Jatuh Bangun Warteg Hadapi Pandemi

Warteg si kecintaan masyarakat Indonesia, bagaimana nasibnya semenjak Pandemi?


1
1 point

Warteg = penyelamat kantong 

Warung Tegal atau lazim di sebut Warteg, merupakan salah satu tipe tempat makan yang populer Indonesia. Eksis sejak tahun 1970 dikala terjadi arus ubanisasi massal di Indonesia yang membuat Masyarakat Tegal melakukan Transmigrasi dari daerah asal nya ke Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya. sesuai dengan Namanya, Warteg berasal dari wilayah di Jawa Timur yaitu Kabupaten Tegal dan awalnya memang dikelola oleh masyarakat tegal. Saat ini di DKI saja jumlah Warteg mencapai 26.900, jika ditambah dengan area DeTaBek, jumlah Warteg diperkirakan menembus 34.000 kios. 

Warteg mengusung konsep penyajian makanan dengan sederhana denganharga yang bersahabat di kantong. harga yang yang ditawarkan untuk sepiring penuh nasi dengan protein hewani seperti ayam serta sayuran dan gorengan adalah Rp. 20.000 saja, belum lagi jika protein yang digunakan berupa telur atau tempe dan tahu, harga yang ditawarkan bisa lebih murah. Atas hal tersebut Warteg bisa dinikmati di berbagai lapisan masyarakat. 

Mulanya sasaran utama dari Warteg adalah mahasiswa, buruh, penghuni indekost serta pekerja dengan pehasilan rendah lainnya, hal tersebut terbukti dengan letak geografis Warteg yang umumnya berada didekat Proyek Pembangunan, Kampus, Kawasan indekost dan hunian masyarakat dengan pendapatan kecil seperti Rusun, namun seiring dengan berjalannya waktu dan semakin tersadarnya masyarakat  akan pentingnya berhemat dan menetapkan budget makan secara efisien, membuat Warteg saat juga diminati oleh Blue Collar Worker yang berpenghasilan lebih tinggi. 

Babak belur dihajar Pandemi 

Pandemi Covid-19 membuat pemerintah menerapkan peraturan PSBB atau Pembatasan Sosial Skala Besar, memaksa sebagian masyarakat untuk melakukan aktifitas perkantoran, perkuliahan dan aktivitas lainnya dari rumah guna untuk menekan penyebaran Virus. Hal tersebut juga berdampak kepada omzet usaha Warteg yang menurun drastis selama masa pandemi. 

Tercatat omzet pendapatan Warteg turun hingga 50% dikarenakan sepinya pengunjung yang membeli makanan. Berdasarkan artikel kompas pada tanggal 16 april 2020 seorang pemilik Warteg bernama Nur menyatakan bahwa omzet menurun drastis dari profit Rp. 500 ribu sehari menjadi tidak mendapatkan untung sama sekali dan terpaksa menombok menggunakan uang simpanan bahkan menjual asset yang dimiliki sebagai contoh sepeda motor untuk tetap menjalankan operasional Warteg. 

Berdasarkan artikel pada surat kabar kontan, Ketua Komunitas Warteg Nusatara (Kowantara) Mukroni mengatakan omzet para pelaku usaha Warteg saat ini masih di bawah 50%, belum lagi di Kabupaten Tegal sendiri yang sempat menerapkan Lockdown yang sangat berimbas kepada pemasukan Warteg, bahkan setelah PSBB Jilid II ada 10 ribu Warteg yang gulung tikar. 

Menurut keterangan dari Kamar Dagang Industri Indonesia Warteg termasuk kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) atau lazim disebut Small Business. Dalam menglola Small Busines atau UMKM terdapat beberapa keuntungan dan kerugian diantaranya :

 UMKM sendiri mendominasi jenis usaha di Indonesia dengan proporsi sbb :

                                        ( Sumber: Data Eksisting UMKM – KOMPAS/ROBERTUS)

