Sudah Jatuh Tertimpa Tangga: Taksi Konvensional dihantam Taksi Online dan Pandemi

Persaingan global antara taksi konvensional dengan taksi online kian memanas ditambah situasi pandemi yang memungkinkan untuk berebut pelanggan.


0

PepNews.com - Netizen Polite

Sumber: pepnews.com

Peradaban yang semakin maju membuat manusia memiliki mobilitas yang tinggi. Hal tersebut terjadi karena adanya keterbatasan dalam suatu daerah sehingga manusia harus berpindah tempat untuk memenuhi kebutuhannya. Peristiwa tersebut menjadikan mobilitas sebagai suatu aspek yang penting dan perlu diperhatikan. Untuk menunjang mobilitas diperlukan perantara yang biasa dikenal dengan akomodasi. Dalam akomodasi terdapat transportasi sebagai penunjang utama mobilitas. Para marketer melihat hal ini sebagai peluang besar, oleh karena itu mereka berlomba-lomba menciptakan teknologi mutakhir dalam meningkatkan nilai transportasi. Hal ini terlihat dari evolusi transportasi mulai dari sepeda hingga kendaraan bermotor. Trend terbaru dalam bidang transportasi menunjukkan adanya Internet of Thing (IoT) kedalam kinerja transportasi. 

Salah satu jenis transportasi umum yang ada di Indonesia ada taksi. Sejak 1930 pada zaman Belanda di Batavia, taksi sudah menjadi salah satu transportasi yang cukup ramai dipakai. Ada berbagai macam merk dan jenis taksi yang beredar saat ini di Indonesia. Salah satunya adalah Taxi Express. Taxi tersebut  berada dalam naungan PT Express Transindo Utama Tbk yang berbasis di Indonesia. Taxi Express bergerak dalam penyelenggaraan layanan transportasi darat. Bisnisnya diklasifikasikan ke dalam tiga lini layanan: taksi reguler, taksi premium, dan bisnis transportasi bernilai tambah (VATB). Daerah operasional dari taksi reguler adalah Jadetabek, Surabaya, Semarang dan Medan. 

Selain Taxi express ada juga kompetitor di bidang yang sama yaitu Blue bird group. Taksi dengan ciri khas berwarna biru ini dinaungi oleh PT Blue Bird Tbk. Perusahaan ini sama dengan express group yaitu berbasis di Jakarta dan juga bergerak dalam penyedia layanan taksi. Perusahaan mengklasifikasikan bisnisnya menjadi empat segmen yang terdiri dari layanan taksi reguler dengan nama blue bird dan pusaka; layanan taksi eksekutif, dioperasikan dengan nama Silver Bird; penyewaan mobil dan limousine, dioperasikan dengan nama Golden Bird, serta carter bus, dioperasikan dengan nama Big Bird.

Kedua jenis taksi tersebut memiliki masa kejayaannya sebelum taksi online memasuki lembaran baru dalam dunia pelayanan transportasi di Indonesia. Sehingga dalam pengklasifikasiannya, taksi Express dan taksi Blue bird dapat kita sebut dengan taksi konvensional. Intervensi taksi online di Indonesia membuat taksi konvensional mengalami penurunan eksistensi yang signifikan. Ditambah kondisi pandemi seperti ini bisa memperparah eksistensi taksi konvensional di Indonesia.

Kondisi Taksi Konvensional saat Taksi Online Masuk ke Indonesia

Sumber: katadata.co.id

Kinerja taksi konvensional  di Indonesia pada masa awal persaingan dengan taksi online sudah mengalami pukulan yang cukup keras. Pada kuartal III-2016, express telah mendapatkan kerugian sebesar Rp81,9 miliar dimana tahun sebelumnya mendapatkan keuntungan Rp11 miliar. Sedangkan perusahaan Blue Bird masih mendapatkan keuntungan sebesar Rp360,9 miliar walaupun jumlah tersebut masih rendah  dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut akan semakin parah dengan adanya penundaan aturan peraturan menteri perhubungan yang mengatur jasa transportasi online. Adanya peristiwa demikian membawa express dan Blue Bird mengalami penurunan peringkat oleh lembaga pemeringkat Pefindo karena pendapatan perusahaan tidak memenuhi target. 

