Dilarang Pemerintah, Pedagang Masker Scuba Masih Tetap Bertahan. Etiskah dalam Islam?

Pemerintah telah melarang penggunaan masker scuba dalam penggunaan sehari-hari. Lalu, bagaimana nasib pedagang masker scuba? Etiskah apabila berdagang masker scuba?


0

Sumber: pikiranrakyat.com

Sudah satu tahun lebih Covid-19 menjangkit masyarakat dunia dan memberikan dampak besar terhadap kehidupan setiap individu. Anjuran menjaga kebersihan diri, physical distancing dan penggunaan masker merupakan upaya yang diterapkan dan diwajibkan oleh seluruh pembuat kebijakan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.  Awal merebaknya virus tersebut dengan cepat tidak diimbangi dengan ketersediaan komoditas vital salah satunya masker. Hal tersebut sempat membuat masker menjadi langka dan harganya melambung tinggi.

Berdasarkan laporan CNBC pada bulan februari 2020 (Arbar T, 2021) masker dengan brand 3M dengan tipe N95 dibanderol dengan harga 1,1 juta rupiah. Masyarakat pun mencari alternatif menggunakan masker kain salah satunya yaitu masker scuba. Sempat digunakan secara masif dan diperdagangkan oleh banyak masyarakat. Kini masker kain scuba dihimbau untuk tidak digunakan bahkan dilarang karena hanya terdiri dari satu lapis dan hanya mampu menyaring droplet yang menjadi sarana penyebaran covid-19 dengan tingkat keefektifan 5% saja berdasarkan penelitian Duke University (Alaa Elassar, 2021). Hal ini membuat banyak penjual masker scuba gelisah. Namun, sebagian besar tetap menjual masker tersebut untuk menyambung kehidupan mereka walaupun masker scuba terbukti tidak efektif melindungi penggunanya dari paparan Covid-19 dan dilarang penggunaannya.

Pertanyaannya, apakah penjualan masker scuba dengan kondisi tersebut etis?

Lalu, apakah yang dilakukan pedagang masker scuba tersebut etis atau tidak etis? Apa justifikasi dan penjabaran yang menjadikan hal tersebut etis atau tidak etis? Akan dibahas lebih jauh dalam artikel ini.

Masyarakat menggunakan masker scuba atau buff karena merasa nyaman, tetapi sebenarnya masker ini tidak disarankan oleh Kementerian Kesehatan RI dan tenaga kesehatan yang lainnya. Bermula dari larangan memakai masker scuba dan buff oleh PT. Kereta Commuter Indonesia.

Menurut dr. Achmad Yurianto, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, ada tiga jenis masker yang dapat digunakan oleh masyarakat, yaitu masker N-95, masker medis, dan masker kain. Diusahakan agar masker yang digunakan dapat menahan atau menyaring droplet agar virus COVID-19 tidak menyebar.

Penggunaan masker scuba atau buff telah dilarang oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) dikarenakan efektivitasnya yang terbilang kecil, yaitu nol hingga lima persen. Berdasarkan surat edaran yang dilansir dari situs hukumonline.com, pemakaian masker untuk tenaga kesehatan untuk menggunakan masker bedah dan masker N-95, dan bagi masyarakat yang beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker berlapis tiga.

Dikarenakan masker scuba atau buff berpori-pori besar sehingga tidak cukup untuk menahan droplet sehingga persebaran virus lebih mudah. Masker scuba atau buff akan bagus jika digunakan untuk lapisan masker lain sebagai perlindungan ekstra.

Berdasarkan Kacamata Islam, Perdagangan Masker Scuba itu.....

Dalam pandangan Islam, perdagangan masker scuba tersebut masuk dalam kategori tadlis atau penipuan. Islam melarang penipuan dalam bisnis seperti dalam hadits Rasulullah saw diterangkan :

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ: وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ ، وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ ، وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ . فَقَالَ « لاَ ، هُوَ حَرَامٌ » . ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عِنْدَ ذَلِكَ « قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ ، إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ

“Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu mengenai jual beli lemak bangkai, mengingat lemak bangkai itu dipakai untuk menambal perahu, meminyaki kulit, dan dijadikan minyak untuk penerangan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh! Jual beli lemak bangkai itu haram.” Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi. Sesungguhnya, tatkala Allah mengharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu menjual minyak dari lemak bangkai tersebut, kemudian mereka memakan hasil penjualannya.” (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim, no. 4132).

Pelajaran yang dapat diambil dari hadits tersebut adalah larangan penipuan dalam berbisnis sebagaimana Rasulullah melaknat Yahudi yang berbisnis dengan mencairkan minyak dari lemak bangkai lalu menjualnya dan mendapatkan penghasilan. Jika dikaitkan dengan kasus bisnis penjualan masker scuba, WHO sebagai organisasi dunia yang concern terhadap Kesehatan maupun berbagai instansi kesehatan lainnya telah menegaskan bahwa masker scuba tidak efektif dalam mencegah penularan covid-19. Penjualan masker scuba ini mengelabui masyarakat awam yang mungkin tidak tersentuh informasi. Di satu sisi, penjualan masker scuba sendiri bermasalah dalam transparansi dimana mereka tidak berterus terang kepada para pembeli bahwa masker tersebut dilarang dan tidak efektif dalam mencegah penularan Pandemi.

