DECISION MAKING, LEARNING CREATIVITY AND ENTREPRENEURSHIP

Chapter 7 - Buku Contemporary Management Karangan Jones & George - 11th Edition


6
6 points

A. SIFAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAJERIAL

Di dalam dunia bekerja, tugas utama sebagai seorang manajer adalah merencanakan, mengatur, mengarahkan, dan mengontrol organisasi. Dari beberapa aspek yang telah disebutkan, seorang manager juga membuat aliran keputusan. Pengambilan keputusan adalah bagian dasar dari setiap tugas yang dilakukan manajer. Selain itu, di dalam organisasi, manajer harus menangani banyak peluang dan Ancaman yang mungkin timbul karena sumber daya organisasi digunakan. Untuk menghadapi peluang ini dan ancaman, manajer harus membuat keputusan dan keputusan tersebut harus berdasarkan dari beberapa alternative pilihan. Pembuatan Keputusan tersebut adalah proses dimana manajer menanggapi peluang dan ancaman dengan menganalisis opsi dan membuat keputusan tentang spesifik tujuan organisasi. Keputusan yang baik menghasilkan pemilihan tujuan yang tepat dan tindakan yang meningkatkan kinerja organisasi namun keputusan yang buruk akan menurunkan kinerja organisasi. 

 I. PENGELOMPOKAN JENIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN

  1. Pengambilan keputusan terprogram – proses pengambilan keputusan yang rutin dan hampir otomatis, dapat dilihat dari banyak keputusan yang telah dibuat di masa lalu. Contohnya manajer kantor memesan alat tulis kantor dengan jumlah yang sama setiap kali memesan, memutuskan berapa banyak persediaan yang akan disimpan, kapan harus membayar tagihan, kapan untuk menagih pelanggan, dan kapan harus memesan bahan dan persediaan.
  2. Pengambilan keputusan tidak terprogram – proses pengambilan keputusan yang non rutin dan sebagai tanggapan terhadap peluang dan ancaman yang tidak biasa ataupun baru. Hal ini terjadi ketika tidak ada aturan pembuatan keputusan yang tersedia, maka dari itu manajer dapat menerapkan suatu keputusan karena situasinya tidak terduga. Contohnya keputusan untuk berinvestasi dalam teknologi baru, mengembangkan jenis produk baru, meluncurkan kampanye promosi baru, memasukkan produk baru, memasarkan, memperluas secara internasional, memulai bisnis baru, atau berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan dan mengakuisisi perusahaan lain.

II. CARA MANAJER MEMBUAT KEPUTUSAN TANPA ADANYA ATURAN KEPUTUSAN

  1. Intuisi — perasaan, keyakinan, dan firasat yang muncul dalam pikiran, membutuhkan sedikit usaha dan pengumpulan informasi, dan menghasilkan keputusan di tempat.
  2. Penilaian yang beralasan – usaha serta hasil dari pengumpulan informasi yang cermat, pembuatan alternatif, dan evaluasi alternative

Dengan demikian, kemungkinan kesalahan jauh lebih besar dalam pengambilan keputusan yang tidak terprogram daripada dalam keputusan yang terprogram.

III. MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN

1. Model Klasik – Pendekatan preskriptif untuk pengambilan keputusan berdasarkan asumsi dengan mengidentifikasi dan mengevaluasi semua kemungkinan alternatif dan konsekuensinya dan secara rasional memilih rekomendasi yang paling tepat. Dengan kata lain mengasumsikan manajer memiliki akses ke semua informasi yang mereka butuhkan untuk membuat alternatif solusi dan memberi peringkat dari yang paling tidak disukai hingga yang paling disukai untuk membuat keputusan yang optimal, yaitu keputusan yang paling tepat mungkin dengan mempertimbangkan apa yang mereka yakini paling diinginkan oleh organisasi.

Gambar 7.1. Pengambilan Keputusan Model Klasik

(Sumber : Buku Contemporary Management Chapter 7)

2. Model Administratif – Model Pendekatan untuk pengambilan keputusan yang menjelaskan mengapa dalam mengambil keputusan pada dasarnya tidak pasti dan berisiko dan manajer biasanya membuat keputusan yang memuaskan daripada keputusan yang optimal. Dalam model administrative terdapat 3 konsep yang penting sebagai berikut.

  • Rasionalitas Terikat – Batasan kognitif yang membatasi kemampuan seseorang untuk menafsirkan proses, dan bertindak berdasarkan informasi.
  • Informasi yang tidak lengkap – informasi tidak lengkap karena resiko dan ketidakpastian, ambiguitas, dan kendala waktu.

