“CAB Adventure” Dihantam COVID-19

Dampak COVID-19 begitu besar dirasakan para pelaku bisnis UMKM termasuk pada Agen Tour & Travel Konvensional


0

COVID-19 menimbulkan kekacauan luar biasa pada perekonomian Indonesia, baik di level individu, rumah tangga, bisnis mikro, kecil, menengah maupun besar. Dampak massive COVID-19 dirasakan di berbagai lini usaha terutama sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Para pelaku UMKM berjuang keras untuk mempertahankan bisnisnya ditengah gempuran wabah yang menghambat berbagai aktivitas dan transaksi ini. Padahal, UMKM memegang peranan yang sangat penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Berdasarkan data dari Bank Indonesia, pada tahun 2017 sektor UMKM mendominasi sekitar 99,9% dari seluruh unit bisnis yang ada di Indonesia, seperti tergambar pada Grafik 1.

Grafik 1. Kondisi Eksisting UMKM di Indonesia (Sumber: www.reaktor.co.id)

Salah satu sektor UMKM yang terdampak paling parah akibat wabah ini adalah agen tour dan travelterutama yang masih bersifat konvensional atau belum memiliki sistem layanan onlineSaat ini banyak layanan Online Travel Agent (OTA) seperti Traveloka, Pegi-Pegi, Booking.com, dan Tiket.com, yang menyediakan jasa pemesanan tiket kendaraan, penginapan, tiket wisata ataupun sewa kendaraan secara mudah. Adanya perpindahan cara konvensional ke arah teknologi modern ini menyebabkan usaha agen tour dan travel konvensional mulai mengalami keterpurukan, ditambah lagi dengan munculnya wabah COVID-19 yang mengharuskan phsiycal distancing hingga work form home membuat para pelaku usaha agen tour dan travel harus mati-matian mempertahankan bisnisnya.

CAB ADVENTURE DIHANTAM COVID-19

Pandemi COVID-19 membawa dampak kerugian mencapai ratusan juta rupiah dalam bisnis agen wisata konvensional. Seperti yang dirasakan Asri Amdani, salah satu pelaku bisnis travel agent bernama CAB Adventure yang berasal dari kota Bogor. Asri membangun bisnis ini sejak Juni 2010. Mereka melayani transportasi dan akomodasi bus wisata mulai dari Jawa, Bali, Lombok, sampai Sumatera. Mereka menawarkan paket wisata gathering, outing,  outbound dan team building, dan lain-lain. Termasuk juga penyewaan hotel dan restoran. Namun seketika COVID-19 meruntuhkan bisnisnya. Para pelanggannya berbondong-bondong melakukan cancel dan reschedule tiket, sedangkan uang muka sudah masuk ke vendor dan sulit diambil lagi. Dampaknya ia mengalami defesit anggaran untuk kebutuhan operasional sehari-hari.

Asri melakukan berbagai upaya memenuhi biaya operasional bulanan kantornya, padahal tidak ada pemasukan sama sekali dari hasil bisnisnya akibat COVID-19. Ia bersyukur tim kerjanya bisa memaklumi dan saling menguatkan. Asri sempat terpuruk ditengah kesulitan modal akibat pandemi. Beberapa kali mencoba mengajukan pinjaman ke Bank namun tidak berhasil, akhirnya Asri memutuskan mencoba buka usaha grosir sembako dan mencoba peruntungan usaha kedai kopi serta makanan online.

Gambar 1. Promosi bisnis CAB Adventure (Sumber: Instagram CAB adventure)

Memasuki era new normal, CAB Adventure memulai kembali usaha travel agennya. Namun sayangnya, hingga kini belum ada kejelasan regulasi wisata dari pemerintah. Dikutip dari www.medcom.id, menurut Asri bahwa memang aturan protokol kesehatan sudah dikeluarkan, hotel dan restoran juga sudah mulai dibuka, tetapi untuk pihak travel agent belum jelas protokolnya terutama jika akan membawa rombongan besar seperti perusahaan atau lembaga-lembaga. 

