Sepatu Compass Siap Melejit Kembali

apakah sepatu compass dapat melejit seperti diawal kemunculan ?


0

Sepatu Compass

Compass merupakan salah satu brand sepatu yang memiliki value unik dibandingkan produk/brand usaha sejenis. Di antara kebisingan brand-brand baru yang muncul, brand ini tetap menjaga jiwa dari model bisnisnya sejak tahun 1998 yaitu sebagai bisnis keluarga kecil di Bandung. Hal ini dilatarbelakangi oleh rasa kecintaan pemilik terhadap usaha dan juga para karyawan yang telah bekerja selama beberapa dekade. Usaha yang turun temurun dikembangkan ini awalnya memproduksi sepatu dari brand-brand luar negeri yang sangat terkenal dan populer di pasar. Hingga pada suatu ketika, pemilik mendapatkan tawaran untuk memproduksi sepatu dengan brand lokal bernama Gazelle. Compass pada awalnya adalah nama sebuah pabrik yang memproduksi salah satu sepatu bernama Gazelle. Saat ini, Gazelle diadopsi menjadi nama sepatu dari brand Compass.

Tahun lalu, produk ini cukup menggemparkan publik dengan membuat antrian yang panjang di lobi Mall Grand Indonesia hingga dibubarkan oleh panitia karena dinilai sudah mulai ricuh. Saat itu, Compass merilis dua model sepatu baru hasil kolaborasi dengan Pot Meets Pop dan Old Blue Co. dengan jumlah terbatas yakni 240 pasang dari tiap model. Dengan kapasitas produksi yang terbatas, brand sepatu ini makin menjadi incaran banyak orang dan menciptakan hype yang tinggi. Dengan modal 700rb, reseller dapat menjual kembali sepatu ini hingga harga 3 juta rupiah. Di balik benar atau tidaknya kapasitas produksi yang terbatas, tingginya minat dari para calon pembeli membuat kita ingin mengulas strategi apa yang secara sekilas digunakan oleh brand Compass.

Kenapa produk ini berhasil ?

Keberhasilan yang diperoleh Compass saat ini merupakan akumulasi dari kegagalan berdekade lamanya dan pengalaman bangkrutnya pabrik sepatu ini. Pada tahun 1980an, Compass merupakan nama pabrik vendor yang memproduksi sepatu dengan brand-brand internasional. Namun, perjalanan pabrik ini tidak selalu berjalan mulus. Suatu saat, Compass harus bangkrut dan mengganti namanya namun masih tetap memproduksi sepatu brand internasional. Brand ini diwariskan ke anak dari pemilik. Tahun 1998 menjadi salah satu titik balik Compass. Brand ini mulai bersaing mengikuti tren dari brand Converse, Warriors, dan sebagainya. Namun, kembali brand ini ambruk pada tahun 2013 karena kalah bersaing dengan brand lain yang menjiplak desain mereka. Keadaan tersebut memaksa mereka harus bertahan dengan memproduksi sepatu brand-brand lain. Dari perjalanan panjang tersebut brand ini mendapat pengalaman yang banyak untuk bergerak terus menerus.

Pada tahun 2017, Compass berhasil mengidentifikasi pasar dengan merilis sepatu dengan desain kekinian. Motif sederhana, warna netral, dan bahan kanvas mengingatkan kita dengan sepatu brand-brand internasional. Compass mengetahui bahwa penggerak utama trend ada pada kalangan millennials dan anak muda. Ditambah lagi Compass berkolaborasi dengan brand-brand dan desainer terkenal untuk merilis sepatu spesial mereka yang membantu meningkatkan nama Compass. Dengan spesifikasi yang relatif sama dengan produk sejenis, harga yang ditawarkan jauh lebih murah yaitu Rp278.000 untuk low top dan Rp318,000 untuk high top pada seri Gazelle. Sedangkan, pesaing menawarkan harga kisaran Rp700.000 untuk low top dan Rp900.000 untuk high top.

Sepatu ini juga dipopulerkan oleh para influencer seperti Najwa Shihab dan Dr. Tirta. Hal ini menjadi kombinasi strategi pemasaran mereka dengan strategi model kelangkaan untuk menarik minat para pembeli. Strategi model kelangkaan telah digunakan oleh perusahaan raksasa seperti Nike dan Adidas. Namun, faktor terbesar dari besarnya antusiasme Compass adalah value yang ingin disampaikan oleh brand tersebut. Mereka menitipkan selembar kertas di dalam kotak sepatu yang menjadi pesan dari para pembuat sepatu untuk para pembeli sepatu. Selembar kertas tersebut terdiri dari 4 bagian yang dipisah ke setiap kotak sepatu. Oleh  karena itu, pesan yang diterima pembeli akan menjadi utuh ketika mereka mendapatkan 4 bagian tersebut. Untuk mendapatkan 4 bagian secara lengkap, pelanggan tentunya perlu beberapa kali membeli dan mengoleksi sepatu untuk mendapatkan kesempatan menemukan bagian yang masih belum lengkap. Di sanalah pengalaman perjalanan Compass sampai sekarang akan terasa oleh para pembeli.