Gambar 7.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidaklengkapan Informasi

(Sumber : Buku Contemporary Management Chapter 7)

      

B. LANGKAH – LANGKAH DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN    

Untuk memudahkan kita memahami Langkah-Langkah Dalam Proses Pengambilan Keputusan, Studi Kasus perusahaan Sun Microsystem’s, produsen perangkat lunak dan perangkat keras komputer dengan focus solusi jaringan, didirikan oleh Scott McNealy sekaligus sebagai pimpinan perusahaan hingga perusahaan tersebut diakuisisi oleh Oracle pada tahun 2010. Pada tahun 1985, Scott McNealy dihadapkan pada suatu dilema dimana perusahaan harus memutuskan apakah akan meng-eksekusi atau menunda rencana peluncuran produk baru New Carrera Workstation Computer, yang sebelumnya telah dijadwalkan pada 10 September 1985. Pasalnya peluncuran produk baru tersebut memiliki potensi resiko bahwa microprocessor pendukung produk baru New Carrera Workstation Computer dengan spesifikasi 16-megahertz 68020  teranyar keluaran Motorola disinyalir mengalami masalah produksi. 

Praktis Scott McNealy berada pada posisi sulit dalam mengambil keputusan dengan keterbatasan informasi dan data fakta di lapangan. Pertimbangan pertama adalah Sun Microsystem’s harus bermain aman untuk menghindari resiko dengan melewatkan momentum eksposur  sebagai perusahaan terdepan dibanding pesaing lainnya, mengingat bahwa Apollo (pesaing utama) akan meluncurkan produk baru pada bulan Desember. Sementara pertimbangan kedua memanfaatkan momentum sebaik mungkin dengan eksekusi peluncuran produk baru sesuai jadwal namun dibayang-banyangi oleh resiko ketidaksiapan microprocessor teranyar Motorola yang tentunya dapat berdampak fatal, yakni pelanggan kecewa.

Gambar 7.3. Enam Langkah Dalam Pengambilan Keputusan

(Sumber : Buku Contemporary Management Chapter 7)

Guna mengantisipasi studi kasus seperti di atas, dapat mengikuti 6 langkah pengambilan keputusan seperti tabel di bawah ini :

1. Mengenal atau Mengindentifikasi Kebutuhan pada Keputusan  – Langkah pertama dalam proses pengambilan keputusan adalah mengenal kebutuhan pada keputusan tersebut. Dalam hal ini Scott McNealy menyadari bahwa keputusan cepat harus segera ditentukan. Berbagai faktor akan mendorong dan mempengaruhi pengambilan keputusan, bisa dari kondisi eksternal perusahaan maupun sejauh mana kepiawaian tim internal menggunakan kompetensinya melihat peluang dan kendala atas peluncuran produk baru tersebut sebagai langkah pengenalan kebutuhan dan menindaklanjutinya pada waktu dan cara yang tepat. 

2. Membuat Alternatif Pilihan – Setelah mengenal kebutuhan pada keputusan, seorang manager harus dapat menyajikan pilihan alternatif yang dapat dilakukan sebagai respon terhadap peluang atau ancaman yang ada. Keputusan yang tidak baik oleh seorang manager terkadang diakibatkan oleh kegagalan dalam menyediakan alternatif pilihan yang cenderung tidak jelas dan spesifik. Salah satu alasan kegagalan manager dalam menyediakan alternatif pilihan dikarenakan perpektif tunggal, dengan mindset tertentu yang sudah terbentuk. 

3. Menguji Alternatif Pilihan – Ketika alternatif solusi telah ditentukan, mereka harus melakukan evaluasi keuntungan dan kerugian atas masing-masing alternatif. Hal terpenting adalah menentukan peluang dan ancaman dengan tepat dan selanjutnya menetapkan ukuran yang dapat mempengaruhi pemilihan alternatif tersebut. Pada umumnya, manager yang baik menggunakan 4 kriteria dalam melakukan evaluasi pro dan kontra terhadap pilihan alternatif yang ada :

  • Legality : Manager wajib memastikan bahwa alternatif tindakan yang ada tidak bertentangan dengan hukum dalam negeri maupun internasional atau peraturan-peraturan pemerintah. 
  • Ethicalness : Manager wajib memastikan bahwa alternatif yang ada tidak merugikan pemangku kepentingan perusahaan terkait maupun pihak lain. 
  • Economic Feasibility : Manager harus memutuskan apakah alternatif yang ada dapat memberikan manfaat ekonomis dan memungkinkankah untuk dilaksanakan. 
  • Practically : Manager harus memutuskan apakah organisasi memiliki kapasitas dan sumber daya untuk melaksanakan alternatif yang ada.

