Tas Plastik Harga Selangit! Bagaimanakah Islam Memandang Hal Ini?

Bagaimana jika tas plastik yang biasa dijual dengan harga terjangkau ini dijual dengan harga fantastis? Apakah termasuk profit maximization dalam islam?


0

 Tas plastik merupakan salah satu barang yang umum ditemui setiap hari. Selain mudah ditemui, tas plastik juga memiliki harga yang murah sehingga dapat dijangkau berbagai kalangan. Bukan hal baru lagi apabila saat berbelanja konsumen akan mendapatkan tas plastik sebagai wadah pembawa barang. Siapa sangka, dengan berkembangnya tren mode, tas dengan bahan plastik bening menjadi salah satu item fashion yang banyak diperjualbelikan. Namun, bagaimana jika tas plastik yang biasa dijual dengan harga terjangkau ini dijual dengan harga fantastis? 

Hal inilah yang dilakukan oleh merek fashion ternama, Celine. Pada tahun 2018, Celine merilis tas berbahan plastik yang dihargai US$ 590 atau 7,6 juta rupiah. Layaknya tas belanja dan tas plastik yang bisa ditemui sehari-hari, tas plastik Celine berbahan material bening. Perbedaannya yang ada hanya pada logo merek Celine di salah satu sisinya. Ini bukanlah kali pertama rumah mode terkenal merilis barang-barang sederhana berharga sangat mahal. Beberapa merek seperti Lanvin dan Balenciaga juga merilis tas belanja mirip tas kresek dengan harga mencapai puluhan juta rupiah. Harga ini tentu dapat dikatakan fantastis, mengingat tas dengan bahan serupa biasa ditemui dengan harga kurang dari Rp20.000 untuk satu kemasan.

Lalu bagaimanakah Islam memandang fenomena ini? Tas plastik yang biasanya diberikan secara gratis saat berbelanja dijual dengan harga yang tidak biasa. Apa lagi tidak ada perbedaan jauh dari segi bentuk dan bahan produk yang ditawarkan. Apakah hal ini termasuk profit maximization yang tidak diperbolehkan dalam jual beli?

Ada dua jenis pendapat mengenai profit maximization dalam agama Islam yang dapat dijadikan dasar untuk menanggapi fenomena tas plastik Celine ini. Pendapat pertama adalah Islam melarang maksimalisasi keuntungan dan pendapat lainnya menyebutkan Islam memperbolehkan praktik maksimalisasi keuntungan dengan prinsip-prinsip tertentu. 

Dilarang

Salah satu pondasi etika Islam Ihsan yang menyiratkan kemurahan hati (belas kasihan, keadilan). Kegiatan bisnis harus bertujuan meringankan beban dan menghindari kegiatan yang merugikan.

Diperbolehkan 

  • Asas suka sama suka (Q.S. An-Nisa’ ayat 29)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ

تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

  • Hadits dari Urwah al-Bariqi

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan uang sebesar 1 dinar kepadaku untuk dibelikan seekor kambing. Kemudian uang itu saya belikan 2 ekor kambing. Tidak berselang lama, saya menjual salah satunya seharga 1 dinar. Kemudian saya bawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor kambing dan uang 1 dinar”.

Kemudian aku pun menceritakan kejadian itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau mendoakan, “Semoga Allah memberkahimu dalam transaksi yang dilakukan tanganmu.” (HR Turmudzi)

  • Hadits dari Abdullah Zubair

“Zubair pernah membeli tanah hutan seharga 170.000, kemudian tanah itu dijual oleh putranya, Abdullah bin Zubair seharga 1.600.000” (HR Bukhari)

Menilik pada kedua pendapat di atas, lantas bagaimana dengan tas plastik harga selangit yang dijual oleh merek fashion Celine? Apakah diperbolehkan dalam Islam?

  • Tidak ada batasan dalam mengambil keuntungan

Dalam Islam tidak ada batasan tertentu dalam pengambilan keuntungan. Pedagang boleh mengambil banyak keuntungan, boleh pula sedikit. Namun tetap harus memperhatikan etika dalam berdagang, yaitu tidak menzalimi pembeli dan masyarakat. 

Dalam kitab Al Majimu, Imam Nawawi mengatakan “Barangsiapa membeli barang dagangan, maka boleh baginya menjual dengan harga modal, lebih murah dari harga modal, atau lebih banyak. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah Saw, “Jika dua barang berbeda jenis, maka jual lah sesuai kemauan kalian.”

Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin juga mengatakan, “Keuntungan, tidak ada batasan tertentu. Karena itu termasuk rizki Allah. Terkadang Allah menggelontorkan banyak rizki kepada manusia. Sehingga kadang ada orang yang mendapatkan untung 100 atau lebih, hanya dengan modal 10”. 