Di lain sisi kondisi taksi online berbanding terbalik dengan taksi konvensional. Taksi Online menunjukkan keuntungan yang semakin meningkat sejak pertama kali masuk ke Indonesia. Hal ini disebabkan oleh harga sebagai faktor utama preferensi masyarakat menggunakan taksi online. Selain tarif nya yang murah, masyarakat lebih mengetahui dan pasti berapa tarif yang dibayarkan setiap perjalanannya. Taksi Online juga didukung dengan  aksesibilitasnya. Taksi online menyediakan kemudahan nan handal di setiap pelayanan. Oleh karena itu, masuknya taksi online ke Indonesia mendapatkan sambutan yang antusias dari masyarakat. Namun kemudahan yang diberikan taksi Online dapat menghimpit kondisi taksi konvensional.

Kemerosotan Taksi Konvensional di masa Pandemi Covid-19

Sumber: databoks.katadata.co.id

Sejak pengumuman Indonesia gawat covid-19 pada tanggal 2 Maret 2020, hal tersebut memberikan efek serius pada sektor transportasi. Berdasarkan Diagram diatas dapat kita ketahui bahwa Pandemi Covid-19 meningkatkan jumlah pekerja yang dirumahkan khususnya sektor transportasi. Pada tahun 2020 akibat pandemi Jumlah pegawai Express  telah susut dari 471 orang menjadi 143 orang pada Juli 2020. Artinya, sebanyak 328 orang atau 69,6% total jumlah pegawainya mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pemutusan kontrak.Semuanya terjadi karena kondisi bisnis yang menurun akibat pandemi Covid-19. “Sejumlah 143 karyawan Perseroan terkena dampak selain dari PHK yaitu pemotongan gaji karyawan sebesar 40% dari total gaji per bulan, yang diperkirakan akan berlangsung hingga periode yang belum dapat ditentukan saat ini,” kata Yuniana, Corporate Secretary PT Express Transindo Utama Tbk. Di lain sisi, perusahaan kompetitor Blue Bird sampai juni 2020 belum ada karyawan yang di PHK, namun ada 3.312 karyawan terkena dampak pemotongan gaji, penyesuaian shift, penyesuaian jam kerja, dll.

infografik keuangan bird dan express

Sumber : tirto.id

Untuk sisi kinerja keuangan, Express dan Blue Bird dilansir dalam Bursa Efek Indonesia melaporkan bahwa usaha bisnis mereka terganggu karena adanya Covid-19. Dari kedua perusahaan tersebut, taksi Express lebih mengalami keterpurukan dibandingkan Blue Bird di masa pandemi ini. Akibat dari pandemi Covid-19 Blue Bird harus memberhentikan layanan JAC (Jabodetabek Airport Connection) dan Big Bird Shuttle. Hal ini dapat mengurangi kontribusi keuntungan sebanyak 25% dibandingkan tahun 2019. Berkurangnya kontribusi laba menyebabkan manajemen perusahaan Blue Bird harus membuat strategi efisiensi agar perusahaan dapat berlanjut, Sedangkan Express pada tahun 2015 merupakan tahun terakhir dalam mencatat laba. Setelah itu Express mengalami reli merugi secara berturut-turut. Pada 2018, perseroan membukukan rugi Rp837 miliar, atau naik 4 kali lipat dari rugi yang ditorehkan pada 2016 sebesar Rp185 miliar. Tren tersebut juga masih berlanjut hingga kuartal pertama tahun 2020. Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, Express membukukan rugi senilai Rp42 miliar atau turun 61 persen dari rugi pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp109 miliar. Pada paruh pertama tahun 2020, perusahaan yang dikenal dengan merek taksi Express ini mengantongi pendapatan sebesar Rp 19,41 miliar. Jumlah tersebut anjlok hingga 62,47% dibandingkan dengan semester I 2019 yang mencapai Rp 77,18 miliar.

