Founder SB1M dan Pemilik Distro BLOOP ini BANGKIT dari BANGKRUT 16x dan HUTANG 11M


0

Founder SB1M dan Pemilik Distro BLOOP ini BANGKIT dari BANGKRUT 16x dan HUTANG 11M

Christina Lie Youtube Channel

“Kalo lu mau sukses, lu minimal harus bangkrut minimal 7 kali. Dan gue merasakan sendiri dimana disaat kebangkrutan gue udah sampe 16 kali, akhirnya bisnis gue mulai sukses” . Adalah salah satu cuplikan dari wawancara Christina Lie kepada Berto, yang merupakan founder kelas digital marketing SB1M dan pemilik distro Bloop. Pada episode inspirasi dan kisah hidup pebisnis sukses kali ini menceritakan bagaimana Berto memulai bisnisnya saat usianya masih 21 tahun. Dengan segala strategi dan jatuh bangunnya, akhirnya Berto dapat mencapai kesuksesannya hingga sekarang ini. 

Berto memulai usahanya ketika masih SMA dengan membuka usaha martabak di pinggir jalan. Belajar dari situL kemudian di awal 2003 dia memulai bisnis Distro Bloop. Menariknya Berto melakukan promosi dengan mengaku kepada artis-artis papan atas Indonesia seperti Nirina Zubir, Bagus Netral, dan lainnya sebagai saudaranya. Hal ini dia lakukan agar produk Bloop dapat di endorse oleh artis tersebut. Dari situlah Bloop mulai terkenal sampai akhirnya memiliki franchise dimana-mana. Namun bisnisnya tidak semulus yang dibayangkan. Di tahun 2009, Berto mengalami kehancuran dalam berbisnis dan berhutang sebanyak 11 Milyar. Namun dengan konsistensi nya dalam berusaha akhirnya ia dapat bangkit dan memulihkan perekonomian dalam bisnisnya. Bahkan dia mendirikan SB1M yang merupakan kelas bisnis digital marketing yang anggotanya sudah lebih dari 4000 orang.

VISI DAN MISI SB1M

Berto saat ini fokus terhadap kelas bisnis SB1M, disamping bisnis nya yang lain yatu Distro Bloop dan Bebek Ginyo. Pada website resmi SB1M.org dijelaskan secara lengkap mengenai hal visi dan misi perusahaan berbasis komunitas tersebut.

VISI

  1. Wadah untuk mengembangkan minat dan bakat mengenai dunia berbisnis 
  2. Menjadi bimbingan terdepan dan terpercaya dalam digital marketing
  3. Komunitas untuk saling sharing segala pengalaman bisnis di berbagai bidang

MISI

  1. Menyediakan bimbingan dengan guru yang berpengalaman dan biaya yang murah
  2. Menyediakan platform untuk melakukan teknik pemasaran digital baik melalui social media, email, maupun website
  3. Mentrigger agar seseorang di komunitas nya untuk dapat segera memulai bisnis nya tanpa ragu-ragu
  4. Menanamkan mindset bahwa semua orang bisa berbisnis, apapun background nya danberapa pun modalnya
  5. Menyediakan fasilitas learning is fun dengan flexibility access dalam mendapatkan konten pelajaran dan sharing discussion di grup
  6. Konsep keanggotaan seumur hidup untuk dapat selalu memperluas koneksi dalam berbagi ilmu dan pengalaman

Proses Pengambilan Keputusan

Kondisi Merintis Karir

(SMA-2009)

Kondisi Menjalankan Bisnis

(2010-Sekarang)

Managing Style

Tidak menyiapkan business plan dan menjalankan bisnis dengan “modal nekat” sehingga banyak bisnis yang terpaksa bangkrut seperti ‘teh nutu’, ‘eatlah’, dan lain-lain.

Menyiapkan business plan, schedule dan pencatatan keuangan yang baik

Developing System

Semua packaging dan kegiatan penjualan dilakukan sendirian

Mulai menyiapkan system yang membuat karyawan dapat bekerja sendiri tanpa perlu diawasi secara langsung 

Internal Control

Ditipu oleh karyawan sendiri dengan meminta uang untuk perbaikan gerobak. Hal ini dikarenakan masih bermodalkan “asas kepercayaan” tanpa ada perjanjian yang mengikat. 

