LIKA-LIKU ABSOLUTE EVENT ORGANIZER MILIK FARIDA ACHMAD

Rejeki, Tuhan yang mengatur. Farida Achmad jungkir balik mainkan strategi maksimal , hingga tidak pecat karyawan kendati terus di gempur pandemi Covid19.


1
1 point

I. SINOPSIS

Pada episode youtube Christina Lie kali ini, menceritakan tentang perjalanan karir Farida Achmad dalam merintis Event Organizer, Wedding Organizer dan Promotor Konser yang dimilikinya, Farida yang kerap dipanggil “Madam”, merupakan lulusan ilmu komunikasi yang pada awal karirnya bekerja sebagai seorang reporter Infotainment di stasiun televisi TPI. Berawal dari tingginya intensitas bertemu dengan selebriti papan atas di Indonesia, Farida sering diminta bantuan oleh para selebriti tersebut Ketika melangsungkan acara pernikahan. Farida yang sudah sering menjadi EO acara di universitasnya pada saat di perguruan tinggi dapat mengemban tugas tersebut dengan cukup baik. 

Berbekal dari pengalaman tersebut, Farida memberanikan diri untuk membuat Event Organizer dengan naungan dibawah nama “Absolute”, Beberapa pernikahan artis yang pernah ditangani diantaranya Uya Kuya dengan Astrid, Andre Taulany dan Erin, Ririn dan Aldi Bragi, Chyntia Lamusu dan Surya Saputra, Atiqah dengan Rio Dewanto, serta jajaran artis lainnya. Saat ini Absolute berkembang menjadi sebuah grup yang memiliki anak perusahaan, yakni kontraktor Java Expo, dan Promotor Lagilagient. Perjalanan Farida dalam menjalankan bisnis Organizer ini cukup penuh tantangan, dimulai dari fitnah netizen yang mengatakan bahwa salah satu pernikahan yang ia adakan menambah volume sampah (pada saat pernikahan Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto), banyaknya mantan pegawai Absolute yang mengundurkan diri dan mengambil client dari Absolute, bersaing dengan EO lain yang memiliki harga lebih besaing serta ditipu oleh rekan kerjanya sendiri. 

Farida Achmad sempat membuat PT dengan meminjam nama rekan kerjanya dikarenakan belum dapat bergabungnya adik dari Farida sebagai salah satu pemegang saham. Padahal Farida belum mengenal dengan baik rekan kerjanya tersebut, dan beberapa keluarganya sudah mengingatkan ia untuk lebih berhati-hati. Rekan kerjanya tersebut mendapatkan share saham sebesar 50%, meskipun seluruh setoran modal berasal dari Farida. Namun naas, rekan kerjanya tersebut malah melakukan penipuan kepada Farida. Rekan kerja yang menipu Farida tersebut disinyalir melakukan penggelapan dana dengan melakukan management sendiri dengan menggunakan nama EO dan WO Absolute, namun dana yang diterima tidak disetorkan kepada Absolute. Kasus tersebut sempat berlarut-larut dengan saling lapor polisi diantara Farida dan rekan kerjanya tersebut. Rekening bank yang dimiliki Farida sempat di Freeze oleh polisi hingga Farida tidak mampu membeli susu untuk anaknya yang saat itu masih berusia 1 tahun. Farida juga sempat dikirimi hal mistis berupa santet yang membuat kondisi tubuhnya memburuk. Akhirnya, Farida pun mendapatkan pencerahan untuk mengikhlaskan dananya yang telah digelapkan dan memberikan share saham senilai 50% demi terlepas dari santet yang dikirimkan oleh rekan kerjanya tersebut.

Farida kembali bangkit dengan membuat PT baru menggunakan dana yang dipinjam dari teman-temannya. Saat pandemi, Farida lebih banyak menjadi EO untuk Webinar seperti Weekend Talkshow, Launching produk secara online, gathering, serta melakukan pitching sembako kepada Kementerian Sosial untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Farida juga berhasil mempertahankan zero layoff untuk 35 karyawan tetapnya. Saat ini Farida juga menjadi dosen Event Management dan sudah berjalan sebagai 4 tahun, Farida juga cukup sering mengadakan sharing virtual mengenai Basic EO dan WO. Farida mengungkapkan untuk menjalankan bisnis EO dan WO yang diperlukan mencari tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan core bisnis EO dan WO, memiliki mental yang kuat karena biasanya pemilik EO dan WO akan sangat kurang beristirahat, menggali Insight dari client seperti Background produk, dan harus dapat meyakinkan Client untuk tertarik menggunakan jasa nya dari EO dan WO tersebut. 

