More Than Leadership and Teamwork, Catch Some Lessons Through Sister Act 2: Back In The Habit

Dolores Van Cartier kembali menyamar sebagai Suster Mary Clearance untuk misinya menyelamatkan St Francis School melalui penampilan yang ikonik.


1
1 point

Sinopsis

Sukses dengan Sister Act (1992), Whoopi Goldbeerg kembali dalam perannya sebagai Suster Mary Clearance pada Sister Act 2: Back in The Habit (1993). Pada seri yang kedua ini menceritakan bahwa, Delories Van Cartier (Whoopi Goldbeerg) kembali pada kehidupan aslinya sebagai penyanyi di Las Vegas. Setelah menyelesaikan penampilannya, tiga biarawati sahabat Deloris dating menemui Deloris dan meminta Deloris untuk menjadi seorang guru St. Francis School. Tiga biarawati tersebut mengaku kewalahan terhadap anak – anak yang ada di kelas music, dan para biarawati percaya bahwa Dolores adalah orang yang tepat untuk mengatasi masalah ini, mengingat pada seri pertama dari Sister Act Dolores mampu mengembangkan kelompok paduan suara biarawati menjadi lebih hidup dan terknal, bahkan menarik perhatian komunitas sekitar, sehingga Bapa Paus dating berkunjung untuk menonton penampilan para bairawati. 

Dolores akhirnya setuju untuk membantu menjadi seorang guru music dan kembali menyamar menjadi seorang biarawati bernama Suster Mary Clearance. Dolores dikejutkan oleh sifat anak – anak di kelas music yang terkenal kompak, dan penuh potensi tetapi tidak memiliki motivasi. Parahnya, anak – anak dari kelas music bahkan berusaha membuat Dolores tidak betah dengan mengerjai Dolores. Anak – anak dari kelas music tersebut diketuai oleh Rita Watson yang diperankan oleh Lauryn Hill. Rita Sendiri adalah anak yang memiliki talenta dalam bernyanyi dan sangat suka menyanyi, tetapi dia terbebani oleh ibunya yang melarang Rita untuk bernyanyi karena ibunya merasa menyanyi tidak bisa menafkahi kehidupan Rita. Walaupun kerap dikerjai oleh muridnya, Dolores tetap berusaha mendekati para muridnya, bahkan tidak ragu untuk menjadi lebih tegas terhadap murid – muridnya. Aksi Dolores tersebut menarik perhatian para murid kecuali Rita yang tetap menolak kehadiran Dolores, dan akhirnya Rita memutuskan untuk keluar dari kelas music. Setelah melihat bakat dari anak – anak kelas music yang sangat bersinar, Dolores memutuskan untuk membentuk sebuah group paduan suara, dan bahkan para murid ikut serta dalam men – design kelas music baru mereka. Melihat teman – temannya antusias dalam belajar, Rita merasa tertinggal dan datang ke sekolah untuk melihat proses belajar, dan akhirnya pergi lagi. Dalam perjalanannya ke rumah, Dolores menemui Rita dan mendorong Rita untuk menyanyi karena Rita memiliki suara yang indah dan tidak komplit apabila Rita tidak bergabung pada group paduan suara. 

Merasa termotivasi oleh ambisi teman – temannya dan juga dorongan dari Dolores, Rita akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas music. Masalah tidak hanya selesai disitu, Dolores mendengar pembicaraan Pastor Maurice selaku kepala sekolah dan Tuan Crisp selaku anggota yayasan bahwa St Francis School akan ditutup karena tidak ada dana dan sekolah tidak pernah mendapatkan prestasi di hal apapun. Dolores dan suster – suter lainnya akhirnya mendaftarkan kelompok paduan suaranya ke sebuah kompetisi, yang awalnya ditentang oleh Pendeta Maurice tetapi setelah beberapa pertimbangan akhirnya di izinkan. Rita disisi lain juga ditentang oleh ibunya, dan tidak bisa berpartisipasi dalam perlombaan. Tetapi karena ambisi yang tinggi akhirnya Rita mengikuti kata hatinya dan akhirnya bergabung pada perlombaan. Ibunya yang menantang Rita menemukan fakta bahwa Rita memalsukan tanda tangannya agar dapat ikut lomba dan akhirnya menyusul ke perlombaan. Di sisi lain, fakta bahwa Dolores sesungguhnya bukan seorang biarawati akhirnya terbongkar, dan Tn Crisp yang dari awal selalu menginginkan penutupan St Francis School, berencana untuk membatalkan perlombaan paduan suara. 