Mulai membuat SOP dan schedule yang jelas kepada karyawan yang bekerja

Product Innovation

Dengan minim pengalaman berbisnis, Berto Saksono menjalankan bisnis makanan pinggir jalan

Merambah ke penjualan kaos dan merchandise, membuka restoran Bebek Ginyo, took endorse, dan beberapa usaha bisnis lainnya

Technology Usage

Bergantung kepada penjualan offline

Memanfaatkan system online dropship

Advertising Method

Pembagian brosur ke kampus-kampus

Memanfaatkan platform online shopping

Sumber bias kognitif yang terjadi saat pembuatan keputusan 

  1. Prior Hyphotesis

Terdapat pengambilan keputusan berdasarkan hipotesa dan keyakinan subjektif. Dari cerita ini, dapat dilihat bahwa dalam memulai sebuah bisnis, Berto Saksono belum mempertimbangkan business plan. Ia lebih meyakini bahwa “modal nekat” adalah satu-satunya cara untuk membuat bisnisnya berjalan. 

  1. Representativeness

Pengambil keputusan membuat keputusan yang kurang tepat karena kerap kali memutuskan bersarkan satu kondisi saja secara general. Dari cerita ini dapat kita lihat bahwa pemikiran bisnis yang sangat berhasil pada Distro Bloop, akan dapat berjalan sama pada bisnis yang lain sehingga metode yang digunakan sama padahal jenis lini bisnis nya berbeda.

  1. Illusion of Control

Bias yang dapat terjadi saat pengambilan keputusan ketika seorang pengambil keputusan menganggap dirinya dapat mengontrol beberapa hal. 

  1. Escalating Commitment

Bias saat pengambilan keputusan seringkali kurang tepat sasaran karena komitmen penambahan sumber daya meskipun bahwa pekerjaan/bisnis tersebut akan gagal. 

Seperti yang telah diceritakan sebelumnya bahwa Berto Saksono memulai usaha pada saat masih sekolah pada bangku SMP dengan menjual stiker. Cara berjualan stiker yang hanya menuliskan harganya adalah cerminan dari seorang Berto yang mempunyai sikap gigih namun buruk dalam hal komunikasi. Kegigihan juga kembali ditunjukan pada saat Berto sekolah pada bangku SMU dengan memulai usaha martabak di Pulomas hingga pukul 3 pagi padahal esok harinya harus sekolah. Usaha martabak terus berkembang sehingga Berto memutuskan untukmempekerjakan beberapa karyawan untuk menjalani operasional harian. Usaha yang dijalankan berbarengan dengan sekolah membuat Berto lebih mempercayakan kepada karyawannya. Berto tidak memiliki alat kontrol yang efektif dan efisien untuk menjaga usaha berjalan dengan baik. Hal ini menurut Kahneman dan Tversky adalah termasuk kedalam pengertian “Cognitive Bias” atau lebih tepatnya jenis “illution of control”. Berto mempunyai tingkat kepercayaan yang sangat tinggi bahwa dirinya bisa mengontrol dengan penuh usaha martabaknya. Sampai suatu hari gerobak martabak rusak dengan alasan ditabrak motor padahal faktanya dirusak sendiri oleh karyawannya agar kayawan dapat tambahan untuk membetulkan gerobak tersebut. Kejadian seperti itu terus berulang sampai pada suatu saat Berto diberitahu bahwa karyawannyalah yang sengaja merusak. Disinilah titik balik dari seorang Berto, karena tidak memiliki uang untuk membetulkan gerobak, akhirnya gerobak dibawa pulang untuk dibetulkan sendiri. Dan pada saat membetulkan gerobak seluruh keluarga mulai dari ayah, kakak dan adik membantu tanpa mengeluarkan satu kata pun. Berto sangat terharu sampai menangis dan hal ini yang membuat Berto makin yakin untuk menjadi usahawan karena merasa didukung keluarga,

Pada tahun 2003 Berto memberanikan diri untuk mengembangkan usaha pakaian dengan merk Bloop yang berlokasi di Tebet. Usaha ini awalnya kurang baik sampai akhirnya suatu hari adik Berto menyarankan untuk menggunakan jasa artis sebagai strategi pemasaran. Strategi ini cukup berhasil mengangkat omzet penjualan yang kemudian pada tahun 2005 Berto mengembangkan usahanya dengan merk baru endorse. Kedua usaha pakaian terebut berkembang pesat yang kemudian menjadi usaha keluarga. Kelurga Berto mempunyai target yang cukup baik yaitu dengan membuka usaha baru setiap dua tahun sekali. Target tersebut awalnya berjalan dengan baik yaitu pada tahun 2007 membuka usaha jenis baru yaitu makanan bebek ginyo. Usaha makanan tersebut juga berkembang pesat yang membuat banyak investor ingin menanamkan modalnya. Sampai pada tahun 2009 usaha yang dijalankan Berto tiba-tiba mengalami kemunduran dengan tidak diketahui sebabnya. Dititik inilah Berto masuk kedalam tahap Confirmation Bias (Kahneman dan Tversky) yaitu bahwa Berto merasa apa yang dilakukannya seperti semua berjalan dengan lancer namun lupa untuk melakukan pengecekan atas keputusan yang telah diambil. Dititik ini juga Berto baru sadar kalau mempunyai hutang senilai Rp.11 milyar. Beruntungnya Berto masih memiliki asset di setiap tempat usahanya sehingga investor pun merasa aman bahwa Berto tidak akan kabur.

