PERBAIKAN EKONOMI ATAU KESEHATAN? POLEMIK BISNIS UMKM, PRODUKSI BAJU HAZMAT DI TENGAH PANDEMI

Sangat dilema memang. Niat baik mempertahankan eksistensi perusahaan dengan memproduksi APD, Justru memunculkan bencana baru di tengah pandemi yang terjadi.


0

         Virus Corona pertama kali ditemukan pada awal bulan Desember 2019 di Kota Wuhan, China dan menjadi awal mula bencana besar bagi dunia. Virus ini meluas hingga hampir ke seluruh belahan dunia dan disebut sebagai pandemi. Pada tanggal 3 Maret 2020 virus ini pertama kali ditemukan dan terkonfirmasi positif di Indonesia tepatnya di Depok, Jawa Barat.

            Sejak pertama kali kasus ini ditemukan di Indonesia jumlah kasus terkonfirmasi positif terus bertambah hingga menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi kehidupan bermasyarakat dan perekonomian Indonesia. Hal ini sempat menimbulkan kepanikan pada masyarakat sehingga menimbulkan fenomena pannic buying. Fenomena pannic buying ini timbul menyusul adanya berita tentang lock down sehingga stok kebutuhan pokok dan beberapa perlengkapan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sarung tangan, hingga hazmat diserbu oleh masayarakat sehingga membuat stok barang-barang ini menipis dan menjadi langka. 

            Lonjakan kasus yang begitu signifikan ini membuat berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia dipenuhi pasien. Sebagai garda terdepan para tenaga medis ini dipersiapkan sedemikian rupa untuk melakukan penanganan terhadap pasien positif corona. Dengan tingkat resiko penularan yang cukup tinggi maka seluruh tenaga medis diwajikan mengikuti protokol penanganan pasien corona. Salah satunya adalah dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) pada setiap tindakan medis.

            Alat pelindung diri (APD) ini dikenakan sebagai bentuk proteksi diri saat melakukan pelayanan kesehatan. Faktanya hingga saat ini masih sering dijumpai kasus  ketidakjujuran pasien dengan riwayat kesehatannya, dengan siapa dia berkontak, hingga gelaja yang mereka rasakan. Dalam menanggulangi kejadian-kejadian seperti ini, maka tenaga medis sangat memerlukan hazmat saat melakukan praktik di fasilitas kesehatan. Namun faktanya, masih terdapat beberapa masyarakat yang egois, mengenakan hazmat padahal mereka hanya berbelanja dan ada juga yang mengenakannya untuk alasan penerbangan domestik. Mirisnya, terdapat beberapa tenaga medis yang menggunakan mantol sebagai pengganti hazmat, hal ini terjadi karena jumlah hazmat yang tersedia di pasaran sangat kurang. 

            Fenomena kelangkaan ini, dimanfaatkan oleh beberapa pelaku bisnis usaha mikro kecil dan menegah (UMKM) seperti konveksi atau tekstil yang mengalami penurunan penjualan di saat pandemi untuk merombak total bisnisnya dari yang semula produksi baju menjadi produksi hazmat. Selain itu, terdapat beberapa perusahaan makro yang bergerak pada bidang garmen beralih memproduksi hazmat. Peralihan produksi hazmat ini merupakan suatu langkah mempertahankan  perusahaan, karena semenjak pandemi produk-produk yang dihasilkan sepi peminat.  Masyarakat kini lebih memilih untuk membelanjakan uangnya untuk kepentingan primer dan kesehatan.

Menurut data Kemenkeu, sektor usaha menengah-besar yang terdampak pandemi mencapai 82% sementara dampak pada sektor usaha menengah kecil 84%, dan total penurunan penjualan mencapai lebih dari 75 persen, termasuk industry koveksi yang bahkan ada yang bangkrut.

            Keadaan pandemi di Indonesia semakin parah, selain banyaknya kasus kematian pasien corona. Pandemi diwarnai dengan gugurnya para tenaga medis sebagai garda terdepan perlawanan virus corona. Salah satunya diantaranya adalah kejadian wafatnya salah satu dokter kepresidenan yang kala itu merawat Menteri Perhubungan. Dokter ini diduga meninggal akibat kelelahan dan terpapar virus corona saat menangani pasien di RSUP Pertamina. Tidak hanya itu semakin hari semakin banyak tenaga medis berguguran. Dikutip dari laman CNN Indonesia jumlah tenaga medis yang wafat mencapai 600 orang per Januari 2021. Salah satu penyebab tingginya kasus paparan ini adalah karena kelangkaan alat pelindung diri (APD) dari distributor resmi serta APD produk UMKM yang dipertanyakan mutu dan kualitasnya.Polemik yang kian rumit ini menuntut pemerintah untuk terus aktif dalam pemastian ketersediaan hazmat di Indonesia. 

