Kabar dari Industri Penerbitan di Masa Pandemi

Sebuah ulasan analisis pemasaran terhadap dua penerbit yaitu Marjin Kiri dan Nosy Crow yang mengalami hasil kinerja berbeda akibat dampak COVID-19.


0

Tak terasa kini kita hampir sampai pada penghujung tahun 2020. Pandemi COVID-19 yang bermula menyebar diawal tahun 2020 telah bergulir hampir setahun lamanya. Tentu seperti yang kita semua sadari, pandemi COVID-19 ini bisa dibilang memengaruhi hampir segala aspek kehidupan dan berbagai komponen masyarakat Begitu banyak pihak yang terimbas dari pandemi ini mulai dari sektor-sektor usaha hingga unit rumah tangga. Industri kreatif khususnya industri penerbitan buku pun tak luput dari getah pahit pandemi COVID-19. Berdasarkan hasil survei Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), sejak diterapkannya kebijakan pembatasan sosial oleh pemerintah sebanyak 58,2 persen penerbit mengalami penurunan penjualan hingga lebih dari 50 persen. Sedangkan 29,6 persen penerbit lainnya mengalami penurunan penjualan sebanyak 31-50 persen, 8,2 persennya lagi mengalami penurunan sebanyak 10-30 persen, dan hanya 4,1 persen penerbit yang tingkat penjualannya mampu bertahan stabil layaknya hari biasa. Dari data tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa industri penerbitan buku di Indonesia mendapat hantaman yang cukup keras dari pandemi ini. Salah satu penerbit dari 58,2 persen yang mengalami penurunan penjualan cukup besar adalah Marjin Kiri Publisher. Penerbit kritis independen yang menghadirkan buku-buku seputar sosial politik, sastra, filsafat, dan ekonomi ini mengalami penurunan penjualan hingga 55 persen. Titik nadir nya sampai mengharuskan Marjin Kiri untuk memotong gaji para editor demi bertahan di masa krisis ini.

Koleksi buku Marjin Kiri. (sumber: whiteboardjournal.comKoleksi buku Marjin Kiri. (sumber: whiteboardjournal.com)

Pandemi COVID-19 yang mengglobal dan menyebar hampir ke seluruh negara di dunia mengakibatkan negara-negara lain juga mengalami situasi yang sama seperti Indonesia. Keterpurukan di berbagai aspek dan sektor tak hanya dialami oleh Indonesia. Industri penerbitan buku di negara lain pun mayoritas juga mengalami penurunan penjualan seperti dilansir dari website International Publisher Association yang menampilkan data imbas penjualan buku dari banyak negara, contohnya penjualan buku di Kanada yang jatuh sampai 65,3 persen dan Mexico yang jatuh sampai 49 persen dibanding tahun lalu. Namun ternyata, masih ada negara yang tak mengalami hal serupa yaitu Inggris. Penjualan buku oleh penerbit di Inggris cenderung mengalami tren yang menanjak. Menurut laporan dari Guardian, faktanya total penjualan buku di Inggris menanjak sebanyak 6 persen di awal masa pandemi. Salah satu penerbit di Inggris yang mengalami tren ini adalah Nosy Crow. Nosy Crow adalah penerbit buku-buku anak pemenang berbagai penghargaan. Nosy Crow menempati urutan ke-12 penerbit buku anak-anak terbesar di Inggris. Pada masa pandemi ini, Nosy Crow berhasil mengambil peluang dengan menerbitkan buku digital mengenai serba-serbi virus COVID-19 yang diperuntukkan untuk anak-anak dan dikemas secara menarik. Buku digital ini sukses menarik perhatian tak hanya pembaca dari Inggris saja tetapi juga pembaca di 14 negara lainnya dan telah diunduh lebih dari 100.000 kali. Traffic website dan kanal media sosial Nosy Crow bahkan meningkat hingga 100 kali lipat dari minggu sebelum buku tersebut dipasarkan.