Gambar 7.4. Kriteria Umum Dalam Mengevaluasi Kemungkinan Tindakan

(Sumber : Buku Contemporary Management Chapter 7)

4.  Memilih Alternatif Pilihan – Langkah selanjutnya adalah membuat rangking atas pilihan alternatif yang ada dengan menggunakan evaluasi 4 kriteria. Manager wajib memastikan bahwa semua informasi relevan telah tersusun tanpa ada yang tertinggal, karena memiliki informasi relevan tidak menjamin kita telah memiliki informasi komplit, seperti pada kasus Sun Microsystem’s. 

5. Melaksanakan Alternatif Pilihan – Untuk memastikan keputusan yang diambil terlaksana, pucuk pimpinan harus memberikan tanggung jawab kepada jajaran menager menindaklanjuti keputusan tersebut guna mencapai tujuan perusahaan. Mereka harus diberikan sumber daya yang mumpuni, praktis dapat mempertanggungjawabkan pekerjaanya dengan baik dan melaksanakan metode punish and reward. 

6. Mempelajari Umpan Balik – Sebagai tahap akhir, manager dituntut untuk menganalisa dan mempelajari pengalaman sukses maupun gagal sehingga dapat melakukan perbaikan di masa yang akan datang. Terdapat langkah-langkah untuk dapatmempelajari hasil atas keputusan di masa lalu, sebagai berikut: 

  • Membandingkan hasil aktual yang terjadi dengan hasil yang diharapkan atas pengambilan keputusan sebelumnya. 
  • Menggali penyebab mengapa hasil terjadi tidak sesuai harapan 
  • Menyusun pedoman yang dapat membantu proses pengambilan keputusan di masa yang akan datang. 

 

C. BIAS KOGNITIF DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN 

Decision Maker tidak selalu memiliki kemampuan dan sumber daya untuk  mendapatkan dan memproses informasi disekitarnya untuk mengambil keputusan. Para Decision Maker tersebut cenderung untuk menggunakan Heuristic yang merupakan aturan dasar yang mempermudah dalam membuat keputusan. Namun demikian penggunaan Heuristics dapat menyebabkan Systematic Errors dalam memahami sejumlah informasi untuk mengambil keputusan atau diapat disebut dengan Cognitive Bias. Yang dimaksud dengan Systematic Errors adalah kesalahan yang terjadi berulang kali dan mengakibatkan pengambilan keputusan yang buruk. Seorang Manager yang cakap dapat melakukan pengambilan keputusan dikarenakan mengalami Cognitive Bias.  Adapun 4 sumber bias yang dapat mempengaruhi seorang manajer dalam mengambil keputusan yaitu :

  1. Prior Hypothesis Bias – Para Decision Maker yang memiliki keyakinan yang kuat atas hubungan 2 variabel tertentu biasanya dibutakan oleh keyakinan tersebut, dan cenderung mengambil keputusan atas keyakinannya meskipun keyakinannnya terbukti salah.
  2. Representativeness Bias – Banyak Decision Maker yang membuat keputusan secara tidak tepat dikarenakan mereka melakukan  generalisasi dari sampel kecil. Seperti contoh seorang Manager toko buku A yang mengadakan kerja sama dengan sebuah sekolah X dengan cara mengajak murid sekolah X untuk datang keacara “Book Day” dan membeli buku di acara tersebut, namun ternyata penjualannya jeblok dan tidak banyak murid yang datang karena sebenarnya sedang ada pertandingan sepak bola di sekolah tersebut pada saat “Book Day”. Atas hal tersebut, Ketika ada sekolah lain yang melakukan pendekatan kepada Manager Toko A untuk bekerja sama, Manager tersebut langsung akan menolak dikarenakan pengalaman buruk yang terjadi sebelumnya. Atas hal itu, Manager tersebut kehilangan kesempatannya untuk menjual buku dan memperoleh promosi dari mulut ke mulut. 
  3. llusion of Control – Kesalahan lain dalam pengambilan keputusan dapat diakibatkan oleh Illusion of Control, yaitu kecenderungan dari seorang Decision Makeruntuk melebih-lebihkan kemampuannya untuk mengontrol semua hal. 
  4. Escalating Commitment –  Sering kali pengambilan keputusan yang salah diawali dari rasa over commitment dari suatu manager, padahal seringkali mendapatkan feedback yang buruk. Seperti contoh dari kasus Mark Gracin, seorang pemilik perusahaan yang bergerak di bidang Landscape atau halaman rumah dengan pekerjaan  pemotongan rumput, fertilisasi tanaman, menyapu dedaunan kering untuk rumah-rumah yang memiliki halaman di kota-kota besar. Dalam rangka memperluas ekspansi bisnis, Gracin juga menerima jasa Design untuk taman secara gratis kepada Klien eksistingnya dan ternyata jasa Design tersebut mendapatkan feedback yang kurang baik. Alih-alih mengehentikan Jasa Design nya karena tidak menguntugkan, Gracin malah melakukan investasi dengan membuka kantor untuk mempromosikan Jasa Design tersebut dan tetap tidak mendapatkan keuntungan, malahan Gracintidak dapat lagi menutupi biaya-biaya lain yang sudah menggunung

Gambar 7.5. Sumber-sumber bias kognitif pada level kelompok dan individu.

