The Apprentice Season 13 Episode 4: Learning about Communication, Leadership and Teamwork


0

        

       The Apprentice adalah reality show bisnis yang dibuat oleh Mark Burnett, didistribusikan oleh Fremantle Media dan disiarkan oleh BBC sejak 16 Februari 2005. Fremantle Media melihat peluang untuk membuat  The Apprentice UK menyusul kesuksesan pendahulunya yaitu The Apprentice US. Format reality show berfokus pada sekelompok pebisnis dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda  terdiri dari 18 orang masing-masing 9 pria dan 9 wanita yang bersaing dalam serangkaian tantangan terkait bisnis yang ditetapkan oleh Alan Sugar dan ia juga yang menentukan apakah peserta layak bertahan atau harus pulang (fired). Alan Sugar tidak sendirian dalam menilai kelayakan peserta dalam tantangan yang dihadapi ia dibantu oleh dua rekan yang bertindak sebagai pengamat yaitu Karren Brady dan Claude Littner.  

       Kandidat yang telah dipilih nantinya akan dibagi menjadi dua tim pada The Apprentice UK tim dibagi menjadi Tim Graphene dan Tim Vitality. Kedua tim akan dibagi tugas yang bertema bisnis dimana poin penilaian terfokus pada skill penjualan, negosiasi, requestioning, kepemimpinan, teamwork dan organisasi.

     Setelah tim terbagi menjadi dua Alan Sugar akan menunjuk Project Manager dari masing-masing tim tersebut, dimana tugasnya untuk memimpin tim tersebut, memberikan arahan terhadap timnya tentang tugas yang akan dikerjakan dan memberikan peran pada masing-masing anggota terkait tugas yang akan dikerjakan. 

         Setelah tantangan berhasil dijalankan oleh kedua tim penilaian akan dilakukan Alan Sugar dan rekannya di ruangan yang diberi nama Boardroom”. Disini nantinya peserta akan dilihat hasil dari performa kinerja kerjanya apakah memuaskan atau tidak, lalu di review dari hasil tersebut siapa peserta yang menjadi poin terlemah saat tantangan dilakukan dan terakhir adalah sesi Final Boardroom yaitu sesi penentuan siapa peserta yang akan dipulangkan/dipecat. Bagi para pemenang nantinya Alan Sugar akan memberikan Reward yang sudah dipersiapkan oleh tim The Apprentice UK.

           Pada artikel ini kelompok Crazy Rich Asians akan membahas The Apprentice UK Season 13 Episode 4 Stadium Sales, dimana masing-masing tim akan diberi tugas menjalankan Hospitality Box dengan menyediakan makanan serta menghibur client VIP, bersamaan dengan menjual snacks saat Final Piala FA Cup wanita di stadium Wembley berlangsung. Tentunya saat tantangan berlangsung banyak kejadian menarik muncul seperti di salah satu tim kehabisan persediaan minuman di Hospitality Box hingga kesulitan untuk menentukan harga terbaik dalam penjualan snacks diluar stadium. 

        Tim Graphene (Sarah-Jane Clark, Jade English, Joanna Jarjue, Elizabeth McKenna, Bushra Shaikh, Siobhan Smith (Project Manager), dan Anisa Topan) berhasil melakukan tugasnya dengan baik dari sisi menghibur client dengan pencapaian kepuasan pelanggan yang sangat baik selain itu juga dari sisi penjualan snacks mereka berhasil menarik minat pembeli untuk membeli karena pilihan snacks yang tepat terbukti dengan profit penjualan kembang mereka mencapai £352.80 dibandingkan tim Vitality hanya £222.50 untuk penjualan pop corn, namun kesalahan tim mereka terjadi karenanya borosnya pengeluaran yang dilakukan untuk budget makanan yang dikeluarkan selain itu juga dari awal penetapan budget makanan terlihat beda kurangnya komunikasi antar tim yang membuat beberapa anggota tidak memahami budget yang akan dikeluarkan. Tim Graphene memiliki keuntungan dari Hospitality Box sebesar £631.36 dengan keuntungan total adalah £945.36. 