UMKM sendiri relative mudah untuk dibentuk karena tidak membutuhkan modal yang  besar. UMKM mampu membuktikan eksistensinya dalam perekonomian di Indonesia. Ketika badai krisis moneter melanda Indonesia di tahun 1998 UMKM yang relatif mampu bertahan dibandingkan perusahaan besar. Karena mayoritas usaha berskala kecil tidak terlalu tergantung pada modal besar atau pinjaman dari luar dalam mata uang asing. Sehingga, ketika ada fluktuasi nilai tukar, perusahaan berskala besar yang secara umum selalu berurusan dengan mata uang asing adalah yang paling berpotensi mengalami imbas krisis ( berdasarkan “PROFIL BISNIS USAHA MIKRO, Kerjasama LPPI dengan BANK INDONESIA”, Bab 2)  

Namun demikian, saat ini UMKM yang paling babak belur dalam menghadapi Pandemi Covid-19, Terbukti berdasarkan survey LIPI bahwa 94,69% UMKM mengalami penurunan penjualan akibat pandemi Covid 19 sesuai dengan gambar sbb: 

                                                            ( Sumber : Line today atas survey LIPI )

Disinyalir hal tersebut dikarenakan lambatnya perputaran roda ekonomi diindonesia akibat penerapan peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar serta PHK massal yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang berujung kepada berkurangnya daya beli masyarakat. 

Menurut artikel pada Tirto.id Pandemi telah menghantam perekonomian Indonesia cukup keras. Dampaknya lebih buruk dibandingkan saat krisis global 2008/2009. Pada Q2 2008, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 2,4%. Sementara secara keseluruhan, tahun 2008 lalu ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 6,1%.Menteri Keuangan Sri Mulyani, memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal II hanya akan mengalami kontraksi 3,8%. Di bawah perkiraan Bappenas, kontraksi sebesar 6%. Realisasinya BPS mencatatkan bahwa Indonesia mengalami kontraksi sebesar 5,32%

Akibat penurunan drastis tersebut, berdampak kepada beberapa aspek usaha dalam hal ini Warteg seperti contoh :

  • Penurunan Harga Jual untuk meningkatkan minat pembeli 
  • Menurunya pembelian bahan baku  seperti sayur, protein hewani, tahu, tempe dsb sehingga juga berpengaruh kepada pedagang sektor pertanian dan peternakan 
  • Pemberlakuan PHK kepada pelayannya 
  • Ketidak sanggupan untuk membayar cicilan apabila usaha Wartegnya dibiayai menggunakan fasilitas kredit.
  • Pemberhentian usaha secara total dikarenakan kurangnya dana untuk menjalankan operasional usaha

                                                (Sumber : google, Hasil Survey BI Perwakilan Kaltim) 

Survival Mode = on 

Pandemi Covid 19 nampaknya menjadi momentum bagi Warteg untuk memutar otak agar tetap bertahan. Berdasarkan artikel pada Microsoft News, diketahui bahwa ada ciri khas khusus dari Tempat Makan yang masih bertahan di era pandemic saat ini, yaitu dapat dipastikan bahwa makanan yang dijual adalah Comfort Food yang di sajikan secara tradisional dan biasanya nostaltic serta memiliki daya Tarik sentimental. So, for my fellow Indonesian readers, Is there any food that can beat the comfrortness of masakan rumahan seperti nasi telur dadar dan segelas the hangat yang biasa disediakan Warteg? 

Berkaca dari Restaurant Addo di Seattle Washington yang dimiliki oleh Eric Rivera yang menjual masakan rumahan khas Puerto Rico dengan harga murah, berhasil meningkatkan penjualannya dua kali lipat pada bulan Maret 2020 bila dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Strategi yang digunakan Addo adalah dengan Shifting semua Dine In menjadi Takeout dan Delivery Only serta Addo juga menambah variasi menu yang sangat berbeda dengan makanan khas Puerto Rico contohnya Ramen agar pembeli tidak bosanAddo juga menggunakan the power of Social Media dengan konten yang mengusung sudut pandang dari tempat makan nya sendiri seperti tumpukan bungkusan makan yang siap antar guna menginformasikan bahwa Addo memang memiliki banyak peminat. Disamping itu, dengan menggunakan 2 sepeda motor Staff dari Addo melakukan pengantaran makan door to door serta melakukan promosi kepada komunitas di sekitarnya, terkadang, makanan mereka juga dibeli untuk disumbangkan kepada komunitas sekitar seattle oleh organisasi-organisasi sosial setempat

                                                                 (sumber : Bloomberg daily)

Saat ini karena keberhasian bisnis usaha nya diawal yaitu berjualan makanan rumahan, Addo juga merambah ekspansi bisnis menjadi penjual kebutuhan rumah tangga seperti tissue, minyak, beras serta mie instan serta menjual pernak Pernik lain

Dengan menggunakan theory 4P’s Marketing mix Warteg VS Addo bisa diklasifikasikan sbb: 

What to do next?