II.  VISI DAN MISI PERUSAHAAN

Visi Perusahaan

  • Dapat dipercaya dan menjadi yang terdepan dalam penyelenggaraan acara perusahaan pada layanan Event Organization, Wedding Organizer, maupun Promotor Konser.

Misi Perusahaan

  • Bekerja sama dengan klien untuk merencanakan acara impian dan memberikan hasil terbaik untuk kepuasan pelanggan dengan menyukseskan terlaksananya layanan Event Organization, Wedding Organizer, maupun Promotor Konser.

  

III.  KEKELIRUAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN (BIAS KOGNITIF)

Sepanjang proses perjalanan dalam merintis bisnis Event Organizer. Farida mengakui menghadapi tantangan yang diwarnai beberapa cerita keterpurukan bisnis, diantaranya : 

  1. Ditipu oleh rekan kerjanya sendiri
  2. Beberapa karyawan senior Absolute mengundurkan diri dan mendirikan bisnis Event Organizer sendiri .
  3. Netizen nyiyir yang mendiskreditkan citra Event Organizer dengan Hoax. 

Kasus penipuan yang dilakukan oleh rekan kerja Farida Achmad merupakan titik terberat yang menyebabkan keterpurukan bisnisnya. Kejadian tersebut dimulai ketika Farida ingin mendirikan badan usaha baru (Perseroan Terbatas). Dengan pertimbangan dangkal, Farida  meminjam nama rekan kerja yang notabene belum diketahui latar belakangnya secara mendetail sebagai salah satu pemegang saham dengan komposisi share sebesar 50%, meskipun seluruh setoran modal berasal dari Farida. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan Farida, dapat dikaitkan pada pendekatan The Nature of Managerial Decision Making. Dimana proses pengambilan keputusan hanya terkonsentrasi pada respon terhadap peluang (decision in response to opportunities) yang mengesampingkan ancaman (decision in response to threats). Pada konteks tanpa  aturan keputusan, cara membuat keputusan dibedakan menjadi :  

  1. Intuisi — perasaan, keyakinan, dan firasat yang muncul dalam pikiran, membutuhkan sedikit usaha dan pengumpulan informasi, dan menghasilkan keputusan di tempat.
  2. Penilaian yang beralasan – usaha serta hasil dari pengumpulan informasi yang cermat, pembuatan alternatif, dan evaluasi alternative

Farida telah menggunakan intuisi ketika memutuskan rekan kerjanya sebagai salah satu pemegang saham pada perusahaan yang didirikannya. Alhasil menipunya dengan menggelapkan dana hingga mencapai 1 milyar rupiah. Tragisnya rekening bank yang dimiliki Farida sempat di Freeze oleh polisi hingga Farida tidak mampu membeli susu untuk anaknya yang saat itu masih berusia 1 tahun, karena kasus tersebut telah ditindaklanjuti secara hukum. Dalam Kondisi yang sangat terpuruk seorang pengambil keputusan terkadang mengalami Cognitive Bias. Terdapat 4 sumber bias yang dapat mempengaruhi dalam mengambil keputusan yaitu :

Description: Description: https://yonulis.com/wp-content/uploads/2020/11/1604895757484.png

Gambar 1. Sumber-sumber bias kognitif pada level kelompok dan individu.

