Pandemi, Petaka atau Peluang? Sebuah Sudut Pandang dari UMKM Kafe

Bagaimana Kafe sebagai tempat minum kopi yang juga menyajikan makanan ringan untuk pengunjungnya berjuang menghadapi pandemi Covid-19?


0
1 share

Cafe / Kafe
Cafe merupakan kata serapan dari Bahasa Perancis yang secara harafiah adalah minuman kopi atau dalam Bahasa Indonesia dilafalkan dengan menggunakan huruf K, menjadi Kafe adalah sebuah tempat minum kopi yang pengunjungnya dihibur dengan musik atau tempat makan berkonsep sederhana, biasanya yang disajikan berupa minuman dan makanan ringan. (Sumber: https://kbbi.kemdikbud.go.id/).

Membahas soal Kafe tentu tidak lengkap bila kita tidak mengulas mengenai kopi atau minuman kopi terlebih dahulu. Meminum kopi saat ini bukan hanya sebuah aktivitas atau solusi untuk menghilangkan rasa kantuk namun juga sudah menjadi sebuah gaya hidup bagi anak-anak generasi milenial saat ini. Berdasarkan data International Coffee Organization (ICO), sejak tahun 1990 konsumsi kopi di Indonesia memang terus bertumbuh rata-rata sebesar 5,16% per tahun dimana tahun 2018-2019 merupakan puncak konsumsi kopi dengan jumlah mencapai 4,8 juta kantong biji kopi. Jumlah tersebut empat kali lebih banyak dibandingkan dengan konsumsi pada 1990 / 1991.

Ketertarikan masyarakat akan kopi juga membuka peluang bagi pelaku usaha. Kafe penjaja minuman kopi kini telah hadir di berbagai tempat, dari pinggir-pinggir jalan, perumahan, kawasan bisnis hingga mall dan daerah perkantoran. Bahkan berdasarkan laporan PT Toffin dan Mix Marketing & Communication mencatat, dalam kurun waktu 2016 hingga 2019 jumlah kafe meningkat hampir tiga kali lipat. Pada tahun 2016 jumlah kafe sebanyak 1.083 unit, sementara pada tahun 2019 jumlahnya sudah lebih dari 2.937 unit.

Gambar 1. Jumlah Outlet Toko Kopi di Indonesia – (Sumber:https://interaktif.kompas.id/baca/rajin-ngopi/#:~:text=Terlebih%20ke%20depan%2C%20total%20konsumsi,di%20Indonesia%20akan%20semakin%20melesat.)

Jika kita menganalisa bisnis Kafe dari segi pemasaran, kita dapat melihat target pasar dan marketing mix yang dibuat atau dilakukanoleh para pebisnis kafe yang ada di tanah air. Dari segi target pasar atau target market, pebisnis kafe mulai menargetkan generasi milenial (orang-orang yang lahir antara tahun 1980an – 2000an) dimana saat ini mereka sedang berada di pertengahan kuliah / semester akhir bahkan mayoritas telah masuk ke dunia kerja dan memiliki uang. Sehingga dapat dikatakan bahwa segmentasi pasar yang digunakan adalah secara Demografi (usia, pendapatan, pekerjaan dan kelas sosial) serta psikografik (terkait gaya hidup). Sementara dari segi marketing mix kita dapat melihat bahwa bisnis kafe terdiri atas 4 aktivitas sebagai berikut:

  • Product: Produk yang ditawarkan oleh Kafe bukan lagi sebatas kopi sebagai komoditas atau sekedar minuman saja, namun menjadi sebuah nilai atau value bahwa meminum kopi sudah merupakan bagian dari gaya hidup / life style sehingga memunculkan persepsi bahwa meminum kopi dapat menciptakan kesan keren. Hal inilah yang dilakukan oleh beberapa kafe seperti Kopi Kenangan, Anomali Coffee hingga Starbucks.
  • Price: Harga dari kopi yang ditawarkan pun beragam sesuai dengan target market dari pebisnis kafe. Misalnya Kafe di pinggir jalan yang memiliki harga relatif murah dan menargetkan segmen konsumen kelas bawah, kafe di mall-mall yang memiliki harga menengah seperti beberapa merek kopi yaitu Kopi Kenangan, Kopi Kulo dan Janji Jiwa yang menargetkan segmen konsumen kelas menengah dan ada juga yang memiliki harga relatif mahal dan menargetkan segmen konsumen kelas menengah ke atas seperti Starbucks dan lain-lain.
  • Distribution: Saat ini pebisnis kafe mulai mengupayakan agar tokonya bisa semakin banyak dijangkau oleh konsumennya, hal ini dilakukan dengan cara membuka cabang sebanyak-banyaknya di berbagai tempat (mall atau gedung) di berbagai kota. Hal ini dilakukan agar konsumen dapat menemui produknya secara mudah dan cepat, sehingga diharapkan konsumen akan membeli produk mereka.
  • Promotion: Mayoritas kafe yang terdapat di daftar pada Gambar 1, memiliki akun Instagram masing-masing. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk mempersuasi konsumen ataupun calon konsumen untuk membeli produk kopi mereka. Tak jarang beberapa kafe juga menggunakan endorser untuk meningkatkan penjualan atau memperkenalkan produk barunya.

