Sokola Rimba: Makna Pendidikan Dalam Mengatasi Permasalahan


1
1 point

Sebuah kisah perjalan hidup seorang Butet Manurung selama bekerja di sebuah lembaga, kawasan Taman Nasional Bukit 12. Seluas wilayah 65.000 ha di Jambi, Sumatera bagian Selatan. Bekerja selama dua tahun dan bertemu dengan orang rimba dimana memiliki karakterstik dalam menjalankan hidup, membuat Butet berfikir bahwa apakah arti orang rimba bagi mereka yang terlahir didalamnya. 

Suatu hari, dalam perjalanan menuju hutan dengan berjalan kaki, tiba tiba Butet jatuh tak sadarkan diri. Ketika terbangun, dia telah berada di kawasan orang rimba Hulu dan salah satu anak rimba memberitahu, bahwa dia hampir mati di tepi sungai. Seorang anak rimba Hilir memberitahu orang rimba Hulu dan segera menolong Butet. Sapaan “Ibu Guru” melekat pada diri Butet karena dia mengajar mereka untuk membaca, menulis dan berhitung.

Selama berkegiatan di kawasan orang rimba Hulu, Butet merasa tidak nyaman akan sesuatu yang mengawasinya. Dia merasa ada sosok anak laki- laki rimba yang mengikutinya namun Butet tidak tahu alasan dibalik semua itu. Akhirnya anak rimba yang diduga mengamati Butet dari kejauhan berani memperkenalkan diri. Dengan menggenggam erat sebuah surat dibalik badan, Nyungsang Bungo memperkenalkan diri dihadapan Butet dan anak rimba Hulu. Berasal dari Makekal Hilir, Belaman Badai. Dialah yang menyelamatkan Ibu Guru.

Rasa ingin tahu yang besar terhadap tingkah Bungo yang diduga seorang anak rimba dari rombongan orang rimba yang masih tertutup, dia memberanikan diri untuk mendiskusikan peluang untuk mengajar di kawasan Hilir kepada Bahar selaku atasannya. Namun hal tersebut tidak mendapatkan sambutan positif, dikarenakan efisiensi anggaran. Di sisi lain, Bahar menginformasikan bahwa apresiasi dari Jakarta terhadap aksi nyata Butet dalam mengabdi untuk mengajar kepada anak rimba sangat besar dan telah dipublikasi di media cetak.

Setelah mencurahkan isi hati kepada Andit, teman dekat di tempat kerja dengan kondisi yang dialaminya beberapa waktu lalu, Butet memutuskan untuk pergi ke sungai Makekal Hilir untuk menemukan jawaban atas praduga yang dimilikinya. Kemudian disuatu hari Butet melakukan negosiasi dan kesepakatan kepada pihak tempat ia bekerja dan pergi menuju Hilir. Sebelum keberangkatan, Butet bertemu Beindah dan Nengkabau di pasar dan mereka menawarkan diri untuk membantu Ibu Guru. 

Selama menjelajah hutan, kedua anak rimba menceritakan perkembangan keahlian mereka. Suasana keakraban sangat terasa hingga akhirnya dalam perjalanan mereka bertemu sekelompok penebang liar yang sedang melakukan penebangan pohon di hutan. Nengkabau berhasil mengambil foto aktivitas penebangan hutan liar dan salah satu kelompok tersebut sadar bahwa ada yang mengamati mereka. Akhirnya Butet dan anak rimba pergi dan berhasil melarikan diri. Berapa lama kemudian, Butet melihat sebuah tenda dan sosok yang dikenal yaitu, Doktor Astrid Hilde, warga negara Swedia yang sedang merawat salah satu timnya yang terkena malaria.

Gambar 1: Butet Bercengkrama dengan Doktor Astrid

Hari itu menjadi pertemuan pertama setelah Doktor Astrid tidak lagi melakukan penelitan bersama tim Butet. Mereka bertukar informasi dan perkembangan yang terjadi. Esok hari Doktor Astrid mengemukakan bahwa kurang sependapat terhadap pihak-pihak yang menilai orang rimba adalah orang kubu yang bodoh dan primitif. Di sisi lain, dia merasa orang rimba lebih memiliki rasa perhatian terhadap lingkungan dibanding kaum urban. Dengan adanya kehadiran orang rimba, diharapkan tercipta keseimbangan kota. Mereka bermalam bersama, menikmati kebersamaan dengan orang rimba Hulu sebelum akhirnya berpisah pada esok hari. Di pagi hari, Butet dan anak rimba kembali melanjutkan perjalanan ke Hilir.