Sumber : Buku Contemporary Management Chapter 7

Farida dibutakan oleh Prior Hypothesis Bias sehubungan kondisi kesehatan yang memburuk,yakni keyakinannya atas informasi teman dan keluarga akan hal mistis penyebab sakitnya yaitu dikirimi bola api oleh rekan seterunya yang sedang dalam proses hukum. Lantas, Farida mengikhlaskan dananya yang telah digelapkan dan memberikan share saham senilai 50% demi terlepas dari santet kiriman rekan seterunya tersebut. Farida cenderung mengambil keputusan atas keyakinannya meskipun keyakinannnya bisa saja terbukti salah. Secara logika, bisa saja kondisi kesehatan Farida memburuk karena stress berat yang dialami sehingga mempengaruhi fisiknya secara signifikan. Apabila Farida mengedepankankan cara berpikir logis dan memperkuat ibadahnya sambil melanjutkan proses hukum, tentunya Farida berpeluang untuk mendapatkan kembali uangnya serta sekaligus memberi efek jera kepada karyawan lain di perusahaannya agar tidak mencontoh perbuatan yang sama. Farida juga melakukan Illusion Of Control dimana ia cenderung melebih-lebihkan kemampuannya untuk mengontrol semua hal. Dikarenakan pembuat keputusan, dalam hal ini Farida, berhasil menduduki posisi Top Management dan jarang menemukan halangan yang berarti sehingga cenderung menjadi Over Confidence dalam hal pengambilan keputusan tanpa mempertimbangkan hal lain. Padahal Farida akan lebih baik jika menanyakan pendapat kepada orang-orang disekitarnya yang dapat menjadi Devil Advocate atas keputusannya.

Tantangan beberapa karyawan senior Absolute yang mengundurkan diri lalu mendirikan bisnis Event Organizer sendiri bahkan mengambil klien dari Absolute dengan menawarkan harga lebih besaing adalah ancaman serius bagi perusahaan. Secara industri, kasus di atas merupakan hal yang sering terjadi, namun frekuensi terjadinya kondisi di atas dapat didorong oleh faktor kekeliruan seorang Decision Maker. Dalam upaya meningkatkan kemampuan personil perusahaannya, Farida nampak ingin menerapkan model “Pembelajaran dan Kreativitas dalam Berorganisasi” yang dimaknai dengan memahami bahwa Jantung pembelajaran organisasi adalah kreativitas (Peter Senge) .

Description: Description: https://yonulis.com/wp-content/uploads/2020/11/1604899369064.png

Gambar 2. Prinsip-prinsip Senge Dalam Menciptakan Pembelajaran Organisasi

Sumber : Buku Contemporary Management Chapter 7

Karakter positif Farida sangat kuat untuk menjalankan model di atas, dengan upaya maksimal yang dilakukannya kepada karyawan seniornya. Farida langsung mendampingi karyawan tersebut dalam mengelola event dengan metode direct mentoring, berharap karyawan tersebut dapat dilepas untuk mengelola sebuah proyek pekerjaan sehingga Farida dapat fokus pada pengembangan lain di perusahaan. Namun, Farida kurang memperhatikan dampak eskalasi tingkatan pembelajaran pada prinsip kelima, yakni Decision Maker harus mendorong pemikiran sistem yaitu manajer harus mengenali dampak dari satu tingkat pembelajaran ke tingkat lainnya. Farida tidak mengantisipasi model pembelajaran yang diberikan kepada karyawan pilihannya apakah bertujuan membentuknya menjadi seorang Intrapreneur atau melenceng menjadi entrepreneur. Sejatinya objective pembelajaran yang diberikan adalah menjadi Intrapreneur. Dimana Intrapreneur dipekerjakan oleh perusahaan terlibat dalam aktivitas kewirausahaan. Perlu ditekankan bahwa kreativitas yang dibentuk kepada seorang Intrapreneur adalah untuk kemakmuran perusahaan tempatnya bekerja.

Bisnis Event Organizer dapat digambarkan sebagai industri yang sudah masuk pada zona red ocean dengan banyaknya strategi low cost dengan price war di pasar. Berangkat dari fakta tersebut, tantangan netizen nyinyir yang mendiskreditkan citra Event Organizer dengan Hoax tentunya akan banyak dihadapi oleh para pelaku bisnis ini. Netizen yang dimaksudkan bisa saja datang dari perusahaan pesaing yang sedang melakukan black campaign. Serangan seperti ini kerap ditemui pada pemain Event Organizer kurang tanggap mempublikasikan hasil pekerjaannya pada saluran media tertentu. Pilihan saluran media paling sederhana dapat dimuat pada Website internal perusahaan yang dapat diakses oleh stake holder. Sehingga mudah untuk menetralisir adanya kampanye hitam dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Betapa pentingnya mempublikasikan hasil pekerjaan sebagai bentuk evaluasi dapat disadarkan oleh James March dan Herbert Simon dengan pengembangan model pengambilan keputusan pada langkah terakhir yaitu Mempelajari Umpan Balik –  menganalisa dan mempelajari pengalaman sukses maupun gagal sehingga dapat melakukan perbaikan di masa yang akan datang.   

