Indonesia Masih Berjuang : Terbebas dari Importasi Kakao

Indonesia memiliki potensi dalam memaksimalkan produktifitas sumber dayanya. Lalu apa yang menjadikan Indonesia sulit terbebas dari importasi kakao?


1
1 point

Cacao Commodity in Indonesia

Modernisasi dan globalisasi menjadikan masyarakat Indonesia mengenal dan mengonsumsi berbagai jenis bahan makanan di dunia salah satunya adalah cokelat.  Cokelat dihasilkan dari biji buah kakao yang telah diproses mulai dari fermentasi, pemanasan, dan pencampuran dengan bahan makanan lainnya hingga berbentuk seperti yang kita sering temui di pasaran. Kakao sendiri dapat diolah menjadi berbagai macam bahan makanan dan minuman seperti cokelat batang, cacao powder, cacao butter dan lain-lain. Bagi dunia nutrisi dan kesehatan kakao merupakan superfood dengan kandungan magnesium, kalsium, hingga antioksidan yang tinggi bahkan dibandingkan dengan blueberry, gojiberry, delima, dan lain-lain.

Meskipun komoditas kakao merupakan salah satu komoditas dengan pasar yang relatif kecil di dunia, kakao memiliki implikasi global pada produsen makanan dan minuman, serta industri ritel yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Selain hal tersebut, kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri.

 Sebaran Daerah Penghasil Kakao di Indonesia

Kerap kali masyarakat mengira bahwa cokelat berasal dari negara-negara di Eropa, tetapi nyatanya bahan bakunya berasal dari negara tropis termasuk Indonesia. Indonesia merupakan salah satu penghasil kokoa dengan volume produksi  pada tahun 2014 mencapai 260.000 ton yang sekitar 75% perkebunannya berada di Sulawesi. 

Penghasil kakao terbesar di dunia (1) Cote d’Ivoire atau Ivory Coast (2)Ghana (3) Indonesia pada tahun 2016 membuktikan bahwa Indonesia memiliki kapabilitas untuk mengembangkan produktifitas  kakao sebagai salah satu penghasil devisa Indonesia terbesar. 

Indonesia’s Cocoa Value Chain Map

Value chain komoditas kakao Indonesia yang ditunjukkan pada gambar di bawah merupakan representasi grafis dari berbagai fungsi value chain.

Cocoa Value Chain in Indonesia

Value Chain kakao di Indonesia terbagi menjadi dua sub aliran yaitu proses transfer raw cocoa beans dan processed cocoa products dalam bentuk (cokelat batang, bubuk, butter, dll). 

Hasil biji buah kakao hampir 95% diperoleh dari +/- 400.000 petani yang tersebar di seluruh Indonesia  (kebanyakan Sulawesi). Kemudian dikepul oleh “pengepul” atau komunitas dan dijualkan ke lokal yaitu ke industri dan perusahaan yang memiliki manufacturing factory di Indonesia atau ekspor ke local exporters dan perusahaan multinasional yang berafiliasi dengan local traders.

Produksi biji kakao Sulawesi hanya 10% diolah secara lokal, sisanya diekspor sebagai biji mentah. Di Sulawesi, salah satu pengolah terbesar adalah PT Effem (anak perusahaan Mars / Masterfoods). PT Effem menjual produk kakao olahan ke pabrik manufaktur Mars lainnya di AS, Brasil, dan bagian lain Asia Tenggara — serta ke Grup Ceres. Ceres Group adalah satu-satunya pengolah kakao terintegrasi dan pengekspor produk kakao di Indonesia. Ceres memiliki pabrik manufaktur lokal dan telah memperluas operasi pemrosesannya di Malaysia.

Import and Export of Indonesia’s Cacao

Kemampuan Indonesia  seharusnya dapat menjadi peluang bagi komoditas kakao Indonesia untuk memenuhi permintaan ekspor juga permintaan dalam negeri. Namun, agribisnis kakao Indonesia masih menghadapi berbagai masalah kompleks dalam menjalankan aktifitas operasional produksi yang efisien dan bertahan eksis di bisnis dunia dengan global environment yang terus berubah.

“Saat ini Indonesia sebagai produsen kakao telah bergeser dari peringkat 3 di dunia pada 2014 menjadi peringkat 6 menurut International Cocoa Organization (CCO) pada tahun 2018 sampai sekarang,” kata Agus dalam diskusi virtual, Rabu (7/10/2020). 

Jumlah produksi kakao di Indonesia sejak tahun 2018 terus mengalami penurunan dan menjadikan Indonesia  bukan lagi negara produsen kakao nomor tiga terbesar di dunia. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan industri kita harus mengimpor dari berbagai negara seperti Pantai Gading, Ghana, Kamerun, Nigeria dan Ekuador. Pada 2019 tercatat Indonesia hanya mampu berkontribusi memproduksi kakao sebesar 45,6% atau 196.787 ton dan sisanya dengan mengimpor kakao sekitar 54,4% kebutuhan total yang didominasi oleh permintaan industri. 

