NEGARA AGRARIS MASIH MENGIMPOR CANGKUL, WHY OH WHY?


1
1 point

Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memiliki banyak keuntungan, selain dari iklim tropisnya, yang membuat kita memiliki kesempatan menanam sepanjang tahun dengan menyesuaikan musim yang ada, hamparan lahan pertanian yang luas, melimpahnya keragaman hayati, serta di dukung oleh sumber daya yang melimpah. Oleh karena itu di dalam membangun Indonesia sebagai negara yang besar, Pemerintah Indonesia masih menitikberatkan kepada sektor pertanian untuk memperkuat ekonomi dan pertahanan nasional (1)

Namun ternyata, masih ada pekerjaan rumah yang menyambut, di dalam mendukung cita-cita pemerintah Indonesia tersebut. Salah satu isu yang paling disorot adalah bahwa negara Indonesia yang notabenenya adalah negara agraris dan mata pencaharian masyarakatnya salah satu yang terbesar, selain dari sektor industri adalah dari sektor pertanian, ternyata fakta riilnya bahwa Indonesia masih mengimpor cangkul. Alat sederhana yang biasa digunakan para petani di dalam melakukan aktivitas pertaniannya. Apa akar permasalahan yang membuat Indonesia akhirnya memutuskan untuk mengimpor cangkul? Untuk menjawab permasalahan itu, mari kita mengulas kembali beberap tahun ke belakang yang terkait tentang keputusan-keputusan yang mendasari dilakukannya impor cangkul dari Negara lain.

Tahun 2016 (2)

  • PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), ditunjuk oleh pemerintah melaui Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri untuk merealisasikan impor perdana satu container cangkul asal China untuk diperdagangkan di Indonesia.  Penyebabnya, selama ini cangkul yang masuk ke Indonesia adalah cangkul illegal. Oleh karena itu, PT.PPI mendapatkan izin untuk importasi alat-alat dan mesin pertanian pada Juni 2016 dan berakhir Desember 2016.
  • Saat produk China masuk, ternyata produk ini dianggap lebih unggul, dilihat dari tingginya permintaan terhadap barang tersebut dibandingkan produk lokal. Ada yang berpendapat menggunggulkan dari segi kualitas, harga, maupun kestabilan kualitasnya.

Tahun 2017 (3)

  • Kementrian melakukan pendandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan empat BUMN dalam hal pemenuhan kebutuhan bahan baku untuk pembuatan alat perkakas perkakas pertanian yang akan ditingkatkan produksinya, antara lain: cangkul, sekop, mata garu, egrek, dan odos.
  • Empat BUMN itu antara lain, yaitu: PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT. Bosma Bisma Indra, PT. Sarinah, dan PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia.
  • Krakatau Steel akan memproduksi bahan baku carbons steel berbentuk lembaran.
  • PT. Boma Bisma Indra melakukan proses lanjutan agar menjadi barang setengah jadi maksimal sampai dengan 75%.
  • PT. Sarinah dan PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia ke seluruh Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang memproduksi peralatan pertanian.
  • Dengan adanya kerjasama ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan perkakas pertanian nasional, dan bersinergis BUMN yang ditunjuk dengan para IKM untuk dapat meningkatkan kembali produktifitas industri kecil dan menegah.

Tahun 2019

  • Dilansir Kompas.com. Jakarta(4).Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan, sepanjang Januari hingga Oktober 2019, Indonesia telah mengimpor cangkul dengan total berat impor mencapai 292.444 kilogram (292 ton). Berdasarkan data BPS tersebut dirinci, sebagian besar impor tersebut berasal dari China dengan total berat mencapai 292.437 kilogram (292,43 ton) dengan nilai 106.062 dollar AS. Secara historis, impor cangkul dari China cenderung mengalami pergerakan yang cukup fluktuatif. 
  • Atas dasar historis ini, pemerintah pun meminta Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) untuk memprioritaskan barang produksi dalam negeri daripada barang impor.

