Band Of Brothers, Episode 1 “Currahee”

"Order by Rank, Lead by Example". Pemimpin tidak hanya memerintah karena memiliki pangkat lebih tinggi, namun harus juga mampu memberi tauladan.


0

Film Mini Seri “Band Of Brothers” – EpisodeCurrahee

Sinopsis :

              Episode 1 film “Band of Brothers’ ini mengkisahkan bagaimana awal Kompi Easy dilatih di Kamp Toccoa, Georgia, AS pada tahun 1942. Anggota Kompi Easy berasal dari sukarelawan yang memiliki latar belakang pekerjaan seperti petani, supir, dan tukang koran yang bertransformasi menjadi bagian dari Resimen 506 Divisi Udara 101 pasukan penerjun elit Amerika Serikat. Saat itu, Kompi Easy dibawah pimpinan Letnan Sobel, yang memiliki watak keras, gemar mencari kesalahan, menghina anak buahnya, namun tidak pandai dalam menyusun strategi. Ia sering memberi hukuman berat kepada prajuritnya untuk menaiki Bukit Currahee yang jauhnya 3 mil ke atas dan 3 mil kebawah, baik di siang hari maupun malam hari. Hal inilah yang menjadi penyebab ia tidak disenangi oleh seluruh anggota Kompi E. Dalam masa pelatihan dan persiapan menuju peperangan di Norwandy, Kompi E juga dipimpin oleh Letnan Richard “Dick” Winters, dimana Letnan Winters lebih memiliki karakter yang tegas sesuai aturan namum memahami dinamika tim dan membuat prajurit terikat pada rasa solidaritas sehingga ia lebih disukai oleh prajurit. 

FACTOR AFFECTING ORGANIZATIONAL STRUCTURE 

              Struktur organisasi adalah fungsi formal dan hubungan yang menjelaskan garis koordinasi dan motivasi anggota organisasi sehingga terbentuk kerjasama dalam mencapai tujuan organisasi. Ada 4 faktor yang mempengaruhi struktur organisasi yang dapat kita pelajari dari Film “Band of Brothers – E1 Currahee”. 

              Dalam proses membentuk Kompi Easy yang pada akhirnya menjadi kompi terbaik pada pasukan penerjun elit Amerika Serikat, dapat dilihat bahwa terdapat desain struktur organisasi yang dapat membantu pasukan tersebut menghadapi ketidakpastian dan masalah yang ada. Selama masa 2 tahun pelatihan sebelum menghadapi peperangan di Normandy, Kompi Easy dipimpin oleh Letnan Sobel. Seluruh perintah yang diberikan harus diikuti oleh semua prajurit Kompi Easy dalam kondisi apapun. Untuk mempermudah garis koordinasi antara ia dengan seluruh prajurit, ia memilih letnan Richard Dick Winters sebagai komandan Kompi Easy. Apabila dilihat dari sisi The Organizational Environment, pengambilan keputusan menjadi terbatas karena budaya militer yang sangat lekat terhadap organisasi ini. Pengambilan keputusan terpusat kepada pimpinan kompi yakni Letnan Sobel, bahkan Letnan Winters dalam satu penugasan mendapatkan pekerjaan yang diluar dari tanggung jawab militernya, seperti kepengurusan fasilitas camp seperti jamban, kemudian kepengurusan makan prajurit, dan lain-lainnya. Dari sisi Strategy, kemampuan menyusun strategi yang rendah membuat beberapa misi yang dipimpin Letnan Sobel gagal terlaksana, ia gagal melakukan mapping prajurit saat kondisi yang terjadi tidak sesuai dengan strategi yang telah direncanakan. Dari sisi Technology, penggunaan teknologi tidak terlalu signifikan tampak pada kisah ini karena pada masa itu pengembangan teknologi belum berkembang pesat, hal ini masih ditujukan bahwa komunikasi dengan keluarga masih menggunakan surat menyurat, dan penggunaan televisi hanya untuk orang-orang yang memiliki perekonomian yang baik. Dari sisi Human Resources, seluruh prajurit dilatih sehingga memiliki kemampuan yang memenuhi untuk berperang. Sayangnya dalam kisah ini, struktur organisasi yang diterapkan adalah struktur organisasi yang tidak flexible dimana otoritas dan komando dipegang oleh komandan, Letnan Sobel, dan tingkat pengembahan SDM nya pun menjadi rendah. 