Dalam hadits lain disebutkan :

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ.  

“Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban 2: 326. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1058).

Kemudian, dalam pandangan islam dikenal istilah jabriah, yaitu keyakinan bahwa apapun yang terjadi telah ditetapkan oleh Allah SWT, sehingga manusia tidak merasa bertanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan. Dalam pandangan Jabriah, kasus ini ditafsirkan sebagai perilaku etis karena apa yang terjadi telah menjadi ketetapan Allah. Namun di sisi lain dikenal istilah Qadriah, yaitu keyakinan bahwa apapun yang terjadi tetap digantungkan pada usaha manusia, sehingga manusia harus mempertanggungjawabkan kan apapun yang dia perbuat. Maka jelas, penjualan masker scuba dalam pandangan qodriah dianggap sebuah kegiatan bisnis yang tidak etis. Pelaku bisnis harus bertanggung jawab terhadap apapun yang mereka lakukan.

Mengapa Dilarang oleh Pemerintah?

Masker scuba adalah masker yang terbuat dari kain scuba atau neoprene. Kain scuba memiliki beberapa variasi, yaitu kain scuba yang tebal dan yang tipis. Kain scuba yang umumnya digunakan sebagai bahan untuk membuat pakaian  menyelam memang tebal dan anti air sehingga ketika dijadikan masker dapat melindungi dari droplet yang merupakan sarana penyebaran covid-19. Namun, masker scuba yang beredar di pasaran adalah masker scuba dengan kain tipis yang hanya terdiri dari satu lapis sehingga hanya memiliki efektivitas 0-5% dalam melindungi dari virus. Selain tipis dan hanya terdiri dari satu lapis, masker scuba ini mudah renggang dan tidak menutup aliran udara sehingga hanya akan memecah droplet menjadi lebih kecil dan beresiko menembus ke dalam masker. Hal inilah yang menyebabkan masker scuba tidak direkomendasikan atau dilarang oleh pemerintah dibandingkan dengan jenis masker lainnya, yaitu masker N95 (efektivitas 95%), masker bedah (efektivitas 80-90%), dan masker kain 2-3 lapis (efektivitas 50-70%).

Sumber: kumparan.com

Pelarangan penggunaan masker scuba ini berdampak pada para produsen masker scuba termasuk 400 UMKM di Jawa Barat yang dilibatkan dalam proyek 8 Juta masker (60% merupakan masker scuba) dengan anggaran Rp 40 miliar. 

Meski telah dilarang pemerintah, demi bertahan hidup, para pelaku pasar ini tetap menjajakan masker scuba yang berisiko memaparkan konsumen dari virus korona. Perilaku ini tidak sejalan dengan etika bisnis karena mengabaikan prinsip moral yang tidak dapat diterima dari sisi konsumen sebagai pihak yang dirugikan. Selain itu konsumen dianggap memiliki informasi yang kurang terkait kualitas masker scuba.

Berdasarkan Praktik Bisnis Islam, Berdagang Masker Scuba itu...

Menurut Kotler dan Amstrong, kualitas adalah kemampuan suatu produk untuk bekerja dalam fungsinya, mencakup daya tahan produk, reliabilitas, dan presisi. Dalam pandangan Islam sendiri, pedagang harus menerangkan keadaan barang (dalam hal ini kualitas) yang akan dijualnya. Hal ini dijelaskan dalam salah satu hadis berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي (روه مسلم)

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas, agar diketahui orang yang melihatnya? Ketahuilah, barang siapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim No.102).

Sumber: kompas.com

Bukan persoalan dari fungsi masker namun dari konsumen yang banyak memilih masker scuba menjadi pilihan ini dikarenakan harganya murah yaitu Rp5.000,00 dibandingkan masker biasa yang memiliki tiga lapis kain didalamnya seharga Rp10.000,00 kelebihan masker scuba ini memiliki tekstur yang lembut serta lentur mengikuti pola dan lekuk wajah. Scuba memiliki bahan dasar yang sangat tipis sehingga pengguna lebih mudah bernafas dan tidak mengalami kendala seperti pengap.Realitanya bahannya yang sangat tipis ini tidak mampu menyaring debu dan kotoran udara yang mampu dengan mudah menularkan virus covid. Scuba di pasaran telah banyak menjadi barang incaran masyarakat dan juga pedagang yang ingin meraup keuntungan banyak tanpa memikirkan dampak yang diberikan ke masyarakat. Namun, adanya larangan pemerintah yang tidak memperbolehkan peredaran masker scuba dikarenakan merugikan masyarakat dengan kualitas masker yang tidak setara dengan masker standar pada umumnya,memicu pada pasar yang sepi terhadap penjualan masker scuba.

