Belajar Mengelola Konflik Secara Efektif Melalui Film Le Chef

Belajar mengelola konflik, membangun tim yang efektif, dan kepemimpinan melalui film Le Chef (The Chef / Comme Un Chef)


1
1 point

Sinopsis

Pada artikel ini, kita bersama- sama akan belajar bagaimana memanajemen konflik dalam sebuah organisasi, pentingnya motivasi dalam menciptakan performa yang optimal dalam tim, dan juga pentingnya sikap kepemimpinan. Untuk membuat pembahasan ketiga topik itu menarik, maka kita akan belajar dari sebuah film Perancis bertemakan masak- memasak, Comme un Chef atau Le Chef atau The Chef. Film ini pertama kali tayang tahun 2014, di bawah pimpinan sutradara Daniel Cohen. 

Secara garis besar, film ini menceritakan perjuangan dua orang chef dari latar belakang ekonomi yang berbeda, dalam menyikapi konflik mereka masing- masing. Jean Reno memerankan seorang chef profesional bernama Alexader Lagarde, yang saat ini menjadi kepala chef di sebuah restoran ternama. Posisinya sebagai kepala chef terancam, karena anak pemilik restoran itu ingin mengganti Alexander dengan seorang chef yang ahli makan- makanan molekular. Di sisi lain, diceritakan seseorang dengan bakat memasak yang tinggi, namun dalam 1 bulan dia sudah dipecat sebanyak 4 kali dari restoran- restoran kecil. Karena sifat perfeksionis yang dimiliki oleh Jacky Bonnot yang diperankan oleh Michael Youn, saat ini dia harus bekerja sebagai tukang cat di sebuah panti jompo untuk mempersiapkan kecukupan ekonomi keluarganya yang akan dikaruniai seorang putri.

Kedua tokoh ini dipertemukan di sebuah panti jompo, tempat Jacky bekerja sebagai tukang cat. Saat itu, Alexander sedang menemui ayah dari si pemilik restoran Lagarde yang tinggal di panti jompo itu. Ayah pemilik restoran tersebut menyuguhi Alexander dengan masakan yang sangat lezat, dimana sup itu ternyata dibuat oleh Jacky yang diam- diam menyalurkan bakat masaknya di dapur panti jompo itu. Karena kagum dengan masakan Jacky, Alexander yang pada saat itu sedang butuh asisten, mengajak Jacky untuk menjadi asistennya dan langsung disetujui oleh Jacky.

                         

Diceritakan, dalam 4 hari restoran mereka akan didatangi oleh kritikus- kritikus makanan terkenal untuk menilai masakan baru Alexander, yang pada faktanya dia belum tahu menu baru yang hendak dia sajikan. Sejak saat itu, Alexander dan Jacky berjuang bersama untuk menyelamatkan posisi Alexander sebagai kepala chef di restoran tersebut dan juga reputasinya sebagai chef bintang tiga.

Identifikasi Masalah

   Konflik pertama terjadi pada saat pemilik restoran Lagarde hendak mengganti menu di restorannya menjadi menu molekular. Hal tersebut berimbas pada chef Alexander yang  terancam akan dikeluarkan karena memiliki aliran memasak yang berbeda dengan menu baru. Karena keras kepala ingin tetap memasak menu- menu tradisional dan enggan hengkang dari restoran tersebut, Alexander berkali- kali menerima pemboikotan oleh sang pemilik restoran. Boikot pertama adalah memindahkan asisten- asisten kepercayaan Alexander ke restoran lain. Kedua adalah sang pemilik restoran berencana mendatangkan kritukus- kritikus makanan yang terkenal jahat dan memiliki potensi untuk menurunkan reputasi Alexander. Ketiga adalah memboikot pemasok bahan- bahan masak agar tidak lagi memasok ke Alexander Lagarde.

 

Analytical Thinking

Manajemen Konflik, Politik, dan Negosiasi

Berdasarkan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Alexander, dapat dilihat bahwa tingkat konflik pada kondisi ini sudah terlalu banyak atau tinggi. Kita dapat mengkorelasikan keadaan ini dengan teori tentang konflik (Bab 17), dengan mengutip dari buku karangan Gareth Jones (2018) berjudul Contemporary Management. Dimana menurut Jones, terlalu tinggi dan rendah tingkat konflik dalam sebuah organisasi, dapat mempengaruhi performa dari kinerja organisasi tersebut. 

