KEWAJIBAN CAP HALAL KHUSUS OBAT-OBATAN DAN SUPLEMEN DI INDONESIA

Sertifikasi halal menjadi kewajiban negara untuk memproteksi hak-hak konsumen muslim dalam memilih obat-obatan dan suplemen.


1
1 point

Indonesia merupakan penduduk muslim terbesar di dunia, sekitar 87,2% atau 263 juta jiwaKhusus untuk makanan, obat, maupun kosmetik yang ada di Indonesia sebelum dipasarkan maka harus ada sertifikasi halal. Selama ini sertifikasi halal ditentukan oleh MUI dengan memberikan fatwa terhadap produsen yang menginginkan produknya diaudit, melalui uji coba laboratorium LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika) untuk direkomendasikan ke Badan penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).Persoalan produk halal pernah menjadi polemik di Indonesia khususnya terhadap obat-obatan dan suplemen.

http://www.halalmui.org/mui14/images/content/HalaMUI_Cermati_Kehalalan_Suplemen_dan_Obat.jpg

Sumber: Halal MUI

Obat dan suplemen kesehatan merupakan produk yang bayak dikonsumsi masyarakat. Ada produk yang bahan dan proses produksinya relatif sama namun berbeda peruntukannya, yakni obat. Obat dan suplemen adalah dua produk yang berbeda dan memiliki manfaat yang juga berbeda saat dikonsumsi. Suplemen adalah produk yang mengandung satu atau kombinasi bahan yang digunakan untuk meningkatkan angka kecukupan gizi (AKG) yaitu vitamin, mineral, tumbuhan atau bahan yang berasal dari tumbuhan, serta asam amino. Suplemen dan obat-obatan bisa berbentuk tablet, tablet hisap, serbuk, kapsul, serta produk cair berupa sirup atau larutan. Adapun obat lebih berfungsi untuk mengatasi, meredakan, atau menyembuhkan suatu penyakit. Secara proses produksi dan bahan baku, obat dan suplemen kesehatan relatif sama.  Obat dan suplemen disusun dengan berbagai bahan baku, bahan pembantu dan bahan penolong. 

Sumber:halalMUI

Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2017, sekitar 90% bahan baku industri farmasi di Indonesia berasal dari impor.Menurut Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Maura Linda Sitanggang, impor terbesar bahan baku farmasi saat ini adalah dari China, yaitu sekitar 60%. Sisanya dari India sekitar 25%, dan 5% dari Eropa dan Amerika. Semua negara pengekspor ke Indonesia kebanyakan adalah negara non-muslim yang kurang peduli akan status kehalalan obat. Oleh karena itu, perlu dipahami kandungan di dalam obat dan suplemen agar bisa terhindar dari obat dan suplemen yang belum tentu halalDari segi kehalalannya, menurut Chilwan Pandji, obat dan suplemen mempunyai beberapa titik kritis haramnya, baik dalam bentuk herbal maupun yang kimiawi. Titik kritis yang harus dicermati, antara lain:

Bahan Baku

Bahan baku merupakan bahan utama pembuat obat dan suplemen. Bahan baku bisa berasal dari hewani dan nabati. Apabila bahan baku berasal dari babi beserta turunannya atau hewan yang belum tentu halal, maka sudah jelas, produk yang dihasilkannya pasti haram.Berikut adalah bahan baku obat dan suplemen makanan yang bersumber dari babi:

bahan baku babiSumber:priyambodo1971.wordpress.com

Bahan Pembantu

Sama halnya dengan bahan baku, bahan pembantu juga harus dipastikan halal, meskipun perannya tidak sebanyak bahan baku. Pada obat dan suplemen sintesis, titik kritis pada bahan pembantu perlu diperhatikan. Misalnya pelapis tablet yang mungkin berasal dari gelatin yang harus dipastikan berasal dari hewan halal. Sama halnya dengan zat kimia yang berbentuk cair, ketika harus disimpan dalam cangkang kapsul, perlu diperhatikan apakah berasal dari gelatin atau bahan asal tumbuhan. Penggunaan emulsifier juga perlu diperhatikan berasal dari nabati atau hewan yang halal.