Koleksi buku Nosy Crow. (sumber: nosycrow.com)

Baik Marjin Kiri maupun Nosy Crow, keduanya sama-sama merupakan usaha penerbitan buku yang sama-sama berada di negara terdampak penyebaran virus COVID-19. Lantas, mengapa outcome penjualan buku atas usaha yang masing-masing penerbit lakukan di masa pandemi ini menjadi berbeda? Untuk mencoba memecahkannya, kita perlu melakukan beberapa analisis pemasaran terhadap aspek-aspek yang memengaruhi kedua usaha penerbitan.

  1. Marketing Environment

Untuk menganalisis lingkungan pemasaran, kita dapat meninjau dari segi lingkungan makro dan lingkungan mikro. Lingkungan mikro merupakan pihak-pihak yang dekat dengan perusahaan dan berdampak pada kemampuan kinerja perusahaan seperti perantara, pasar pelanggan, kompetitor, dan publik. Sedangkan lingkungan makro merupakan kekuatan atau faktor dalam skala yang lebih besar dan berdampak pada lingkungan mikro seperti demografi, ekonomi, alam, teknologi, politik, dan kultural.

Analisis lingkungan makro:

  • Marjin Kiri: Sejak awal tahun sekitar bulan Maret lalu ketika pandemi COVID-19 baru menyebar di Indonesia, pemerintah bergerak cepat mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial dan segera menghimbau masyarakat untuk sebisa mungkin tinggal di rumah. Mulai dari perkantoran hingga sekolah-sekolah merumahkan pekerja dan siswa-siswanya. Kebijakan pemerintah ini berimbas langsung pada usaha-usaha yang mengandalkan metode penjualan offline dalam memasarkan produknya. Misalnya, jumlah pengunjung mall jauh menurun sampai-sampai tak sedikit mall harus menghentikan sementara kegiatan operasionalnya. Hal serupa juga dialami oleh toko-toko buku yang ada di Indonesia. Akibat jauh berkurangnya pembeli mau tak mau para toko buku pun juga harus menutup lapaknya. Hal ini lah yang mengakibatkan penurunan penjualan Marjin Kiri. Walaupun Marjin Kiri juga melayani pembelian melalui laman situs dan reseller-reseller yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, angka penjualan tersebut belum mampu menutupi penurunan penjualan dari toko-toko buku offline. Menanggapi hal ini, pemerintah melakukan sejumlah inisiatif seperti bantuan relaksasi pajak bagi industri kreatif dan mengadakan program menulis bertajuk “menulis dari rumah” oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk mendorong produktivitas penulis. Namun, harapannya mungkin pemerintah bisa berperan lebih aktif lagi dalam menganjurkan masyarakat untuk giat membaca buku yang sejalan dengan himbauan tinggal di rumah. Selain kebijakan pemerintah yang berpengaruh pada Marjin Kiri, dari segi ekonomi pun juga memengaruhi karena nilai mata uang rupiah yang melemah terhadap dollar AS. Bahan baku yang dibutuhkan Marjin Kiri untuk menerbitkan buku seperti kertas, bahan cetak, dan sebagainya didapatkan secara impor dan mamatok dollar AS. Dari segi teknologi, sebenarnya terdapat opsi lain bagi Marjin Kiri untuk tetap memproduksi buku dengan format ebook dan audiobook yang telah marak dilakukan oleh penerbit lain. Untuk sekarang, Marjin Kiri telah menawarkan versi digital dari beberapa koleksi buku namun belum ada untuk audiobook.