Tiba di tujuan, terlihat lingkungan sekitar rusak akibat penebangan pohon dengan kapasitas yang besar. Dalam melakukan pertemuan dengan Tumenggung Belaman Badai, Butet melakukan pendekatan adat orang rimba. Kepekaan menjadi unsur utama dalam berhadapan langsung dengan orang rimba untuk pertama kali. Ketika bertemu dengan Tumenggung, Butet memberikan sebuah bingkisan, memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan berkunjung, dimana dia ingin mengajar di Makekal Hilir, sehingga anak rimba memiliki ragam aktivitas selain bermain. Alhasil respon yang didapat menjadi kabar baik bagi Butet, walaupun harus rela bermalam dan pergi lebih dari 5 hari tanpa izin pihak tempat kerja. Kondisi ini sejalan dengan teori manajamen sebagai instrumen pengelolaan permasalahan, yaitu negotiation. Sebuah teknik utama yang penting dalam menyelesaikan masalah ketika kedua pihak memiliki kekuatan yang sama. 

Keesokannya, Beindah dan Kabau bercengkrama dengan anak rimba Hilir. Pico, Nutul, Bedundang, dan Bungo bersedia untuk belajar dan mempersilahkan Butet dan anak rimba memasuki rumahnya. Ketika Bungo mempersiapkan kebutuhan untuk belajar, sang Ibu merasa tidak sependapat karena belajar menjadi penyebab tidak bisa membantu orangtua dan menjadi sumber penyakit. Semakin banyak anak yang belajar, kemungkinan mereka pergi jauh dan tidak kembali sangat besar

Suasana belajar sangat menyenangkan, anak-anak rimba antusias untuk membaca dan menulis. Ketika sedang asik belajar, Bungo melihat sekelompok pihak luar yang bertemu dengan Tumenggung, Butet sadar akan hal itu dan mereka mencari tahu apa yang sedang terjadi. Bungo memberikan sebuah surat kepada Butet, dan dia tahu bahwa orang tersebut adalah orang penebang pohon yang ditemui sebelumnya. Setelah itu, Butet berkesempatan mendengarkan sejarah kaum Hilir dimana wilayah hutan mereka yang semakin mengecil dan beberapa kali telah berpindah. Adanya larangan untuk berburu dan membuka ladang lebar-lebar, membuat mereka semakin dilema. Di malam hari, Bungo menceritakan keahlian membaca dan menulis yang semakin membaik kepada Butet. Berharap bisa mempelajari hal yang lebih sulit, Butet semakin bersemangat membantu Bungo. 

Gambar 2: Ibu Guru Sedang Mengajar Anak Rimba Makekal Hilir

Di hari selanjutnya, Butet mendapat kabar tidak menyenangkan dari Tumenggung. Sebagian orang rimba Hilir tidak menyambut baik kehadiran Butet. Hal ini dikarenakan bersekolah bertentangan dengan adat dan khawatir dapat mengubah aturan adat. sehingga Butet disarankan pulang. Kesedihan semakin mendalam ketika perbincangan tersebut tidak dihadiri Bungo. Saat Bungo kembali ke rumah, dia kaget karena Butet sudah meninggalkan Hilir dan segera melaporkan kepada orang rimba Hilir, dia ingin belajar agar tidak dibodohi oleh pihak luar.

Ketika Butet kembali ke Bangko, dia jatuh sakit. Namun keesokanya dia berusaha menjelaskan kondisi terkini orang rimba kepada tim kerjanya dimana orang rimba memerlukan pendidikan untuk menghindari penipuan dari pihak luar. Ketika Butet berhadapan langsung dengan Bahar, mereka memiliki sudut pandang yang berbeda. Dimana Bahar berfokus pada penjagaan luas kawasan Taman Nasional dan Butet berfokus pada pendidikan Bungo dan orang-orang rimba. Tidak adanya titik temu dalam permasalahan tersebut, Butet memutuskan untuk mengunjungi salah satu penduduk yang tinggal tepat dipinggiran hutan antara Hulu dan Hilir. Ketika sampai, dia bercengkrama dengan Ibu Pariyan selaku pemiliki rumah. Menceritakan banyak hal tentang orang rimba dan rekan kerja, ternyata Ibu Pariyan masih sering bertemu dengan orang rimba dalam, mereka menitipkan damar kepadanya untuk dijual kembali. Berdasarkan kondisi tersebut, Butet memutuskan untuk meminjam rumah guna mengajar orang-orang rimba dan disetujui oleh Ibu Pariyan.