Sesampainya di tempat perlombaan pada murid berkecil hati karena ada team lain yang menyanyikan lagu yang sama yaitu “Joyful Joyful”, tetapi Dolores berkata bahwa apabila para murid terus lari dari masalah, mereka tidak akan pernah menyelesaikan masalah dan tidak akan berkembang. Pada akhirnya para murid kelas music St Francis School menampilkan “I Will Follow Him” yang menjadi salah satu ikon dari film Sister Act dan berhasil memenangkan perlombaan. Para Anggota yayasan yang melihat penampilan dari murid – murid kelas music terpukau dan membatalkan rencana mereka untuk menutup sekolah. Ibu Rita yang melihat penampilan anaknya akhirnya meminta maaf dan mendukung talenta anaknya. Rencana Tn Crisp untuk menutup St Francis School pun gagal. 

Masalah yang terjadi dalam film Sister Act 2

Permasalahan yang terjadi pada film ini yaitu terletak pada anak – anak kelas music yang menolak untuk diatur, tidak termotivasi, dan juga tidak tahu bagaimana cara mengembangkan bakat mereka. Anak – anak ini tidak peduli terhadap pendidikan mereka, dan dapat dilihat dari film bahwa anak – anak ini datang dari keluarga yang berpenghasilan rendah. Kelebihan dari murid – murid tersebut yaitu mereka sangatlah kompak dan solid, mereka mendukung satu sama lain, bahkan mereka tetap saling mendukung dalam melakukan hal yang negative, contohnya ketika para murid bersekongkol untuk mengerjai Dolores atau menolak Dolores pada hari pertama Dolores bekerja. Para biarawati juga mengaku bahwa banyak pengajar yang kewalahan dan akhirnya menyerah dengan kelakuan anak – anak dari kelas music. Di sisi lain, para pengajar (pastor dan biarawati) juga tidak cekatan dan kurang mampu mengolah dan mengembangkan bakat yang dimiliki oleh para murid kelas music. Sebelum Dolores bergabung menjadi pengajar, sistem pembelajaran di kelas music dinilai kurang menarik dan tegas sehingga murid – murid merasa bosan dan malas untuk mengikuti pelajaran. Kendati demikian, para guru mampu mengenali bakat yang terpendam pada murid – murid kelas music dan meminta bantuan Dolores karena para biarawati merasa hanya Dolores yang mampu memaksimalkan bakat dari murid – murid. Para Biarawati juga terus mendorong Dolores untuk mengembangkan dan menggali potensi kelas music. 

Dalam film ini bisa juga dilihat bahwa ada konflik antara anak dengan orang tua, contohnya hubungan Rita dengan ibunya. Rita yang sangat suka menyanyi dan memiliki talenta dalam bernyanyi menjadi berkecil hati, tidak termotivasi, dan terbebani dikarenakan ibunya yang tidak supportive dan menentang keinginan Rita untuk bernyanyi. Ibunya beranggapan bahwa music tidak bisa menghasilkan uang dan memberi makan, sehingga Ibu Rita ingin Rita fokus terhadap pelajaran. Rita yang merasa tertekan menjadi ogah –ogahan dan pemberontak ketika disekolah, bahkan Rita bingung dengan apa yang harus dia lakukan dan merasa kehilangan jati dirinya. Permasalahan selanjutnya yaitu ketika sekolah dikarenakan tidak ada biaya yang mampu mendukung keberlanjutan sekolah, dan karena sekolah tidak pernah memenangkan suatu perlombaan atau mendapatkan piagam, para anggota yayasan merasa tidak dapat melihat masa depan sekolah dan memutuskan untuk segera menutup St. Francis School. Rencana menutup sekolah ternyata membangkitkan semangat dan ambisi anak – anak kelas music untuk memenangkan lomba dan serius berlatih agar sekolah mereka tidak ditutup. 

