Band Of Brothers, Episode: The Last Patrol

Pembelajaran diujung akhir perang dunia kedua mengenai konflik organisasi dan strategi pengelolaanya.


1
1 point

‘From this day to the ending of the world, we shall be remembered. For he who today sheds his blood with me shall be my brother. We are lucky few. We are Band of Brothers’. Henry V

Konflik sering terjadi diawali dengan adanya masalah dalam komunikasi, tidak selalu sih namun kebanyakan dalam kehidupan keseharian kita inilah yang menjadi pemicu utama. Dalam beberapa kejadian seringkali kita mendengarkan secara sekilas bahkan mungkin salah dalam mendengar keseluruhan pesan kemudian tidak melakukan klarifikasi dan konfirmasi namun langsung mengambil sikap tertentu yang ujungnya malah memperkeruh situasi. Semisal kondisi kita saat ini yang sedang banyak proyek yang kesemuanya sedang dalam proses ‘deadline’, dan dalam kondisi pandemi covid19 yang tidak memungkinkan kita untuk melakukan koordinasi secara langsung dengan tim kita yang ada dilapangan tentunya adalah ‘sesuatu’ sekali. Kemudian tiba-tiba out of nowhere istri kita mengajak diskusi mengenai liburan akhir tahun yang seringkali menjadi oase bagi kita sekeluarga untuk beristirahat bersama dan bertemu sanak famili. Namun karena kondisi yang sedang fokus dengan proyek dan istri terdengar seperti mengatur dalam menentukan tanggal yang menurut kita tidak memungkinkan karena proyek tersebut, tanpa sadar kemudian kita ‘menyemprot’ istri dengan alasan ketidaksensitifannya dan ketidakpahamannya terhadap kondisi kerja kita saat ini. Alih-alih menyiapakan kudapan atau the hangat peneman kerja lembur dirumah eh malah berpikir libur. Hal yang biasanya exciting buat kita setiap tahunnya kemudian menjadi konflik yang tidak penting arena adanya proses komunikasi antara sender dengan receiver tidak dalam frekuensi yang sama. Memahami frekuensi dan menggunakan momen yang tepat bisa jadi menjadi kata kunci dalam menjalankan komunikasi yang efektif. Dalam proses komunikasi kita sudah pernah belajar bahwa proses transmisi pesan akan melalui tahapan-tahapan, yang dalam setiap tahapan akan ada noise atau gangguan yang berpotensi mengganggu efektifitas pesan tersebut. Dalam contoh diatas, ketidakpahaman situasi lawan bicara/receiver dan tidak adanya effort untuk melakukan klarifikasi atau konfirmasi mengenai pesan bisa merupakan noise yang perlu dihindari.

Dalam sebuah organisasi, proses komunikasi menjadi bagian kunci dalam suksesnya pencapaian obyektif organisasi. Ada beberapa poin yang harus menjadi pertimbangan untuk memastikan pesan yang akan disampaikan bisa tersampaikan dengan efektif. Pertama, yakni pembawa pesan itu sendiri. Penting sekali untuk memastikan pembawa pesan adalah orang yang paham mengenai pesan dengan baik, kemudian juga paham kemungkinan bias yang ada dalam proses komunikasi dan mampu menghindarinya. Kedua adalah siapa audiensnya. Mengetahui audiens, baik karakter, latar belakang dan informasi lebih lainnya bisa membantu pesan untuk dapat disampaikan dalam tipe dan model pilihan pesan seperti apa dan bagaimana. Ketiga adalah pilihan media. Pesan bisa disampaikan kedalam beberapa tipe media tergantung informationrichness yang imgin dicapai oleh pembawa pesan. Dan yang terakhir jika kita punya privillage adalah kapan waktu yang tepat dalam menyampaikan pesan. Seringkali penggunaan waktu yang kurang tepat bisa menyebabkan noise dalam penyampaian pesan. 