Dari pemaparan di atas, banyak permasalahan yang terjadi setiap tahunnya. Tantangan muncul, baik dari internal maupun eksternal. Permasalahan yang terjadi, diantaranya dalah:

  1. Produsen dalam negeri sudah tidak mampu memenuhi permintaan cangkul di dalam negeri.
  2. Banyaknya cangkul illegal yang masuk ke Indonesia.
  3. Harga dan kualitas produksi cangkul Impor yang dianggap lebih unggul, mengakibatkan permintaannya tinggi di pasaran, membuat produk lokal terpuruk.
  4. Permintaan yang menurun menyebabkan omset menurun, yang membuat produsen dalam negeri tidak lagi memproduksi cangkul.
  5. Proses produksi dari pembuatan cangkul di dalam negeri lebih sederhana dibandingkan produksi impor.

Ketika produksi cangkul ini menjadi sorotan, banyak pihak yang bersinergi untuk mencoba membangkitkan kembali geliat produksi cangkul dalam negeri. Berdasarkan regulasi yang berlaku di dalam negeri, sebenarnya sejak dulu proses impor ini sudah diatur terkait tata niaga impornya, yaitu:

  1. Cangkul dikategorikan sebagai barang yang diatur tata niaga impornya, berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/Kep/7/1997, yaitu:

NO

NOMOR HS

URAIAN BARANG

TATA NIAGA IMPOR

143

ex 8201.30.000

Beliung, Cangkul, dan Bajak

IT

      (sumber: https://www.kemendag.go.id/id)

2. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2018, yaitu terkait tentang ketentuan impor besi atau baja, baja panduan dan produk turunannya. Dalam peraturan ini mengatur segala hal yang berkaitan dengan proses impor, baik jangka waktu, kontrak,  persetujuan impor, persyaratan impor, dan lain sebagainya. (sumber: https://www.kemendag.go.id/id)

3. Data BPS Terkait Impor Cangkul dari tahun 2016 sd tahun 2020

TAHUN

JUMLAH

NOMINAL  ( US$ )

BERAT ( Ton )

2015

6.589

14.3

2016

187.060

142.80

2017

794

2.32

2018

33.889

78.10

Oktober 2019

106.130

292.44

         Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20191115143405-4-115594/ri-krisis- petani-       cangkul-impor-pula-99-dari-china

 

Dari data tersebut di atas. Terlihat bahwa aliran impor mulai naik di tahun 2016, yaitu sebesar US $ 187.600, hal ini dikarenakan adanya pembukaan keran impor yang dilakukan oleh Kementrian Perdagangan dengan memberi alokasi izin impor kepala cangkul kepada PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT.PPI). Persetujuan izin impor sebanyak 1.5 juta unit berdasarkan rekomendasi Kementrian Perindustrian. Hal ini membuat aliran impor semakin deras masuk ke pasar dalam negeri. Ketika produk impor tersebut disandingkan dengan produk lokal, ternyata permintaan terhadap cangkul impor lebih tinggi. Konsumen membandingkan dari segi harga dan kualitas barang yang dinilai lebih baik.

Lalu di tahun 2017, ada penurunan sebesar US $ 794, hal ini dikarenakan adanya upaya pemerintah di dalam melakukan pemenuhan pengadaan kebutuhan perkakas cangkul dalam negeri dengan melakukan penunjukan empat perusahaan BUMN yang saling bersinergis, baik dari segi produksi bahan baku baku carbons steel berbentuk lembaran, memprosesnya menjadi barang setengah jadi maksimal sampai dengan 75%, lalu mendistribusikannya samapi kepada Industri Kecil dan Menengah ( IKM ) untuk diproses menjadi barang jadi agar sampai ke konsumen akhir.

Ketika pemerintah melakukan penunjukan kepada perusahaan-perusahan BUMN untuk saling bersinergis di dalam pengadaan cangkul dengan pembagian tugasnya masing-masing, yaitu:

  • Krakatau Steel akan memproduksi bahan baku carbons steel berbentuk lembaran.
  • PT. Boma Bisma Indra melakukan proses lanjutan agar menjadi barang setengah jadi maksimal sampai dengan 75%.
  • PT. Sarinah dan PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia mendistribusikan ke seluruh Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang memproduksi peralatan pertanian.