Gambar 1. Pengaruh konflik terhadap performa organisasi

Keseluruhan konflik di film ini berawal dari hanya dua individu saja, yaitu pemilik restoran dan chef Alexander. Sehingga konflik ini dapat dikategorikan sebagai tipe konflik interpersonal (Jones, 2018). Konflik tipe ini dapat timbul dari perbedaan pendapat atau tujuan dari masing- masing individu. Perbedaan pendapat antara pemilik restoran untuk merubah menu baru yang lebih modern dengan keangkuhan chef Alexander untuk mempertahankan menu tradisionalnya, menciptakan konflik antar kedua tokoh tersebut.

Gambar 2. Jenis konflik berdasarkan individu terlibat

Dari beberapa konflik yang kerap terjadi dalam sebuah organisasi, Jones membagi beberapa sumber konflik menjadi 6 macam penyebab konflik (Gambar 3). Jika kita menggali sumber masalah dalam  persilisihan yang terjadi di antara pemilik restoran dengan chef Alexander, kita dapat mengatakan bahwa konflik ini bersumber dari adanya overlapping authority. Mengapa bisa dikatakan demikian?. Pemilik restoran, selaku pemegang tanggung jawab atas restoran dan juga yang empunya wewenang tertinggi dalam mengontrol restoran ini, seharusnya sudah memiliki keputusan yang mutlak di atas karyawan- karyawannya. Namun, dengan keangkuhan dari chef Alexander, yang sebenarnya hanya selaku kepala chef di restoran tersebut, dia tidak memiliki wewenang untuk menolak apa keputusan dari pimpinan tertinggi di restoran tersebut, yaitu sang pemilik. Dengan sikap Alexander yang tidak patuh pada keputusan pemilik resoran untuk mengganti menu di restoran tersebut, dia sudah melewati kuasa dari pemilik restoran. Hal ini lah yang menyebabkan munculnya konflik antara mereka berdua.

Gambar 3. Macam- macam sumber konflik dalam organisasi

Konflik yang terjadi antara mereka berdua berujung pada sebuah kompetisi antar mereka. Kesepakatan yang terjadi adalah ketika Alexander berhasil mempertahankan bintangnya, maka ia akan tetap mengepalai tim masak di restoran Lagarde. Sedangkan di lain sisi, jika Alexander tidak dapat mempertahankan bintangnya, pemilik restoran akan menendang Alexander dari restoran dan digantikan oleh chef baru yang ahli di bidang molekular.

Efektivitas Tim Dalam Mendongkrak Performa Organisasi

Dalam buku karangan Jones ini, dikatakan bahwa arti sebuah tim adalah kolaborasi setiap anggota kelompok untuk bekerja secara intens dalam menggapai sebuah tujuan. Sebuah tim dapat memberikan organisasi tersebut sebuah keunggulan bersaing (Gambar 4). Untuk pencapaian tersebut, tim harus mampu meningkatkan performa organisasi, meningkatkan kepekaan terhadap apa yang dibutuhkan pelanggan, memperbanyak munculnya inovasi, dan meningkatkan motivasi dan kepuasan. Dengan adanya tim dalam sebuah organisasi atau perusahaan diharapkan dapat memperbesar peluang terbentuknya sebuah sinergi yang menguntungkan bagi organisasi tersebut.

Gambar 4. Bentuk kontribusi tim dalam mencapai competitive advantage

Kita dapat melihat sebuah tim yang efektif yaitu dalam hubungan chef Alexander dan Jacky Bonnot. Keduanya mampu memenuhi keempat syarat yang dicantumkan dalam bab 15 buku referensi kita. Dengan terpenuhinya keempat faktor tersebut, tim yang beranggotakan Alexander dan Jacky mampu memberikan manfaat bagi restoran Lagarde untuk mampu mempertahankan reputasinya sebagai restoran ternama.