Gambar 3: Butet Berkeluh Kesah dengan Ibu Pariyan

Ibu Guru aktif menginformasikan kepada orang rimba yang ditemui. Ketika Butet pergi ke pasar, Beindah dan Kabau sudah berada di dekatnya dan dia menjelaskan bahwa sudah ada lokasi baru untuk belajar bersama. Setelah itu, tepatnya di pagi buta, terlihat orang rimba Hilir datang menitipkan damar dan Nutul turut hadir dalam kelompok tersebut dan menghampiri Butet sambil tersenyum. 

Hari terus berlalu, dan tiba waktunya ketika Bungo mengunjungi lokasi belajar Butet dan bergabung kembali. Tidak hanya belajar namun Bungo menceritakan kisah yang dipercayai oleh orang Rimba. Semakin hari Bungo ahli dalam membaca dan ketika mencoba membaca surat perjanjian yang selalu ia genggam, Butet tidak sanggup mendengar isi surat tersebut dan memberikan buku bacaan lain untuk di baca Bungo. Sistem pembelajaran juga berlangsung di pasar dalam penerapan matematika pada transaksi jual beli dimana Bungo dan orang rimba lainnya semakin pandai dalam hal tersebut. 

Gambar 4: Ibu Guru Mengajarkan Matematika di Pasar dengan Bungo dan Anak Rimba Lainnya

Selain itu Butet dan rekan kerjanya mulai kembali ke hutan bersama orang rimba untuk mengajar kembali. Terlihat Bungo berusaha menjaga sikap dan kepribadian rimbanya namun berusaha mengerti hak-hak yang didapatkannya. Bungo semakin yakin dan mulai membantu mengajarkan baca tulis kepada teman rimba lainnya. Namun kebahagian tersebut tak berlangsung lama, kelompok rimba hilir berkunjung ke lokasi Ibu Pariyan untuk menjemput Bungo yang lama tak kunjung pulang dan memberikan kabar duka atas meninggalnya Tumenggung. Dengan adanya utusan langsung dari bapak kandung Bungo, mereka menganggap memang benar ada kutukan ilmu yang secara tidak langsung menyinggung aktivitas Butet. 

Gambar 5: Orang Rimba Makekal Hilir Menjemput Paksa Bungo untuk Pulang

Tampak kesedihan di wajah Bungo dan dia merenung sejenak dan berpamitan kepada Butet untuk kembali ke Hilir. Peristiwa ini menjadi titik balik Bungo bergabung kembali dengan kelompoknya dan mengikuti tradisi melangun dimana sebuah perjalanan untuk pindah ke suatu tempat lain hingga suasana duka menghilang. Hal serupa dirasakan oleh Butet dan kembali ke Bangko. Perasaan yang masih berkecamuk dan diundang rapat oleh Bahar untuk membantu tim media mendokumentasi kegiatan mengajar dengan orang rimba, menjadikan Ibu Guru melepaskan isi hati yang benar –benar tidak bisa dipendam lagi. Dengan adanya perbedaan visi diantara kedua pihak, Butet memutuskan untuk mengundurkan diri di tempat dia bekerja. 

Sebelum berpamitan pulang, Butet memberikan cendera mata untuk orang rimba yang dititipkan melalui Andit. Kondisi mengharukan terjadi disaat anak rimba tidak sempat bertemu dengan Butet dan mereka tahu kalo Ibu Guru sudah berada dalam bus untuk pergi jauh. Mereka mengejar bus sekuat tenaga dan tidak rela berpisah dengan Ibu Guru. Kesedihan yang dalam terlihat dari wajah Butet dan anak rimba. Ketika sampai di rumah, Butet menceritakan kondisi yang dialaminya kepada sang ibu dan berusaha mencari tahu bagaimana agar bisa kembali bertemu mereka. 