Dengan adanya kerjasama ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan perkakas pertanian nasional, dan bersinergis BUMN yang ditunjuk dengan para IKM untuk dapat meningkatkan kembali produktifitas industri kecil dan menegah. Namun ternyata pada kenyataannya, aliran produk impor masih mengalir cukup deras, bahkan mengalami kenaikan angka impor yang signifikan sampai tahun 2019. 

Namun target pemerintah di tahun 2020, ini adalah dengan memberhentikan aliran impor cangkul. Berbagai pendekatan diupayakan, agar hal ini dapat terealisasi dengan baik.Berdasarkan pemaparan di atas, banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi pemerintah di dalam memenuhi pengadaan perkakas pertanian, yang lebih spesifiknya adalah cangkul.

Adanya keerbatasan bahan baku menjadi awal dari dibukanya keran impor, walau awalnya hanya melakukan penunjukan kegiatan impor oleh satu perusahaan dengan periode tertentu, tetapi hal itu menarik para produsen luar untuk mencoba peluang memasarkan barang tersebut ke pasar lokal. Ketika di pasar direspon dengan permintaan tinggi, mereka menganggap bahwa Indonesia merupakan lahan yang menguntungkan dan permintaan akan terus ada.

Pemerintah berupaya tahun 2020 tidak lagi melakukan impor cangkul. Ini merupakan tantangan besar bagi pemerintah(5). Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan menengah Teten Masduki mengungkapkan pemerintah sudah menyiapkan cara agar 2020 tidak melakukan impor cangkul.

Beberapa hal yang harus bisa dilakukan salah satunya adalah mencoba untuk menjalankan fungsi-fungsi manajemen, yang terdiri dari(6):

1. Perencanaan ( Planning )

Perencanaan yang matang tentu dilakukan untuk mencapai goals tertentu. Disini tujuannya adalah Indonesia tidak lagi melakukan impor cangkul. Tentunya harus dibarengi dengan

langkah konkrit baik dari penyediaan sumber daya yang selama ini terbatas, yaitu carbon steels nya dan juga sumber daya manusianya, baik bentuk perusahaan maupun pengrajin produksi rumahan. 

2. Pengorganisasian ( Organizing )

Pemerintah mencoba melakukan kordinasi antara sumber daya yang ada, salah satunya PT. Krakatau Steel selaku penyedia bahan baku kapasitas besar, dengan para perajin-perajin logam terutama di Pulau Jawa.

3. Pengarahan ( Directing )

Pemerintah melakukan pengarahan terkait program kerja yang sudah ditetapkan berserta segala kebijakan yang mengikutinya. Tentunya kebutuhan yang telah ditetapkan adalah sekitar 10 juta cangkul. Bersinergis dengan para UMKM untuk menyediakan bahan baku cangkul, terbagi dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, dimana Jawa Barat sekitar 4 juta bahan baku cangkul, serta Jawa Tengah dan Jawa Timur masing-masing 3 juta bahan baku.

4. Pengendalian / Pengawasan ( Controling )

Pemerintah melakukan pengawasan terkait program kerja yang sudah ditetapkan, Tantangan terbesar saat ini adalah menghubungkan antara bahan baku dengan para pengrajin. Oleh sebab itu, pengawasan yang terintegrasi harus dilakukan di dalam menghubungkan perusahaan-perusahaan peyedia bahan baku, perusahaan yang memproses bahan baku menjadi setenga jadi, perusahaan yang melakuakn distribusi ke UMKM, sampai akahirnya sampai ke konsumen.