(Sumber : Buku Contemporary Management Chapter 7)

 

D. PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KELOMPOK 

Pengambilan keputusan kelompok juga memungkinkan manajer untuk memperoleh  lebih banyak informasi dan untuk memperbaiki kesalahan satu sama lain. Beberapa potensi kerugian dapat dikaitkan dengan pengambilan keputusan kelompok. Kelompok sering membutuhkan waktu lebih lama daripada individu untuk membuat keputusan. Membuat dua atau lebih manajer setuju untuk solusi yang sama bisa jadi sulit karena minat dan preferensi manajer sering berbeda. Selain itu, layaknya pengambilan keputusan oleh manajer individu, pembuat keputusan kelompok-ing dapat dirusak oleh bias. Sumber utama bias kelompok adalah pemikiran kelompok atau Group Think.

I. RISIKO DARI PEMIKIRAN KELOMPOK (GROUPTHINK)

Groupthink adalah pola pengambilan keputusan yang salah dan bias yang terjadi dalam kelompok yang anggotanya berusaha untuk menemukan kesepakatan di antara mereka sendiri dengan mengorbankan penilaian informasi yang akurat. Ketika manajer terjebak dengan Groupthink, secara kolektif memulai suatu tindakan tanpa mengembangkan kriteria yang tepat untuk mengevaluasi alternatif lainnya. Biasanya, sebuah grup berkumpul di sekitar satu manajer pusat, seperti CEO, dan tindakan yang didukung manajer.

II. MENETRALKAN BIAS KOGNITIF DAN PEMIKIRAN KELOMPOK (GROUPTHINK)

Adanya bias kognitif dan groupthink menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana meningkatkan kualitas pengambilan keputusan kelompok dan individu sehingga manajer membuat keputusan yang realistis dan didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap alternatif. Dua teknik yang dikenal untuk menetralkan pemikiran kelompok dan bias kognitif adalah:

  1. Teknik Advocacy Devil – Teknik pengambilan keputusan yang dirancang untuk memerangi pemikiran kelompok/Group Think. Satu atau lebih orang dalam kelompok mengambil peran sebagai “Devil Advocate” atau seseorang yang melakukan oposisi atas pendapat individu dalam kelompok lainnya.
  2. Teknik Dialectical Inquiry – Kelompok yang menggunakan teknik ini dibagi menjadi dua kubu : kelompok yang mendukung sebuah ide dan mereka yang menentang ide. Kedua belah pihak menyoroti pros dan cons atas suatu ide. 

Gambar 7.6. Dua Teknik Penetralan Pemikiran Kelompok dan Bias Kognitif.

(Sumber : Buku Contemporary Management Chapter 7)

III· KEBERAGAMAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Cara lain untuk meningkatkan pengambilan keputusan kelompok adalah dengan menggalakkan keberagaman dalam pengambilan keputusan kelompok seperti menyatukan manager dari kedua Gender dan dari berbagai Etnis. 

    

E. PEMBELAJARAN DAN KREATIVITAS DALAM BERORGANISASI 

Pembelajaran organisasi adalah proses pencapaian dimana para manajer berusaha untuk meningkatkan keinginan dan kemampuan karyawan untuk memahami dan mengelola organisasi dan lingkungan tugasnya, sehingga karyawan dapat membuat keputusan-keputusan yang terus-menerus meningkatkan efektivitas organisasi. Jantung pembelajaran organisasi adalah kreativitas, yang merupakan kemampuan pembuat keputusan dalam menemukan ide-ide orisinal dan baru yang mengarah kepada tindakan alternatif yang dapat dilaksanakan.

I. MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN ORGANISASI

Ahli teori pembelajaran, Peter Senge mengidentifikasilima prinsip dalam menciptakan pembelajaran organisasi (Gambar 7.7) :

  1. Top manajer harus mengizinkan setiap orang dalam organisasi untuk mengembangkan rasa penguasaan pribadi
  2. Mendorong karyawan untuk mengembangkan selera dalam bereksperimen dan pengambilan risiko.
  3. Manajer harus melakukan segala hal yang mereka bisa untuk mempromosikan kreativitas kelompok. 
  4. Manajer harus menekankan tentang pentingnya membangun visi bersama.
  5. Manajer harus mendorong pemikiran sistem yaitu manajer harus mengenali dampak dari satu tingkat pembelajaran ke tingkat lainnya. 

