Strategi Penyesuaian Garuda Indonesia di Era New Normal

Masalah yang dialami Garuda Indonesia akibat new normal dialami juga oleh kebanyakan maskapai di negara-negara Asia Tenggara.


1
1 point

SEKILAS TENTANG GARUDA INDONESIA

Penerbangan di Indonesia pertama kali merupakan ide dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) sebagai pencetusnya. Awalnya AURI menyewakan maskapai penerbangan kepada pemerintah Burma yang diberi nama “Indonesian Airways”. Setelah konferensi meja bundar (KMB) pada 1949 disepakati bahwa peran dari “Indonesian Airways” pun berakhir. Dan pada tahun 1950 pesawat pun dikembalikan kepada AURI. Sebelumnya pada tahun 21 Desember 1949 Presiden Soekarno memutuskan memberi nama Garuda Indonesia Airways untuk maskapai ini dan sekarang dikenal dengan Garuda Indonesia.

Sebagai penerbangan komersial pertama di Indonesia, Garuda Indonesia merupakan mainbrand maskapai dengan pelayanan terbaik di Indonesia yang mengusung konsep “Garuda Indonesia Experience” sejak pertama kali konsep itu diluncurkan pada tahun 2009. Konsep tersebut sesuai dengan visi Garuda Indonesia yang mencerminkan ciri khas Indonesia dengan keramahtamahan dan kekayaan budaya Indonesia.

Garuda Indonesia Experience didasarkan pada panca indra atau “5 senses” (sight, sound, scent, taste, dan touch). Selain itu, Garuda Indonesia Experience juga memiliki nilai-nilai dasar yaitu: tepat waktu dan aman (tentang produk), cepat dan tepat (tentang proses), bersih dan nyaman (tentang bangunan) serta andal, profesional, kompeten dan siap membantu (tentang staf). 

Gambar 1. Mitra SkyTeam

Garuda Indonesia merupakan maskapai penerbangan pertama yang bergabung bersama aliansi SkyTeam. Dan resmi menjadi anggota aliansi SkyTeam sejak tahun 2014. SkyTeam merupakan aliansi yang menaungi 19 anggota maskapai penerbangan besar di dunia diantaranya yaitu Aeroflot, AirEuropa, China Airlines, Delta, Korean Air, KLM, Vietnam Airlines, dan lain sebagainya. Dengan bergabungnya Garuda Indonesia maka semakin memberi akses kepada Garuda Indonesia untuk memperluas jaringan wilayah terbang baik di dalam negeri maupun di luar negeri seperti Eropa, Amerika, dan Afrika. Selain itu, Garuda Indonesia semakin memperkuat eksistensinya terhadap pesaing di Asia Tenggara dengan frekuensi penerbangan dan konektivitas rute yang semakin luas.

Bersama SkyTeam, pada bulan Maret 2014 pelanggan dapat menikmati layanan Garuda Indonesia yang terhubung oleh lebih dari 1.000 kota destinasi di seluruh dunia. Saat ini Garuda Indonesia melayani lebih dari 90 destinasi dengan 69 destinasi domestik dan 22 destinasi internasional dengan jumlah yang mencapai 600 penerbangan setiap hari. Penerbangan domestik yang tersebar di berbagai kota di wilayah Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua, Bali, dan lain sebagainya. Serta rute Internasional seperti Australia, China, Hongkong, Jepang, Korea, Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Dalam pengoperasiannya Garuda Indonesia Group menyediakan 202 armada pesawat dengan jumlah 144 pesawat Garuda Indonesia dan 58 pesawat Citilink yang siap melayani konsumen di seluruh dunia.

GARUDA INDONESIA DI NEW NORMAL

Masalah yang dialami Garuda Indonesia akibat new normal dialami juga oleh kebanyakan maskapai di negara-negara Asia Tenggara. Maskapai-maskapai besar seperti Thai Airways, Malaysia Airlines, dan Singapore Airlines turut terkena dampaknya. Grafik dari berikut menggambarkan kondisi bisnis maskapai sejak new normal.

Gambar 2. Jumlah Pertumbuhan Tahun ke Tahun RPK Asia-Pasifik Tahun 2017 sampai Aug-2020 (sumber: centerforaviation.com)

RPK merupakan salah satu parameter yang digunakan pada industri aviasi untuk mengukur traffic dari suatu maskapai (RPK = Jumlah penumpang membayar * jarak terbang). Satu RPK, berarti satu revenue-paying passenger telah dibawa sejauh satu kilometer. RPK dihitung tiap flight dan nominalnya menggambarkan seberapa banyak kilometer ditempuh oleh seluruh penumpang. Pada grafik di atas, garis biru yang mengacu pada kondisi RPK maskapai Asia-Pasifik tahun 2020, menunjukkan penurunan tajam, hampir 100% pada jumlah RPK. 

