Scarf Hermès, Pandangan Islam tentang Sehelai Kain Jutaan Rupiah

Apakah haram hukumnya jika membeli sehelai kain seharga jutaan rupiah?


1
1 point

Rumah mode premium asal Perancis, Hermès, menjual scarf dengan harga paling murah Rp 2,1 Juta untuk ukuran paling kecil hingga belasan juta untuk ukuran besar. Di lain sisi, sebagai pembanding harga pasar, toko daring ‘tokopedia’ menyediakan berbagai jenis scarf yang dapat diperoleh hanya dengan harga dibawah Rp 100 Ribu. Perbedaan harga yang signifikan ini dapat dibilang disebabkan oleh ‘merek’ yang merupakan nilai tak berwujud atau intangible value yang melekat pada produk-produk dengan merek mewah seperti Hermès. 

Selain karena diproduksi terbatas, harga jual yang tinggi untuk sebuah produk scarf Hermès juga disebabkan oleh desainnya yang memiliki corak dan motif yang khas. Menurut salah satu kolektor scarf Hermès, dibutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mendesain setiap scarf. Dalam kasus ini, Hermès dapat dikatakan melakukan maksimisasi keuntungan, yaitu upaya yang dilakukan perusahaan untuk mencapai keuntungan paling besar dengan menetapkan harga dan tingkat kuantitas tertentu.

Pertanyaanya adalah apakah profit maximization ini wajar dan diperbolehkan?

Dalam jurnal ‘Islamic Perspectives on Profit Maximization’ yang ditulis oleh Ali, profit terbukti memberikan dampak positif terhadap kemajuan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Islam sendiri memperkenankan maksimisasi keuntungan, namun tidak membenarkan keuntungan yang mengarah pada eksploitasi dan kerusakan di pasar.

Lalu, apakah yang dilakukan Hermès ini adalah sebuah eksploitasi ? Apa yang menjadi ukuran bahwa suatu hal disebut eksploitasi ? Dan apa yang menjadi dasar batas maksimisasi keuntungan diperbolehkan atau tidak ? Akan dibahas lebih jauh dalam artikel ini.

Apa itu Hermès?

Untuk menjawab rumusan masalah yang telah dijabarkan sebelumnya, kita dapat meneliti lebih dalam mengenai merek dari Hermès itu sendiri. Hermès Paris merupakan salah satu brand mewah dan tertua yang ada di dunia. Hermès Paris didirikan pada tahun 1837 yang pada awalnya merupakan luxury goods company yang memproduksi barang dari bahan kulit, parfum, aksesoris, perhiasan dan pakaian. Selama perkembangannya sendiri Hermès Paris banyak digemari oleh konsumennya di seluruh dunia. Hal tersebut karena Hermès diasosiasikan sebagai merek yang berkaitan erat dengan unsur mewah, ekslusif, dan otentik sehingga digemari oleh masyarakat ekonomi atas.

Sumber: Brandirectory

Berdasarkan penilaian dan riset brandirectory, Hermès menempati posisi ke-10 dalam Top 50 most valuable apparel brands secara umum dan menempati posisi ke-5 pada kategori luxury goods. Penilaian Merek (brand valuation) sendiri diproyeksikan dengan meng konsiderasi berbagai aspek, salah satunya loyalitas merek dan konsumen. Setiadi (2003) mendefinisikan loyalitas merek (brand loyalty) merupakan sebuah sikap menggemari suatu merek yang direpresentasikan dalam pembelian yang konsisten terhadap merek tersebut sepanjang waktu.

Sumber: Statista

Berdasarkan data brand valuation Hermès yang dipublikasikan oleh Statista dapat dilihat selama 10 tahun brand valuation Hermès mengalami peningkatan yang signifikan bermula dari 4 Miliar dolar AS pada tahun 2010 hingga 17 Miliar dolar AS pada tahun 2019. Maka dapat disimpulkan pembelian barang Hermès apabila dilihat dari unsur brand maka nilainya tidak pernah menurun. Hal tersebut membuat konsumen membeli produk Hermès dengan berbagai tujuan bukan hanya dari fungsinya saja. Mulai dari mengoleksi tas maupun scarf Hermès yang dirilis terbatas, investasi karena semakin lama barang tersebut akan langka dan dapat dijual dengan harga lebih tinggi dan menunjukkan status sosial. Namun, bukan berarti Hermès digemari karena mereknya saja. Jauh dari itu produk-produk keluaran Hermès memiliki unsur artistik, pengerjaan yang sulit dan bahan dengan kualitas terbaik.

 Profit Maximization menurut Islam

Dalam hukum agama Islam, berlaku kaidah ushul fiqh sebagai berikut :

أَصْلُ فِي المُعَامَلَةِ الإِبَاحَةُ الاَّ أَنْ يَدُ لَّ  دَلِيْلٌ عَلىَ تَحْرِيْمِهَا

"Hukum asal dalam semua muamalah (termasuk jual beli) adalah mubah (boleh) kecuali ada dalil yang mengharamkannnya”

Jika ditinjau lebih jauh, tidak ada dalil spesifik yang melarang pemberlakuan profit dengan besaran tertentu. Bahkan dalil yang ada menjelaskan bahwa dibolehkannya mengambil keuntungan 100% sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari yang artinya:

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debu pun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari).