Analisa Film

Permasalahan yang terjadi di St Francis School yaitu masalah interpersonal dimana para anggota dari suatu organisasi berselisih dikarenakan memiliki tujuan dan nilai yan berbeda (Jones, G.R & George, J.M, 2020) Contohnya dapat dilihat dari bagaimana Tn Crisp ingin menutup St. Francis School tetapi para biarawati dan pastor ingin mempertahankan sekolah dengan mendaftarkan murid – murid kelas music untuk ikut kompetisi paduan suara. Masalah ini juga dapat ditemuakn ketika Dolores ingin Rita untuk lebih percaya diri dan mengikuti suara hatinya, tetapi Rita yang merasa tertekan oleh ibunya memilih untuk mengabaikan talenta dan kata hatinya. Sumber masalah lainnya juga dikarenakan terbatasnya jumlah sumber daya, ketika Dolores meminta uang untuk menambah fasilitas kelas seperti buku dan alat music, Pastor Francise dan Tn Crisp berkata bahwa sekolah tidak memiliki dana, bahkan tidak memiliki bola untuk para murid bermain bola. Contoh lainnya, ketika Dolores meminta izin kepada Pastor Francis untuk berpartisipasi dalam lomba paduan suara, Pastor Francis keberatan karena tidak dana untuk mendukung akomodasi para murid, tetapi akhirnya memberi izin karena Dolores berkomitmen untuk mencari dana sendiri. 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masalah yang terjadi di dalam film ini bukan hanya tentang interpersonal dan kelangkaan sumber daya, tetapi juga tentang konflik dengan orang tua, kemiskinan, tidak adanya motivasi, dan juga tidak adanya kendali dalam suatu permasalahan. Untuk menemukan solusi dari permasalahan ini, Dolores melakukan pendekatan kompromi kepada anak – anak kelas music. Strategi kompromi sendiri dapat diartikan sebagai suatu cara penyelesaian masalah dimana suatu individu tidak hanya peduli pada pencapaian tujuannya sendiri, tetapi juga pencapaian tujuan dari individu lain sehingga setuju untuk terlibat dalam aktivitas give-and-take dan membuat konsesi (Joner, G.R & George, J.M, 2020). Dolores mengatakan bahwa jika para murid ingin dihargai maka para murid juga harus menghargai para guru, dan apabila tidak mau bekerjasama Dolores meminta murid – muridnya untuk meninggalkan kelas. Karena tidak ingin dikeluarkan maka para murid akhirnya setuju untuk mengikuti peraturan dan berlatih keras. 

Langkah Dolores dalam melihat dan menyusun strategi penyelesaian masalah dapat juga dianalisa melalui  melalui Behavioral Management Theory yang digagas oleh Douglas McGregor yaitu Teori X dan Teori Y dalam Buku Contemporary Management yang disusun oleh Gareth R. Jones dan Jennifer M. George. Pada saat awal Dolores bergabung pada St. Francis school dia berasumsi bahwa para murid di kelas music adalah anak – anak yang pemalas, pembangkan, dan tidak termotivasi (Teori X), tetapi setelah Dolores melakukan pendekatan dan lebih tegas kepada murid – muridnya dia menemukan bahwa sebenarnya para murid tidak malas, mereka hanya membutuhkan motivasi dan juga ketegasan, dan dibimbing untuk menunjukan dan mengembangkan bakat dan talenta mereka. Bahkan Dolores terkejut bahwa para murid sangatlah kreatif dalam mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka melalui nada, rap, dan lagu yang dibawakan oleh para murid.

Screen%20Shot%202020-12-12%20at%2012.41.40.png

Gambar 1. Teori X dan Y Oleh Douglas McGregor

Untuk menganalisa bakat dan potensi para murid, Dolores mengamati gerak gerik dari para muridnya misalnya Dolores menemukan fakta bahwa para murid suka melakukan busking dan free raping, bahkan Dolores berkata bahwa para muridnya memiliki flow. Dolores juga mendukung dan mengeksplor bakat dari para muridnya misalkan Richard Pincahm yang memiliki bakat dalam menggambar seperti gravity diberi kesempatan untuk menggambar gravity untuk ruang kelas music, Frankay yang pandai Rap dan memiliki flow yang bagus, dan juga mendorong kepercayaan diri Wesley James yang ternyata memiliki suara yang halus dan mampu mencapai nada tinggi. Dolores juga selalu tegas terhadap murid – muridnya, dan menekankan bahwa apabila para murid ingin dihormati mereka harus menghormati Dolores. Dolores juga menekankan beberapa peraturan basic seperti tidak boleh tidur dikelas, tidak boleh berdandan dikelas dan tidak boleh menggunakan kacamata hitam di kelas. Dolores juga tidak ragu untuk menggagalkan para murid apabila tidak memenuhi standard pendidikan dan terus membangkang. 