Dalam film Band Of Brothers episode “The Last Patrol” mini seri besutan HBO yang di executiveproduser-i oleh Steven Spielberg dan Tom Hank. Dalam episode ini diceritakan bahwa batalyon 101stairborne yang didalamnya termasuk easy company (kompi easy) setelah berhasil memenangkan perang di Bulge, Bastogne yang menjadikan mereka dijuluki sebagai ‘The Bastard of Bastogne’ kemudian harus kembali bergerak menuju Haguenau, sebuah kota indah di perbatasan Perancis. Dimana mereka berada di zona perbatasan perang antara Sekutu dan Nazi yang dipisahkan hanya oleh sungai. Sebuah batas akhir perang dunia kedua. Batalyon 101st diminta oleh resimen untuk mendapatkan tiga (3) tawanan perang dari pasukan Nazi diseberang sungai untuk di’wawancarai’. Konflik mulai muncul setelah perintah Kolonel Sink untuk ‘patroli’ disampaikan Mayor Winter kepada komandan kompi easy, Kapten Speirs. Diceritakan dalam background, saat ini kompi easy ada dalam kondisi mental tempur yang rendah, mereka merasa selalu berada di barisan paling depan batalyon 101stairborne, padahal mereka adalah kompi Easy diantara kompi A sampai I. kemudian hal ini juga diperuncing dengan banyaknya replacement, prajurit pengganti yang belum berpengalaman tempur sama sekali atau bahkan mereka belum pernah melewatkan kebersamaan dalam beberapa operasi tempur sebelumnya seperti para veteran yang ada di kompi. 

Dalam kondisi mental yang rendah setelah berperang hampir 2 tahun jauh dari daratan Amerika, dan selalu menjadi pilihan utama untuk mengeksekusi starategi tempur batalyon diberbagai medan pertempuran selama pendaratan Normandy, kompi Easy melihat bahwa pilihan untuk melibatkan kompi mereka dan ditunjuknya Sersan Kepala (Serka) Malarkey merupakan pilihan yang kurang adil bagi mereka. Disatu sisi kepercayaan Mayor Winter kepada kompi Easy untuk melaksanakan tugas tanpa kesalahan adalan bentuk penghargaan batalyon kepada kompi terbaik mereka. Konflik internal ini muncul dengan kemudian dibumbui oleh datangnya seorang perwira muda baru lulusan Akabri ‘WestPoint’, akademi militer bergengsi Amerika yakni Letnan Jones yang ingin mendapatkan pengalaman perang diujung perang dunia kedua yang akan segera berakhir, sebelum kemudian melanjukan karir militernya. Melihat situasi kompi yang turun mentalnya dan perwira muda yang mencoba mendapatkan kesempatan tempur pertamanya setelah keluar akademi, Letnan Jones mengajukan diri untuk memimpin pasukan patroli perbatasan tersebut. hal ini langsung ditolak oleh anggota pasukan kompi Easy, karena mereka melihat bahwa Letnan Jones masih sangat tidak berpengalaman dalam medan tempur sesungguhnya walaupun lulusan dari WestPoint. Dan ini juga diamini oleh Kapten Speirs yang sedikit skeptis dari awal kedatangan Letnan Jones yang langsung mengajukan diri untuk memimpin operasi tempur ini. Scarceof resource, status inconsistency dan incompatible goals and time horizon adalah beberapa penyebab konflik yang muncul diatas. Jumlah sumberdaya mungkin banyak, namun yang sesuai dengan kriteria untuk memastikan misi berhasil tanpa ada kesalahan diperlukan veteran yang berpengalaman. Disatu sisi veteran yang ada semua dalam kondisi mental yang exhausted. Disisi lain adanya perwira muda yang ingin mengaplikasikan pembelajaran akademi yang didapatnya, mengalami penolakan oleh anggotanya walaupun perwira tersebut dari kepangkatan jauh lebih tinggi dari mereka. Hal lain yang menjadi sumber konflik adalah kesesuaian tugas dan waktunya, dimana timingnya yang diujung perang dunia yang akan berakhir dan mental pasukan yang rendah. 

Setelah melihat kondisi pasukannya dan memberikan kesempatan kepada seluruh pasukan untuk berkontribusi akhirnya Mayor Winter setuju untuk menggunakan tiga kompi dari Charlie, Easy dan Dog untuk menjalankan operasi patroli tempur ini. Mayor Winter tidak hanya mengganti Sersan Kepala Malarkey yang tidak termotivasi dengan Sersan Kepala Martin, namun juga kemudian memasukan Letnan Jones dalam dalam operasi tempur ini supaya bisa mendapatkan pengalaman tempurnya, namun bukan sebagai perwira yang memimpin operasi melainkan sebagai observer dibawah komando Serka Martin. Dengan mengakomodasi semua masukan, Mayor Winter juga berkompromi untuk dengan menggunakan resource dari kompi yang lain dan mencoba melakukan kolaborasi antara kompi yang ada di batalyon 101stairbone dan juga kolaborasi antara pasukan veteran dengan replacement serta Letnan muda Jones.  Hal ini menarik jika kita kaitkan dengan konsep pengambilan keputusan dimana tidak hanya diperlukan informasi mengenai situasi yang dimiliki organisasinya baik kondisi pasukan, kesiapan pasukan serta mental pasukan untuk menjalankan operasi tempur ini. Namun juga kemampuan untuk memahami situasi dan kondisi medan operasi yang akan dihadapi berdasar informasi intelijen yang didapat dari Kapten Nixon. Semua informasi itu kemudian dilakukan analisa untuk melihat alternatif-alternatif yang bisa dipilih serta mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin muncul dalam operasi tempur. Akhirnya kemudian diambil alternatif terbaik untuk dijadikan keputusan. Dalam hal ini adalah keputusan yang dapat kita anggap sebagai bagian dari integrativebargaining dimana semua orang yang ada berkolaborasi untuk menyelesaikan patrol dan mendapatkan tawanan. 