DAMPAK COVID-19 TERHADAP BISNIS AGEN TOUR & TRAVEL

Masalah yang muncul saat pertama kali pelaku usaha agen tour dan travel terkena hantaman Covid ini adalah ketika para traveler melakukan refund besar-besaran untuk membatalkan atau reschedule rencana perjalanan mereka. Para agen biasanya telah menerima booking jauh hari sebelum keberangkatan, sehingga mereka telah mengalokasikan dana untuk operasional kantor serta sebagai deposit kepada mitra pariwisata seperti hotel, restaurant, penyedia akomodasi dll. Akibat banyaknya tuntutan untuk pengembalian uang pemesanan dari konsumen ini membuat agen tour & travel berada di titik tersulit dalam bisnisnya. Ditambah lagi adanya Peraturan Pemerintah tentang Pembatasan Sosial Bersakala Besar (PSBB) membuat mereka mengalami penurunan drastis dalam pemesanan tiket, hotel, maupun lokasi wisata.

Grafik 2. Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia per Negara Asal (Sumber : www.Katadata.co.id)

Agen tour & travel biasanya memiliki bulan-bulan panen yang ditunggu setiap tahun. Usaha mereka akan full booked di momen-momen spesial seperti mudik lebaran/natal/tahun baru, tur sekolah saat kenaikan kelas atau kelulusan, umroh di musim lebaran haji, family tour musim libur semester atau tahun ajaran baru, business gathering, dan sebagainya. Namun tiba-tiba target bisnis itu luluh lantak seiring dengan adanya larangan bepergian dari pemerintah, penutupan tempat wisata atau keramaian, hingga kepanikan masyarakat akan virus COVID-19. Kebijakan pemerintah untuk menerapkan physical distancing hingga work from home di Indonesia juga mengakibatkan aktivitas masyarakat diluar ruangan jauh berkurang. Terlihat dari Grafik 2. bahwa jumlah kunjungan wisatawan Mancanegara ke Indonesia hamper semua menurun di tahun 2020, bahkan beberapa negara menurun sangat drastis seperti dari Malaysia dan Tiongkok. 

Pada saat Pembatasan Sosial Bersakala Besar (PSBB) para agen tour dan travel bahkan sempat mengalami zero income karena tidak ada pemasukan sama sekali selama berbulan-bulan akibat harus menutup usahanya. Sedangkan di sisi lain, masih ada beban operasional yang harus ditanggung seperti sewa kantor, pembayaran iuran-iuran rutin seperti listrik dan air, perawatan armada/kendaraan, pengembalian tiket konsumen (refund), penggajian karyawan, dan sebagainya otomatis membuat modal pemilik pasti berkurang karena mungkin harus menjual asetnya untuk menutupi pengeluaran selama pandemi ini.

Menurut Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah dikutip dari www.www.idntimes.com, kini usaha agen perjalanan memasuki tahap tidak memiliki transaksi sama sekali alias zero transaction. Dengan kondisi seperti itu, hampir 98% travel agent sudah merumahkan karyawannya, bahkan sudah terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Selain itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira dikutip dari www.ekonomi.bisnis.com mengatakan, akan banyak lonjakan NPL bank dan usaha travel pailit jika hingga juni COVID-19 belum reda.

REGULASI & PERAN PEMERINTAH

Setelah melewati masa Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSSBB) akhirnya pemerintah mulai menerapkan era New Normal, dimana bisnis tertentu termasuk bisnis agen perjalanan yang semula tidak dapat beroperasi sama sekali mulai diperbolehkan menjalankan usaha. Dalam menjalankan new normal ini, pemerintah tetap menyerukan himbauan badan kesehatan nasional dan internasional terkait kebijakan protokol Kesehatan, physical distancing dan Work From Home (WFH) dalam upaya memprioritaskan kesehatan serta memutus rantai covid-19.