Three Types of Control

              Dalam menjalankan fungsi struktur organisasi, diperlukan adanya control yang tersistem. Hal ini dapat dilihat sebagai pengaturan target, monitoring, evaluasi, dan system timbal balik yang disediakan organisasi untuk melihat apakah stuktur yang ada berjalan dengan efisien dan efektif. Tiga control tersebut terdiri dari : feedforward control, concurrent control, dan feedback control.

Where Does Organizational Culture Come From?

Budaya organisasi terbentuk dari interaksi 4 faktor : karateristik dari tiap anggota organisasi, etika organisasi, hubungan antar anggota organisasi, dan desain sturktur organisasi itu sendiri. 

Karakteristik dari anggota organisasi merupakan sumber terbesar dalam membentuk budaya organisasi. Perbedaan budaya organisasi tentunya didasarkan dari perbedaan nilai, kepribadian, dan etika yang berbeda dari tiap anggota organisasinya. Karakter yang paling mendominasi pada kisah ini adalah karakter Letnan Sobel yang semena-mena dan cenderung mencari kesalahan yang mungkin cederung digunakan untuk menutupi kelemahan dia dalam hal yang lain seperti strategi. Sifatnya Letnan sobel sebagai pemimpin yang kerap menjaga jarak, ingin selalu dihormati karena pangkat yang lebih tinggi dan selalu melihat kesalahan orang lain membuatnya jauh dari anak buah bahkan dianggap kurang peduli terhadap bawahannya anggota Kompi Easy walaupun disisi lain dia berhasil membentuk kompi pasukan yang Tangguh dan teruji. Disisi lain kita temukan model pimpinan yang selalu memberikan contoh, tegas dan melindungi anak buah di sosok Letnan Dick Winter. Dua gaya kepemimpinan ini yang nanti menarik untuk disimak yang mana yang efektif bagi organisasi dalam mencapai tujuannya dalam organisasi militer. 

Etika organisasi membantu organisasi dalam memutuskan tentang garis hak dan kewajiban yang harus dipenuhi, aktivitas yang harus dlakukan, dan nilai moral yang akan dijalankan bersama-sama. Dalam film ini dengan latar belakang militer, sangat kental terasa etika militer dimana perintah atasan adalah mutlak, tidak ada jawaban tidak. Walaupun kadang terlihat semena mena seperti yang ditunjukan oleh Letnan Sobel Ketika menarik hak cuti anggota kompinya karena menemukan beberapa kesalahan kecil yang dicari-cari. Bukan etika organisasinya yang salah namun kebijakan pemimpinnya lah yang perlu dikritisi. Pemimpin diharapkan sebagai orang yang memberikan contoh terhadap tegaknya aturan dan etika dalam berorganisasi. Jika pemimpin tidak tegak dalam menerapkan aturan atau etika organisasi maka bisa dipastikan bahwa anggota akan melakukan hal yang sama mengikuti apa yang ditunjukan pimpinan dan berarti tinggal menunggu waktu datangnya masalah terhadap organisasi, dalam kasus ini adalah ketidakloyalan anggota. 