Adapun penyebab utama kerugian tersebut pada masa pandemi adalah diadakannya pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kebijakan ini mempersempit ruang gerak masyarakat untuk melakukan mobilitas dan tentunya juga memperkecil peluang sopir taksi mendapatkan konsumen. Manajemen Express dengan tanggap untuk melakukan pembatasan operasional pada taksi reguler dan taksi premium baik di Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek) maupun luar kota. Tak hanya itu, layanan penyewaan kendaraan dan limosin di Jakarta dan Bali pun sempat distop. Serta pembatasan operasional pada layanan penyewaan bus di Jadetabek.

Analisis Faktor  Penurunan Performa Taksi Konvensional Saat Pandemi

Peralihan preferensi masyarakat dari taksi konvensional menjadi taksi online dapat kita ketahui melalui beberapa analisis. Analisis pertama adalah lingkungan Makro yang berbentuk kekuatan sosial seperti demografis, ekonomi, teknologi, dan politik. 

Demografis

 

Sumber: repository.lppm.unila.ac.id

Berdasarkan survei yang dilakukan kepada 113 responden yang dipilih secara acak. Didapati bahwa preferensi masyarakat untuk menggunakan taksi online sangat besar dibandingkan dengan taksi konvensional dengan angka 71%. Hal ini menggambarkan kecenderungan masyarakat dalam memilih taksi online sebagai moda transportasi. Kemudian berdasarkan usia, dapat kita lihat bahwa usia antara 15-25 tahun dalam menggunakan taksi konvensional hanya 1,71% sedangkan yang menggunakan taksi online jauh lebih tinggi yaitu sebesar 22,65%. Untuk usia 25-40 tahun perbandingan nya tidak terlalu extrem seperti usia yang lebih muda yaitu 15,38 % untuk taksi konvensional dan 31,62% untuk taksi online.

Ekonomi

Penurunan performa taksi konvensional bisa diukur dari harga sahamnya. Taksi konvensional memiliki harga saham yang sangat rendah sejak pandemi dan PSBB diberlakukan. Harga saham Blue Bird hanya berada di kisaran Rp1.130 per saham. Sejak awal tahun 2020, harga saham Blue Bird memang sudah mengalami tekanan, dan sempat berada di titik terendah pada 18 Mei sebesar Rp755 per lembar. Harga ini sangat jauh dibandingkan harga penawaran perdana Blue Bird Sebesar Rp6.500 per saham, saat IPO November 2014 lalu. Sedangkan harga saham Express jauh sebelum pandemi sudah mengalami penurunan yang  cukup signifikan. Harga saham Express sejak 1 Mei 2019 sudah berada di jajaran “Emiten Gocap” alias saham-saham dengan harga Rp50. Harga saham tertinggi Express pernah berada di Rp 1.780 pada 10 Februari 2014. Pada bulan-bulan terakhir tahun 2015 mengalami penurunan tajam. Tepatnya ketika bisnis taksi online mulai marak. Penurunan harga saham ini berdampak langsung pada pembiayaan operasional taksi. 

Teknologi 

Taksi online merupakan jasa layanan yang memanfaatkan teknologi komunikasi. Adanya kemunculan taksi online diakibatkan oleh perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih bergantung pada smartphone mereka. Hal ini tergambar dari pemanfaatan fasilitas online oleh generasi Y dan Z seperti diagram berikut.

sumber : benuanta.co.id

Politik 

Aspek politik yang berpengaruh terhadap penurunan penumpang taksi konvensional datang dari peraturan pemerintah. Sejak pemerintah mengumumkan Indonesia gawat Covid-19 dan memberlakukan kebijakan PSBB tentunya masyarakat tidak bisa berpergian. Hal tersebut juga diperparah pada masa mudik. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 tahun 2020 tentang pengendalian transportasi selama musim mudik Idul fitri akan semakin memberatkan keuangan pengusaha angkutan umum seperti bus antar kota antar provinsi hingga maskapai penerbangan. Hal ini juga memberikan efek domino pada taksi konvensional. Musim mudik biasanya dijadikan sebagai momen yang tepat untuk mengunjungi sanak saudara. Pada masa itulah biasanya taksi dijadikan salah satu alternatif sebagai transportasi untuk mengunjungi saudara baik dalam satu wilayah maupun antar kota. 

Analisis selanjutnya untuk melihat faktor menurunnya preferensi taksi konvensional dibandingkan taksi online bisa kita lihat dari bauran pemasaran. Marketing mix atau bauran pemasaran terdiri dari 4 hal utama yaitu product, price, place, and  promotion.

