Waspada! Corona Meradang, Fintech Ilegal Merajalela

Fintech lending menjadi solusi keuangan, namun bagaimana jika dia berubah menjadi boomerang di tengah pandemi? Bagaimana islam menjawab persoalan ini?


6
3 shares, 6 points

Pernahkah kalian melakukan pinjaman online melalui fintech lending? Apakah kalian tahu apa itu fintech lending? Fintech Lending atau bisa juga disebut Fintech (Financial Technology) Peer-to Peer Lending merupakan salah satu inovasi pada bidang keuangan dengan pemanfaatan teknologi yang memungkinkan pemberi pinjaman dan penerima pinjaman melakukan transaksi pinjam meminjam tanpa harus bertemu langsung. Mekanisme transaksi pinjam meminjam ini dapat dilakukan melalui sistem yang telah disediakan oleh Penyelenggara Fintech Lending, baik itu melalui aplikasi ataupun laman website. [ojk.go.id]

Sumber: https://www.globaltrademag.com/Fintech Lending hadir untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan peminjaman dana. Proses peminjaman dana tersebut tidak rumit, yaitu kita sebagai peminjam tidak perlu lagi hadir ke perusahaan. Cukup bermodalkan kuota internet, kita sudah bisa melakukan pinjaman online melalui aplikasi ataupun laman website yang telah tersedia. Tentunya keberadaan Fintech Lending ini sangat membantu masyarakat dan UMKM, terutama pada masa pandemi Covid-19 ini.

Hingga sekarang, bisnis Fintech Lending kian meroket. Bahkan, adanya pandemi Covid-19 ternyata tidak mempengaruhi keberlangsungan bisnis ini. Perekonomian yang melemah justru membuat bisnis Fintech Lending terus tumbuh dan berkembang karena tak sedikit masyarakat yang membutuhkan dana dengan cepat agar tetap bertahan hidup. Akan tetapi, kondisi ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penawaran pinjaman online secara ilegal. Dengan memanfaatkan kondisi masyarakat yang gagap teknologi, mereka memberikan penawaran peminjaman dana tak bersyarat sehingga masyarakat tertarik dan terjebak dalam pinjaman bodong ini. Pinjaman online ilegal ini tentunya dapat merugikan masyarakat karena bunga yang diberikan relatif sangat tinggi dan tidak adanya jaminan atas privasi data yang berujung data tersebut dapat disalahgunakan.

Waspada Fintech Ilegal!

Satgas Waspada Investasi (SWI) telah menghimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam melakukan pinjaman online (pinjol). Hal ini dikarenakan Satgas Waspada Investasi kembali menemukan 113 pinjol atau Fintech Lending ilegal yang tidak terdaftar dan tidak mendapatkan izin dari OJK. Penawaran pinjol ini ada yang berkedok badan usaha koperasi (KSP) dan ada yang berbentuk duplikasi pinjaman online atau entitas-entitas yang memiliki izin OJK sehingga dapat mengelabui masyarakat.

Berikut Fintech Lending ilegal yang sudah ditutup oleh Satgas Waspada Investasi:

Solusi Tunai (KSP Solusi Tunai)

Dana Pro Pinjaman Uang Tunai Dana Cash (KSP OPEN)

Kreditku – Dana Tunai Pinjaman Uang (Kredit Indonesia Digital)

Selamat Pinjam – Pinjaman Dana Aman Terpercaya (Firman Setiawan)

Kredit All Pro – Pinjaman Uang Tunai Rupiah Online (Kredit All)

Dompet Verus (kspcat)

Duit Petir-Pinjaman Online Cepat Cair (duit petir 0731)

POHON KREDIT (Serly pratama sutisnawati)

PinjamQ – KSP Pinjaman Dana Online (KSP Solusi Usaha Anda)

KSP TBN BUNGA KILAT (DompetHijau)

Kredituang KSP Pinjaman (KreditUnag.KSP.PT)

KSP Raja Pinjaman – Rupiah Uang Tunai Dana Online (ANDALAN USAHA GEMILANG)

KSP Loansegara, Dompet Kelapa (Super Dorothy)