Hubungan antar anggota organisasi menjadi faktor ketiga yang membentuk budaya organisasi. Pertumbuhan hubungan antar anggota dalam organisasi yang sehat menjadi modal awal dalam organisasi. Saling merasakan dalam masa sulit, dalam medan pertempuran yang sama, berkembang Bersama semua itu akan menumbuhkan yang disebut esprit de corps atau rasa dalam kelompok. Selain itu dalam organisasi proses budaya bisa dibangun mulai dari proses perekrutan, pelatihan serta promosi jabatan dengan transparan serta sistem rewarding yang sesuai. Dalam kisah ini kita bisa melihat bahwa awalnya banyak sukarelawan yang memutuskan bergabung pasukan penerjun Amerika Serikat karena adanya tawaran gaji 100 dolar perbulan. Namun setelah menjalani pelatihan dan akhirnya berperang Bersama rekan rekannya mereka akhirnya membangun sebuah budaya yang cukup kuat yang mereka sebut band of brothers, sekelompok saudara. Dalam cerita cerita selanjutnya juga dilihat bagaimana budaya ini semakin menguat setelah mereka juga melihat bahwa mereka yang berjasa dan berprestasi mendapat penghargaan promosi sebagai bagian dari pengakuan kinerjanya. Selain itu diperlihatkan dalam film ini penunjukan seorang pimpinan pasukan dilapangan juga didasarkan pada kompetensi yang bersangkutan, hal ini terlihat dengan penunjukan perwira lain dan bukan kapten Sobel Ketika pendaratan Normandy dilakukan. Sedangkan kapten sobel tetap ditunjuk untuk memimpin kamp pelatihan lagi. 

Struktur Organisasional menjadi faktor keempat yang membentuk budaya organisasi. Kisah ini mencerminkan bagaimana organisasi militer memiliki otoritas sentral yang berpusat kepada satu komando. Dalam lingkup lebih kecil lagi, Kompi E mendapatkan komando secara terpusat dari Letnan Winters yang mendapatkan arahan dari Letnan Sobel. Sentralisasi otoritas ini diharapkan menjadikan perintah militer lebih efektif dalam menterjemahkan strategi yang diputuskan. Tentunya dalam organisasi non militer ini akan tidak banyak disetujui karena mengakibatkan bawahan tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya secara bebas. Namun dalam kemiliteran Prajurit diwajibkan lebih patuh terhadap apa yang diperintahkan, meskipun dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

Dalam film Band of Brothers episode Currahee ini banyak sekali pembelajaran organisasi maupun leadership yang kita bisa lihat dalam “edisi” militer walaupun penerapannya bisa berlaku bebas dimana saja. Secara sekilas jika kita melihat organisasi militer dimana struktur organisasi yang bersifat sentralisasi dimana perintah datang dari Commanding Officer (CO) dan harus dipatuhi sama persis dengan bunyi perintah. Tidak diperbolehkan adanya penyimpangan mengenai perintah tersebut sehingga kepatuhan dan loyalitas adalah kunci dalam struktur organisasi militer. Struktur organisasi ini sudah teruji efektif dalam implementasinya karena yang dihadapi adalah pilihan yang sangat cepat terhadap konsekuensi menang atau kalah, hidup atau mati sehingga kemungkinan untuk mempertanyakan atau menolak perintah bukan merupakan opsi dalam organisasi militer. Namun ada yang menarik dalam salah satu bagian episode film ini dimana semua sersan, komandan peleton melakukan protes untuk tidak menerima Kapten Sobel memimpin mereka. Mereka lebih merasa aman dibawah perintah Letnan Winter yang memahami strategi militer, dan seorang leader yang baik serta paham karakter prajuritnya dibandingkan Kapten Sobel yang memang memiliki pangkat lebih tinggi namun tidak memiliki kecakapan dilapangan dan tidak memiliki leadership. Mereka mengetahui konsekuensi bahwa mereka akan mendapat hukuman berat jika melakukan ini dalam organisasi militer. Bisa dikeluarkan bahkan dihukum mati karena melanggar perintah dan melawan atasan, namun mereka tetap melanjutkan menuliskan mosi mereka kepada pimpinan batalyon. Walaupun ujungnya semua diturunkan pangkatnya dan satu dipecat namun pendapat mereka didengar. Dalam kondisi perang dimana situasi bisa sangat rumit dan chaotic, dibutuhkan pemimpin lapangan yang mampu mengarahkan timnya secara strategi, dan dipercaya oleh tim mereka mampu membawa mereka secara fisik dan moral melakukan tindakan yang sudah diputuskan dengan sepenuh hati yang akan mampu membawa timnya melalui medan pertempuran, dan itu yang menjadi alasan mendasar mereka memilih Letnan Winter. Jadi teknologi dan situasi perang memiliki pengaruh, namun kunci dominan ada di strategi dan kepemimpinan. 

