Penggunaan Plastik Takeaway saat Pandemi: Strategi Bertahan atau Merusak Lingkungan?


0

Untuk menekan angka penyebaran Covid-19 di Indonesia, Pemerintah telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak 10 April 2020. Keputusan ini diambil berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 yang merujuk pada UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Namun, sejak tanggal 11 Januari hingga 8 Februari 2021, istilah PSBB di wilayah Jawa dan Bali diubah menjadi PPKM, atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Istilah PPKM ditetapkan sesuai dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2021 kepada kepala daerah di sebagian wilayah Jawa-Bali.

Setelah memberlakukan PPKM Jawa-Bali selama hampir satu bulan, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menerbitkan Instruksi Mendagri Nomor 3 Tahun 2021 untuk menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro. Peraturan ini mulai diberlakukan Selasa 9 Februari 2021 hingga Senin 22 Februari 2021. PPKM berbasis Mikro dilaksanakan di tujuh provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali. PPKM mikro dilakukan dengan sistem zonasi tingkat RT, dengan kriteria sebagai berikut:

  1. Zona hijau (tidak ada kasus aktif), dilakukan pengendalian berupa pemantauan yang aktif dan berkala, serta melakukan tes pada ODP (Orang Dalam Pengawasan);

  2. Zona kuning (penularan komunitas rendah), dilakukan dengan menemukan kasus suspek dan melakukan pelacakan kontak erat, serta melakukan karantina mandiri bagi pasien positif;

  3. Zona oranye (penularan komunitas sedang), dilakukan pengendalian dengan menutup kegiatan masyarakat di luar rumah, menutup tempat ibadah, serta melarang seluruh sektor beroperasi kecuali sektor esensial; 

  4. Zona Merah (penularan komunitas tinggi), dilakukan pembatasan yang lebih ketat. Pemerintah melarang masyarakat di zona merah untuk berkumpul lebih dari 3 orang di luar rumah (termasuk larangan kegiatan masyarakat) dan semua sektor wajib ditutup kecuali sektor esensial. Masyarakat di zona ini juga dihimbau untuk keluar-masuk wilayah dibatasi hingga pukul 20.00 WIB.

Beberapa regulasi PPKM Mikro yang diberlakukan bersamaan dengan PPKM Kabupaten/Kota, antara lain:

  1. Pembatasan di tempat kerja dengan penerapan work from home sebesar 50 persen

  2. Kegiatan belajar-mengajar dilakukan sepenuhnya secara daring

  3. Sektor esensial tetap beroperasi 100 persen dengan pengaturan jam operasional, pembatasan kapasitas, dan pengetatan protokol kesehatan.

Regulasi PPKM Mikro menyatakan bahwa pada sektor esensial, khususnya tempat makan dan minum, diberlakukan pembatasan dine-in maksimal 50 persen dan pembatasan jam operasional hingga pukul 21.00 WIB. Pemerintah juga menyampaikan bahwa khusus untuk pemesanan take away atau delivery tetap diizinkan berjalan normal. Artikel ini akan menyoroti kebijakan pemerintah tentang Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, khususnya pada sektor esensial, serta implikasinya pada strategi pelaku usaha bisnis makanan dan minuman (Food and Beverages).

Tabel 1. Tipe dan kode kemasan plastik yang sering digunakan (Martí 2018)

Pada buku Business: A Changing World (Ferrell et. al 2016) dipaparkan bahwa suatu entitas usaha selalu dihadapkan pada Social Responsibility Issue yang harus diatasi untuk menjamin keberlangsungan kegiatan operasional. Pada artikel ini, penulis memfokuskan permasalahan pada strategi pelaku bisnis makanan/ minuman di Indonesia untuk bertahan di masa pandemi, serta dilema yang dihadapi terkait dengan environmental issues yang muncul akibat penggunaan plastik sekali pakai pada produk take away.

Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang luar biasa pada sektor industri, di mana kegiatan produksi, konsumsi, dan penggunaan personal protective equipment (termasuk masker dan sarung tangan medis, serta tissue basah desinfektan) telah berimbas pada tingginya peningkatan sampah plastik sekali pakai (Canning-Clode et. al 2020; Prata et. al 2020). Hal ini terjadi hampir di sebagian besar negara, khususnya di China. Peningkatan sampah plastik terjadi secara besar-besaran di China selama masa pandemi Covid-19, terutama pada industri makanan take away dan situs belanja daring. 

Gambar 1. Penggunaan kemasan plastik selama pandemi di China (Liu et al. 2021)

Kebijakan pemerintah Indonesia untuk menerapkan PPKM yang membatasi kapasitas dine-in pada sektor makanan/ minuman, tetapi memperbolehkan sistem delivery berjalan normal, membuat banyak pelaku usaha mengubah strategi bisnisnya dan berfokus pada produk take away. Regulasi ini membawa dampak yang sangat signifikan terhadap meningkatnya penggunaan produk plastik sekali pakai, karena plastik dinilai sebagai bahan yang mudah diproduksi dan aman dalam mencegah transmisi penyebaran virus Covid-19.

Di satu sisi, untuk meminimalisir kontak selama pandemi, sistem take away atau delivery dalam era kebiasaan baru dinilai sebagai langkah yang efektif dalam menekan laju penyebaran virus Covid-19 di Indonesia. Pemerintah juga berharap bahwa dengan diberlakukannya sistem take away, para pelaku usaha makanan/ minuman dapat bertahan setelah mengalami krisis di awal pandemi. Namun, di sisi lain, penggunaan plastik sekali pakai sebagai kebutuhan untuk menyediakan jasa take away telah memunculkan masalah baru, dimana kelestarian lingkungan menjadi taruhannya. Plastik sekali pakai sangat banyak digunakan karena ketakutan masyarakat akan penyebaran virus apabila plastik tersebut digunakan lebih dari satu kali (Parashar and Hait 2021).

Indonesia menempati peringkat kedua sebagai kontributor sampah plastik di dunia (Wakhyono 2018). Menurut World Economic Forum (2018), dari total 16% recycled plastic waste, hanya 2% yang efektif dan berhasil didaur ulang. Gambar 2 menunjukkan bahwa sekitar 3.2 juta ton sampah plastik di Indonesia terbuang ke laut (Statista 2020; Sherly 2018). BBC News Indonesia (2017) juga menyampaikan bahwa dari total keseluruhan sampah plastik di Indonesia, 14% dibuang dengan cara dibakar, 4% dibuang dan ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan 32% mencemari lingkungan dan mengganggu ekosistem karena tidak dibuang dengan benar.

Gambar 2. Negara yang paling banyak mencemari lautan (Statista 2020)

Pengelolaan sampah dan limbah plastik bukanlah sesuatu yang mudah dan membutuhkan biaya yang mahal bagi para pelaku industri. Hanya sedikit industri yang mampu menerapkan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan karena asumsi dari banyaknya para pelaku bisnis akan mahalnya manajemen pengelolaan sampah berkelanjutan ini terutama harga mesin (untuk mendaur ulang sampah) yang melambung tinggi. Ironisnya para pelaku industri merupakan kontributor terbesar dalam permasalahan sampah dan menjadikan mereka sebagai peran penting dalam penanggulangan masalah ini. 

Sebenarnya di Indonesia sudah menerapkan komunitas dalam mengumpulkan sampah plastik yang bertebaran akan tetapi permasalahan muncul pada proses menyortir sampah dimana orang indonesia pada umumnya mencampur sampah pada saat mereka membuangnya ke suatu tempat. Oleh sebab itu, umumnya teknik insinerasi menjadi salah satu solusinya akan tetapi permasalahan dari insinerasi adalah pembakaran yang menghasilkan asap, tidak semua jenis plastik aman untuk dibakar. 