Dana Sahabat: Platform Pembanding Pinjaman Uang (phon cheng)

DANA SAHABAT (blakejoyce)

Tunai CPT – Platform Pinjaman Cepat (Frances WMA)

Do Tunai (DoTunai), Punya Duit (Jack Welly)

DANA Meminjam- Pinjaman terbaik Masa Kini (DM0123)

KAS TUNAIKU (KSP.BHAKTI WANITA UNGGUL)

MEKAR PINJAM (KSP.MEKAR TIGA SAMPURNA)

goeasy, Go Easy

Go-Easy MF (Doral Ransonet)

Go-Easy MF Acata X (Tiffany Chang)

Go-Easy MF Acata X (Tiffany Chang)

Namun, sebagai catatan, ada berbagai Fintech Lending yang sudah legal bahkan diawasi secara langsung oleh OJK. Akan tetapi, baik legal maupun illegal, apabila sistem operasional dari pinjaman online tersebut dinilai riba maka sama saja tidak sesuai dengan syariat islam.

Ciri-ciri Fintech ilegal

Untuk menghindari peminjaman pada fintech lending yang ilegal, kita tentunya harus mengetahui ciri-ciri dari fintech ilegal itu sendiri. Berikut adalah ciri-ciri tersebut:

  1. Tidak memiliki legalitas: Fintech lending ilegal tidak memiliki izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
  2. Mengenakan bunga, denda dan biaya yang sangat tinggi: Penerapan bunga, denda, serta biaya lainnya sangat tinggi, bahkan tidak jelas di dalam perjanjian.
  3. Proses penagihan tidak beretika: Penagihan dilakukan dengan cara yang tidak beretika, bahkan hingga kasar atau disertai dengan ancaman, serta dilakukan oleh penagih yang tidak memiliki sertifikat penagihan.
  4. Akses data pribadi berlebihan: Fintech ilegal mengakses data konsumen tidak hanya melalui kamera, mikrofon, atau lokasi saja sebagaimana ketentuan OJK.
  5. Pengaduan tidak tertangani: Fintech ilegal tidak memiliki layanan pengaduan. OJK dan AFPI tidak menangani pengaduan Fintech ilegal, melainkan pengaduan dapat dilakukan ke polisi atau Satgas Waspada Investasi (SWI).
  6. Lokasi kantor tidak jelas: Lokasi kantor Fintech ilegal tidak diketahui, bahkan sebagian besar berlokasi di luar negeri, sehingga akan sulit diselesaikan apabila terjadi kasus penipuan.

Pelanggaran Etika

Secara aturan dan regulasi, tindakan fintech ilegal tersebut sudah melanggar etika berbisnis. Selain merugikan pihak lain, tindakan melanggar aturan hukum yang berlaku juga menjadi alasan mengapa fintech ilegal tersebut tidak beretika secara bisnis. Sehingga, tidak heran jika fintech ilegal tersebut ditutup oleh pihak berwenang.

Dalam islam sendiri, ada keharusan untuk mematuhi aturan dan perintah dari pemimpin (pemerintah) setempat. Keharusan ini dituliskan dalam firman Allah SWT:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوااللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِيالْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman taat lah kalian kepada Allah dan taat lah kalian kepada rasul dan ulil amri kalian.” [Q.S An-nisa ayat 59]

Rasulullah SAW juga bersabda, 

من خلع يدا من طاعة لقي الله يوم القيامة لا حجة له

Barang siapa yang melepaskan tangannya bai’atnya (memberontak) hingga tidak taat ( kepada pemimpin ) dia akan menemui Allah dalam keadaan tidak berhujjah apa-apa.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

على المرء المسلم السمع والطاعة فيما أحب وكره إلا أن يؤمر بمعصية فإن أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة

Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin –ed.-) baik dalam perkara yang ia sukai atau dia benci, kecuali dalam kemaksiatan. Apabila dia diperintah untuk maksiat, tidak boleh mendengar dan taat.”

