Padahal Sudah Swasemba Bawang Merah, Kenapa Harganya Masih Mahal?


1
1 point

Bawang merah merupakan suatu komoditas bahan pangan yang menjadi salah satu prioritas selain beras bagi penduduk Indonesia. Oleh karena itu baik peredaran jumlah barang dan jumlah harganya diawasi oleh pemerintah. Namun pada nyatanya kondisi harga bawang merah di berbagai daerah terus meroket sejak beberapa hari sebelum Lebaran 2020. Nilai jualnya di pasaran nasional melonjak hingga kisaran Rp 70 ribu per kg, terpaut jauh dari harga acuan yang dipatok pemerintah yang sebesar Rp 32 ribu per kg.

Ketua Perkumpulan Pengusaha Bawang Nusantara (PPBN) Mulyadi mengutarakan, kenaikan harga terjadi lantaran dipengaruhi cuaca musim penghujan yang kurang mendukung produksi petani, tingginya permintaan masyarakat untuk konsumsi saat lebaran, dan lonjakan harga juga disebabkan oleh koordinasi yang lemah antar lembaga kementerian terkait. Sebab, kenaikan harga bawang seharusnya dapat diantisipasi mengingat sejumlah sentra wilayah penghasil bawang mengalami penurunan produksi.

Berdasarkan data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) harga eceran tertinggi (HET) bawang merah sebenarnya adalah Rp32 ribu per kg. Namun, Nasional harga rata-rata bawang merah per bulan mei 2020 berada di kisaran Rp52 ribu per kg. Harga tertinggi tercatat berada di Papua Barat di angka Rp80 ribu per kg dan Papua di angka Rp73 ribu per kg. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferesi pers virtual di Istana Negara tidak menolak bila harga bawang merah melonjak di atas HET. Ia bilang di Jawa rata-ratanya berada di kisaran Rp49 ribu per kg dan Banda Aceh Rp65 ribu per kg. 

Pemerintah memutuskan tidak akan melakukan impor bawang merah terlepas lonjakan harga yang terjadi. Pemerintah menilai masih ada produksi dalam negeri yang bisa diandalkan sehingga tinggal menyelesaikan masalah distribusi saja.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan saat ini stok bawang merah masih tersedia sebanyak 78.700 ton. Untuk antisipasi lonjakan harga, pemerintah katanya akan mempersiapkan titik distribusi untuk mengatasi kenaikan harga akibat kendala perpindahan pasokan ini. “Tadi ada penegasan dari Presiden untuk kami gunakan fasilitas TNI melakukan ini menerobos ini,” ucap Syahrul.

Perlu diketahui bahwa bisnis bawang merah berbentuk jual beli suatu komoditas/barang. Dimana pada ilmu ekonomi dasar selalu memiliki acuan berupa supply dan demand. Jika demand barang banyak namun supply barang sedikit, maka harga di pasaran jadi mahal. Sebaliknya, jika demand barang sedikit namun supply barang banyak, maka harga di pasaran akan jadi murah. Perkembangan bisnis bawang merah di Indonesia mengemban paham sosialis dan kapitalis. Bisnis ini dikatakan sosialis dikarenakan pemerintah memiliki peranan baik dalam berdagang dan mengatur bawang merah dengan membuat BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) berbisnis dan mengintervensi harga bawang merah jika harga bawang merah sudah terlalu mahal atau terlalu murah melalui BULOG (Badan Urusan Logistik), dilain pihak, bisnis bawang merah ini dikatakan bersifat kapitalis dikarenakan banyak perusahaan swasta yang berkecimpung pada bisnis bawang merah dan memegang andil terhadap jumlah transaksi bawang merah dengan kuota yang banyak dalam skala nasional. Hal ini juga dibantu dengan adanya keterangan dari wartaekonomi.co.id bahwa ekonomi indonesia 60% berasal dari para pengusaha kecil atau yang disebut UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), alhasil salah satu bisnis yang dikelola pihak UMKM juga meliputi bisnis bawang merah. 

                           

Seperti bisnis lainnya, terjadi persaingan pada sesama pengusaha bawang merah, berdasarkan pola harga bawang merah yang tinggi mulai dari tahun 2015 hingga tahun 2020, nampaknya bisnis bawang merah mengemban paham kompetisi persaingan usaha yang sama seperti bisnis penerbangan, yaitu oligopoli. Dimana para pembisnis bawang merah berusaha untuk mempertahankan harga barang jualannya diatas harga normal atau mahal. Perlu diketahui bahwa Indonesia memiliki jumlah populasi manusia terbanyak pada peringkat 5 besar di dunia. Hal ini memberikan peluang bisnis yang amat menguntungkan bagi para pengusaha bawang merah di Indonesia, selain mereka selalu bertahan menjual bawang merah dengan harga diatas normal atau mahal, para pengusaha selalu mendapatkan demand yang tinggi terhadap bawang merah dikarenakan budaya penduduk Indonesia yang erat kebutuh masaknya menggunakan bawang merah. 