Lalu, Apakah Masih Etis Apabila tetap Berjualan Masker Scuba?

Sikap tindakan yang tidak etis ini dimana pedagang tetap menjual barang yang tidak diperbolehkan pemerintah maka berujung pada kerugian dimana para pedagang yang merasa omzet mereka telah jatuh sekitar 50%.Banyaknya pedagang yang menimbun masker scuba untuk dijual kembali,sering mengeluh dengan kebijakan pemerintah yang mereka menganggap baru saja dikeluarkan tentang perintah larangan penjualan masker scuba berdampak pada kerugian yang sangat besar.

Dilihat dari sisi utilitarianisme hal ini menjadi tidak etis dikarenakan terjadinya kerugian masyarakat sebagai pembeli masker scuba merasa dirugikan membeli masker dengan kualitas yang rendah dari segi bahan tipis dengan fungsinya yang tidak mampu menyaring kotoran dan debu yaitu hanya 0-5% menyaring udara sehingga mengakibatkan turunnya taraf kesehatan masyarakat,kerugian pengaruh industri juga dirasakan pada penjualan masker memunculkan persaingan industri yang tidak sehat  karena setiap penjual memperebutkan dan menimbun sebanyak-banyak masker dari distributor untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya serta dalam kerugian ekonomi berdampak menghambatnya perekonomian dan mengganggu penghasilan masyarakat sebagai penjual masker yang menggantung hidupnya untuk tetap berjualan masker scuba yang dilarang karena sudah banyak menimbun masker scuba dari lama.

Dari sisi right kasus penjualan masker scuba ini melanggar right baik hak dari pembeli, pemerintah serta negara. Hak-hak yang dilanggar yaitu hak pemerintah untuk menerapkan pelarangan berjualan masker yang tidak dianjurkan kemenkes beredar,hak masyarakat untuk mendapat fungsi masker yang tidak dapat melindungi kesehatan masyarakat, hak negara untuk menerima pajak pendapatan berupa kewajiban masyarakat selaku penjual membayar pajak.

Sisi justice, kasus ini dilihat dari compensatory justice dimana tindakan oknum penjual masker scuba mengakibatkan masyarakat terancam masalah kesehatan pernapasan sehingga sebaiknya distributor  masker scuba memberikan imbalan kesehatan masyarakat sebagai rasa tanggung jawabnya, jika tidak maka seharusnya distributor menghentikan perdagangan masker scuba.

Pihak yang bertanggung jawab atas masalah ini adalah distributor masker scuba yang sebaiknya berhenti untuk memproduksi masker scuba dan masyarakat yang harus menentukan pilihannya dengan bijak dalam membeli dan memilih masker hingga memikirkan efek penggunaan masker scuba dalam jangka panjang,serta pemerintah sendiri dengan cara menggelar razia protokol kesehatan dan melakukan sosialisasi dengan memberikan teguran kepada penjual masker scuba dan masyarakat yang kurang mengetahui info bahayanya tidak menggunakan masker yang tepat serta merazia orang-orang yang menggunakan masker scuba.

Kesimpulan yang Dapat Diambil

Kondisi pandemi Covid-19 membuat masyarakat harus menggunakan masker apabila bepergian ke luar rumah. Masker scuba merupakan salah satu alternatif masker yang dapat dikenakan oleh masyarakat ketika beraktivitas di luar rumah. Selain harganya yang murah, desainnya yang bagus, bahannya yang nyaman, menjadikan masker scuba banyak digunakan masyarakat. Para pedagang banyak mengambil keuntungan dengan menjual masker scuba dikarenakan permintaaan terhadap masker scuba yang cukup tinggi.

Namun, adanya larangan dari pemerintah membuat penggunaan masker scuba dihentikan. Sebab, masker scuba dinilai tidak efektif dalam menyaring droplet virus yang ada di udara. Tentu tidak etis bagi pedagang untuk menyediakan masker scuba setelah terdapat larangan penggunaan masker scuba.

Meski demikian, bukan berarti masker scuba tidak dapat digunakan. Masker scuba dapat dikenakan bersamaan dengan masker kain dua lapis. Contohnya seperti pada iklan Gojek berikut.

Sumber: instagram.com/gojekindonesiaSumber: instagram.com/gojekindonesia

Pedagang masker scuba masih bisa berjualan masker scuba namun dengan menjual masker kain dua lapis yang sesuai dengan ketentuan pemerintah. Hendaknya pedagang masker harus mengerti dan paham bagaimana produk mereka bisa efektif dalam menyaring droplet virus yang ada di udara.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
0
Win
RAHMATHIDAYAT

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format