Membangun pembelajaran organisasi membutuhkan manajer untuk mengubah asumsi pengelolaan mereka secara radikal. Misalnya, manajer di Walmart telah menggunakan pelajaran yang diperoleh dari kegagalan dan kesuksesannya di satu negara untuk mempromosikan pembelajaran organisasi global di banyak negara yang sekarang beroperasi. Ketika Walmart masuk Malaysia, hal ini meyakinkan bahwa para pelanggan akan menanggapi format one-stop shopping-nya. Namun, ditemukan bahwa orang Malaysia menikmati pengalaman sosial berbelanja di pasar atau bazaar yang ramai dan hal tersebut tidak seperti efisiensi impersonal dari toko Walmart pada umumnya. Hasilnya, Walmart mempelajari pentingnya mendesain tata letak toko untuk menarik secara khusus pelanggan di setiap negara tempat toko beroperasi.

Gambar 7.7. Prinsip-prinsip Senge Dalam Menciptakan Pembelajaran Organisasi

(Sumber : Buku Contemporary Management Chapter 7)

II. MEMPROMOSIKAN KREATIVITAS INDIVIDU

Manajer puncak harus menekankan pentingnya mencari solusi alternatif dan harus secara nyata memberi penghargaan kepada karyawan yang menghasilkan ide-ide kreatif.  Karyawan di garis depan sering kali berada dalam posisi yang baik untuk menghasilkan ide-ide kreatif perbaikan tetapi mungkin enggan untuk berbicara atau berbagi ide. Untuk mendorong garis depan karyawan untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan membagikannya, beberapa manajer telah menggunakan kontes dan penghargaan. Kontes dan penghargaan menandakan pentingnya menghasilkan ide-ide kreatif dan mendorong karyawan untuk membagikannya. Contoh perusahaan yang mendapat keuntungan dari kontes dan penghargaan untuk kreativitas termasuk Hammond’s Candies di Denver, Colorado; Sistem Tata Surya Borrego di San Diego, California; dan Infosurv di Atlanta, Georgia.

III. MEMPROMOSIKAN KREATIVITAS KELOMPOK

Untuk mendorong kreativitas di tingkat kelompok, organisasi dapat menggunakan pemecahan masalah kelompokteknik yang mempromosikan ide kreatif dan solusi inovatif. Teknik ini juga bisamencegah pemikiran kelompok dan membantu manajer mengungkap bias. Tiga teknik pengambilan keputusan kelompok:

1.    Brainstorming – Teknik pemecahan masalah kelompok di mana para manajer bertemu tatap muka untuk menghasilkan dan memperdebatkan berbagai macam alternatif yang darinyauntuk membuat keputusan. Contoh penerapan teknik brainstorming :

  • Seorang manajer menjelaskan secara garis besar masalah yang akan ditangani kelompok.
  • Anggota kelompok berbagi ide mereka dan menghasilkan tindakan alternatif.
  • Saat setiap alternatif dijelaskan, anggota kelompok tidak diperbolehkan mengkritiknya; semua orangmenahan penilaian sampai semua alternatif telah didengar. Salah satu anggota grup mencatat alternatif pada flip chart.
  • Anggota kelompok didorong untuk menjadi seinovatif dan seradikal mungkin. 
  • Ketika semua alternatif telah dihasilkan, anggota kelompok memperdebatkan pro dan kontra dari masing-masing dan mengembangkan daftar pendek dari alternatif terbaik.

2.  Nominal Group Technique – Kelompok nominal teknik sering digunakan untuk menghindari pemblokiran produksi. Teknik kelompok nominal sangat berguna ketika suatu masalah kontroversial danketika manajer yang berbeda mungkin diharapkan untuk memperjuangkan tindakan yang berbeda. Umumnya, sekelompok kecil manajer bertemu dalam sesi tertutup mengadopsi beberapa prosedur dibawah ini :

  • Seorang manajer menguraikan masalah yang akan ditangani, dan dialokasikan 30 atau 40 menituntuk anggota kelompok, bekerja secara individu, untuk menuliskan ide dan solusi mereka. Kelompok anggota didorong untuk menjadi inovatif. 
  • Manajer bergiliran membacakan saran mereka kepada grup. Satu manajer menulis semua file alternatif pada flip chart. Tidak ada kritik atau evaluasi alternatif diperbolehkan sampai semua alternatif telah dibaca.
  • Alternatif-alternatif tersebut kemudian didiskusikan, satu per satu, sesuai urutan usulannya. Anggota kelompok dapat meminta informasi klarifikasi dan mengkritik setiap alternatif mengidentifikasi pro dan kontra.
  • Ketika semua alternatif telah didiskusikan, setiap anggota kelompok memberi peringkat semua alternatif dari yang paling disukai hingga paling tidak disukai, dan alternatif yang menerima peringkat tertinggi dipilih.

