Keputusan Bisnis yang Tepat Untuk Sebuah “Legacy” – Last Dance

konflik yang terjadi antara manajamen, pelatih dan pemain dengan analisa keuangan dan non-keuangan yang akhirnya keputusan bisnis yang tepat untuk "legacy"


1
1 point

Keputusan Bisnis yang Tepat Untuk Sebuah “Legacy”

-Last Dance-

Latar Belakang dan Sinopsis

Latar belakang dari penulis dalam membahas serial Last Dance adalah sebuah lanjutan dari tulisan yang telah dibuat sebelumnya oleh kelompok penulis. Penulis akan lebih membahas pada tulisan kali ini untuk serial 8, 9 dan 10 dimana ketiga seri tersebut adalah seri terkahir dan inti dari sebuah keputusan yang diambil untuk sebuah “legacy” yang selalu diakui hingga sekarang atau mungkin juga sampai kapanpun. Penulis akan membahas tentang bagaimana konflik yang terjadi antara manajamen dengan pelatih dan para pemain sampai dengan analisa keuangan dan non-keuangan yang pada akhirnya keputusan bisnis yang tepat diambil untuk sebuah “legacy”. 

Serial ini adalah sebuah serial dokumenter tentang perjalanan karir Michel Jordan bersama Klub NBA Chicago Bulls pada era 1990an. Film series ini sukses mencuri perhatian penggemar bola basket di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Film ini memiliki 1,6 juta penonton pada awal-awal pemutaran film dan jadi serial film tersukses ESPN. Keberhasilan The Last Dance menarik penonton televisi pun membuat film tersebut sempat menjadi topik terpopuler nomor satu di Twitter. Ketenaran film arahan sutradara Jason Hehir itu pun mulai tersebar ke seluruh dunia mulai siaran berbayar atau live streaming.

Last Dance menghadirkan momen terbaik dari Michael Jordan dengan Chicago Bulls yang sukses meraih enam gelar juara NBA berturut-turut dengan memainkan perannya sebagai “true leader” diatas lapangan yaitu dengan dapat membuat Rodman, rekan setim dari Isiah Thomas, yang dikenal sangat Bengal namun dapat dirubah menjadi pemain yang fenomenal yang sangat berperan penting dalam mengejar gelar juara, selain itu The Last Dance juga menghadirkan sisi buruk dari Michael Jordan. Beberapa di antaranya adalah perseteruan dengan The Bad Boy, Detrot Pistons, Isiah Thomas. Jordan sangat membeci Pistons sampai sekarang bahkan Tim Nasional Basket Amerika pun akhirnya mengambil keputusan untuk tidak membawa bintang Pistons, Isiah Thomas untuk masuk ke dalam tim nasional dalam Olimpiade 1992 di Barcelona. Ha ini yang membutikan betapa semua orang cinta Jordan saat itu bahkan sampai tercipta jargon “I want to be like Mike”.

Tim Bulls Saat itu

Komposisi Tim Bulls saat itu adalah suatu tim yang termasuk “veteran”. Rata-rata usia pemain adalah diatas 30 tahun. Dalam bermain basket rata-rata usia diatas 30 tahun bisa dilihat dari dua sisi yaitu berpengalaman namun secara fisik dan lamanya bermain pada kompetisi seperti NBA tentunya tidak memiliki waktu yang lama lagi. Saat itu Manajer Umum, Bulls Jerry Krause sudah membaca kondisi tersebut akan sangat berpengaruh pada kelangsungan bisnis waralaba ini. Krause berpikir keras tentang bagaimana bulls kedepan tanpa adanya Jordan dan Pelatih Phil Jackson. Kruase sadar bahwa Jordan dan Jackson adalah pemain dan pelatih terbaik pada waktu tahun 90an. Krause hanya berpikir saat itu sulit sekali mencari pengganti Jordan dan Jackson atau jika harus pun mempertahankan mereka ada dua pertimbangan yang terlintas dalam pikiran Krause yaitu masalah umur dari Jordan dan tentunya mahalnya biaya untuk mempertahankan mereka. Perlu diketahui saat itu tidak ada aturan batasan maksimal gaji untuk pemain seperti saat ini. Suatu hal yang mustahil jika harus menggaji Jordan dengan angka yang sudah didapatnya, diatas 33 Juta Dollar, dengan alasan ketimpangan yang sangat jauh dengan pemain lainnya dan tidak ada jaminan prestasi yang akan dimenangkan lagi mengingat umur Jordan yang sudah 35 tahun saat itu.

