Asimetris: Membuka Mata terhadap Ketidakadilan Kelapa Sawit

Salah satu film dokumenter karya Watchdoc Pro kembali mengupas permasalahan di Indonesia. Kali ini, kita akan melihat permasalahan kelapa sawit di pulau Kalimantan.


0
1 share

Asimetris merupakan sebuah film berdurasi 68 menit yang diproduksi oleh Watchdoc Pro dan disutradarai oleh Indra Jati dan Dandhy Laksono. Film dokumenter ini menceritakan kisah dari videografer Dandhy Laksono dan Suparta Arz, dimana setelah mereka menempuh perjalanan 14.000 kilometer menggunakan sepeda motor, akhirnya mereka tiba di Kalimantan. Pada saat itu Kalimantan sedang terjadi tragedi kabut asap yang sangat tebal. Setelah itu mereka mencari tahu penyebab bencana lingkungan yang berdampak pada 69 juta jiwa manusia di pulau Kalimantan itu. Kabut asap tersebut ternyata dihasilkan oleh terbakarnya sebuah hutan, dan disinyalir hal ini sengaja dilakukan oleh pelaku industri perkebunan kelapa sawit yang membakar lahan dengan luas mencapai 11 juta hektar, untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit.

Dalam sudut pandang Islam, hal ini tentu saja tidak bisa dibenarkan. Terbakarnya lahan seluas 11 juta hektar tersebut memberikan dampak negatif bagi masyarakat sekitar area kebakaran tersebut. Dari film tersebut, terdapat suatu pendapat dari masyarakat yang mengatakan bahwa industri kelapa sawit di Kalimantan memanglah merusak alam. Akan tetapi, tidak sedikit masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja di industri kelapa sawit. Hal ini tentu menjadi dilema tersendiri ketika industri kelapa sawit yang memberikan dampak negatif sekaligus lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

ASIMETRIS by Watchdoc Pro



Kelapa Sawit sebagai Awal Mula Masalah

Ketidakadilan yang dirasakan masyarakat Kalimantan dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan minyak kelapa sawit yang kian bertambah. Saat ini penduduk dunia telah mencapai 7,5 miliar dan diproyeksikan akan bertambah menjadi sembilan miliar pada tahun 2050. Tentunya peningkatan populasi ini berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi minyak kelapa sawit. Sebanyak 50% dari barang kebutuhan yang dikemas mengandung minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit biasa digunakan dalam produk makanan. Namun, masih banyak pula produk-produk lain yang menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan dasarnya. Minyak kelapa sawit dapat digunakan untuk membuat sabun, sampo, deterjen, dan bahan pelumas mesin. Kelompok produk ini disebut oleokimia.

Perkembangan teknologi juga membuat minyak kelapa sawit dapat digunakan sebagai campuran bahan bakar seperti biosolar, biodiesel, dan biopremium. Bahan bakar ini dicampur dengan minyak kelapa sawit demi mengurangi ketergantungan akan bahan bakar fosil. Bahan bakar ini tidak hanya digunakan untuk bahan bakar kendaraaan. PLN menggunakan biodiesel untuk menerangi rumah-rumah penduduk terutama di daerah pelosok yang masih menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel. Dengan gaya hidup kita yang sangat bergantung dengan minyak kelapa sawit, tak mengherankan bila lahan perkebunan kelapa sawit ini rata-rata bertambah seluas pulau bali. Tetapi gaya hidup ini bukannya tanpa konsekuensi.

Film Asimetris juga menjelaskan bahwa penyebab asap dari kebakaran hutan bukanlah karena human error, melainkan akibat pembukaan hutan dan lahan oleh perkebunan kelapa sawit. Banyak perusahaan yang telah mendapatkan sertifikasi tentang keberlanjutan lingkungan, seperti RSPO, ISPO, dan ISCC. Namun, mereka masih melakukan deforestasi, bertumpang tindih dengan areal konsesi lain, serta merusak hutan bernilai konservasi tinggi (FWI, 2017).

Film tersebut juga berbicara mengenai tiga hal akibat informasi yang asimetris. Pertama mengenai janji pembangunan, atas nama sawit dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada kenyataannya kebutuhan lahan dalam skala luas  (ekspansi) perkebunan sawit di Indonesia dilakukan melalui perampasan tanah-tanah dan ruang hidup rakyat yang menyebabkan konflik agraria struktural dan hilangnya kemandirian ekonomi rakyat. Kedua mengenai keadilan ekonomi, sawit sebagai komoditas nasional. Pada kenyataannya, hanya sedikit orang yang menguasai lahan perkebunan kelapa sawit untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Ketiga mengenai alternatif energi, manfaat sawit untuk food oil, oil chemical, biofuel. Pada kenyataannya, pembukaan dan persiapan lahan untuk perkebunan kelapa sawit selama ini masih banyak dilakukan dengan cara membakar, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kebakaran hutan.