        Berbeda strategi dengan tim Graphene, tim Vitality (Andrew Brady (Project Manager), Charles Burns, Ross Fretten, Harrison Jones, Sarah Lynn, Sajan Shah, Michaelan Wain, dan James White) berfokus untuk menekan segala macam biaya yang dikeluarkan meskipun mereka memiliki beberapa kesalahan seperti perhitungan makanan dan minuman yang diberikan, mungkin poin plus dari tim ini adalah hiburan yang diberikan nyanyian dari Harisson Jonesdimana dari nyanyian tersebut dapat menghemat budgetentertain £700 hingga hal lain yang menarik dari tim ini adalah kesulitan dalam penetapan harga snacks diluar stadium. Namun dapat dikatakan tim Vitality beruntung karena dengan strategi ini mereka mampu memiliki profit yang lebih tinggi dibandingkan tim Graphene yaitu keuntungan dari Hospitality Box mencapai £993.00 dengan keuntungan total adalah £1,215.17. 

        Hasil akhir dari episode ini berujung pada dipecatnya Siobhan Smith yang bertindak sebagai Project Manager tim Graphene. Ia dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan dalam komunikasi dan memberikan strategi yang kurang tepat antar anggota tim sehingga mengakibatkan mereka mendapatkan profit yang lebih rendah dibandingkan tim Vitality. Kemudian menurut Alan Sugar dan rekannya, Sobian Smith dianggap gagal dalam menjalankan perannya sebagai pimpinan di tim Graphene. 

Motivation and Performance

          Motivasi adalah sebuah dorongan psikologi yang menjadi sebuah acuan atau arahan bagi perilaku tiap individu di dalam sebuah organisasi, tingkat usaha, dan juga kegigihan masing- masing individu. Peran penting motivasi dalam sebuah tim dapat dikatakan sebagai stimulus bagi tiap individu di dalam organisasi untuk terdorong memberikan performa terbaik mereka untuk mencapai tujuan bersama. 

           Dapat kita bandingkan bagaimana kontras kinerja kedua tim dari seri keempat acara the Apprentice kali ini. Pada sisi tim pemenang, yaitu tim Vitality bekerja dalam kegembiraan namun tetap bisa mengarahkan fokus mereka ke waktu dan tempat tertentu. Di sisi lain, tim Graphene, dari raut wajah mereka, mereka bekerja seperti sedang menanggung beban yang sangat berat. Tidak dapat dihindarkan, beberapa kali tim pimpinan Siobhan terlibat dalam percecokan. Pada kondisi seperti inilah, diperlukan beberapa dorongan atau motivasi dari seorang pemimpin, yang seharusnya tercermin dari pribadi Siobhan selaku Project Managernya. 

     Agar mampu memberikan motivasi kepada bawahan atau rekan kerja, seorang individu harus mampu berkomunikasi dengan baik. Seorang atasan akan mudah mengarahkan bawahannya apabila mereka mampu memposisikan diri mereka sebagai sahabat atau partner bagi bawahannya, bukan sebagai penindas. Yang terjadi pada tim Graphene, Siobhan tidak mampu berkomunikasi dengan timnya dengan baik. Terlihat sesekali dia justru membentak dan mengkritik kinerja timnya tanpa memberikan solusi pemecahan atas masalah yang dihadapi. Sesekali, Siobhan juga tidak mampu menengahi dan justru diam dalam perselisihan yang terjadi dalam timnya. Oleh karena itu, kemampuan komunikasi untuk memberikan support dan motivasi pada tim menjadi salah satu skill penting yang wajib dimiliki seorang pemimpin.

