coworking Space: Pandemi adalah Peluang


0

Sumber: Unsplash.com

Perubahan besar terjadi pada kehidupan manusia setelah pandemi COVID-19 terjadi. Dalam sekejap banyak aspek kehidupan yang sebelumnya masih diawang-awang dapat menjadi kenyataan. Sudah terbayangkan sebelumnya bahwa umat  manusia suatu hari nanti akan memiliki fleksibilitas dalam bekerja, salah satunya kebebasan untuk memilih tempat menyelesaikan pekerjaanPandemi ini seakan membawa umat manusia bahwa awang-awangan mereka sudah saatnya direalisasikan, bukan suatu hari nanti lagi, melainkan sekarang. Saat ini juga semuanya dipaksa untuk beradaptasi menyesuaikan diri menggunakan kekuatan terhebat manusia yaitu “kemampuan beradaptasi”. 

Adaptasi salah satunya terjadi pada penggunaan platform dalam jaringan. Para pengguna coworking space, mulai dari pekerja kantoran hingga anak-anak muda yang sedang berdiskusi bersama untuk membangun starup impian. Dalam sekejap coworking space menjadi sepi, tak seperti biasanya yang ramai oleh manusia yang sedang bekerja dan berdiskusi. Lalu ke manakah perginya mereka? Mereka kini berada di rumah masing-masing, namun tenang, mereka tetap bekerja dan berdiskusi kok. Kemampuan adaptasi manusia berhasil, mereka menggunakan platform rapat daring untuk tetap menjalankan peran dan mengejar mimpi. 

Perubahan dalam sekejap kebiasaan manusia yang biasanya menggunakan fasilitas coworking space untuk berdiskusi kini berubah menggunakan platform daring, salah satunya Zoom. Coworking space dan Zoom memiliki kesamaan, yaitu keduanya menyediakan ruang untuk bekerja, berkolaborasi, dan berdiskusi bersama. Tentu keberadaan pandemi ini merugikan pihak penyedia jasa coworking space karena perubahan kebiasaan manusia yang kini beralih menuju dunia maya. Oleh karena itu, dalam artikel ini, penulis akan mencoba menjelaskan mengenai lingkungan pemasaran dari kedua layanan tersebut, apa yang membedakannya, dan apa yang akan berubah setelah pandemi ini ada. Selain itu, faktor-faktor apa yang mempengaruhi kebiasaan konsumen dalam menggunakan layanan ini perlu turut dianalisis dan kemudian apa yang berubah setelah keberadaan pandemi ini. Lalu, jika kita sudah mengetahu perubahan lingkungan pemasaran dan perubahan kebiasaan konsumen, kita dapat menjelaskan bagaimana coworking space dapat menciptakan nilai bagi konsumen setelah pandemi ini selesai atau bahkan saat ini juga. 

  • Menelisik Aspek Lingkungan Pemasaran 

Lingkungan pemasaran secara umum terdiri dari lingkungan mikro dan makro. Lingkungan mikro pemasaran adalah lingkungan dari task environment produk atau perusahaan itu sendiri sedangkan lingkungan makro adalah lingkungan agregat yang mempengaruhi produk tersebut.  Lingkungan mikro terdiri dari perusahaan, pemasok, pihak perantara (marketing intermediaries), kompetitor, dan publik. Lingkungan makro terdiri dari demografi, kondisi ekonomi, lingkungan, teknologi, politik dan lingkungan sosial, serta budaya. 

Lingkungan Mikro
sumber: Kotler and Armstrong (2018)

Lingkungan Makro
Sumber: Kotler and Armstrong (2018)

Lingkungan mikro dari produk coworking space yang pertama yaitu produk itu sendiri. untuk memberikan pelayanan yang maksimal, pihak pengelola jasa coworking space harus menjaga kualitas layanan seperti kebersihan tempat, kondisi jaringan Wifi, penerangan ruangan, proyektor atau LED, alat pendingin ruangan, dll. dari segi pemasok, jasa coworking space membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak seperti pihak jasa kebersihan, penyedia layanan internet, penyewaan furnitur, dan perusahaan penyediaan air bersih. Pihak perantara (marketing intermediaries) untuk jasa coworking space dapat berupa perusahaan pengiklanan/influencer/selebgram sebagai sarana pengiklanan,  serta bank umum untuk layanan pembayaran. Pada umumnya terdapat lebih dari satu perusahaan penyedia jasa coworking space, sehingga juga terdapat kompetisi antar penyedia jasa ini. Publik yang paling dominan untuk memengaruhi jasa ini adalah pengguna jasa coworking space itu sendiri yang mana pengguna dapat bercerita atau menyebarluaskan pengalaman mereka dalam menggunakan jasa ini.