Keputusan Berto pada tahun 2003 dengan membuat Usaha ini menjadi usaha keluarga sangatlah tepat. Kakak dan adiknya ikut penuh dalam menjalankan usaha. Berkembangnya usaha dengan membuka usaha baru setiap dua tahun sekali adalah suatu keputusan bersama dengan pengambilan keputusan menggunakan Dialectical Inquiry. Sebelum membuka usaha baru selalu dilakukan analisa terlebih dahulu terhadap beberapa alternatif yang diputuskan bersama-sama antara berto bersama kakak dan adiknya.

Selain itu Berto juga menggunakan prinsip “diversity” dalam pengambilan keputusan. Berto mempercayakan adiknya yang seorang wanita untuk focus ke usaha pakaian yang mempunyai kelebihan pada dunia pakaian dan untuk pengembangan usaha dilakukan oleh Berto dan Kakanya. Namun menurut penulis seharusnya berto melakukan analisa, persiapan yang cukup dan review yang baik setelah usaha dijalankan untuk memulai usaha agar terhindar dari kejadian tahun 2009 terulang dimana usaha tiba-tiba mengalami kemunduran tanpa diketahui sebabnya padahal secara ekonomi kondisi Indonesia sangat baik pada tahun 2009 yang mampu terhindar dari krisis ekonomi 2008 yang terjadi di dunia.

Jika kita menyimak sesi sharing dari owner bloop endorse dan bebek ginyo, kita bisa melihat bahwa melakukan bisnis tidak boleh hanya modal passion saja atau hobi saja. Ada jatuh bangunnya dalam memulai bisnis, bahkan jatuhnya lebih banyak daripada jumlah produknya sendiri. Passion atau hasrat untuk berbisnis, sebagai modal awal tentunya wajib dipunyai. Passion dan ketertarikan tertentu dalam berbisnis menjadi arahan tipe bisnis yang akan digeluti, apakah itu kuliner, fashion atau otomotif. Namun ada juga sebagian yang berbisnis tidak berdasar passion atau hobi tetapi karena melihat dimana uang itu mengalir ‘follow the money’ dan kemudian invest dengan melakukan beberapa pertimbangan bisnis, baik return on investment (ROI), IRR atau discounted payback period. Ada beberapa hal lain dalam video sharing tersebut membicarakan masalah setelah bisnis dibentuk, yaitu perlunya dibagun sebuah sistem atau prosedur yang akan membantu dalam running bisnis secara teratur dan ajek. ‘karena kita bukan superman’ itu kaya Berto owner dari bisnis bloop endorse dan bebek ginyo. Sistem atau prosedur dalam pengelolaan toko menjadi sangat penting diikuti dengan pemilihan orang yang tepat untuk menjalankan bisnsi dengan deskripsi kerja yang jelas serta intruksi kerja yang dipahami dengan baik. Tentunya perlu diikuti oleh bagaimana mengelola pelanggan dan reseller secara baik.

Saat ini dimasa pandemic covid19, dimana hampir semua bisnis gulung tikar karena tidak lagi mampu menyeimbangkan antara tingginya biaya dan drastis turunnya keuntungan yang mereka dapatkan. Menjadi sangat menarik untuk melihat bagaimana bisnis bisa mensikapi kondisi dan kemudian menemukan peluang untuk bertahan bahkan bangkit mendapatkan keuntungan yang dulu pernah mereka dapatkan. Saat ini penulis mencoba melakukan assessment berdasar metodologi SWOT dimana akan melihat Strength and Weakness yang dimiliki dari dalam organisasi bisnis yang didiskusikan dalam video ini, untuk kemudian dipadukan dengan opportunity dan threat yang ada dilingkungan diluar organisasi bisnis. 

Strength/Kekuatan, jika kita mengambil contoh bisnis distro bloop endorse yang sudah berdiri selama 16 tahun. Kekuatan dari bisnis ini tentunya di nama yang sudah lama dan bisa jadi pelanggan loyal yang mereka miliki, entah karena kualitas produknya atau harga yang sesuai dengan kondisi barangnya. Namun itu tentunya tidak lagi menjadi kekuatan utama yang diharapkan dapat memenangkan kompetisi. Dalam kondisi ekonomi yang sulit sekarang ini dimana konsumen sangat berhati hati dalam membelanjakan uangnya, mereka bisa jadi sangat pemilih dalam membelanjakan uang untuk produk fashion yang mereka inginkan. Bisa jadi mereka membeli yang lebih rendah kualitasnya namun mengikuti perkembangan trend terbaru. Hal ini menjadi menarik untuk dicermati dalam bisnis fashion. Distro adalah bisnis gaya hidup Weakness/Kelemahan dalam mengantisipasi selera konsumen atau terlambat mengadaptasi tren yang sedang berlaku akan berakibat pada hilangnya pasar dan keuntungan bagi Distro. Kemampuan membaca tren yang terus bergerak adalah kunci dalam kompetisi ini. Namun membaca tren tidak lantas cukup untuk bertahan dalam situasi yang tidak menentu ini. Perusahaan harus memiliki sistem yang kuat. Baik dari pengelolaan supply chain, produksi dan jaringan reseller akan membantu organisasi dalam menyediakan barang trendy yang berkualitas dengan harga yang affordable dan sistem delivery yang dapat diandalkan.

