaran supply susu yang peternak berikan ke Fonterra. 

  • Pengarahan

        Saat sistem yang telah disusun akan diimplementasikan, ketua koperasi dan pengurus ataupun orang yang memiliki kedudukan sebagai pemimpin harus dapat memastikan apabila sistem berjalan sesuai rencana. Selain itu dalam proses keberjalanannya, diperlukan motivasi dan pendampingan sehingga tidak terjadi ditaktor dalam dunia usaha. Fonterra sendiri memiliki semangat untuk saling membantu dalam meningkatkan produksi produk mereka. 

  • Pengontrolan

        Pada setiap bidang, umumnya terdapat KPI yang digunakan sebagai metode pengontrolan kinerja baik karyawan ataupun produk yang dihasilkan. Fonterra menerapkan sistem pengontrolan yang ketat mulai dari tingkat peternakan. Para peternak menerapkan sistem on-farm food safety programs  yang kemudian kualitas susunya akan dinilai oleh Dairy Technical Services. Bahkan produk yang telah mereka olah sebelum akan diekspor ke negara lain, dilakukan quality assessment menyesuaikan dengan standar di negara tujuan. Fungsi pengontrolan sudah seharusnya diterapkan pada setiap bidang untuk mengukur kinerja masing-masing bidang dalam mencapai tujuannya.


Manajemen operasi di tingkat peternakan sapi perah

         Kesuksesan beberapa Negara seperti Amerika, India, New Zealand, dan Jerman dalam produksi susu tidak lepas dari rancangan sistem produksi dan permodalan. Manajemen operasi merupakan rangkaian proses untuk mengubah bahan baku (mentah/perantara) sebagai input sehingga menghasilkan produk yang diinginkan (output). Pada industri peternakan, inputnya adalah sapi perah dan pakan sehingga dapat menghasilkan susu segar yang diinginkan. Terdapat 4 skema penting dalam  perencanaan dan design sistem operasi yaitu:

  1. Perencanaan produk

(Sumber : tirto.id)

        India merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat konsumsi susu segar tinggi dan angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menjadi dorongan bagi para peternak dan pelaku usaha di India agar dapat menghasilkan susu lebih banyak sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Saat ini, tingkat produksi susu cairnya sebanyak 64,4 juta ton per tahun dan berkontribusi sebesar 13,2% terhadap produksi susu dunia. Berbeda dengan New Zealand, produksi susu segar akan diolah menjadi susu bubuk dikarenakan tingginya permintaan terhadap susu bubuk dibandingkan susu segar. Peningkatan susu bubuk tersebut mampu diimbangi dengan produksi susu segar karena sistem operasi dan pemodalan yang baik pada skala peternakan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui tingkat permintaan di masyarakat serta integrasi antara peternak dengan industri pengolah susu (IPS) di Indonesia. Hal ini berhubungan dengan supply dan demand yang harus selaras antara susu segar dan susu bubuk/susu kental manis.

    2. Design proses operasi

   Terdapat 2 tipe design yang umum digunakan yaitu standarisasi ataupun kostumisasi. Hal ini bergantung dengan model bisnis peternak. Pada umumnya, peternak akan menerapkan standarisasi dalam proses produksinya. Hal ini untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasar dan juga pertimbangan terhadap biaya produksi. Ada juga peternak yang telah menjalin kontrak dengan industri pengolahan susu (IPS), mereka dapat menerapkan sistem kostumisasi sesuai kesepakatan kontrak agar produk yang dihasilkan sesuai dengan keinginan IPS. 