Memang benar bahwa orientasi bisnis adalah untuk mendapat keuntungan. Namun pada konteks ini, bawang merah merupakan salah satu dari bahan pangan utama penduduk di Indonesia dan satu tingkat seperti beras, hal ini dibuktikan dengan adanya tugas BULOG mewakili pemerintah dalam mengawasi harga yang beredar pada bawang merah di indonesia. 

Mahalnya harga bawang merah di Indonesia, membuat pemerintah mengadakan kegiatan impor, sehingga dapat memenuhi kebutuhan demand pasar yang tinggi dan dapat menurunkan harga komoditas bawang merah di pasaran ke titik harga normal. Berdasarkan data laporan analis ekonomi Indonesia Bapak Bustanul Arifin diawal tahun 2020, harga impor bawang merah dari Cina sampai diterima di Indonesia adalah Rp15.000/Kg dan normal harga yang dapat dijual di pasar eceran semestinya ada di kisaran Rp25.000-30.000/Kg. Namun nyatanya, harga bawang merah di bulan Mei tahun 2020 terus melonjak hingga ke harga Rp70.000/kg dan pemerintah tidak melakukan intervensi dalam bentuk impor untuk meredam harga dan menyatakan bahwa Indonesia masih memilikistok bawang merah yang cukup dan disimpan di beberapa gudang, sehingga pemerintah jadi berfokus pada kendala proses distribusi bawang merah saja, dari keterangan ini secara tidak langsung menyatakan bahwa pemerintah saat ini gagal dalam melakukan proses distribusi untuk meredam harga bawang merah dan salah satu faktor kegagalan distribusi yaitu seperti tidak strategisnya lokasi gudang penyimpanan bawang merah baik terhadap akses pengambilan dengan angkutan seperti truk ataupun jarak gudang dengan pasar-pasar yang menjadi pelabuhan akhir bawang merah akan dijual. 

Ironi yang terjadi pada bisnis bawang merah juga semakin tersorot, hal ini dibuktikan dengan keterangan sejak tahun 2016 Indonesia menyatakan diri sudah swasembada bawang merah dan mengekspor bawang merah ke negara-negara di ASEAN seperti Thailand dan Singapura. Perlu diketahui swasembada adalah kondisi dimana suatu usaha sudah berhasil memproduksi suatu barang/jasa dengan kapasitas cukup untuk memenuhi kebutuhan demand masyarakat yang[l1] membutuhkan setiap tahun, sehingga umumnya tidak lagi membutuhkan bantu barang dari luar untuk memenuhi demand masyarakat ynag membutuhkan.

Situasi ini amatlah janggal, bagaimana ceritanya suatu negara yang mengaku sudah swasembada bawang merah namun di negaranya sendiri masih memiliki kendala kelangkaan supply barang yang mengakibatkan harga bawang merah jauh diatas harga normal. Hal ini memicu polemik antara apakah negara memang butuh impor atau hanya masalah kerusakan yang terjadi pada distribusi bawang merah di Indonesia saja, karena nyatanya masalah ini sudah terjadi sudah terjadi dari tahun 2015, jadi apabila kendalanya ada di distribusi, hanya ini menunjukan betapa buruknya pemerintah dalam mengelola bisnis bawang merah di negara sendiri dan apabila kendalanya ada di impor, bagaimana ceritanya harga impor dengan harga jual di pasar eceran Indonesia berbeda 4x lipat, karena tujuan impor dilakukan adalah untuk menekan harga agar kembali turun ke harga normal, sementara dikondisi ini, impor tetap berjalan namun harga tetap melonjak. Meskipun sudah ditetapkan pada bulan Mei tahun 2020 bahwa indonesia tidak melakukan impor bawang merah, impor bawang merah yang terjadi momen-momen sebelumnya sudah memberikan keuntungan bagi sejumlah pihak dan memakan korban para end buyer masyarakat indonesia yang terpaksa membeli dengan harga mahal, padahal mestinya harga bawang merah bisa dibeli dengan harga murah. 

Kekacauan harga pada bisnis bawang merah di Indonesia juga dipicu dengan ketidaksamaan data supply bawang merah di Indonesia yang dimiliki antar instansi negara lebih tepatnya terdapat missing data information diantar Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dengan data yang dimiliki Kementerian Pertanian, hal ini membuktikan bahwa performa pemerintah dari tahun 2015-2020 masih belum memiliki kapasitas yang memadai dalam mengelola bisnis bawang merah dan perbedaan informasi data yang terjadi diantara instansi-instansi negara, hal ini dapat membuka peluang terjadinya kegiatan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). 