Dari sisi jangka waktu kontrak bahwa pada tahun 1998 pada saat Bulls menjadi juara yang keenam kalinya secara beruntun para pemain sudah mencapai akhir dari kontrak dan akan menjadi pemain yang dapat pindah tanpa syarat apapun. Untuk mempertahankan para pemain tersebut (Jordan, Pippen dan Rodman) tentunya membutuhkan uang kas yang sangat banyak. Pertimbangan lain untuk tetap mempertahankan para pemain atau tidak adalah karena musim kompetisi tahun 1999 dimulai bulan Januari yang artinya jumlah game yang dimainkan akan lebih sedikit yang tentunya akan mengurangi pendapatan namun dilain sisi gaji pemain tetap dibayar penuh setahun.

Data menunjukan pada tahun 1999 uang yang dikeluarkan Bulls untuk mempertahankan pemain yang kontraknya masih ada adalah sebagai berikut:

  • Ron Harper, $5,280,000
  • Toni Kukoc, $4,610,000
  • Randy Brown, $1,320,000
  • Bill Wennington, $1,000,000
  • Keith Booth, $687,240
  • Rusty LaRue, $350,000
  • Dickey Simpkins, Kontrak 5 tahun $475,000
  • Corey Benjamin, $540,000

Total angka tersebut diatas adalah $14,3 juta sangat realistis untuk memulai musim baru jika dibandingkan tetap mempertahankan seorang Jordan yang bergaji $11 juta dengan usia dan gelar ke 7 yang belum tentu dimenangkan

NBA melalui CBA mengeluarkan aturan tentang batas maksimal gaji per pemain. Pemain dengan masa bermain 10 tahun atau lebih mempunyai batas maksimal gaji 35%dari batas atau $14 juta mana yang lebih tinggi. Angka tersebut sungguh menggelikan untuk Jordan. Jordan telah menegosiasikan kesepakatan masa lalunya tanpa gaji maksimum, dan memanfaatkannya dengan menandatangani dua kontrak terbesar dalam sejarah olahraga profesional saat disesuaikan dengan inflasi. Jordan menghasilkan $30 juta untuk musim 1996-97 dan $ 33,14 juta pada 1997-98. Kedua angka itu lebih besar dari batasnya sendiri, yang hanya $ 26,9 juta pada saat Jordan pensiun. Angka-angka yang didapat Jordan belom termasuk angka pemain lainnya yang kontraknya selesai berbarengan dengan Jordan yaitu Pippen, Longley, Kerr dan Rodman. Berikut ditampilkan data gaji para pemain Bulls jika tim ini dilanjutkan ke tahun 1999

Player

1998-99 Salary

Michael Jordan

$34,797,000

Scottie Pippen

$14,000,000

Ron Harper

$5,280,000

Toni Kukoc

$4,610,000

Luc Longley

$4,000,000

Steve Kerr

$1,774,000

Randy Brown

$1,320,000

Dennis Rodman

$1,000,000

Scott Burrell

$1,000,000

Bill Wennington

$1,000,000

Jud Buechler

$850,000

Keith Booth

$687,240

Corey Benjamin

$540,000

Dickey Simpkins

$475,000

Rusty LaRue

$350,000

Total:

$71,683,240

Dari angka tersebut terlihat selisih yang signifikan yaitu sekitar $65 juta($71-$14 juta). Angka tersebut belum termasuk resiko non-keuangan jika tim ini akan dilanjutkan yaitu berupa cedera yang disebabkan oleh umur yang semakin menua.

Selain itu dikutip dari www.cbssports.com bahwa Bulls era Jordan adalah tim basket termahal sepanjang masa NBA berlangsung. Hal ini selaras dengan prestasi yang didapat Bulls sampai dengan 1998.