Perbandingan Taksi Konvensional (Blue Bird, Express) 

dengan Taksi Online (Grab)

Marketing mix 

Taksi Konvensional 

Taksi Online

Product 

Pada saat pandemi, Blue Bird dan Express telah memberhentikan beberapa layanan produk mereka. Blue Bird memberhentikan layanan JAC dan shuttle bus, sedangkan Express telah mengurangi armada taksi nya sehingga jumlah taksi yang beredar semakin sedikit 

Tidak ada pembatasan dan pengurangan yang terjadi karena operasional taksi online tidak terikat dengan perusahaan atau platform yang mereka naungi. Jadi armada taksi online dan layanan berjalan seperti biasa 

Price 

Berdasarkan instruksi Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta, tarif taksi konvensional dikenakan tarif buka pintu sebesar Rp6.500,00 sementara tarif perjalanannya dikenakan Rp3.500 per KM

Berdasarkan aturan teknis peraturan menteri perhubungan (Permenhub) Nomor 26 tahun 2017, tarif taksi online dibedakan menjadi dua wilayah. Dengan tarif bawah Rp3.500/KM dan tarif atas Rp6.500/KM

Place 

Taksi konvensional hanya terbatas pada lokasi-lokasi strategis seperti mall, hotel, tempat hiburan. Selain itu taksi konvensional bisa ditemui di beberapa jalan raya

Taksi online memiliki aksesibilitas yang lebih tinggi daripada taksi konvensional. Taksi online bisa berada sesuai dengan permintaan pelanggan. Dengan adanya basis teknologi, sebuah aplikasi dapat mendeteksi taksi online mana yang terdekat dengan pelanggan sehingga bisa menghampiri pelanggan tersebut. 

Promotion 

Blue Bird mencoba untuk memberikan keamanan bagi para pengemudi dan karyawan. Blue bird melakukan pembersihan menyeluruh bagi seluruh armada setelah beroperasi, serta pembagian masker reusable bagi pengemudi yang membutuhkan dan hand sanitizer di setiap armada. 

Masyarakat tidak menggunakan taksi atau kendaraan umum karena tingkat penularan covid yang cepat dan juga masalah kebersihan, oleh karena itu grab sebagai taksi online bekerja sama dengan unilever mendistribusikan Lifebuoy Hand Sanitizer  Skin Immunity Boosting secara gratis kepada sekitar 11 ribu armada GrabCar (taksi online) Protect di 15 kota selain itu grab juga mengadakan bilik transparan sebagai pemisah antara pengemudi dan penumpang  untuk  meningkatkan keamanan serta  kebersihan dalam berkendara. Dengan adanya campaign tersebut diharapkan masyarakat bisa menikmati layanan taksi dengan tenang dan nyaman 

Analisis Ketahanan Grab saat Pandemi Covid-19 

Grab Terus Berkomitmen Melayani dengan Aman Saat Pandemi COVID-19 - Tirto.ID

Sumber : grab.com

Grab atau yang sebelumnya dikenal sebagai GrabTaxi adalah sebuah perusahaan yang berasal Singapura yang melayani aplikasi penyedia transportasi dan tersedia di enam negara di Asia Tenggara, yakni Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Filipina. Grab memiliki visi untuk merevolusi industri per-taksi-an di Asia Tenggara, sehingga dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna kendaraan seantero Asia Tenggara. 

Indonesia telah menjadi pasar terbesar Grab berdasarkan jumlah perjalanan yang diselesaikan seluruh platform. Grab secara khusus memfokuskan bisnisnya di Jakarta, yang didiami oleh lebih dari 30 juta penduduk dimana Grab memberikan layanan ojek, penyewaan mobil pribadi dan pemesanan taksi online.  Sejak memasuki pasar Indonesia sampai sekarang Grab terus mengalami peningkatan. walaupun di masa pandemi ini banyak perusahaan sektor transportasi mengalami kebangkrutan, Grab masih bertahan di posisi yang aman.