Untuk menguatkan program kerja ini, selain dari menjalankan fungsi-fungsi manajemen tersebut di atas, dibarengi dengan melakukan perencanaan dan perancangan sistem operasinya, yaitu sebagai berikut:

1. Perencanaan Produk ( Planning The Product )

Seteah melihat aliran impor cangkul yang cukup naik secara signifikan, terlihat jelas bahwa selalu ada permintaan yang tinggi di pasar dalam negeri. Kualitas cangkul China dianggap lebih baik dibandingkan produksi lokal. Hal ini menjadi tantangan pemerintah di dalam menciptakan cangkul yang disesuaikan dengan minat pasar dalam negeri. Dari mulai bahan baku sampai dengan bentuk ketebalan fisik cangkul akan mengalami penyesuaian.

2. Merancang Proses Operasi ( Designing The Operation Process )

Untuk membuat cangkul dalam negeri bersaing dengan impor, maka produk yang dihasilkan harus lebih baik dari segi kualitasnya. Hal ini tentu harus dilakukan standarisasi. Pemerintah melakukan penyesuaian dengan memberlakukan Standar Nasional Indonesia ( SNI ) untuk cangkul yang baru(7). Diharapkan dengan adanya spesifiaksi produk yang baru dapat mendongkrak permintaan terhadap permintaan cangkul dalam negeri.

3. Perencanaan Kapasitas ( Capacity Planning )

Perencanaan kapasitas mengacu kepada permintaan cangkul dalam negeri. Tentunya kebutuhan yang telah ditetapkan adalah sekitar 10 juta unit cangkul per tahun. 

4. Perencanaan Fasilitas ( Facility Planning )

Bersinergis antara PT. Krakatau Steel dengan para UMKM untuk menyediakan bahan baku cangkul, terbagi dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, dimana Jawa Barat sekitar 4 juta bahan baku cangkul, serta Jawa Tengah dan Jawa Timur masing-masing 3 juta bahan baku.

5. Berkelanjutan dan Manufakturing

Ketika proses produksi manufaktur berjalan dan system operasi yang terintegrasi diharap juga mampu membangun kelestraian dan meminimalkan dampak negative terhadap lingkungan alam untuk perencanaan jangka panjang.

Langkah terakhir di dalam melakukan penyempurnaan program kerja beserta sistem operasi yang sudah di rancang, didukung dengan mengembangkan strategi pemasaran, salah satunya dengan menciptakan dan memelihara Bauran Pemasaran ( Marketing Mix ). Bauran pemasaran mengacu pada empat aktivitas pemasaran produk, yaitu:

1. Produk ( Product )

Untuk dapat menyaingi produk china maka prduk dalam negeri harus dapat melakukan, yaitu:

  • Pengembangan Produk baru, yaitu karena produk cangkul impor dari china sudah merajalela, maka pemerintah melakukan riset pasar dan melakukan peluncuran produk baru dengan memodifikasi ketebalan cangkul, standarisasi produk melalui proses SNI.
  • Klasifikasi produk, yaitu apakah cangkul ini diperuntukkan untuk keperluan rumah tangga yang digunakan bagi para petani, ataupun utnuk industri besar seperti konstruksi dan pembangunainfrastruktur. 
  • Identifikasi produk, yaitu adanya pemberian branding untuk produksi cangkul yang baru, contoh pemberian emboss dengan lambang kuda.

2. Harga ( Price )

Salah satu peran pemerintah di dalam mempengaruhi pasar adalah penetapan harga di dalam menekan masuknya produk cangkul impor dari China, dimana mereka melempar harga ke pasaran dengan harga sangan murah, bahkan mungkin bisa lebih rendah dari biaya produksinya mereka. Maka disini, Pemerintah harus melakukan reference pricing, yaitu membandingkan dengan harga pesaimg, yaitu harga produk cangkul impor dari china. Salah satu contoh pembatasan harga dari pemerintah adalah dengan mengutip pernyataan dari Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih bahwa penetapan harga cangkul ditingkat petani Rp. 39.000 per unit

3. Distribusi ( Distribution )

Salah satu tantangan terbesar pemerintah adalah bagaimana caranya mendistribusikan produk tersebut ke end user, di satu sisi masih ada kendala di dalam menghubungkan penyedia bahan baku kepada para pengrajinnya. Tujuan akhirnya adalah bagaimana pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat melakukan Distribusi yang bersifat intensif ( Intensive Distribution ), sehingga ketersediaan produk terdapat dan mudah didapatkan oleh para konsumen, seperti pengadaan barang kebutuhan sehari-hari.