Dolores juga terus memberi motivasi kepada murid – muridnya, misalkan ketika Rita yang sedang bingung akan tujuan hidupnya Dolores mengatakan bahwa Rita perlu mengikuti kata hatinya dan tim paduan suara membutuhkan suara indah Rita, Dolores bahkan mengahampiri rumah Rita dan bertemu Ibu Rita ketika Rita mengatakan bahwa dia tidak bisa ikut lomba paduan suara. Dolores juga terus mendorong para murid untuk tidak malu menunjukan bakat dan potensi mereka dan jangan mudnru ketika ada tantangan baru, bahkan Dolores menunjukan contoh paduan suara kepada para murid untuk memahami konsep suatu paduan suara dan bagaimana teamwork bekerja pada  tim paduan suara. Ketika team paduan suara mendaftar kompetisi, Dolores, para biarawati, dan juga murid – murid kelas music berusaha keras mengumpulkan dana untuk mendukung akomodasi tim paduan suara. Usaha yang dikeluarkan oleh Dolores dapat dianalisis menggunakan prinsip dasar Senge dalam membentuk Learning Organization. Learning Organization digunakan oleh seorang manager atau pemimpin untuk memaksimalkan kemampuan dari seorang individu dan group untuk berpikir dan bertindak secara kreatif, dan juga digunakan untuk memaksimalkan potensi pembelajaran dalam sebuah organisasi (Jones, G.R & George, J.M., 2020)

Screen%20Shot%202020-12-12%20at%2016.18.27.pngGambar 2. Prinsip Dasar Senge Dalam Pembentukan Learning Organization

Dari penjelasan sebelumnya bahwa salah satu permasalahan dalam film Sister Act 2 adalah rendahnya motivasi para murid untuk berkembang. Motivasi dapat dijelaskan sebagai suatu dorongan psikologi yang menentukan arah dari perilaku seseorang dalam suatu organisasi, tingkat usaha seseorang, dan juga tingkat kegigihan seseorang (Jones G.R. & George J.M., 2020). Dari penjelasan tersebut, dapat diasumsikan bahwa sebuah motivasi dapat menentukan perilaku sesorang dalam proses pencapaian tujuan. Motivasi dapat mengarahkan perilaku seorang individu untuk menjadi baik atau buruk, dan juga menumbuhkan semangat dan harapan. Maka dari itu sangatlah penting bagi seorang pemimpin untuk memperhatikan tingkat motivasi dan perhatian pada anggotanya. Motivasi dapat didapatkan dari dua sumber yaitu intrinsically motivated behavior, dimana motivasi datang dari diri sendiri atau individu bertingkah laku demi kebaikan diri sendiri, dan extrinsically motivated behavior, yaitu perilaku yang ditujukan untuk mendapatkan material atau pengahrgaan social untuk menghindari hukuman (Jones G.R. & George J.M., 2020).

Di dalam film Sister Act 2 para murid kelas music akhirnya sadar bahwa mereka telah melakukan kesalahan setelah mengalami benturan dari Dolores yang semakin tegas dalam mengajar, ditambah ketika para murid mengetahui bahwa sekolah mereka akan ditutup. Para murid akhirnya terbuka terhadap Dolores dan juga para biarawati dan mau merubah kebiasaan buruk mereka, dengan mendengarkan, berlatih, dan bahkan berpartisipasi dalam sebuah kompetisi. Ambisi mereka akhirnya terbayar dengan kemenangan mereka pada lomba paduan suara dan akhirnya sekolah mereka tidak ditutup. Dari contoh tersebut, dapat dilihat bahwa para murid memperoleh motivasi mereka melalui intrinsically motivated behavior, dimana mereka mendapatkan motivasi dari diri sendiri dan sadar akan permasalahan yang terjadi sehingga merubah kebiasaan buruk menjadi positive, dan juga extrinsically motivated behavior karena para murid memerlukan social reward seperti mendapatkan peringkat pertama untuk lomba paduan suara, demi menyelamatkan sekolah mereka. Dari konsep motivasi dapat dilihat juga penyebab kenapa Rita merasa terbebani dan bingung akan jati dirinya, itu dikarenakan dia tidak mendapatkan dukungan dari Ibunya sendiri, dan juga bagaimana lingkungan disekitar Rita dimana dia hidup di lingkungan penduduk yang berpenghasilan rendah dan tidak mengutamakan pendidikan sehingga Rita menjadi pribadi kasar.