Opportunity/peluang, saat ini dengan kondisi dimana mobilitas orang untuk bepergian dibatasi sehingga orang yang dulunya melakukan kegiatan di akhir pekan dengan jalan-jalan ke mal sambil cuci mata kemudian tanpa disadari hasrat belanjanya di stimulus oleh mode-mode terbaru yang dipajang secara apik di etalase, sekarang sudah sangat signifikan berkurang. Mal-mal hanya menjadi pelengkap derita dimasa pandemic ini karena tidak ada lagi produk baru yang dipajang, bahkan tidak ada lagi pengunjung yang mengambil resiko untuk sekedar belanja dan beresiko terpapar virus jahanam ini. Saat ini semua beralih ke dunia digital alias online. Hampir semua produk yang dulunya dijual secara konvensional dengan display dan dicoba/dipaskan apakah sesuai dengan selera dan ukuran atau tidak, sekarang berubah dengan produk yang mayoritas sama baik model maupun ukuran (yang ini perlu berhati-hati) bahkan dengan harga yang sangat kompetitif. Peluang menjual online sangat besar sebesar pemain atau competitor yang juga ingin berebut untuk mendapatkan kue pasar dari bisnis online ini. Threat/tantangan ini sangat menarik karena benar benar menempatkan jempol konsumen sebagai raja dalam menentukan klik penentuan untuk kehidupan bisnis Distro. 

Jika kita kemudian menelaah menggunakan metode five forces dalam bisnis distro secara online dan dalam kondisi pandemic ini, maka kita akan mendapatkan kondisi dimana Level of rivalry in an industry sangat besar. hampir semua orang mencoba berbisnis pakain secara online baik yang dulunya pemilik toko atau outlet bahkan pemain besar seperti brand brand ternama mulai masuk dalam jaringan bisnis online. Bagaimana dengan “Potential for new entrants”? Bisa dikatakan pendatang baru setiap saat bertambah dengan produk yang dikemas sama atau at least diklaim sama dengan harga yang lebih murah. Namun industry ini juga diuntungkan dengan adanya “Power of large suppliers”. Supply terhadap material baju dari kualitas A sampai Z semua ada, tinggal bagaimana perusahaan kemudian memilih supply yang tepat untuk mengendalikan biaya mereka yang nantinya mempengaruhi harga jual dan margin. Hal positif lain adalah “Power of large customers”. Dulu pangsa pasar yang hanya sekelompok populasi tertentu yang kenal brand tertentu dan mungkin fanatik terhadapnya sekarang menjadi seluas yang bisa dibayangkan dan bisa jangkau oleh produknya. Kemampuan pasar online ini luar biasa sekali, namun juga memiliki konsekuensi bahwa opsi substitusi yang dibahas dalam “Threat of substitute products” juga sama besarnya dengan peluang yang ada. 

Dalam kondisi pasar yang dinamis dan sangat kompetitif. Kemampuan perusahaan untuk mengoptimalkan kekuatan internal baik berupa sistem pengadaan barang yang didukung dengan supplier yang bisa diandalkan, sistem produksi yang efisien yang menghasilkan kualitas sesuai standar perusahaan dan keandalan sistem penjualan baik secara langsung maupun online serta didukung dengan reseller dan pelayanan pelanggan yang baik berupa informasi produk, panduan size untuk produk yang dijual sampai katalog produk yang selalu uptodate akan membangun sebuah hubungan pelanggan yang mungkin bisa mendekati keloyalitasan pelanggan di era pasar konvensional. Dan mungkin bisa menjadi kekuatan perusahaan untuk tetap bertahan di industri yang kompetitif ini. 

presented by Republic of Awesome

1. Yodha Bima Widyadhana

2. Grecia Ulina

3. Arief Nugrahadi Kuncoro

4. Bagus Setiagung Budi Santoso

Sumber 

https://sb1m.org/

Founder SB1M dan Pemilik Distro BLOOP ini BANGKIT dari BANGKRUT 16x dan HUTANG 11M - Majalah Pengusaha


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Bagus

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format