Gambar 2. The Marketing Mix. (Sumber: Business Foundations A Changing World)

Namun dalam masa pandemi ini, bisnis Kafe yang terlihat menjanjikan mengalami kelesuan bahkan beberapa mengalami kebangkrutan. Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai masalah ini, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu permasalah pandemi yang ada di dunia saat ini.

Pandemic Background
Saat ini Pandemi Covid-19 telah menjadi momok yang mengerikan bagi seluruh dunia tidak terkecuali Indonesia. Dengan total jumlah korban meninggal per 24 Oktober 2020 adalah sebanyak 1,15 juta jiwa di dunia dan di Indonesia sendiri telah mencapai 13.205 jiwa, menyebabkan virus ini menjadi ancaman besar bagi dunia tidak hanya dalam bidang kesehatan namun juga mengancam perekonomian global. Berdasarkan World Economic Outlook Update per Juni 2020 yang dikeluarkan oleh IMF (International Monetary Fund) menyebutkan bahwa pada tahun 2020, ekonomi dunia diprediksi akan terkontraksi sebesar 4,9% dengan hampir seluruh negara di dunia memiliki pertumbuhan ekonomi yang negatif kecuali China yang masih tumbuh positif sebesar 1%.

Gambar 3. World Economic Outlook Projections by IMF – (Sumber: https://www.imf.org/en/Publications/WEO/Issues/2020/06/24/WEOUpdateJune2020)

Di Indonesia sendiri, Ibu Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan juga memperkirakan ekonomi Indonesia di tahun 2020 juga mengalami penurunan sebesar 0,6% hingga 1,7%. “Forecast terbaru kita pada September 2020 adalah minus 1,7% sampai minus 0,6%. Ini artinya negative territory kemungkinan terjadi pada kuartal III,”kata Ibu Sri Mulyani dalam video conference APBN KiTa, Selasa (22/09/2020 – dikutip dari:https://www.bareksa.com/berita/berita-ekonomi-terkini/2020-09-24/indonesia-akan-resesi-ini-prediksi-ekonomi-2020-versi-kemenkeu-oecd-hingga-bank-dunia).

Rumah Kopi Mukidi Terpukul Pandemi
Salah satu UMKM Kafe yang terkena dampak dari adanya pandemi Covid-19 adalah Rumah Kopi Mukidi. Kafe sederhana yang berlokasi di daerah Temanggung, Jawa Tengah tepatnya di Desa Jambon, Gandurejo, Bulu, Temanggung, tepat di lereng Gunung Sumbing dimiliki oleh seorang petani kopi bernama Mukidi. Mukidi yang asli dari Temanggung merupakan sosok petani visioner yang bercita-cita agar semua petani kopi di tanah kelahirannya menjadi petani yang mandiri. ”Petani mandiri adalah petani yang dengan usahanya sendiri mengelola pertaniannya. Mulai dari olahan, penanaman, kemasan produk hingga pemasarannya.” Ucapnya.

Gambar 4. Rumah Kopi Mukidi & Bapak Mukidi. (Sumber: Twitter)