Selain di perintahkan dalam firman Allah SAW dan sabda Rasulullah SAW, keberadaan Fintech Lending ilegal ini juga tidak sesuai dengan akad utang-piutang. Hal ini dikarenakan, adanya larangan dharar (merugikan pihak lain) yang harus dipatuhi oleh setiap pemangku akad.

Fintech Menurut Pandangan Islam

Pada dasarnya, seringkali Fintech Lending mengupayakan berbagai macam cara guna meraup keuntungan semaksimal mungkin meski melalui tindakan yang tidak beretika dalam syariah agama islam.  Guna menjangkau lebih banyak pengguna, mereka sengaja menggunakan  embel-embel bunga pengembalian tahunan yang cukup besar apabila dibandingkan dengan suku bunga deposito di bank agar dapat menarik para pendana dan menggunakan embel-embel bunga pinjaman tahunan yang cukup rendah serta kemudahan dalam bertransaksi bagi para peminjam agar tidak berpikir panjang dalam meminjam sejumlah dana. Kebanyakan Fintech Lending sengaja memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang asal-muasal dana, bahkan penentuan besaran pengembalian pinjaman (return/profit). Hal ini sama saja dengan tindakan pengelabuan atau penipuan terhadap konsumen. Dalam Hadist Riwayat Ibnu Hibban berikut pun dijelaskan bahwa sebaik-baiknya seorang muslim dalam berbisnis maupun dalam melakukan berbagai kegiatan tidak diperbolehkan untuk melakukan tipu daya.

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ

Barang siapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban 2: 326. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1058).

Dalam Islam, terdapat larangan untuk memberikan pinjaman dan membayar pinjaman tersebut dengan sistem riba. Namun, pinjaman online berbasis syariah sebenarnya sudah diatur dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Nomor 117/DSN-MUI/II/2018 oleh Majelis Ulama Indonesia. Dalam fatwa itu, pinjaman online diperbolehkan apabila sesuai syariah, yang di antaranya:

  1. Akad al-bai (jual beli yang mengakibatkan berpindahnya kepemilikan obyek yang dipertukarkan (barang dan harga). 
  2. Akad Ijarah (pemindahan hak guna suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu dengan ujrah atau upah). 
  3. Akad musyarakah (kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk usaha tertentu dan setiap pihak memberikan kontribusi dana modal usaha dengan ketentuan baik keuntungan maupun kerugian dibagi sesuai nisbah yang disepakati atau sesuai porsi modal masing-masing pihak)
  4. Akad mudharabah (kerja sama suatu usaha dengan pemilik modal yang menyediakan modal dan keuntungan usaha dibagi sesuai nisbah yang disepakati sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik modal)
  5. Akad qardh (pinjaman dengan ketentuan penerima pinjaman wajib mengembalikan uang pinjaman sesuai dengan kesepakatan, baik itu waktu dan cara yang disepakati).
  6. Akad waknlah (pelimpahan kuasa dari pemberi kuasa kepada penerima kuasa untuk melakukan perbuatan hukum tertentu yang boleh diwakilkan).
  7. Akad wakalah bi al-ujrah (wakalah yang disertai dengan ujrah (fee).

Sedangkan unsur riba yang tidak diperbolehkan dalam pinjaman online antara lain,

  • Riba (tambahan nilai yang diberikan pada pertukaran barang),
  • Gharar (ketidakpastian dalam suatu akad).
  • Maysir (akad tidak dilakukan dengan tujuan yang jelas), tadlis (tindakan untuk menyembunyikan kecacatan produk yang dilakukan oleh penjual untuk mengelabui pembeli),
  • Dharar (tindakan yang dapat menimbulkan kerugian bagi pihak lain).