  • Nosy Crow: Tak jauh berbeda dengan negara-negara lain, Inggris juga menerapkan kebijakan lockdown yang menyebabkan tutupnya sekolah-sekolah, perkantoran, dan pertokoan. Namun, mungkin yang agak membedakan Inggris dengan negara lainnya adalah inisiatif pemerintah untuk menopang industri penerbitan buku melalui pemberian stimulus dan keringanan pajak. Selain itu, pemerintah Inggris juga memberi anjuran pada masyarakat untuk giat membaca melalui aksi nyata dengan membeli hak cipta buku-buku dari penerbit lokal untuk bisa tersedia diakses seluruh masyarakat secara online di website perpustakaan daerah. Hal ini dinilai cukup membantu perusahaan penerbitan seperti Nosy Crow untuk bertahan di masa krisis. Di Inggris, kebijakan lockdown juga berakibat pada tutupnya tempat-tempat rekreasi dan hiburan sehingga secara demografis keluarga dengan anak-anak dibawah 15 tahun yang mengambil 27 persen dari populasi Inggris menurut data PBB perlu mencari alternatif untuk menemani keseharian anak-anak mereka di rumah. Nosy Crow yang memiliki segmentasi pasar terfokus pada buku anak-anak mendapat keuntungan dari hal ini. Dari segi teknologi, Nosy Crow telah mengikuti perkembangan format buku yang bisa menjadi opsi alternatif bagi para konsumen dengan mengeluarkan ebook dan audiobook yang dipublikasi secara rutin. Bahkan, Nosy Crow juga menyediakan beberapa buku digital secara gratis agar lebih bisa menjangkau segala kalangan.

Analisis lingkungan mikro:

  • Marjin Kiri: Dari segi perusahaan, Marjin Kiri merupakan perusahaan penerbit independen yang berfokus menghadirkan buku terpilih di bidang sosial, ekonomi, politik, sastra, sejarah, dan filsafat. Marjin Kiri mementingkan gagasan-gagasan progresif dan kualitas substansi yang bisa dipertanggungjawabkan dari buku-bukunya. Penerbit yang berbasis di Jakarta Selatan ini telah berdiri sejak tahun 2005 dan telah berhasil meraih berbagai pencapaian seperti mendapat undangan dari Frankfurt Book Fair dan Norwegian Literature Abroad (NORLA). Dari segi pemasaran buku, Marjin Kiri bekerja sama dengan toko buku-toko buku independen di berbagai penjuru Indonesia sebagairesellerseperti Janaloka di Sleman (DIY), Utarakan di Tarakan (Kalimantan Utara), dan Simulkra di Surabaya (Jawa Timur). Toko-toko buku ini tak hanya beroperasi melalui toko buku fisik melainkan juga memanfaatkan platform media sosial. Namun, Marjin Kiri belum meanfaatkan penggunaan marketplace seperti Shopee atau Tokopedia sebagai marketing intermediaries. Dari segi competitiors, terdapat perusahaan penerbit yang bergerak di bidang serupa dengan skala yang kurang lebih sama besar yaitu Komunitas Bambu (Kobam) yang berbasis di Depok, Jawa Barat. Kobam dan Marjin Kiri sama-sama berlomba-lomba menyediakan buku sejarah dan humaniora berkualitas bagi masyarakat. Selain itu, terdapat juga perusahaan penerbitan dengan skala lebih besar seperti Penerbit Mizan dan KPG yang lebih stabil juga memiliki pangsa pasar cukup besar. Masalah lain dari industri penerbitan di Indonesia, pembajakan illegal dengan mendistribusikan PDF buku atau menjual buku cetak dengan harga miring juga marak terjadi. Ditinjau dari segi customer, segmentasi pasar Marjin Kiri yaitu rentang usia 18 tahun keatas yang tertarik dan menggemari topik tema sejarah, ekonomi, politik, sastra, dan filsafat. Marjin Kiri ini sendiri menargetkan mahasiswa dan akademisi sebagai konsumen utama dari buku-bukunya.