3. Delphi Technique – Teknik Delphimerupakan pendekatan tertulisuntuk kreativitas dalam pemecahan masalah. Cara pengaplikasian Teknik Delphi seperti ini:

  • Pemimpin kelompok menulis pernyataan masalah dan serangkaian pertanyaan, manajer yang berpartisipasi harus menanggapi.
  • Kuesioner dikirim ke manajer dan pakar departemen yang paling tahu tentang masalah tersebut. Mereka diminta untuk menghasilkan solusi dan mengirimkan kuesioner kembali ke ketua kelompok.
  • Tim manajer puncak mencatat dan merangkum tanggapannya. Hasilnya kemudian dikirimkembali ke peserta, dengan pertanyaan tambahan yang harus dijawab sebelum keputusan dapat dibuat.
  • Proses ini diulangi sampai tercapai konsensus dan tindakan yang paling sesuai dapat terlihat.

 

   

RINGKASAN DAN ULASAN

  1. SIFAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAJERIAL – Pengambilan keputusan terprogram adalah keputusan rutin yang dibuat begitu sering sehingga manajer telah mengembangkan aturan keputusan untuk diikuti secara otomatis. Keputusan yang tidak terprogram dibuat sebagai respons terhadap situasi yang tidak biasa atau baru; mereka keputusan yang tidak rutin. 
  2. LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN – Saat mengambil keputusan, manajer harus mengambil enam langkah ini: mengenali kebutuhan akan keputusan, menghasilkan alternatif, menilai alternatif, memilih di antara alternatif, menerapkan alternatif yang dipilih, dan belajar dari umpan balik. 
  3. BIAS KOGNITIF DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN – Seringkali, para manajer bersikap adil sebagai pembuat keputusan yang baik. Namun, kadang-kadang masalah dapat muncul karena penilaian manusia dapat dipengaruhi secara negatif oleh pengoperasian bias kognitif yang mengakibatkan keputusan yang buruk. Bias kognitif disebabkan oleh kesalahan sistematis dalam cara pembuat keputusan memproses informasi dan membuat keputusan. 
  4. PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELOMPOK – Banyak keuntungan yang dikaitkan dengan pengambilan keputusan kelompok, tetapi ada juga beberapa kelemahannya. Salah satu sumber utama pengambilan keputusan yang buruk adalah groupthink. Manajer dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan kelompok dengan menggunakan teknik seperti devil’s advocacy dan penyelidikan dialektis dan dengan meningkatkan keragaman dalam pengambilan keputusan kelompok. 
  5. PEMBELAJARAN ORGANISASI DAN KREATIVITAS – Pembelajaran organisasi adalah proses di mana manajer berusaha untuk meningkatkan keinginan dan kemampuan karyawan untuk memahami serta mengelola organisasi dan lingkungan tugasnya sehingga karyawan dapat mengambil keputusan untuk terus meningkatkan efektivitas organisasi. 
  6. KEWIRAUSAHAAN DAN KREATIVITAS – Kewirausahaan adalah mobilisasi dari sumber daya untuk memanfaatkan kesempatan untuk menyediakan pelanggan dengan barang dan jasa yang baru atau lebih baik. Organisasi perlu didorong intrapreneurship karena mengarah pada pembelajaran dan inovasi organisasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Jones, Gareth R., George, Jennifer M. 2020. Contemporary Management. 11th Edition. New York : McGraw-Hill Education.

 

THE PRODIGY TEAM

  1. Andrew Parulian Manik
  2. H. J. Panahatan
  3. Rezki Arnita
  4. Yohana Olivia Yulistha

MANAGER SEBAGAI PERENCANA DAN PENGATUR STRATEGI DALAM PENENTUAN KEPUTUSAN

  1. 1 Contoh model dalam pengambilan keputusan terbagi dalam 4 konsep yaitu :

    1. a. Model Klasik, Model Administrastif (rasionalitas terikat - informasi yg lengkap - tidak memuaskan)
    2. b. Model Modern, Model Administrastif (rasionalitas terikat - informasi yg tidak lengkap -memuaskan)
    3. c. Model Klasik, Model Administrastif (rasionalitas terikat - informasi yg tidak lengkap - memuaskan)
    4. d. Model Modern, Model Administrastif (rasionalitas terikat - informasi yg tidak lengkap - tidak memuaskan)
    Correct!
    Wrong!
  2. 2 Apakah yang di maksud dengan teknik devil advocacy ?