Riba dalam islam sudah menjadi topik yang sering dibahas. Ada banyak ayat-ayat quran dan hadits yang membahas tentang larangan riba, salah satunya,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang makan riba, pemberi makan riba, pencatatnya, dan dua saksinya. Beliau mengatakan, mereka semua sama." (HR. Muslim 4177 dan Ahmad 14263)

Solusi

Pentingnya Regulasi dan Literasi Keuangan

Perkembangan teknologi yang terus maju mendorong kita sebagai anggota masyarakat harus selalu siap dan cepat memahami suatu perubahan. Tidak hanya di isu-isu pokok yang berkaitan dengan kebutuhan sandang, pangan, dan papan tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan diri dan keluarga termasuk salah satunya adalah pemahaman tentang tata kelola keuangan. Semakin menjamurnya model layanan keuangan modern yang dibalut dengan canggihnya teknologi seringkali memperdaya manusia dan muncul peluang kejahatan disana. Oleh karena itu sebagai umat islam, sangat penting bagi kita untuk selalu waspada dan terus belajar mengenai apa saja, khususnya yang berkaitan langsung dengan aktivitas kehidupan sehari-hari salah satunya mengenai ilmu tata kelola keuangan. Sebab wajib bagi setiap umat Muslim untuk menuntut ilmu karena ilmu adalah kunci segala kebaikan. Dalam Islam, tak akan sempurna agama dan amal ibadah seorang Muslim tanpa menuntut ilmu. Dengan ilmu, kita menjadi lebih kritis sehingga mampu mengambil keputusan berdasarkan akal sehat. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,

تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ ( رَواهُ الطَّبْرَانِيْ)

"Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu." (HR Tabrani).

Lalu kemudian, pemerintah sebagai pemimpin dan regulator dalam kasus ini harus terus aktif berkontribusi sehingga kejadian yang sama tidak terulang kembali. Sebenarnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir 2016 telah mengeluarkan peraturan POJK Nomor 77/POJK01/2016 mengenai tata cara layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Data OJK menunjukkan, jumlah pinjaman yang disalurkan per Januari 2018 sudah mencapai Rp 3 triliun, atau naik 17,11% (year to date). Menyadari perkembangan fintech yang kian pesat itu, OJK sudah menyiapkan aturan baru untuk mendorong perkembangan fintech dan perlindungan konsumen. OJK menekankan penyelenggara fintech harus dalam koridor tata kelola yang berdasarkan asas TARIF (Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi dan Fairness) agar aspek perlindungan nasabah dapat terpenuhi.

Jika sudah terlilit hutang lalu bagaimana?

Sudah banyak sistem pengaduan online bagi masyarakat yang sudah terlanjur terlilit fintech ilegal ini. Seperti yang diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau melalui AFPI Asosiasi melalui website afpi.or.id. Dengan laporan tersebut, jika yang diadukan adalah fintech yang sudah terdaftar di OJK dan merupakan anggota asosiasi. Maka, asosiasi segera bertindak dengan menegur hingga memberikan sanksi kepada perusahaan.

Lalu selain itu kita perlu melakukan keterbukaan kepada keluarga. Dengan keterbukaan maka besar peluang kita akan lebih tenang dalam menghadapi hutang yang bertumpuk dan dapat membantu mencarikan solusi untuk melunasinya. Jangan sampai dengan hutang yang menumpuk justru membuat tidak nyaman orang di sekitar kita atau justru menjadi menerapkan kegiatan gali lubang tutup lubang yang akan semakin memperkeruh keadaan kita.

Pentingnya Tabayyun sebelum mempercayai iklan atau tawaran

Dalam dunia serba digital dimana informasi sangat mudah masuk tentu memicu makin banyaknya berita, tawaran, dan iklan yang sangat menggiurkan bagi masyarakat. Dari sini pula tentu makin banyak oknum yang ingin memanfaatkan kemudahan informasi ini untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Kita sebagai umat muslim tentu sangat perlu membiasakan diri dalam melakukan check and recheck atau dalam istilah islam adalah tabayyun. Dalam Al-Quran tabayyun dijelaskan pada surat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian. [al-Hujurât/49:6].

Tabayyun sangat perlu kita biasakan karena kerap kali kita hanya percaya pada kemudahan dan apa yang kita ingin lihat saja tanpa mencoba untuk melihat kebenaran atau mengulik hal-hal dengan lebih dalam. Maka dari itu tabayyun menjadi jalan terbaik untuk umat muslim dalam menyeleksi informasi dan tawaran dengan lebih berhati-hati dan menghindari dari resiko yang tidak kita inginkan di kemudian hari.