Sinergi yang terbangun setelah Alexander merekrut Jacky sebagai asisten magangnya adalah dalam bentuk keduanya mampu saling bertukar ide atas wawasannya di dunia memasak. Kemudian, keduanya saling terbuka untuk menerima kritik untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga hal itu membuat pencapaian tujuan mereka akan lebih mudah tercapai. Dari hasil pertukaran pengetahuan antara mereka berdua akhirnya membuahkan inovasi, dengan mengkolaborasikan makanan tradisional namun disajikan dengan bentuk modern. Fungsi dari dibentuk tim dalam organisasi juga dapat menjadi motivasi antar anggotanya. Jacky dan Alexander mampu menjadikan diri mereka masing- masing sebagai motivator bagi partner mereka berdua dalam perjalanannya mencapai tujuan akhir mereka. 

Le Chef | Official US Trailer - YouTube

Leadership

Sifat kepemimpinan yang efektif menjadi salah satu syarat yang harus dimiliki oleh setiap individu, tidak hanya ketika dia menjabat sebagai seorang pemimpin saja. Seorang pemimpin adalah orang yang mampu mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan. Beberapa sifat yang berkaitan dengan kepemimpinan yang efektif pernah dituliskan oleh Marc Benioff, CEO perusahaan salesforce.com, melalui bukunya yang berjudul “A Manager’s Challenge” (Jones, 2018). Penjabaran mengenai beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin ini dinamakan The Trait Model.

Menurut Trait Model, kita coba untuk mempelajari sifat kepemimpinan apa yang dimiliki oleh Alexander dan Jacky yang menjadi tokoh utama dalam film Le Chef ini. Secara sifat, Jacky dan Alexander digambarkan memiliki sifat kepemimpinan yang hampir sama, hanya saja mereka ditempatkan pada posisi jabatan yang berbeda saja. Alexander menjadi kepala dapur sedangkan Jacky adalah asiste Alexander yang punya kuasa untuk mengontrol dan memimpin karyawan lainnya di dapur.

Trait (Sifat)

Deskripsi

Knowledge and expertise

Alexander memegang reputasi sebagai chef bintang tiga, dan sudah lama berkecimpung di dunia memasak. Jacky tidak punya banyak pengalaman, namun dia punya pengetahuan dan kemampuan yang setara dengan Alexander karena rajin membaca.

Self-confidence

Keduanya memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan yang mereka miliki. Kepercayaan diri yang dimiliki mampu membuat mereka gigih ketika menghadapi masalah.

High energy (Jacky)

Dengan banyak tuntutan yang diberikan oleh Alexander, Jacky mampu mengontrol semuanya dengan baik.

Dominance (Alexander)

Alexander bisa meyakinkan dan mengajak Jacky untuk berjuang bersama dalam mempertahankan reputasi dirinya dan restoran.

Tabel 1. The trait model dari setiap tokoh utama Le Chef

Menurut Fred E. Fiedler, gaya kepemimpinan digolongkan menjadi dua, relationship-oriented leaders dan task-orientedleaders (Jones, 2018). Relationship-oriented leaders adalah gaya kepemimpinan seseorang yang lebih mementingkan membangun relasi yang baik dengan bawahannya dan membuat dia disukai oleh bawahannya. Sedangkan task-oriented leaders memiliki kecenderungan tidak terlalu memperhatikan hubungan dengan bawahannya, namun dia mampu menuntun bawahannya untuk bekerja dengan performa yang tinggi (Jones, 2018).

Review: Le Chef – Trespass Magazine

Menurut Fiedler, kecenderungaan gaya kepemimpinan seseorang tidak dapat dirubah dan juga tidak dapat berdaptasi di beberapa situasi yang tidak sejalan dengan gayanya. Oleh karena itu, daripada harus merubah gaya kepemimpinan seseorang, Fiedler mengelompokkan beberapa situasi yang cocok untuk dipimpin oleh 2 jenis gaya kepemimpinan tersebut berdasarkan hubungan pemimpin dan anggota, struktur tugas, dan kekuatan posisi seseorang. Faktor hubungan antara pemimpin dan anggotanya dilakukan untuk mengidentifikasi seberapa patuh, percaya, dan setia seorang bawahan pada posisi di atasnya. Faktor kedua, struktur tugas, dapat disederhanakan menjadi alat untuk mengukur tingkat kejelasan suatu tugas. Semakin tinggi kejelasan atau struktur tugas, situasi tersebut sangat membutuhkan adanya seorang pemimpin. Begitu juga sebaliknya, pada struktur tugas yang rendah, peran seorang pemimpin tidak terlalu dibutuhkan karena karyawan sudah mampu mencerna tugas yang diberikan padanya, dan sudah tahu apa yang harus dilakukan. Faktor ketiga menurut Fiedler adalah position power atau kekuatan jabatan, yang berfungsi untuk mengukur seberapa kuat kuasa yang dimiliki oleh pemimpin dalam organisasi tersebut.