Dari sisi makro, demografi penduduk Indonesia yang banyak bekerja di perkotaan dan banyak penduduk berusia muda merupakan peluang yang besar. Selain itu, karakteristik penduduk muda yang suka untuk mengeksplorasi suasana dan tempat baru dalam bekerja turut mendorong bertumbuhnya jasa coworking space. Dari segi ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan pertambahan orang-orang yang bekerja juga dapat meningkatkan permintaan dari jasa ini, semakin banyak pekerja maka semakin banyak jasa coworking space dibutuhkan.   Namun kondisi pendapatan yang belum merata dapat menjadi tantangan untuk penyedia jasa coworking space agar dapat memberikan layanan untuk segala lapisan konsumen, seperti menyediakan coworking space dengan berbagai macam spesifikasi/kelengkapan fasilitas untuk menyesuaikan dengan kemampuan dari konsumen. Jasa coworking space sendiri tidak terlalu mempengaruhi lingkungan alam, namun lingkungan alam dapat mempengaruhi jasa ini. keberadaan jasa ini yang lebih banyak berada di kota-kota besar dapat menjadi tantangan untuk mengantisipasi adanya bencana alam seperti banjir yang dapat memberikan kerugian material kepada jasa ini. Teknologi dapat mempengaruhi jasa ini dari segi tersedianya produk komplementer seperti ruang berdiskusi online. Lingkungan politik dan lingkungan sosial tidak memiliki dampak yang signifikan untuk jasa ini, namun budaya masyarakat Indonesia yang suka mengobrol panjang lebar dapat menjadi keuntungan bagi jasa ini karena pendapatan sewa akan sejalan dengan durasi pengguna coworking space menggunakannya. 

Zoom adalah kompetitor utama jasa coworking space saat ini, memahami lingkungan mikro dari Zoom dapat membantu penyedia jasa coworking space untuk membuat strategi memenangkan kompetisi. Lingkungan mikro Zoom yang pertama adalah perusahaan Zoom. Untuk berjalan lancar, Zoom harus membangun jaringan, server, dan teknisi IT yang handal. Pemasok dari produk ini berupa penyedia layanan server untuk menyediakan layanan penyimpanan data. Marketing Intermediaries dari produk ini dapat berupa influencer dan penyedia iklan di media sosial. Kompetitor dari produk ini utamanya adalah produk yang sejenis seperti Google Meet, Microsoft Team, dan Webex. Publik yang dapat mempengaruhi produk ini adalah para pengguna dari produk ini sendiri. Publik akan sangat sensitif dengan fitur, interface , dan juga privasi yang diberikan oleh Zoom. Pengguna layanan ini sendiri terdiri dari semua kalangan. 

Tingkat Penetrasi Internet di Indonesia yang Mencapai 62.6% dari Total Penduduk
Sumber: Statista.com

Dari segi makro, demografi penduduk Indonesia yang besar adalah pangsa pasar yang besar pula. Selain itu, dari segi teknologi, tingkat penetrasi internet yang tinggi di Indonesia juga memudahkan produk Zoom untuk dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

Lingkungan pemasaran tentunya akan berubah karena adanya pandemi ini, infografis di bawah akan menjelaskan dengan singkat perubahan yang terjadi untuk kedua produk di atas

  • Analisis Perilaku Konsumen

Sumber: Kotler and Armstrong (2018)

Gambar di atas adalah berbagai faktor yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen coworking space di Indonesia. Mengingat coworking space biasanya berlokasi di perkotaan, maka perilaku konsumen akan banyak dipengaruhi oleh sub kultur warga perkotaan. Warga perkotaan yang lebih dinamis dan fleksibel serta lebih mudah untuk membangun kolaborasi dengan orang lain akan membuat masyarakat perkotaan cocok untuk menggunakan jasa ini. selain itu, masyarakat perkotaan cenderung lebih tertutup dengan kehidupan pribadi mereka, sehingga mereka akan membutuhkan ruang publik untuk bertemu dengan satu sama lain, salah satunya dengan menyewa ruang coworking space. Jenis profesi juga akan mempengaruhi perilaku konsumen, pekerjaan-pekerjaan yang langsung berhubungan dengan praktik (seperti dokter, insinyur, teknisi jaringan internet, dll.) akan lebih kecil kemungkinannya untuk menyewa coworking space daripada profesi yang lebih kolaboratif  dan luwes (seperti jurnalis, arsitek, desainer, pelajar, dll.). lingkungan pergaulan adalah faktor selanjutnya yang  mempengaruhi perilaku konsumen, seseorang yang berada di suatu komunitas yang kolaboratif akan lebih besar kemungkinannya untuk menggunakan jasa. selain itu, kepribadian seseorang juga akan mempengaruhi. Seseorang yang menyukai bekerja di ruang publik akan cenderung menggunakan jasa coworking space sedangkan seseorang yang menyukai bekerja di ruangan pribadi akan cenderung tidak tertarik dengan jasa ini. selain itu, coworking space biasanya lebih banyak digunakan oleh mereka yang masih muda daripada yang sudah tua, karena biasanya generasi tua lebih suka sesuatu yang teratur dan monoton seperti ruang kerja yang tetap. 