       Sebagai seorang pemimpin, Siobhan juga belum terlalu tepat dalam membaca potensi masing- masing partnernya. Hal tersebut menyebabkan adanya beberapa kesalahan dalam menempatkan orang dalam role job yang sesuai dengan keahliannya. Dapat diambil contoh seperti Joanna dan Elizabeth yang tidak terlalu mahir dalam melakukan negosiasi, namun diposisikan pada peran yang harus bernegosiasi dengan beberapa pihak pendukung jalannya strategi mereka. Kemudian pada saat eksekusi perencanaan mereka, kondisi di hospitality box menjadi sedikit kurang medapat euphoria atau suasana yang asik jika dibandingkan dengan tim lawan. Akan lebih baik, jika orang dengan karakter seperti Jane bisa bergabung ke dalam hospitality box karena kemampuannya dalam bersosialisasi dengan baik. Oleh karena itu, penting peran pemimpin untuk membaca potensi sehingga memaksimalkan input sebagai salah satu aspek motivasi yang disebutkan oleh Jones dan George di buku Contemporary Management (2021).

        Dalam expectancy theory, terdapat 3 tahap penting dalam motivasi, yakni input, performa, dan output. Teori ini mengatakan bahwa motivasi akan semakin tinggi ketika pekerja percaya bahwa makin besar usaha yang diberikan akan menghasilkan performa yang tinggi, dan menghasilkan penerimaan output makin besar pula. Dalam acara ini, dapat dikatakan bahwa output yang akan diperoleh tim yang menang adalah sama, dan tidak bisa dimodifikasi oleh pemimpin masing- masing tim. Sehingga kemampuan ketua tim diuji dalam mengolah input dan performa dalam formula motivasi tersebut. Kesalahan yang dapat ditemukan dari tim Graphene adalah dimulai dari tahap input. Dimana Siobhan belum dapat mengarahkan input dari tiap individu di timnya dengan baik, namun timnya mememiliki ekspektasi yang tinggi. Ekspektasi yang tinggi namun tidak diimbangi dengan input yang maksimal juga, tidak akan menghasilkan performa yang tinggi. Ekspektasi dari tim ini dapat dikatakan terlalu tinggi karena mereka ingin menyuguhkan sesuatu yang mewah pada klien- klien mereka, namun kemampuan dalam pengeloalan keuangan mereka tidak mampu memberikan strategi terbaik karena mereka harus menekan pengeluaran agar profit yang diperoleh maksimal. Ketidakseimbangan ini menyebabkan pada beberapa orang di tim Graphene tidak mampu memberikan performa yang tinggi sehingga menyebabkan tim mereka kalah.

Advice

         Siobhan, selaku pemimpin tim Graphene, seharusnya dapat menggali setiap potensi,  kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman masing- masing anggotanya dalam menjalankan proyek ini. Sehingga keselarasan antara input yang dapat diberikan masing- masing individu di timnya mampu diarahkan dan dipetakan dalam posisi yang sesuai keahlian dan pengalaman mereka. Dengan memberikan peran yang tepat dan nyaman pada setiap orang, seharusnya dapat menghasilkan kinerja tim yang tinggi pula. Sebagai outputnya, mereka akan memperoleh posisi yang aman untuk rangkaian acara selanjutnya, hiburan, kepuasan, dan beberapa benefit lainnya jika tim mereka mampu menang.

      Siobhan juga harus mampu memberikan tujuan yang jelas bagi kelompoknya. Tujuan di sini harus dijelaskan secara spesifik, dan ditanamkan dalam pikiran masing- masing anggota tim. Sehingga ketika proses persiapan sampai dengan pelaksanaan proyek, masing- masing orang menjadi terarah dalam memberikan usaha dan pikiran mereka. Hal itu juga mampu mendorong setiap anggota untuk tahu batasan mereka dalam berperilaku sehingga tidak bersifat destructive terhadap peran anggota lain. Dengan tujuan yang jelas, semuanya dapat fokus pada masing- masing peran yang disematkan pada mereka, dan menghasilkan input dan performa yang tinggi. 