IV.  ANALISA DECISION MAKING MOMENTUM KEBANGKITAN BISNIS  

Upaya maksimal Farida untuk membangkitkan bisnisnya kembali dimulai dari bagaimana ia menata ulang proses pengambilan keputusan. Menggunakan sudut pandang model  March dan Simon pada 6 langkah pengambilan keputusan, dapat diuraikan sebagai berikut : 

Gambar 4. Enam Langkah Dalam Pengambilan Keputusan

Sumber : Buku Contemporary Management Chapter 7

1. Mengenal atau Mengindentifikasi Kebutuhan pada Keputusan  – Langkah pertama dalam proses pengambilan keputusan adalah mengenal kebutuhan pada keputusan tersebut. Dalam hal ini Farida menyadari bahwa keputusan cepat harus segera ditentukan.Berbagai faktor akan mendorong dan mempengaruhi pengambilan keputusan, bisa dari kondisi eksternal perusahaan maupun sejauh mana kepiawaian tim internal menggunakan kompetensinya melihat peluang dan kendala yang dihadapi sebagai langkah pengenalan kebutuhan dan menindaklanjutinya pada waktu dan cara yang tepat. Wabah Covid 19 yang merontokkan geliat bisnis merupakan salah satu kondisi eksternal yang sangat dominan mendorong tingginya kebutuhan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. 3 tantangan berat seperti paparan pada sinopsis, merupakan faktor yang tidak kalah penting sebagai pendorong kebutuhan pada keputusan. 

2. Membuat Alternatif Pilihan – Setelah mengenal kebutuhan pada keputusan, seorang Decision Maker harus dapat menyajikan pilihan alternatif yang dapat dilakukan sebagai respon terhadap peluang atau ancaman yang ada. Salah satu alasan kegagalan manager dalam menyediakan alternatif pilihan dikarenakan perspektif tunggal, dengan mindset tertentu yang sudah terbentuk, seperti Prior Hypothesis Bias oleh Farida terkait serangan bola api (mistis) yang ditujukan kepadanya. Untuk merangsang geliat bisnis Event Organizer miliknya, Farida membuat beberapa alternatif pilihan usaha yang akan dilakukan sebagai berikut : 

  • Mendatangi acara-acara pameran untuk memperbanyak data base, lalu menghubunginya satu per satu dengan metode sales call. 
  • Menjadi EO untuk Webinar seperti Weekend Talkshow, Launching produk dan gathering online
  • Mengikuti Pitching penyediaan sembako – Kementerian Sosial.

3. Menguji Alternatif Pilihan – Ketika alternatif solusi telah ditentukan, hal yang harus diperhatikan adalah melakukan evaluasi keuntungan dan kerugian atas masing-masing alternatif. Poin terpenting adalah menentukan peluang dan ancaman dengan tepat dan selanjutnya menetapkan ukuran yang dapat mempengaruhi pemilihan alternatif tersebut. Pada umumnya, Decision Maker yang baik menggunakan 4 kriteria dalam melakukan evaluasi pro dan kontra terhadap pilihan alternatif yang ada:

  • Legality : Pada alternatif untuk mengikuti Pitching penyediaan sembako – Kementerian Sosial, ijin usaha perusahaan Farida sebagai penyedia jasa Event Organizer dipastikan tidak akan memenuhi syarat untuk mengikuti pitching tersebut. Untuk mendapatkan penunjukan resmi sebagai vendor bansos, syarat utama yang dimiliki adalah ijin penyedia sembako / sejenisnya. Dimana pengurusan ijin tersebut membutuhkan proses dan waktu tertentu. 
  • Ethicalness : Pada alternatif sebagai penyedia jasa Event Organizer untuk Webinar seperti Weekend Talkshow, Launching produk dan gathering online menjadi pilihan yang paling ideal mengingat pentingnya menjaga protokol kesehatan terkait wabah Covid-19. 
  • Economic Feasibility : Pada pilihan alternatif pertama untuk mendatangi acara-acara pameran guna memperbanyak data base, dinilai tidak memungkinkan untuk dilaksanakan mengingat wabah Covid-19 yang membuat pemerintah melarang aktivitas yang memicu terjadinya kerumunan.
  • Practically : Menilik asam garam pengalaman dan kemampuan serta infrastrukur (production house, workshop, promotor)  yang ada pada perusahaan Farida, sangat memungkinkan untuk melaksanakan alternatif yang ada. 

Description: Description: https://yonulis.com/wp-content/uploads/2020/11/1604670171613.png

Gambar 5. Kriteria Umum Dalam Mengevaluasi Kemungkinan Tindakan

Sumber : Buku Contemporary Management Chapter 7

4.  Memilih Alternatif Pilihan –  Mempertimbangkan uji alternatif pada kriteria Economic Feasibility seperti paparan di atas, maka ditentukan hanya 2 alternatif pilihan dengan rangking sebagai berikut : 

  • Menjadi EO untuk Webinar seperti Weekend Talkshow, Launching produk dan gathering online
  • Mengikuti Pitching penyediaan sembako – Kementerian Sosial untuk dibagikan kepada masyarakat tidak mampu.

5. Melaksanakan Alternatif Pilihan – Dalam melaksanakan alternatif pilihan pertama, Farida menentukan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mencari ide kreatif, diantaranya : 

  • Menggali insight dari budaya atau tujuan perusahaan calon klien (company culture & objective)
  • Menguasai produk yang akan dipasarkan sedetail mungkin
  • Peka terhadap trend yang sedang berlangsung 
  • Menyiapkan data, informasi pendukung sebaik mungkin beserta mengoptimalkan kemampuan komunikasi untuk meyakinkan klien/calon klien atas ide yang diajukan
  • Tanggap terhadap respon klien

Sementara dalam melaksanakan alternatif pilihan kedua, Farida menyesuaikan peran perusahaannya sebagai sub penyelenggara penyediaan barang, pengemasan dan antar paket sembako Kementerian Sosial. Sehubungan dengan hasil kriteria Legality evaluasi pro dan kontra terhadap pilihan alternatif seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. 

6. Mempelajari Umpan Balik – Sebagai tahap akhir, Decision Maker dituntut untuk menganalisa dan mempelajari pengalaman sukses maupun gagal sehingga dapat melakukan perbaikan di masa yang akan datang. Dengan langkah-langkah sebagai berikut: 

  • Membandingkan hasil aktual yang terjadi dengan hasil yang diharapkan atas pengambilan keputusan sebelumnya. 
  • Menggali penyebab mengapa hasil terjadi tidak sesuai harapan 
  • Menyusun pedoman yang dapat membantu proses pengambilan keputusan di masa yang akan datang. 

Harus diakui bahwa Farida masih belum optimal dalam mengelola perusahaanya pada  tahap Mempelajari Umpan Balik. Namun, Farida dapat menjalankan sebagian tahap ini dengan baik. Misalnya ketika Farida dan timnya merespon cepat dengan langsung mendatangi lokasi atas isu netizen yang mengatakan bahwa Event pernikahan Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto telah menambah volume sampah di Pulau Kelor. Inisiatif tersebut sejalan dengan langkah evaluasi pada tahap Menggali penyebab mengapa hasil terjadi tidak sesuai harapan. Farida juga cukup tanggap ketika memutuskan untuk menyesuaikan bisnisnya dengan menggarap pekerjaan-pekerjaan webinar dan sub penyelenggara bansos di kala Pandemi, serta membentuk tim yang lebih solid guna meningkatkan loyalitas karyawannya. 