Gambar 5. Teori kemungkinan dalam kepemimpinan menurut Fred E. Fidler

Dari teori Fidler ini, kita akan mengelompokkan situasi yang tepat untuk dipimpin oleh Alexander yang punya gaya kepemimpinan task-oriented dan Jacky yang cenderung relationship-oriented

Leader-member relationship

Task structure

Position power

Kesimpulan

Tokoh

Good

High 

Strong

Gaya kepemimpinan yang efektif adalah task-oriented

Alexander Lagarde

Poor

High

Weak 

Gaya kepemimpinan yang efektif adalah relationship-oriented

Jacky Bonnot

Tabel 2. Pemetaan karakter situasi berdasarkan Fidler’s Contingency Model

Kesimpulan, Saran, dan Solusi

   Melalui film Le Chef ini, kita dapat mempelajari tiga bab dalam buku karangan Gareth R. Jones, kepemimpinan, kelompok atau tim yang efektif, serta mengelola konflik dalam organisasi. Pertama- tama kita diceritakan konflik interpersonal yang muncul antara chef Alexander dan pemilik restoran. Kemudian, pertemuan Alexander dan Jacky, yang selanjutnya berkolaborasi menjadi sebuah tim yang saling melengkapi dalam perjuangan mereka mencapai tujuan. Dari kedua tokoh utama, kita dapat mempelajari masing- masing gaya kepemimpinan mereka, Jacky dengan gaya relationship-oriented leaders dan chef Alexander dengan gaya task-oriented leaders-nya. Kita juga mempelajari situasi seperti apa yang pas dipimpin oleh dua gaya kepemimpinan dari kedua orang tersebut.

Pada usaha pemecahan konflik antara Alexander dan pemilik restoran yang memutuskan untuk bertaruh dan berkompetisi, sebenarnya bukan merupakan jalan paling efektif untuk menyelesaikan konflik. Penyelesaian konflik dengan berkompetisi sangat tidak efektif dalam suatu organisasi. Waktu dan usaha yang dikerahkan oleh kedua belah pihak tidak akan bermanfaat dalam pencapaian tujuan organisasi, atau pada film ini adalah restoran Lagarde. Waktu dan usaha yang terbuang bukan seharusnya untuk bertarung antar anggota sebuah organisasi, melainkan untuk dikolaborasikan. 

Berdasarkan teori dalam buku contemporary management, bentuk penyelesaian sebuah konflik yang lebih baik adalah dalam bentuk kolaborasi. Dimana kedua belah pihak yang berkompetisi berusaha untuk memenuhi keinginan lawan mereka, dan memberikan toleransi atas pendapat yang mereka masing- masing perjuangkan. Dengan memilih jalur berkompetisi sendiri memiliki potensi untuk meningkatkan tingkat konflik menjadi lebih tinggi lagi dan dapat berakibat buruk pada organisasi.

Di dalam sebuah kolaborasi, perlu dilakukan sebuah negosiasi antar mereka ataupun memerlukan pihak ketiga jika belum dapat menemukan jalan tengah. Negosiasi adalah salah satu bentuk teknik penyelesaian konflik dengan mempertimbangkan berbagai jalan alternatif untuk menghasilkan solusi yang dapat diterima oleh semua pihak. Yang dapat kita lihat dari film ini, si pemilik restoran tidak membuka kesempatan untuk Alexander untuk berdiskusi dan tidak mau mendengar apa tanggapan dari bawahannya tersebut. Kurangnya komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan ini lah yang juga dapat memicu munculnya konflik yang merugikan baik untuk pemilik restoran maupun Alexander.

Daftar Pustaka

Jones, Gareth R. dan George, Jennifer M.. 2018. Contemporary Management: 10th Edition. McGraw-Hill Education: New York.


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
danielm

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format