Logo Marjin Kiri. (sumber: marjinkiri.com)

  • Nosy Crow: Nosy Crow merupakan penerbit independen yang berfokus menerbitkan buku anak-anak untuk usia 0-12 tahun yang berbasis di London, Inggris. Penerbit yang telah berdiri sejak Januari 2011 ini memiliki misi menciptakan buku-buku yang mendorong anak-anak membaca untuk kesenangan dan telah berhasil memenangkan berbagai penghargaan misalnya Independent Publishers Guild Children’s Publisher of the Year Award. Selama masa pandemi, Nosy Crow aktif berinovasi menerbitkan buku bertema COVID-19 untuk anak-anak dalam format digital dan audiobook. Dari segi pemasaran dan penjualan buku, Nosy Crow bekerja sama dengan beberapa marketing intermediaries dari retailer sseperti Waterstones dan Amazon juga beberapa toko buku independen. Dari segicompetitors, terdapat penerbit buku anak-anak di Inggris bernama Bloomsbury Children’s Book yang tahun ini memenangkan penghargaan Children’s Publisher of The Year yang sebelumnya selama 7 tahun terakhir dimenangkan Nosy Crow sebanyak 4 kali. Selain itu, terdapat juga penerbit buku anak-anak lain dengan skala lebih besar bernama Andersen Press yang di masa pandemi ini berhasil meningkatkan penjualannya hingga 2000 persen berkat penjualan buku tentang menjaga kebersihan. Dari segi customers, Nosy Crow fokus menargetkan anak-anak usia 0-12 tahun tak hanya di Inggris namun juga menjangkau beberapa negara berkat kerjasama Nosy Crow dengan penerbit luar negeri seperti Australia, USA, dan New Zealand.

Logo Nosy Crow. (sumber: prnewswire.co.uk)

2. Analisis Buyer Characteristics

Karakteristik pembeli sangat memengaruhi proses pembuatan keputusannya. Terdapat beberapa faktor yang menentukan karakteristik pembeli antara lain kultural, sosial, personal, dan psikologis.

  • Marjin Kiri: Menurut data riset Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD), tingkat minat baca penduduk Indonesia menempati urutan 60 dari 72 negara pada tahun 2017. Data ini menunjukkan betapa rendahnya budaya literasi di negara ini yang berkorelasi positif terhadap minat dan ketertarikan konsumen pada produk buku. Buku belum menjadi kebutuhan bagi masyarakat Indonesia. Di masa pandemi COVID-19, masyarakat usia produktif yang menjadi segmentasi pasar Marjin Kiri walaupun dirumahkan tetapi mayoritas dari mereka tetap disibukkan dengan kewajiban pekerjaan bahkan bisa melampaui waktu dibanding saat bekerja offline. Dengan intensitas pekerjaan yang lebih tinggi dan mengharuskan orang-orang untuk menatap layar laptop secara terus menerus, pada jeda waktu yang mereka miliki masyarakat kemudian cenderung memilih untuk beristirahat atau melakukan aktivitas relaksasi dibanding membaca buku. Selain itu jika kita tinjau dari segi ekonomi, di masa pandemi ini pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun dan mengalami kontraksi pada kuartal I tahun 2020 hingga mencapai nilai negatif pada kuartal II tahun 2020 yang berakibat pada menurunnya daya beli masyarakat. Terlebih lagi, buku bukanlah menjadi kebutuhan bagi mayoritas masyarakat Indoensia, di masa seperti ini masyarakat pasti lebih memilih untuk mencukupi kebutuhan pokok.

  • Nosy Crow: Masyarakat Inggris memiliki tingkat budaya literasi terbilang tinggi menurut hasil riset OECD yaitu dengan nilai sebesar 504 diatas rata-rata sebesar 487 pada tahun 2018. Minat masyarakat Inggris terhadap buku tentu relatif tinggi dan untuk sebagian besar masyarakat buku telah menjadi kebutuhan. Di masa pandemi ini, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah dilakukan secara online yang menuntut peran aktif orang tua lebih banyak membuat permintaan terhadap buku edukasi anak-anak meningkat demi menunjang pendidikan anak-anak mereka. Selain itu, kebanyakan orang tua menyuplai atau memfasilitasi anak-anaknya dengan buku karena tidak mau anak-anaknya menghabiskan waktu di rumah hanya dengan bermain gadget. Dari segi ekonomi, PDB per kapita dan tingkat rata-rata pendapat masyarakat Inggris juga terbilang cukup tinggi sehingga walaupun pandemi terjadi keadaan ekonomi masyarakat relatif lebih stabil dibanding negara-negara dengan tingkat pendapatan lebih rendah. Maka dari itu, masyarakat Inggris terbilang masih mampu untuk memenuhi kebutuhan sekunder seperti misalnya buku ini.