Bahan Penolong

Salah satunya adalah pelarut. Jika pelarutnya adalah alkohol maka perlu dipastikan bahwa sumbernya bukan berasal dari khamr.

Cangkang Kapsul

Cangkang kapsul biasanya terbuat dari gelatin. Teknologi kapsul gelatin dipilih oleh para produsen farmasi karena unggul dalam ketersediaan hayatinya, selain lebih mudah dimodifikasi dari sisi biofarmasetiknya. Bahan baku gelatin adalah kulit dan tulang dari hewan mamalia, seperti sapi dan babi. Secara garis besar, sumber gelatin untuk pembuatan kapsul dibagi atas gelatin tipe A yang berasal dari kulit babi dan gelatin tipe B yang berasal dari kulit dan tulang sapi.

Proses Produksi

Untuk obat dan suplemen sintesis, karena hanya melibatkan reaksi kimiawi, maka kecil kemungkinan adanya kontaminasi produk yang tidak halal. Namun, pada obat herbal, proses ekstraksi sangat perlu diperhatikan kehalalannya, terutama apabila ekstraksi tersebut berasal dari hewan harus dipastikan berasal dari hewan halal.

sumber:google.com

Pada tahun 2018, terdapat Kasus obat-obatan yang mengandung Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) babi yaitu Viostin DS dan Enzyplex oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang memicu berbagai kontroversi dan keresahan di kalangan masyarakat. Viostin DS yang diproduksi oleh PT Pharos Indonesia sudah beredar di pasaran cukup lama, yang artinya lembaga yang berwenang mengurusi masalah obat-obatan dan makanan (BPOM) telah memberikan surat izin edar. Viostin DS mendapat nomor izin edar oleh BPOM dengan Nomor Edar/NIE POM SD.051523771, Bets BNC6K994H setelah mengajukan sampel ke Laboratorium BPOM dan telah lolos uji oleh LPPOM MUI.

Kasus ini terungkap pada pertengahan Januari 2018, beredar luas di media sosial surat dari BPOM Kota Mataram Lombok berisi hasil pengujian sampel suplemen makanan, yaitu Viostin DS dan Enzyplex Tablet yang menyatakan bahwa produk kesehatan Viostin DS dan Enzyplex mengandung DNA Babi. Dalam surat itu ditujukan ke Balai POM di Palangkaraya yang sebelumnya mengirim surat ke Balai BPOM Mataram untuk menguji rujuk sampel kedua produk tersebut. Selain itu, berdasarkan hasil penelusuran internal, Pharos menemukan salah satu bahan baku pembuatan Viostin DS, yakni chondroitin sulfat yang didatangkan dari pemasok luar negeri dan digunakan untuk produksi bets tertentu, belakangan diketahui mengandung kontaminanMeskipun Kepala Badan POM bersama-sama dengan pihakYayasan Lembaga Konusmen Indonesia (YLKI) dan LPPOM-MUI sudah menggelar konferensi pers bersama, menindaklanjuti temuan tersebut, namun demikian masih banyak pertanyaan dari masyarakat yang masih belum terjawab. Pada umumnya mereka mempertanyakan tentang keamanan obat dan suplemen yang beredar di masyarakat, terutama terkait dengan status kehalalan dari produkproduk tersebut, mengingat kasus ini bukanlah kasus pertama yang terjadi. Terkontaminasinya produk-produk farmasi yang mengandung DNA Babi tentu telah meresahkan masyarakat atau konsumen, terkhusus bagi konsumen beragama Islam yang mengedepankan prinsip kehalalan produk. Dalam Islam, Babi atau lemak senyawa yang berasal dari babi haram hukumnya untuk dikonsumsi,apalagi banyak produk-produk farmasi yang beredar di masyarakat belum semua terjamin kehalalannya. Sementara itu, berbagai peraturan perundang-undangan yang memiliki keterkaitan dengan pengaturan Produk Halal belum memberikan kepastian dan jaminan hukum bagi masyarakat muslim. Konsumen berhak mendapatkan informasi yang jelas, benar, dan jujur tentang kandungan yang terdapat dalam obat, termasuk apakah obat tersebut mengandung babi atau tidak. 