Terlepas dari kekurangan yang ada, budaya yang tertanam pada para murid St. Francis yaitu mereka memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi. Mereka saling percaya, mengandalkan, dan mendukung satu sama lain. Para murid kelas music memiliki kinerja team yang sangat baik, dan mereka saling menginspirasi satu sama lain. Ini dapat dilihat ketika ego Rita untuk menyanyi bertabrakan dengan larangan dari ibunya untuk bernyanyi. Melihat derita Rita, Tanya Blount sebagai teman baik Rita berkata bahwa Rita sangat berbakat dan meminta Rita untuk bernyanyi. Contoh lain juga dapat dilihat ketika Rita tidak mendapatkan izin dari ibunya untuk mengikuti lomba dan memutuskan untuk tidak mengikuti lomba, Richard Pincham berkata pada Rita bahwa kelas music membutuhkan dan menginginkan Rita untuk ikut kompetisi. Berkat dorongan dari teman – teman dan juga Dolores akhirnya Rita mengikuti kata hatinya untuk bernyanyi dan berhasil meyakinkan ibunya bahwa dia berbakat dan ingin bernyanyi. 

Menganalisa gaya kepimpinan Dolores, Dolores atau Suster Marry Clearance memiliki sifat Servant Leadership. Servant Leader sendiri dapat diartikan sebagai seorang pemimpin yang memiliki keinginan kuat untuk melayani dan bekerja demi kebaikan orang lain. Servant Leader melihat dirinya sebagai seorang motivator dan listener, dan juga seseorang yang memberdayakan pengikutnya untuk menjadi teman bekerja sama dan juga innovator dalam organisasi, maka dari itu Servant Leader dibilang memiliki gaya kepemimpinan yang unik (Jones G.R. & George J.M., 2020). Dolores memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, memiliki komitmen untuk memperbaiki keadaan, dan juga mampu menengahi dan memotivasi para murid. Gaya berkomunikasi Dolores terhadap para muridnya juga kreatif dan Dolores mau mendengarkan dan memahami potensi dan tradisi para muridnya sehingga Dolores dapat menentukan solusi untuk masalah para muridnya. Dolores juga menaruh kepercayaan terhadap para muridnya dan juga menginspirasi para murid sehingga para murid menjadi lebih percaya diri dalam menunjukan bakat terpendam mereka. Dolores melihat segala hambatan menjadi suatu perjalanan yang menantang dan menyenangkan dan tidak segan untuk bersenang – senang dengan para muridnya. Dolores juga memiliki kemampuan problem solving yang baik, flexible, dan creative. Dikarenakan keterbatasan dana Dolores menggunakan ruang music lama dan men-design ulang ruang music tersebut dibantu oleh para murid dan biarawati. Dolores juga mengadakan konser amal untuk mendapatkan dana akomodasi para muridnya untuk berpartisipasi dalam lomba paduan suara, Dolores dibantu oleh para biarawati, pastor, dan juga murid – muridnya. Dalam film ini Dolores mengajarkan bahwa walaupun dalam situasi sulit, apabila dikerjakan dengan senang hati dan tulus maka segalanya akan terasa menyenangkan. 

Credit

Trailer fil Sister Act 2

Credit

Pembahasan film Sister Act 2: Back In The Habit tidak akan lengkap tanpa penampilan iconic dari team paduan suara kelas musik

Credit

And the last iconic performance

Saran dan Solusi

Film Sister Act 2 mengajarkan lebih dari gaya kepemimpinan maupun penyelesaian masalah, tetapi juga mengajarkan tentang kerja sama team, ketulusan, pertemanan, kekeluargaan, dan juga cinta. Walaupun masalah di St. Francis School terselesaikan dengan baik oleh bantuan Dolores, akan lebih baik  apabila para biarawati dan pastor lebih cekatan dan sensitive dalam mengenali dan mengeksplor kemampuan para muridnya St. Francis pasti dapat berkembang dan juga dapat mendapatkan lebih banyak perhargaan. Para biarawati dan juga pastor sebagai seorang guru juga seharusnya tidak merasa lelah dan putus asa dalam memotivasi dan juga mendorong para muridnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dari film Sister Act 2, dapat dipelajari bahwa metode pengajaran atau komunikasi antar individu dengan individu lain berbeda. Penting bagi seorang pemimpin untuk mengenali interest dari anggotanya, menyesuaikan diri untuk mengikuti trend (flexible) dalam organisasi, dan juga mudah beradaptasi sehingga mampu mengenali dan menyelesaikan masalah dalam suatu organisasi, dan memahami satu sama lain.

Referensi

Gareth J.R., & George J.M. 2020. Contemporary Management Eleventh Edition. New York: Mc Graw-Hill.


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format