Dalam film diceritakan bahwa operasi tempur ini akhirnya berhasil dengan membawa 2 sandera untuk diwawancara dan hanya mengakibatkan 1 korban karena kecerobohan seorang pemula. Namun overall operasi bisa dikategorikan wellexecuted. Dan karena kesuksesan operasi ini resimen ingin meminta lagi dilakukannya patroli untuk kedua kalinya di malam terpisah. Hal ini tentunya bukan menjadi kendala bagi batalyon 101st, namun karena tujuan dari patroli yang diminta hanyalah untuk ‘showoff’ atau unjuk kekuatan kepada musuh mengenai kekuatan pasukan sekutu. Mayor Winter kemudian memutuskan untuk melakukan strategi guna mengendalikan situasi (controllinguncertainty), dimana dia mendatangi team yang kemarin sukses dalam operasi pertama, untuk bersiap-siap kembali. Namun mereka diminta bersiap-siap untuk istirahat karena patroli hanya akan dilakukan dalam laporan saja. Keputusan ini tidak hanya membuat pasukannya gembira namun menunjukan kepemimpinan Winter dalam memahami situasi dan mengambil keputusan untuk menghindarkan ketidakpastian dan mentalexhausted yang ada dalam pasukannya.

Dalam dunia riil, dalam lingkungan organisasi kita akan mudah menemukan situasi konflik baik yang sederhana antar individu dalam organisasi, antar departmen bahkan yang sedikit komplek yakni konflik antar organisasi. Dan konflik bukanlah sesuatu yang bisa dihindarkan karena nyaris akan ditemui dalam dinamika hubungan antar individu maupun hubungan industri. Dengan adanya tujuan dalam sebuah organisasi, yang kemudian diturunkan ke departemen-departemen kemudian diturunkan ke masing-masing individu dalam departemen. Yang mana kemudian terjadi interaksi antar individu dengan tujuan yang berbeda-beda, kalaupun ada tujuan yang sama bisa jadi kemudian memiliki prioritas yang berbeda. Inilah yang kemudian memungkinkan munculnya sumber-sumber konflik selain tentunya komunikasi yang tidak dalam frekuensi yang sama dalam hubungan antar kedua belah pihak. Dalam buku literatur yang menjadi acuan kita, strategi mengelola konflik hanya membahas mengenai bagaimana kompromi dikedepankan, apakah pihak-pihak yang berkonflik bisa diakomodasi usulannya atau bahkan bisa dilakukan kerjasama antara pihak-pihak yang berkonflik. Sayangnya kita tidak hidup dalam ‘perfectworld’, tidak semudah itu ferguso

Sebelum kita masuk ke pengelolaan konflik atau mungkin solusi untuk konflik mungkin ada baiknya kita perlu memahami apa yang menjadi alasan dari konflik tersebut? Apakah hanya karena different goals and time horizon? Apakah overlapping authority dan scare of resource? Atau different evaluationor rewardsystem dan status inconsistencies? Kelihatannya terlalu rumit jika harus dikaitkan dalam konteks tersebut. Dalam sebuah artikel yang diambil dari Harvard Business Review, Annie Mckee dalam artikel “why we fight at work” melihat ada beberapa sumber konflik yang perlu dicermati; pertama adalah personal insecurity. Kedua adalah the desire for power and control dan ketiga adalah habitual victimhood. Secara singkat dia sampaikan bahwa setiap orang pasti memiliki rasa tidak aman (insecure) terhadap sesuatu, dan ketika rasa tidak aman tersebut terpantik, seseorang bisa melakukan sesuatu yang negatif semisal menyembunyikan masalahnya, berdebat dengan tidak sehat bahkan memulai perkelahian (baca: konflik). Juga sangat dipahami jika sebagian besar dari kita, sangat ingin memiliki kendali terhadap hidup dan tindakan-tindakan kita, bahkan kita ingin memberi pengaruh lebih luas dengan membantu orang lain dalam mencapai tujuannya. Namun seringkali ini ‘terpeleset’ menjadi keinginan untuk mengendalikan orang lain ketimbang keinginan bekerja bersama orang lain, yang lagi lagi akan memicu konflik. Dan seringkali dalam konflik, kita selalu merasa diri kita adalah bagian yang menjadi korban dari konflik itu. Apakah demikian adanya? 