Alquran dan hadits telah melarang beberapa perbuatan dalam proses muamalah yaitu maisir atau perjudian yaitu ketika sebuah transaksi bersifat menguntungkan satu pihak namun dilain sisi ada pihak lain yang dirugikan atas keuntungan tersebut atau  sebaliknya. Gharar yaitu transaksi yang belum jelas barangnya atau barang tersebut tidak berada dalam kuasanya. Haram yaitu saat objek yang diperjualbelikan adalah benda haram sehingga menyebabkan transaksinya tidak sah. Riba yang terjadi penambahan pendapatan secara tidak sah seperti pembayaran utang melebihi harta yang dipinjam, dan Bathil yaitu adanya kedzoliman dimana adanya sikap tidak rela dan keterpaksaan dari salah satu pihak yang terlibat dalam muamalah.

Dalam kasus penjualan scarf Hermès dengan harga yang fantastis, tidak ada pelanggaran dari lima larangan dalam bermuamalah tersebut. Tidak ada perjudian di dalamnya karena dalam proses transaksi tidak ada zero sum game dimana keuntungan didapatkan dari kerugian salah satu pihak karena kedua pihak secara sadar dan tanpa keterpaksaan melakukan aktivitas muamalah. Barang yang diperjual belikan pun jelas, bahkan disertai deskripsi mengenai barang tersebut tanpa menipu pihak pembeli. Barang yang diperjual belikan adalah barang halal baik dari barangnya itu sendiri, bahan, hingga proses pembuatan. Tidak ada riba dalam transaksi yang dilakukan, dan adanya aspek keadilan didalamnya dimana penjual puas dengan mendapatkan sejumlah uang dari proses transaksi, dan pembeli pun puas karena value yang didapatkan sebanding dengan apa yang dikeluarkan.

Bagaimanakah profit maximization dari scarf Hermès dalam pandangan Islam?

Sebelum membahas mengenai profit maximization, perlu diketahui mengenai scarf itu sendiri. Scarf atau biasa disebut syal merupakan sehelai kain yang dipakai di kepala, leher, dan pundak dan digunakan sebagai pelengkap dalam berpakaian. Scarf harganya cukup murah, yakni berkisar kurang dari Rp100.000,00 ataupun lebih. Namun, brand Hermès memproduksi scarf dengan harga yang cukup fantastis, yakni Rp2.100.000,00 untuk ukuran yang paling kecil dan paling murah. Masih banyak scarf Hermès yang harganya dipatok menjadi lebih mahal.

Apabila dibandingkan, scarf dengan corak motif yang hampir serupa memiliki harga yang lebih murah.

Dua jenis scarf di atas memiliki harga yang berbeda jauh. Padahal, materialnya hampir serupa, yakni silky satin atau jenis kain satin sutra yang mengkilap. Dari kedua perbandingan di atas, dapat diketahui bahwa Hermès telah memaksimalkan keuntungan sebesar-besarnya sebab harga produksinya tidak semahal harga jualnya. Bagaimana menyikapi hal tersebut dalam islam?

Menurut Ali (2013) dalam jurnal yang berjudul Islamic Perspective on Profit Maximization, kegiatan mencari keuntungan dalam transaksi ekonomi harus memperhatikan sistem etika dalam berbisnis. Artinya, Islam tidak membenarkan pengambilan keuntungan yang mengarah kepada eksploitasi dan kerusakan pasar.

Berdasarkan Pendapat A yang dikemukakan oleh Ali et al, scarf Hermès tidak termasuk profit maximization yang melanggar kaidah islam. Sebab, scarf Hermès mematok harga yang mahal tanpa adanya kewajiban yang mengikat bagi pembeli untuk membeli barang tersebut. Konsumen bisa memilih untuk membeli scarf yang lebih murah daripada Hermès. Scarf Hermès tidak memiliki kekuasaan untuk mengeksploitasi pasar.

 

Dua scarf twilly dengan model yang serupa dengan harga yang berbeda

Selain itu, scarf Hermès berharga mahal karena sebagai proses penciptaan nilai. Scarf Hermès terbuat dari bahan sutra murni dengan kualitas terbaik. Scarf ini identik dihiasi motif kereta kuda dengan paduan warna yang cantik dan terkesan mewah. Hal tersebut dikarenakan dalam proses pembuatannya dilakukan oleh artisan Hermès dengan sistem tradisional menggunakan sistem layering dari beberapa lembar kain sutera sehingga menciptakan kombinasi warna dan motif yang diinginkan. Tatkala dibutuhkan hingga 30 layer kain sutera berbagai warna dan waktu yang lama untuk membuat satu Scarf Hermès. Maka, dapat disimpulkan ekslusifitas, harga yang tinggi dan kesan mewah tidak lepas dari kualitas dan segala upaya yang telah dikerahkan untuk membuat tersebut sehingga digemari oleh banyak orang. Beberapa diantaranya bahkan melihat Scarf Hermès bukan sebagai kain untuk menutupi badan dari sinar matahari, melainkan karya seni bernilai tinggi.