Lebih detail mengenai grafik di atas, penurunan telah dimulai dari bulan Februari (masa-masa awal negara memberlakukan pengetatan aturan penerbangan) dan titik terbawah pada bulan April saat hampir seluruh negara di dunia membatasi mobilitas masyarakat baik perjalanan domestik atau internasional demi menahan laju persebaran virus Covid-19. Lalu bagaimana dengan Garuda Indonesia?

Mengutip informasi dari Monthly Operation Report: Inner Features yang diterbitkan oleh Garuda Indonesia pada Bulan Mei 2020, RPK Garuda Indonesia pada bulan Mei 2020 mencatatkan minus 97.88% dibandingkan dengan RPK Garuda Indonesia pada bulan Mei 2019. Jika diestimasi, berarti pada bulan Mei 2019, RPK Garuda Indonesia adalah 3.106.140, dan pada tahun 2020 adalah 62.122. Penurunan masif ini bersamaan dengan periode tiga bulan (Maret - Juni 2020) di saat Indonesia sedang menerapkan lockdown dan travel ban. 

Gambar 3. Indikator Penilaian Performa Operasi Bulanan Garuda Indonesia bulan Mei 2020

Masalah yang dihadapi oleh Garuda Indonesia, jika dilihat dari perspektif general environment, menunjukkan tantangan yang diakibatkan oleh perubahan pada kebijakan atau peraturan. Perubahan kebijakan pada Indonesia merupakan respon dari menyebarnya virus Covid-19, dan di antara peraturan-peraturan yang diterbitkan, salah satunya adalah larangan perjalanan untuk transportasi umum seperti pesawat atau kereta. Selain itu, negara-negara yang menjadi tujuan maskapai Garuda Indonesia juga memberlakukan hal yang sama. Dua hal tersebut otomatis menutup hampir semua revenue channel dari Garuda Indonesia, meskipun dapat dikatakan bahwa situasi pandemi memukul rata hampir semua industri, namun industri aviasi terpukul dengan daya yang lebih besar akibat larangan terhadap international flights.

Sebagai contoh, negara Malaysia, menurut informasi yang didapat dari laman Ministry of Foreign Affairs, Malaysia, dari tanggal 4 September 2020 sampai diberitahukan kembali, melakukan pengetatan alur masuk untuk masyarakat yang berasal dari negara dengan jumlah kasus Covid-19 lebih dari 150.000. Dengan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia yang sampai saat penulisan artikel ini telah melampaui titik 1 juta kasus, maka akan sangat sulit persyaratan untuk seseorang dari Indonesia masuk ke Malaysia. Selain itu, Indonesia pun juga menerapkan hal yang sama yaitu mengetatkan jalur semua foreign travellers untuk masuk ke Indonesia, kecuali WNI yang berencana pulang dari luar negara. 

Persoalan menjadi dua kali lipat apabila dilihat dari task environment, yaitu kondisi sekitar perusahaan yang memengaruhi kemampuan perusahaan untuk mendapatkan pemasukan atau memberikan jasa, aspek pertama adalah dari sisi pelanggan. Dari survey yang dilakukan kepada 111 responden pelaku perjalanan yang berada di Soekarno Hatta bulan Agustus 2020 oleh PT. Angkasa Pura II, didapatkan bahwa masyarakat semakin percaya diri untuk melakukan perjalanan menggunakan pesawat. Hal ini disebabkan karena beberapa hal; 

  1. 51% responden menyatakan paham protokol kesehatan, dan 49% menyatakan sangat paham dengan protokol kesehatan. Namun jika dipikirkan, cukup sulit untuk menemukan seseorang yang ingin bepergian dengan pesawat menyatakan bahwa ia tidak paham protokol kesehatan

  1. 67% responden menyatakan bahwa merasa nyaman, dan 26% menyatakan sangat nyaman saat berada di Bandara. Jika mengacu dari pengalaman penulis, bandara Soekarno-Hatta memang sangat nyaman, apalagi saat pengunjungnya hanya 40% dari kapasitas maksimal.

  2. Hanya 9% dari responden yang menyatakan belum yakin dengan keamanan penerbangan dan di dalam pesawat (termasuk dari tertular Covid-19).