 V.  SARAN & GROUP DECISION MAKING PALING SESUAI

Bentuk group decision making Dialectical inquiry cocok digunakan oleh ABSOLUTE Event Organizer mengingat kualitas sumber daya manusianya yang sudah matang, jadi sudah ada pengalaman berbisnis yang baik.  Proses ini juga dapat membuat variasi pada berbagai ide yang akan muncul.   Farida tidak pernah menemukan masalah yang berarti pada saat menjalankan Bisnis EO dan WO nya, sehingga ia cukup percaya diri bahwa pembentukan PT yang ia akan jalankan berjalan lancar. Pada  proses pembentukan PT, Farida seharusnya mengutamakan orang yang dia kenal dengan baik untuk menjadi pemegang saham. Terlebih lagi, Farida sebenarnya hanya meminjam nama, mengingat seluruh modal disetornya berasal dari Farida. Farida juga seharusnya melakukan background checking terhadap Rekan kerjanya tersebut, dan melakukan konsultasi kepada orang-orang disekitarnya yang mungkin saja bisa menjadi rekomendasi pada bentuk group decision making yang mengarah pada model Dialectical Inquiry atas keputusan Farida tersebut. Dengan dialectical inquiry, Farida dapat membuat keputusan berdasarkan pertimbangan banyak ide yang muncul setelah melakukan konsultasi dengan berbagai pihak. Dari ide-ide tersebut akan terjadi diskusi untuk menentukan mana ide yang cocok untuk dipakai oleh Farida, apakah Farida akan mengambil berbagai pertimbangan dalam menentukan siapa saja orang yang dikenal baik yang dapat dipercaya untuk memegang saham. Hal ini berbeda dengan proses pembuatan keputusan Devil Advocacy dimana ide yang muncul hanya sebuah ide perdebatan dan kemungkinan keputusan alternatifnya kurang dapat berkembang, karena pengelolaan Perusahaan ini masih tradisional dan kontrol dominan pada Farida sendiri. 

Description: https://yonulis.com/wp-content/uploads/2020/11/1605750073282.png

Gambar 3. Teori Group Decision Making

Sumber : Jones, Gareth R. dan Jennifer M. George, 2020

VI.  ANALISIS SWOT DI MASA PANDEMI

Menurut Teori Jones, George dalam buku  Contemporary Management bahwa dengan menggunakan analisis SWOT maka manajer dapat melanjutkan proses perencanaan dan menetukan Strategi khusus untuk mencapai misi dan tujuan organisasi dengan menghasilkan 4 strategi sebagai berikut :

Tabel 1. Analisis SWOT Bisnis Farida Achmad di Masa Pandemi

Strength

Weakness

  • Network yang kuat dengan kalangan artis. 
  • Pelayanan prima
  • Efek Promosi “Word of mouth” yang kuat
  • Memiliki infrastruktur yang mumpuni (Workshop, production House dan kantor yang menetap)
  • Image perusahaan yang baik (sudah beroperasi >18 Tahun)
  • Tarif Harga EO Farida dinilai lebih tinggi dari competitor
  • Rendahnya pengalaman dalam pengelolalan legalitas dan resiko perusahaan 

Opportunity

Threat

  • Hubungan baik dengan kompetitor
  • Kemajuan teknologi digital
  • Banyaknya acara secara bertahap mulai diselengarakan di Era New Normal (Acara nilai proyek kecil dan besar)

  • Adanya karyawan yang resign lalu mendirikan perusahaan EO baru dengan harga yang lebih rendah dan rentan akan terambilnya customer Farida Ali
  • Pandemi COVID 19 yang mengakibatkan Rendahnya acara kegiatan outdoor 

Sumber : Analisis Penulis Berdasarkan Buku Contemporary Management

Berdasarkan dari analisis SWOT diatas maka penulis menyusun empat alternatif strategi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan perusahaan untuk bertahan dikondisi PANDEMI COVID19 sebagai berikut :

1. Strategy Strength to Opportunity (SO)

  • Menggarap pekerjaan berbasis teknologi sesuai trend permintaan pasar. Contoh : Webinar, Virtual Live Concert, Virtual Launch Product 

2. Strategy Weakness to Opportunity (WO)

  • Memperoleh proyek pekerjaan dari kompetiror (Join Operation)
  • Memperoleh informasi budget dan mendalami insight korporasi klien sebelum menyusun proposal yang lengkap dengan info spek pendukung. 