4. Promosi ( Promotion )

Langkah terakhir di dalam proses Bauran Pemasaran ( Marketing Mix ) adalah bagaimana merubah image produk china yang sudah familiar di kalangan masyarakat, agar permintaan konsumen dapat bergeser kepada produk dalam negeri. Hal ini dapat diupayakan dengan melakukan promosi dengan metode Push Strategy, yaitu menggunakan personal selling melalui perantara wholeseller ataupun reseller, baik melalui IKM ataupun UMKM yang mengawalnya, bahkan untuk ke depannya dapat melibatkan teknologi di dalam melakukan pemasaran.

Best Practise

Salah satu Negara yang berhasil mengadopsi ilmu dari Indonesia di dalam pembudidayaan hasil bumi adalah Negara Vietnam, yaitu kopi. Menurut Moenardji Soedargo selaku Dewan Penasihat Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) (8), saat ini Vietnam tercatat sebagai salah satu produsen terbesar penghasil kopi di dunia. Pada dekade tahun 1990 an, Vietnam belajar budidaya kopi dari perkebunan-perkebunan di Indonesia. Mengapa saat ini Vietnam bisa menyalip Indonesia, karena Vietnam intensif mengembangkan kopi, lebih terstruktur dalam program pembudidayaan kopi, bahkan penggunaan bibit kopi dengan kualitas terbaik. Selain itu Pemerintah Vietnam melakukan campur tangan melalui pemberian skim kredit berbunga rendah maupun penyediaan pupuk murah. Pada tingkat produktivitas, produksi kopi petani Vietnam per hektarnya bisa mencapai 2 ton, sementara petani Indonesia rata-rata di bawah 1 ton per hektar. 

Selain tersebut di atas, salah satu faktor pendukung bagi Negara Vietnam yang dikenal menonjol dari aspek produktifitasnya adalah faktor sumber daya manusianya baik, yaitu para petaninya yang sangat rajin dan tekun (9). Beberapa hal yang dilakukan Vietnam, sebenarnya bukan hal yang sulit bagi Indonesia. Dengan kekayaan sumber daya, baik alam maupun manusianya. Hanya perlu pembenahan internal secara intensif dan massif.

Dari pemaparan di atas dapat diuraikan satu per satu inti permasalahannya, dan mencoba mencari cara agar dapat menjadi solusi bersama.