Meskipun begitu, sampel berikut hanya diambil dari 111 orang yang ada di Soekarno-Hatta, dimana dapat diasumsikan bahwa kebanyakan masyarakat berasal dari daerah Jabodetabek. Jabodetabek merupakan episentrum penyebaran virus Covid-19 di Indonesia, tentunya masyarakat di Jabodetabek lebih aware dan terbiasa hidup saat kondisi pandemi. Jabodetabek juga merupakan pusat pekerja di Indonesia, sehingga kebutuhan traveling pasti lebih tinggi dari daerah lain. Sehingga, ada kebutuhan untuk Garuda Indonesia melakukan pemetaan yang lebih luas lagi untuk profil responden yang berbeda-beda dari setiap daerah di Indonesia. Karena apabila ditelaah lebih lanjut, sebuah survei yang dibuat dari MarkPlus.Inc mengenai pilihan transportasi masyarakat di masa pandemi, dengan responden 55% dari Jabodetabek dan 45% dari non-Jabodetabek, baru sebesar 40% masyarakat yang memilih menggunakan pesawat.

Aspek kedua yang bisa diamati melalui perspektif task environment adalah competitor atau pesaing. Jika melihat data dari Gambar 1 pada awal artikel, bulan Mei, Juni, Juli tahun 2020, grafik tren RPK dari maskapai yang beroperasi di Asia Pasifik sudah kembali naik, sedangkan RPK bulan Mei dari Garuda Indonesia masih di -98%. Keterlambatan ini menjadi loss untuk Garuda Indonesia karena harus bekerja lebih keras untuk mengejar maskapai-maskapai lain yang sudah mulai kembali beroperasi (dengan modifikasi model bisnis). Namun dari sisi politik, Garuda Indonesia memiliki keunggulan sebagai perusahaan milik negara. Di akhir tahun ini, Garuda Indonesia mendapatkan nafas dari aktivitas pendanaan yang dilakukan bersama dengan PT. Sarana Multi Infrastruktur, dengan bantuan ini, diharapkan Garuda Indonesia dapat memacu kegiatan bisnisnya, karena sebagai national-flag carrier, Garuda Indonesia memiliki peran besar dalam pemulihan ekonomi nasional.

Jalan keluar akan panjang dan terjal; kembali dari resesi ekonomi tidak akan mudah untuk bisnis di bidang apapun. Garuda Indonesia memiliki brand value yang sangat kuat di Indonesia dan bisa bersaing di tingkat global. Namun untuk saat ini, mengalah bisa jadi strategi yang membantu untuk Garuda Indonesia kembali membangun bisnisnya

  1. Strategi Pemasaran Baru

Setelah pandemi, profil pelaku perjalanan akan berbeda, proporsi antara pelaku perjalanan untuk melakukan bisnis dan pelaku perjalanan untuk berlibur akan berat sebelah ke sisi pelaku perjalanan bisnis. Survei dari Markplus.Inc menunjukkan bahwa 60% responden memilih tetap melakukan perjalanan di masa pandemi dikarenakan ada keperluan bisnis, sedangkan sisanya dikarenakan kunjungan keluarga atau liburan. Garuda Indonesia harus menyiapkan insentif atau strategi pemasaran yang tepat berdasarkan masing-masing tipe pelaku perjalanan beberapa tahun ke depan. Walaupun kebijakan perjalanan telah diperlonggar, kewajiban untuk mensosialisasikan protokol kesehatan pasti akan tetap dibebankan kepada pihak penyedia jasa penerbangan, sehingga gunakan momen ini untuk membangun kembali trust & confidence dari pelanggan untuk terbang menggunakan Garuda Indonesia

  1. Maksimalkan Rute Domestik

Karena adanya restriksi dari negara-negara luar dimana Garuda Indonesia beroperasi, maka mengandalkan rute Internasional tidak dirasa menjadi pilihan yang bijak. Sumber pemasukan akan bergantung dengan rute domestik, dikarenakan persyaratan terbang antar daerah yang lebih longgar dari rute internasional, serta banyaknya alasan dari masyarakat untuk bepergian. Mengunjungi keluarga, berlibur, menjadi hal yang feasible untuk dilakukan jika areanya masih di dalam negeri. Untuk terbang, kecuali ke kota Pontianak, saat ini dapat dilakukan dengan bebas namun membawa hasil swab RT-PCR atau Antigen. Harga swab antigen saat ini berkisar pada harga 250.000-300.000 rupiah, dan hasilnya dinyatakan memiliki sensitivitas yang tinggi. Tentu hal ini memberikan keringanan untuk pelaku perjalanan, Garuda Indonesia cukup menjawabnya dengan menyediakan layanan terbang yang nyaman dan menyesuaikan harga.