Dinamika perjalanan hidup seorang Butet Manurung memberi inspirasi dan mengingatkan adanya permasalahan yang dapat dipelajari lebih mendalam. Dalam teori manajemen terdapat tipe –tipe permasalahan yang sering dihadapi. Antara lain adalah Interpersonal Conflict yang merupakan permasalahan antara anggota individu di sebuah organisasi yang terjadi akibat perbedaan tujuan dan nilai yang mereka miliki. Sedangkan Intergroup Conflict yang merupakan ketidaksamaan dalam pengambilan keputusan dan pendapat yang terjadi antar grup atau tim. Gambar 6 : Tipe – Tipe Konflik yang Terjadi di Film Sokola Rimba

Dengan kecintaan yang tinggi terhadap potensi orang-orang rimba, penulis merujuk pada teori strategi manajemen konflik, salah satunya adalah collaboration. Kondisi untuk mengelola permasalahan dan masing-masing pihak berusaha mencapai tujuan bersama dengan pendekatan yang tepat tanpa adanya konsesi pada masalah penting bagi salah satu pihak. Strategi lainnya adalah accommodation, dimana pihak yang memiliki sumber daya terbatas mengajukan permintaan untuk dipenuhi kepada pihak yang memiliki sumber daya lebih.Gambar 7:Conflict Management Strategies di Film Sokola Rimba

Sebuah akhir cerita dimana jiwa pantang menyerah seorang Butet Manurung akhirnya membuahkan hasil. Menyiapkan laporan dokumentasi ketika berada di kawasan orang-orang rimba hingga berkesempatan menjadi narasumber disalahsatu universitas untuk memperkenalkan lebih dalam tentang kehidupan orang-oang rimba. Pada cerita tersebut, terdapat penerapan teori manajemen dalam politik organisasi yaitu political strategies, sebuah taktik kusus yang digunakan manajer untuk meningkatkan kekuasaan mereka dan menggunakannya secara efektif dalam memberikan pengaruh dan memperoleh dukungan berbagai pihak untuk mengatasi perlawanan. Tindakan yang dilakukan Butet yaitu, bekerjasama dengan sebuah institusi dengan menjelaskan maksud dan tujuan Butet hingga mencapai kesepakatan bersama antar kedua pihak. Hal yang sangat mengharukan ketika Butet berpendapat untuk memberikan ilmu pendidikan semata mata tidak hanya untuk membaca, menulis, berhitung namun memperkenalkan advokasi terhadap pelayanan dan hak mereka sehinga bisa mengikuti perkembangan zaman dan menghadapi tekanan hidup.

Gambar 8: Suasana Ketika Butet Menyampaikan Aspirasi Tentang Anak Rimba

Beberapa bulan kemudian, Butet disambut hangat oleh rekan-rekan kerja semasa di Bangko. Mereka mendukung atas keputusan Butet dan turut berkontribusi dalam pembangunan Sokola Rimba. Ketika mengunjungi Hilir, terlihat perkumpulan antara pihak luar dengan pihak orang rimba. Butet bahagia bisa melihat Bungo kembali dan kali ini dia bisa menjadi juru bicara untuk kelompoknya, membaca perjanjian dan mengevaluasi terhadap perjanjian yang tidak sesuai dengan kesepakatan pihak kaum rimba. Kebahagian dan rasa bangga terhadap perkembangan Bungo terpancar dari wajah Butet.

Gambar 9: Bungo Berhasil Menjadi Juru Bicara Dalam Negosiasi Kesepakatan 

Pada akhirnya cita cita Butet mendirikan sebuah sekolah untuk anak rimba terwujud. Sokola dalam bahasa rimba menjadi nama panggilan sekolah di kawasan Makekal. Peristiwa tersebut sangat berhubungan dengan informal group theory, yaitu friendship group, dimana pihak yang turut berkontribusi juga merupakan rekan kerja yang tetap menjalin pertemanan di luar jam kerja dan saling membantu ketika ada salah satu pihak memiliki kesulitan.

Gambar 10: Butet Berfoto Bersama Anak Rimba dan Timnya di Sokola Rimba

Dengan demikian, dalam menjaga kualitas pembelajaran yang optimal, Butet Manurung diharapkan memiliki jiwa kepemimpinan yang sesuai. Sebuah kunci kesuksesan untuk mengahasilan suatu kepemimpinan yang efektif sehingga dapat memberikan pengaruh positif yang lebih besar. Terdapat Traits and Behavior Models of Leadership pada teori manajemen yang bisa menjadi acuan dalam menghasilkan jiwa kepemimpinan yang baik.

Gambar 11: Sifat yang Berhubungan Dengan Kepemimpinan yang Efektif

Referensi :

  1. Film Sokola Rimba, 2013
  2. Gareth R.J, George, J.M. 2020. Contemporary Management. States: McGraw-Hill Education
  3. Kineforum

Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Tiara McQueen

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format