Grafik 3. Rincian Paket Stimulus Ekonomi untuk memerangi dampak COVID-19 terhadap sektor Pariwisata di Indonesia tahun 2020 (Sumber: www.statista.co.id)

Asisten Deputi Kemenkop Ari Anindyo dikutip dari www.travel.kompas.com mengungkapkan, bahwa Kemenkop telah proaktif mendata pelaku UMKM terdampak, dan akan memberikan stimulus daya beli produk UMKM, BLT dan restrukturisasi subsidi bunga kredit usaha mikro. Namun jika dilihat dari Grafik 3. pembagian porsi paket stimulus ekonomi khusus agen perjalanan berada di urutan ke-2 terendah, sehingga Agen Perjalanan harus lebih mandiri bangkit dalam menyiapkan modal.

ANALISA CONTOH KASUS DIBANDINGKAN DENGAN BISNIS YANG SAMA DI LUAR NEGERI

Dari contoh kasus sektor UMKM agen tour dan travel konvensional seperti CAB Adventure milik Asri Amdani akan coba dibandingkan dengan salah satu agen tour dan travel di Jepang bernama H.I.S Travel yang bersifat Online Travel Agent (OTA). Meskipun keduanya sama-sama menanggung dampak kerugian besar akibat pandemi COVID-19, namun CAB Adventure terpaksa harus menghentikan usaha travelnya dan beralih pada bisnis lain untuk bertahan, sedangkan H.I.S masih konsisten menjalankan corebisnis mereka dengan melakukan beberapa penyesuaian dan inovasi. Perbandingan antara kedua jenis agen travel tersebut berdasarkan beberapa teori Bisnis & Manajemen adalah sebagai berikut:

Analisa

Agen Tour & Travel Konvensional (CAB Adventure) – Indonesia

Online Travel Agent (OTA)

H.I.S Travel-Japan

Sifat bisnisnya

Bisnis ini menghasilkan produk jasa layanan dan bersifat profit Oriented, dimana mereka menawarkan layanan wisata untuk mengumpulkan keuntungan materil. Orang yang telibat di dalam Bisnis ini adalah Customer/Wisatawan, Pekerja, Pemilik dan mitra bisnisnya. 

Bisnis ini menghasilkan produk jasa layanan dan bersifat profit Oriented, dimana mereka menawarkan layanan wisata untuk mengumpulkan keuntungan materil. Orang yang terlibat dalam bisnis ini adalah Pemilik/Pemegang Saham, Pekerja, Customer/Wisatawan dan mitra binsinya.

Sifat Kompetisi

Sifat kompetisinya adalah “pure competition” dimana banyak persaingan di level dan jenis bisnis yang sama

Sifat kompetisinya adalah “pure competition” dimana banyak persaingan di level dan jenis bisnis yang sama

Jenis perusahaan (berdasarkan kepemilikan)

Sole Proprietorship (kepemilikan tunggal) –CAB Adventure merupakan bisnis UMKM yang dimiliki dan dijalankan secara mandiri oleh Asri Amdani yang tidak dominan dalam wilayah kompetitifnya dan tidak mempekerjakan lebih dari 500 orang.

Korporasi – HIS Travel merupakan Perusahaan Travel Besar dan bersifat Multinasional, memiliki banyak pegawai mulai dari pegawai tetap, kontrak maupun outsourcing dan memiliki cabang di banyak negara termasuk Indonesia 

Sumber pembiayaan/Capital (Modal)

Modal terbatas hanya pada harta pribadi pemilik, penjualan produk dan hutang mikro

Modal berasal dari banyak sumber, yaitu para pemegang saham (investor), investasi, penjualan produk, hutang korporasi, dll. 

Product Development,Inovasi dan Teknologi

Product Development dan Inovasi kurang baik, karena selama 10 tahun belum melakukan inovasi bisnis. Sistem layanannya masih bersifat manual, belum memanfaatkan teknologi secara maksimal. Belum ada aplikasi booking, payment, promosi dan customer care online. Akses layanannya harus menghubungi nomor HP pemilik. 

Product Development dan Inovasi cukup baik. H.I.S Travel telah melakukan inovasi produk seperti tur virtual dan paket wisata sesuai trend kebutuhan di situasi pandemi. Selain itu juga sudah menggunakan teknologi terkini sebagai sarana, promosi, reservasi, pembayaran maupun layanan pelanggan lainnya.