Grafik Volume dan Nilai Impor Biji Kakao Indonesia 2014-2018 

Grafik Volume dan Nilai Ekspor Biji Kakao Indonesia 2014-2018

Sesuai data Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, nilai impor kakao olahan pada tahun 2019 mengalami peningkatan  sebesar 12,33%, dibanding tahun 2018. 

Ironi jika melihat tren data volume ekspor kakao Indonesia yang naik, tetapi kenaikan ekspor tersebut linear dengan tren impor kakao yang juga kian meroket setiap tahunnya. Padahal Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam memaksimalkan produktivitasnya dari sisi natural resource dan human capital nya. Lalu apa yang menjadikan Indonesia sulit terbebas dari importasi kakao?

Ketua Dewan Kakao Indonesia Soetanto Abdoellah menjelaskan bahwa alasan utama dilakukannya impor kakao dari berbagai negara, yaitu :

  1. Membentuk cita rasa produk akhir (blending)
  2. Supply deficit atau kurangnya pasokan kakao dalam negeri  

Kakao yang diimpor merupakan biji kakao kelas reguler/tengah yang umumnya berasal dari Afrika dan ekspor kakao untuk kelas premium yang sementara ini hanya dimiliki oleh satu perusahaan yaitu PPTPN di Jawa Timur.

Cacao's Production Growth in Indonesia

Capaian Produksi Kakao Indonesia tahun 2014-2018

Jika dibandingkan dengan capaian produksi kelapa sawit yang memiliki laju petumbuhan tertinggi di komoditas perkebunan yaitu sebesar 8,69%. Capaian produksi (ton) per tahun kakao Indonesia di atas memiliki laju pertumbuhan tahun 2018 yang cukup miris yaitu  sebesar (-0,88%). Hal tersebut sejalan dengan capaian luas areal tahun 2018 yang juga pengalami laju pertumbuhan sebesar (-0,91) atau bisa dikatakan tidak ada pertumbuhan. Hal tersebut seharusnya menjadi concern atau perhatian Indonesia karena setiap negara tentunya ingin selalu memiliki performa yang lebih dari tahun sbelumnya.

Capaian Luas Areal Kakao Indonesia tahun 2014-2018Menurut Rudyanto Hady, sourcing sustainability manager di Perusahaan Barry Callebaut, penurunan produksi kakao Indonesia dapat disebabkan oleh : 

(1) Keterbatasan skill petani

Sebagian besar petani kakao di Indonesia adalah petani kecil, yang mencakup lebih dari 95 persen dari total luas perkebunan kakao, dan sisanya dikuasai oleh perusahaan swasta dan perusahaan milik negara.  Skill petani dibutuhkan dalam memaksimalkan lahan dan preventif serta penanganan hama.

(2) Rendahnya beans and land development

Petani mengeluh karena sebagian besar tanaman  kakao sudah tua, yang ditanam sejak tahun 1990-an dan 2000-an. Selain itu,  kurangnya support dana dari pemerintah menjadikan petani tidak maksimal dalam melakukan perwatan perkebunan kakao di Indonesia. 

Selain hal tersebut,  penurunan produksi kakao Indonesia dapat disebabkan oleh : 

(3)Pengenaan pajak transaksi

Pengenaan pajak transaksi sebesar 10% menjadikan petani enggan untuk meningkatkan hasil taninya. Di sisi lain, produk kakao olahan asal Asia Tenggara yang masuk ke Indonesia dikenai bea masuk 0% sejak berlakunya Asean Free Trade Area (AFTA). 

(4)Climate Change dan Hama Penyakit Tanaman

Kakao dapat tumbuh dengan baik di kawasan tropis seperti Indonesia, tetapi negara tropis pun mengalami berbagai  tantangan  munculnya berbagai hama dan penyakit tanaman yang muncul dari perubahan iklim yang tidak menentu karena pemanasan global dan lain-lain. Namun, hal tersebut dapat diminimalisir dampaknya apabila setiap elemen khususnya pelaku produksi memiliki manajemen risiko yang baik dengan cara mempersiapkan penanggulangan obat bagi penyakit tanaman yang ramah lingkungan. 

Learning Operational Strategies from Ghana, 2nd Largest Producer of Cocoa

Ghana adalah negara dengan komoditas utama ekspor agrikultur kakao kedua terbesar setelah Ivory Coast. Bila dilihat dari sejarahnya,  kakao bukanlah tanaman asli dari negara tersebut. Namun, budidaya dan kembang biak yang telah berlangsung sejak lama menjadikan sistem agrikultur kakao Ghana sebagai model atau benchmark negara penghasil kakao lainnya.