Dari table marketing mix diatas, dapat dilihat bahwa Warteg memiliki beberapa hal yang perlu dilakukan dalam menjaga keberlangsungan usaha, dikarenakan UMKM termasuk usaha dengan modal yang relative kecil dan dimiliki oleh individu yang terbatas, maka dibutuhkan Inovasi baru yang dapat diterapkan oleh pengusaha Warteg agar tetap bertahan. Adapun masukan untuk Inovasi tersebut adalah :

  1. Menjual menu baru selain menu lazim di Warteg pada umumnya, sebagai contoh Papeda
  2. Melakukan promosi via Social Media seperti Instagram atau Twitter and let the power of social media do the magic
  3. Melakukan promosi door to door seperti membuat pamflet sederhana yang bisa disebar di beberapa pemukiman 
  4. Bekerja sama dengan Gojek/Grab dalam hal pengantaran atau memanfaatkan kendaraan yang sudah ada untuk melakukan delivery
  5. Melakukan pendekatan ke individu-individu atau organisasi dalam rangka bakti sosial seperti ACT (Aksi Cepat Tanggap), atau KitaBisa yang mungkin bisa menjadi pintu bagi organisasi/individu lain untuk menggunakan jasa Warteg tersebut 

Karena pegawai Warteg umumnya terbatas, maka Job Description yang dirasa pas untuk pegawai Warteg dalam mencapai Inoviasi diatas adalah :

  1. Mampu mengoperasikan Social Media dan mengambil foto untuk konten Social Media
  2. Bisa membawa kendaraan (roda 2 diutamakan) untuk mengantar delivery

Tapi yang paling utama, yuk kita makan di Warteg. Selain murah dan sehat, kita juga ikut membantu perekonomian negara lho. Ibu Sri Mulyani saja  menghimbau agar masyarakat Indonesia membeli makanan dari Warteg di sekitarnya.

With no further ado, Lets go!

Daftar Pustaka :

https://www.wired.com/story/restaurants-struggling-pandemic-eric-rivera-addo/

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5139435/sri-mulyani-ajak-masyarakat-makan-di-Warteg

https://money.kompas.com/read/2020/06/08/084456426/dampak-covid-19-omzet-Warteg-di-bawah-50-persen

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4955563/omzet-pengusaha-Warteg-anjlok-50-dihantam-corona

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200817210219-4-180368/sri-mulyani-perusahaan-besar-sampai-Warteg-terimbas-corona

https://kumparan.com/kumparanbisnis/omzet-terpukul-karena-virus-corona-10-ribu-Warteg-di-jabodetabek-gulung-tikar-1t6ezBKuLsm/full

PROFIL BISNIS USAHA MIKRO, Kerjasama LPPI dengan BANK INDONESIA”

ttps://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Undergraduate-5665-BABI.pdf

https://media.neliti.com/media/publications/201757-pengusaha-warung-tegal-di-jakarta-pendek.pdf

https://boomers-daily.com/2019/11/22/future-of-eating-out-chef-eric-riveras-addo-incubator-maximizes-tech-to-serve-better-food/

https://www.msn.com/en-us/foodanddrink/other/americans-are-craving-comfort-food-during-coronavirus-cereal-snacks-baked-goods-fly-off-shelves/ar-BB12n6sI

https://tirto.id/dahsyatnya-dampak-pandemi-penyebab-kontraksi-ekonomi-ri-fVSV

Nama : Rezki Arnita 

No Reg : 41P20088 

Kelas : Eks B 41C Kampus Jakarta


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
1
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format