Dalam episode Currahee ini kita coba cuplik budaya yang terbentuk dari beberapa tahapan proses, yang pertama budaya displin dan keras dalam membangun fisik dan mental yang dimulai selama 2 tahun pelatihan di bukit Curahee, kemudian ditempa lagi dengan rasa solidaritas Ketika salah satu anggota tim dihukum dan anggota lain merasakan hukuman yang sama sehingga yang lain selalu mencoba memastikan tidak ada anggota tim yang melakukan kesalahan dan mendapatkan hukuman, kemudian diperlihatkan juga dengan kepedulian pimpinan yang selalu memberikan teladan, “walk the talk” serta ikut menjalani hukuman anggotanya dan mendapatkan pengakuan sebagai “leader” bukan karena kepangkatan. Keseluruhan faktor yang ada tersebut kemudian membangun budaya kompi easy. Dimana mereka menjadi kompi yang sangat tangguh, loyal dan siap sedia diterjunkan dimana saja. Memang ada faktor-faktor yang juga mempengaruhi budaya organisasi seperti struktur organisasi, etika organisasi, hubungan dengan induk organisasi (army), namun dalam kasus ini budaya organisasi terbentuk dari keterikatan antar karakter dalam anggota organisasi di kompi easy. Dalam situasi perang ketergantungan satu anggota dengan anggota lain yang berjuang disisi mereka dimana mereka meletakkan hidup mereka ke rekan disamping mereka untuk saling melindungi yang kemudian menjadi sebuah ikatan, menjadi sebuah cara dan perilaku yang akhirnya menjadi sebuah budaya. 

Dalam hal control, ada bagian dari episode ini ketika dilakukan latihan pertempuran dimana kompi easy dipimpin kapten Sobel meninggalkan posisi yang seharusnya menjadi posisi ideal jika mereka harus melakukan penyergapan karena mereka terlindungi dan dalam posisi memiliki fisibilitas baik untuk sekelilingnya, namun karena ketidak sabaran dan salah dalam mengatisipasi masalah menyebabkan Kapten Sobel memilih untuk mencari posisi lawan dan menyebabkan pasukannya terekspose dari serangan pasukan lawan. Akibatnya dalam simulasi tempur tersebut Kapten Sobel dianggap kalah dan hampir dari 95% pasukannya tewas. Sangat menarik melihat bagaimana control dalam sebuah pasukan penting dilakukan dan akan sangat bergantung pada situasi dan kondisinya. Dalam situasi yang tidak jelas dan tidak diketahui medan serta minimnya intelijen yang diterima posisi terbaik adalah posisi antisipatif, dengan memilih posisi yang aman sambil terus melihat perkembangan situasi dan melakukan analisanya. Yang tidak kalah penting adalah kesabaran, karena timing bisa jadi menjadi kunci dalam pertempuran baik di medan laga maupun bisnis. 

Dalam organisasi baik militer maupun bisnis, dinamika yang dialami sangat beragam bisa datang secara cepat yang membutuhkan respon yang tepat jika tetap menjaga momentum, atau memilih bertahan sambil menunggu datangnya informasi lebih lengkap. 