Bisnis kopi yang dimulainya dengan budi daya kopi pada tahun 2001 telah berkembang, dengan jargon “Secangkir Kopi, ada cerita, banyak saudara dan penuh cinta”, hingga awal tahun 2020 Ia telah memiliki 3 Rumah Kopi yang ketiganya berlokasi di daerah Temanggung dan sempat membuka Kafe barunya di daerah Yogyakarta bekerjasama dengan sebuah homestay yang ada di sana (Sumber: https://rmco.id/baca-berita/ekonomi-bisnis/29245/gandeng-omah-pitoe-cerita-kopi-mukidi-buka-di-yogyakarta). Beberapa produk kopi yang ada di Rumah Kopi Mukidi antara lain Kopi Jawa, Kopi Lamsi, Kopi Lanang dan yang menjadi produk unggulan tentu saja Kopi Mukidi, hasil racikan kopi arabika, robusta dan excelsa. Sederet penghargaan pun pernah diraihnya, sebut saja Liputan 6 Award tahun 2013 atas dedikasinya berkarya dan menginspirasi kategori lingkungan hidup, juara III kopi robusta pada kontes kopi Asosiasi Eksportir Kopi tahun 2014 dan juga mewakili Temanggung sebagai peserta kontes kopi spesialti Indonesia ke-7 di Amerika pada tahun 2015.

Namun sejak adanya pandemi Covid-19, ia telah menutup tiga kafenya. Penutupan ini ia lakukan lantaran kondisi usaha yang memang lesu, serta untuk menghindari kerumunan orang. “Sementara saya hanya melayani pemesanan kopi bubuk dengan penjualan secara online saja” ujar Mukidi. (Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/301883-umkm-di-temanggung-mulai-terpuruk-di-tengah-pandemi-covid-19).

Roots of the Problem
Masalah utama dari bisnis Kafe di saat pandemi Corona ini adalah adanya pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum yang tercantum dalam peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar, ketakutan masyarakat akan pandemi Covid-19 dan diperburuk dengan melemahnya daya beli masyarakat. Mari kita bahas satu persatu masalah utama yang ada:

  • Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB): Salah satu langkah yang diambil Pemerintah guna meminimalisir penyebaran Covid-19 adalah melalui PSBB yang diatur melalui Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2020. PSBB ini dapat diusulkan oleh Gubernur / Bupati / Walikota kepada Menteri Kesehatan. Sebagai contoh pada 14 September s/d 11 Oktober 2020 Pemprov DKI Jakarta memberlakukan PSBB ketat melalui Pergub No. 88 tahun 2020 yang memberlakukan beberapa aturan salah satunya mengenai restoran, kafe, ataupun rumah makan yang berada di dalam mall diizinkan beroperasi, namun tidak melayani makan di tempat. Hal ini tentu berdampak kepada aktivitas operasional Kafe, karena berkurangnya pengunjung ke mall atau orang-orang yang berpergian tentu akan mengakibatkan menurunnya customer Kafe.

Gambar 5. Infografis PSBB Ketat Ibu Kota. (Sumber: https://fin.co.id/2020/09/13/infografis-psbb-ketat-ibukota/)

  • Ketakutan Masyarakat: Keberanian masyarakat untuk berpergian ke tempat-tempat umum dengan adanya pandemi Covid-19 ini juga diperkirakan menurun. Sebagai contoh, masyarakat yang sadar akan bahaya dari penyakit ini, akan memilih untuk menjauhi tempat-tempat umum (dan juga Kafe) dan lebih memilih untuk beraktifitas di rumahnya saja. Ketakutan ini menyebabkan turunnya kunjungan ke Kafe terutama untuk melakukan pembelian, sehingga secara langsung menurunkan penjualan Kafe.
  • Melemahnya daya beli masyarakat: Dampak Pandemi Covid-19 terhadap pekerja adalah terjadinya pengurangan jam kerja, dirumahkan, cuti tanpa gaji hingga yang terburuk PHK. Dimana sektor yang paling beresiko menurut International Labour Organization (ILO) adalah layanan akomodasi, makanan, manufaktur, ritel, kegiatan bisnis, administratif, reparasi kendaraan dan properti. Data dari Kemenaker sendiri menyebutkan hingga Mei 2020, sebanyak 2.084.593 orang telah terkena PHK di Indonesia. Mayoritas berasal dari sektor formal sebanyak 1.304.777 orang, disusul dengan informal 538.385 orang dan perusahaan 241.431 orang (Sumber: https://akurat.co/news/id-1102944-read-karena-korona-1-miliar-di-phk).