Fase Dalam Product Life Cycle (PLC)

Menurut kelompok kami, saat ini sepatu Compass berada pada fase Sales Growth. Pada fase ini, penjualan dan laba bertambah secara kilat. Diakibatkan permintaan sangat bertambah dan pula warga dekat telah mengenali produk bersangkutan, sehingga usaha promosi yang dilakukan oleh pihak manajemen Compass tersebut tidak seagresif tahap sebelumnya. Di dalam sesi ini lahan pesaing telah mulai merambah pasar sehingga ada persaingan jadi lebih ketat. Metode lain yang bisa dicoba buat bisa memperluas dan pula tingkatkan distribusinya dengan metode merendahkan harga jualnya. Kamu masih ingat pada 13 Desember 2018 lalu, Grand Indonesia, Jakarta, penuh sesak oleh anak-anak muda? Ya, mereka rela mengantri lama demi bisa membawa pulang sepatu Compass. Brand sneakers lokal yang namanya kembali mencuat sejak 2017 lalu. 

Berbicara mengenai Compass, kita tidak bisa lepas dari sejarah panjang yang telah mereka lalui. Produsen sepatu ini telah berdiri sejak tahun 80-an. Ketika itu mereka belum memproduksi merek dagang sendiri, melainkan masih menjadi vendor produsen untuk merek-merek sepatu luar negeri. Dari Kota Kembang, mereka memproduksi sepatu dengan kualitas yang tidak kalah dengan merek-merek sneakers besar yang ada di pasaran. Karena banyak faktor, bisnis sepatu milik keluarga Gunawan ini menyentuh titik terendahnya, ditinggalkan oleh rekanan yang selama ini menghidupi pabrik tersebut. Pada 1998, Gunawan sebagai penerus bisnis keluarga tersebut, memutuskan untuk membuat merek sendiri, sepatu Compass. Keputusan itu didorong oleh booming-nya sneakers pada masa itu. Mungkin kamu masih ingat bagaimana brand Converse berjaya sekali ketika itu. Gunawan pun mencoba peruntungannya, terjun ke pasar dan bersaing dengan merek luar serta lokal. Kamu juga tentu masih ingat masa itu merek sepatu Warrior sempat sangat populer? Compass dan Warrior menjadi tujuan anak muda yang ingin memiliki Converse, namun terkendala pada harga. Kita tahu merek tersebut memang dibanderol dengan harga cukup tinggi. Tapi, ini bukanlah titik kejayaan Compass. Setidaknya, belum.

Compass ialah merk sneakers vulcanized asal Bandung. Semenjak pendiriannya pada tahun 1998, sneakers ini merupakan bisnis keluarga yang dijalankan secara turun temurun. Didirikan pada tahun 1988 dengan nama Gazelle, sehabis 10 tahun, pihak manajemen mengubah nama mereknya menjadi Compass. Pada tahun 2018, anak pendiri melaksanakan pergantian besar dengan memutuskan melaksanakan pemugaran merk (rebranding). Keputusan tersebut menjadikan Compass bagaikan sneakers lokal dengan perkembangan penggemar yang terbilang kilat. Perihal itu bisa dilihat dari perkembangan jumlah pengikut Compass di Instagram. Compass memakai logotype bergaya old school, dengan style huruf script yang menguatkan kesan klasik merk sneaker lokal tersebut. 

Setelah sempat digandrungi selama beberapa saat, Compass kembali jatuh di tahun 2013. Konon saat itu, sepatu mereka banyak ditiru. Munculnya sepatu-sepatu imitasi di pasaran membuat bisnis sneakers lokal tersebut kolaps. Nasib baik bagi Gunawan, sebab setahun sebelumnya, tepatnya pada 2012, takdir mempertemukan ia dengan Aji Handoko Purbo. Sosok yang kini menjadi creative director brand Compass. Namun, tentu saja perkenalannya ketika itu bukan untuk menggarap Compass. Aji datang kepada Gunawan dengan desain sepatu ARL, merek sepatu milik Ariel NOAH. Dari sinilah hubungan baik antara Aji dan Gunawan, sang pemilik Compass, mulai terjalin.