Seperti diketahui bahwa sesuai dengan Undang – undang No.33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) maka semua produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia WAJIB “bersertifikat Halal”. Produk yang dimaksud dalam Undang – Undang ini adalah barang dan/atau jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik, serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat, termasuk produk yang diimport dari luar negeri. sesuai dengan amanat UU tersebut, maka paling lama 5 tahun sejak diundangkan (UU JPH diundangkan pada tahun2014) yaitu pada tanggal 17 oktober 2019, maka seluruh produk yang beredar di indonesia harus bersertifikat halal, termasuk produk obat dan suplemen makanan. 

Tentu ini menjadi “tantangan” tersendiri bagi produsen obat/industri farmasi di Indonesia, mengingat lebih dari 90% bahan baku digunakan berasal dari import dimana soal halal atau non-halal bagi negera-negara asal bahan baku tersebut bukan merupakan hal essensial, dan juga pasar farmasi di indonesia yang relatif sangat kecil (hanya 0,5%) bila dibandingkan dengan pasar farmasi diseluruh dunia. akan sangat sulit bagi industri farmasi diindonesia untuk “memaksa” produsen bahan baku obat tersebut untuk melakukan sertifikasi halal untuk bahan bahan baku obat yang diproduksinya. 

obat halal1

sertifikat halal bahan baku obat ini adalah salah satu syarat agar obat yang diproduksi memperoleh sertifikasi halal dari lembaga terkait. tidak hanya bahan baku aktif obat tetapi juga semua bahan olahan, bahan tambahan dan bahan penolong serta bahan pengemas primer juga harus bersertifkat halal dari produsennya. Asal bahan juga memiliki kompleksitas tersendiri dari satu formula (resep) terdiri dari beberapa bahan (terkadang lebih dari 10 bahan baku yang digunakan). masing – masing bahan baku terkadang dipasok dari beberapa pemasok yang juga punya beberapa pabrik. agar bisa tersertifikasi halal maka semua bahan yang berasal dari berbagai macam tempat tersebut harus bersertifikat halal dan bisa ditelusur serta masing-masing bahan harus terdaftar dan bisa diverifikasi.

obat halal2

selain faktor bahan baku, hal lain yang menjadi “tantangan” terhadap pelaksanaan sertifikasi halal untuk produk obat ini adalah prosesnya. baik proses produksi, lokasi produksi, pengolahan, penyimpanan, pengemasan dan penjualan serta penyajiannya. untuk proses produksi, penyimpanan, distribusi dan pemasaran harus dibuat terpisah antara bahan/produk yang sudah bersertifikat halal dan non-halal. jadi produsen/industri farmasi harus memiliki fasilitas khusus (dedicated), termasuk mesin, peralatan, fasilitas, dan lain-lain. hal ini tentu akan menyulitkan bagi industri untuk bisa memenuhi persyaratan sertifikasi halal tersebut.

Jika dibandingkan dengan negara lain contohnya Negara Malaysia yang bergerak secara agresif untuk menjadi pusat pasar halal dunia pada tahun 2020. Menurut Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Bambang Prasetya mengatakan Indonesia sangat jauh tertinggal dari Malaysia dalam hal standar halal. Dari total produk yang diperdagangkan di Tanah Air, baru 20% yang berlabel halal, sedangkan di Malaysia sudah di atas 90%Deputi Direktur Unit Komunikasi Korporasi MATRADE Wan Azhamudin Hj Jusoh menjelaskan pelabelan halal di Malaysia dilakukan oleh JAKIM, yang berada di bawah kantor Perdana Menteri. Oleh karena itu, label halal ada produk mereka mampu diterima diseluruh dunia, termasuk negara-negara yang tidak didominasi umat Muslim.Secara sistematis, pemerintah Malaysia membagi industri halal ke dalam 12 subsektoral, yaitu pangan, wisata dan tur, farmasi, sanitari dan kosmetik, bahan tambahan pangan, suplemen pangan, obat dan vaksin, keuangan syariah, logistik, produk kulit, asuransi, dan media.