Gambar 6. Data PHK di Indonesia per Mei 2020. (Sumber: https://akurat.co/news/id-1102944-read-karena-korona-1-miliar-di-phk)

Peer Analysis
Beberapa kafe diluar negeri berhasil melakukan ide gila dan brilian untuk bertahan di masa pandemi ini diantaranya:

  • Narrative Coffee: Sebuah Kafe di Everett, Washington, Amerika Serikat melakukan pendekatan dengan menarik kepercayaan pelanggannya akan higienitas Kafenya. Mereka melakukan apa yang mereka sebut sebagai Business-Wide Sanitizer Party, dimana karyawannya pada setiap jam akan berhenti sejenak untuk melakukan beberapa hal yaitu: Membersihkan pos kerja mereka (setiap tempat yang berpotensi tersentuh seperti layar kasir, nampan dan lain-lain), menukar setiap peralatan yang telah digunakan dengan yang baru (sendok, botol anggur, kendi, alat V60 dan lain-lain), melakukan sanitasi lobi dan membersihkan semua pegangan pintu di toko serta mencuci tangan. Hal ini dilakukan dengan disertai sosialisasi ke para customernya baik melalui social media maupun secara langsung, untuk menciptakan rasa aman dan nyaman di pikiran customernya bahwa mengunjungi Narrative Coffee selama pandemi. Mereka juga menjelaskan bahwa mungkin akan ada sedikit penurunan terhadap kecepatan pelayanan, namun mereka kembali meyakinkan customernya bahwa langkah ini dilakukan untuk menjaga seluruh stakeholder yang ada.

Gambar 7. Pengumuman Narrative Coffee di Instagram. (Sumber: Instagram @narrative.coffee)

  • Sunrise Cafe: Sebuah kafe di Idaho, Amerika Serikat melakukan perubahan bisnis modelnya. Kafe yang telah beroperasi selama 31 tahun sebagai tempat untuk dine in atau take away merubah bisnis modelnya menjadi Sunrise Grocer yang menjual bahan makanan. Ide gila ini bermula ketika sang istri sang pemilik pergi ke toko bahan makanan dan tidak berhasil menemukan beberapa produk yang mereka butuhkan. Ia pun mencoba untuk menelpon beberapa distributor Kafenya dan berhasil menemukan produk-produk yang diperlukan oleh banyak orang.

Jika melihat dari bentuk bisnisnya, baik Rumah Kopi Mukidi, Narrative Coffee dan Sunrise Cafe memiliki bentuk bisnis Sole Proprietorships dimana bisnis tersebut dimiliki dan dioperasikan oleh 1 orang, dimana kelebihan dari bentuk bisnis tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Mudah untuk didirikan dan dengan biaya yang murah.
  • Kerahasiaan: Tidak perlu menginformasikan rencana operasinya, sehingga mengurangi kemungkinan diketahui oleh kompetitor.
  • Distribusi dan penggunaan laba sepenuhnya menjadi hak dari pemilik.
  • Fleksibilitas dan kontrol bisnis berada di pemilik bisnis.
  • Sole proprietorships memiliki kebebasan dari regulasi yang dibuat oleh Pemerintah, karena biasanya secara regulasi diberikan kemudahan.
  • Keuntungan dari bentuk bisnis ini biasanya dianggap sebagai pendapatan pribadi yang dikenai tarif pajak individu.
  • Dapat ditutup dengan mudah, seperti yang dilakukan oleh Mukidi.

Namun, Inti dari sebuah bisnis adalah profit atau mendapatkan keuntungan. Sehingga untuk mendapatkan keuntungan, sebuah bisnis harus memiliki 3 kemampuan dasar yaitu manajemen, pemasaran dan keuangan. Apabila kita melihat permasalahan pada Rumah Kopi Mukidi dan Narrative Coffee serta Sunrise Cafe yang memberikan dua ide gila yang telah dipaparkan sebelumnya, maka kita dapat melakukan analisa lebih lanjut menggunakan konsep 3 kemampuan dasar tersebut yaitu:

Kemampuan Dasar
Rumah Kopi Mukidi Narrative Coffee / Sunrise Cafe
Manajemen
Mukidi sebagai petani visioner telah berhasil melakukan pengolahan, penanaman, pengemasan produk hingga pemasaran atas produk kopinya. Namun kemampuan dalam beradaptasi dan melakukan planning, organizing, leading dan controlling mungkin masih kurang, terutama dalam menghadapi situasi pandemi seperti sekarang ini.
Keduanya mampu beradaptasi dengan mencari dan menemukan value yang baru yang dapat diberikan kepada customernya. Seperti rasa aman yang diberikan oleh Narrative Coffee maupun kebutuhan akan bahan makanan yang disasar oleh Sunrise Cafe. Keduanya telah melakukan planning terkait langkah apa yang harus diambil ke depannya. Lalu mengorganisasikan / menjalankan rencana yang telah dibuat tersebut serta melakukan leading dengan memimpin karyawannya untuk melakukan apa yang telah direncanakan serta melakukan kontrol atas hal yang telah dilakukan.
Pemasaran
Mukidi telah menggunakan social media seperti Instagram dan Facebook, tapi keduanya masih digunakan sebatas untuk memperkenalkan produknya yaitu kopi dan belum memberikan nilai tambah lainnya ataupun mengumpulkan informasi terkait keinginan dari customernya.
Narrative Coffee telah melakukan strategi pemasaran dengan baik dimana mereka melihat bahwa yang dibutuhkan oleh customernya saat ini adalah perasaan aman dan nyaman terbebas dari ketakutan akan adanya potensi terkena virus dan mereka menyediakan hal tersebut sebagai nilai tambah yang ada. Begitu juga dengan Sunrise Cafe yang memberikan nilai tambah bahwa Kafenya tidak hanya sebagai tempat untuk dine in / take away saja tapi juga dapat menyediakan bahan makanan yang dibutuhkan.
Keuangan
Untuk mengurangi kerugian karena kondisi usaha yang lesu, Mukidi melakukan penutupan Rumah Kopinya dan berfokus kepada penjualan kopi bubuk secara online.
Untuk mengurangi kerugian keduanya tidak melakukan penutupan kafenya, melainkan dengan memikirkan strategi baru untuk dapat tetap memberikan profit / keuntungan keuangan bagi perusahaannya.

Suggestion
Rumah Kopi Mukidi atau UMKM Kafe secara general dapat menggabungkan cara-cara yang telah dilakukan Narrative Coffee dan Sunrise Cafe. Yaitu dengan melakukan disinfektan setiap jam atas area kafenya, sehingga dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung, serta mengkomunikasikan hal itu kepada para customernya melalui social media dan secara langsung. Rumah Kopi Mukidi juga dapat menambah lini usaha bahan makanan untuk menjangkau warga sekitar. Sehingga mereka dapat menikmati kopi dan makanan yang disediakan sembari berbelanja bahan makanan / kebutuhan pokok. Hal ini dapat membantu Rumah Kopi Mukidi untuk dapat tetap bertahan ditengah pandemi Covid-19 sekarang ini. Disamping itu, saya juga menyarankan agar Rumah Kopi Mukidi juga menawarkan home delivery menggunakan sepeda baik untuk produk minuman kopi, makanan, bubuk kopi, biji kopi maupun kebutuhan pokok yang ditawarkan. Hal ini tentu akan dapat membantu untuk tidak melakukan pengurangan karyawan, dimana karyawan yang sebelumnya bekerja sebagai pelayan, dapat dialokasikan menjadi pengantar menggunakan sepeda. Mensosialisasikan hal tersebut menggunakan platform sosial media juga akan berdampak baik bagi Rumah Kopi Mukidi / UMKM Kafe secara general dalam berinteraksi dengan para pelanggannya dan mengetahui apa yang menjadi needs dan wants dari para pelanggannya, sehingga dapat memberikan nilai tambah pada produk-produk yang disediakan.

Daftar Pustaka:

  1. https://mediaindonesia.com/read/detail/301883-umkm-di-temanggung-mulai-terpuruk-di-tengah-pandemi-covid-19
  2. https://www.youtube.com/watch?v=mTqc28Ov4Os
  3. https://www.youtube.com/watch?v=yk5TgcXNxj0&t=1363s
  4. https://www.guideku.com/food/2020/03/01/083000/dari-petani-ke-bisnis-kopi-begini-perjalanan-cerita-kopi-mukidi-yogyakarta#:~:text=Mukidi%20memang%20terbilang%20sukses%20dalam,gerai%20pertamanya%20di%20luar%20Temanggung.
  5. https://interaktif.kompas.id/baca/rajin-ngopi/#:~:text=Terlebih%20ke%20depan%2C%20total%20konsumsi,di%20Indonesia%20akan%20semakin%20melesat.
  6. https://mediaindonesia.com/read/detail/66828-mukidi-ini-pendekar-kopi-dari-temanggung
  7. https://m.tribunnews.com/regional/2016/08/27/kopi-mukidi-kian-tenar?page=all
  8. Business Foundations – A Changing World (12th Edition, 2020, McGraw-Hill Education) – Linda Ferrell, O. C. Ferrell, Geoffrey A. Hirt

Penulis:  Tommy Sastra Irawan
Business and Management – EMBA B 41 C
Ujian Tengah Semester


Like it? Share with your friends!

0
1 share

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
tommysastra

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format