Pada dasarnya keuntungan merupakan bagian dari rizki yang Allah berikan kepada manusia, maka dari itu Islam tidak membatasi persentase keuntungan yang boleh diambil para pedagang, selama memenuhi syarat dan tetap sesuai syariat Islam.  

Selain itu jika mengacu pada dua hadits di atas (Hadits dari Urwah al-Bariqi dan Hadits dari Abdullah Zubair) dapat disimpulkan bahwa pedagang atau pengusaha boleh mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari barang yang ia jual. Para ulama juga menggunakan hadits dari Abdullah Zubair sebagai dalil dalam menentukan keuntungan jual beli yang dilakukan.

  • Atas dasar suka sama suka

Dalam jual beli, tidak dapat dipungkiri bahwa harga menjadi salah satu variabel yang paling dipertimbangkan. Celine, brand fashion ternama menjual tas berbahan plastik seharga US$ 590 atau 7,6 juta rupiah. Tidak ada yang spesial dari tas tersebut. Bahan yang digunakan adalah plastik PVC dengan logo brand Celine di depannya. Namun dengan harga jual yang tinggi, tas ini tetap diminati oleh kalangan pecinta fashion. Kepemilikan barang branded memang kerap kali dianggap dapat menunjukkan status sosial seseorang. Tak heran jika banyak diantara mereka yang rela merogoh kocek sedalam-dalamnya demi produk keluaran brand ternama tersebut. 

Islam memberikan kebebasan dalam penentuan harga selama tidak ada dalil yang melarangnya dan terjadi atas dasar suka sama suka (kerelaan) antara pembeli dan penjual. Dalam menjalankan akad jual beli, kedua belah pihak harus sama-sama ridha tanpa adanya unsur paksaan. Jika pembeli setuju dengan harga yang ditawarkan, maka tidak masalah. Kecuali jika ada paksaaan saat bertransaksi sehingga pembeli tidak dapat menolak penjualan tersebut, maka hal ini tidak dibenarkan. 

  • Tidak melakukan monopoli

Celine tidak melakukan monopoli seperti yang dilarang dalam syariat Islam. Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin mengatakan, “Jika ada orang yang memonopoli barang, hanya dia yang menjualnya, lalu dia mengambil keuntungan besar-besaran dari masyarakat, maka ini tidak halal baginya. Karena semacam ini sama dengan bai‟ al-Mudhthor, artinya menjual barang kepada orang yang sangat membutuhkan. Karena ketika masyarakat sangat membutuhkan benda tertentu, sementara barang itu hanya ada pada satu orang, tentu mereka akan membeli darinya meskipun harganya sangat mahal”.

Meskipun menjual tas berbahan plastik, namun perlu diingat bahwa Celine merupakan merek fashion ternama dengan target market masyarakat kalangan atas. Fungsionalitas tas berbahan plastik yang dijual Celine pun berbeda dengan sekedar tas plastik belanjaan yang didapatkan ketika berbelanja. Tas plastik milik Celine merupakan fashion item yang digunakan oleh mereka yang ingin tampil modis sedangkan tas plastik biasa pada umumnya digunakan sebagai wadah barang belanjaan. Dengan target market dan fungsionalitas yang berbeda, maka tingginya harga tas plastik milik Celine tidak akan mempengaruhi harga tas plastik lainnya. Masyarakat yang ingin menggunakan tas plastik sebagai kantong belanjaan dan mendapatkannya dengan harga murah tidak perlu membeli tas plastik milik Celine ini, masih banyak pilihan tas plastik lain yang bisa digunakan. 

Menurut jurnal El-Qanuny, dalam hadits dari Urwah al-Bariqi disimpulkan bahwa boleh saja mengambil banyak keuntungan dalam perdagangan selama memenuhi syarat, salah satunya adalah barang tersebut bukan merupakan kebutuhan pokok. Tas plastik bukan merupakan kebutuhan pokok yang apabila harganya naik akan mempengaruhi harga kebutuhan lain. Maka dalam hal ini keuntungan dari penjualan tas plastik milik Celine dibolehkan selama tidak menyebabkan kerusakan harga di pasar. Namun tetap perlu diingat bahwa indikasi dari proses monopoli adalah penentuan harga yang tidak demokratis. Hal ini perlu menjadi catatan bagi Celine karena proses penentuan harga akibat taktik pemasaran yang berlebihan juga berpotensi pada kematian industri-industri yang ada di lingkungan bisnis tersebut di kemudian hari. 

