Performa PT Argha Karya Prima Tbk di Era Adaptasi Kebiasaan Baru


0

Sejak 10 April 2020, pemerintah Indonesia telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai langkah untuk menekan angka penyebaran Covid-19 dengan menghimbau masyarakat untuk melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing dan membatasi aktivitas di luar rumah (lockdown). Setelah memberlakukan regulasi tersebut selama lebih dari satu bulan, pada tanggal 26 Mei 2020, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa masyarakat pada akhirnya harus bisa hidup berdampingan dengan Covid-19 agar tetap produktif untuk menggerakkan roda perekonomian, tanpa mengurangi urgensi pemberlakuan PSBB dan protokol kesehatan. Sejak saat itulah, istilah era adaptasi kebiasaan baru muncul di Indonesia (new normal).

Menteri Kesehatan Indonesia, Terawan Agus Putranto, mengeluarkan Kepmenkes Nomor HK.01.07/Menkes/328/2020 yang memuat Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. Keputusan Menteri Kesehatan tersebut ditujukan untuk memberikan acuan bagi pengelola/pengurus tempat kerja di instansi pemerintahan, perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/kota untuk ikut terlibat dalam pencegahan dan pengendalian persebaran virus sesuai dengan kewenangan masing-masing, sesuai dengan arahan Kepmenkes.

Mengacu dari Kepmenkes No. HK.01.07/Menkes/328/2020, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, juga menerbitkan Instruksi Mendagri Nomor 3 Tahun 2021 untuk menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro, berlaku sejak Selasa 9 Februari 2021 di beberapa wilayah di provinsi Jawa-Bali. Terdapat beberapa regulasi yang tercakup dalam PPKM Mikro, antara lain: (1) pembatasan di tempat kerja dengan penerapan work from home sebesar 50 persen; (2) pemberlakukan kegiatan belajar mengajar yang sepenuhnya dilakukan secara daring; (3) pengaturan batas jam operasional di sektor esensial, pembatasan kapasitas pengunjung, dan pemberlakukan protokol kesehatan di sektor publik yang diperketat.

PPKM Mikro memberlakukan adanya pengaturan batas jam operasional hingga pukul 21.00 WIB dan pembatasan kapasitas pengunjung maksimal 50 persen dari kapasitas maksimal pada sektor esensial, khususnya usaha resto dan rumah makan. Peningkatan kegiatan takeaway atau opsi delivery dari usaha rumah makan dapat dikatakan menjadi fenomena nyata terhadap pemberlakuan pembatasan kapasitas pengunjung resto.

Menurut Canning-Clode et. al (2020), pandemi covid-19 mempunyai dampak yang signifikan terhadap tingginya peningkatan sampah plastik sekali pakai. Hal ini disebabkan karena masyarakat menjadi sangat bergantung pada kegiatan konsumsi (khususnya takeaway dan pengantaran paket belanja daring) serta penggunaan personal protective equipment yang mayoritas menggunakan plastik sebagai penunjang utama kegiatan. Hal ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap performa PT. Argha Karya Prima Industry Tbk sebagai salah satu perusahaan di Indonesia yang bergerak dalam bidang industri kemasan.

PT. Argha Karya Prima Industry bergerak dalam bidang usaha industri kemasan fleksibel dengan jenis BOPP (Biaxially Oriented Polypropylene) dan BOPET (Biaxially Oriented Polyethylene Terephthalate) atau dikenal dengan nama Polyester. Saat ini, Perseroan memiliki fasilitas produksi di kawasan Bogor, Jawa Barat dan memiliki saham di dua entitas anak yang berada di luar negeri (Gambar 1).

Gambar 1. Lokasi entitas PT. Argha Karya Prima Industry di luar negeriSource: Laporan Tahunan PT. Argha Karya Prima Industry (2019)

Adanya pemberlakuan kebijakan New Normal Covid-19 serta pengaruhnya terhadap peningkatan penggunaan plastik sekali pakai telah menimbulkan masalah sampah plastik yang menjadi urgensi baik bagi pemerintah Indonesia maupun dari perspektif lingkungan global. Potensi permasalahan pada task environment yang mempengaruhi perusahaan antara lain terjadi pada:

  1. Supplier, terdapat potensi masalah yang berkaitan dengan rantai pasokan karena munculnya polemik tentang penggunaan plastik di era new normal.Permintaan akan produk plastik dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang terjual di pasar. Plastik memiliki peran penting dalam mengemas makanan dan minuman, karena dengan adanya plastik makanan akan bertahan lebih lama (terutama makanan olahan). Penurunan konsumsi makanan olahan selama pandemi tentunya akan mempengaruhi jumlah permintaan plastik yang ada di pasar. Penurunan permintaan akan plastik juga akan mempengaruhi utilisasi atau keseimbangan jumlah plastik yang dihasilkan oleh mesin. Mesin yang biasanya menghasilkan plastik dengan jumlah tertentu, tentunya tidak akan maksimal penggunaannya. Jumlah penjualan yang menurun inilah yang akan mengganggu kestabilan keuangan perusahaan dan akan mempengaruhi sejumlah pihak yang terlibat dengan perusahaan.

  2. Distributor, terdapat potensi permasalahan distribusi barang dikarenakan input yang terhambat sehingga tidak dapat menghasilkan produk yang maksimal. Selama pandemi covid-19 berlangsung, untuk menghambat pertumbuhan penyebaran corona, banyak negara melakukan pengetatan larangan perjalanan dan pengurangan aktivitas pengiriman dikarenakan frekuensi truk yang dibatasi. Jika truk-truk ini dibatasi, maka pengiriman produk produk ini juga akan terjadi pengurangan walaupun tidak signifikan. Begitu juga dengan supplier, efek pembatasan truk juga membatasi jumlah supply barang oleh supplier terhadap PT. Argha Karya Utama Industry Tbk. Tidak hanya truk yang dibatasi, kunci dari suatu bisnis terletak di manusianya. Jika pergerakan/ aktivitas manusianya dibatasi, maka aktivitas suatu bisnis juga akan mengalami penurunan performa.

  3. Customer, walaupun saat ini permintaan pasar naik karena demand yang tinggi, tetapi potensi masalah akan timbul karena kemungkinan peningkatan kesadaran masyarakat akan buruknya dampak plastik bagi lingkungan

  4. Competitor, perusahaan perusahaan plastik di Indonesia masih belum fokus ke arah produksi plastik yang memiliki kemampuan antivirus dan antibakteri. Sedangkan perusahaan-perusahaan plastik di banyak negara sudah memproduksi plastik antiviral ini dan berlomba lomba mengembangkannya. Plastik merupakan salah satu perantara penyebaran corona, terutama dia memiliki kaitan erat dengan makanan dan minuman. Dengan adanya masalah yaitu pandemi virus, dunia dan masyarakat global jadi lebih memikirkan dan peduli terhadap kesehatan dan persebaran penyakit. Plastik antivirus dan antibakteri akan menjadi potensi pasar plastik di kemudian hari apalagi adanya negara yang berpotensi menerapkan aturan mengenai pemakaian plastik antivirus anda antibakteri. Jika belum memulai mengembangkan dan memproduksinya, maka perusahaan plastik akan tertinggal di kedepannya dalam memenuhi segmen pasar plastik jenis baru ini

Potensi permasalahan juga dapat timbul dari sisi general environment khususnya di bidang ekonomi, teknologi, sosial budaya, dan lingkungan. Di bidang ekonomi, volatilitas pasar memiliki potensi besar dalam mempengaruhi aktivitas usaha PT. Argha Karya Prima Tbk yang pada akhirnya juga akan berimbas pada beberapa komponen task environment yang telah dibahas. Permasalahan juga mungkin timbul dari segi teknologi, dimana droplet yang mengandung virus corona akan hidup di plastik untuk beberapa lama. Mengingat penggunaan plastik sangat banyak digunakan di masa pandemi, tantangan ke depan bagi perusahaan adalah bagaimana perusahaan plastik dapat memproduksi plastik yang dapat membunuh virus yang menempel pada permukaannya sehingga tidak menjadi sarana penyebaran virus. Namun, permasalahannya adalah belum dikembangkannya teknologi tersebut di perusahaan-perusahaan kemasan plastik di Indonesia dan masih dalam proses penelitian secara global.

Dari segi keadaan sosial budaya dan lingkungan, potensi permasalahan dapat timbul dari fenomena peningkatan jumlah pemakaian plastik selama pandemi yang pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan. Ketergantungan terhadap plastik terutama untuk bahan kemasan tidak bisa dibendung karena bahannya yang ringan, flexible, dapat menjaga kontaminasi, dan harga yang murah. Ketika penggunaan plastik sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat, akan sangat sulit untuk mengubahnya karena tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap pemakaian plastik. 