Sumber : Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Dalam 16 tahun terakhir, selama periode 2000-2016 ditemukan sebanyak 79.544 titik api (hot spot) yang berada di konsesi perkebunan kelapa sawit. Keberadaan titik api ini menunjukkan bahwa besarnya potensi kebakaran hutan dan lahan yang diakibatkan oleh praktik-praktik perkebunan sawit. Terbesar terjadi di tahun 2006 yaitu sekitar 12.450 titik api, dan kemudian diikuti di tahun 2015 yang diperkirakan mencapai angka sekitar 9.640 titik api yang sebagian besar berada di pulau Sumatera dan Kalimantan. Bencana kebakaran hutan dalam rentang waktu tersebut merugikan 221 triliun atau setara dengan 1,9 persen dari PDB. Kerugian ini belum menghitung kesehatan bagi 500 ribu masyarakat terserang ISPA dan merenggut 19 jiwa meninggal dunia dengan perkiraan biaya kesehatan mencapai Rp 2,1 triliun.

Bagaimana Perspektif Islam terkait Permasalahan Ini?

Huber dan Huber (2012) mengemukakan bahwa religiusitas menjadi taraf tingkat kepercayaan atau keyakinan seseorang tentang Tuhan dan hal ini tercerminkan melalui 5 dimensi religiusitas yaitu ritualistik keagamaan baik secara private maupun secara publik, pengalaman religius, ideologi, serta dimensi intelektual. Dalam Islam penyimpangan aktivitas berbisnis ini terjadi karena beberapa hal:

  1. 1 Pengusaha tidak memiliki kesadaran atas praktik pengelolaan perkebunan yang benar

    Dalam film Asimetris, perusahaan kelapa sawit tidak menginginkan adanya praktik pengelolaan lahan yang benar. Karena secara sadar mereka mengetahui perbedaan biaya yang harus dikeluarkan untuk membuka lahan kelapa sawit dengan benar dibandingkan dengan langsung membakar lahan tersebut. Disebutkan juga dalam film tersebut bahwa jumlah biaya yang dapat dihemat dengan membakar hutan sangatlah menguntungkan bagi perusahaan.

    Sebagai seorang pengusaha, perilaku religius ini juga dapat tercermin dari kegiatan atau praktik-praktik bisnis yang dilakukan. Perbuatan mengeksploitasi sumber daya alam, seperti yang terlihat dalam film Asimetris, tentu termasuk bentuk penyimpangan. Penyimpangan sendiri merupakan penolakan atau pemberontakan terhadap prinsip dan aturan yang mengatur individu dan masyarakat (Pearce dalam Abu-Rayya, 2016).

  2. 2 Munculnya environmental cost yang diakibatkan dari perkebunan kelapa sawit

    Salah satu bentuk penyimpangan tersebut yaitu pembakaran hutan untuk membuka lahan tanpa memerhatikan keberlanjutan lingkungan. Hal tentu merupakan suatu bentuk penyimpangan terhadap aturan yang memiliki dampak negatif bagi masyarakat. Salah satu dampaknya adalah terjadinya kabut asap yang sangat mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain itu, terjadinya perampasan tanah masyarakat sehingga menyebabkan hilangnya kemandirian ekonomi masyarakat menunjukkan bahwa keuntungan yang dihasilkan oleh pengusaha kelapa sawit menumbalkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

    Tidak hanya itu, masalah AMDAL dalam perusahaan kelapa sawit juga tidak kalah meresahkan. Mulai dari limbah cairan yang dibuang sembarangan kemudian masuk ke pemukiman warga mematikan hak penghidupan layak bagi masyarakat, lalu karena kelapa sawit merupakan tanaman monokultur menyebabkan tidak ada tanaman lain yang dapat ditanami bersama kelapa sawit. Sementara kita mengetahui kelapa sawit membutuhkan banyak air untuk mengelola nya, maka menyebabkan tanah disekitarnya menjadi kering. Berita yang masih hangat dan mengejutkan belakangan ini mengenai perkebunan kelapa sawit disebut menjadi penyebab banjir besar di Kalimantan Selatan. Bagaimana tidak, ekosistem hutan yang ada di Kalimantan kini telah terganti dengan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan merusak ekosistem tanah di Kalimantan.

  3. 3 Praktik pengelolaan perusahaan kelapa sawit tidak didasari dengan pengetahuan religiusitas

    Penyimpangan yang muncul dalam film Asimetris ini menunjukkan kerakusan manusia dalam mencari dunia. Hanya mempertimbangkan keuntungan tanpa mempertimbangkan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat menjadikan aktivitas usaha ini bisa dibilang menanggung aktivitas yang merugikan masyarakat. Pelanggaran tata kelola yang tidak dapat ditelusuri, tidak tersedianya izin yang sesuai dengan apa yang ditentukan oleh asosiasi internasional demi sebuah keuntungan semuanya mengarah pada kesejahteraan perut sendiri.