           Salah satu hal yang juga perlu diberikan oleh Siobhan pada timnya adalah berupa apresiasi. Apresiasi terhadap setiap pekerjaan yang dilakukan oleh tim sangat penting untuk dijadikan motivasi bagi anggota tim. Dengan bentuk apresiasi ini dapat memberi kesan bahwa pemimpin murah dalam menghargai setiap usaha dan pikiran yang sudah dilakukan anggotanya. Hal itu juga dapat memberikan dampak bagi anggota tim lain untuk memacu performa mereka dengan menjadikan apresiasi tersebut sebagai extrinsically motivated behavior. Walaupun apresiasi yang dapat diberikan oleh Siobhan tidak sebesar dibandingkan hadiah utama yang nantinya akan diperoleh tim mereka di akhir acara, namun apresiasi dapat memotivasi anggotanya selama proses persiapan rencana mereka. 

          Selanjutnya yang perlu diperhatikan oleh Siobhan adalah dalam mengelola ekspektasi kelompoknya. Sebagai ketua, dia harus mampu membendung ekspektasi setiap anggotanya agar tidak melebihi anggota yang lain. Karena ketika ekspektasi salah satu dari mereka yang terlalu tinggi tidak dapat terwujud, mereka akan merasa kecewa dan enggan untuk mengeluarkan semua usaha yang dia miliki untuk proses selanjutnya. Ekspektasi yang digambarkan dalam tim harus realistis terhadap beberapa kondisi yang menjadi batasan dalam menyelesaikan proyek ini, seperti waktu dan modal.

          Hal terakhir dan yang paling penting adalah menciptakan komunikasi yang baik antara ketua tim dan anggota tim Graphene. Komunikasi yang baik akan memberikan keefektifan dan kefisienan tim dalam mberikan informasi. Termasuk pula sebagai pemimpin, komunikasi yang baik mampu menyalurkan motivasi yang dapat meningkatkan performa timnya.

Model Kepemimpinan

     Kelompok Crazy Rich Asians mengidentifikasi bahwa Siobhan memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis, terlihat dengan bagaimana Siobhan memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk memberikan hasil pemikiran masing-masing anggota mengenai rencana mereka untuk acara ini. Menurut kelompok Siobhan sebenarnya menggunakan gaya kepemimpinan yang cukup baik. Namun pada beberapa poin kelompok merasa ada hal yang kurang dengan model atau gaya kepemimpinan yang digunakan oleh Siobhan. 

        Berbeda dengan Andrew yang terlihat lebih mendominasi dalam kelompoknya meskipun pada beberapa adegan terlihat seakan Andrew seperti tidak dengan serius menanggapi situasi yang sedang dihadapi oleh timnya. Namun timnya tetap harmonis dan dapat berdiskusi dengan cukup baik. Anggota tim Andrew juga terlihat sangat mempertimbangkan pendapat Andrew meskipun Andrew tidak menunjukkan sikap sebagai pemimpin yang serius.

         Hal ini sangat berbeda dengan yang dialami tim yang dipimpin oleh Siobhan di mana terlihat sering sekali terjadi perselisihan yang dialami anggota tim. Dan setiap anggota timnya sangat ingin untuk mengemukakan pendapat masing-masing, entah mereka juga mendengarkan pendapat anggota lainnya atau tidak. Di sini Siobhan gagal untuk mengatur timnya agar dapat berkomunikasi dengan baik.

        Selain itu dalam tim yang dipimpin Siobhan juga tidak ada yang menjadi mood maker atau penyemangat tim agar setiap anggotanya bersemangat meskipun tim sedang berada dalam situasi yang tertekan. Berbeda dengan tim Andrew, di mana Andrew sendiri sering kali terlihat memotivasi anggotanya agar tetap bersemangat. Dalam situasi penuh tekanan seperti itu, kelompok Crazy Rich Asians merasa penting untuk memiliki pemimpin yang dapat mengelola suasana tim agar menjadi lebih baik. Agar anggota timnya dapat berpikir dengan tenang, dan tidak terbawa tekanan yang mereka hadapi. Bahkan Andrew juga terlihat memberikan afeksi pada anggota timnya. Terlihat pada saat Andrew memeluk Harrison, dan mengucapkan “take care” bagi anggota tim yang lain sebelum ia memutuskan telepon.