3. Strategy Strength to Threat (ST)

  • Mencapai Kepuasan pelanggan dan kesetiaan pelanggan sehingga menghasilkan “word of mouth effect” dalam mengantisipasi persaingan harga.
  • Up to date dengan trend perkembangan teknologi maupun pergeseran kebutuhan di industry event organizer sehingga perusahan bisa menyesuaikan keinginan customer yang cenderung selalu berubah. Contoh : Jasa pengadaan dan pengepakan barang sembako kepada Kemensos
  • Implementasi Metode Intrapreneurship

4. Strategy Weakness to threat (WT)

  • Internal audit rutin dan menerapkan implementasi whistle blower di perusahaan untuk antisipasi fraud terhadap karyawan dan pimpinan perusahaan. 
  • Menerapkan kombinasi Low Cost Strategy dan Differentiation Strategy. Dengan memberi opsi 2 proposal paket Premium dan hemat.  

VII.  STRATEGI LEVEL CORPORATE, BUSINESS, AND FUNCTIONAL

Berdasarkan analisis SWOT, manajer di berbagai tingkat organisasi memilih strategi perusahaan (Coorporate), bisnis (Business), dan fungsional (Functional) untuk memposisikan organisasi dengan sebaik-baiknya untuk mencapai misi dan tujuannya. 

Gambar 6. Teori Planning and Strategy Formulation

Sumber : Jones, Gareth R. dan Jennifer M. George, 2020

1. STRATEGI LEVEL CORPORATE

Strategi Korporasi dalam mengelola pertumbuhan dan pengembangan organisasi guna memaksimalkan kemampuan jangka panjang dengan value yang baik. Kemajuan teknologi digital menjadi nilai positif dalam pengembangan bisnis Farida. Hal ini menjadikan peluang besar bagi siapa pun pemilik bisnis EO yang bisa bertahan dengan memanfaatkan konsep digitalisasi di era new normal ini.  Di masa yang akan datang, terlepas dari masa pandemi yang dihadapi, pengembangan produk berbasis teknologi menjanjikan masa depan yang cerah. 

2. STRATEGI LEVEL BUSINESS

Strategi Level Bisnis Opportunity to Threat untuk mengoptimalkan peluang bisnis dalam mengantisipasi ancaman yang dihadapi perusahaan sehingga menjadi efektif meningkatkan daya saing di pasar. Memanfaatkan hubungan baik dengan perusahaan-perusahaan EO yang sebelumnya bekerja di Absolut dengan menjalanan join operation atau kolaborasi proyek. Farida juga disarankan untuk berperan aktif di Asosiasi Industri, misalnya IVENDO. Partisipasi di asosiasi cukup efektif mengurangi resiko karyawan cheating, pencurian data base dan hal lain yang berpotensi merugikan perusahaan. Pada prakteknya, asosiasi dapat melakukan black list kepada oknum pribadi/organisasi yang dinilai merugikan pihak lain terkait industri. Asosiasi juga berguna untuk menjaga iklim bisnis dari persaingan tidak sehat.

3. STRATEGI LEVEL FUNCTIONAL

Strategi Fungsional beroperasi pada tingkat yang lebih spesifik. Meningkatkan kemampuan tim untuk membentuk value yang favorable bagi perusahaan. Mempromosikan kreativitas organisasi dengan pengembangan intrapreneurship perusahaan. Memberikan saham bagi intrapreuner yg berprestasi pada entitas/anak perusahaan baru (diversifikasi/brand segmen baru) dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan kemampuan individu karyawan dalam membentuk business mindset, namun tetap mampu mempertahankan karyawan berpotensi di perusahaan. 

DAFTAR PUSTAKA

Jones, Gareth R., George, Jennifer M. 2020. Contemporary Management. 11th Edition. New York : McGraw-Hill Education.

THE PRODIGY TEAM

  1. Andrew Parulian Manik
  2. H. J. Panahatan
  3. Rezki Arnita
  4. Yohana Olivia Yulistha

BISNIS KENA SANTET - FARIDA ACHMAD #ibucantikrocknroll


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
1
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format