  1. Pada era tahun 2000an sudah ada salah satu BUMN yang memproduksi cangkul, yaitu PT. Bima Bisma Indra (Pesero) (10). Namun seiring jalannya waktu PT. BBI menghentikan produksinya, dikarenakan banyaknya cangkul impor yang illegal, yang memberikan harga jauh lebih murah dibandingkan dengan harga dari BBI. Hal ini semakin membuat BBI merugi, dan menghentikan produksi cangkulnya. Namun hal ini menjadi polemik baru, ketika peningkatan impor cangkul menjadi signifikan. Penunjukan BUMN untuk saling bersinergis, merupakan langkah awal di dalam pengadaan kebutuhan cangkul dalam negeri. Agar sesama BUMN selaku penyedia bahan baku material, manufaktur menjadi barang setengah jadi, dan pelaku distributor untuk disebarluaskan ke seluruh negeri melalui IKM ataupun UMKM yang akhirnya akan berujung kepada end user, dibutuhkan sinergis yang kuat, agar semua saling terintegrasi. Tentunya hal ini tidak lepas dari campur tangan pemerintah selaku pengawas dan pembuat kebijakan.
  2. Persebaran distribusi bahan baku dari penyedia kepada para pengrajin yang tersebar di seluruh penjuru negeri  menjadi salah satu kendala besar yang dihadapi. Pendistribusian ini akan menimbulkan biaya dikarenakan proses pengiriman yang dilakukan. Tentu ini akan mempengaruhi biaya produksi yang mempengaruhi harga. Maka pendistribusiannya bisa menggandeng BUMN yang bergerak dalam bidang ekspedisi, yang memang peta pengirimannya sudah tersebar di seluruh negeri. Di samping itu, dapat dibuat titik-titik terpusat dalam pendistribusiannya.
  3. Pemerintah dapat melakukan pengawasan harga dengan menetapkan kebijakan Price Ceiling, yaitu penetapan harga agar cangkul tersebut tidak terlalu tinggi dan bisa dijangkau oleh konsumen. Hal ini dapat meningkatkan permintaan dan menyaingi harga produk cangkul impor yang memang selalu berada di bawah harga cangkul dalam negeri. Dengan harga yang bersahabat, bisa mengubah permintaan konsumen yang sensitif terhadap perubahan harga, agar dapat merubah permintaannya ke produk dalam negeri dengan harga yang bersaing.
  4. Melakukan pengawasan terhadap kualitas cangkul yang akan diproduksi. Tidak hanya disesuaikan dengan konsep Standar Nasional Indonesia, tetapi juga untuk melakukan pengawasan proses produksi terhadap target yang telah ditetapkan dengan hasil output produksi yang telah ditentukan. Karena salah satu pengawasan yang intensif dapat menciptakan kestabilan kualitas yang diberikan.
  5. Lakukan perbedaan spesifikasi produk terhadap pembuatan cangkul yang mana dapat disesuaikan dengan peruntukannya, apakah untuk konsumen rumah tangga, seperti petani-petani, ataukah buat industri, seperti kontraktor ataupun pembangunan infrastruktur.
  6. Memberikan dukungan penuh kepada para pelaku pasar, dimana pemerintah dapat memberikan kucuran dana segar berupa kredit usaha rakyat dengan kebijakan kredit yang tidak memberatkan para pelaku usaha, khususnya usaha kecil.
  7. Mengkaji regulasi terkait perizinan impor negara lain agar dapat menutup keran impor, sehingga ada ruang bagi produk dalam negeri untuk dapat menguasai pasar dalam negeri terkait produk yang sedang diupayakan pengadaannya dan tersebar ke seluruh negeri.
  8. Untuk mendukung produksi rumahan, pemerintah dapat memberikan pelatihan, pembekalan dan penyuluhan guna memelihara regenerasi para pengrajin-pengrajin logam di dalam produksinya. Hal ini tentu memberikan dampak untuk jangka panjang terkait pembenahan dan pembaharuan sumber daya manusianya menjadi lebih produktif dan memiliki semangat juang yang tinggi. 
  9. Mempertimbangkan teknologi untuk proses pemasarannya. Karena tidak semua paham dengan teknologi informasi, maka pemerintah dapat melakukan penyuluhan berkala kepada para pelaku pasar, agar dapat lebih mudah di dalam melakukan pemasaran produknya. Hal ini dapat memberikan kesempatan produk dalam negeri untuk lebih di kenal melalui dunia maya.
  10. Pemerintah dapat menindak tegas secara hukum para mafia pasar ataupun para importir illegal yang merusak pasar dalam negeri. Hal ini memberikan efek jera kepada para pelakunya. Diharapkan dengan adanya kepastian hukum yang jelas, dapat memberikan rasa aman kepada para pelaku pasar, khususnya pelaku pasar dalam negeri dan dapat menciptakan kondisi ekonomi yang sehat dan produktif. Ketika ada kepastian hukum, tentu akan menciptakan atmosfir pasar yang aman dan kondusif. Para pelaku pasar akan merasa terlindungi dari oknum-oknum yang selalu mengambil jalan pintas demi keuntungan semata. Hal ini tentu memberikan rasa keadilan bagi seluruh Rakyat Indonesia.