Yang diperlukan adalah self-awareness, dimana kita paham bahwa konflik di organisasi adalah riil, namun kemudian perlu juga dilakukan pendalaman dari posisi kedua belah pihak untuk mengetahui apa yang menyebabkan mereka merasa tidak aman untuk membahas dan berdiskusi, apa yang dirasakan oleh pihak-pihak dalam kondisi konflik saat ini. Dan tentunya kita perlu belajar banyak untuk lebih mengedepankan rasa empati dan pengertian terhadap orang lain. mungkin sedikit aneh, tapi it works

Dalam buku berjudul “The Five Dysfunction of Team” karangan PatrickLencioni, disampaikan bahwa ada 5 fundamental tahapan dalam sebuah organisasi atau perusahaan untuk bisa menghasilkan hasil yang sesuai dengan tujuannya. Yang mana jika kelima tahapan itu diabaikan maka fungsi fungsi organisasi akan tidak bisa membantu mendukung tercapainya tujuan dengan optimal. Kelima tahapan tersebut adalah absence of Trust, fear of Conflict, lack of Commitment, avoidance of Accountability dan inattention to Result. Jika saya menggunakan pendekatan Lencioni ini pada kasus yang dihadapi Mayor Winter, saya bisa sampaikan beberapa ide saya sebagai berikut:

  • Absence of Trust. Saya sangat yakin tim yang ada sekarang khususnya kompi Easy adalah kompi yang sangat bisa diandalkan dan mereka juga sangat paham gaya kepemimpinan saya sehingga tidak ada hal yang diantara kita tidak kita ketahui sama sekali. Sehingga bisa dikatakan level of trust yang kita miliki sangat tinggi dan dari sini kita bisa mengharapkan tim untuk tidak khawatir mengungkapkan apa-apa yang mereka rasakan.
  • Fear of conflict. Organisasi yang dikelola dengan trust harapanya akan memiliki sedikit bahkan tidak ada kekhawatiran sama sekali terhadap terjadinya konflik, karena satu sama lain sangat paham dan malah akan terjadi debat yang sehat dari setiap ide atau rencana rencana-rencana baru yang dimunculkan. Semua orang merasa nyaman dan dihargai dalam mengungkapkan pendapat mereka.

  • Lack of commitment. Dan jika perasaaan takut akan konflik sudah dilewati, maka komitmen yang dibangun dalam sebuah diskusi atau meeting menjadi sebuah komitmen Bersama. Bukan lagi komitmen pimpinan ataupun komitmen direksi. Dan tidak ada lagi pendapat berbeda diluar ruang meeting. Jika masih ada perbedaan semuanya harus diselesaikan di dalam ruangan meeting. Keluar ruangan meeting semua jawabannya adalah sama.
  • Avoidance of accountability. Dengan komitmen yang baik dari setiap anggota tim, bisa dipastikan masing masing anggota akan memiliki pemahaman lebih baik mengenai peran dan tanggungjawabnya. Tidak hanya memiliki akuntabilitas namun juga ownership terhadap perannya masing-masing. Dan jika dalam hal ini level trust cukup tinggi maka jika ada anggota lain yang mungkin berperilaku tidak sesuai, maka bisa dengan mudah akan diingatkan dan diterima dengan baik masukan tersebut tanpa terjadi konflik.
  • Inattention of result. Jika setiap anggota organisasi kemudian sadar akan peran dan tanggungjawabnya, dan memiliki ownership maka jika ada pekerjaan yang tidak berjalan dengan baik maka setiap orang bisa paham menerima kondisinya jika harus ada konsekuensi. Kesuksesan organisasi menjadi tujuan utama dari setiap bagian dan anggota organisasi.

Demikian ulasan yang bisa kita sampaikan dalam membantu pembelajaran pada mata kuliah business and management. Tentunya tulisan ini hanya ulasan sepihak dari perspektif kami yang masih belajar. Akan sangat membantu jika masukan dan koreksi bisa diberikan sebagai bagian dari pembelajaran. Terima kasih.

Bagus Setiagung Budi Santoso

EMBA B 41C

https://hbr.org/2014/06/why-we-fight-at-work

https://www.theinternationalbusinesscoach.com/post/how-many-dysfunctions-does-your-team-have

https://www.youtube.com/watch?v=1wlYPlwjGOY

Band Of Brothers


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Bagus

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format