Team

Salary

Cap

Percentage of cap

Hypothetical 1998-99 Bulls

$79,345,840

$30,000,000

264.5 percent

2000-01 Trail Blazers

$87,395,140

$35,500,000

246.2 percent

2002-03 Trail Blazers

$105,595,657

$40,271,000

262.2 percent

Dengan kondisi diatas pertanyaan selanjutnya adalah apakah tim ini layak dilanjutkan? Krause sebagai serang manajer melihat bahwa tim ini harus dibubarkan. Krause berbicara dari hati ke hati kepada Pelatih Jackson untuk segera membubarkan tim ini pada tahun 1997. Hal ini berlasan karena jika kita melihat episode 10 tercermin bahwa bagaimana Pippen menahan sakitnya pada game ke 6 dan bagaimana Jordan terlihat letih sekali tanpa Pippen. Beruntungnya Pippen dapat kembali bermain pada babak kedua untuk memenangkan gelar NBA karena jika Pippen tidak bisa melanjutkan permainan maka Bulls kemungkinan besar akan kalah pada game ke7. 

Usulan Krause ditolalak Jackson dengan meminta tambahan waktu satu tahun lagi untuk menjalankan misi terakhirnya mendapatkan gelar 3 kali secara berturut-turut sebanyak dua kali. Hal ini ditolak oleh Krause namun kemudian diambil jalan tengah dengan mengurangi gaji Pippen agar keuangan Bulls menjadi lebih baik. Awalnya Pippen menolak hal tersebut dengan alasan tanpa dia Jordan tidak bisa seperti itu dilapangan. Namun pada akhirnya Pippen menerima hal tersebut dikarenakan cedera punggung yang dialaminya memaksa tidak bermain setengah musim. Kemudian usulan Jackson kepada manajemen untuk menjalankan misinya disetujui dan diberi nama “last dance”

Mungkin sulit bagi Jordan atau penggemarnya untuk mendengarnya, Bulls mungkin tidak akan memenangkan kejuaraan ketujuh pada tahun 1999. Mereka terlalu tua, rentan cedera dan terlalu lelah. Meskipun Krause adalah aktor yang paling disalahkan karena membubarkan Bulls saat era Jordan namun faktanya keputusan Krause ini adalah tepat karena didukung oleh Jackson yang menolak permintaan pemilik Bulls untuk melanjutkan satu tahun lagi walaupun para pemain masih ingin melanjutkan kebersamaannya. Jackson Melihat dari sisi non-keuangan dan Krause melaihay dari sisi keuangan sehingga bisa dikatakan bahwa keputusan yang diambil Krause adalah tepat.

Konflik Pada Bulls

Situasi tim Bulls saat itu jelas suatu konflik organisasi yang tidak bisa dihindari. Ada beberapa tipe konflik organisasi yang berkembang yaitu interpersonal, intragroup, intergroup dan interorganizational konflik. Bulls sebagai suatu organisasi yang mempunyai pengaruh besar saat itu memiliki semua tipe konflik yang ada. 

Konflik interpersonal terjadi disaat Bulls membeli Denis Rodman. Rekrutmen ini adalah usulan dari Jordan karena Jordan Sadar sekali butuh kemampuan seorang Rodman untuk melakukan “rebound”. Rodman adalah pemain dengan statistik “rebound” yang terbagus diantara semua pemain NBA saat itu. Rebound sangat dibutuhkan tim untuk memenangkan pertandingan terutama pada saat tim menyerang. Namun seluruh pemain seperti menyatakan tidak setuju dengan rekrutmen karena Rodman memiliki pengaruh buruk kepada tim sebelumnya. Permainan Tim sebelumnya menjadi hancur ketika Rodman berulah. Namun Jordan meyakinkan Bulls bahwa dia bisa membuat Rodman tidak berulah dan terbukti demikian. 

Bulls sebagai tim Bola Basket adalah terdiri dari beberapa depertmen. Departmen yang ada adalah Pemain, Pelatih, Manajemen dan Pendukung. Masalah terjadi antara department manajemen, Pelatih dan Pemain. Manajemen ingin Bulls tetap tumbuh sebagai waralaba dengan biaya serendah-rendahnya dan untuk lab setingi-tingginya yang dilain sisi pelatih ingin meninggalkan “legacy” tanpa memikirkan biaya. Didalam konflik intergroup tersebut juga terselip konflik intragroup yaitu kesenjangan gaji antara Jordan dan pemain lainnya. Banyak pemain hebat yang mendampingi Jordan pada tahun 90 awal akhirnya memilih untuk pindah klub karena masalah ketimpangan gaji.