Peningkatan jumlah penggunaan plastik di era new normal telah menambah concern terhadap polusi plastik global. Walaupun sudah diatur dalam peraturan pengelolaan sampah (Gambar.2), pengolahan sampah plastik yang tidak mumpuni dan rendahnya kesadaran masyarakat akan dampak plastik pada lingkungan menjadikan masalah ini menjadi seakan tidak ada jalan keluarnya. Hidayat et.al (2019) mempunyai beberapa solusi alternatif dalam upaya pengolahan sampah plastik, antara lain: (1) memproses sampah plastik menjadi bahan campuran asphalt; (2) memproses sampah plastik menjadi plastic pellets yang kemudian dapat dijadikan bahan baku utama pembuatan recycled plastic bag (Abidin 2017); (3) memproses sampah plastik menjadi bahan bakar; (4) mendaur ulang botol; dan (5) memproses plastik LDPE yang dapat dijadikan bahan campuran kayu untuk membuat furniture dan produk pertukangan.

Gambar 2. Peraturan mengenai pengelolaan sampah di Indonesia

Source: Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (2020)

Namun, pada kenyataannya, terdapat beberapa hambatan yang terjadi dalam pengelolaan dan pengolahan sampah plastik di Indonesia. Minimnya sosialisasi pengolahan sampah rumah tangga dan industri usaha (terutama UMKM) yang benar dan baik, pendanaan pengelolaan sampah yang tidak efektif dan tidak efisien, sulitnya mengubah pola perilaku dan ketergantungan masyarakat yang besar terhadap sampah plastik, serta minimnya infrastruktur Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi tantangan terbesar pemerintah Indonesia dalam hal pengelolaan dan pengolahan sampah di Indonesia (Gambar 3).

Gambar 3. Tantangan dalam pengelolaan dan pengolahan sampah di Indonesia

Source: Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (2020)

Artikel ini telah dicek antiplagiarism via https://www.duplichecker.com

Artikel ini ditulis oleh kelompok The Rebellion (MBA 78C) sebagai tugas mingguan dari mata kuliah ME

  1. Sumitomo Ueno
  2. Veronica Swasti Paramitha

Referensi

  1. Abidin A.Z. 2017. Plastic pellet making (Afval recycling). Industrial Training Centre. Ministry of Industry of Indonesia.
  2. Beth Porter. Plastic Industry uses the Pandemic to Boost Production. Green America. Accessed on February 25th 2021. Available at: https://www.greenamerica.org/are-single-use-plastics-increasing-during-covid-19 
  3. Chris V., Lenore, E.H., and Mark A. 2020. The Problem with Plastic Waste and How Companies are Responding. Accessed on February 25th 2021. Available at: https://www.nasdaq.com/articles/the-problem-with-plastic-waste-and-how-companies-are-responding-2020-12-02 
  4. CMDF. 2020. Brazilian company develops plastic film that inactivates coronavirus. Accessed on February 25th 2021. Available at: http://cdmf.org.br/en/2020/12/01/brazilian-company-develops-plastic-film-that-inactivates-coronavirus/ 
  5. Ferry Sandi. 2020. Di Luar Dugaan, Industri Makanan Pun Tak Selamat dari Corona. Accessed on February 25th 2021. Available at: https://www.cnbcindonesia.com/news/20200429185926-4-155362/di-luar-dugaan-industri-makanan-pun-tak-selamat-dari-corona 
  6. Gatra.com. 2020. Corona dan Pukulannya Terhadap Pasar Logistik. Accessed on February 25th 2021. Available at: https://www.gatra.com/detail/news/472088/ekonomi/corona-dan-pukulannya-terhadap-pasar-logistik 
  7. Hidayat, Y.S., Kiranamahsa, S., and Zamal, M.A. 2019. A study of plastic waste management effectiveness in Indonesia Industries. AIMS Energy, 7(3), pp. 350 – 370
  8. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2020. Kepmenkes Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
  9. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. 2020. National Plastic Waste Reduction Strategic Actions for Indonesia. Republik Indonesia.
  10. Laporan Tahunan. 2019. The Annual Report of PT Argha Karya Prima Industry Tbk. Available at: www.arghakarya.co.id 
  11. Yunianto T.K. 2020. Efek Pandemi Covid-19, Industri Plastik Diperkirakan Hanya Tumbuh 4%. Accessed on February 25th 2020. Available at: https://katadata.co.id/agungjatmiko/berita/5e9a41c92b1cf/efek-pandemi-covid-19-industri-plastik-diperkirakan-hanya-tumbuh-4 

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format