Pada tanggal 5 April 2020 pers realese yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal mengatakan bahwa “Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengingatkan, berbagai negara saat ini tengah mengalami kelangkaan bahan baku Alat Pelindung Diri (APD). Dunia tengah berebutan bahan baku APD”. Dengan adanya kelangkaan aan aku ini pemerintah justru mendorong tumbuhnya ekonomi pada UMKM tekstil, konveksi, garmen, dan mantol untuk memproduksi hazmat dengan bahan baku yang mereka punya. Selain menghidupkan kembali laju ekonomi sektor menengah dorongan ini juga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan hazmat.

            Pada dasarnya hazmat merupakan salah satu produk alat medis dimana dalam proses produksinya diatur dalam aturan Kementerian Kesehatan dan secara langsung diawasi oleh BPOM. Peraturan ini disebut dengan CPAKB ( Cara Pembuatan Alat Kesehatan yang Baik ) yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2017. CPAKB adalah sebuah pedoman yang digunakan dalam suatu kegiatan produksi alat kesehatan yang bertujuan untuk menjamin mutu dan kualitas alat kesehatan yang diproduksi. Beberapa aspek CPAKB yang harus dipenuhi oleh produsen alat kesehatan diantaranya adalah

Aspek Sistem Manajemen Mutu

Aspek  Tanggung Jawab Manajemen

Aspek Penglolaan Sumber Daya

Aspek Realisasi Produk

Aspek Pengukuran, Analisis dan Perbaikan

Namun pada praktiknya terdapat banyak produsen hazmat “dadakan” yang tidak menerapkan prisip CPAKB. Selaras dengan keterangan yang dihimpun dari laman Tirto.id, IDI (Ikatan Dokter Indonesia) menekankan kepada para pelaku pembuat hazmat untuk dapat memproduksi hazmat sesuai dengan standar hazmat yang telah ditentukan oleh WHO (World Health Organization). Aksi seruan yang dilakukan IDI tersebut dipicu oleh beredarnya hazmat yang tidak memenuhi standar mutu di pasaran. Tidak memiliki ijin pembuatan hazmat dari pemerintah berdasarkan pada regulasi yang berlaku, membuat seluruh hazmat yang diproduksi oleh produsen baru ini tidak mengikuti sistem mutu yang berlaku terkait bahan dan berbagai standar hazmat. Tidak semestinya pertumbuan ekonomi sektor menengah tidak mengindahkan kaidah keamanan dan kualitas produk hazmat. Perlu diketahui bahwa idealnya hazmat ini digunakan 1 kali per shift dan semua orang yang melakukan kontak langsung di fasilitas kesehatan wajib mengenakan APD ini termasuk bagain laundry rumah sakit dan cleaning service.

BEST PRACTICE

            Sebagai salahupaya nyata pemerintah dalam mendukung penanganan COVID-19 diantaranya adalah dengan menjaga ketersediaan alat kesehatan terutama alat pelindung diri (APD) untuk seluruh tenaga medis. Pemerintah dalam hal ini melalui Kementerian Kesehatan Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan membuat suatu kebijakan baru yang dirilis pada tanggal 12 April 2020 yang mengatur tentang pelayanan publik melalui percepatan dan kemudahan perizinan sertifikat produksi dan distribusi alat kesehatan atau sertifikasi CPAKB di masa pandemiPedoman ini bersifat sementara dan akan ditinjau kembali setelah masa pandemi berakhir. Ini merupakan upaya pengendalian mutu hazmat yang beredar di pasaran di masa pandemi.

Selaras dengan pelonggaran kebijakan ini, dikutip dari kumparan.com, pada 3 Juni 2020 Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil berkunjung ke salah satu industri konveksi di Jalan Raya Kopo, Katapang, Bandung. Kunjungan ini untuk meninjau kesiapan industri ini dalam memproduksi alat pelindung diri (APD) dan penerapan adaptasi kebiasaan baru (AKB) dari produksi konveksi menjadi produksi APD.Pelonggaran keijakan sertifikasi ini memberikan ruang bagi pelaku bisnis salah satu dengan memproduksi alat pelindung diri (APD).Diantaranya yaitu produksi baju hazmat berbahan polyesterwater proof dan dengan jahitan kusus. Dalam kurun waktu tersebut industri ini mampu memproduksi 50.000 pc APD.