Business Plan

Kurang adanya perencanaan bisnis yang baik terkait analisis persaingan, perkiraan pendapatan dan pengeluaran, strategi untuk memperoleh dana yang cukup untuk menjaga kelangsungan bisnis, dll. Sehingga ketika menghadapi pandemi, Pemilik tidak mempunyai back up plan dan terpaksa menutup usahanya lalu beralih ke usaha lain

Sudah memiliki perencanaan bisnis yang cukup baik. Sehingga ketika terjadi pandemi perusahaan langsung mengambil langkah efisiensi dengan memotong biaya marketing/iklan, biaya promo/discount, mengurangi karyawan outsourcing, melakukan inovasi produk dll. 

Bauran Pemasaran (Marketing Mix) – Produk

Produk yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari pelayanannya wisata, penyewaan hotel dan restoran, transportasi dan akomodasi bus wisata, paket wisata gathering, family gathering, outing, outbound dan teambuilding, awarding, dan lain-lain untuk skala lokal (antar pulau tertentu)

Produk yang ditawarkan sangat banyak dan bervariasi, selain tiket akomodasi (darat, laut, udara), penginapan, restaurant, pengurusan visa dan paket wisata dan lain-lain untuk skala regional maupun internasional

Bauran Pemasaran (Marketing Mix) – Harga

Harga dan komisi ditentukan berdasarkan  kesepakatan konvensional antara Agen dengan mitra bisnisnya (hotel, resto, penyedia akomodasi). Fluktuasi harga jarang terjadi karena Agen harus mengatur ulang kesepakatan antara agen dan mitranya

Harga yang ditawarkan bisa lebih murah mengingat mereka memiliki modal yang besar untuk menutup kerugian penjualan. Fluktuasi harga sering terjadi sesuai situasi dan kondisi pasar karena menggunakan sistem online. Sehingga mereka dapat mengatur strategi harga untuk menarik minat konsumen 

Bauran Pemasaran (Marketing Mix) – Promosi

Promo lebih jarang dilakukan, biasanya hanya ketika sepi pengunjung. Promo biasanya berupa penawaran Open trip pada event tertentu. Mereka masih menggunakan media promosi manual yaitu melalui link kerjasama (mulut ke mulut), flyer, atau media sosial. 

Promo wisata yang di tawarkan belum banyak inovasi sehingga sulit bertahan saat menghadapi kebutuhan pelanggan di era pandemi Covid-19

Promosi lebih gencar dilakukan baik secara on line ataupun off line. Bentuk promo biasanya berupa potongan harga, penawaran paket tertentu, atau bundling. Mereka juga memiliki banyak jaringan pemasaran untuk promosi produk-produknya seperti media sosial, website, iklan di media online, iklan di TV dan marketing langsung.

Promo wisata yang ditawarkan sudah disesuaikan tren kebutuhan travelling di era pandemi Covid-19

Bauran Pemasaran (Marketing Mix) – Distribusi 

Tiket hanya dapat dibeli di lokasi kantor agen atau menghubungi nomor HP tertentu

Layanan mereka dapat diakses kapanpun dan dimanapun sepanjang  konsumen memiliki akses internet

Bauran Pemasaran (Marketing Mix) – Perekrutan Karyawan

Rekrutmen karyawan dilakukan secara konvensional melalui jaringan pertemanan atau anggota club pecinta alam

Rekrutmen karyawan dilakukan secara professional melalui proses seleksi dan rekrutmen, baik itu untuk karyawan tetap, kontrak maupun outsourcing.

IDE & USULAN BAGI UMKM AGEN TOUR & TRAVEL KONVENSIONAL DI INDONESIA

Berkaca dari animo masyarakat China yang haus akan liburan dan jalan-jalan setelah masa pandemi usai, akan lebih baik jika para agen perjalanan konvensional di Indonesia mempersiapkan produk, fasilitas dan layanannya sehingga saat pandemi mereda mereka ready untuk memuaskan pelanggan. Berikut beberapa ide dan usulan bagi UMKM agen tour dan travel konvensional agar dapat membantu menyelesaikan masalah kelesuan bisnis pada masa pandemi Covid-19:

1. Harus Go Digital 

Agen travel konvensional harus segera melakukan pengembangan dengan memperkuat sektor digital online. Selain untuk meningkatkan eksistensinya agar lebih mudah dijangkau masyarakat yang sebagaian besar merupakan pengguna internet, juga agar mampu bersaing dengan agen travel online. Agen perjalanan konvensional harus mulai memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai media promosi, reservasi, payment bahkan sampai customer care, sehingga tidak hanya mengandalkan penjualan offline.