TPA (tempat pembuangan sampah akhir) bukan merupakan suatu cara yang efektif terlebih lagi jumlah penduduk indonesia yang padat dan terus meningkat. Pemukiman penduduk padat yang berdampingan dengan sampah akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan lainnya. Sehingga diperlukan penyelesaian untuk menanggulangi masalah sampah di Indonesia.

Akar permasalahan sampah plastik di Indonesia terletak pada sistem pengolahan sampah yang buruk dan tidak efektif. Untuk menanggulangi permasalahan plastik di Indonesia, yang diperburuk dengan adanya pandemi Covid-19, beberapa hal dapat dilakukan (Hidayat et. al 2019), antara lain:

  1. Memproses sampah plastik menjadi bahan campuran asphalt. Plastik dapat digunakan sebagai bahan campuran asphalt, dimana penambahan materi plastik akan membuat kerekatan asphalt menjadi lebih kuat.

  1. Memproses sampah plastik menjadi biji plastik (plastic pellets). Dalam hal ini, sampah plastik dapat didaur ulang dan diproses menjadi biji plastik, yang kemudian akan menjadi bahan baku utama pembuatan recycled plastic bag (Abidin 2017).

  1. Memproses sampah plastik menjadi bahan bakar. Setelah melalui proses pyrolysis, sampah plastik dapat didaur ulang dan diproses menjadi bahan bakar. Pada proses de-polymerization, catalyst didapatkan dari limbah Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) (Abidin 2017).

  1. Mendaur ulang limbah botol PET (Polyethylene Terephthalate) sebagai sebagai serat pada beton. Penggunaan limbah Recycled PET (RPET) dapat meningkatkan kekuatan dari Recycled Aggregate Concrete (RAC) secara signifikan (Bui et. al 2018).

  2. Memproses plastik LDPE (Low Density Polyethylene) menjadi campuran kayu. Proses ini dilakukan dengan mencampurkan lelehan plastik LDPE dengan serbuk kayu dengan rasio 1:1,5 kemudian hasil lelehan tersebut disimpan pada suhu 170 hingga 180 derajat Celcius. Hasil pencampuran tersebut akan menghasilkan produk yang kuat, tahan lama, dan dapat dijadikan campuran kayu untuk membuat furniture, produk pertukangan, dan bahan bangunan.

Solusi lain yang dapat dilakukan oleh para pelaku bisnis di industri makanan/ minuman adalah dengan mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Penelitian yang dilakukan oleh Martí (2018) menawarkan beberapa opsi eco-packaging yang dapat diaplikasikan sebagai pengganti kemasan plastik (Gambar 3).

Gambar 3. Kemasan produk makanan yang bisa dimakan (Martí 2018). Dibuat dari campuran agar-agar, air, dan buah pisang yang dicetak menjadi produk kemasan. Dengan melarutkan kemasan ke dalam air panas, kemasan akan berubah menjadi bubur atau minuman yang bisa dikonsumsi.

Terdapat beberapa manfaat yang akan diperoleh para pelaku industri dari penerapan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan, antara lain:

  1. Mengurangi polusi lingkungan;

  2. Meningkatkan efisiensi penggunaan energi;

  3. Melestarikan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan di masa depan;

  4. Meningkatkan keterampilan;

  5. Menciptakan kondisi kerja yang aman;

  6. Mengurangi produksi limbah yang berbahaya bagi lingkungan;

  7. Menerapkan penggunaan bahan yang aman dan ramah bagi lingkungan.

Artikel ini telah dicek antiplagiarism via website https://www.duplichecker.com

Ditulis oleh Kelompok The Rebellion / MBA 78C

Sumitomo Ueno

Veronica Swasti Paramitha Putri

Referensi

  1. Abidin A.Z. 2017. Depolymerization of catalytic and non catalytic plastic waste to be fuel oil by using RFCC pertamina catalyst waste. Chemical Engineering, Faculty of Industrial Technology. Institut Teknologi Bandung, Indonesia.

  2. Abidin A.Z. 2017. Plastic pellet making (Afval recycling). Industrial Training Centre. Ministry of Industry of Indonesia.