    1. a. Seseorang yang mengemukakan pendapat berlawanan dari lawan bicaranya
    2. b. Seseorang yang mengemukakan pendapat searah dengan pendapat lawan bicaranya
    3. c. Sesorang yang netral atas seluruh pendapat
    4. d. Seseorang yang memilih tidak berpendapat
    Correct!
    Wrong!
  3. 3 Dibawah ini yang bukan merupakan prinsip Peter Senge dalam menciptakan pembelajaran inovasi adalah..

    1. a. Mengembangkan penguasaan diri
    2. b. Mempromosikan kreativitas individu
    3. c. Mengembangkan selera bereksperimen dan pengambilan risiko
    4. d. Membangun visi bersama
    Correct!
    Wrong!
  4. 4 Pada tragedi proyek Pesawat ulang-alik Challanger 1986, Kesalahan langkah pengambilan keputusan dianggap sebagai salah satu penyebab utama kecelakaan tersebut, kriteria apakah yang terabaikan pada proses evaluasi alternatif :

    1. Legality
    2. Ethicalness
    3. Economic
    4. Practically
    Correct!
    Wrong!

Created on
  1. Quiz result

    EXCELLENT!

    You scored
    Correct!

    Silahkan di screenshot sebagai syarat mengikuti undian berhadiah 🙂

    Share Your Result

Like it? Share with your friends!

6
6 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
1
Fun
Genius Genius
6
Genius
Love Love
5
Love
OMG OMG
2
OMG
Win Win
1
Win

16 Comments

  1. Bilamana pengambilan keputusan Dengan intuisi dilakukan? Mengingat ada keadaan dimana walau didasari data sekalipun akhirnya manajer memutus dengan intuisinya, serta bagaimana cara mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil dengan cara intuisi?
    Terima kasih

  2. Bagaimana tanggapan teman-teman terhadap keputusan berisiko tinggi pada suatu perusahaan yang bertentangan secara legality dan ethicalness namun secara economic feasibility memberikan manfaat ekonomi yang signifikan sangat baik bagi perusahaan? Apabila teman-teman sebagai pemimpin dihadapkan dengan alternatif keputusan tersebut apakah pertimbangan teman-teman untuk mengambil atau tidak mengambil keputusan tersebut?

  3. Luar biasa,

    Izin bertanya terkait pengambilan keputusan terprogram dan tidak terprogram. Menurut penulis, siapa yang lebih sering mengambil keputusan terprogram dan siapa yang lebih sering mengambil keputusan tidak terprogram?

    Terimakasih.

  4. Mengenai penerapan intrapreneur di perusahaan, apakah ada contoh nyata untuk mengetahui bahwa promosi organisasi dan intrapreneurahip menjadi salah satu opsi dalam mengurangi hilangnya karyawan yang memiliki ide kreatif yang belum terealisasi ?

  5. Menarik sekali artikelnya. Dalam satu hal harus membuat keputusan tidak terprogram (non rutin) yang urgent untuk diputuskan, karena menyangkut kelanjutan operasianal, bagaimana sebaiknya yang harus dilakukan, kaitannya dengan 6 langkah proses pengambilan keputusan? apakah ada metode untuk mempercepat proses tersebut?tks

  6. Sangat menarik artikelnya! Ijin bertanya, bagaimana seorang manajer mengambil keputusan saat dia terjebak dalam kondisi dimana mayoritas suara/ keputusan (group think) berpendapat kontra terhadap intuisi/ informasi akurat yang dimiliki si manajer? Bagaimana jika keyakinan dan data yang dimiliki manajer tidak mendapat dukungan dari kelompok sehingga sulit untuk dilakukan devil’s advocacy? Akankah sebagai manajer harus mengorbankan keyakinannya dan mengikuti suara mayoritas seperti yang terjadi pada manajer NASA dalam mengambil keputusan untuk tidak menunda the Challenger space shuttle? Mohon penjelasannya, terima kasih.

  7. Artikel yang menarik…
    saya ingin bertanya bila terdapat case seperti ini, seorang manager memiliki sebuah keputusan A yang sudah ditimbang dengan data yang cukup namun saat ditanyakan dan dikonsultasikan kepada bawahannya, mayoritas memilih keputusan B. Namun karena wewenang pengambilan keputusan berada di tangan manager maka manager tetap memilih keputusan A sesuaii intuisi dan data yang ia percayai. Bagaimana menurut teman-teman tindakan tersebut? sebaiknya apa yang harus dilakukan manager terebut?