Konflik Interorganisasi juga ada pada saat itu. NBA sebagai waralaba berkewajiban memajukan bisnis ini dengan sebaik-baiknya. NBA harus memastikan bahwa kondisi adil terimplementasi dengan baik. Saat itu batasan gaji maksimal yang dikeluarkan oleh klub NBA belum diatur. Hal ini menyebabkan jika salah satu klub NBA didukung oleh penyandang dana akan membahayakan kompetisi karena akan berkaibat pada ketimpangan kualitas dari tim yang mengikuti kompetisi. Tim yang tidak didukung dana yang kuat tentunya akan semakin lemah karena banyak pemain bagus akan tertuju pada hanya satu tim yang memili dana banyak. 

Sumber Konflik

Sumber konflik Bulls era 90an adalah disebabkan karena biaya dan gelar yang ingin dicapai dengan keterbatasan usia pemain yang sudah tua. 

Sumber konflik yang pertama adalah “incompatible Goals and time horizons”. Jackson sebagai pelatih ingin menjalankan misinya agar Bulls dikenang sebagai tim NBA setara dengan Lakers dan Celtic yang menorehkan banyak rekor di NBA tanpa memikirkan biaya dan Krause sangat teliti dengan setiap dollar yang dikeluarkan oleh Bulls. 

Sumber konflik yang kedua adalah “task interdepencies”. Disini Denis Rodman adalah menjadi aktor utama sumber. Rodman, pemain yang semaunya datang latihan bahkan saat final tahun 1998 juga mangkir dalam latihan, adalah pemain kesayangan Jordan. Jordan banyak dibantu oleh Rodman untuk memenangi duel bola atas pada saat menyerang dan bertahan. Rodman mempunyai kemampuan lompatan vertical yang termasuk tertinggi diantara para pemain NBA saat itu. Jackson, Krause dan para pemain banyak dibuat kesal oleh Rodman namun Jordan memainkan perannya sebagia seorang pemimpin dilapangan yang baik untuk bisa membuat Rodman kembali ke lapangan dan bermain dengan baik.

Sumber konflik yang lain adalah tentang Status Inconsistencies. Disini Jordan lah yang menjadi sumber masalah. Jordan dinilai terlalu dominan dalam tim. Jordan sering membantah perintah pelatih Jackson dan para pemain lainnya padahal jika dilihat dari permainannya secara statistik sudah tidak menunjukan angka yang meningkat dan terbukti jika tanpa kehadiran Pippen, Jordan bukanlah seperti Jordan yang dikenang hingga saat ini.

Negosiasi

Kedewasaan ada karena pengalaman. Bulls sebagai tim yang mempunyai pengalaman banyak mampu melewati konflik-konflik yang ada dengan baik. Krause, Jackson dan Para pemain melakukan kerjasama yang baik yang pada akhirnya dapat menjuarai NBA. Bulls melakukan negosiasi dengan cara Integrative Bargaining. Negoisasi tersebut adalah dilakukan dengan cara bahu-membahu menyelesaikan konflik yang ada untuk mencapai tujuan masing-masing. Pemain dan pelatih puas dengan prestasi serta Manajemen puas dengan keuntungan bisnis yang didapat.

Strategi Konflik Managemen

Ada beberapa startegi untuk mengatasi konflik yang terjadi. Keseluruhan strategi yang ada sifatnya bekerjasama antar departemen yang ada. Dari situasi diatas terlihat jelas Bulls adalah tim yang mempunyai daya juang maksimal untuk memenangkan gelar keenamnya. Keseluruhan strategi dijalankan oleh Bulls yaitu Kompromi, kolaborasi, akomodasi, menghindar dari konflik dan kompetisi. Terlihat jelas bagaiman Krause akhirnya menurunkan ego nya untuk proyek “last dance” dan peran pelatih dan pemain yang saling bekerjasama dengan focus pada tujuan yaitu untuk satu tujuan yang sama. Membuat “legacy”.

Strategi Politik

Krause sebagai seorang manajer umum memainkan peran politik yang strategis untuk mencapai tujuan. Krause sadar dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki harus mengambil keputusan dimana keputusannya lah yang nantinya akan diimplementasikan pada Bulls. Langkah awal yang dilakukan Krause cukup tepat yaitu dengan melakukan pendekatan kepada Pelatih Jackson. Krause paham sekali dengan sifat Jordan yang hanya takluk oleh Jackson. Krause mengawali dengan bicara dari hati ke hati bahwa tim Bulls saat ini adalah memang yang terbaik namun semua ada masa manfaatnya. Disini Krause berbicara tentang konsep “controlling uncertainty”. Krause tidak yakin jika Tim Jordan saat itu dilanjutkan akan meraih gelar juara kembali karena alesan usia dan cedera. Lobi yang dilakukan Krause kepada Jackson adalah suatu cara membangun aliansi (building alliancies). Krause sadar jika langsung berhadapan dengan para pemain maka penolakan pasti akan terjadi.

