Mengulas Idealisme Ben & Jody Dalam Film Filosofi Kopi 2

Mengulas bagaimana idealisme Ben & Jody dalam film Filosofi Kopi 2 memengaruhi marketing channels kedai Filosofi Kopi yang mereka jalankan


1
1 point

               

Sumber: https://www.instagram.com/filkopmovie/


Filosofi Kopi 2: Ben & Jody merupakan sebuah film lanjutan dari Filosofi Kopi 1 yang bercerita mengenai lika-liku bisnis milik 2 sahabat, Ben & Jody, yang membuka usaha kopi bernama “Filosofi Kopi”. Awalnya, berjualan di sebuah kedai di daerah Melawai, Jakarta. Namun, demi membayar utang warisan ayah Jody, mereka terpaksa menjual kedai tersebut dan mengubah konsep bisnisnya menjadi berjualan kopi keliling Indonesia dengan kendaraan Combi. Salah satu ciri khas dari kopi mereka adalah selalu memberi kartu yang berisi filosofi dari setiap kopi yang disajikan. Kartu inilah yang menjadi daya tarik bagi para konsumen yang datang. Dalam perjalanan bisnisnya, terdapat banyak konflik yang dialami. Konflik awal dimulai dengan 3 pegawai mereka yang mengundurkan diri dari Filosofi Kopi karena berbagai alasan. Hal ini membuat Ben & Jody semakin sering berselisih pendapat karena sulit merekrut barista baru. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan membuka kedai Filosofi Kopi lagi di sana. Pembukaan kedai ini juga memunculkan beberapa konflik seperti: Tarra, investor Filosofi Kopi yang menginginkan saham sebesar 49%, dan Brie, barista baru Filosofi Kopi yang sering berselisih pendapat dengan Ben, hingga masalah pribadi antara keluarga Ben dan keluarga Tarra. Mulai dari pembukaan kembali kedai Filosofi Kopi di Jakarta yang sukses hingga melakukan ekspansi pembukaan kedai Filosofi Kopi di Jogja, film ini menceritakan konflik bisnis dan pribadi antara keempat tokoh utamanya, yakni Ben, Jody, Tarra, dan Brie.

                                         

Di dalam film ini, terlihat bahwa pemilik kedai Filosofi Kopi (Ben & Jody) sulit untuk menerima masukan dari orang lain. Mereka terkesan sangat idealis dalam memutuskan sesuatu dan lebih percaya dengan kinerja mereka sendiri serta cenderung mengabaikan saran orang lain. Di salah satu scene diperlihatkan bahwa marketing channel mereka sangat kurang. Terdapat satu barista baru yang mengunggah foto kopi yang dibuat oleh Ben di media sosial sebagai usaha memasarkan produknya. Namun, Ben sebagai barista utama Filosofi Kopi malah marah mengetahui hal itu. Menurut Ben, tidak perlu ada promosi di media sosial karena semua orang tahu bahwa rasa dari kopi yang mereka buat sudah enak, sehingga calon konsumen akan datang dengan sendirinya. Hal ini menunjukan bahwa marketing yang dilakukan Filosofi Kopi sangatlah minim. Mereka menggunakan direct marketing channel yakni melakukan penjualan serta pemasaran langsung di kedainya dan tidak menggunakan saluran pemasaran yang lain. Hal ini tentunya bukan keputusan yang tepat mengingat peran marketing channel adalah membantu mempromosikan dan menjual produk suatu perusahaan. Jika mereka terus bersikukuh dengan sikap seperti ini, maka bukan tidak mungkin cepat atau lambat akan menjadi masalah besar bagi mereka, mengingat di masa kini tren pertumbuhan jumlah kedai kopi semakin tinggi dan mampu menjadi pesaing baru kedai Filosofi Kopi.


Channel Behavior

Seperti yang kita ketahui dari film itu sendiri kedai filosofi kopi kerap melakukan segala sesuatu nya sendiri, mulai dari promosi hingga pelayanan mereka lakukan sendiri tanpa menggunakan pihak lain, hal ini dibuktikan dari scene dimana salah satu karyawan filosofi kopi dipecat dari pekerjaannya saat sedang mencoba melakukan promosi di internet. Hal ini membuktikan bahwa kedai tersebut menganut sistem conventional marketing channel dan melakukan semuanya dalam struktur jalur distribusi/channel ini. Mereka melakukan semua hal itu sendirian tanpa ada kerja sama dengan pihak dari luar. Hal ini dinilai kurang efektif dan terlalu beresiko, sebab mereka merasa tidak perlu bantuan dari pihak lain untuk penjualan dan promosi karena menurut mereka konsumen akan datang dengan sendirinya.