        Perternakan yang baik adalah peternakan yang mampu menerapkan GDFP (Good Dairy Farming Practices) dan GHP (Good Handling Practices). Standardisasi terkait tatalaksana perternakan sapi perah seperti ini sudah umum diaplikasikan di peternakan luar negeri seperti Amerika, Eropa, ataupun New Zealand. Namun sayangnya tidak dengan Indonesia, khususnya pada peternakan kecil. Padahal susu segar adalah jenis bahan yang mudah rusak sehingga memerlukan sistem dan penanganan yang tepat. Rata-rata peternak di India telah memiliki mesin dan melakukan pasteurisasi di tingkat peternakan. Pasteurisasi adalah teknik pengawaten dengan pemanasan (63°C) yang bertujuan mengurangi jumlah bakteri pada susu sehingga tidak menimbulkan penyakit bagi yang mengkonsumsinya. Pengurangan jumlah bakteri ini juga akan membuat susu lebih tahan lama dibandingkan susu segar. Proses pasteurisasi akan menjaga kualitas susu hingga susu tersebut sampai di tangan konsumen ataupun pihak lain seperti IPS.

    3. Kapasitas produksi

       Peternakan di New Zealand dan India memiliki kapasitas yang tinggi, dalam hal ini jumlah populasi sapi yang besar memungkinkan mereka untuk memproduksi banyak susu. Contohnya adalah Fonterra yang memiliki tangki (20.000 L) sebanyak 487 unit yang dapat menampung produksi susu segar sebanyak 15 juta liter per hari. Hal ini berbeda dengan lingkungan peternakan di Indonesia yang masih didominasi oleh peternak indivudu ataupun koperasi sehingga kapasitas produksinya-pun rendah. 

    Namun pemerintah Indonesia melalui Peraturan Presiden no. 28 tahun 2008 telah memiliki rancangan untuk bidang peternakan yaitu meningkatkan kepemilikan sapi oleh peternak dari 2-5 sapi/peternak menjadi 10 sapi/perternak. Selain itu juga meningkatkan produktivitas ternak sapi dari 8-12 liter per ekor/hari menjadi 20 liter per ekor/hari. Melalui Perpres tersebut, diharapkan dapat meningkatkan produksi susu lokal sehingga Indonesia dapat memenuhi kebutuhan susu nasionalnya.

    4. Fasilitas produksi

    Kesuksesan produksi susu di Negara New Zealand, Jerman, dan India bergantung pada perusahaan peternakan/peternak besar dengan kapasitas besar. Hal ini terlihat dari luasnya area peternakan, teknologi yang digunakan, serta banyaknya populasi sapi perah. Di bawah ini merupakan design layout peternakan yang terintegrasi dengan AMS (Automatic Milking System). Jerman adalah negara yang peternakannya telah terintegrasi dengan AMS. Peternakan di Uni Eropa membuat tata letak yang memisahkan area pemerahan, pemrosesan susu, dan kandang agar tidak terjadi kontaminasi terhadap susu. 

(Sumber : Google images)

Selain tata letak, peternakan di negara-negara yang telah swasembada susu juga memiliki keunggulan di teknologi dan pengelolaan lingkungan. Film “The Milk System” yang tayang tahun 2017 menampilkan tumpukan limbah dari peternakan sapi yang mencemari lingkungan. Oleh karena itu, beberapa peternakan mengelola limbahnya menjadi kompos ataupun biogas. Tidak hanya memikirkan mengenai jumlah produksi susu, tetapi peternak dan Pemerintah perlu peduli terhadap keberadaan limbah yang jumlahnya selaras dengan peningkatan populasi sapi.

Tabel di bawah ini merupakan analisis terhadap design sistem operasi yang dimiliki oleh perusahaan peternak di New Zealand.

Lokasi

Jauh dari masyarakat, sehingga tersedia udara & air bersih untuk sapi serta tidak mengganggu kehidupan masyarakat akibat limbah sapi

Lahan & Bangunan

  • Lahan hijau untuk area penggembalaan sapi
  • Kandang sapi untuk laktasi, pembibitan, dan budidaya
  • Area pemerahan susu
  • Area pasteurisasi
  • Area laboratorium riset (intensifikasi peternakan, efisiensi perawatan, hingga temuan pengolahan)

Teknologi

  • Mesin pemerah & separator cream susu
  • Pompa susu
  • Mesin pendinginan (cooling)
  • Mesin pasteurisasi
  • Mesin chopper rumput (pakan ternak)
  • Aplikasi labeling susu untuk traceabliity

Layout

Setiap proses memiliki area masing-masing yang terpisah, untuk menghindari adanya kontaminasi

Kondisi ini jauh berbeda dengan sistem operasi peternakan di Indonesia. Bahkan peternak kecil Indonesia-pun masih jauh tertinggal dalam hal teknologi dibandingkan India. Salah satu contoh perusahaan peternakan yang telah menerapkan sistem operasi dengan standar yang mirip seperti New Zealand adalah Peternakan Greenfields Indonesia.