Walaupun begitu kebutuhan alat pelindung diri (APD) semakin meningkat di tahun 2021. Apabila geliat UMKM tidak mampu tumbuh maka hal ini akan menimbulkan masalah baru yaitu jumlah ketersediaan APD. Hal ini mendorong pemerintah untuk meninjau secara langsung UMKM di daerah agar terus memproduksi APD dalam jumlah banyak. Menurut Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Budi SylvanaUMKM sudah layak dijadikan produsen utama APD. Karena sejauh ini, kualitas APD produksi UMKM di beberapa daerah sudah dinilai bagus bahkan hingga saat ini masih dipakai oleh beberapa rumah sakit negeri di berbagai daerah.

Author

  1. Camelia Dewi F
  2. M. Rafa Subhanallah

Referensi

CNN Indonesia. 25/03/2020 Jas Hujan Tahan Air Boleh Dipakai sebagai Pengganti APDhttps://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190808144834-255-419637/jas-hujan-tahan-air-boleh-dipakai-sebagai-pengganti-apd Diakses pada tanggal 18 Februari 2021.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2017 tentang Cara Pembuatan Alat Kesehatan Dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga Yang Baik

CNN Indonesia. 2021.Menkes: 600 Tenaga Kesehatan Meninggal Hadapi Pandemi Coronahttps://m.cnnindonesia.com/nasional/20210126175343-20-598673/menkes-600-tenaga-kesehatan-meninggal-hadapi-pandemi-coronaDiakses pada tanggal 18 Februari 2021.

Kumparan. 3 Juni 2020EIGER Produksi Hazmat, Ridwan Kamil: Contoh Terbaik Penerapan AKB. https://kumparan.com/kumparanbisnis/eiger-produksi-hazmat-ridwan-kamil-contoh-terbaik-penerapan-akb-1tXguTdzWHsDiakses pada tanggal 18 Februari 2021

TribunJateng. 5 Oktober 2020. Dampak Pandemi Covid-19, Usaha Konveksi Asiatin Gulung Tikar. https://jateng.tribunnews.com/2020/10/05/dampak-pandemi-covid-19-usaha-konveksi-asiatin-gulung-tikarDiakses pada tanggal 18 Februari 2021

SIARAN PERS Juru Bicara Badan Koordinasi Penanaman Modal. Jakarta, 5 April 2020. Bahlil: Dunia Rebutan Bahan Baku APD. Diakses pada tanggal 18 Februari 2021.

Tirto.id. (2020). IDI Imbau Baju Hazmat dari Masyaratakat Sebaiknya Sesuai Standar WHO. https://tirto.id/idi-imbau-baju-hazmat-dari-masyarakat-sebaiknya-sesuai-standar-who-eNcT. Diakses pada tanggal 16 Februari 2021.

Finance.detik.com. (2020). Hati-hati! Banyak APD Tak Sesuai Standar Sliweran. https://finance.detik.com/industri/d-4963814/hati-hati-banyak-apd-tak-sesuai-standar-seliweran. Diakses pada tanggal 16 Februari 2021.

News.detik.com. (2020). Asal Usul Virus Corona Berasal, dari Mana Sebenarnya? https://news.detik.com/berita/d-4966701/asal-usul-virus-corona-berasal-dari-mana-sebenarnya. Diakses pada tanggal 16 Februari 2021.

Farmalkes.Kemkes.go.id. (2020). Standar Alat Pelindung Diri (APD) dalam Manajemen Penanganan Covid-19. http://farmalkes.kemkes.go.id/2020/04/standar-alat-pelindung-diri-apd-dalam-manajemen-penanganan-covid-19/. Diakses pada tanggal 16 Februari 2021.

Kompas.com. (2020). Update Corona Global: 10 Negara dengan Kasus Terbanyak. https://www.kompas.com/tren/read/2021/02/10/080500965/update-corona-global-10-negara-dengan-kasus-terbanyak-kata-who-soal-asal?page=all. Diakses pada tanggal 16 Februari 2021.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format