2. Inovasi Produk dan Layanan

Tur Virtual

Agen tour dan travel konvensional dapat mulai mencoba inovasi baru misalnya membuat produk tur virtual. Beberapa tur virtual telah sukses dikembangkan. Dalam tur virtual, Tour Guide melalukan perjalanan wisata sambil membahas segala hal terkait tempat wisata termasuk situasi kondisi terkini serta peraturan kesehatan yang berlaku disana, sehingga wisatawan akan siap ketika saatnya melakukan tour nyata. Perjalanan ini diikuti secara live online oleh wisatawan melalui teknologi digital seperti zoom ataupun video conference. Hasil dari rekaman tur virtual ini juga dapat di upload di media sosial atau website sehingga dapat menjadi bahan promosi yang bagus untuk menginspirasi wisatawan.

Online Travel Advisor

Inovasi agen travel konvensional adalah membuat produk online travel advisor. Dimana akan membahas paket wisata menarik dengan lebih detail secara online. Mereka bisa menonjolkan nilai lebih yaitu kedekatan dengan destinasi wisata sehingga lebih memahami berbagai kelebihan dan kekurangan (baik dari sisi lokasi/spot, penginapan, makanan, fasilitas dll) objek wisata sebagai bahan anjuran agar wisatawan mendapatkan pengalaman wisata terbaik. Hal seperti ini juga dapat menjadi Competitive Advantage (nilai lebih) yang tidak dimiliki agen travel online yang biasanya menjual paket wisata secara lebih umum.

Promo Tren Paket Wisata New Normal

Agen tour dan travel dapat membuatkan paket-paket traveling berbiaya hemat yang menarik dengan melihat Tren Travelling apa yang masih memiliki peluang untuk dijalankan selama pandemi dan diprediksi akan menjadi Idola saat masa New Normal karena memberikan rasa aman & nyaman. Tren-tren wisata tersebut misalnya: Tur Virtual, Staycation, wisata destinasi lokal yang dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi, Family-Private travel, Activity and experiential holidays (petualangan alam) dan lain-lain.

3. Menginisiasi Sertifikasi “Bersih & Sehat”

Di beberapa negara salah satunya Singapura telah menerapkan kebijakan sertifikasi seperti “SG CLEAN” khusus sektor pariwisata. Sertifikat ini didapatkan melalui screening yang ketat dari Lembaga yang ditunjuk Pemerintah. Sebaiknya semua yang terlibat dalam industri pariwisata Indonesia termasuk agen perjalanan juga mulai menginisiasi program sertifikasi seperti ini dengan cara mengeluarkan tiket yang tersertifikasi kebersihan dan Kesehatan. Sertifikasi ini juga menjamin agen perjalanan telah bermitra dengan hotel, restaurant dan tempat pariwisata yang sudah menerapkan protokol kesehatan dan standar kebersihan dalam kegiatan operasionalnya. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan standar kualitas layanan kebersihan publik ditengah wabah virus COVID-19, sehingga diharapkan mampu memulihkan dan meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap kualitas layanan kebersihan selama mereka berwisata. Sejalan dengan hal tersebut tentunya para pengusaha agen tour dan travel harus menerapkan prioritas utama yaitu “Keselamatan dan Kesehatan”.

4. Membuat fasilitas untuk dapat mengatur dokumen perjalanan yang diperlukan oleh wisatawan di era new normalseperti medical certificated. Selain itu juga melengkapi informasi terkait penerapan kebijakan protokol kesehatan (Cleanliness, Healthy and Safety) yang diberlakukan di lokasi wisata atau negara yang akan dikunjungi.