Akan sulit bagi kita yang memang membutuhkan uang untuk tidak berhutang terutama demi kepentingan menyambung usaha atau sekedar menyambung kebutuhan hidup di masa pandemi. Namun jika harus berhutang, maka berusahalah diniatkan untuk segera membayarnya. Jangan sampai kita terlilit pada hutang berkepanjangan dan menunda-nundanya. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits.

Dari Abu hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah SWT akan tunaikan untuknya. Dan barang siapa yang mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya), maka Allah akan membinasakannya”. (HR Bukhari)

Dari hadits ini dijelaskan bahwa kalaupun memang sudah terlanjur berhutang, kita harus tahu ada banyak ancaman dan hukuman dalam islam apabila hutang tersebut tidak segera dibayarkan. Jadi yang terpenting adalah segeralah lunasi hutang yang sudah terlanjur kita miliki dan untuk berikutnya jadi lah orang yang tabayyun dan bijak jika ingin menentukan untuk berhutang, jangan sampai terkena tipu daya atau iming-iming kemudahan berhutang lalu kemudian menuruti nafsu sesaat yang akan berpengaruh pada kenyamanan dan keberkahan kita di kehidupan masa depan.

Referensi:

AFPI. 2021. Perkembangan P2P Lending di Indonesia. [Online] Afpi.or.id. Available at: <https://afpi.or.id/articles/detail/perkembangan-p2p-lending-di-indonesia> [Accessed 20 Februari 2020]

Baits, A., 2021. Solusi Bagi yang Terjebak Utang Online. [online] Konsultasi Agama dan Tanya Jawab Pendidikan Islam. Available at: <https://konsultasisyariah.com/33139-solusi-bagi-yang-terjebak-utang-online.html> [Accessed 20 February 2021]

Bestari, Novia Putri. 2021. Awas Tertipu! Ini 113 Fintech Ilegal yang Ditutup OJK. [Online] Cnbindonesia.com. Available at: <https://www.cnbcindonesia.com/tech/20210129120047-37-219634/awas-tertipu-ini-113-fintech-ilegal-yang-ditutup-ojk> [Accessed 20 Februari 2021]

Dompet Dhuafa. 2020. Bagaimana Hukum Hutang dalam Islam?. [Online]. Available at: <https://dompetdhuafa.org/id/berita/detail/hukum-hutang-dalam-islam> [Accessed 20 Februari 2021]

Herani, Rina. 2021. Business Ethic

Idris, M., 2021. Pinjaman Online Syariah Bebas Riba, Apa Saja Syaratnya?. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://money.kompas.com/read/2020/10/04/070300626/pinjaman-online-syariah-bebas-riba-apa-saja-syaratnya> [Accessed 20 February 2021]

Kuncana, Gora. 2018. Regulasi Fintech. [Online]. Available at: <https://investor.id/editorial/regulasi-fintech> [Accessed 20 Februari 2021]

Mudrika, Syeikh. 2020. Mengapa Mesti Tabayyun?[Online]. Available at: <https://almanhaj.or.id/3445-mengapa-mesti-tabayyun.html> [Accessed 20 Februari 2021]

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). FAQ: Kategori Umum. [Online] Ojk.go.id. Available at: <https://ojk.go.id/id/kanal/iknb/data-dan-statistik/direktori/fintech/Documents/FAQ%20Fintech%20Lending.pdf> [Accessed 20 februari 2021]

Pratama, W., 2021. Awas! Banyak Fintech Ilegal Manfaatkan Kondisi Pandemi Corona | Finansial - Bisnis.com. [online] Bisnis.com. Available at: < https://finansial.bisnis.com/read/20200429/563/1234265/awas-banyak-fintech-ilegal-manfaatkan-kondisi-pandemi-corona> [Accessed 20 Februari 2021]

Penulis:

Afifah Rochmana Haris

Nastiti Nugraheni

Wildheno Hanif Ircan

Aliza Zahra Noor Adiningtyas

Reza Noor Falaq

Sovia Ramadani


Like it? Share with your friends!

6
3 shares, 6 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Soviaramadani

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format