Apabila kita lihat dari sisi pemerintah yang lain yaitu BULOG. Nyatanya, performa kerja BULOG yang cukup baik dalam mengatur stabilitas harga beras, tidak berlaku sama dalam mengatur harga bawang merah. Nyatanya memang harga beras berangsur naik mengikuti inflasi yang terjadi di negara di Indonesia, namun kenaikan harga beras jauh lebih baik dibandingkan dengan kenaikan bawang merah. 

Perlu diketahui bahwa salah satu kunci bisnis bawang merah atau bisnis yang berbentuk komoditas/barang adalah inventory control. Dimana para pembisnis dituntut untuk melakukan pendataan secara teliti terhadap supply barang yang tersedia di gudang, sehingga para pembisnis dapat memprediksikan demand yang mesti di supply dikemudian hari. Apabila hal ini dilakukan dengan benar, maka para pembisnis dapat menekan biaya pengeluaran belanja modal, sehingga perputaran barang yang ada di gudang tidak tersimpan terlalu lama. Selain itu para pembisnis juga dapat melakukan measurement of productivity dengan cara melakukan pendataan dan pemetaan tingkat produktivitas dari hasil transaksi yang sudah terjadi, contohnya demand bawang merah melonjak 5x lipat setiap tahunnya di bulan-bulan tertentu, seperti dibulan puasa hingga lebaran, dengan melakukan pendataan seperti itu, para pembisnis dapat melakukan ancang-ancang untuk mengumpulkan supply barang dari beberapa bulan sebelum terjadinya lonjakan demand.

dilansir dari tirto.id, ternyata pada bulan Mei tahun 2019 pihak BULOG sudah menginformasikan kepada pemerintah agar memiliki stok cadangan bawang merah dalam jumlah yang memadai. Namun, nampaknya hal ini tidak didengarkan dan diindahkan oleh pemerintah, hal ini dibuktikan dengan adanya tragedi pada bulan mei tahun 2020 yang mengakibatkan harga bawang merah melonjak hingga ke harga Rp70.000/kg. Selain itu, sudah mestinya pemerintah memilki titik-titik lokasi gudang pendistribusian bawang merah yang strategis, jadi apabila harga bawang merah dikemudian hari melonjak lagi, pemerintah dapat meredam harga dengan waktu yang singkat.

Sudah semestinya pemerintah melakukan restuktrisasi terhadap sistem supply-demand bawang merah, hal ini bisa dimulai dengan pemerintah membuat ulang standar operasi kerja baik diseluruh instansi yang berhubungan langsung ataupun tidak langsung terhadap supply bawang merah di Indonesia dan pemerintah juga bisa mulai melakukan sentralisasi data supply bawang merah di indonesia yang dimiliki oleh para instansi terkait seperti sentralisasi data antara Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dengan data yang dimiliki Kementerian Pertanian, sehingga tidak ada lagi kesempatan bagi para pihak yang dapat melakukan KKN. 

Terlepas dengan adanya kebijakan ekpor-impor bawang merah dan adanya pihak-pihak yang amat diuntungkan karena harga beli modal impor bawang merah murah dan dapat dijual dengan amat mahal, nyatanya pihak end buyer atau konsumen retail yang paling dirugikan. Padahal pada konsep dasarnya, bisnis adalah menjual barang/jasa kepada konsumen yang membutuhkan dan para konsumen puas terhadap harga dan pelayanan yang diberikan, dengan harapan para konsumen dapat kembali membeli barang/jasa dari pengusaha tersebut lagi dikemudian hari dan terjadi terus menerus. 

Referensi :

Maulana, R. (2020, Mei 24). Impor Bawang Merah Tak Mampu Jinakkan Harga yang Melambung. Liputan6. Diakses dari https://www.liputan6.com

Vincent, V. (2020 Mei 13). Harga Melonjak, Pemerintah Putuskan Tidak Impor Bawang Merah. Tirto. Diakses dari tirto.id

Vincent, V. (2019 Mei 2). Bulog Sebut Pemerintah Perlu Punya Stok Cadangan Bawang Merah. Tirto. Diakses dari tirto.id

Estu, S & Marieska, H. (2019 Agustus 2). Sudah Swasembada, Bawang Merah RI Diekspor ke Thailand dan Singapura. Jawapos. Diakses dari jawapos.com

https://www.youtube.com/watch?v=Vsaoyzfhhys

https://www.youtube.com/watch?v=MJ3Pzvb0AcU&t=176s


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
anthonyhms

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format