Bisnis Kue Artis Lesu, Apa yang Keliru?

Sama-sama jenis kue pada bisnis bakery, mengapa bisnis kue artis kekinian ini tidak dapat memiliki popularitas yang konsisten dan berjangka panjang seperti brownies?


0

Fenomena kue artis yang merebak dan menjadi trend pada tahun 2017 hingga 2018 masih sangat melekat di ingatan. Pada masa itu, satu per satu artis Indonesia mulai mengeluarkan produk bisnis makanan berupa kue dengan mengusung tema atau membawa nama khas suatu daerah. Pertumbuhan bisnis kue artis ini tidak memerlukan waktu yang lama untuk menarik perhatian konsumen Indonesia, mengingat bahwa kue merupakan salah satu oleh-oleh yang wajib dibeli kertika bepergian ke suatu daerah. Kue artis ini memanfaatkan kebiasaan masyarakat Indonesia yang senang membeli oleh-oleh dengan membangun kesan bahwa kue artis menjadi salah satu oleh-oleh khas dari daerah terkait. Sebut saja beberapa kue artis yang eksis pada saat itu adalah Bandung Makuta, Princess Cake, Mamahke Jogja, Cakekinian, Bandung Kanaya, Kuenya Ayu, Bosang Makassar, dan merek kue artis lainnya. Tampilan kue yang cantik dan kepopuleran artis pemilik bisnis kue berhasil menarik konsumen untuk berbondong-bondong datang dan memborong kue tersebut. Pada masa itu, antrean panjang mengular dan tulisan sold out bukan lagi hal yang asing pada tiap outlet kue artis yang ada di tiap daerah. Hampir setiap hari, outlet kehabisan stok kue bahkan sebelum jam tutup outlet. Konten sosial media kala itu ramai membicarakan fenomena kue artis ini, bahkan tak sedikit pula konten yang berisi perbandingan antara kue artis yang satu dengan kue artis lainnya, baik yang berada pada satu daerah maupun berbeda daerah. Terbatasnya keberadaan outlet kue artis yang hanya ada pada daerah tertentu saja tidak membatasi semangat konsumen untuk membeli dan mencoba rasa dari kue, sehingga munculah “jasa titip” kue artis ini ke berbagai daerah. 

Akan tetapi, euphoria kue artis tersebut tidak bertahan lama. Tahun 2020 ini, tidak terdengar lagi kabar terkait kue-kue artis ini. Bahkan, sejak tahun 2019, beberapa akun sosial media kue artis yang telah berhenti memposting produknya. Ada pula kue artis yang mengumumkan bahwa toko tutup sementara, akan tetapi hingga satu tahun berlalu, toko masih belum beroperasi kembali. Eksistensi kue artis yang kian meredup menimbulkan tanda tanya, mengapa popularitas dan euphoria yang begitu besarnya hanya bertahan dalam waktu yang sekejap. 

lifemadesimplebakes.com

Apa yang terjadi pada kue artis ini dapat dikatakan berbeda dengan yang terjadi pada produk makanan yang masih dalam jenis yang sama yaitu kue, sebut saja kue brownies. Seperti yang telah banyak orang ketahui, brownies pada dasarnya adalah produk gagal yang disebabkan kesalahan saat pertama kali pembuatan. Kegagalan pembuatan kue bolu oleh si pembuat pada waktu itu karena si pembuat kue ini lupa untuk menambahkan pengembang pada adonannya melahirkan suatu produk yang kemudian dikenal dengan nama kue brownies. Meskipun pada awalnya merupakan produk gagal, akan tetapi eksistensi brownies tidak dapat dipandang sebelah mata. Sejak kemunculannya hingga saat ini, brownies masih tetap eksis bertahan dan menjadi favorit semua kalangan masyarakat. Di Indonesia, salah satu bisnis brownies yang terkenal adalah Brownies Amanda. Awal berdiri di Bandung, kini Brownies Amanda dapat ditemui di banyak kota besar di Indonesia. Produk khas dari Brownies Amanda adalah brownies kukus yang memiliki tekstur seperti bolu. Tak hanya brownies kukus, terdapat pula berbagai tipe brownies seperti brownies fudgy, cakey, dan chewy yang memiliki penggemarnya masing-masing. Sebagai sesama jenis kue pada bisnis bakery, mengapa bisnis kue artis kekinian ini tidak dapat memiliki popularitas yang konsisten dan berjangka panjang seperti brownies?

Guna membandingkan kedua bisnis ini, konsep BCG Growth-Share Matrixdapat digunakan untuk melihat perbedaan pasar antara bisnis kue artis dan Brownies Amanda. Pencarian dan perbandingan trend yang dilakukan melalui Google Trends menunjukkan perbandingan Brownies Amanda dengan beberapa merek kue artis, yaitu:

Dalam BCG Growth-Share Matrix, kue-kue artis berada pada kelas “Dog” dikarenakan pangsa pasar dan pertumbuhan pasar kue-kue artis ini rendah, dilihat dari trend yang berada di bawah Brownies Amanda dan melihat bahwa saat ini telah banyak outlet kue artis yang tutup dan tidak ada lagi kabarnya, sedangkan untuk Brownies Amanda kelas “Question Mark” yang mana pangsa pasarnya pada industry bakery tidak terlalu tinggi tetapi tingkat pertumbuham pasarnya tinggi karena minat konsumen yang masih besar terhadap Brownies Amanda. 

