Dari Bisnis Kuliner Menjadi Bisnis Hand Sanitizer, Amankah?

Karena banyaknya penurunan omzet pada beberapa pelaku UMKM, tidak sedikit yang kemudian merencanakan untuk beralih pekerjaan demi keberlangsungan hidup dan bisnis.


0

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang hebat pada perekonomian bangsa, tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Adanya himbauan untuk menerapkan physical distancing mendorong masyarakat untuk stay at home dan membatasi berbagai aktivitas seperti belajar dan bekerja dari rumah, serta pembatalan/pembatasan berbagai event, dimana dengan penerapan ini diharapkan dapat meminimalisir penyebaran virus Covid-19. Namun, hal ini memberikan efek yang negatif pada ekonomi yang menyebabkan roda perekonomian terhambat khususnya UMKM (Sugianto, 2020). 

Penurunan Penjualan UMKM Imbas Pandemi Covid-19

Sumber: Asosiasi Business Development Services Indonesia,Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), 13 April 2020 dalam Databoks

Dampak pandemi Covid-19 sesuai yang dilansir dari pie chart di atas adalah menurunnya penjualan bagi pelaku UMKM yang mana survei ini dilakukan terhadap 6.405 responden. Berarti sebanyak 6.405 responden, sebagian besar merasakan kerugian akibat adanya pandemi ini (Databoks, 2020). Karena banyaknya penurunan omzet pada beberapa pelaku UMKM, tidak sedikit yang kemudian merencanakan untuk beralih pekerjaan demi keberlangsungan hidup dan bisnis. Salah satu pelaku UMKM yang terdampak yaitu bisnis kuliner yang bertempat di daerah Salatiga, Jawa Tengah. 

Sebelum beralih bisnis, Sanyata, selaku pemilik UMKM sudah menjalankan usaha kuliner khususnya makanan ringan atau snack di daerah Salatiga. Usaha kuliner ini masih ia tekuni hanya saja penurunan omzet yang mempengaruhi bisnisnya selama masa pandemi. Kemudian, selama masa pandemi, ia merencanakan untuk melakukan ide inovatif demi mempertahankan bisnisnya tersebut. Itu dibuktikan dengan beralihnya dari usaha kuliner menjadi pembuatan hand sanitizer rumahan. Menurut Sanyata, ini merupakan peluang bisnis yang dapat dimanfaatkan dengan baik. Belakangan ini, hand sanitizer banyak dicari oleh masyarakat dan masih memiliki peluang bisnis yang besar di pasaran. Sehingga ia mencoba beradaptasi dengan keadaan agar bisnisnya tetap berjalan. Maraknya penggunaan hand sanitizer menimbulkan ide kreatif dari berbagai kalangan yang bahkan harus banting setir demi bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi yang semakin menurun setiap harinya. Banyaknya permintaan produk hand sanitizer tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai peluang bisnis oleh sebagian pelaku UMKM.

Ditambah lagi, mencuci tangan merupakan salah satu bentuk protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah bagi siapa saja yang berkegiatan di luar rumah pada era new normal ini. Mencuci tangan dengan aliran air dan sabun selama 40 atau 60 detik menjadi proteksi bagi diri sendiri terhadap virus Covid-19. Namun, bagaimana dengan masyarakat yang memiliki kepentingan di luar rumah yang mengharuskan untuk memegang uang saat berbelanja atau menyentuh barang di sekitarnya? Tentu, Pada kondisi seperti ini, salah satu alternatif dengan menggunakan hand sanitizer. Hand sanitizer merupakan produk pembersih tangan dalam bentuk cairan alkohol untuk membersihkan mikroorganisme dalam kulit. Biasanya, hand sanitizer berwujud kecil, ringan, dan bisa dibawa kemanapun. Kemudian, permintaan yang tinggi oleh masyarakat akan hand sanitizer menjadikan produk tersebut menjadi langka dan susah untuk didapatkan. 

Namun, membangun bisnis pembuatan hand sanitizer tidak mudah direalisasikan mengingat proses pembuatan nya harus sesuai dengan pedoman yang telah diberikan oleh World Health Organization (WHO). Seperti yang disebutkan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SsPD-KGEH, MMB, bahwa pembuatan hand sanitizer akan lebih baik jika dilakukan oleh ahli dalam bidangnya. Terdapat komponen tertentu yang perlu disiapkan seperti takaran alkohol 90% yang tepat dalam pembuatannya. Sedikit saja salah takaran dapat menimbulkan efek samping terhadap kulit manusia. Rasa gatal, kulit memerah, bersisik adalah efek samping yang ditimbulkan dari pembuatan hand sanitizer buatan sendiri (kecuali untuk sebagian orang). 