        Sebagai project team sebenarnya Siobhan memiliki wewenang untuk memberikan order dan mengorganisir timnya untuk dapat bekerja seperti yang diharapkannya. Namun pada beberapa poin terlihat juga bahwa anggota timnya seperti Elizabeth cukup dominan dalam tim. Dalam tim ini, Siobhan tidak mampu mengelola anggota timnya dengan baik, karena setiap anggota memiliki pendapatnya masing-masing dan Siobhan tidak mampu menengahi pendapat satu dan yang lainnya sehingga komunikasi tidak dapat terjalin dengan baik ntar anggota tim.

Saran

         Menurut kelompok sebaiknya Soibhan menganut beberapa gaya kepemimpinan lainnya yang lebih sesuai dengan situasi saat itu. Soibhan mungkin dapat menganut kepemimpinan transaksional, terlebih gaya kepemimpinan transaksional juga dianggap cocok untuk diterapkan pada perencanaan jangka pendek seperti eventFinal Piala FA Cup wanita di stadium Wembley ini. Di sisi lain model kepemimpinan demokratis yang digunakan Siobhan sebenarnya juga sudah cukup baik agar, pemimpin dapat mengetahui apa yang dipikirkan oleh anggotanya dan dapat melihat dengan sudut pandang yang lebih luas pula, kemudian dari situ pemimpin dapat mengambil keputusan terbaik. 

       Tidak hanya itu menurut kelompok, Siobhan juga perlu menanamkan karakteristik yang lebih tegas dan dominan dalam tim sehingga timnya akan menghargai dirinya sebagai team project dengan lebih baik, dan mampu untuk dapat memimpin timnya dengan baik. Sebagaimana yang juga dilakukan oleh Andrew sebagai team project yang bersikap tegas dalam memimpin timnya sehingga anggotanya menghargainya sebagai team project. Dari episode ini kami melihat bahwa Siobhan kurang tegas dalam memimpin timnya, sehingga sangat terlihat bahwa kerjasama timnya sangat kurang baik. Siobhan kurang mamupu menjadi penengah yang baik bagi anggota-angotanya.

        Selain itu tim juga menyarankan, bila Siobhan juga mampu membuat suasana timnya agar menjadi lebih baik lagi. Siobhan diharapkan dapat lebih memahami anggota timnya agar dapat mengerti bagaimana harus bersikap dalam memimpin timnya. Seperti Andrew yang perhatian dengan anggota timnya, kelompok kami tidak mengharuskan Siobhan untuk bersikap perhatian seperti Andrew, namun setidaknya kami mengharapkan Siobhan untuk dapat lebih memahami anggota timnya agar Siobhan juga dapat memimpin timnya dengan lebih baik pula.

         Dalam situasi tersebut kami sangat menyarankan Siobhan untuk menganut beberapa model kepemimpinan lainnya. Jadi selain model demokratis, Soibhan diharapkan menganut kepemimpinan transaksional, kami juga menyarankan Soibhan untuk menganut gaya kepemimpinan yang karismatik dan partisipatif, kami mengharapkan Siobhan untuk dapat lebih percaya diri sebagi pemimpin yang dapat mempengaruhi bawahannya, Siobhan juga kami harapkan lebih mampu untuk mengkomunikasikan tujuannya kepada anggota timnya. Selain itu, Siobhan juga mungkin dapat menerapkan kepemimpinan yang melayani (servant leadership) agar dapat mendengarkan dan memahami anggotanya agar Siobhan sendiri mengerti bagaimana dirinya harus memimpin timnya.

Referensi 

The Apprentice UK Season 13 Episode 4 Stadium Sales. https://www.youtube.com/watch?v=7fkfZMIIoD8. Diakses 24 November 2020


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format