Berdasarkan analisis kelompok kami, alangkah baiknya jika Filosofi Kopi mengganti channel behavior mereka ke Contractual vertical marketing system. Dengan channel behavior ini, mereka bisa melakukan kerja sama dengan marketing channel seperti retailer dan reseller secara legal untuk promosi dan distribusi penjualan produk mereka, terutama untuk produk coffee drip/merchandise. Kerja sama  yang legal ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap elemen channel saling bekerja untuk keuntungan bersama dan mampu memperluas distribusi penjualan produk Filosofi Kopi hingga ke luar kota untuk mendapatkan profit yang lebih besar dibanding jika Filosofi Kopi hanya berjualan di kedai saja.


Channel Design Decisions

Untuk saat ini, Filosofi Kopi menggunakan sistem direct channel di mana produsen secara langsung menawarkan produk yang dijualnya kepada konsumen. Sistem ini diterapkan dengan berdirinya kedai permanen terpusat di beberapa kota besar. Supaya lebih optimal dalam memastikan tersedianya pelayanan terbaik bagi seluruh konsumen Filosofi Kopi, desain channel pemasaran dari kedai kopi ini pun tak luput perlu kita tinjau kembali. Sebelum merancang desain channel pemasaran yang efektif dan tepat sasaran perlu juga dilakukan analisis kebutuhan konsumen, penetapan tujuan channel, mengidentifikasi alternatif channel utama, dan mengevaluasi alternatif tersebut. 

Jika kita analisis kebutuhan konsumen dari Filosofi Kopi, segmen pasar yang kedai ini coba sasar adalah kaum muda-mudi dari usia remaja hingga dewasa dan juga pria maupun wanita. Kemungkinan besar mayoritas pelanggan lebih memilih untuk mencicipi secara langsung kopi dari kedai ini agar bisa merasakan suasana dan atmosfer khas yang ditawarkan Filosofi Kopi. Namun, Filosofi Kopi sebaiknya mempertimbangkan segmen pasar yang secara geografis tidak memungkinkan untuk dengan mudah berkunjung ke salah satu kedai. Karena pamor Filosofi Kopi, tak sedikit terdapat calon konsumen yang sangat ingin juga ikut merasakan citarasa produk kopi dari kedai ini. Padahal, Filosofi Kopi telah menyediakan produk biji kopi kemasan, coffee drip, dan merchandise menarik yang bisa menjadi opsi tawaran produk untuk dikirim ke berbagai daerah. Selama film berlangsung, tidak ada penggunaan channel pemasaran untuk menjangkau permintaan segmen pasar tersebut.

Setelah mengetahui apa yang menjadi kebutuhan konsumen, tujuan dari penetapan channel perlu ditentukan. Jika kita tinjau dari film, tujuan dari penerapan sistem direct channel bertujuan untuk memberikan pelayanan dan pengalaman autentik bagi para konsumen sesuai citarasa dan ciri khas Filosofi Kopi. Dengan menambah channel pemasaran, tujuannya adalah untuk melayani segmen pasar yang secara geografis tidak memungkinkan untuk bisa datang merasakan langsung kopi di Filosofi Kopi. Adanya channel pemasaran baru tersebut memungkinkan biji kopi kemasan, coffee drip, dan merchandise dari Filosofi Kopi dibeli segmen yang lebih luas dan memudahkan untuk memenuhi permintaan yang ada.

Kemudian, kita perlu mengidentifikasi alternatif channel utama yang tepat untuk digunakan Filosofi Kopi dalam memenuhi tujuannya. Alternatif channel pemasaran yang dinilai paling optimal adalah dengan memanfaatkan channel pemasaran online melalui intermediary seperti beberapa marketplace contohnya Shopee dan Tokopedia. Selain itu, karena dalam film tidak ditunjukan penerapan digital marketing, platform media sosial Instagram juga bisa dimanfaatkan untuk lebih meningkatkan interaksi atau engagement dengan konsumen. Apabila Filosofi Kopi mau melakukan ekspansi lebih lanjut untuk penjualan produk biji kopi kemasan, coffee drip, dan merchandise  maka dapat mempertimbangkan untuk bekerjasama dengan beberapa toko terpilih sejenis bulk store atau bakery di kota-kota yang tidak terdapat kedai permanen. Filosofi Kopi memilih sistem selective distribution berdasarkan jumlah intermediaries yang terdapat dalam channel pemasarannya karena Filosofi Kopi hanya menawarkan produknya di beberapa kedai permanen dan beberapa marketplace online yang kredibel dan populer di kalangan masyarakat, bukannya sembarang saja menjual produk di seluruh platform.