Sumber : berempat.com

Posisi ini tentunya didapatkan setelah melalui adaptasi yang cepat dengan  situasi pandemi covid-19. Dikutip dari laman inews.id dikatakan bahwa Grab telah menghimpun pendanaan untuk terus mendanai operasional bisnisnya. Dengan kabar terbaru bahwa Grab mendapat pendanaan senilai 200 juta dolar AS dari perusahaan swasta asal korea selatan, Stic Investements. Hal ini membuat perusahaan tidak goyah saat pandemi menggempur Indonesia. Dengan dana tersebut, Grab terus berkomitmen melakukan pelayanan dan juga menunjukkan Social Responsibility kepada mitra dan pelanggan nya di Indonesia. Ada 4 pilar utama dalam inisiatif baru Grab membantu Indonesia di kala pandemi. Empat pilar itu tertuju demi mendukung garda terdepan, melahirkan inovasi, menghubungkan kebaikan, dan menciptakan peluang serta kapasitas seperti yang tergambar dalam infografik diatas. Citra baik tersebut memberikan dorongan masyarakat untuk menggunakan Grab.

Sering Membandingkan Harga Transportasi Online? Aplikasi Ini Akan  Memudahkan Penggunanya

Sumber: Shopback.co.id

Dari infografik tersebut tergambar bahwa layanan Grab berada di posisi kedua teratas dibandingkan gojek yang lebih dulu memasuki pasar Transportasi Online di Indonesia.

Upaya yang dapat dilakukan menghadapi  persaingan 

Pesaing utama dari taksi konvensional ialah taksi yang berbasis aplikasi dengan segala pelayanannya yang bisa diakses dengan internet dan smartphone sehingga memberikan kemudahan, kenyamanan dan serba cepat. Apalagi di saat pandemi seperti ini banyak perusahan yang harus memberhentikan operasional bisnisnya karena ada pembatasan sosial dan penularan virus.  Oleh karena itu ada beberapa upaya yang bisa dilakukan  oleh Express ataupun taksi konvensional lainnya untuk bangkit dan bersaing kembali. 

  1. Melakukan restrukturisasi Utang, perusahaan dapat melakukan restrukturisasi utang dengan melakukan right issue dan perusahaan bisa mengubah pola bisnis seperti melakukan kerja sama sebagai mitra strategis, hal ini menjadikan perusahaan sebagai operator saja dan mitra kerja sebagai pemilik aset armada. 

  2. Mengembangkan saluran pemasaran yang baru. Hal ini mendorong perusahaan untuk bekerja sama dengan perusahaan startup yang membutuhkan moda taksi sebagai penunjang bisnis nya seperti agensi traveloka, pegi-pegi, tiket.com untuk menghimpun pelanggan lebih luas lagi. Bukan hanya di mall, hotel, atau restauran saja

  3. Membangun aplikasi sendiri, membuat platform sendiri atau kerja sama dengan penyedia platform bisa menjadi permulaan untuk merambah dunia digital. Perkembangan teknologi yang semakin pesat mengharuskan taksi konvensional cepat beradaptasi dengan teknologi. 

  4. Mengembangkan pembayaran non tunai. Pandemi yang bisa tertular karena kontak fisik dan medium perantara seperti uang membuat trend pembayaran non tunai sebagai rujukan utama dalam transaksi.

  5. Ikut menyuarakan kampanye kebersihan. Kampanye tersebut dapat berupa iklan yang menggambarkan standar operasional antar jemput penumpang saat pandemi. Misalnya memperlihatkan pengecekkan suhu tubuh pengemudi, di dalam mobil ada partisi sebagai pembatas pengemudi dan penumpang, disediakan hand sanitizer dan masker gratis untuk penumpang yang akan menggunakan jasa taksi tersebut. Hal ini dilakukan agar penumpang tidak khawatir

Setelah upaya tersebut dijalankan, semoga memberikan harapan agar taksi konvensional dapat bangkit dan bersaing kembali dengan taksi konvensional. 