Memang, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak melarang masyarakat untuk membuat hand sanitizer buatan sendiri hanya saja akan lebih baik jika produk tersebut digunakan untuk konsumsi sendiri serta proses pembuatannya tepat sesuai dengan pedoman WHO. Berdasarkan Permenkes RI Nomor 62 Tahun 2017 Tentang Izin Edar Alat Kesehatan, Alat Kesehatan Diagnostik In Vitro dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga, hand sanitizer termasuk dalam kategori Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT). PKRT yang dimaksudkan adalah pembuatan hand sanitizer buatan sendiri tidak dianjurkan untuk diperjualbelikan ke pasaran atau bahkan di distribusikan ke luar sebelum memiliki izin surat edar dari Kementrian Kesehatan. Inilah alasan mengapa tidak sembarang orang atau profesi untuk beralih menjadi bidang kesehatan.

Sumber : BPOM RI

Bagaimana Solusi untuk menghadapi masalah ketidaketisan tersebut?

Dilansir dari Ferrell et al., (2020) etika bisnis memiliki pengertian mengenai prinsip dan standar moral yang penerapannya diterima dan dibenarkan dalam bisnis. Pemaksimuman dampak positif daripada dampak negatif perusahaan terhadap lingkungan atau masyarakat dapat disebut social responsibility. Perilaku yang diterapkan Sanyata apabila dilihat dari segi ekonominya tentu merupakan hal yang benar karena ia terus berusaha untuk mengembangkan profitnya dengan menjual hand sanitizer (dimana sedang laris di pasaran karena adanya pandemi), sehingga ia mendapatkan pendapatan yang lebih dan dagangannya berjalan lancar. Namun bagaimana jika dilihat dari kacamata etika bisnis? Apakah kedepannya akan menimbulkan masalah kulit atau masalah lain bagi pengguna hand sanitizer-nya? Untuk meminimalisir hal ini terjadi, Sanyata dapat melakukan corporate citizenship dimana dapat menghubungkan dengan pemenuhan dari social responsibility-nya. Corporate citizenship adalah sejauh mana suatu bisnis dapat memenuhi hukum yang berlaku, etika bisnis yang baik, ekonomi yang lancar dan kewajiban voluntary yang diharapkan oleh stakeholders-nya. Berikut merupakan empat dimensi dari social responsibilities yang dapat diterapkan Sanyata: 

Stage 1: Financial and economic viability

Karena menurunnya pendapatan usaha makanan ringan yang dijalankan Sanyata, untuk mempertahankan bisnisnya ia mencari alternatif bisnis lain yang bisa dilakukan dan diasumsikan dapat memberikan keuntungan. Oleh karena itu Sanyata memilih bisnis hand sanitizer dan sabun. Lewat bisnis barunya, ia mampu menaikkan pendapatannya karena memang sedang banyak masyarakat yang membutuhkan barang tersebut. Dari segi ekonomi dapat dikatakan ini adalah pilihan yang baik.

Stage 2: Compliance with legal and regulatory requirements

Sanyata sebaiknya bekerjasama dengan ahli yang paham dan mengerti mengenai pembuatan hand sanitizer yang baik dan tidak memberikan masalah di masa depan, sesuai dengan edaran yang diberikan BPOM yang telah sesuai dengan anjuran WHO (World Health Organization) untuk mematuhi peraturan yang ada. Dapat juga dengan mengikuti pelatihan terkait dengan pembuatan hand sanitizer.

Stage 3: Ethics, principles, and values

Dengan menerapkan berbagai etika bisnis, prinsip dan nilai-nilai yang ada. Sanyata dapat melakukannya dengan memastikan bahwa produknya tidak akan memberikan dampak buruk bagi konsumennya, mencantumkan bahan-bahan yang digunakan pada kemasan agar konsumen memahami dengan betul isi dari hand sanitizer tersebut. Hal penting lainnya adalah dengan mengkomunikasikan dengan baik mengenai produknya yang dimana akan menaikkan kepercayaan konsumen kedepannya pada saat promosi.

Stage 4: Philanthropic activities

Sanyata dapat memberikan bantuan terkait dengan pemberian beberapa hand sanitizernya setiap penjualannya melampaui target yang dimana dengan ini akan mendorong hubungan yang baik dengan masyarakat dan kedepannya masyarakat akan lebih banyak yang berbelanja di tempat Sanyata karena secara tidak langsung mereka juga memberikan bantuan kepada masyarakat lain lewat pembelian hand sanitizer.