        Pada video diatas, terlihat kondisi lingkungan Peternakan Greenfields di lokasi Malang, Jawa Timur yang segar dan masih memiliki ladang rumput luas. Faktor suhu juga menjadi pertimbangan lokasi peternakan, yaitu bersuhu 16-22 oC. Rentang suhu tersebut sesuai untuk budidaya sapi perah tipe  Friesian Holstein. Sistem pemeliharaan di peternakan Greenfields sangat terjaga, mulai dari standar pakan sapi perah yang kaya serat dan berprotein tinggi. Perusahaan-pun menerapkan protokol kebersihan dalam area produksi, sehingga setiap sapi akan dibersihkan sebelum susunya diperah. Keberadaan teknologi sangat menunjang proses produksi susu segar dan hal dibuktikan dengan diperolehnya sertifikasi ISO 22000 dan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point). Keseluruhan sistem tersebut dirancang untuk menghasilkan kualitas susu yang baik.



Solusi untuk meningkatkan produksi susu di Indonesia

  1. Integrasi antara peternak lokal dan Industri Pengolah Susu (IPS)

    Sistem vertical integration yang diterapkan oleh IPS tidak hanya menguntungkan bagi perusahaan tetapi juga bagi para peternak. Apabila IPS menerapkan sistem ini, mereka diuntungkan dalam supply bahan baku yang memadai untuk produk olahan mereka. Selain itu juga, kerja sama yang biasanya dalam bentuk kontrak antara IPS dan peternak lokal akan membentuk kesepakatan harga yang menguntungkan kedua belah pihak. IPS-pun pada umumnya memiliki program pemberdayaan masyarakat yangmana melalui program ini akan membantu para peternak dalam meningkatkan kapasitas peternakan dan pengetahuan dalam manajemen produksi susu segar yang berkualitas.

     Contoh IPS yang telah menerapkan ini adalah PT Frisian Flag Indonesia. Perusahaan ini bekerja sama dengan Koperasi Bangun Lestari Tulungagung, Jawa Timur, Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPBSU) dan Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS), Jawa Barat. Salah satu programnya adalah Bewara yang merupakan sarana pertukaran informasi antara peternak dan ahli pertanian sehingga dapat meningkatkan produksi dan kualitas susu. Selain itu, melalui program lainnya seperti Farmer2Farmer, perusahaan berupaya untuk membuka pandangan masyarakat terhadap peluang bisnis peternakan, serta program Milk Collection Point (MCP), perusahaan memperkenalkan penggunaan teknologi berupa sistem barcode terhadap produksi susu segar.

     Kepastian produk susu segar yang dihasilkan di peternakan yang dibeli oleh IPS secara otomatis akan memicu masyarakat lain (desa) untuk mulai beternak. Laba adalah motivasi utama bagi masyarakat, dalam hal ini berhubungan dengan keberadaan sistem supply chain susu yang baik di Indonesia. Perlu keterlibatan pemerintah untuk membentuk kesinambungan sistem supply chain susu dari peternakan hingga industri (IPS).

     2. Menciptakan ekosistem perternakan sapi perah skala besar

      Keberadaan peternakan besar telah terbukti mampu menghasilkan produksi susu yang tinggi di Jerman dan New Zealand. Hal ini dapat diterapkan di Indonesia dengan adanya perhatian kementerian Indonesia terhadap koperasi dan perusahaan perternakan di Indonesia. Pemerintah dapat melakukan bimbingan dan pembukaan peluang bisnis bagi mereka. Peluang tersebut dapat tercipta dengan adanya upaya pemerintah sebagai perantara komunikasi dan networking dengan IPS dalam negeri ataupun luar negeri, berbagai ahli hewan, teknologi, dan pangan di Balai Penelitian ataupun Universitas. Bimbingan terhadap sistem organisasi khususnya bagi koperasi-koperasi peternak yang minim pengetahuan tentang cara mengelola sebuah bisnis dan manajemen anggotanya.