Butuh waktu lima tahun sampai Gunawan mempercayakan proses rebranding  Compass kepada Aji di tahun 2017. Aji yang sejak kecil memang sangat menyukai sepatu menyambut kesempatan tersebut dengan tangan terbuka. Tak tanggung-tanggung, Aji dipercaya mulai dari riset, desain, hingga pemasaran dan kampanye-kampanye yang akan dilakukan oleh Compass. Rupanya hal tersebut berbuah manis, sebab di tangan Aji, merek sneakers lokal asal Bandung tersebut bangun dari tidur panjangnya. Pilihan menjadikan Aji Handoko Purbo sebagai creative director, tentu bukan keputusan asal-asalan. Telah lama, Aji terobsesi dengan sepatu. Bahkan saat kecil, setiap kali membeli sepatu baru, Aji terbiasa mengamati sepatu tersebut dan membawanya tidur. Ia tidak cukup beruntung untuk mengenyam pendidikan di bidang desain atau bisnis, tapi itu tak menghalangi Aji untuk belajar. Ia mempelajari desain-desain sneakers dari produk-produk yang ia beli. Sempat juga menjadi supplier tali sepatu hingga menjaga salah satu gerai sneakers ternama di Jakarta. Proses panjang itu membentuk jejaring dan wawasan Aji. Maka, ketika Compass dipercayakan kepadanya, ia telah siap muncul dengan ide-ide kreatif.

Perkembangan pengikut di media sosial berakibat pada penjualan, mengingat penjualan sneakers Compass dikala ini masih dicoba secara online di Instagram serta e-commerce Bukalapak dengan harga retail kisaran Rp. 278.000 – Rp. 318.000. Tidak hanya itu, semenjak 2017 Compass pula melaksanakan pemasaran lewat penjual formal (reseller) yang saat ini telah terdapat sebanyak 37 reseller yang tersebar di segala Indonesia. Banyak yang mengatakan saat ini bukanlah era kompetisi, melainkan era kolaborasi. Jika kita amati, banyak sekali brand yang berkolaborasi dengan brand lain atau dengan influencer. Peluang ini juga yang ditangkap oleh Aji dan tim Compass.

Di awal kemunculannya kembali, Compass menggandeng influencer Brian Notodiharjo atau yang lebih akrab disapa Bryant. Mereka meluncurkan Compass Bravo yang habis terjual hanya dalam satu setengah jam saja. Keberhasilan dan nama besar tidak dapat diraih dalam satu malam. Ada proses panjang dibalik hal tersebut. Ada proses belajar yang tiada henti. Ada keinginan untuk terus mencoba yang tidak pernah pupus. Dan ada kerja sama. 

Rekomendasi Strategi Pemasaran Compass

Masa jaya dari tahun 2017 menghantarkan compass untuk terus bertumbuh. Fase sale growth ini meyakinkan pasar bahwa compass masih diminati. Tiga tahun berjalan dengan peminat yang banyak bukanlah suatu pencapaian yang mudah. Kita sangat menyadari bahwa sepatu compass sangat diminati terutama dari kalangan anak muda. Pertumbuhan ini diharapkan akan selalu naik tidak stagnan dan tidak diharapkan akan menurun oleh karena itu kami menyarankan beberapa hal sebagai strategi untuk sepatu compass agar terus meningkatkan penjualannya.

A. Membuat saluran distribusi baru 

Sepatu Compass belum mempunyai toko tersendiri untuk memasarkan produknya, Tim dari Compass hanya memanfaatkan 3 media sosial sebagai wadah untuk memasarkan produknya, yaitu: 

1. Akun Instagram Compass (https://www.instagram.com/sepatucompass/)

2. Akun Bukalapak Compass (https://www.bukalapak.com/u/sepatucompass

3. Website Compass (https://sepatucompass.com/)

Sepatu Compass melakukan proses produksi yang terbatas untuk setiap edisi sepatunya. Oleh karena itu, konsumen yang ingin mendapatkan produk dari Sepatu Compass harus selalu up to date terhadap segala informasi di akun instagram Sepatu Compass. Karena produk yang bersifat limited edition, hal tersebut membuat para konsumen tidak bisa mendapatkan produk Sepatu Compass dengan sistem ready stock.