Adanya sertifikasi serta labelisasi halal bukan saja bertujuan memberikan ketentraman batin pada umat Islam tetapi juga ketenangan berproduksi bagi produsen. Untuk menghadapi globalisasi ekonomi yang semakin nyata maka sertifikasi dan labelisasi halal diperlukan melindungi umat muslim. Kewajiban produsen untuk melakukan sertifikasi halal telah ada berdasarkan UU No. 7 Tahun 1996 tentang pangan dan UU No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Walaupun demikian masih banyak produsen yang belum mengajukan dan memilik sertifikasi halal. 

Pada dasarnya sertifikasi halal tidak Cuma menguntungkan konsumen tetapi juga produsen. Dengan produk halal maka pasarnya bisa menjangkau semua kalangan, baik muslim maupun non-muslim. Adapun beberapa manfaat label halal bagi produsen diantaranya sebagai berikut:

  1. Memilik unic selling point;
  2. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan konsumen;
  3. Meningkatkan citra dan daya saing perusahaan; 
  4. Sebagai alat pemasaran serta untuk memperluas area jaringan pemasaran;
  5. Memberi keuntungan pada produsen dengan meningkatkan daya saing dan omzet produksi dan penjualan;
  6. Meningkatkan marketability produk di pasar/negara muslim. 

Sedangkan bagi konsumen, sertifikasi halal berfungsi antara lain:

  1. terlindunginya konsumen Muslim dari mengonsumsi obat-obatan dan suplemen yang tidak halal;
  2. Secara kejiwaan perasaan hati dan batin konsumen akan tenang;
  3. Mempertahankan jiwa dan raga dari keterpurukan akibat produk haram;
  4. Akan memberikan kepastian dan perlindungan hukum

Di sini dapat dipahami bahwa secara konsep ideal, sertifikasi halal memiliki manfaat yang sama besar baik bagi produsen maupun konsumen, terutama bagi konsumen mengenai perlindungan hukum yang mereka dapatkan.

Sehingga, sertifikasi halal menjadi kewajiban negara untuk memproteksi hak-hak konsumen muslim dalam memilih obat-obatan dan suplemen yang berasal dari jenis dan zat yang haram. Oleh karena itu perlu regulasi yang lebih tegas untuk dapat menjangkau hak-hak konsumen muslim. Disamping itu perlu juga memberikan pemahaman, penegasan serta pengetahuan terhadap produsen untuk menjaga hak-hak konsumen muslim.

Kusuma Widya Tantri

Referensi:

Business Foundations 12th Edition , Mc Graw Hill, O,C Ferrell, Geoffrey A. Hirt, Linda Ferrell

https://ibtimes.id/data-populasi-penduduk-muslim-2020-indonesia-terbesar-di-dunia/

https://kumparan.com/@kumparanbisnis/viostin-ds-dan-enzyplex-lolos-ujilppom-mui-karena-negatif-dna-babi?ref=rel,

https://ekonomi.bisnis.com/read/20140409/12/218069/sertifikasi-halal-indonesia-tertinggal-jauh-dari-malaysia

https://priyambodo1971.wordpress.com/2018/02/08/kasus-dna-babi-pada-obat-dan-suplemen-makanan-panduan-memilih-obat-dan-suplemen-makanan-yang-toyyib-halal/

https://radarsurabaya.jawapos.com/read/2019/01/25/115873/sertifikasi-halal-dorong-pertumbuhan-bisnis-farmasi

https://tirto.id/viostin-ds-enzyplex-mengapa-kasus-obat-mengandung-babi-berulang-cD9v

https://www.farmasi.asia/apoteker-dan-produk-halal/

https://www.ajnn.net/news/mui-ingin-rebut-kembali-otoritas-sertifikat-halal-bagaimana-di-malaysia/index.html

https://bisnis.tempo.co/read/1057684/kasus-suplemen-dna-babi-lppom-mui-sertifikat-halal-tidak-wajib

https://www.halalmui.org/mui14/


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
2
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format