Lalu apakah pandemi mengubah perilaku konsumen? Tentu dalam beberapa aspek. Budaya yang terbangun setelah adanya pandemi adalah bekerja dari rumah masing-masing dan menghindari menggunakan fasilitas umum yang mudah memicu kerumunan. Perubahan budaya tersebut akan mengubah bagaimana masyarakat akan berkumpul dan berkolaborasi. Masyarakat akan cenderung menggunakan platform kolaborasi daring seperti Zoom. Selain itu, faktor psikologis seperti rasa was-was akan terkena virus akan semakin meningkatkan masyarakat untuk memilih menggunakan platform daring. Selain itu faktor usia seperti masyarakat yang rentan terkena virus akan semakin menghindari menggunakan fasilitas publik dan berusaha memenuhi kebutuhan kolaborasinya dengan platform daring. 

  • Langkah Coworking Space untuk Menciptakan Nilai dan Bertahan dikala Pandemi

Sejauh ini kita telah mengetahui perbedaan lingkungan antara kedua produk ini, perubahan apa yang terjadi dengan lingkungan pemasaran, serta perubahan apa yang terjadi kepada perilaku konsumen sebagai dampak pandemi. Pada tahap ini, kita akan mulai membahas mengenai apa yang dapat dilakukan oleh pihak penyedia jasa coworking space untuk dapat bertahan, menciptakan nilai, dan terus berkompetisi di kala pandemi maupun setelahnya. Langkah penciptaan nilai dengan suatu produk terdiri dari empat strategi yaitu:

Sumber: Kotler and Armstrong (2018)

Segmentasi adalah proses untuk membagi keseluruhan konsumen di dalam suatu pasar ke dalam kelompok-kelompok kecil yang spesifik. Targeting adalah usaha untuk menspesifikkan segmen yang akan dituju. Diferensiasi adalah usaha untuk memberikan corak atau keunikan kepada produk agar memiliki nilai lebih dibandingkan produk kompetitor. Positioning adalah usaha untuk memposisikan atau menanamkan pandangan suatu produk di benak konsumen. 

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh pihak penyedia jasa coworking space adalah dengan menelaah berbagai jenis konsumen. Berbagai jenis konsumen tersebut dapat terdiri dari konsumen coworking space yang mengutamakan fasilitas premium dengan kemampuan membayar harga yang tinggi atau konsumen yang serba “mending” fasilitas yang cukup dengan harga yang bersahabat untuk semua lapisan konsumen. Setelah mengetahui berbagai jenis konsumen yang tersedia, pihak pengelola coworking space dapat mulai menargetkan produknya untuk ditujukan kepada salah satu karakteristik konsumen. Namun terdapat kemungkinan bahwa suatu pengelola dalam satu atap coworking space dapat memberikan fasilitas yang fleksibel untuk memberikan berbagai pilihan kepada bermacam-macam jenis konsumen sekaligus. Setelah menentukan siapa konsumen yang akan dituju, pihak pengelola dapat mulai mencari tahu berdasarkan karakteristik dari konsumen yang dituju apa permintaan atau concern konsumen tersebut terhadap suatu produk working space. Misalkan suatu penyedia jasa coworking space menargetkan jasanya kepada para kaum milenial yang berpendapatan tinggi. Pihak penyedia jasa dapat mulai menyadari bahwa kaum milenial yang berpendapatan tinggi lebih memntingkan fasilitas yang terbaik walaupun dengan harga yang mahal. Dengan temuan itu, pihak penyedia jasa dapat mendiferensiasikan produknya dengan kompetitor dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang terbaik, seperti sofa yang nyaman, proyektor atau LED yang memiliki tampila visual terbaik, peredaman gedung yang baik, penerangan yang nyaman, akses internet yang kencang, fasilitas Valet parking, dan sebagainya. Selain itu, pihak penyedia jasa juga harus memperhatikan perubahan perilaku konsumen yang terjadi karena pandemi guna menyesuaikan fasilitas yang dibutuhkan, seperti menyediakan tempat mencuci tangan, handsanitizer, menyesuaikan jarak antar kursi, memberikan sekat antar pengguna, dan secara berkala menyemprotkan cairan disinfektan ke berbagai peralatan yang sering tersentuh tangan. Setelah itu, pihak penyedia jasa dapat memposisikan produknya kepada konsumen dengan strategi diferensiasi yang sudah dilakukan. Misalnya dalam kasus ini, penyedia jasa dapat memposisikan produknya sebagai coworking space dengan fasilitas premium. Sehingga ketika konsumen membutuhkan coworking space dengan fasilitas terbaik, di dalam benak mereka akan tertanam bahwa jika ingin menggunakan coworking space yang bagus maka produk dalam contoh ini adalah pilihan yang tepat. 