3. Analisis SWOT di Masa Pandemi COVID 19

Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu usaha. Dengan melakukan analisis SWOT di masa pandemi ini, suatu usaha dapat menentukan langkah terbaiknya untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan risiko. Berikut ini adalah tabel analisis SWOT dari Marjin Kiri dan Nosy Crow:

Saran dan Solusi

Setelah mencoba menganalisis dan memaparkan apa yang menjadi kunci-kunci penting dari perbedaan outcome usaha yang dilakukan kedua penerbit buku Marjin Kiri dan Nosy Crow, tentu kini kita dapat mulai memahami faktor-faktor yang berperan memengaruhi hal tersebut. Bagi penerbit Nosy Crow di Inggris, pandemi COVID-19 belum kunjung usai maka harapannya penerbit ini bisa terus berionovasi demi terus bertahan menghadapi krisis ini. Bagi penerbit Marjin Kiri di Indonesia yang tengah mengalami penurunan penjualan terdapat beberapa solusi yang bisa dilakukan misalnya seperti beralih pada alternatif membuat konten-konten bermutu seputar kepenulisan dan buku pada media sosial Marjin Kiri atau melakukan kolaborasi webinar dengan penulis-penulis terkait sehingga tidak hanya bergantung dari penjualan buku tetapi bisa menyediakan pelayanan lain. Selain itu, Marjin Kiri juga bisa ikut berinovasi menerbitkan buku dalam format audiobook yang sebagai bentuk penyesuaian dalam menghadapi pandemi COVID-19. Solusi lain yang agak berbeda dan mungkin bisa dilakukan oleh Marjin Kiri adalah dengan memasarkan bukunya melalui kerja sama dengan beberapa ritel supermarket tempat orang-orang membeli barang-barang pokok. Hal serupa telah diterapkan beberapa penerbit di Amerika Serikat dengan memasarkan bukunya di supermarket seperti Walmart atau Target dan meletakkan buku-buku mereka dekat dengan barang yang esensial dibutuhkan di masa pandemi ini seperti tisu toilet dan masker sehingga banyak orang-orang secara tak sengaja bersinggungan dengan produk buku tersebut dan akhirnya muncul keinginan untuk membelinya. Semoga pada akhirnya industri penerbitan buku di negara apapun itu bisa lekas membaik seperti sedia kala.

Referensi

www.nosycrow.com

https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/17/181048665/ironi-hari-buku-nasional-penjualan-buku-lesu-selama-pandemi-covid-19?page=all
https://www.smithsonianmag.com/smart-news/amid-covid-19-school-closures-sales-kids-educational-books-are-rise-180974518/

https://www.pulauimaji.org/post/ke-mana-masa-depan-perbukuan-indonesia-pasca-pandemi

https://www.weforum.org/agenda/2020/04/coronavirus-escapism-book-sales-surge-covid-19/

https://kumparan.com/kumparanbisnis/ironi-penerbit-tercekik-di-tengah-pandemi-1tWM1g8OpMS/full

https://edukasi.kompas.com/read/2020/05/17/123646471/hari-buku-menolak-tamat-ketika-roda-penerbitan-terhalang-covid-19?page=all

https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/17/181048665/ironi-hari-buku-nasional-penjualan-buku-lesu-selama-pandemi-covid-19?page=all
https://www.wired.com/story/coronavirus-book-sales-indie/

https://www.nytimes.com/2020/07/22/books/books-coronavirus-retail-walmart-target-costco.html


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
kiranalalita

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format