      Peran aktif pemerintah terbukti sangat membantu pertumbuhan produksi susu di India. India melalui program Operation Flood sejak tahun 1970 berusaha untuk memodernisasi peternakan sapi-nya dan mengembangkan industri susu melalui koperasi. Bahkan terdapat badan khusus yaitu National Dairy Development Board (NDDB) untuk menjalankan operasi itu. Program ini merupakan tujuan jangka panjang India dalam membangun hubungan antara produsen susu (peternak) dan konsumen (perkotaan) dengan pembangunan infrastruktur jaringan susu nasional yang terorganisir dan terkontrol melalui koperasi. Kesuksesan operation flood menempatkan India sebagai penghasil susu terbesar saat ini, mampu menghasilkan 18,5% dari produksi susu dunia pada tahun 2010.

     3. Mempermudah sistem permodalan peternak 

    Keterbatasan modal adalah kendala utama bagi peternak untuk dapat meningkatkan kapasitas produksinya. Pemerintah dapat memberikan insentif berupa program pemberdayaan masyarakat bagi peternak-peternak yang memiliki motivasi tinggi ataupun inovasi. Hal ini dikarenakan tidak semua peternak mampu mengelola (memanajemen) sistem perternakannya dengan baik sehingga pemberian insentif-pun harus tepat sasaran. Selain itu, pemerintah dapat mempermudah akses peternak untuk peminjaman modal melalui bank.

       Uni Eropa (UE) merupakan organisasi antar negara yang mengalokasikan 1/3 dari anggarannya atau senilai €365 Milyar untuk bidang pertanian. Melalui CAP (Common Agricultural Policy), dana tersebut disalurkan untuk petani dan peternak dalam bentuk subsidi. Subsidi ini membayar petani/peternak berdasarkan luas lahan yang dimanfaatkan untuk produksi, seperti produksi susu sapi. Tujuan kebijakan CAP salah satunya adalah menjamin stabilitas pendapatan masyarakat UE yang telah mengelola lahan produktif dan sebagai upaya ketahanan pangan. Kebijakan ini tentunya membuka kesempatan peternak untuk mengembangkan peternakannya.

     4. Penyediaan bibit unggul sapi perah

        Jenis sapi perah yang digunakan oleh peternak tentunya memengaruhi produktivitas susu. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia dapat melakukan upaya dalam pengadaan bibit unggul seperti program UPSUS (Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi) pada tahun 2016 ataupun impor dari bibit Australia. Apabila para peternak Indonesia memiliki jenis sapi dengan produktivitas susu tinggi, maka hal tersebut akan meningkatkan jumlah produksi susu nasional Indonesia.

     5. Menumbuhkan pasar untuk produk susu segar 

     Peternak memiliki daya saing lebih rendah dibandingkan dengan IPS apabila berkaitan dengan penjualan produk. Oleh karenanya, apabila terbentuk pasar baru untuk konsumsi susu segar, para peternak memiliki kesempatan untuk menjual produknya secara langsung dengan daya saing yang tinggi. Apabila sistem supply chain hanya menempatkan para peternak sebagai pemasok bahan baku, mereka tidak akan menerima pertumbuhan laba yang diinginkan. Sehingga keinginan masyarakat untuk menjadi peternak-pun tetap rendah, berbeda dengan adanya peluang para peternak menghasilkan pertumbuhan laba melalui pemasaran susu segar secara langsung kepada konsumen. Mereka memiliki kesempatan untuk memutuskan harga jualnya, bahkan meningkatkan harga produk susu segarnya.