Silk Marbling Scarf Hermès

Namun,dari sisi Pendapat B, Scarf Hermès diperbolehkan untuk dijual dengan harganya yang mahal dengan ketentuan pada harga pasarannya karena harga pasar telah dianggap sebagai standar harga yang berlaku di masyarakat untuk barang tertentu.Di dalam pendapat ini diperbolehkan untuk mengambil keuntungan dua kali lipat dimana disebutkan dalam hadits urwah selama memenuhi syarat,selama barang itu bukan barang pokok melainkan barang yang dikategorikan inferior dan barang mewah.Walaupun demikian,keuntungan ini diperoleh tidak berlebihan dan mengarah pada penipuan serta penimbunan yang menyebabkan barang tersebut menjadi barang langka dengan harga yang tinggi.

Di dalam profit maximization akan mengacu pada laju perekonomian yaitu faktor supply dan demand, maka perniagaan Scarf Hermès ini dapat dilakukan dengan persetujuan antara penjual dan pembeli.Pembeli sering didapati terjebak pada situasi keadaan dimana harga pasar akan melambung tinggi.Sehingga,penjual sebaiknya dapat membuat keputusan penjualan yang tidak mengarah pada tujuan memanfaatkan kesempatan dari situasi dimana barang sangat dibutuhkan oleh pembeli.

Banyaknya penipuan dari pemalsuan barang seringkali menimpa produk Scarf Hermès,para penjual yang ingin mengambil keuntungan tinggi mencari alternatif untuk meniru produk mewah dengan kemiripan yang sangat mendekati barang tiruannya,hal ini telah dianggap sebagai praktik kecurangan dan pelanggaran.Oleh karena itu,pembeli harus dengan bijak untuk membuat keputusan dalam pembelian barang mewah agar tidak tertipu oleh oknum yang mengatasnamakan produk tiruannya sebagai barang mewah.

Kesimpulan yang dapat diambil

Hermès merupakan salah satu brand barang mewah yang memproduksi barang yang berbahan kulit, wewangian, aksesoris pelengkap, serta perhiasan dan pakaian. Brand ini memasang harga terendah 2,1 juta rupiah untuk satu buah produknya. Proses desain salah satu produk yaitu scarf mencapai dua tahun, pembuatan yang rumit dikarenakan setiap produknya eksklusif dan menggunakan sutra premium sebagai bahannya.

Dalam hal ini, Hermès diperbolehkan untuk menggunakan profit maximization. Seperti yang sudah dinyatakan di atas, dasar muamalah adalah boleh selama tidak ada yang mengharamkan. Dikutip dari video Buya Yahya, memaksimalkan keuntungan boleh selama harga pasar setara di suatu lingkungan. Penjualan barang juga harus terbebas dari perjudian, Gharar (transaksi yang belum jelas barangnya), haram, dan riba. Jika salah satu barang memenuhi unsur ini maka penjualan barang menjadi tidak sah.

Hermès menjual barang yang jelas, sehingga tidak ada unsur manipulasi. Proses penciptaan produk scarf Hermès dari desain, pembuatan produk dengan sutra murni terbaik, dan teknik pembuatan produk yakni layering hingga 30 lapisan, menciptakan kesan mewah dan eksklusif di setiap produknya. Karena tidak diharamkan, maka profit maximization oleh Hermès diperbolehkan atau tidaklah haram.


Penulis: Dinda Mayangsari, Dea Cindy Wijayanti, Christian Dwi Budiman, M Hasan Fajri, Mahestya Tasya R A, Rahmat Hidayat.

Referensi:

Al Bahjah TV, 2018. Mengambil Keuntungan Dagang Lebih dari 100%, Bolehkah? -Buya Yahya Menjawab. Available at: [Accessed 14 February 2021].

Brandirectory.com. 2021. Apparel 50 2020 | The Annual Brand Value Ranking | Brandirectory. [online] Available at:

Invaluable, 2018. How to Buy, Wear, and Keep Hermès Scarves. [image] Available at: [Accessed 14 February 2021].

Munib, A. (2018). HUKUM ISLAM DAN MUAMALAH (Asas-asas hukum Islam dalam bidang muamalah). Al-Ulum : Jurnal Penelitian Dan Pemikiran Ke Islaman, 5(1), 72–80. https://doi.org/10.31102/alulum.5.1.2018.72-80

Setiadi, Nugroho J. (2003). Perilaku Konsumen. Jakarta, Kencana.

Statista. 2021. Hermès: brand value worldwide 2010-2020 | Statista. [online] Available at:  

https://m.fimela.com/fashion-style/read/3752008/wow-1-scarf-hermes-paling-kecil-dibanderol-seharga-rp-2-jutaan


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
0
Win
Mahestyaa

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format