5. Mengkampanyekan Tagline

Sebagai contoh seperti yang dilakukan pegipegi.com dalam menggalakan kampanye hastag #NantiKitaPegipegiLagi. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan awareness kepada customer tentang untuk tetap berada di rumah dan agar nantinya setelah mereda dapat kembali melakukan perjalanan seperti sedia kala. Ide iklan seperti ini bagus sebagai pengingat agar wisatawan tidak melupakan merk perusahaan mereka.

BEST PRACTICE

Sebagai best practice berkaca pada strategi agen tour & travel di negara Jepang mungkin agen travel konvensional di Indonesia dapat mencoba inovasi yang serupa. Seperti contohnya yaitu H.I.S Travel yang meluncurkan produk tur virtual. Di Jepang, tur virtual ini disambut cukup baik oleh para traveller, menurut perwakilan H.I.S dikutip dari www.travel.detik.com mengatakan, saat ini sudah ada lebih dari 4.000 orang yang mendaftar tur online tersebut, dan mereka mempersiapkan beberapa paket tur online sebagai produk utama di musim panas ini.

Selain itu dukungan penuh pemerintah Jepang dalam sektor pariwisata juga patut dicontoh. Pemerintah Jepang menginisasi program Kampanye “Go To Travel Menjelajah JepangPotongan Harga Hingga 50%! Kampanye Go To Travel ini merupakan program diskon perjalanan yang subsidi pemerintah Jepang. Fasilitas ini ditawarkan kepada semua penduduk Jepang, termasuk warga negara asing dan warga negara Jepang. Inisiatif ini dicanangkan oleh Pemerintah Jepang kemudian diluncurkan pada Juli 2020. Program ini bertujuan untuk memberikan diskon bagi pendudukmembantu menghidupkankembali bisnis agen-agen perjalanan dan menggenjot sektor pariwisata dalam negeri yang terhenti akibat pandemi COVID-19. Pemerintah Jepang bekerjasama dengan beberapa agen travel untuk melakukan reservasi. Kampanye Go To Travel berlaku untuk wisatawan yang memesan perjalanan dan rencana tur melalui agen perjalanan yang ditunjuk, dan memberikan diskon yang mencakup hingga 50% dari biaya perjalanan. Subsidi maksimum hingga 20.000 yen per orang, per malam. Siapapun yang tinggal di Jepang berhak untuk mendaftar.

SUMBER REFERENSI

Ferrel, Geoffrey A, dan Linda Ferrell. (2020). Business Foundation A Changing World Edisi 12. New York: McGraw-Hill Education.

Jones, G. R., & George, J. M. (2020). Contemporary management. New York, NY: McGraw-Hill Education.

https://www.idntimes.com/business/economy/helmi/dampak-covid-19-travel-agent-kami-tidak-ada-transaksi-sama-sekali/3

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200315/12/1213474/dampak-corona-bisnis-biro-perjalanan-hadapi-tantangan-berat

https://travel.kompas.com/read/2020/05/06/111500727/bantuan-untuk-umkm-pariwisata-dan-ekonomi-kreatif-disiapkan-selama-corona?page=1

https://www.wartaekonomi.co.id/read280995/co-founder-tiketcom-buka-bukaan-siasat-hadapi-pandemi-corona

https://travel.detik.com/international-destination/d-5040851/kiat-objek-wisata-dan-agen-travel-jepang-hadapi-new-normal

https://matcha-jp.com/en/9915

https://www.cbi.eu/market-information/tourism/how-respond-covid-19-tourism-sector

https://katadata.co.id/berita/2020/04/06/jurus-efisiensi-startup-di-masa-pandemi- pangkas-gaji-hingga-karyawan

https://www.medcom.id/rona/wisata-kuliner/aNraYdVK-kisah-agen-wisata-bangkitdari-kerugian-besar-akibat-covid-19

https://traveling.bisnis.com/read/20200605/361/1249166/virtual-tour-jadi-pilihan-wisata-di-era-new-normal

https://www.his-travel.co.id/jelajah-destinasi-virtual

CAB ADVENTURE


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
NikenTM

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format