Cara Krause yang berbicara langsung mengukukuhkan dirinya sebagai manajer yang mempunyai peran sentral (being in a central position) dan mampu meyakinkan pemilik Bulls sebagai orang yang tak tergantikan (making oneself irreplaceable) untuk menjalankan Bulls menuju era baru. Krause mampu mengoptimalkan apa yang Bulls punya (generating resources) dengan memberikan gaji yang besar untuk tujuan “legacy” dengan kesepakatan bahwa Bulls Era ini harus berakhir karena sudah dalam kondisi puncak kejayaan.

Analisis SWOT oleh Krause

Bentuk strategi yang nyata dilakukan oleh Krause adalah dengan melakukan analisa SWOT terhadap Bulls. Krause membagi lagi SWOT kedalam tiga bagian yaitu pada level Bulls sebagai korporasi usaha waralaba, Bulls yang harus menjadi juara NBA dan Bulls sebagai tim yang selalu kompak untuk tujuan membuat “legacy”. 

Krause paham sekali bagaiman menjalankan bisnis waralaba klub NBA. Pandangan Krause jauh kedepan mempersiapkan Bulls setelah era Jordan. Dengan sistem NBA dimana klub NBA yang kuat akan mendapat pasokan pemain muda dengan kualitas yang terendah dari liga dibawah NBA. Krause membuat usulan program baru kepada Pemilik Bulls yaitu membuat Bulls yang baru dengan skuad pemain didominasi oleh pemain muda. Pemain muda ini tentunya dapat menghemat pengeluaran Bulls karena tim baru yang dibentuk pasti akan minim prestasi pada awal. Hasil keuntungan setelah menjadi juara akan dibuat Bulls untuk membangun fasilitas kesehatan khusus olahraga dan sarana lainnya yang menunjang Bulls untuk berprestasi kembali beberapa tahun kemudian.

Krause sadar sekali Bulls mempunyai pemain terbaik sepanjang masa NBA. Krause sadar memiliki keuntungan kompetitif dibanding tim NBA lain. Jordan diberikan kontrak setinggi langit dan Krause menyetujui keinginan Jordan untuk manambah satu pemain lagi untuk mewujudkan “legacy”. Krause menyetujui keinginan Jordan untuk alasan menghilangkan berbagai ancaman yang datang dari pesaing Bulls untuk mencapai juara.

Kelihaian Krause juga terbukti pada tataran fungsional pada setiap departemen yang ada. Krause mampu merajut antar department, pemain, pelatih dan pemiliki Bulls. Terlihat Krause mempunyia strategi yang sangat tepat dengan terlebih dahulu membuat kesepakatan dengan Pelatih Jackson untuk berbicara tentang rencana baru kemudian Krause berbicara kepada pemilik Bulls. Kesepakatan menambah satu tahun kontrak kepada tim Jordan pada saat itu membuahkan hasil yang sangat maksimal yang terbukti sampai saat ini tidak ada yang mampu menyamai rekor juara NBA sebanyak 6 kali secara berturut-turut. Krause paham bahwa untuk meyakinkan pemain adalah dengan menggunakan tangan Jackson untuk membujuk Jordan. Jika Jordan sudah berkata iya seluruh pemain akan mengikutinya.

Model kepemimpinan oleh Krause (Transacsional leadership)

Menjadi manajer pada tim sekelas Bulls dimana didalamnya terdapat mega bintang adalah suatu hal yang sulit. Krause mengambil strategi yang tepat dengan menjadi manajer yang bersifat transaksional. Krause sadar bahwa yang dicari pemain Bulls adalah bukan hanya uang semata. Pemain sudah cukup secara materi karena banyak pendapatan lain diluar gaji yang bersumber dari iklan. Pemain ingin suatu “legacy” karena mereka juga sadar bahwa umur mereka tidak muda lagi.