Sumber: Instagram @Seasia.co 

perubahan perilaku konsumen karena pandemi dapat menjadi peluang bagi penyedia jasa coworking space untuk bersiap mendapatkan konsumen baru. Menurut data yang dihimpun dari akun instagram seasia.co menguatkan bahwa lockdown atau PSBB di Indonesia mungkin akan berakhir, namun tidak dengan kebiasaan baru yaitu wrok form home. Kebiasaan baru tersebut dapat menjadi peluang baru bagi penyedia jasa coworking space untuk mendapatkan konsumen baru. Semakin banyaknya pekerja yang menginginkan fleksibilitas dalam bekerja, semakin besar kemungkinan layanan jasa coworking space akan diminati. Walaupun banyak pekerja yang memilih untuk bekerja dari rumah di masa depan, namun tidak menutup kemungkinan mereka membutuhkan suasana kerja yang baru dan lebih nyaman salah satunya menggunakan jasa coworking space untuk menyelesaikan pekerjaan. 

Dari sisi perusahaan yang mulai menyadari bahwa karyawan mereka menginginkan fleksibilitas dalam bekerja, perusahaan akan mulai mencari cara baru untuk menyediakan ruang bagi karyawannya untuk bekerja dan berkolaborasi atau rapat. Coworking space adalah salah satu jawabannya. Kebutuhkan fleksibilitas tempat bekerja dapat dipenuhi oleh pihak perusahaan dengan memberikan membership atau dengan menjalin kerja sama dengan pihak penyedia jasa coworking space. Sehingga karyawan yang ingin bekerja di luar rumah atau ingin rapat dengan anggota divisi atau tim dapat tinggal mendatangi coworking space yang sudah di-subscribe-kan oleh pihak perusahaan. Pola penyediaan ruang yang fleksibel oleh perusahaan ini tentu dapat mengurangi biaya sewa gedung yang biasanya dibayarkan oleh perusahaan untuk memberikan ruang bekerja bagi karyawannya. Sewa gedung yang luas dan bertahun-tahun lamanya dapat tergantikan dengan berupa memberikan membership kepada karyawannya untuk menggunakan sebuah ruang coworking space sesuai kebutuhan masing-masing karyawan.

oleh karena itu, untuk bertahan dikala pandemi, pihak penyedia jasa coworking space dapat mulai menyediakan fasilitas yang dibutuhkan oleh konsumen berdasarkan perubahan perilaku konsumen dan budaya setelah terjadinya pandemi ini. selain itu, budaya bekerja dari rumah justru dapat menjadi peluang besar bagi pihak penyedia coworking space untuk menyediakan ruang yang fleksibel bagi pekerja untuk memenuhi fleksibilitas kerja mereka. Penyedia coworking space sangat dianjurkan untuk dapat membangun kerja sama dan menawarkan produknya kepada pihak-pihak perusahaan. 

Sumber:          

   https://apnews.com/press-release/business-wire/046ace9f683445e7b0a2d0da7ae53669

   https://www.medcom.id/properti/news-properti/dN605zGk-coworking-space-tren-perkantoran-        di-masa-pandemi

   https://www.instagram.com/seasia.co/

   https://www.statista.com/statistics/487965/internet-penetration-in-southeast-asian-countries/ 

   Kotler, Philip, and gary Armstrong. n.d. Principles of Marketing. 17th Edition. United kindom: Pearson.

Sumber Gambar:

https://unsplash.com/

Aji Pangestu N

19/441448/EK/22466

  1. Nah, kalo temen-temen sendiri jika pandemi sudah selesai, kira-kira tetep milih work From Home atau kembali ke Kampus nih?

    1. Balek ke kampus pliss
    2. Tetep di rumah aja udah terlanjur nyaman nih
    3 votes
    Share Your Result

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
1
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
AjiPangestu

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format