Dengan adanya fakta diatas kami menyarankan agar sepatu compass membuka brick-and-mortar dengan satu toko online di salah satu tempat. Tempatnya itu bisa dikategorikan sebagai daerah yang mempunyai banyak pembeli potensial misalnya di Ibukota banyak sekali komunitas ‘sneakerhead’ atau kelompok pecinta sneaker. Dengan dibukanya toko online di jakarta tentu akan meningkatkan daya tarik pecinta sneaker. 

B. Menangkap kelas umur yang berbeda

Kita telah mengetahui bahwa sepatu compass membawa daya tarik kepada anak muda. Dengan gaya dan warna yang klasik akan menambah kesan modis bagi setiap pemakai sepatu tersebut. Desain tersebut sangat cocok untuk kalangan muda saja tetapi tidak dengan kalangan tua dan anak-anak. Kami menyarankan agar compass memperlebar sayapnya untuk menangkap konsumen bapak-bapak atau ibu-ibu dan juga anak-anak. Untuk kalangan tua (bapak-bapak dan ibu-ibu) compass bisa mendesain dengan warna yang lebih redup dan soft atau bisa ditambahkan dengan bantalan yang lebih empuk untuk menjaga kenyamanan pemakai yang menginginkan sepatu yang nyaman. Sedangkan untuk anak-anak kami menyarankan agar compass mendesain dengan warna yang lebih cerah dan desain yang lebih heboh sehingga memberikan kesan ceria dan aktif. 

Rekomendasi Pengembangan Produk Baru

Sepatu Compass yang memiliki banyak peminatnya ini, memiliki tampilan unik yang berasal dari inovasi kreatif pada desainnya. Dalam membuat inovasi produk, diperlukan eksplorasi terhadap kreativitas sebanyak mungkin. Serta memahami selera target konsumen yang dituju, sebab jika produk yang dinilai bagus terhadap produsen namun tidak sesuai pada selera pasar maka belum tentu akan diminati oleh konsumen. Salah satu strategi pemasaran yang dilakukan Compass adalah mengenalkan konsep baru pada brand tersebut.

Produk baru perlu dikeluarkan untuk meningkatkan nama brand serta menggaet lebih banyak lagi konsumen. Langkah yang sudah dilakukan Compass adalah dengan memproduksi seri eksklusif dan dijual pada jumlah terbatas. Seri eksklusif ini merupakan hasil kolaborasi dengan public figure maupun fashion brand. Langkah ini dinilai berhasil karena setiap produk seri eksklusif dikeluarkan, selalu habis terjual bahkan hanya dalam waktu singkat.

Pengembangan produk baru untuk selanjutnya bisa dilakukan lagi dengan mengeluarkan produk seri eksklusif yang berkolaborasi dengan tokoh tertentu, karena sudah dinilai sukses pada saat dilakukannya strategi tersebut. Rekomendasi lainnya yaitu mengeluarkan produk eksklusif tanpa kolaborasi dengan tokoh tertentu. Nilai produk yang disampaikan yaitu dengan memberikan sentuhan tren masa kini tanpa menghilangkan unsur identitas brand.

Penulis :

  • Francisca Puspalinda    17/408698/EK/21270

  • Irma Afifah Humaira    18/429422/EK/22031

  • Muhammad Zaky Z. I.  19/441477/EK/22495

  • Fathiya Fithratun Nisa  19/441461/EK/22479

 

REFERENSI 

Alasan Sepatu Compass Banyak Dicari Anak Muda Masa Kini. (t.t.). @CekAja. Diambil 8 November 2020, dari https://www.cekaja.com/info/alasan-sepatu-compass-banyak-dicari

#cipengvlog BAHAS TUNTAS SEPATU COMPASS. (t.t.). Diambil 7 November 2020, dari https://www.youtube.com/watch?v=9yWWOuJa_mQ&ab_channel=InCipengWeTrust

Compass® (@sepatucompass) • Foto dan video Instagram. (t.t.). Diambil 8 November 2020, dari https://www.instagram.com/sepatucompass/

Heboh Sepatu Compass, Ada Apa? (t.t.). Diambil 7 November 2020, dari https://www.youtube.com/watch?v=ggk0bhtfI0s&t=31s&ab_channel=Asumsi

Home. (t.t.). Sepatu Compass. Diambil 7 November 2020, dari https://sepatucompass.com/

Lapak sepatu compass sepatucompass | Bukalapak. (t.t.). Diambil 8 November 2020, dari https://www.bukalapak.com/u/sepatucompass

Studio, C. W. D. (2020, Mei 29). Sepatu Compass: Hampir Meredup, Kini Selalu Habis Diburu. Media Bisnis Online. https://mebiso.com/sepatu-compass-hampir-meredup-kini-selalu-habis-diburu/

 


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format