Setelah menerapkan marketing channels baru yang sebaiknya dilakukan oleh Filosofi Kopi, perlu dilakukan evaluasi terhadap opsi-opsi intermediaries yang dimanfaatkan oleh Filosofi Kopi. Evaluasi ini bisa ditinjau dari aspek ekonomi dengan membandingkan penjualan, biaya, dan profitabilitas. Selain itu, bisa juga mengevaluasi dari seberapa adaptable intermediary tersebut. Contohnya di kasus Filosofi Kopi ini, setelah melakukan transaksi jual-beli di akhir suatu periode perlu dilakukan perbandingan keefektifan outcome antara Shopee dan Tokopedia. Apakah dua-duanya secara optimal dan efisien mendatangkan keuntungan bagi perusahaan? Jika hasil yang diharapkan dari intermediary tersebut tidak tercapai maka bisa dilakukan pembenahan dan pertimbangan ulang.


Channel Management Decision

Hal pertama yang perlu dilakukan dalam mengelola channel adalah melakukan seleksi (hal ini berkaitan erat dengan evaluasi terhadap opsi intermediaries yang dilakukan pada tahap sebelumnya). Pada tahap ini Filosofi Kopi perlu untuk melakukan penilaian, intermediaries mana yang memiliki nilai yang selaras dengan Filosofi Kopi. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa siapapun yang mendengar atau membeli suatu produk dengan brand Filosofi Kopi dimanapun mengidentifikasi brand tersebut sebagai brand yang terpercaya dan konsisten. Apabila intermediaries tidak memiliki value yang sama dan pelayanannya tidak setipe dengan Filosofi Kopi maka image dari brand dapat berubah di mata konsumen. 

Kedua, Filosofi Kopi perlu untuk mengelola dan memotivasi channel yang ada dengan membangun hubungan yang baik dan meyakinkan bahwa apabila kita bekerja sama maka dapat menjadi sebuah cohesive value delivering system yang tidak terpisahkan. Hal ini dapat dilakukan misal dengan partnership dengan seniman yang menggambar logo Filosofi Kopi, mereka dapat menawarkan paten branding logo atau bahkan menawarkan menjual beberapa karya seninya di cafe tersebut. Sebaliknya, seniman dapat diminta untuk mempromosikan Filosofi Kopi dalam pameran seni atau melalui media sosialnya. Bentuk promosi bisa dalam bentuk ucapan atau misalnya membuka stand merchandise filosofi kopi dengan beberapa persen penghasilan untuk seniman tersebut. Produk gabungan seperti itu membantu partner untuk merasa bahwa Filosofi Kopi dan partner-nya adalah satu entitas yang tidak terpisahkan dan perlu melakukan penjualan secara bersama-sama untuk memberikan value yang lebih baik.

Perusahaan harus secara teratur memeriksa kinerja channel members terhadap standar seperti kuota penjualan, tingkat persediaan rata-rata, waktu pengiriman pelanggan, perawatan barang yang rusak dan hilang, kerjasama dalam program promosi dan pelatihan perusahaan, dan layanan kepada pelanggan. Perusahaan harus mengenali dan menghargai perantara yang berkinerja baik dan memberikan nilai tambah bagi konsumen. Mereka yang berkinerja buruk harus dibantu atau, sebagai upaya terakhir, diganti. Filosofi Kopi dapat memeriksa apakah standar atau target yang ditetapkan untuk setiap channel terpenuhi. Apabila misalkan penjualan pada Tokopedia dirasa tidak memenuhi target (dan didukung oleh data yang meleset jauh dari proyeksi penjualan) maka kerjasama dengan channel tersebut dapat dihentikan atau diperbaiki. Terakhir, perusahaan harus peka terhadap kebutuhan mitra penyalur mereka. Mereka yang memperlakukan pasangannya dengan buruk berisiko tidak hanya kehilangan dukungan mereka tetapi juga menyebabkan beberapa masalah hukum.