Untuk mengatasi hal tersebut Krause membuat suatu kesepakatan dengan Pelatih dan para pemain. Cara membuat kesepakatan yang dilakukan Krause juga cukup menarik yang memenuhi unsur-unsur dalam teori kepemimpinan transaksional yaitu kepimpinan dalam tim yang jelas, Pemain saling memotivasi, patuh kepada arahan dari Kapten Jordan dan permainan terbaik datang dari latihan secara terus menerus. Untuk dapat memenuhi kriteria tersebut Krause mengggunakan tangan Jackson untuk mengendalian seluruh bagian dari Tim.

Saran dari Penulis

Tidak dapat dipungkiri lagi pada saat itu Bulls ada tim Basket yang paling sempurna tidak hanya di Amerika bahkan di dunia. Dari kondisi diatas penulis memberikan beberapa saran yang belum dilakukan oleh Krause agar Bulls tidak langsung jatuh secara prestasi dan keuangan antara lain:

1. Krause sadar betul bahwa Bulls memiliki kelebihan kompetitif dari tim lainnya dengan adanya Jordan didalam tim. Krause terlalu percaya diri dengan hanya mengajak bicara Jackson dan tidak mengajak bicara Jordan dari hati ke hati. Saat tersebut yaitu terdapat perubahan teori manajemen dari Management science teori menuju kepada Organizational environment teori. Keputusan yang diambil Krause sebagian besar didasarkan pada perhitungan manajemen untuk supaya Bulls tetap laba.  Seharusnya Krause menggunakan teori Dynamic Capabilities dan Open system view. Teori tersebut adalah menerjemahkan keinginan dari berbagai pihak baik dari internal Bulls maupun dari eksternal Bulls. Pada eposide ke 10 terlihat jelas bahwa sebetulnya Jordan masih ingin menorehkan prestasi dan Jordan yakin jika dirinya lanjut maka rekan tim lainnya juga pasti akan lanjut. Jika semua pemain lanjut, Jordan sangat yakin Jackson akan lanjut juga melatih Bulls.

2. Dalam melanjutkan tim Bulls era Jordan setelah juara tahun 1998 memang membutuhkan biaya yang besar. Sayangnya Krause terlalu panik untuk membubarkan tim dengan adanya aturan maksimal gaji pemain yang baru terbit tahun 1998. Seharusnya Krause melakukan pembicaran dengan Jordan untuk melakukan negoisasi gaji Jordan yang tinggi dengan mengusulkan penurunan gaji. Krause bisa melakukan negosiasi ini karena sebetulnya Jordan dan tim hanya perduli pada prestasi bukan uang. Uang bisa didapat dari bintang iklan suatu produk setiap pemain saat itu.

3. Sebagai seorang manajer tim Basket, Krause terlalu sempit cara pandangnya. Krause hanya menggunakan satu acuan dalam pengambilan keputusan yaitu bagaiamana caranya tidak rugi setelah tim ini dibubarkan. Harusnya Krause mempunyai pola pikir global karena memang Bulls mempunyai pengaruh ke dunia bukan hanya ke Amerika saja. Keputusan ekonomi skala global harus menjadi perhatian karena jika tim ini dibubarkan dampak kepada ekonomi jelas terasa karena sudah tidak ada Jordan di NBA.

4. Jordan sebagai tokoh sentris pada Bulls jika dibiarkan saja maka akan merusak suasana tim (sumber konflik). Prinsipnya Jordan tetaplah pemain yang naik turun prestasinya. Untuk menghindari hal tersebut Bulls dapat merekrut pemain bintang dengan melakukan tukar pemain agar beban tidak terpusat pada Jordan.

Daftar Pustaka

Contemporary management 11th Ed, Jones dan George

www.nba.com

www.netflix.com

www.forbes.com

https://www.mainbasket.com/r/7956/jerry-krause-si-joker-dalam-kisah-batman-jordan-dan-robin-pippen#:~:text=Jerry%20Krause%20memegang%20jabatan%20manajer,membentuk%20tim%20Bulls%20yang%20legendaris.

https://www.indosport.com/basket/20200518/michael-jordan-percaya-chicago-bulls-bisa-menang-7-gelar-nba

https://www.indosport.com/basket/20200422/mengenang-pidato-michael-jordan-yang-menyindir-jerry-krause

https://www.cbssports.com/nba/news/why-keeping-michael-jordans-bulls-together-for-run-at-seventh-title-would-have-been-a-very-costly-mistake/

Last Dance, Episode 9 and 10

Dua episode terakhir menggambarkan kondisi keputusan bisnis yang tepat untuk sebuah "legacy"


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
arkoen82

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format