  8. Artikel yang menarik…
    saya ingin bertanya bila terdapat case seperti ini, seorang manager memiliki sebuah keputusan A yang sudah ditimbang dengan data yang cukup, namun saat ditanyakan dan dikonsultasikan kepada bawahannya, mayoritas memilih keputusan B. Namun karena wewenang pengambilan keputusan berada di tangan manager maka manager tetap memilih keputusan A sesuai intuisi dan data yang ia percayai. Bagaimana menurut teman-teman tindakan tersebut? sebaiknya apa yang harus dilakukan manager terebut?

  9. Artikelnya sangat menarik… Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Bagaimana menurut anda langkah yang harus diambil seorang manajer apabila dia dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan dia mengambil keputusan tidak terprogram dalam suatu perusahaan plat merah yang mana pola perusahaannya penuh dengan birokrasi dan regulasi yang ketat?

  10. Artikel yang sangat menarik dari teman-teman The Prodigy Team, namun saya ingin bertanya. Salah satu hal yang dinilai dari seorang manager biasanya adalah pengalamannya. Dari pengalaman akan timbul pola pikir dan juga pembelajaran terkait keputusan-keputusan tertentu yang harus di ambil dalam situasi-situasi yang tertentu pula. Dalam artikel telah dijelaskan terkait 6 langkah pengambilan keputusan. Menurut teman-teman, apakah bila seorang Manager telah memiliki pengalaman dalam suatu masalah, dan kembali dihadapkan dengan masalah yang hampir mirip atau sama, masihbperlu menggunakan 6 langkah tersebut? Atau menjalankan sesuai dengan pengalaman sebelumnya? Mengingat pengalaman sebelumnya mungkin saja bisa menyelesaikan masalah namun mungkin sebenarnya masih ada opsi” lain yang belum tereksplore dan bisa menghasilkan penyelesaian yang jauh lebih baik. Mohon pencerahannya 🙏

  11. Haiii. Artikelnya sangat menarik dan related sama kegiatan sehari2 saya. Oleh karena itu saya izin bertanya dari artikel diatas terdapat 4 sumber bias yang dapat mempengaruhi seorang manajer dalam mengambil keputusan salah satunya yaiyu llusion of Control. Pada dasarnya manager harus bisa
    Melakukan segala hal, paling tidak memahami segala hal, karena akan menyangkut dalam
    Segala keputusan yg akan di ambil. Bagaimana seorang manager dapat memposisika. Dirinya untuk tidak melakukan semua hal? Ketika direktur memberikan lebih dari 1 pekerjaan diwaktu yg sama karena direktur kita tau kemampuan kita. Sedangkan disisi lain kita tidak bisa melakukan semua hal. Terima kasih

  12. hallo temen teman manager, bisnis adalah persaingan yang luar biasa, apalagi di perusahaan yb sama platform nya sekarang beertemen , nanti besok bersaing kembali , bisnis merupakan faktor keberhasilan suatu bisnis untuk bertahan di keras nya persaingan. tak jarang perang harga terjadi untuk memperebutkan kue di pasar yang kadanga kadang besar tak jarang juga seperti saat ini kue nya mengecil , dan disisi lain perusahaan berupaya untuk efesiensi memangkas biaya produksi (low-cost strategy), bagaimana pendapat teman teman manager persepsi yang jadi acuan saat ini dipasar “kualitas berbanding lurus dengan harga” jika situasinya seperti saat ini bagaimana cara memutuskan nya

  13. ingin bertanya mengenai faktor yang memperngaruhi manajer dalam mengambil keputusan, salah satunya adalah ilusi kendali. Ilusi kendali ini akan sering dijumpai terutama jika manajer tersebut telah menduduki suatu jabatan dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana contoh bentuk dampak dari ilusi kendali yang menguntungkan dan merugikan, terutama jika suatu divisi atau departemen yang ia pimpin sedang terkena masalah komplain/claim dari customer. Terimakasih

  14. Untuk bisa mengambil sebuah keputusan yang baik, seseorang harus bisa merasakan dulu dua hal ini. Pertama, bagaimana sebuah pilihan yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda. Kedua, seberapa kuat keinginan yang dimiliki untuk mendapatkan keputusan tersebut. Artinya, decision making memerlukan prediksi dan juga penilaian. Mohon pencerahan bagaimana cara meningkatkan decision making skill seseorang?Terima kasih.

  15. Dalam kondisi pandemi yang terjadi secara tidak terduga, banyak pemimpin perusahaan harus melakukan keputusan tidak terpogram, seperti melakukan efisiensi biaya operasional. Dilema juga terjadi apakah efisiensi dilakukan dengan PHK karyawan atau mengurangi sallary secara merata dan adil. Menurut anda bagaimana cara mengambil keputusan dengan case seperti ini, dan model keputusan apa yang terbaik? terima kasih

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format