Sumber: Ferrell et al., (2020)

Best Practices

Dari pernyataan diatas, disebutkan bahwa masyarakat tidak dilarang untuk membuat hand sanitizer sendiri selama proses pembuatannya sesuai dengan pedoman WHO. Akan lebih baik lagi jika dalam prosesnya juga dipandu oleh ahli dalam bidang kesehatan. Seperti salah satu contoh seorang apoteker, Dewi Oktavia, yang harus ikut andil dalam pembuatan hand sanitizer karena permintaan hand sanitizer yang cukup tinggi di pasaran. Pembuatan hand sanitizer tidak bisa sembarangan dibuat oleh masyarakat awam. Walaupun Dewi membuat hand sanitizer buatannya sendiri, tetapi ia tetap melakukan sesuai dengan standar dari WHO. Karena backgroundnya sebagai seorang apoteker lah yang membuat masyarakat percaya terhadap hand sanitizer buatannya. Dimana sesuai dengan etika bisnis, Dewi telah paham dengan apa yang dibuat dalam produknya, mampu mengaplikasikan aturan BPOM (karena merupakan bidangnya) dan telah memenangkan kepercayaan masyarakat lewat background pendidikannya. Jadi masyarakat merasa aman saat membeli produk Dewi. Dengan Sanyata mengikuti pelatihan dan lebih memahami mendalam mengenai pembuatan hand sanitizer, tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan memperoleh kepercayaan serta bisnisnya dinilai bertanggungjawab karena memikirkan keselamatan pembeli dan tidak hanya berfokus pada profit.

Referensi

Databoks.katadata.co.id. (2020). Penurunan Penjualan UMKM Imbas Pandemi Covid-19. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/06/10/penurunan-penjualan-umkm-imbas-pandemi-covid-19# diakses pada 15 Februari 2021. 

Ferrell, O. C., Hirt, G. A., & Ferrell, L. (2020). Business Foundations: A Changing World.

Twelfth Edition. New York: McGraw-Hill Education.

Freepik.com. (2020). https://www.freepik.com/free-vector/flat-design-hand-sanitizer_7436106.htm diakses pada 17 Februari 2021.

Liswijayanti, F. (2020). Jangan Asal Bikin, Ini Panduan Membuat Hand Sanitizer dari BPOM dan WHO. https://www.femina.co.id/trending-topic/jangan-asal-bikin-ini-panduan-membuat-hand-sanitizer-dari-bpom-dan-who diakses pada 16 Februari 2021.

Patterson, C. (2020). Dermatologist explains side effects of homemade hand sanitizer, if it’s too strong. https://www.wbrc.com/2020/03/23/dermatologist-explains-side-effects-homemade-hand-sanitizer-if-its-too-strong/ diakses pada 15 Februari 2021.

Putsanra, D. V. (2020). Amankah Membuat Hand Sanitizer Sendiri dengan Bahan Alkohol?. https://tirto.id/amankah-membuat-hand-sanitizer-sendiri-dengan-bahan-alkohol-eJG5 diakses 15 Februari 2021.

Putsanra, D.V. (2020). Hand Sanitizer Buatan Sendiri yang Dijual Harus Punya Izin Kemenkes. https://tirto.id/hand-sanitizer-buatan-sendiri-yang-dijual-harus-punya-izin-kemenkes-eLSd diakses pada 15 Februari 2021.

Saputra, I. Y. (2020). Kisah Pelaku UMKM Salatiga Rela Banting Setir Agar Survive di Masa Pandemi.

https://www.semarangpos.com/kisah-pelaku-umkm-salatiga-rela-banting-setir-agar-survive-di-masa-pandemi-1043146/amp diakses pada 15 Februari 2021.

Sugianto, D. (2020). Begini Virus Corona Lumpuhkan Ekonomi RI. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4957376/begini-virus-corona-lumpuhkan-ekonomi-ri diakses pada 15 Februari 2021. 

Tashandra, N. (2020). Dekan FK UI Imbau Masyarakat Tak Bikin Hand Sanitizer Sendiri. https://lifestyle.kompas.com/read/2020/03/20/150829220/dekan-fk-ui-imbau-masyarakat-tak-bikin-hand-sanitizer-sendiri diakses pada 15 Februari 2021.

Tribun Jateng. (2020). Kala UMKM Banting Setir Buat Produk Terkait Penanganan Corona, Heno Kebanjiran Order Masker Batik. 

https://jateng.tribunnews.com/2020/04/06/kala-umkm-banting-setir-buat-produk-terkait-penanganan-corona-heno-kebanjiran-order-masker-batik?page=3 diakses pada 16 Februari 2021.

Artikel ini telah dicek anti plagiarisme pada website https://searchenginereports.net/id/plagiarism-checker 

Kelompok 4: Viking Raiders

I Gusti Agung Ayu Laksmi Kurnia Putri

Kahfiara Krisna Selia Putri


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format