Hal yang menarik di Ghana yaitu biji kakao dijual dengan harga tetap ke Badan Pemasaran Kakao, meskipun sebagian besar produksi kakao dilakukan oleh petani, tetapi mereka puas dengan apa yang mereka dapatkan. Selain hal itu, biji kakao dengan kualitas tinggi (rasa, freshness, dan indikator lainnya) dihargai dengan tambahan insentif tertentu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekitar seperempat dari selutuh petani kakao Ghana menerima lebih dari setengah dari total pendapatan kakao negara. Sehingga, petani Ghana yang merupakan produsen utama kakao di negara terus produktif dalam memaksimalkan kapasitasnya untuk menghasilkan kakao berkualitas.

Dari sisi manajemen, petani-petani di Ghana berada dibawah manajemen komunitas-komunitas yang tersertifikasi. Sehingga, ada day to day, week to week, month to month, serta year to year goals.  Komunitas terus melakukan evaluasi manajemen operasional melalui sistem manajemen yang terstruktur, sehingga petani dapat melihat performa dan produktifitasnya.  

How Indonesia Cover their Supply Deficit?

Keselarasan komoditas kakao baik dari hulu (perkebunan) yang menghasilkan raw material dan hilir (industri pengolah makanan dan minuman cokelat). Peningkatan impor per tahun kakao Indonesia jelas terjadi karena adanya defisit supply dari bagian hulu dan perlu dibenahi secara terstruktur dengan manajemen planning yang melibatkan petani (komunitas), industri, dan pemerintah.

Mahendra Siregar, wakil menteri perdagangan dan instrumental ( in Indonesia's tax policy on cacao bean exports in 2010), mengatakan pemerintah saat ini tampaknya telah membatalkan rencana awal untuk mendorong industri pengolahan kakao di dalam negeri. Mahendra mengatakan industri pengolahan masih memiliki masa depan, namun bergantung pada kebijakan pemerintah yang konsisten. Berikut hal hal yang perlu dijadikan pertimbangan pemerintah dalam meningkatkan produktifitas komoditas kakao di Indonesia:

(1)Memperbaiki data produksi kakao nasional

(2)Melakukan penganggaran revitalisasi kakao yang terfokus dalam peremajaan, rehabitilisasi, dan intensifikasi secara dengan program berkelanjutan

(3)Membebaskan komoditi kakao dari PPN 10%

(4)Memotivasi petani lokal dengan insentif dan program-program yang benefical, untuk menyongsong produk bermutu tinggi

(5)Menggerakan experties untuk ikut turun tangan mengevaluasi manajemen operasi dengan penerapan teknologi yang dapat meningkatkan produktifitas kakao petani Indonesia

(6)Inventory Control ketika musim panen sedang berlangsung dengan cara buffer stock yaitu skema menyimpan stok pada saat panen untuk mencegah harga jatuh di bawah target, dan melepaskan stok setelah panen agar dapat mendapatkan return dari harga yang tinggi.

(7)Memperbaiki strategi pemasaran agar ketika supply sudah memenuhi demand maka keberlangsungan perdagangan internasinal khususnya komoditas kokoa dapat terus berjalan dengan baik dengan negara-negara tujuan ekspor.

Sinergi dan kerjasama antar elemen terkait diharapkan dapat memperbaiki produktifitas dan produksi kakao nasional agar Indonesia segera terbebas dari importasi kakao dan ekspor  nasional dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

References

Ferrel C.O, Hirt G.A, Ferrel L. 2020. Business Foundations : A Changing World Twelfth Edition. States: McGraw-Hill Education.

Gareth R.J, George, J.M. 2020. Contemporary Management. States: McGraw-Hill Education.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2018. Statistik Perkebunan Indonesia Kakao 2014-2018.Jakarta : Badan Pusat Statistik

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2018. RENSTRA Kakao 2020-2004.Jakarta : Direktoran Perkebunan Indonesia

https://www.africanbusinessexchange.com/cocoa-in-ivory-coast-and-ghana-2017/

https://jakartaglobe.id/context/the-long-road-to-reviving-indonesias-cacao-industry/

https://www.indonesia-investments.com/news/todays-headlines/ghana-indonesia-s-poor-cocoa-production-leads-to-global-shortage/item5534

https://www.theguardian.com/global-development/2019/feb/24/ivory-coast-cocoa-farmers-fairtrade-fortnight-women-farmers-trade-justice

http://ditjenbun.pertanian.go.id/cokelatku-budayaku-indonesiaku-tumbuhkan-budaya-korporasi-pekebun-kakao/

Riski Anggun Pratika
20/469011/NEK/00406

Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
0
Win
anggunpratika

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format