Dalam episode currahee ini ada satu cuplikan dimana 2 group kompi easy diberikan tugas untuk mengambil alih “crossroad” perempatan dalam sebuah simulasi perang sambil menunggu D-day. Dalam simulasi tersebut terlihat bahwa 2 group yang dipimpin oleh Kapten Sobel dan Letnan Winter memiliki kendala masing-masing, namun kemudian keduanya memiliki keputusan berbeda yang membuahkan hasil yang berbeda. Dalam group 1 yang dipimpin oleh Kapten Sobel, mereka memiliki kendala Ketika mereka tersesat karena salah dalam memhami peta lokasi, namun bukannya kembali ke lokasi awal dimana mereka salah diawalnya dan menerima masukan tim namun malah melakukan pilihan tindakan yang tidak terukur sesuai instruksi awal yang akibatnya mereka gagal dan melibatkan kerugian. Di satu sisi, tim Letnan Winter membaca dengan tepat petunjuk peta, kemudian setelah menunggu kedatangan group 1 tidak kunjung datang dan menimbang masalah serta obyektif yang harus dicapai dan mengukur sumberdaya yang ada akhirnya diputuskan untuk mengambil opsi melakukan penyerangan ke perempatan yang dituju, dan akhirnya berhasil. 

Kedua contoh diatas memperlihatkan bahwa masalah akan selalu ada dalam proses menjalankan sebuah organisasi dari mulai masalah yang ringan yang bisa diselesaikan tanpa perlu merubah struktur organisasi dan hanya merubah strategi seperti contoh, atau bahkan masalah yang berat dimana organisasi perlu melakukan keputusan perubahan organisasi. Ada beberapa tahapan dalam perubahan organisasi:

Alasan melakukan perubahan. Apa yang menjadi alasan organisasi ingin melakukan perubahan? Apa yang menjadi masalah yang mengharuskan organisasi harus berubah? Jika ada alasan yang signifikan misalnya efisiensi, atau lebih terintegrasi dalam pengambilan keputusan dan itu akan membawa manfaat lebih besar dan jangka panjang maka tentu bisa menjadi pertimbangan.

Lakukan mapping struktur sekarang vs struktur baru nantinya. Ini untuk membantu memberikan gambaran apa saja yang terdampak terkait perubahan, bagaimana kita akan melakukan perubahan, apakah secara langsung apa bertahap. dan bagaimana dengan biaya yang akan muncul seperti pesangon, biaya sosial karen adanya blow up masalah ke media dan lain lain.

Pelaksanaan perubahan. Jika semua sudah diukur dan disetujui maka implementasi dilakukan sesuai dengan rencana. Setiap tahapan harus jelas siapa yang menjadi penanggung jawab dan melakukan support terhadap setiap tahapan. Tentunya perlu dilakukan update secara reguler untuk memastikan sesuai dengan rencana. 

Analisa perbandingan. Bagaimana kinerja organisasi setelah dilakukannya perubahan? Apakah menjadi lebih baik atau tidak. Sebaiknya juga diukur dengan tingkat keterlibatan, pemahaman anggota organisasi terkait dengan tujuan perubahan dan tentunya kita harus memberikan juga waktu untuk organisasi baru menunjukan kinerja nya. Tidak bisa diukur lgs setelah perubahan. Karena tidak semua anggota bisa menerima dan suka akan perubahan.

Demikian ulasan kami dari film Band of Brother episode Currahee. Sebuah penyajian ulang dari cuplikan kisah nyata perang dunia kedua. Focus kami bukan pada latar belakang perangnya namun lebih kearah contoh-contoh kepemimpinan dari karakter-karakter yang ada dalam film yang bisa mengispirasi siapa saja dalam situasi background yang berbeda. Salut buat Tom Hank dan Steven Spielberg sebagai salah dua produser film ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih. 

https://www.youtube.com/watch?v=zDBUooZQzgA

Republic of Awesome

Arief Nugrahadi Kuncoro

Bagus Setiagung Budi Santoso

Grecia Ulina

Yodha Bima Widyandhana

Trailer Band of Brothers


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Bagus

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format