 OLEH : ARSY ELIA PERTIWI (77-C)


REFERENSI

Aisyah, F. R. (2016, Januari 7). Perbedaan Susu  UHT, Susu Pasteurisasi dan Susu Bubuk. Retrieved from HIMITEPA:  https://himitepa.lk.ipb.ac.id/perbedaan-susu-uht-susu-pasteurisasi-dan-susu-bubuk/

Badan Pusat Statistik. (2020). Jumlah Perusahaan  Sapi Perah Menuruh Kegiatan Utama, 2000-2019. Jakarta: Badan Pusat  Statistik.

Badan Pusat Statistik. (2020). Produksi Susu Segar  menurut Provinsi, 2000 - 2019. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Deny, S. (2014, Juni 4). Peternak: Harga Tanah di Selandia Baru Cuma Rp 10 Ribu per Meter. Retrieved from Liputan6: https://www.liputan6.com/bisnis/read/2058566/peternak-harga-tanah-di-selandia-baru-cuma-rp-10-ribu-per-meter

Ferrell, O.C, Hirt, G. & Ferrel, L. (2020). Business: A Changing World. 12th Edition, McGraw-Hill, New York: McGrawHill

Fonterra. (n.d.). Tentang Kami. Retrieved Oktober  20, 2020, from Fonterra: https://www.fonterra.com/id/id/about.html

Greenfields. (2012, Maret 16). Greenfields Farm.  Retrieved from Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=nsRjgO5SPBg

Greenfields. (2018). Peternakan Kami.  Retrieved Oktober 20, 2020, from Greenfields:  https://greenfieldsdairy.com/id/business/our-farms/

Hidayat, A., Aria, P., & Widuri, R. T. (2014,  Maret 27). Bahan Baku Susu Didominasi Produk Impor. Retrieved from  Kementerian Perindustrian: https://kemenperin.go.id/artikel/8883/Bahan-Baku-Susu-Didominasi-Produk-Impor

Kementerian Perindustrian. (2012, November 26). Pasokan  Minim, Produsen Susu Tergantung Impor. Retrieved from  https://kemenperin.go.id/artikel/5069/Pasokan-Minim,-Produsen-Susu-Tergantung-Impor

Majalah. (2019, Juli 3). Rumah Peternak Sapi  Selandia Baru Penghasil Susu Terbaik Dunia. Retrieved from Majalah  Peluang: majalahpeluang.com

Parrock, J. & Huet, N. (2020, Juli 20). Common Agricultural Policy: What is it? How does it work? How might it be about to change?. Retrieved from Eronews: https://www.euronews.com/2020/07/20/common-agricultural-policy-what-is-it-how-does-it-work-how-might-it-be-about-to-change

Purnamasari, D. (2018, Juli 12). Susu Kental Manis  Jauh Lebih Banyak Dikonsumsi Ketimbang Susu Lain. Retrieved from Tirto.id:  https://tirto.id/cNYK

Sanny, L. (2011). Analisis Industri Pengolahan Susu  di Indonesia. Binus Business Review, 81-87.

SS Engineers & Consultants. (2019, Oktober 31). Mini  Dairy Plant - PPT. Retrieved from Youtube:  https://www.youtube.com/watch?v=w5h14i8IhIk

Taufik, E. (2019). Rancangan Induk Industri Susu: Peluang & Tantangannya. Foodreview Indonesia, XIV(6).

Wiwoho, L. H. (2017, November 9). Belajar dari  Revolusi Putih di India. Retrieved from Kompas.com:  https://ekonomi.kompas.com/read/2017/11/09/183059326/belajar-dari-revolusi-putih-di-india?page=all

Wulandari, S., & Boro, P. A. (2019). Pengaruh  Produksi, Konsumsi, dan Harga Susu Sapi Nasional Terhadap Impor Susu Sapi. Economic  Education Analysis Journal, 1130-1146.

Yuana, L. (2019, Oktober 19). Pakar Ternak IPB:  Impor Susu Sapi Mencapai 80 Persen. Retrieved from Times Indonesia:  https://www.timesindonesia.co.id/read/news/234164/pakar-ternak-ipb-impor-susu-sapi-mencapai-80-persen



Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Arsy Elia

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format