 DAFTAR PUSTAKA

MI. “Sektor Pertanian Penggerak Perekonomian Nasional”.https://mediaindonesia.com/read/detail/336452-sektor-pertanian-penggerak-perekonomian-nasional. Dipublikasikan Jum’at 14 Agustus, 2020. Diakses 21 Oktober, 2020. 

Julianto, Pramdia Arhando. “Ini Penjelasan Pemerintah soal Cangkul Impor”.
https://money.kompas.com/rad/2016/11/01/061349526/ini.penjelasan.pemerintah.soal.cangkul.impor. Dipublikasikan 01 Oktober, 2016. Diakses 21 Oktober, 2020.

Sugianto, Danang. “BUMN Ini Kalim Bisa Produksi 20 Ribu Cangkul dalm 7 Menit”.
https://economy.okezone.com/read/2017/01/05/320/1583863/bumn-ini-klaim-bisa-produksi-20-ribu-cangkul-dalam-7-menit. Dipublikasikan 05 Januari, 2017. Diakses 21 Oktober, 2020.

Fauzia, Mutia. “Hingga Oktober 2019, Impor Cangkul RI Tembus Rp 1,49 Miliar”. https://money.kompas.com/read/2019/11/15/124200526/hingga-oktober-2019-impor-cangkul-ri-tembus-rp-1-49-miliar. Dipublikasikan 15 November, 2019. Diakses 21 Oktober, 2020.

Al Machmudi, M. Iqbal. “Pemerintah tak lagi Impor Cangkul”. https://mediaindonesia.com/read/detail/277862-2020-pemerintah-tak-lagi-impor-cangkul. Dipublikasikan 15 November, 2019. Diakses 21 Oktober, 2020.

O.C. Ferrel, Geoffrey A. Hirt, dan Linda Ferrel. Bussinesss Foundation A Changing World. New             York: Mc Graw-Hill Education. 2020.

Sembiring, Lidya Julita. “Begini Spesifikasi Cangkul Made in RI yang Bakal Libas Produk Impor”.https://economy.okezone.com/read/2017/03/21/320/1648381/begini-spesifikasi-cangkul-made-in-ri-yang-bakal-libas-produk-impor. Dipublikasikan 21 Maret, 2017. Diakses 21 Oktober, 2020.

Idris, Muhammad. “Pernah Berguru ke RI, Vietnam Kini Produsen Kopi Terbesar Kedua Dunia”.https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3497250/pernah-berguru-ke-ri-vietnam kini-produsen-kopi-terbesar-kedua-dunia. Dipublikasikan 10 Mei, 2017. Diakses 21 Oktober, 2020.

Sariagri.ID. “Tiga Negara Asia Ini Sektor Pertaniannya Berkembang Pesat”. https://pertanian.sariagri.id/56407/tiga-negara-asia-ini-sektor-pertaniannya-berkembang-pesat. Dipublikasikan 14 Mei, 2020. Diakses 21 Oktober, 2020.

Idris, Muhammad. “RI Pernah ‘Swasembada’ Cangkul, Kenapa Sekarang Impor?”.https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3333805/ri-pernah-swasembada-cangkul-kenapa-sekarang-impor?utm_source=facebook&utm_medium=oa&utm_content=finance&utm_campaign=cms+socmed&device=desktop&utm_source=facebook&utm_medium=oa&utm_content=finance&utm_campaign=cms+socmed&device=desktop. Dipublikasikan 31 Oktober, 2016. Diakses 21 Oktober, 2020.

Putri, Cantika Adinda. “RI Krisis Petani: Cangkul Impor Pula, 99% dari China”.https://www.cnbcindonesia.com/news/20191115143405-4-115594/ri-krisis-petani-cangkul-impor-pula-99-dari-chinaDipublikasikan 15 November, 2019. Diakses 21 Oktober, 2020.

https://www.bps.go.id/exim/. Diakses 21 Oktober, 2020.

https://www.kemendag.go.id/id. Diakses 21 Oktober, 2020.

 


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Hertha

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format