  • Merek merupakan mal yang boleh dimanfaatkan

Didalam Islam, merek adalah mal (harta) yang berupa non material. Tentunya keberadaan merek sebagai mal/harta ini dapat memberikan manfaat bagi produsen dan konsumen sebagai identitas produk. Abdul Salam Al-Ubadi memaknai mal sebagai sesuatu yang memiliki nilai material menurut masyarakat, dan menurut syara’ boleh diambil manfaatnya, dalam kondisi lapang dan normal. Celine berhasil mengubah tas plastik menjadi tren mode dan banyak digandrungi. Dengan mencantumkan merek ‘Celine’ pada produk tas plastiknya, berarti Celine memanfaatkan mal-nya. Tas plastik berbahan PVC yang pada umumnya bisa dibeli dengan harga dibawah Rp 20.000, namun dengan keberadaan merek tas plastik Celine bisa dijual seharga 7,6 juta rupiah. Dalam hal ini jelas bahwa merek memiliki nilai material yang mahal. Hal ini diperbolehkan dalam Islam karena di dalam merek terdapat ide dan karya kreatif yang mahal. Sebagai pemilik, Celine berhak mendapat perlindungan atas merek dan memperjualbelikan produknya dengan bebas di pasaran. 

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penjualan tas plastik dengan harga mahal Celine tidak dipermasalahkan selama memenuhi beberapa asas atau prinsip dalam jual beli. Namun, untuk mencegah profit maximization yang merugikan, produsen haruslah menyediakan produk dengan bahan yang bagus. Dengan kualitas barang yang baik, konsumen tidak akan merasa rugi ketika harus mengeluarkan uang dalam jumlah banyak. Produsen perlu memperhatikan kondisi produk agar tidak mengganggu lingkungan atau kesehatan penggunanya. Etika dalam berbisnis harus diterapkan mulai dari kegiatan produksi hingga pemasaran. Produsen juga dapat memberikan layanan konsumen tambahan seperti layanan perawatan produk sehingga konsumen merasa puas. Produsen dilarang untuk memonopoli dan menerapkan profit maximization jika itu hanya akan merugikan pembelinya. Selain itu, produsen tidak diperbolehkan melanggar kepemilikan produsen lain seperti meniru, membajak, atau memalsukan produk bermerek lainnya.  

Walaupun diperbolehkan, sangat dianjurkan bagi produsen untuk tidak mengambil keuntungan yang terlalu besar. Dalam Islam sendiri keuntungan bukan hanya mengenai materi. Islam melihat keuntungan bisnis dari pandangan yang lebih besar seperti manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Pandangan Islam mewajibkan para pebisnis untuk didorong secara moral, tidak hanya mengarah pada tujuan memperbanyak kekayaan. Pengambilan keuntungan yang berlebihan jika dilakukan dapat menyalahi etika bisnis secara universal dan tentunya etika bisnis islam. Pedagang seharusnya memastikan terjadinya transaksi yang adil dan wajar untuk melindungi komunitas yang lebih luas. Dengan tidak mengambil keuntungan yang terlalu besar, diharapkan para pedagang dapat terhindar dari perilaku tidak etis seperti manipulasi, eksploitasi, dan penipuan.

Referensi : 

Ali, Abbas & Al-Aali, Abdulrahman & Al-Owaihan, Abdullah. (2012). “Islamic Perspectives on Profit Maximization”. Journal of Business Ethics. 117. 1-0. 10.1007/s10551-012-1530-0.

Nasution, Adanan Murroh. “Batasan Mengambil Keuntungan Menurut Hukum Islam”. Jurnal El-Qanuny 40, no.1 (2018): 88-100 

Wulandhari, Retno dan Indira Rezkisari. 2018. “Celine Jual Tas Plastik dengan Harga Selangit”.https://www.republika.co.id/berita/p4wlkw328/celine-jual-tas-plastik-dengan-harga-selangit  (diakses 13 Februari 2021)

Haq, Husnul. 2018. “Merek Menurut Hukum Islam”. https://islam.nu.or.id/post/read/93065/merek-menurut-hukum-islam (diakses 13 Februari 2021)

Ichsan, A Syalaby. “Ambil Untung tanpa Batas Maksimal, Bolehkah?”. https://republika.co.id/berita/oj1xt5313/ambil-untung-tanpa-batas-maksimal-bolehkah (diakses 13 Februari 2021)

Gambar : Pinterest

Nama Anggota :

Alula Putri Diana

Muhammad Farhan
Addecya Farah A.A

Fauzi Akmal Rabbani

Vivin Malida Hidayat

Shafira Yumna Imtiyaz


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Kelompok10

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format