    Dari kasus ini, dapat disimpulkan bahwa ideologi, pengalaman, serta dimensi intelektual pengusaha belum menunjukkan adanya tingkat religiusitas yang tinggi disebabkan masih minimnya kesadaran pengusaha untuk mengakomodasi kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan praktik bisnisnya. Padahal, kesadaran religiusitas yang tinggi seorang pengusaha mampu menjadi pencegah terjadinya penyimpangan.

    Abu Rayya, dkk (2016) dalam penelitiannya menemukan bahwa praktik religiusitas memiliki korelasi negatif terhadap penyimpangan. Oleh karena itu, pengusaha yang memiliki kesadaran religius yang tinggi cenderung akan menjauhi praktik-praktik penyimpangan dan memenuhi tanggung jawab sosialnya. Mereka juga cenderung menyadari bahwa aktivitas penyimpangan yang dilarang secara hukum, biasanya juga merupakan aktivitas yang dilarang dalam agama.

Solusi bagi Industri Kelapa Sawit Indonesia

Maraknya pembakaran lahan untuk perkebunan sawit membuat banyak bisnis yang dilabeli unethical business. Hal ini menjadi dilema bagi pemerintah sebagai regulator dan swasta sebagai operator di iklim bisnis indonesia. Salah satu alternatif untuk menyelesaikan masalah ini adalah pengetatan regulasi Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dan perizinan lingkungan bagi para pelaku usaha sawit. Dalam hal ini, tidak berarti pengetatan tersebut mempersulit bisnis dan investasi, namun menciptakan benang merah yang jelas mengenai pelanggaran aspek kelingkungan. 

Lebih dari itu, dapat dilakukan optimalisasi regulasi di tingkat kementerian pertanian setempat. Dalam mengurus berkas bisnis kelapa sawit, ada beberapa birokrasi yang harus dilewati, salah satunya adalah kementerian pertanian. Optimalisasi regulasi dirancang agar mewujudkan bisnis kelapa sawit di Indonesia yang berkelanjutan tanpa mengurangi ease of doing business atau kemudahan membangun bisnis di Indonesia.

Selain adanya faktor eksternal yang dapat mencegah sekaligus menanggulangi masalah-masalah yang terjadi dalam industri kelapa sawit, tentu diperlukan pula faktor internal yang bersumber dari dalam diri masing-masing manusianya. Faktor internal ini yang dapat mencegah terjadinya penyimpangan perilaku pengusaha dalam menjalankan usahanya. Melalui perilaku religius serta kesadaran bahwa sesungguhnya tiap-tiap manusia bertanggung jawab kepada Allah SWT atas hal yang diperbuatnya. 

Kita menyadari bahwa manusia merupakan pemimpin di muka bumi dan Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih salah satu dari dua cara dalam memanfaatkankan sumber daya yang diberikan-Nya, yaitu jalan kebajikan ataukah jalan kemungkaran. Kedua pilihan tersebut kelak akan dipertanggungjawabkan oleh seluruh manusia.

“Kehendak Allah adalah amanah dan sebagai agen Allah, manusia harus menjalankan amanah ini atas nama Allah. Seorang agen selalu diharapkan untuk berperilaku seperti yang diinginkan majikannya ”. – Saleem (2018)





Penulis :

  • Belinda Dyah Tri Yuliasti

  • Zyan Hasna Nadhira

  • Fatimah Aqila

  • M Hafidz Ramadhan

  • Faiz Shodiq Nurrahim

  • Rayhan Razaqi Sjuhada


Sumber pustaka:

Abu-Rayya, Hisham M., et al. "The interconnection between Islamic religiosity and deviancy among Australian Muslim youth: A partial mediation role of life satisfaction." The International Journal for the Psychology of Religion 26.4 (2016): 337-347.

Huber, Stefan, and Odilo W. Huber. "The centrality of religiosity scale (CRS)." Religions 3.3 (2012): 710-724.

Saleem, Maimoona, Ayaz Khan, and Muhammad Saleem. "Business Ethics in Islam." Dialogue (Pakistan) 13.3 (2018).


Sumber dari website:

www.jpik.or.id

https://bnpb.go.id/berita/luas-lahan-terbakar-seluruh-indonesia-capai-857-ribu-ha

https://tirto.id/penyebab-banjir-kalsel-menurut-analisis-lapan-aktivis-dan-klhk-f9uk


Gambar Thumbnail: 

https://www.mastrigus.com/2018/03/cara-resmi-mendapatkan-film-asimetris.html


Like it? Share with your friends!

0
1 share

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
1
Win
Zyan Nadhira

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format