Referensi :

– Arieza, U. (2017, Oktober 4). Waduh, Taxi Express Berencana Lakukan PHK dan Jual Aset: Okezone Economy. https://idxchannel.okezone.com/. https://idxchannel.okezone.com/read/2017/10/04/278/1788725/waduh-taxi-express-berencana-lakukan-phk-dan-jual-aset
– Benuantakaltara. (2020a, Maret 9). Generasi Candu Internet. Benuanta – Bacaannya Masyarakat Kalimantan Utara. https://benuanta.co.id/index.php/2020/03/09/generasi-candu-internet/4250/17/19/37/
– Dani, D. (2020, Juli 2). Grab Hadirkan 24 Inisiatif Baru, Bantu Masyarakat Indonesia #TerusUsaha Selama Pandemi COVID-19. Berempat. https://berempat.com/bisnis/startup/15407/grab-hadirkan-24-inisiatif-baru-bantu-masyarakat-indonesia-terususaha-selama-pandemi-covid-19/
– Djairan. (2020b, Agustus 3). Grab Dapat Suntikan Dana Rp2,94 Triliun dari Perusahaan Korsel. INews.ID. https://www.inews.id/finance/bisnis/grab-dapat-suntikan-dana-rp294-triliun-dari-perusahaan-korsel
– fyi, laysoff. (t.t.). Belasan Ribu Karyawan di Sektor Transportasi Dirumahkan | Databoks. Diambil 28 Oktober 2020, dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/06/09/belasan-ribu-karyawan-di-sektor-transportasi-dirumahkan
– Gumiwang, R. (t.t.). Nasib Taksi Express: Terbelit Utang, Aset Terpaksa Dijual. tirto.id. Diambil 27 Oktober 2020, dari https://tirto.id/nasib-taksi-express-terbelit-utang-aset-terpaksa-dijual-druZ
– Makalah 1.pdf. (t.t.). Diambil 28 Oktober 2020, dari http://repository.lppm.unila.ac.id/13298/1/makalah%201.pdf
– Ningsih, L. (2020, April 9). Saat PSBB Batasi Ruang Gerak dan Bisnis Taksi, Bos Blue Bird Belanja Puluhan Miliar Rupiah Buat… Warta Ekonomi. https://www.wartaekonomi.co.id/read280404/saat-psbb-batasi-ruang-gerak-dan-bisnis-taksi-bos-blue-bird-belanja-puluhan-miliar-rupiah-buat
– Pepnews. (t.t.). Balada Taksi Online, Dibebani Aturan dan Dimusuhi Sopir Konvensional. Pepnews.com. Diambil 28 Oktober 2020, dari https://pepnews.com/2018/01/29/ribut-ribut-taksi-online
– Prasetya, W. (2017, Maret 30). Uber Siap Uji Coba Layanan Pemesanan Taksi Gandeng Express Group. https://id.techinasia.com/uber-siap-uji-coba-layanan-pemesanan-taksi-gandeng-express-group
– Qomariyah Pramesti, N. (t.t.). Pandemi COVID-19: Blue Bird Terpukul, Express Kian Terpuruk. tirto.id. Diambil 27 Oktober 2020, dari https://tirto.id/pandemi-covid-19-blue-bird-terpukul-express-kian-terpuruk-fH18
– Sering Membandingkan Harga Transportasi Online? Aplikasi Ini Akan Memudahkan Penggunanya. (2018, Maret 19). KataShopback. https://www.shopback.co.id/katashopback/transportasi-online-makin-digemari
– Tim Gamatechno. (2017, April 20). 5 Fakta Taksi Online vs Taksi Konvensional. Blog Gamatechno. https://blog.gamatechno.com/fakta-taksi-online-vs-taksi-konvensional/
– Tim Investing. (t.t.). Tentang Express Transindo Utama Tbk (TAXI). Investing.com Indonesia. Diambil 27 Oktober 2020, dari https://id.investing.com/equities/express-transi-company-profile
– Wareza, M. (t.t.). Bos Taksi Express Buka-bukaan, Utang hingga Ancaman Pailit! Market. Diambil 27 Oktober 2020, dari https://www.cnbcindonesia.com/market/20200704124549-17-170200/bos-taksi-express-buka-bukaan-utang-hingga-ancaman-pailit
– Widyanita. (2016, Desember 7). Taksi Konvensional Makin Terjepit—Infografik Katadata.co.id. https://katadata.co.id/padjar/infografik/5e9a56bb2a0b9/taksi-konvensional-makin-terjepit


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format