Perbandingan bisnis kue artis dan Brownies Amanda selanjutnya dapat dilihat melalui konsep design value-driven marketing strategy, yaitu kue artis menerapkan designthe selling conceptdan Brownies Amanda menggunakan the marketing concept. Perbedaan antara kedua konsep design tersebut adalah pada the selling concept yang diterapkan kue artis, bisnis dimulai bukan karena fokus pada pasar melainkan pada produksi pabrik atau dapur itu sendiri. Oleh karena itu, fokus bisnis kue artis ada pada produk yang dibuat, yang mana produk antar kue artis sebagian besar memiliki rasa yang sama dan hanya mengandalkan popularitas nama artis pemiliknya, sehingga pertumbuhannya hanya karena “ikut-ikutan” trend yang sedang berlangsung. Profit yang dihasilkan pun berdasarkan pada total penjualan yang dilakukan, yang mana pada awal pendirian toko volume penjualan masih besar karena rasa penasaran konsumen, sedangkan setelah berjalan beberapa waktu, penjualan tidak lagi sebanyak dulu dan bahkan meredup. Kemudian, terkait Brownies Amanda yang menerapkan the marketing concept, bisnis dimulai dengan berfokus pada pasar, sehingga produk yang dihasilkan akan menyesuaikan pada kebutuhan atau keinginan dari pasar. Seiring berjalannya waktu, Brownies Amanda mengikuti perkembangan pasar dengan mengadakan inovasi pada rasa dan produk brownies, dengan catatan inovasi yang dilakukan tidak mengubah rasa original dari produk brownies awal. Oleh karena itu, profit yang diperoleh Brownies Amanda didasarkan pada kepuasan pelanggan setelah melakukan pembelian yang mendorong pelanggan untuk selanjutnya melakukan pembelian kembali produk brownies.

                                                                        Instagram.com/amandabrownies

Apabila dilakukan analisis menggunakan konsep consumer and buyer behavior, perbandingan marketing mix dari kue artis dan produk brownies yaitu:

Marketing Mix

Kue Artis

Brownies 

(Produk Brownies Amanda)

Product

Kue yang umumnya dasar kue tersebut adalah kue bolu, dengan beberapa variari rasa atau topping kekinian, disertai dengan variasi bahan lain seperti pastry sebagai suatu pembeda tekstur pada kue. 

Produk utama dari Brownies Amanda yaitu brownies kukus dengan berbagai varian rasa seperti original, sarikaya pandan, strawberry, dan lainnya. Selain brownies kukus, Brownies Amanda juga menyediakan produk brownies lain yaitu brownies bakar dan brownies kering.

Price

Rata-rata, harga satu kotak kue artis berkisar pada harga Rp45.000 hingga Rp80.000. Harga kue bergantung pada perbedaan rasa atau topping kue. 

Harga brownies bergantung pada tiap produknya. Brownies kukus berada pada kisaran harga Rp36.000 – Rp75.000, brownies bakar seharga Rp40.000 – Rp48.000, dan kisaran harga brownies kering yaitu Rp33.000 – Rp43.000. 

Place

Satu merek kue artis dipasarkan pada satu daerah tertentu, mengingat bahwa tiap nama kue artis membawa khas nama daerah. Misalnya Bandung Makuta, maka outlet kue milik Laudya Cynthia Bella ini hanya berada di Bandung, Jawa Barat, kemudian Bosang Makassar milik Ricky Harun beroperasi di Makassar, sesuai dengan nama kue.

Outlet yang awalnya hanya ada di Bandung, Jawa Barat, kini telah berkembang ke seluruh wilayah di pulau Jawa, bahkan hingga ke luar pulau Jawa, yaitu Sulawesi, Sumatera, Bali, dan Kalimantan. Berbeda dengan kue artis, outlet Brownies Amanda tersebar di hamper seluruh wilayah Indonesia.

Promotion 

Promosi yang dilakukan berfokus pada sosial media seperti Instagram, baik melalui akun si artis pemilik atau akun produk kue artis. Promosi kue melalui akun sosial media artis pemilik sangat mendorong popularitas kue artis ini sehingga tanpa memerlukan waktu yang lama, produk kue tersebut kemudia viral di kalangan masyarakat.