  1. Diversifikasi Usaha

Salah satu dari artikel The Jakarta Post pada Bulan Agustus 2020, menyebutkan tentang bagaimana Korean Air mampu bertahan pada masa pandemi, tanpa melakukan lay-off pada pekerjanya. Padahal, industri penerbangan merupakan industri yang membutuhkan begitu banyak mesin dan pekerja pabrik. Apabila tidak ada aktivitas operasi, maka aset-aset tersebut tentu akan menumpuk dan menjadi costs untuk perusahaan. Korean Air berhasil mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan pesawat-pesawat Airbus untuk usaha cargo atau jasa pengangkutan barang. Garuda Indonesia dengan jajaran fleet pesawat yang lengkap, dapat menggunakan metode ini untuk menambah pemasukan dari perusahaan. Selain itu, jasa cargo juga dapat digunakan untuk membuka rute-rute distribusi, baik ekspor impor, atau memenuhi kebutuhan cargo domestik

 Untuk merangkum, ada tiga cara yang direkomendasikan dari penulis untuk Garuda Indonesia, yaitu memaksimalkan rute domestik, melakukan diversifikasi usaha, serta merumuskan strategi baru. Tiga cara ini dimaksudkan untuk menjawab masalah-masalah yang timbul karena gejolak secara peraturan penerbangan akibat pandemi Covid-19, serta bagaimana Garuda Indonesia dapat me-manage faktor-faktor resiko yang ditimbulkan dari perubahan pada perilaku pelanggan dan kompetitor. 

Walaupun sempat terhantam oleh pandemi Covid-19, Garuda Indonesia sebagai national-flag carrier harus dapat melakukan comeback dan menjadi perusahaan yang lebih tangguh demi perekonomian nasional. Situasi pandemi Covid-19 ini merupakan salah satu contoh changes in global environment yang seharusnya seluruh pelaku bisnis, dalam hal ini adalah jajaran direksi dan manajer Garuda Indonesia, mampu beradaptasi dan membuat keputusan yang tepat dalam menghadapinya. Sehingga, terlepas dari rekomendasi yang diberikan penulis, penulis yakin bahwa sudah ada strategi yang matang dari Garuda Indonesia. 

Artikel ini telah melalui pengecekan plagiarisme di duplichecker.com

Abdurrahman Faiq
Kinsai Dona Ayu Nirmala
MBA 78C
Kelompok 6: Digital Taskforce

Referensi:

https://inaca.or.id/terungkap-ini-4-alasan-traveler-makin-pede-naik-pesawat-di-tengah-pandemi/

Inner Features, Garuda Indonesia Monthly Operational Report, May 2020.

https://www.thejakartapost.com/news/2020/08/14/how-major-south-korean-airlines-made-profits-during-pandemic.html

https://www.garuda-indonesia.com/id/id/index

https://www.garuda-indonesia.com/id/en/news-and-events/kebijakan-operasional-terkait-covid19

https://centreforaviation.com/analysis/reports/capa-live-southeast-asias-air-travel-market-stalls-541265

https://airlinegeeks.com/2016/01/17/airline-metrics-revenue-passenger-kilometers/

https://www.kln.gov.my/web/usa_washington/news-from-mission/-/blogs/travel-advisory-entry-restrictions-on-foreign-travelers-to-malaysia-4-september-2020

https://www.skyteam.com/en/about/press-releases/press-releases-2020/skyteams-member-airlines-support-reliable-covid-19-rapid-testing-to-restore-international-air-travel

https://market.bisnis.com/read/20200424/192/1232232/garuda-indonesia-giaa-tetap-layani-penumpang-daerah-mana-saja

https://pasardana.id/news/2020/9/2/berkat-diskon-garuda-indonesia-klaim-kenaikan-penumpang-45-persen/

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4378205/survei-pesawat-jadi-transportasi-idola-selama-pandemi-covid-19

https://theloadstar.com/revenue-hit-low-cost-carriers-are-turning-to-passenger-freighter-action/

https://koran.bisnis.com/read/20210105/450/1338552/pemulihan-penerbangan-garuda-perlu-kerja-ekstra-keras

Gareth R. Jones Jennifer M.George "Contemporary Management" Eleventh Edition


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format