Pada tahap terakhir, Filosofi Kopi perlu untuk memperhatikan kebijakan publik dan menentukan keputusan distribusi. Apabila Filosofi Kopi menggunakan perantara, apakah distribusi bebas, exclusive distributions, atau exclusive dealing. Meninjau dari channel yang dimiliki oleh Filosofi Kopi, maka akan lebih baik apabila menerapkan exclusive distributions, terutama untuk merchandise. Sedangkan untuk penjualan secara online maka dapat digunakan distribusi bebas. Pada penjualan di outlet lain, misal di bakery, maka Filosofi Kopi dapat menggunakan exclusive dealings, tetapi hanya pada outlet perantara yang dirasa sangat cocok dengan image Filosofi Kopi, terpercaya, serta profitable saja.


Solusi Kreatif

Berdasarkan hasil analisis permasalahan yang telah dilakukan kelompok kami, terdapat beberapa solusi kreatif terkait marketing channels Filosofi Kopi yang dapat kami berikan, yakni:

1. Kerja Sama dengan Retailer/Reseller

                           

Ben sebagai pemilik sekaligus barista Filosofi Kopi harus berusaha untuk menurunkan idealisme dan ego dirinya. Ia harus sadar bahwa popularitas Filosofi Kopi tidak akan bertahan selamanya. Untuk meningkatkan penjualan dan profit kedai, mereka harus melakukan strategi pemasaran yang salah satunya bisa dilakukan dengan menggunakan marketing channels seperti retailer/reseller (Indirect marketing channels). Selain menjual kopi seduh/cangkir, Filosofi Kopi juga menjual paket biji kopi/coffee drip yang telah diproses dan dikemas sehingga calon konsumen cukup menyeduhnya saja ketika ingin meminum. Produk ini dapat disalurkan kepada retailer/reseller untuk kemudian mereka jual ke pasar yang lebih luas agar tidak hanya menjual di kedai saja. Terlebih lagi, Filosofi Kopi sudah pernah berkeliling dengan Combi sehingga pasti banyak orang di luar Jakarta yang mengetahui Filosofi Kopi namun tidak bisa mencicipinya karena berada di kota berbeda. Selain menambah pasar penjualan produk, penggunaan marketing channels ini juga dapat menjadi sarana pemasaran Filosofi Kopi karena mereka (Ben & Jody) mendapat bantuan dari para retailers/resellers untuk mempromosikan dan menyebarkan informasi serta value yang diberikan oleh Filosofi Kopi (How Channel Members Add Value).


2. Maksimalisasi Penggunaan Media Sosial

                                         

Tidak dapat dimungkiri bahwa media sosial menjadi salah satu platform pemasaran yang banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan saat ini. Selain kemudahan penggunaan, luasnya jangkauan yang bisa diperoleh dari media sosial juga menjadi alasan mengapa platform ini banyak digunakan. Media sosial bisa menjadi salah satu marketing channel yang digunakan oleh Filosofi Kopi. Melalui saluran ini, akan lebih banyak orang yang mengetahui informasi dan keunggulan terkait produk Filosofi Kopi. Selain itu, Filosofi Kopi juga bisa memanfaatkan saluran seperti e-commerce/marketplace untuk menjual produknya. Selain menjual biji kopi/coffee drip, mereka juga bisa menjual merchandise Filosofi Kopi seperti yang ada di salah satu scene secara online agar calon konsumen tidak perlu jauh-jauh ke kedai untuk membelinya. Ben sebagai pemilik dan barista Filosofi Kopi harus sadar bahwa dalam berbisnis kita harus selalu adaptif dengan perkembangan zaman dan teknologi.

----------------------------------------

Kelompok 9 – The Unstoppable Ninjas

Anggota: 

Adilla Sita Yodianti (18/426511/EK/21842)

Faradina Yunita Dewi (19/439922/EK/22290)

Rayhan Marfiano Rosyada (19/439925/EK/22293)

Ridho Savero (19/444857/EK/22675)

Kirana Lalita Pristy (19/444839/EK/22657)

----------------------------------------

Referensi

Kotler, P., & Gary Armstrong. 2018. Principles of Marketing Global Edition (17th Ed.). Harlow: Pearson Education Limited


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format