Promosi awal Brownies Amanda dilakukan dengan skala kecil melalui ibu-ibu rumah tangga. Setelah bisnis berjalan semakin besar, promosi produk dilakukan dengan iklan melalui baliho atau banner yang ada di tempat umum. Selain itu, promosi melalui sosial media juga tak luput dilakukan oleh Brownies Amanda seperti melalui akun Instagram

Selain dilihat dari marketing mix, perbandingan antara kue artis dengan brownies dapat dilihat melalui konsep buyer characteristic yaitu (1) Culturalpada dasarnya budaya masyarakat Indonesia yang senang membeli kue sebagai oleh-oleh ataupun hidangan di rumah dapat masuk atau sesuai dengan bisnis keduanya, baik kue artis maupun Brownies Amanda. Akan tetapi, terkadang masyarakat Indonesia lebih menyukai kue-kue dengan rasa sederhana yang tidak terlalu banyak topping berbagai rasa pada kue, sehingga popularitas sekejap kue artis hanya karena rasa penasaran masyarakat. Kemudian, (2) Social, masyarakat yang membeli kue artis adalah mereka yang penasaran dengan tagline “kekinian” yang melekat pada kue artis, sedangkan konsumen brownies adalah pelanggan yang pada umumnya melakukan repurchase. (3) Personal, pembelian kue artis didasrkan pada rasa penasaran konsumen yang mana setelah pembelian terjadi dan rasa penasaran terjawab, banyak konsumen tidak melakukan repurchase, sedangkan pembelian brownies ditujukan sebagai buah tangan saat bepergian atau hendak berkunjung ke suatu tempat, dan (4) Psychological, terdapat kecenderungan FOMO (Fear of Missing Out) pada masyarakat akan suatu hal yang dianggap kekinian atau viral, sehingga kue artis dengan konsep kekinian itu trend dan banyak dibeli masyarakat pada awal kemunculannya, sedangkan masyarakat membeli brownies bukan lagi karena menjawab rasa penasaran, tetapi lebih kepada pembelian ulang untuk buah tangan. Setelah diketahui karakteristik pembeli, terdapat pula alur dari keputusan pembelian dari si pembeli, yaitu need recognition, information search, evaluation of alternatives, purchase decision, dan postpurchase behavior. Kelima tahapan itu apabila diterapkan pada kedua bisnis yaitu kue artis dan Brownies Amanda, maka perbedaan dapat ditemukan pada tahap awal yaitu pembeli kue artis didasari rasa penasaran yang mendorong pembelian, sedangkan brownies didasari kebutuhan oleh-oleh atau hidangan. Selanjutnya, perbedaan juga dapat dtemukan pada tahap akhir, yaitu tahapan setelah pembelian yang mana kue artis tidak terus-menerus di-repurchase karena rasa penasaran masyarakat sudah terjawab dan pada nyatanya rasa yang dimiliki kue artis ini tidak lebih enak daripada kue lainnya, sedangkan pelanggan brownies tetap melakukan repurchase setelah pembelian awal.

Solusi

Tutupnya beberapa toko artis dan redupnya sebagian toko kue artis yang masih berdiri memperlihatkan bahwa adanya hal yang perlu diubah dari proses bisnis produk kue artis demi mengembalikan popularitasnya. Tidak hanya bermodal nama besar artis pemilik, akan tetapi rasa dan kualitas dari kue yang diproduksi perlu diperhatikan. Mengeluarkan rasa atau inovasi yang benar-benar khas dari kue tersebut dapat menjadi langkah yang ditempuh untuk kembali mandapat pasar. Kue artis selama ini hanya perkara bisnis ikut-ikutan trend tanpa mengedepankan apa yang membedakan kue ini dengan yang lainnya. Berbeda dengan Brownies Amanda yang berusaha mencari resep brownies yang paling sesuai dengan keinginan masyarakat dan berbeda dengan kue lainnya, sehingga konsumen masih setia untuk membeli produk Brownies Amanda. Oleh karena itu, antar kue-kue artis dapat mengikuti langkah tersebut dengan memastikan bahwa produk kue yang ditawarkannya benar-benar menyajikan rasa dan ke-khas-annya daripada produk kue lain.

Referensi :

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20190919113818-33-100631/ini-3-sebab-bisnis-kue-kue-artis-cuma-bertahan-seumur-jagung

https://amp.wartaekonomi.co.id/berita131275/inilah-rahasia-brownies-amanda-kuasai-pasar-nasional

https://radartulungagung.jawapos.com/read/2020/07/21/205271/indonesia-franchise-boom-mana-yang-lebih-menghasilkan

https://wiratech.co.id/brownies-kukus/amp/

https://journals.telkomuniversity.ac.id/liski/article/download/1820/999/

https://www.google.co.id/amp/s/www.idntimes.com/food/dining-guide/amp/yoshi/10-kue-artis-di-jawa-barat-1

https://lifemadesimplebakes.com/thick-chewy-better-boxed-brownies/

Kotler, P. and Armstromg, G. (2018), Principles of Marketing, 17th ed. Harlow, UK : Pearson Education Ltd.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Ruhmasyafia

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format