  3. BBC News Indonesia. 2017. Seven diagrams that explain plastic pollution. Accessed on February 17th 2021. Available at: https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42309772 

  1. Bui, N.K., Satomi, T., and Takahasi, H. 2018. Recycling woven plastic sack waste and PET bottle waste as fiber in recycled aggregate concrete: An experimental study. Waste Management 78, pp. 79-93

  2. Cantika Adinda Putri. 2021. Dari Pembatasan Sampai Sanksi, Begini Aturan PPKM Terbaru. Accessed on February 15th 2021. Available at: https://www.cnbcindonesia.com/news/20210208185733-4-221987/dari-pembatasan-sampai-sanksi-begini-aturan-ppkm-terbaru 

  1. Canning-Clode., Sepúlveda, P., Almeida. S., and Monteiro. J. 2020. Will COVID-19 containment and treatment measures drive shifts in marine litter pollution?. Front. Marine Science, 7 (2020), pp. 691.

  2. Ferrel, O.C., Hirt, G.A., and Ferrel, L. 2016. Business: A Changing World 10th Edition. New York: McGraw-Hill Education. ISBN 978-981-4714-25-9.

  3. Hidayat, Y.S., Kiranamahsa, S., and Zamal, M.A. 2019. A study of plastic waste management effectiveness in Indonesia Industries. AIMS Energy, 7(3), pp. 350 – 370

  4. Jawahir Gustav Rizal. 2021. Aturan Lengkap PPKM Mikro, Berlaku 9 Februari – 22 Februari 2021. Accessed on February 15th 2021. Available at: https://www.kompas.com/tren/read/2021/02/08/095000965/aturan-lengkap-ppkm-mikro-berlaku-9-februari-22-februari-2021 

  1. Liu, J., Vethaak, A.D., Lihui An., Liu. Q., Yang. Y., and Ding. J. 2021. An Environmental Dilemma for China During the COVID-19 Pandemic: The Explosion of Disposable Plastic Wastes. Bulletin of Environmental Contamination and Toxicology 106: 237-240

  2. Martí, Sara. 2018. UnPlastic My Food: Plastics in Take-Away Packaging, Consumer Behaviors and Eco-Packaging Possibilities. Paris College of Art.

  3. Parashar, N., and Hait. S. 2021. Plastics in the time of COVID-19 pandemic: protector or polluter? Science of the Total Environment 759, pp. 1-16.

  4. Prata, J.C., Silva, A.L.P., Walker. T.R., Duarte, A.C., and Rocha-Santos. T. 2020. COVID-19 pandemic repercussions on the use and management of plastics. Environmental Science Technology, 54 (2020, pp. 7760-7765.

  5. Reza Sulaiman. 2021. PPKM dan PSBB: Apa Bedanya? Ini Penjelasan dari Pemerintah. Accessed on February 16th 2021. Available at: https://www.suara.com/health/2021/01/07/202232/ppkm-dan-psbb-apa-bedanya-ini-penjelasan-dari-pemerintah 

  1. Sherly, P. 2018. Indonesia penyumbang sampah plastik terbesar kedua sedunia. Accessed on February 17th 2021. Available at: https://megapolitan.kompas.com/read/2018/08/19/21151811/indonesia-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-kedua-di-dunia 

  1. Statista. 2020. The Countries Polluting The Oceans The Most by Niall McCarthy. Accessed on February 18th 2021. Available at: https://www.statista.com/chart/12211/the-countries-polluting-the-oceans-the-most/ 

  1. Wakhyono, S. 2018. Indonesia sumbang sampah plastik terbanyak nomor 2 dunia. Accessed on February 16th 2021. Available at: https://fajar.co.id/2018/08/21/indonesia-sumbang-sampah-plastik-terbanyak-nomor-2-dunia/

  1. World Economic Forum. 2018. The World’s plastic problem in number. Accessed on February 16th 2021. Available at: https://www.weforum.org/agenda/2018/08/the-world-of-plastics-in-numbers 


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format